Bahasa Sunda Bogor

variasi geografis bahasa Sunda yang dituturkan di wilayah Bogor

Bahasa Sunda Bogor (BSDB)[8][9] adalah sebuah dialek dari bahasa Sunda yang dituturkan di sebagian besar wilayah Kabupaten Bogor dan Kota Bogor. Dialek ini memiliki memiliki beberapa perbedaan dengan bahasa Sunda standar/dialek Priangan dan lebih berhubungan dekat dengan bahasa Sunda Banten,[10][11] tetapi penutur dialek ini masih mengenal tatakrama basa (sistem tuturan honorifik pada bahasa Sunda) seperti yang digunakan pada dialek Priangan meskipun penggunaannya tidak terlalu ketat.

Bahasa Sunda Bogor

Basa Sunda Bogor
ᮘᮞ ᮞᮥᮔ᮪ᮓ ᮘᮧᮌᮧᮁ
Sampul buku Struktur Bahasa Sunda Dialek Bogor, terbitan 1985.
Pengucapanbasa sʊnda bɔgɔr
Dituturkan diIndonesia
Wilayah
Penutur
± 7.1 juta (2020)[3]
Posisi bahasa Sunda Bogor dalam dialek-dialek bahasa Sunda Sunting klasifikasi ini

Catatan:

Simbol "" menandai bahwa bahasa tersebut telah atau diperkirakan telah punah
Bentuk awal
Alfabet bahasa Sunda, Aksara Sunda Baku
Status resmi
Diatur olehBadan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa[4][5]
Kode bahasa
ISO 639-3
LINGUIST List
sun-bog
Glottologbogo1241
Status konservasi
Terancam

CRSingkatan dari Critically endangered (Terancam Kritis)
SESingkatan dari Severely endangered (Terancam berat)
DESingkatan dari Devinitely endangered (Terancam)
VUSingkatan dari Vulnerable (Rentan)
Aman

NESingkatan dari Not Endangered (Tidak terancam)
ICHEL Red Book: Not Endangered

Sunda Bogor diklasifikasikan sebagai bahasa aman ataupun tidak terancam (NE) pada Atlas Bahasa-Bahasa di Dunia yang Terancam Kepunahan

Referensi: [6][7]
Lokasi penuturan
Area di mana bahasa Sunda Bogor adalah mayoritas
Area di mana bahasa Sunda Bogor adalah minoritas
Peta
Peta
Perkiraan penuturan bahasa Sunda Bogor di Jawa Barat, utamanya di Kabupaten Bogor (ditunjukkan oleh markah titik). Penuturan dialek bahasa Sunda lain di wilayah yang sama ditandai dengan garis berbeda warna (disederhanakan).
Unduh garis tepi peta ini
Artikel ini mengandung simbol fonetik IPA. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode. Untuk pengenalan mengenai simbol IPA, lihat Bantuan:IPA.
Artikel ini mengandung karakter aksara Sunda. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode.
 Portal Bahasa
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L • B • PW
Info templat
Bantuan penggunaan templat ini

Ciri-ciri khusus bahasa Sunda yang digunakan di wilayah kabupaten Bogor diduga dapat terjadi dalam berbagai tataran kebahasaan; misalnya, dalam bidang fonologi, morfologi, leksis, sintaksis, semantik, dan beberapa ciri prosodi seperti pitch, stress, dinamik, tempo, jeda, intonasi, dan kontur. Keseluruhannya dipergunakan dalam pengucapan bahasa Sunda sehari-hari.[12]

Kedudukan dan peranan sunting

Oleh para pemakainnya, bahasa Sunda Bogor dianggap memiliki peranan yang sangat penting, sejalan dengan situasi dan kepentingan pemakaian bahasa, hal ini sesuai dengan kedudukannya sebagai bahasa daerah dengan fungsi bahasa Indonesia. Di mana bahasa Indonesia juga memiliki peranan penting di samping penggunaan bahasa Sunda dialek Bogor bagi para penuturnya.[13]

