Bahasa Melayu Kuno

nama yang diberikan kepada bahasa yang digunakan di beberapa prasasti yang ditemukan di Sumatra dan Jawa

Bahasa Melayu Kuno (atau Melayu Kuno, kadang-kadang disebut pula Melayu Tua, bahasa Inggris: Old Malay, OM) adalah nama yang digunakan untuk menyebut suatu bahasa yang tertulis pada beberapa prasasti dari sekitar abad ke-7 hingga abad ke-10 M yang ditemukan di Sumatra dan Jawa. Sebagian besar prasasti yang menjadi sumber corpus Melayu Kuno berkaitan dengan sejarah Kerajaan Sriwijaya.[2] Nama "Melayu Kuno" mengindikasikan bahwa bahasa ini merupakan pendahulu dari bahasa Melayu Modern dan bahasa Melayu Klasik namun para ahli memiliki pandangan berbeda terhadap hal tersebut, begitupun terhadap persoalan apakah bahasa ini adalah salah satu anggota rumpun bahasa Melayik.[3][4][5][6]

Bahasa Melayu Kuno
KedukanBukit001.jpg
WilayahSumatra, Semenanjung Melayu, Jawa
EraAbad 7–10 M
Aksara Pallawa
Kode bahasa
ISO 639-3
Glottologoldm1243[1]

Bahasa Melayu Kuno yang ditemukan dalam prasasti-prasasti sumber memakai banyak kosakata bahasa Sanskerta dan ditulis menggunakan aksara Pallawa yang merupakan aksara Brahmi sehingga terdapat beberapa penyesuaian yang ditemukan untuk mengakomodasi fonologi Melayu Kuno yang berbeda dengan Sanskerta.[7]

NamaSunting

Para arkeolog dan linguis pada awalnya tidak menggunakan nama tertentu untuk menyebut bahasa yang digunakan pada prasasti-prasasti berbahasa Melayu yang ditemukan di Sumatra dan Jawa. Linguis Charles Otto Blagden (1913) dan arkeolog George Cœdès (1930) menggunakan penyebutan seperti "bentuk kuno" atau "teks paling kuno" dari bahasa Melayu sedangkan linguis Gabriel Ferrand menggunakan nama malayo-sanscrit ("Melayu-Sanskerta") dalam tulisannya pada tahun 1932.[a][10] Indolog J. G. de Casparis mulai menggunakan nama Oud-Maleise ("Melayu Tua") dalam bukunya Prasasti Indonesia jilid pertama yang terbit tahun 1950.[11] Nama tersebut kemudian digunakan oleh sastrawan A. Teeuw dengan menulis Old Malay dalam tulisan singkatnya tahun 1959 mengenai sejarah bahasa Melayu.[12]

SejarahSunting

Sumber-sumber bahasa Melayu KunoSunting

Meskipun tidak terlalu banyak, ada cukup sumber naskah atau tulisan yang dapat dipelajari sehingga orang dapat mendapat gambaran mengenai aspek kebahasaan bahasa ini.

Bahasa Melayu Kuno ditemukan pada prasasti-prasasti berikut (tidak lengkap):

KlasifikasiSunting

Bahasa Melayu Kuno merupakan sebuah bahasa Melayu–Polinesia namun belum terdapat konsensus mengenai kedudukannya di dalam rumpun bahasa tersebut. Linguis Alexander Adelaar menggunakan bahasa Melayu Kuno sebagai tambahan dalam rekonstruksi bahasa Proto-Melayik yang ia buat.[20] Adelaar serta beberapa linguis lain seperti seperti Walther Aichele dan René van den Berg telah menulis penjelasannya masing-masing mengenai perbedaan fonologi dan morfologi antara Melayu Kuno ke Melayu Modern.[21][22][23] Terdapat pula penulis-penulis lainnya yang menulis tentang morfologi Melayu Kuno sembagi menyebutkan posisi bahasa tersebut terhadap rumpun bahasa Melayik. Sastrawan A. Teeuw beranggapan bahwa bahasa Melayu Kuno bukan merupakan versi terdahulu dari bahasa Melayu Modern berdasarkan perbedaan morfologi kedua bahasa tersebut meskipun ia juga menjelaskan hubungan antara kedua bahasa itu. Teeuw berpemikiran bahwa perbedaan tersebut tidak cukup dijelaskan hanya sebagai perkembangan fonologi maupun serapan seperti yang dijelaskan oleh Aichele.[24]

