Ummahatul mu'minin

(Dialihkan dari Pernikahan Muhammad)

Ummahatul Mu'minin (bahasa Arab: أمهات المؤمنين, har. 'para ibu orang-orang mukmin'‎) adalah istilah dalam bahasa Arab yang digunakan dalam syariat Islam, merupakan penyebutan kehormatan bagi istri-istri dari Nabi Muhammad ﷺ. Muslim menggunakan istilah tersebut sebelum atau sesudah nama istrinya. Istilah ini diambil dari ayat Quran, yang berbunyi:

Dan isteri-isteri Nabi tidak menikah lagi setelah Nabi wafat:

Nabi Muhammad ﷺ sering kali disebutkan menikah dengan 11 orang perempuan. Terdapat kisah bahwa ia menikah dengan dua orang perempuan lainnya, tetapi diceraikannya sebelum mereka sempat bersama-sama, yaitu Amrah binti Yazid dari Bani Qilab dan Asma binti Nu'man dari Bani Kindah.[1]

Ummu al-MukmininSunting

Khadijah binti KhuwailidSunting

Ia merupakan istri Nabi Muhammad ﷺ yang pertama. Sebelum menikah dengan nabi, ia pernah menjadi istri dari Atiq bin Abid dan Abu Halah bin Malik dan telah melahirkan empat orang anak, dua dengan suaminya yang bernama Atiq, yaitu Abdullah dan Jariyah, dan dua dengan suaminya Abu Halah yaitu Hindun dan Zainab.

Berbagai riwayat memaparkan bahwa saat Nabi Muhammad ﷺ menikah dengan Khadijah, umur Khadijah berusia 40 tahun sedangkan Nabi hanya berumur 25 tahun. Tetapi menurut Ibnu Katsir, seorang tokoh dalam bidang tafsir, hadis dan sejarah, mereka menikah dalam usia yang sebaya. Nabi Muhammad ﷺ bersama dengannya sebagai suami istri selama 25 tahun yaitu 15 tahun sebelum menerima wahyu pertama dan 10 tahun setelahnya hingga wafatnya Khadijah, kira-kira 3 tahun sebelum hijrah ke Madinah. Khadijah wafat saat ia berusia 64 tahun 6 bulan.

Ia merupakan istri Nabi Muhammad ﷺ yang tidak pernah dimadu, karena semua istrinya yang dimadu dinikahi setelah wafatnya Khadijah. Di samping itu, semua anak Nabi kecuali Ibrahim adalah anak kandung Khadijah.

Maskawin dari Nabi Muhammad ﷺ sebanyak 20 bakrah dan upacara perkawinan diadakan oleh ayahnya Khuwailid. Riwayat lain menyatakan, upacara itu dilakukan oleh saudaranya Amr bin Khuwailid.

Pernikahannya dengan Khadijah menghasilkan keturunan hanya enam orang, yaitu: Al Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fatimah, dan Abdullah.

Nabi Muhammad ﷺ setelah mendapatkan seorang putra yang bernama Al Qosim, maka ia mendapat julukan Abul Qosim (bapak Qosim), sedangkan putranya yang bernama Abdullah mempunyai julukan at Thoyib at Thohir yang berarti "Yang Bagus dan Lagi Suci".

Saudah binti Zam'ahSunting

Nabi menikah dengan Sawdah setelah wafatnya Khadijah dalam bulan itu juga. Sawdah adalah seorang janda tua. Suami pertamanya ialah al-Sakran bin Amr. Sawdah dan suaminya al-Sakran adalah di antara mereka yang pernah berhijrah ke Habsyah. Saat suaminya meninggal dunia setelah pulang dari Habsyah, maka Rasulullah telah mengambilnya menjadi istri untuk memberi perlindungan kepadanya dan memberi penghargaan yang tinggi kepada suaminya.

Acara pernikahan dilakukan oleh Salit bin Amr. Riwayat lain menyatakan upacara dilakukan oleh Abu Hatib bin Amr. Maskawinnya ialah 400 dirham.

Aisyah binti Abu BakarSunting

Nabi Muhammad dua kali bermimpi kalau Aisyah dibawakan oleh Malaikat untuk menjadi jodoh beliau.[2][3] Menganggap itu adalah ketentuan dari Allah yang harus dijalankan, beliau pun meminta kepada ayahnya Aisyah, yaitu Abu Bakar, untuk memberikan putrinya demi menjadi istri beliau. Abu Bakar awalnya keberatan akan hal itu, dikarenakan menurutnya, Nabi Muhammad dan dirinya adalah saudara. Namun setelah diyakinkan bahwa dirinya dan Sang Rasul hanya saudara dalam agama, dan Aisyah adalah halal untuk Rasul nikahi, rasa ragu didalam hati Abu Bakar pun terangkat.[4]