Kedudukan bahasa Sunda Bogor cukup kuat, sesuai dengan fungsinya sebagai alat komunikasi intra daerah dan budaya. Bahkan menurut informasi dari para pejabat setempat, bahasa Sunda Bogor sering sangat membantu penyampaian informasi dari atas ke bawah, serta dari pejabat dan aparat kepada rakyat. Dilihat dari segi penggunaannya yang seperti itu, di samping sebagai bahasa daerah, bahasa Sunda Bogor mempunyai kedudukan dampingan bagi bahasa Indonesia, termasuk dalam menjalankan administrasi pemerintahan yang sifatnya lisan.[13]

Tradisi sastra sunting

Seperti halnya di beberapa daerah lainnya. Telah lama dikenal di Jawa Barat sastra daerah yang diungkapkan dalam bahasa daerah, dalam hal ini bahasa Sunda. Sastra yang diungkapkan dalam bahasa Sunda ini dikenal dengan sebutan sastra Sunda. Pada masa-masa yang lebih awal sastra Sunda lisan lebih dahulu berkembang di masyarakat Sunda, termasuk di daerah kabupaten Bogor dan kota Bogor. Pada masa-masa itu puisi yang berupa mantra dan sindir 'pantun'. Demikian juga bentuk prosa seperti dongeng dan carita pantun sudah menjadi khazanah tradisi masyarakat Sunda. Setelah masyarakat mengenal tulisan, baik tulisan atau aksara Sunda, Arab, maupun Latin. Sastra tulis mulai pula dikenal dan digemari masyarakat. Tradisi sastra tulis Sunda berlaku dan tetap digemari masyarakat hingga kini.[13]

Kekhasan sunting

 
Peta bahasa dan dialek di wilayah Bogor Raya.

Secara geografis, wilayah pemakaian bahasa Sunda dialek Bogor meliputi hampir seluruh wilayah Kabupaten Bogor terutama di wilayah tengah, timur, dan selatan dan seluruh kecamatan di Kota Bogor,[14] kecuali beberapa kecamatan seperti Sukamakmur, Tanjungsari, Cisarua, Megamendung, dan Ciawi yang menggunakan dialek Priangan, kemudian Gunungsindur, Rumpin bagian utara, dan Jasinga Raya yang menggunakan dialek Banten, serta Cibinong bagian utara, sebagian Cileungsi, dan Gunung Putri yang menggunakan bahasa Melayu Betawi.[15] Dialek Bogor memiliki beberapa leksikon-leksikon atau unsur-unsur leksikal yang khas dipergunakan di wilayah kabupaten Bogor, di antaranya yaitu:[16][17]

