Quraisy

halaman disambiguasi Wikimedia

Quraisy (bahasa Arab: قُرَيْشٌ‎) adalah sekempulan klan-klan Arab yang secara historis mendiami dan menguasai kota Makkah dan Ka'bah. Nabi Islam, Muhammad lahir dari klan Hasyim dari suku ini. Meskipun demikian, banyak dari orang-orang Quraisy yang menolak Muhammad mentah-mentah, sampai mereka secara massal masuk Islam pasca dikepungnya Makkah oleh pasukan Muhammad pada sekitar tahun 630 M. Setelah itu, kepemimpinan atas komunitas Muslim secara tradisional diwariskan kepada anggota dari suku Quraisy, seperti halnya dengan kekhalifahan Rasyidun, Umayyah, Abbasiyah, dan diduga juga kekhalifahan Fatimiyah.

Quraisy
قُرَيْشٌ
Suku Arab
EtnisArab
NisbahQuraisyī
Lokasi asal leluhurMakkah, Hijaz (Arabia barat)
Diturunkan dariFihr bin Malik
Suku indukBanu Kinanah
Cabang
  • Banu al-Harith
  • Banu Lu'ayy bin Ghalib]
    • Banu 'Amir
    • Banu Ka'b
      • Banu Adi
      • Banu Murrah
        • Banu Taym
        • Banu Yaqaza
          • Banu Makhzum
        • Banu Kilab
          • Banu Zuhra
          • Qusai bin Kilab
            • Banu Abdul-Dar
            • Banu 'Abdul Manaf
              • Banu Abdusy Syamsu
              • Banu Nawfal
              • Banu Hasyim
              • Banu Mutallib
            • Banu 'Abdul-Uzza
              • Banu Asad
      • Banu Husays
        • Banu 'Amr
          • Banu Sahm
          • Banu Jumah
BahasaArab
AgamaIslam (630 - present)
Politeisme (230 - 630)

NamaSunting

Terdapat perbedaan pendapat mengenai etimologi Quraisy, dengan satu teori menyatakan bahwa Quraisy adalah bentuk diminutif dari kata qirsh (hiu).[1] Ahli silsilah abad ke-9, Hisyam bin al-Kalbi menegaskan nama Quraisy bukanlah nama dari seorang pendiri suku;[2] sebaliknya, nama ini berasal dari taqarrusy, sebuah kata dalam bahasa Arab yang berarti "berkumpul bersama" atau "perkumpulan". Suku Quraisy mendapatkan nama mereka ketika Qusayy bin Kilab, keturunan generasi keenam dari Fihr bin Malik, mengumpulkan sanak saudaranya dan mengambil alih kendali atas Ka'bah. Sebelum ini, keturunan Fihr hidup dalam kelompok-kelompok nomaden yang tersebar di antara kerabat Kinanah mereka.[3] Nisbah atau nama keluarga suku Quraisy adalah Quraisyii, meskipun pada abad-abad awal umat Islam, kebanyakan suku Quraisy dilambangkan dengan marga mereka yang spesifik, bukan suku. Belakangan, terutama setelah abad ke-13, orang-orang yang mengaku keturunan Quraisy mulai menggunakan nama keluarga Quraisyii.[1]

SejarahSunting

Asal UsulSunting

Nenek moyang suku Quraisy adalah Fihr bin Malik, yang silsilah lengkapnya, menurut sumber-sumber Arab tradisional, adalah sebagai berikut: Fihr bin Mālik bin al-Naḍr bin Kināna bin Khuzayma bin Mudrika bin Ilyās bin Muḍar bin Nizār bin Ma'add bin ʿAdnān. Dengan demikian, Fihr berasal dari suku Kinanah dan keturunannya ditelusuri sampai ke Adnan dari suku Ismael, ayah semi-legendaris dari "Arab utara". Menurut sumber-sumber tradisional, Fihr memimpin para pejuang Kinanah dan Khuza'ah dalam mempertahankan Ka'bah, yang pada saat itu merupakan tempat perlindungan utama kaum pagan di Makkah, melawan suku-suku dari Yaman; akan tetapi, tempat perlindungan tersebut dan hak-hak istimewa yang terkait dengannya tetap berada di tangan suku Khuza'ah Yaman. Suku Quraisy memperoleh nama mereka ketika Qusayy bin Kilab, keturunan generasi keenam dari Fihr bin Malik, mengumpulkan sanak saudaranya dan mengambil alih kendali atas Ka'bah. Sebelum ini, keturunan Fihr hidup dalam kelompok-kelompok nomaden yang tersebar di antara kerabat Kinanah mereka[4]

