Abu Bakar Ash-Shiddiq

Tokoh Muslim dan pemimpin Kekhalifahan Rasyidin yang pertama

Abdullah bin Abu Quhafah (bahasa Arab: عبد الله بن أبي قحافة‎; 57323 Agustus 634/21 Jumadil Akhir 13 H) atau yang lebih dikenal dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq (bahasa Arab: أبو بكر الصديق‎), adalah salah satu pemeluk Islam awal, salah satu sahabat utama Nabi, dan khalifah pertama yang dibaiat sepeninggal Nabi Muhammad wafat. Melalui putrinya, 'Aisyah, Abu Bakar merupakan ayah mertua Nabi Muhammad. Ash-Shiddiq yang merupakan julukan Nabi Muhammad kepada Abu Bakar merupakan salah satu gelar yang paling melekat padanya.[butuh rujukan] Bersama ketiga penerusnya, Abu Bakar dimasukkan ke dalam kelompok Khulafaur Rasyidin.[1]

Abu Bakar
أبو بكر
Ash-Shiddiq
Rashidun Caliph Abu Bakr as-Șiddīq (Abdullah ibn Abi Quhafa) - أبو بكر الصديق عبد الله بن عثمان التيمي القرشي أول الخلفاء الراشدين.svg
Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu 'anhu
Khalifah
Berkuasa8 Juni 632 – 23 Agustus 634
(2 tahun, 77 hari)
Penerus'Umar bin Khattab
Lahir'Abdul Ka'bah
27 Oktober 573
Makkah, Jazirah Arab
Wafat23 Agustus 634
Madinah, Jazirah Arab
Pemakaman
SukuQuraisy (Bani Taim)
Nama dan tanggal periode
Khulafaur Rasyidin: 632–634
AyahAbu Quhafah 'Utsman
IbuSalma binti Shakhar
Pasangan
AnakPutra
Putri
AgamaIslam

Sebagai pemeluk awal Islam, Abu Bakar telah mengambil berbagai peran besar.[butuh rujukan] Melalui ajakannya, Abu Bakar berhasil mengislamkan banyak orang yang di kemudian hari menjadi tokoh-tokoh penting dalam sejarah Islam, di antaranya adalah 'Utsman bin 'Affan yang kemudian menjadi khalifah ketiga. Abu Bakar juga turut serta dalam berbagai perang seperti Perang Badar (624 M/2 H) dan Perang Uhud (625 M/3 H).[butuh rujukan] Kedekatan dan kesetiaannya pada Nabi Muhammad merupakan satu hal yang sangat melekat pada diri Abu Bakar, utamanya terlihat saat mendampingi Nabi Muhammad hijrah ke Madinah dan kepatuhannya dalam menerima keputusan Nabi dalam Perjanjian Hudaibiyah, meski banyak sahabat Nabi kala itu tidak menyepakati perjanjian tersebut karena dipandang berat sebelah.[butuh rujukan]

Abu Bakar dinyatakan sebagai khalifah sepeninggal Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Abu Bakar menjadi khalifah pertama umat Islam yang menjadi awal dari Kekhalifahan Rasyidin.[butuh rujukan] Masa kekuasaannya yang singkat, dipusatkan pada pemadaman pemberontakan suku-suku Arab yang menolak tunduk pada Abu Bakar.[2] Dalam memerintah, Abu Bakar berusaha mengeluarkan kebijakan yang tidak berbeda dengan Nabi Muhammad, seperti penolakannya untuk mencopot Khalid bin Walid dari kedudukannya sebagai panglima.[butuh rujukan]

Nama dan silsilahSunting

Sebelum masuk Islam nama Abu Bakar adalah Abdul Ka'bah (artinya 'hamba Ka'bah'), yang kemudian diubah oleh Nabi menjadi Abdullah (artinya 'hamba Allah').[3] Nabi memberinya gelar yaitu Ash-Shiddiq (artinya 'yang berkata benar') setelah Abu Bakar membenarkan peristiwa Isra Mi'raj yang diceritakan Nabi kepada para pengikutnya, sehingga ia lebih dikenal dengan nama "Abu Bakar ash-Shiddiq".[butuh rujukan]

Nama lengkapnya adalah 'Abdullah bin 'Utsman bin Amir bin Amru bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhar, dan dia bernama Quraisy bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan at-Taimi al-Qurasyi.[4][5] Bertemu nasabnya dengan Nabi Muhammad pada kakeknya yang bernama Murrah bin Ka'ab[6] dan ibu dari Abu Bakar adalah Ummu al-Khair Salma binti Shakhr bin Amir bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim yang berarti ayah dan ibunya sama-sama dari kabilah Bani Taim.[1]