  • "sangeuk" berarti "malas" (bahasa Sunda standar: horéam);
  • "nyaneut" berarti "mengudap" (bahasa Sunda standar: ngopi);[a]
  • "joré" berarti "jelek" (bahasa Sunda standar: goréng);
  • "tundun" berarti "rambutan" (bahasa Sunda standar: rambutan);[18]
  • "doang" berarti "saja" (bahasa Sunda standar: hungkul); misal dalam kalimat "ngan boga hiji doang" yang berarti "hanya punya satu saja";
  • "nyaah" berarti "sayang" (bahasa Sunda standar: lebar) dalam konteks menyesali; misalnya "nyaah, ari duit jang dipaké ulin doang mah" yang berarti "sayang, jika uang hanya dipakai untuk bermain saja." Dalam bahasa Sunda standar, kata "nyaah" hanya diperuntukkan untuk manusia atau makhluk hidup lainnya, tetapi dalam dialek Bogor, bisa digunakan untuk semua benda termasuk benda mati.
  • "kékéncéng" berarti "wajan" (bahasa Sunda standar: katél[b]);
  • "cucurak" berarti "makan bersama" (bahasa Sunda standar: botram); merupakan sebuah tradisi pada masyarakat Sunda pada zaman dahulu, di mana setelah mereka pulang berladang mereka akan melakukan makan bersama dengan rekan-rekan mereka dengan beralaskan daun pisang;
  • "enéng" berfungsi sebagai sapaan terhadap anak kecil tanpa memandang kelamin (bisa digunakan terhadap laki-laki dan perempuan), dalam bahasa Sunda baku dibedakan menjadi dua yaitu: anak perempuan=enéng, anak laki-laki=ujang;
  • "tilok" berarti "jarang" (bahasa Sunda standar: tara);
  • "sampé"/"nyampé" berarti "sampai" (bahasa Sunda standar: tepi/nepi);
  • "amat" berarti "sangat" (bahasa Sunda standar: pisan); misalnya dalam kalimat "loba amat ieu téh, cokot baé mun daék mah" berarti "ini sangat banyak, ambil saja kalau mau";
  • "ilok" berarti "masa" (bahasa Sunda standar: piraku/maenya) dalam bentuk adverbia; misalnya "ah, ilok bisa kitu?" berarti "ah, masa bisa seperti itu?;
  • "sipeunteu" berarti "mencuci muka" (bahasa Sunda standar: tamas) dalam tingkatan bahasa halus (bahasa Sunda: basa hormat/basa lemes), dalam konteks bahasa formal/biasa, kedua dialek sama-sama menggunakan kata "sibeungeut";
  • "nyaré" (berasal dari kata "saré" yang bermakna "tidur") berarti "menginap" (bahasa Sunda standar: ngéndong);
  • "parangsa" berarti "kukira" (bahasa Sunda standar: panyana); contoh kalimatnya: "parangsa téh saha, ari pék téh manéh" yang berarti "kukira siapa, ternyata kamu";
  • "danas" berarti "nanas" (bahasa Sunda standar: ganas);[19]
  • "deuleu" berarti "lihat" (bahasa Sunda standar: ningali); misalnya "ilok baé sia teu ngadeuleu?" yang berarti "masa iya kamu tidak melihatnya?";
  • "aseupan" berarti "kukusan" (bahasa Sunda standar: haseupan);
  • "hi'id" berarti "kipas bambu" (bahasa Sunda standar: hihid);
  • "purukuyan" berarti "pedupaan" (bahasa Sunda standar: parupuyan);
  • "silaru" berarti "laron" (bahasa Sunda standar: siraru);
  • "tumbiri" berarti "pelangi" (bahasa Sunda standar: katumbiri);
  • "teprok" berarti "bertepuk tangan" (bahasa Sunda standar: keprok);
  • "cérécét" berarti "saputangan" (bahasa Sunda standar: carécét);
  • "réhé" berarti "sepi" (bahasa Sunda standar: tiiseun/sepi);
  • "endek" berarti "akan" (bahasa Sunda standar: arék);
  • "haju" berarti "lalu"/"terus" (bahasa Sunda standar: laju);
  • "kos" berarti "seperti" (bahasa Sunda standar: kawas); misalnya "éta sapatu téh kos nu aing boga" yang berarti "itu sepatu seperti kepunyaanku".

Fonologi sunting

Sistem fonologi dan morfologi bahasa Sunda Bogor tidak begitu berbeda dengan sistem fonologi dan morfologi bahasa Sunda lulugu.[20]

Vokal sunting

Bahasa Sunda Bogor memiliki 6 fonem vokal dalam kotak fonem bahasanya, yakni sebagai berikut:[21]

Depan Madya Belakang
Tertutup i o ɤ
Tengah ə
½ Terbuka ɔ
Terbuka a

Konsonan sunting

Berikut merupakan tabel konsonan bahasa Sunda Bogor.[21]

Cara Ucapan Dasar Ucapan
Dwibibir Rongga-
gigi
Langit-
Langit
Langbel. Celah-
suara
Letup nirsuara p t c k ʔ
bersuara b d ɟ ɡ
Geser nirsuara s h
bersuara
Sengau m n ɲ ŋ
Sisian l
Getar r
Luncuran w j

Macam dan distribusi sunting

Macam fonem bahasa Sunda di daerah kabupaten Bogor terlihat pada bagan di bawah ini.