Aisyah dinikahi oleh Nabi Muhammad ketika Aisyah berumur 6 atau 7 tahun[5][6][7], dan di saat itu Nabi Muhammad berumur berumur 50 tahun.[8] Namun Aisyah baru diantarkan ke rumah Nabi dan dicampuri beliau di saat dia sudah berumur 9 tahun,[9] dikarenakan pada selang waktu tersebut Aisyah sakit dan rambutnya rontok.[10]

Hal ini diriwayatkan secara mutawatir (secara massal) didalam Kutubus Sittah yang merupakan 6 kitab hadits utama Islam, sehingga tidak ada keraguan di dalamnya.[11][12]

Hafshah binti Umar bin al-KhattabSunting

Hafsah seorang janda. Suami pertamanya Khunais bin Hudhafah al-Sahmiy yang meninggal dunia saat Perang Badar. Ayahnya Umar meminta Abu Bakar menikah dengan Hafsah, tetapi Abu Bakar tidak menyatakan persetujuan apapun dan Umar mengadu kepada nabi Muhammad. Kemudian rasulullah mengambil Hafsah sebagai istri. Hafsah Binti Umar (wafat 45 H)

Hafshah binti Umar bin Khaththab adalah putri seorang laki-laki yang terbaik dan mengetahui hak-hak Allah dan kaum muslimin. Umar bin Khaththab adalah seorang penguasa yang adil dan memiliki hati yang sangat khusyuk. Pernikahan Rasulullah . dengan Hafshah merupakan bukti cinta kasihnya kepada mukminah yang telah menjanda setelah ditinggalkan suaminya, Khunais bin Hudzafah as-Sahami, yang berjihad di jalan Allah, pernah berhijrah ke Habasyah, kemudian ke Madinah, dan gugur dalam Perang Badar. Setelah suami anaknya meninggal, dengan perasaan sedih, Urnar menghadap Rasulullah untuk mengabarkan nasib anaknya yang menjanda. Ketika itu Hafshah berusia delapan belas tahun. Mendengar penuturan Umar, Rasulullah memberinya kabar gembira dengan mengatakan bahwa ia bersedia menikahi Hafshah.

Jika kita menyebut nama Hafshah, ingatan kita akan tertuju pada jasa-jasanya yang besar terhadap kaum muslimin saat itu. Dialah istri Nabi yang pertama kali menyimpan Al-Qur’an dalam bentuk tulisan pada kulit, tulang, dan pelepah kurma, hingga kemudian menjadi sebuah kitab yang sangat agung.

Hindun binti Abi Umayyah (Ummu Salamah)Sunting

Salamah seorang janda tua mempunyai 4 anak dengan suami pertama yang bernama Abdullah bin Abd al-Asad. Suaminya syahid dalam Perang Uhud dan saudara sepupunya turut syahid pula dalam perang itu lalu nabi Muhammad melamarnya. Mulanya lamaran ditolak karena menyadari usia tuanya. Alasan umur turut digunakannya ketika menolak lamaran Abu Bakar dan Umar al Khattab.

Lamaran kali kedua nabi Muhammad diterimanya dengan maskawin sebuah tilam, mangkuk dari sebuah pengisar tepung.

Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah)Sunting

Ummu Habibah seorang janda. Suami pertamanya Ubaidillah bin Jahsyin al-Asadiy. Ummu Habibah dan suaminya Ubaidullah pernah berhijrah ke Habsyah. Ubaidullah meninggal dunia ketika di rantau dan Ummu Habibah yang berada di Habsyah kehilangan tempat bergantung.

Melalui al Najashi, nabi Muhammad melamar Ummu Habibah dan upacara pernikahan dilakukan oleh Khalid bin Said al-As dengan maskawin 400 dirham, dibayar oleh al Najashi bagi pihak nabi.

Juwairiyah (Barrah) binti al-HaritsSunting

Ayah Juwairiyah ialah ketua kelompok Bani Mustaliq yang telah mengumpulkan bala tentaranya untuk memerangi nabi Muhammad dalam Perang al-Muraisi'.

Setelah Bani al-Mustaliq tewas dan Barrah ditawan oleh Tsabit bin Qais bin al-Syammas al-Ansariy. Tsabit hendak dimukatabah dengan 9 tahil emas, dan Barrah pun mengadu kepada nabi.

Rasulullah bersedia membayar mukatabah tersebut, kemudian menikahinya.