Kehidupan awalSunting

Abu Bakar lahir di kota Makkah sekitar tahun 573 (tahun kedua dari tahun gajah[1]), dari keluarga kaya dalam Bani Taim dari suku Quraisy.[7] Ayah Abu Bakar bernama Abu Quhafah Utsman (panggilan Abu Quhafah) dan ibunya bernama Salma binti Sakhar (panggilan Ummul Khair).[butuh rujukan] Abu Bakar menghabiskan masa kecilnya seperti anak Arab pada zaman itu di antara suku Badui yang menyebut diri mereka dengan nama Ahl-i-Ba'eer atau rakyat unta.[butuh rujukan] Pada masa kecilnya, Abu Bakar sering sekali bermain dengan dengan unta dan kambing, dan kecintaannya terhadap unta inilah yang memberinya nama "Abu Bakar" yang berarti, bapaknya unta.[8]

Ketika umurnya berusia 10 tahun, Abu Bakar pergi ke Suriah bersama ayahnya dengan kafilah dagang. Nabi Muhammad yang pada saat itu berusia 12 tahun juga bersama kafilah tersebut. Pada tahun 591, Abu Bakar yang pada saat itu berusia 18 tahun pergi untuk berdagang, berprofesi sebagai pedagang kain yang memang sudah menjadi bisnis keluarga.[butuh rujukan] Dalam tahun-tahun mendatang Abu Bakar sering sekali bepergian dengan kafilahnya. Perjalanan bisnis membawanya ke Yaman, Suriah dan beberapa tempat lainnya. Perjalanan bisnis inilah yang membuatnya semakin kaya dan semakin berpengalaman dalam berdagang.[butuh rujukan]

Bisnisnya semakin berkembang, mempengaruhi status sosial Abu Bakar. Meskipun ayahnya Abu Quhafah Utsman masih hidup, Abu Bakar diakui sebagai kepala sukunya.[butuh rujukan] Seperti anak-anak lain dari keluarga pedagang Makkah yang kaya, Abu Bakar adalah orang terpelajar (bisa menulis dan membaca) dan dia menyukai puisi. Abu Bakar biasanya menghadiri pameran tahunan di Ukaz dan ikut berpatisipasi dalam simposium puitis.[butuh rujukan] Ia memiliki ingatan yang bagus dan pemahaman yang baik mengenai silsilah atau asal usul suku-suku Arab, sejarah dan juga politik mereka.[9]

Sebuah cerita ketika Abu Bakar masih kecil, ayahnya membawanya ke Ka'bah, dan meminta Abu Bakar berdoa kepada berhala. Setelah itu ayahnya pergi untuk mengurus urusan bisnis lainnya, meninggalkan Abu Bakar sendirian dengan berhala-berhala tersebut. Abu Bakar lalu berdoa kepada berhala, "Ya Tuhanku, aku sedang membutuhkan pakaian, berikanlah kepadaku pakaian". Berhala tersebut tetap acuh tak acuh tidak menanggapi permintaan Abu Bakar. Kemudian Abu Bakar berdoa kepada berhala lainnya dan mengatakan "Ya Tuhanku, berikanlah aku makanan yang lezat, lihatlah aku sangat lapar". Berhala itu masih tidak memberikan jawaban apapun dan acuh tak acuh. Melihat permintaannya tidak dikabulkan, kesabaran Abu Bakar habis lalu mengangkat sebuah batu dan berkata kepada berhala tersebut. "Di sini saya sedang mengangkat batu dan akan mengarahkannya kepadamu, kalau kamu memang tuhan, maka lindungilah dirimu sendiri". Abu Bakar lalu melemparkan batu tersebut ke arah berhala dan meninggalkan Ka'bah. Setelah itu, Abu Bakar tidak pernah lagi datang ke Ka'bah untuk menyembah berhala-berhala di Ka'bah.[10]

Memeluk IslamSunting

Setelah kembali dari perjalanan bisnis dari Yaman, Abu Bakar diberi tahu oleh teman-temannya bahwa ketika beliau tidak berada di Makkah, Muhammad menyatakan dirinya bahwa beliau adalah seorang utusan Allah. Ibnu Jarir ath-Thabari, ahli sejarawan muslim yang paling terkenal, dalam bukunya Tarikh ath-Thabari mengutip perkataan dari Muhammad bin Sa'ad bin Abi Waqqash, yang mengatakan:

Sunni dan Syi'ah mempertahankan pendapat mereka bahwa orang kedua yang secara terang-terangan menerima Muhammad sebagai utusan Allah adalah Ali bin Abi Thalib, dan orang yang pertama adalah Khadijah.[12]

Ibnu Katsir dalam bukunya Al-Bidayah wan Nihayah memiliki pendapat yang berbeda dengan pendapat di atas. Dia berpendapat bahwa wanita yang pertama kali masuk Islam adalah Khadijah. Zaid bin Haritsah adalah budak pertama yang masuk Islam. Ali bin Abi Thalib adalah anak kecil pertama yang masuk islam karena pada waktu ia masuk Islam, Ali belum dewasa pada waktu itu. Adapun laki-laki dewasa yang bukan budak yang pertama kali masuk islam yaitu Abu Bakar.[13]