Imbuhan di- dan ni-Sunting

Adelaar, dalam rekonstruksi bahasa Proto-Melayik yang ia buat, tidak merekonstruksi imbuhan bahasa Melayu Modern di- salah satunya berdasarkan pertimbangan bahwa bahasa Melayu Kuno tidak memiliki di- namun menggunakan ni-. Ia mengatakan bahwa imbuhan tersebut dapat berasal dari kata depan di.[25][26] Pemikiran Adelaar ini berbeda dengan Berg yang mengungkapkan bahwa imbuhan di- dapat berkembang dari imbuhan Melayu Kuno ni-, sembari mengutip pemikiran serupa yang sebelumnya disebutkan oleh Teeuw dan Casparis.[27] Linguis Malcolm Ross, di lain pihak, menyebutkan bahwa bahasa Proto-Melayik dapat memiliki imbuhan *di-. Ia kemudian mengajukan bahwa bahasa Melayu Kuno bukan merupakan sebuah bahasa Melayik karena tidak merefleksikan imbuhan ini dan imbuhan +bAr- yang disebutkan berkembang dari imbuhan *mAr- dalam bahasa Proto-Melayik.[28] Adelaar, dalam sanggahannya, menyebutkan bahwa tidak ditemukannya di- dalam bahasa Melayu Kuno menjadikan imbuhan tersebut bukan sebuah penentu dasar dalam pengelompokan bahasa Melayik. Sementara itu, sebagian besar fonologi Melayu Kuno ditemukan berkorespondensi dengan perkembangan fonologi Melayik sementara yang tidak berkorespondensi menurutnya lebih terkait dengan sedikitnya korpus Melayu Kuno.[29]

CiriSunting

Dari berbagai sumber naskah dan prasasti tampak sekali pengaruh dari bahasa Sanskerta melalui banyak kata-kata yang dipinjam dari bahasa itu serta bunyi-bunyi konsonan aspiratif seperti bh, ch, th, ph, dh, kh, h (Contoh: sukhatchitta). Namun struktur kalimat jelas bersifat Melayu atau Austronesia, seperti adanya imbuhan (affix). Imbuhan-imbuhan ini dapat dilacak hubungannya dengan bentuk imbuhan bahasa Melayu Klasik atau bahasa Melayu[30], seperti awalan mar- (ber- dalam bahasa Melayu Klasik dan Melayu), ni- (di-), nipar- (diper-), maN- (meN-), ka- (ter-, juga ke pada bahasa Betawi), dan maka- (ter-).

Pronomina (kata ganti) pribadi, seperti juga bahasa Melayu, juga terdiri dari pronomina independen dan pronomina ekliktik (genitif)[31]: 1s = aku, -ku/-nku, 2p = kamu, mamu, 3s = iya, nya, 3p (hormat) = sida, -da,-nda, 2p (divinum) = kita, -ta/-nta.

Dua dialek telah diduga oleh Aichelle pada tahun 1942 dan A. Teeuw sejak 1959[32]: Dialek prasasti Sumatra: ni-/var- dan dialek luar Sumatra di-/bar-.

Catatan kakiSunting

  1. ^ "... an archaic form of speech allied to Malay." dalam Blagden (1913) dan "... les plus anciens textes malais ..." dalam Cœdès (1930).[8][9]

RujukanSunting

  1. ^ Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2019). "Old Malay". Glottolog 4.1. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. 
  2. ^ Mahdi 2005, hlm. 182.
  3. ^ Teeuw 1959, hlm. 141-142.
  4. ^ Berg 2004, hlm. 536-541.
  5. ^ Ross 2004, hlm. 98.
  6. ^ Adelaar 2008, hlm. 244-245.
  7. ^ Vikør 1988, hlm. 67-68.
  8. ^ Blagden 1913, hlm. 69.
  9. ^ Cœdès 1930, hlm. 30.
  10. ^ Ferrand 1932, hlm. 271.
  11. ^ Casparis 1950, hlm. 50.
  12. ^ Teeuw 1959, hlm. 141.
  13. ^ Coedes, George, (1930), Les inscriptions malaises de Çrivijaya, BEFEO.
  14. ^ Kern 1913, hlm. 393.
  15. ^ a b c d e Situs "The History of Pasuruan Regency"
  16. ^ Situs Kabupaten Batang, diakses 7 Juni 2007
  17. ^ Muljana, Slamet, 1981, Kuntala, Sriwijaya Dan Suwarnabhumi, Jakarta: Yayasan Idayu, hlm. 223.
  18. ^ Casparis, J. G. de., (1992), Kerajaan Malayu dan Adityawarman, Seminar Sejarah Malayu Kuno, Jambi, 7-8 Desember 1992. Jambi: Pemerintah Daerah Tingkat I Jambi bekerjasama dengan Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jambi, hlm. 235-256.
  19. ^ Kozok, Uli, (2006), Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah: Naskah Melayu yang Tertua, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, ISBN 979-461-603-6.
  20. ^ Adelaar 1992, hlm. 3.
  21. ^ Adelaar 2005.
  22. ^ Berg 2004.
  23. ^ Aichele 1942-1943.
  24. ^ Teeuw 1959, hlm. 141-144.
  25. ^ Adelaar 1992, hlm. 161-163.
  26. ^ Adelaar 2005, hlm. 128.
  27. ^ Berg 2004, hlm. 549.
  28. ^ Ross 2004, hlm. 103-106.
  29. ^ Adelaar 2008, hlm. 244.
  30. ^ Mahdi W. 2005. Old Malay. Dalam: Adelaar K.A. & Himmelmann N. (penyunting) The Austronesian languages of Asia and Madagascar. Routledge. Hal. 197.
  31. ^ Mahdi W. 2005. ibid.. Hal. 196.
  32. ^ Mahdi W. 2005. ibid.. Hal. 183.

Daftar pustakaSunting