Shafiyah binti HuyaySunting

Shafiyah binti Huyayy adalah seorang wanita bangsawan,[13] yang merupakan putri Huyayy bin Akhtab, kepala suku Yahudi, Banu Nadir, yang dieksekusi oleh pihak Nabi Muhammad setelah menyerah pada Perang Khandaq.[14][15] Suami pertamanya adalah seorang penyair bernama Sallam bin Mishkam yang mana kemudian mereka bercerai.[16]:134-135 Suami keduanya adalah seorang komandan bernama Kinana bin Ar-Rabi.[17] Pada tahun 628, saat pertempuran Khaybar, Banu Nadir dikalahkan, Kinana yang saat itu masih berstatus suami Shafiyah dieksekusi.[18] Seusai perang, Shafiyah menjadi salah satu tawanannya pihak muslim. Shafiyah berkata sebelum menikah dengan Rasulullah,Ia bermimpi bulan di Mekkah jatuh ke pangkuannya. Lalu ia ceritakan mimpinya kepada suaminya terdahulu. Suaminya sangat marah lalu memukulnya. Suaminya mengira ia memiliki ketertarikan dengan Rasulullah. Shafiyah sangat membenci Rasulullah awalnya karena telah menyebabkan Ayah dan Suaminya tewas. Namun setelah Rasulullah menjelaskan keadaan yang sebenarnya kepada Shafiyah beserta alasan kenapa Beliau melakukan hal tersebut. Shafiya kemudian luluh dan memaafkan Rasulullah.Mereka akhirnya menikah atas perintah Allah.

Zainab binti JahsySunting

Zainab merupakan istri Zaid bin Haritsah, yang pernah menjadi budak dan kemudian menjadi anak angkat Muhammad setelah dia dimerdekakan.

Hubungan suami istri antara Zainab dan Zaid tidak bahagia karena Zainab dari keturunan mulia, tidak mudah patuh dan tidak setaraf dengan Zaid. Zaid telah menceraikannya walaupun telah dinasihati oleh Muhammad.

Upacara pernikahan dilakukan oleh Abbas bin Abdul-Muththalib dengan maskawin 400 dirham, dibayar bagi pihak Muhammad.

Zainab binti KhuzaimahSunting

Zainab[19] adalah putri dari Khuzaimah bin al-Harits bin Abdullah bin Amr bin Abdu Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’sha’a bin Muawiyah. Dijuluki “Ibu orang-orang miskin” karena kedermawanannya terhadap orang-orang miskin. Sebelumnya menikah dengan Muhammad, ia adalah istri dari Abdullah bin Jahsy. Ada riwayat yang mengatakan ia istri Abdu Thufail bin al-Harits, tetapi pendapat pertama adalah yang sahih. Ia dinikahi oleh Muhammad pada tahun ke 3 H dan hidup bersamanya selama hanya dua atau tiga bulan., karena Zainab binti Khuzaimah meninggal dunia sewaktu Muhammad masih hidup.

Maymunah binti al-HaritsSunting

Maimunah[19] binti al-Harits bin Hazn bin Bujair bin al-Harm bin Ruwaibah bin Abdullah bin Hilal bin Amir bin Sha’sha’a bin Muawiyah bibi dari Khalid bin Walid dab Abdullah bin Abbas. Muhammad menikahinya di tempat yang bernama Sarif suatu tempat mata air yang berada sembilan mil dari kota Mekah. Ia adalah wanita terakhir yang dinikahi oleh Muhammad. Wafat di Sarif pada tahun 63 H. Nama asli Maimunah adalah Barrah seperti nama asli Juwairiyah. Juwairiyah dan Maimunah nama asli dan nama ayahnya sama.

Maria binti Syama’un[20]Sunting

Mariah al-Qibthiyah ialah satu-satunya istri Nabi yang berasal dari Mesir. Ia seorang mantan budak Nabi yang telah dinikahi dan satu-satunya pula yang dengannya Nabi memperoleh anak selain Khadijah yakni Ibrahim namun meninggal dalam usia 4 tahun. Mariyah al-Qibtiyah wafat pada 16H/637 M.

Seorang wanita asal Mesir yang dihadiahkan oleh Muqauqis, penguasa Mesir kepada Rasulullah tahun 7 H. Setelah dimerdekakan lalu dinikahi oleh Rasulullah dan mendapat seorang putra bernama Ibrahim. Sepeninggal Rasulullah dia dibiayai oleh Abu Bakar kemudian Umar dan meninggal pada masa kekhalifahan Umar.

Seperti halnya Sayyidah Raihanah binti Zaid, Mariyah al-Qibtiyah adalah teman (stlh dibebaskan Rasulullah) yang kemudian ia nikahi. Rasulullah memperlakukan Mariyah sebagaimana ia memperlakukan istri-istrinya yang lainnya. Abu Bakar dan Umar pun memperlakukan Mariyah layaknya seorang Ummul-Mukminin. Dia adalah istri Rasulullah satu-satunya yang melahirkan seorang putra, Ibrahim, setelah Khadijah.