Dalam kitab Hayatussahabah, dituliskan bahwa Abu Bakar masuk Islam setelah diajak oleh Muhammad.[butuh rujukan] Diriwayatkan oleh Abu Hasan Al-Athrabulusi dari Aisyah, ia berkata:

Abu Bakar lalu mendakwahkan ajaran Islam kepada Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqas dan beberapa tokoh penting dalam Islam lainnya.[14][15]

Kehidupan setelah masuk IslamSunting

Istri pertama Abu Bakar yang bernama Qutailah binti Abdul Uzza tidak menerima agama Islam lalu Abu Bakar menceraikannya. Istrinya yang lain yang bernama Ummi Ruman menjadi mualaf.[butuh rujukan] Semua anak Abu Bakar menerima agama Islam kecuali Abdurrahman bin Abi Bakar sehingga membuat mereka berpisah, walaupun pada akhirnya Abdurrahman kelak menjadi seorang Muslim setelah Perjanjian Hudaibiyyah.[butuh rujukan]

Masuk Islamnya Abu Bakar membuat banyak orang masuk Islam. beliau membujuk teman dekatnya untuk masuk Islam sehingga banyak temannya menerima ajakan tersebut.[14][15]

Ciri FisikSunting

Beliau berkulit putih, bertubuh kurus, berambut lebat, tampak kurus wajahnya, dahinya muncul, dan ia sering memakai hinaa dan katm.

Masa bersama NabiSunting

Ketika Muhammad menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, ia pindah dan hidup bersama Abu Bakar.[butuh rujukan] Saat itu Muhammad menjadi tetangga Abu Bakar.[butuh rujukan] Sejak saat itu mereka berkenalan satu sama lainnya.[butuh rujukan] Mereka berdua berusia sama dan hanya berselisih 2 tahun 1 bulan lebih muda daripada muhammad, pedagang dan ahli berdagang.[butuh rujukan]

Penyiksaan oleh suku QuraisySunting

Sebagaimana yang juga dialami oleh para pemeluk Islam pada masa awal. Ia juga mengalami penyiksaan yang dilakukan oleh penduduk Makkah yang mayoritas masih memeluk agama nenek moyang mereka. Namun, penyiksaan terparah dialami oleh mereka yang berasal dari golongan budak. Sementara para pemeluk non budak biasanya masih dilindungi oleh para keluarga dan sahabat mereka. Hal ini mendorong Abu Bakar membebaskan para budak tersebut dengan membelinya dari tuannya kemudian memberinya kemerdekaan. Salah seorang budak yang dibelinya lalu kemudian dibebaskan adalah Bilal bin Rabah.

Ketika peristiwa Hijrah, saat Nabi Muhammad pindah ke Madinah (622 M), Abu Bakar adalah satu-satunya orang yang menemaninya. Abu Bakar juga terikat dengan Nabi Muhammad secara kekeluargaan. Anak perempuannya, Aisyah menikah dengan Nabi Muhammad beberapa saat setelah Hijrah.

Selama masa sakit Rasulullah saat menjelang wafat, dikatakan bahwa Abu Bakar ditunjuk untuk menjadi imam salat menggantikannya, banyak yang menganggap ini sebagai indikasi bahwa Abu Bakar akan menggantikan posisinya. Bahkan pun setelah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam telah meninggal dunia, Abu Bakar Ash-Shiddiq dianggap sebagai sahabat Nabi yang paling tabah menghadapi meninggalnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ini. Segera setelah kematiannya, dilakukan musyawarah di kalangan para pemuka kaum Anshar dan Muhajirin di Tsaqifah Bani Saidah yang terletak di Madinah, yang akhirnya menghasilkan penunjukan Abu Bakar sebagai pemimpin baru umat Islam atau khalifah Islam pada tahun 632 M.

Apa yang terjadi saat musyawarah tersebut menjadi sumber perdebatan. Penunjukan Abu Bakar sebagai khalifah adalah subyek kontroversial dan menjadi sumber perpecahan pertama dalam Islam, di mana umat Islam terpecah menjadi kaum Sunni dan Syi'ah. Di satu sisi kaum Syi'ah percaya bahwa seharusnya Ali bin Abi Thalib (menantu Nabi Muhammad) yang menjadi pemimpin dan dipercayai ini adalah keputusan Rasulullah sendiri, sementara kaum Sunni berpendapat bahwa Rasulullah menolak untuk menunjuk penggantinya. Kaum Sunni berargumen bahwa Muhammad mengedepankan musyawarah untuk penunjukan pemimpin. Sementara Syi'ah berpendapat bahwa nabi dalam hal-hal terkecil seperti sebelum dan sesudah makan, minum, tidur, dan lain-lain, tidak pernah meninggalkan umatnya tanpa hidayah dan bimbingan apalagi masalah kepemimpinan umat terakhir. Banyak hadits yang menjadi referensi dari kaum Sunni maupun Syi'ah tentang siapa khalifah sepeninggal Rasulullah. Terlepas dari kontroversi dan kebenaran pendapat masing-masing kaum tersebut, Ali sendiri secara formal menyatakan kesetiaannya (berbaiat) kepada Abu Bakar dan dua khalifah setelahnya (Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan). Kaum Sunni menggambarkan pernyataan ini sebagai pernyataan yang antusias dan Ali menjadi pendukung setia Abu Bakar dan Umar. Sementara kaum Syi'ah menggambarkan bahwa Ali melakukan baiat tersebut secara pro forma, mengingat ia berbaiat setelah sepeninggal Fatimah istrinya yang berbulan bulan lamanya dan setelah itu ia menunjukkan protes dengan menutup diri dari kehidupan publik.