Distribusinya adalah sebagai berikut:
/p/: Konsonan letus, tak bersuara, bibir[22]
Misalnya:
[pɛdɛt] 'burung ketilang'
[ʔɔmpɔd] 'penakut'
[gəlap] 'guntur'
/b/: Konsonan letus, bersuara, bibir[22]
Misalnya:
[bəgɔg] 'kera'
[surubahaʔ] 'serabi'
[kəkəb] 'tempat nasi bertutup'
/m/: Konsonan sengau, bibir[22]
Misalnya:
[mɘrɘñiʔ] 'makan sedikit-sedikit'
[ləmpəh] 'bubur tepung'
[gətəm] 'masam budi'
/w/: Konsonan luncuran, bibir[22]
Misalnya:
[wadaŋ] 'nasi kemarin'
[cincaw] 'cincau'
/t/: Konsonan letus, tak bersuara, ujung lidah[23]
Misalnya:
[tapay] 'tapai'
[kɔtek] 'congek'
[salimut] '(penganan)'
/d/: Konsonan bersuara, ujung lidah, letus[23]
Misalnya:
[dəlitan] 'mudah tersinggung'
[pandariŋan] 'tempat menyimpan beras'
[kalɛkɛd] 'lamban'
/s/: Konsonan tak bersuara, ujung lidah, letus[23]
Misalnya:
[səkutəŋ] 'sekoteng'
[?asɤm] 'asam'
[nanas] 'nanas'
/l/: Konsonan ujung lidah, sampingan[23]
Misalnya:
[lɛtəran] 'literan beras'
[pəlandiŋan] 'petai cina'
[bɔbɔl] 'bobol'
/rc/: Konsonan ujung lidah, getar[23]
Misalnya:
[rampadan] 'baki kuningan'
[marbɔt] 'penabuh beduk'
[lɤkɤr] 'tempat dandang'
/c/: Konsonan tak bersuara, daun lidah, letus[23]
Misalnya:
[cɛdɛt] 'burung ketilang'
[kicik] 'anak anjing'
/j/: Konsonan bersuara, daun lidah, letus[23]
Misalnya:
[jəjəŋklɔk] 'bangku kecil'
[panəjəg] 'pesuruh desa'
/n/: Konsonan daun lidah, sengau[24]
Misalnya:
[ñɛndɛr] 'menyandar'
[ʔɔnɔŋ-ʔɔnɔŋ] 'sejenis ikan'
/y/: Konsonan daun lidah, luncuran[24]
Misalnya:
[yɤh] 'ini'
[parukuyan] 'pedupaan'
[ʔɔcɔy] 'congek'
/k/: Konsonan tak bersuara, punggung lidah, letus[24]
Misalnya:
[kapintik] 'terpukul'
[tambakaŋ] 'sejenis ikan'
[kɔdɔk] 'katak'
/g/: Konsonan bersuara, punggung lidah, letus[24]
Misalnya:
[garahaʔ] 'gerhana'
[ŋagarɔkan] 'membuat garis petak sawah'
[ʔɛntɔg] 'itik manila'
/n/: konsonan punggung lidah, sengau[24]
Misalnya:
[ŋɔkɔp] 'minum dari bumbung bambu'
[nɔŋtrɔŋ] 'memukul kentongan dipercepat'
[wadaŋ] 'nasi sisa kemarin'
/h/: konsonan tak bersuara, anak tekak, geseran[24]
Misalnya:
[hajatan] 'selamatan'
[surubahaʔ] 'serabi'
[tɛtɛkɛh] 'tangga rumah'
/i/: vokal depan, agak tinggi, tak bundar[24]
Misalnya:
[ʔimpun] 'sejenis ikan
[jaliŋɤr] 'cepat kaki ringan tangan'
[kɔndaliʔ] 'tali kekang kerbau'
/ɛ/: vokal depan, agak rendah, tak bundar[25]
Misalnya:
[tɛtɛh] 'panggilan untuk wanita yang lebih tua'
[ŋɔsɛksrak] 'serba ingin tahu'
[lampɛyɛʔ] '(penganan)'
/a/: vokal tengah, rendah, tak bundar[25]
Misalnya:
[ʔamat] 'sangat'
[lɛŋotan] 'pelupa'
[gɤgɤra] 'cepat-cepat'
/ə/: vokal tengah, sedang, tak bundar[25]
Misalnya:
[ʔəndɤk] 'akan'
[cəcələmɛk] 'serba ingin tahu'
/ɤ/: vokal belakang, tinggi, bundar[25]
Misalnya:
[ʔɤʔɤrihɤn] 'tersedu-sedu'
[naɤn] 'apa'
[cɤcɤʔ] 'sebutan untuk wanita yang lebih tua'
/ɔ/: vokal belakang, agak rendah, bundar[25]
Misalnya:
[ʔɔsɔm] 'perangkap ikan'
[bɔbɔdɔr] 'badut'
[gɔlɔjɔʔ] 'algojo'
/u/: vokal belakang, tinggi, bundar[25]
Misalnya:
[ʔurakʔarik] 'sayur campur sisa kemarin'
[limuŋ] 'belut besar'
[lukuʔ] 'bajak'