Allah menghendaki Mariyah al-Qibtiyah melahirkan seorang putra Rasulullah setelah Khadijah. Betapa gembiranya Rasulullah mendengar berita kehamilan Mariyah, terlebih setelah putra-putrinya, yaitu Abdullah, Qasim, dan Ruqayah meninggal dunia.

Mariyah mengandung setelah setahun tiba di Madinah. Kehamilannya membuat istri-istri Rasul cemburu karena telah beberapa tahun mereka menikah, namun tidak kunjung dikaruniai seorang anak pun. Rasulullah menjaga kandungan istrinya dengan sangat hati-hati. Pada bulan Dzulhijjah tahun kedelapan hijrah, Mariyah melahirkan bayinya yang kemudian Rasulullah memberinya nama Ibrahim demi mengharap berkah dari nama bapak para nabi, Ibrahim. Lalu ia memerdekakan Mariyah sepenuhnya.

Batal menjadi Ummu al-MukmininSunting

Di antarasemua para istrinya, hanya kedua wanita ini saja yang telah dinikahi tetapi belum sempat digauli oleh rasul.

Asma' binti al-Nu'manSunting

Asma' menikah dengan nabi Muhammad tetapi kemudian diceraikan oleh nabi dan diantar pulang oleh Abu Usaid ke keluarganya sebelum hidup bersama karena Asma telah berkata "'A'udzubillah" (Aku berlindung kepada Allah atas dirimu) kepada Muhammad, atas masukan dari Aisyah, Saudah dan Hafshah, karena mereka cemburu kepada Asma seorang janda yang cantik. Kembalilah Asma’ binti an-Nu’man ke tengah keluarganya, karena penyesalannya, ia selalu menyebut dirinya sebagai asy-Syaqiyah artinya wanita yang celaka. Kisah perceraian rasulallah dengan Asma binti Numan ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya.

Amrah binti YazidSunting

Nabi Muhammad menikah dengan Amrah ketika Amrah baru saja memeluk agama Islam.

Waktu PernikahanSunting

Catatan kakiSunting

  1. ^ "Istri-istri Rasulallah di SDMutiaraIslam.com". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-05-28. Diakses tanggal 2013-08-02. 
  2. ^ "Sahih al-Bukhari 7012". Diakses tanggal 2021-07-17. 
  3. ^ "Sahih al-Bukhari 3895". Diakses tanggal 2021-07-17. 
  4. ^ "Sahih al-Bukhari 5081". Diakses tanggal 2021-07-17. 
  5. ^ "Sahih al-Bukhari 5158". Diakses tanggal 2021-07-17. 
  6. ^ "Sunan an-Nasa'i 3256". Diakses tanggal 2021-07-17. 
  7. ^ "Sahih Muslim 1422b". Diakses tanggal 2021-07-17. 
  8. ^ al-Mubarakfuri, Shafiyurrahman (2020). Sirah Nabawiyah. Gema Insani, 2020. hlm. 96. ISBN 6022508509. 
  9. ^ "Hadits Sunan Abu Dawud No. 1811 - Kitab Nikah". Diakses tanggal 2021-07-17. 
  10. ^ "Sahih al-Bukhari 3894". Diakses tanggal 2021-07-17. 
  11. ^ "More on 'Ā'isha's Age at the Time of Her Marriage - A Dialogue Between "The Learner" and Shaykh Gibril F. Haddad" (PDF). Diakses tanggal 2021-07-17. 
  12. ^ "تحقيق في عمر أم المؤمنين عائشة رضي الله عنها عندما تزوجها النبي صلى الله عليه وسلم". Diakses tanggal 2021-07-17. 
  13. ^ Al-Shati', 1971, 171
  14. ^ Ibn Ishaq. The Life of Muhammad: Translation of Ibn Ishaq's Sirat Rasul Allah. hlm. 464. 
  15. ^ Ahmad ibn Jabir al-Baladhuri, Kitab Futuh al-Buldan. Translated by Hitti, P. K. (1916). Origins of the Islamic State vol. 1 p. 41. New York: Columbia University.
  16. ^ Muhammad ibn Jarir al-Tabari. Tarikh al-Rusul wa'l-Muluk. Translated by Poonawala, K. I. (1990). The History of al-Ṭabarī Volume 9: Last Years of the Prophet. Albany: State University of New York Press.
  17. ^ Ibn Ishaq/Guillaume p. 510.
  18. ^ Tabari. The History of al-Tabari, vol. 8. hlm. 122–123. 
  19. ^ a b Nama Para Istri Nabi Muhammad[pranala nonaktif permanen]
  20. ^ Maria al-Qabtiyya di Fiqh Islam.com

ReferensiSunting