Pengangkatan sebagai khalifahSunting

Setelah Rasul berpulang, berkumpullah kepala-kepala kaum Anshar, baik pihak Aus maupun persukuan Khazraj, dalam sebuah balairung milik Bani Sa'idah. Mereka bermaksud hendak memilih Sa'ad ibnu Ubadah menjadi khalifah Rasulullah, sebab ia adalah kepala tertinggi kaum Anshar pada waktu itu.[1] Berita permusyawaratan itu lekas sampai kepada orang-orang besar di kalangan Muhajirin. Saat itu juga dengan segera mereka pergi ke balairung. Baru saja sampai, Abu Bakar langsung berpidato, menyarankan Anshar agar memilih salah satu dari dua tokoh Muhajirin menjadi khalifah : Abu Ubaidah atau Umar.

Setelah selesai Abu Bakar berpidato, berdirilah Habbab ibnu Al Munzir, menyatakan penolakannya. Ia mengusulkan agar masing-masing dari kubu Anshar dan Muhajirin memiliki khalifahnya sendiri-sendiri. Mendengar itu, Umar lalu menyambung pembicaraannya, "Jangan sekali-kali menyebutkan itu. Tidak dapat berhimpun dua kepala dalam satu kekuasaan." Hebat sekali pertentangan Umar dengan Habbab pada saat itu.

Basyir ibnu Sa'ad, seorang yang terpandang dari golongan Aus Anshar, tampil ke depan, "Wahai kaum Anshar, memang kita mempunyai beberapa kelebihan dalam perjuangan. Namun, ingatlah pekerjaan besar itu kita kerjakan bukanlah karena mengharapkan yang lain, hanyalah semata-mata mengharapkan ridha Allah dan menaati Nabi kita. Oleh sebab itu, tidaklah pantas kita memanjangkan mulut menyebut-nyebutkan jasa itu pada manusia. Ingat pula bahwa Muhammad saw. jelas dari Quraisy, kaumnya lebih berhak menjadi penggantinya untuk mengepalai kita. Jangan bertingkah dengan saudara-saudara kita Muhajirin, jangan berselisih."

Majlis pun menjadi tenang. Ketika itu, berkatalah Abu Bakar, "Ini ada Abu Ubaidah dan Umar, pilihlah mana di antara keduanya yang kamu sukai dan berbaiatlah."[1] Dengan serentak keduanya membantah. Abu Ubaidah dan Umar, justru mencalonkan Abu Bakar sebagai khalifah. Pertimbangannya, Abu Bakar pernah mendampingi Rasulullah ketika bersembunyi dalam gua pada saat masa hijrah ke Madinah. Selain itu, Abu Bakar juga pernah ditetapkan sebagai pengganti Rasulullah dalam shalat ketika ia sakit.

Basyir ibnu Sa'ad dari Aus ikut mendukung pencalonan Abu Bakar. Berduyun-duyunlah anggota Aus yang lain membaiat Abu Bakar. Melihat itu, anggota-anggota Khazraj pun terpengaruh, juga ikut tampil ke depan untuk membaiat Abu Bakar. Melihat pihak lain telah berduyun-duyun membaiat Abu Bakar, Bani Hasyim pun tidaklah dapat mengelak lagi. Mereka sadar bahwa perkara ini bukan perkara keluarga, melainkan siapakah orang yang paling mulia di sisi Rasulullah. Sementara itu, Ali bin Abi Thalib tidak hadir di situ, karena sedang menjaga jenazah Rasulullah. Karena itu, ia tidak turut membaiat. Ali sendiri pun akhirnya membaiatnya juga, yaitu beberapa waktu setelah istrinya, Fathimah binti Rasulullah, wafat.[1]

Setelah orang-orang selesai membaiatnya, Abu Bakar pun berpidato sebagai sambutan atas kepercayaan orang banyak pada dirinya.