Bermukim di MakkahSunting

Semua sumber Muslim abad pertengahan setuju bahwa Qusayy menyatukan keturunan Fihr, dan menjadikan suku Quraisy sebagai kekuatan dominan di Makkah.[5] Setelah menaklukkan Makkah, Qusayy memberikan tempat tinggal kepada klan-klan Quraisy yang lain. Mereka yang menetap di sekitar Ka'bah dikenal sebagai Quraisy al-Biṭhāḥ (bahasa Arab: قُرَيْش ٱلْبِِطَاح, har. 'Quraysh dari tempat cekungan'), dan termasuk semua keturunan Ka'b ibn Lu'ayy dan lainnya. Klan-klan yang menetap di pinggiran tempat suci dikenal sebagai Quraisy al-Ẓawāhīr (bahasa Arab: قُرَيْش ٱلظَّوَاهِر, har. 'Quraisy dari Pinggiran'). Menurut sejarawan Ibnu Ishaq, putra Qusayy yang lebih muda, Abdul Manaf, tumbuh menonjol selama masa hidup ayahnya dan dipilih oleh Qusayy untuk menjadi penggantinya sebagai penjaga Ka'bah. Dia juga memberikan tanggung jawab lain yang berhubungan dengan Ka'bah kepada putranya yang lain, Abdul-'Uzza dan Abdul-Dar, sambil memastikan bahwa semua keputusan Quraisy harus dibuat di hadapan putra sulungnya, Abdul-Dar; Abd al-Dar juga ditunjuk sebagai pemegang hak-hak istimewa seperti penjaga panji-panji perang Quraisy dan pengawas air dan perbekalan bagi para peziarah yang mengunjungi Ka'bah.[6]

Menurut sejarawan F. E. Peters, catatan Ibnu Ishaq mengungkapkan bahwa Mekah pada masa Qusayy dan keturunannya belum menjadi pusat perdagangan; sebaliknya, ekonomi kota didasarkan pada ziarah ke Ka'bah, dan "apa yang disebut sebagai kantor-kantor pemerintah kota [yang ditunjuk oleh Qusayy] hanya berkaitan dengan operasi militer dan kontrol terhadap tempat suci".[7] Selama masa itu, suku Quraisy bukanlah pedagang; sebaliknya, mereka dipercayakan dengan pelayanan keagamaan, yang darinya mereka mendapatkan keuntungan yang signifikan. Mereka juga mendapat keuntungan dari pajak yang dikumpulkan dari para peziarah yang masuk. Meskipun Qusayy tampak sebagai orang kuat Quraisy, dia tidak secara resmi menjadi raja suku, tetapi salah satu dari banyak syekh terkemuka (kepala suku).[8]

Menurut sejarawan Gerald R. Hawting, jika sumber-sumber tradisional dapat dipercaya, anak-anak Qusayy, "pastilah hidup pada paruh kedua abad ke-5".[9] Namun, sejarawan W. Montgomery Watt menegaskan bahwa Qusayy sendiri kemungkinan besar meninggal pada paruh kedua abad ke-6. Masalah suksesi antara penerus alami Qusayy, yakni Abdul-Dar, dan penerus pilihannya, Abdul Manaf, menyebabkan pembagian Quraisy menjadi dua faksi; Mereka yang mendukung klan Abdul-Dar, termasuk klan Bani Sahm, Bani Adi, Bani Makhzum dan Bani Jumah, dikenal sebagai al-Aḥlāf (para Konfederasi), sementara mereka yang mendukung klan Abdul Manaf, termasuk Bani Taym, Bani Asad, Bani Zuhra dan Bani al-Harits ibn Fihr, dikenal sebagai al-Muṭayyabūn (bahasa Arab: ٱلْمُطَيَّبُوْن, har. 'orang-orang yang wangi').[10]

TokohSunting

ReferensiSunting

  1. ^ a b Watt 1986, p. 435.
  2. ^ Peters 1994, p. 14.
  3. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Watt434
  4. ^ Watt 1986, p. 434.
  5. ^ Peters 1994, pp. 14–15.
  6. ^ Peters 1994, p. 15.
  7. ^ Peters 1994, pp. 15–16.
  8. ^ Peters 1994, p. 16.
  9. ^ Hawting 2000, p. 22.
  10. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Watt4352