Wahai manusia, sekarang aku telah menjabat pekerjaan ini, tetapi tidaklah aku orang yang lebih baik daripada kamu. Jika aku telah berlaku baik dalam jabatanku, sokonglah aku. Namun, jika aku berlaku salah, tegakkanlah aku kembali. Kejujuran adalah suatu amanat, kedustaan adalah suatu khianat. Orang yang kuat di antara kamu, di sisiku ia lemah, karena aku tarik darinya untuk hak si lemah. Orang yang lemah di sisimu, di sisiku ia kuat, sehingga akan kuberikan haknya dari si kuat, insyaa Allah. Taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun, kalau aku melanggar perintah Allah dan Rasul, tidak usah kamu mengikutiku.[1]

Memadamkan pemberontakanSunting

Baru saja tersiar kabar kematian Rasul, bergeraklah kelompok-kelompok pemberontak hendak melepaskan diri dari persatuan Islam yang baru tegak.

Sebelum mengatur persiapan untuk memerangi pemberontak, Abu Bakar lebih dahulu hendak menyempurnakan angkatan perang di bawah Usamah. Pada saat itu, Usamah baru kira kira 17 tahun. Usamah diangkat langsung oleh Rasulullah menjadi kepala perang.[1] Banyak ketua Quraisy menjadi prajurit di bawah perintahnya.

Abu Bakar pergi ke tempat pemberhentian angkatan perang Usamah, untuk melepasnya berangkat. Abu Bakar meminta Usamah untuk mengizinkan Umar tidak ikut berperang. Abu Bakar membutuhkan Umar untuk menemaninya dalam mengatur pemerintahan dalam negeri.[1] Permintaan itu dikabulkan oleh Usamah.

Ketika mereka akan berangkat, Abu Bakar berpidato :

Jangan berkhianat. Jangan memungkiri janji. Jangan menganiaya jasad musuh yang telah mati. Jangan membunuh anak-anak, orang tua dan perempuan. Jangan memotong batang kurma. Jangan membakar dan jangan menumbangkan kayu-kayuan yang berbuah. Jangan menyembeli kambing, sapi dan unta, kecuali sekadar untuk dimakan. Kalau kamu bertemu dengan suatu kaum yang telah menyisihkan dirinya dalam gereja-gereja, hendaklah dibiarkan saja. Kalau diberi makanan oleh orang lain, hendaklah membaca nama Allah ketika memakannya. Hai Usamah, berbuatlah dengan apa yang diperintahkan Rasulullah kepadamu di negeri Qudha'ah, jangan engkau lalaikan sedikit pun perintah Rasulullah.[1]

Setelah itu Abu Bakar melepaskan tentara itu di Jurf, lalu ia kembali ke Madinah. Usamah berangkat dan mengepung negeri Qudha'ah. Setelah empat puluh hari pertempuran hebat, Usamah kembali dengan kemenangan. Tentara yang pergi ke Qudha'ah bukan sedikit jumlahnya, sehingga menimbulkan kesan pada musuh-musuh yang lain.

Setelah pulang, Usamah dan tentaranya disuruh untuk beristirahat. Abu Bakar turun tangan memimpin pasukannya langsung untuk menyelesaikan pemberontakan kaum Abs dan Dzubyan di luar Kota Madinah. Selama memimpin pasukan, Abu Bakar menyerahkan kepemimpinan Kota Madinah kepada orang lain. Setelah Abu Bakar berhasil memadamkan pemberontakan itu, ia mengumpulkan tentaranya di Zhul Qishshah[1], sekitar 15 km dari Madinah, menghadap ke Najd. Disana, ia membagi sebelas buah bendera kepada sebelas orang panglima perang.[1]

  1. Khalid ibnu Al Walid, ke Thulaihah ibnu Khuwailid al-Asadi di negeri Bazuakhah. Kalau sudah selesai, lanjut ke Malik ibnu Nuwairah di negeri Batthaah.
  2. Ikrimah ibnu Abu Jahal, ke Musailamah di Yamamah.
  3. Syurahbil ibnu Hasanah, menyusul Ikramah di belakang.
  4. Al-Muhajir ibnu Abi Umayah, ke Aswad al-Insyi di Yaman.
  5. Hudzaifah ibnu Muhsin, ke negeri Daba di Umman
  6. Arfajah ibnu Hartsamah, ke negeri Mahrah.
  7. Suwaid ibnu Muqarrin, ke Tihamah di Yaman
  8. Al-Ala' ibnu Al-Hadhrami, ke Bahrain
  9. Thuraifah ibnu Hajiz, ke Bani Sulaim dan Hawazin
  10. 'Amru ibnu Al-Ash, ke Qudha'ah
  11. Khalid ibnu Sa'id ke daerah tanah tinggi di Syam

Berkat para kepala perang itu, dalam masa yang tidak berapa lama, seluruh pemberontakan dan huru-hara dapat disapu bersih. Seluruh Jazirah Arab bersatu kembali di bawah satu bendera.

Penaklukan PersiaSunting

Setelah aman huru-hara dalam negeri, khalifah menghadap ke luar negeri untuk menaklukkan negeri Persia. Diangkatnya kepala perang besar yang masyhur, yakni Saifullah (Khalid ibnu Al-Walid).[1] Kalau rencana ini berhasil, perjalanan boleh diteruskan hingga ke batas-batas Hindustan. Sebagai pembantunya, diangkat Iyadh ibnu Ghanam yang datang dari Irak.

Khalid berhasil memasuki Persia, mulai dari pinggir Sungai Furrat sampai ke Ubullah, mengelilingi Syam dan Irak. Di beberapa tempat, mereka bertempur dengan tentara-tentara Persia, Romawi dan Arab. Khalid lebih suka berduel beradu tombak melawan kepala-kepala kaum, sebab dengan demikian tempo perang dapat disingkatkan. Kalau suatu negeri ditaklukkannya, maka disana ia akan mengangkat seorang amir untuk mengatur khiraj (cukai) dari ahli dzimmah.

Di satu sisi, nama Khalid menakutkan musuh. Namanya lebih dahulu mengegerkan tempat-tempat yang belum dimasukinya. Di sisi lain, Khalid sangat dipuji oleh musuhnya, sebab para petani dan pertaniannya tidak pernah diganggu, melainkan dipeliharanya.[1] Oleh sebab itu, jika Khalid masuk ke negeri Arab yang masih berada sebagai vassal Persia, orang-orang itu lebih suka diperintah Khalid dan membelot dari pemerintahan yang lama. Sementara itu, agama mereka tidak diganggu, karena memeluk agama masehi.

Pasukan 'Iyadh berhasil menguasai Daumatul Jandal sampai ke Irak. Mereka bertemu dengan pasukan Khalid di Hirah.

Penaklukan SyamSunting

Abu Bakar mengirimkan surat kepada penduduk Mekah, Tha'if, Yaman, negeri Arab yang lain sampai ke Najd dan seluruh Hijaz. Mereka diperintahkan bersiap untuk membentuk suatu bala tentara besar untuk menaklukan negeri Syam, pusat Kerajaan Romawi pada masa itu.[1] Tiap-tiap panglima perang telah diberikan daerah tugas mereka. Abu Ubaidah ke Homsh. Yazid ibnu Abu Sufyan ke negeri Damsyik. Syurahbil ibnu Hasanah ke negeri Ardan. Amr ibnu al-Ash dan al-Qamah ibnu Mujzri ke Palestina. Kalau sudah selesai, al-Qamah dapat melanjutkan ke Mesir.[1]

Puncaknya adalah pertempuran besar di Yarmuk. Pertempuran berlangsung alot, berminggu-minggu. Hal ini disebabkan tiap-tiap kepala perang khalifah mengendalikan tentaranya sendiri-sendiri, tidak ada panglima perang besar untuk menyatukan komando. Padahal, orang Romawi sudah bermaksud untuk hendak keluar dari benteng untuk melakukan serangan besar.

Pada suatu waktu, datanglah Khalid dengan tiba-tiba, setelah selesai menaklukan Persia. Ia mendapat surat dari Khalifah yang menyuruhnya lekas bergerak ke Romawi. Setelah sampai di sana, Khalid mengusulkan sistem bergilir untuk memimpin komando seluruh pasukan menjadi satu.[1] Panglima-panglima itu pun menerima usulan Khalid. Untuk hari pertama, Khalid memimpin komando seluruh pasukan. Baru saja Khalid memimpin, pasukan khalifah mendapatkan kemenangan, sehingga besoknya tidak ada yang berani menggantikannya lagi.

Pada hari ketujuh bulan Jumadil Akhir tahun 13 H, Abu Bakar ditimpa sakit. Setelah Abu Bakar merasa bahwa telah dekat ajalnya, ia mengusulkan Umar bin al-Khattab untuk menjadi khalifah. Kehendak Abu Bakar diterima oleh sahabat-sahabatnya. Setelah lima belas hari lamanya menderita penyakit itu, beliau wafat pada 21 Jumadil Akhir 13H (22 Agustus 634 M). Ia memerintah selama 2 tahun, 3 bulan dan 10 hari.[1] Beliau dikebumikan di samping makam Rasulullah.

Ketika peperangan sangat hebatnya, datang surat dari Madinah yang menyatakan bahwa Abu Bakar telah wafat. Sekarang yang memerintah adalah Umar, bukan Abu Bakar lagi. Khalid diperintahkan Umar untuk berhenti memimpin peperangan untuk digantikan oleh Abu Ubaidah. Surat itu hanya disimpannya sampai peperangan selesai, untuk mencegah kekacauan dalam pasukan.

Setelah Romawi kalah dan pasukan khalifah menang, barulah Khalid datang kepada Abu Ubaidah untuk menyerahkan kekuasaan pimpinan pasukan. Khalid menjadi serdadu biasa dan meneruskan pertempuran di tempat-tempat yang lain. Setelah kemenangan di Yarmuk, secara berturut turut jatuh negeri Quds, Damsyik, Homsh, Humat, Halb, dan lain lain.

Al-Qur'anSunting

Abu Bakar juga berperan dalam pelestarian teks-teks tertulis Al-Qur'an. Dikatakan bahwa setelah kemenangan yang sangat sulit saat melawan Musailamah al-Kazzab dalam Perang Yamamah, banyak para penghafal Al-Qur'an yang terbunuh dalam pertempuran. Umar lantas meminta Abu Bakar untuk mengumpulkan koleksi dari Al-Qur'an oleh sebuah tim yang diketuai oleh sahabat Zaid bin Tsabit, dikumpulkan lembaran Al-Qur'an dari para penghafal Al-Qur'an dan tulisan-tulisan yang terdapat pada media tulis seperti tulang, kulit dan lain sebagainya,setelah lengkap penulisan ini maka kemudian disimpan oleh Abu Bakar. Setelah Abu Bakar meninggal maka disimpan oleh Umar bin Khattab dan kemudian disimpan oleh Hafshah, anak dari Umar dan juga istri dari Nabi Muhammad. Kemudian pada masa pemerintahan Utsman bin Affan koleksi ini menjadi dasar penulisan teks Al-Qur'an yang dikenal saat ini.

KematianSunting

Abu Bakar meninggal pada tanggal 23 Agustus 634 di kota Madinah karena sakit yang dideritanya pada usia 60-61 tahun. Abu Bakar dimakamkan di rumah putrinya Aisyah, di samping makam Nabi Muhammad.

KeluargaSunting

OrangtuaSunting

Ayah — 'Utsman bin 'Amir (540– Maret 635), juga dikenal dengan nama Abu Quhafah. Berasal dari Bani Taim. Abu Quhafah baru menganut Islam setelah penaklukkan Makkah. Dia meninggal beberapa bulan setelah mangkatnya Abu Bakar.[16](hlm.87)

IbuSalma binti Shakhar, juga dikenal dengan sebutan Ummu al-Khair. Salma merupakan sepupu Abu Quhafah dan juga berasal dari Bani Taim. Salma termasuk orang yang telah masuk Islam sebelum Nabi Muhammad hijrah dan yang mendatangi kediaman Arqam.[17][18] Dia meninggal pada masa kekhalifahan putranya.[19]

PasanganSunting

Abu Bakar menikahi empat wanita, yang melahirkannya tiga anak laki-laki dan tiga anak perempuan dan mereka masing-masing:[20]

  1. Qutailah binti Abdul Uzza bin Sa'ad bin Jabir bin Malik bin Hasl bin Amir bin Lu'ay, dan dia adalah ibu dari Abdullah dan Asma'.
  2. Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Abdu Syams bin Attab bin Udzainah bin Subai' bin Dahman bin Al-Harits bin Ghanm bin Malik bin Kinanah al-Kinaniyah, dan dia adalah ibu dari Aisyah dan Abdurrahman. Dia meninggal pada bulan Dzulhijjah di tahun 4 H atau 5 H atau 6 H.[21]
  3. Asma' binti Umais bin Ma'ad bin Al-Harits bin Taim asy-Syahraniyah al-Khatsa'miyah, dan dia adalah ibu dari Muhammad. Sebelumnya ia adalah istri dari Ja'far bin Abi Thalib. Setelah Ja'far terbunuh ia menikah dengan Abu Bakar. Setelah Abu Bakar wafat ia menikah dengan Ali bin Abi Thalib.[22]
  4. Habibah binti Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair al-Khazrajiyah al-Anshariyah, dikatakan namanya Mulaikah binti Kharijah, dan dia adalah ibu dari Ummu Kultsum.[23]

AnakSunting

Abu Bakar memiliki enam anak, tiga laki-laki dan tiga perempuan:[24]

  1. Abdurrahman bin Abi Bakar, ibunya adalah Ummu Ruman, dan dia adalah saudara Aisyah, meninggal pada tahun 53 H atau 55 H atau 56 H.[25]
  2. Abdullah bin Abi Bakar, ibunya adalah Qutailah binti Abdul Uzza, dan dia adalah saudara Asma', dan dialah yang membawakan makanan dan memberitahukan berita tentang kaum Quraisy kepada Nabi dan ayahnya Abu Bakar saat mereka berada di gua setiap malam, meninggal pada masa kekhalifahan pertama Abu Bakar di bulan Syawal pada tahun 11 H.[26]
  3. Muhammad bin Abi Bakar, ibunya adalah Asma' binti Umais, dan dia adalah saudara Abdullah bin Ja'far dari ibunya dan saudara Yahya bin Ali dari ibunya.[27]
  4. Asma' binti Abi Bakar, ibunya adalah Qutailah binti Abdul Uzza, dia adalah istri dari az-Zubair bin al-Awwam dan ibu dari Abdullah bin az-Zubair, ia dijuluki Dzatun Nithaqain.[28]
  5. Aisyah binti Abi Bakar, ibunya adalah Ummu Ruman, dan dia adalah istri dari Nabi Muhammad dan yang paling terkenal di antara para wanita, dia dijuluki Ash-Shiddiqah binti Ash-Shiddiq dan Ummul Mu'minin, dan dia adalah orang yang paling dicintai Nabi Muhammad dari seluruh orang-orang, meninggal pada 57 H atau 58 H pada malam selasa tujuh belas malam selama bulan Ramadhan, dan dimakamkan di pemakaman al-Baqi'.[29]
  6. Ummu Kultsum binti Abi Bakar, ibunya adalah Habibah binti Kharijah, ia dilahirkan setelah wafatnya Nabi Muhammad.[30]

RujukanSunting

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r Prof. Dr. Hamka (2016) Sejarah Umat Islam : Pra-kenabian hingga Islam di Nusantara Jakarta : Gema Insani
  2. ^ Zuhri, Muhammad (1989). Terjemah Tarakh al-Tasryi' al-Islami. Indonesia: Darul Ikhya. 
  3. ^ Mursi, hlm. 4.
  4. ^ Usud al-Ghabah fi Ma'rifat ash-Shahabah, Ibnu al-Atsir al-Jazari, Darul Kutub al-Ilmiyyah, edisi pertama 1415 H-1994 M, juz 3 hlm 310
  5. ^ Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah, Ibnu Hajar al-'Asqalani, 4/144-145
  6. ^ Sirah wa Hayyah Ash-Shiddiq, Majdi Fathi As-Sayyid, hlm 27
  7. ^ Al-Jubouri, I.M.N. (2010). Islamic Thought: From Mohammed to September 11, 2001. Berlin. hlm. 53. ISBN 9781453595855. 
  8. ^ Drissner, Gerald (2016). Islam for Nerds - 500 Questions and Answers. Berlin: createspace. hlm. 432. ISBN 978-1530860180. 
  9. ^ Az-Zarkali. Al-A'lam. Darul Ilmi lil Malayin. Edisi ke-15. Mei 2002.
  10. ^ Prof. Masud-Ul-Hasan. Sidiq-I-Akbar Hazrat Abu Bakr. hlm 2.
  11. ^ Tarikh ath-Thabari vol.2 hlm 60
  12. ^ M. Th. Houtsma et al., eds., E.J. Brill's first Encyclopaedia of Islam, 1913–1936, Leiden: E. J. Brill, 8 vols. with Supplement (vol. 9), 1991. ISBN 90-04-09796-1
  13. ^ The Biography Of Abu Bakr As Siddeeq by Dr. Ali Muhammad As-Sallaabee (Published 2007)
  14. ^ a b Al-Bidayah wan Nihayah 3/26
  15. ^ a b Merriam-Webster's Encyclopedia of World Religions by Wendy Doniger ISBN 978-0-87779-044-0
  16. ^ As-Suyuthi, Jalaluddin. Tarikh al-Khulafa. Translated by Jarrett, H. S. (1881). The History of the Caliphs. Calcutta: The Asiatic Society.
  17. ^ Ibnu Hajar. Al-Ishabah, vol. 8. 
  18. ^ Muhammad bin Ishaq (1955). Sirat Rasul Allah (The Life of Muhammad). Oxford University Press. hlm. 117. 
  19. ^ Ibnu Hajar. Al-Ishabah, vol. 4. 
  20. ^ Sirah Abi Bakar Ash-Shiddiq, Ali Ash-Shalabi, hlm 21-22
  21. ^ Usud al-Ghabah, Ibnu al-Atsir, juz 7 hlm 320
  22. ^ Usud al-Ghabah, Ibnu al-Atsir, juz 7 hlm 12
  23. ^ Usud al-Ghabah, Ibnu al-Atsir, juz 7 hlm 61
  24. ^ Sirah Abi Bakar Ash-Shiddiq, Ali Ash-Shalabi, hlm 22-24
  25. ^ Usud al-Ghabah, Ibnu al-Atsir, juz 3 hlm 462
  26. ^ Usud al-Ghabah, Ibnu al-Atsir, juz 5 hlm 97
  27. ^ Usud al-Ghabah, Ibnu al-Atsir, juz 3 hlm 300
  28. ^ Usud al-Ghabah, Ibnu al-Atsir, juz 7 hlm 7
  29. ^ Usud al-Ghabah, Ibnu al-Atsir, juz 7 hlm 186
  30. ^ Usud al-Ghabah, Ibnu al-Atsir, juz 7 hlm 373

SumberSunting

Abu Bakar Ash-Shiddiq
Cabang kadet Quraisy
Lahir: 27 Oktober 573 Wafat: 22 Agustus 634
Jabatan Islam Sunni
Jabatan baru
jabatan dibentuk untuk meneruskan kepemimpinan umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad
Khalifah
8 Juni 632 – 22 Agustus 634
Diteruskan oleh:
'Umar bin Khattab