Catatan sunting

  • Konsonan letus pada posisi akhir tidak dilepas.[25]
  • Konsonan /c/, /j/, sengau /ñ/, serta vokal tidak terdapat pada posisi akhir.[25]
  • Konsonan /k/ pada posisi akhir diucapkan jelas, tidak dilepas dan tidak berupa hamzah (glotal).[26]
  • Bunyi hamzah /ʔ/ pada awal kata yang dimulai dengan vokal, pada tengah kata di antara dua vokal yang sejenis dan pada akhir kata dengan suku terbuka tidak bersifat fonemis.[26]

Gugus konsonan sunting

Gugus konsonan yang terdapat dalam bahasa Sunda Bogor ialah:[26]

py [ʔampyak] 'bangunan tambahan rumah'
pl [gaplak] '(sejenis) penganan'
dr [bɛndrɔŋ] '(sejenis) minuman'
tr [bacɛtrɔk] 'gado-gado'
bl [bɛlɛkɛtɛblɛʔ] 'sayur campur sisa kemarin'
sr [ŋɔsɛksrak] 'serba ingin tahu'
br [jabrug] '(sejenis) alat penangkap ikan'
kr [buŋkrɤn] 'anak ikan'
kl [jəjəŋklɔk] 'bangku kecil'
gr [grahaʔ] 'gerhana'

Lihat pula sunting

Referensi sunting

Keterangan sunting

  1. ^ dalam dialek Bogor, kata ngopi lebih dikenal sebagai aktivitas meminum kopi, seperti pada bahasa gaul
  2. ^ serapan dari bahasa Belanda

Catatan kaki sunting

  1. ^ "Bahasa Sunda di Kota Depok, Belum Prioritas Tapi Tetap Menggeliat". www.radardepok.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-01-01. Diakses tanggal 1 Januari 2023. 
  2. ^ a b "Disdik Depok Gelar Lomba Kependidikan Pembinaan Minat Bakat dan Kreativitas Tingkat Pelajar". depokrayanews.com. 4 Mei 2023. Diakses tanggal 18 Agustus 2023. 
  3. ^ Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat (2020).
  4. ^ Suriamiharja et al. (1984), hlm. v-vi.
  5. ^ Sutawijaya, Samsuri & Jupena Wahyu (1985), hlm. vii.
  6. ^ "UNESCO Interactive Atlas of the World's Languages in Danger" (dalam bahasa bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Rusia, and Tionghoa). UNESCO. 2011. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 April 2022. Diakses tanggal 26 Juni 2011. 
  7. ^ "UNESCO Atlas of the World's Languages in Danger" (PDF) (dalam bahasa Inggris). UNESCO. 2010. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 31 Mei 2022. Diakses tanggal 31 Mei 2022. 
  8. ^ Suriamiharja et al. (1984), hlm. 18.
  9. ^ Hammarström, Forkel & Haspelmath (2019).
  10. ^ Suriamiharja et al. (1984), hlm. 14.
  11. ^ Suriamiharja et al. (1984), hlm. 271.
  12. ^ Suriamiharja et al. (1984), hlm. 13-14.
  13. ^ a b c Sutawijaya, Samsuri & Jupena Wahyu (1985), hlm. 8.
  14. ^ Sutawijaya, Samsuri & Jupena Wahyu (1985), hlm. 6.
  15. ^ Suriamiharja et al. (1984), hlm. 13.
  16. ^ Wahya (2012), hlm. 3-4.
  17. ^ Suriamiharja et al. (1984), hlm. 254.
  18. ^ Suriamiharja et al. (1984), hlm. 266.
  19. ^ Suriamiharja et al. (1984), hlm. 256.
  20. ^ Suriamiharja et al. (1984), hlm. 272.
  21. ^ a b Suriamiharja et al. (1984), hlm. 248.
  22. ^ a b c d Suriamiharja et al. (1984), hlm. 249.
  23. ^ a b c d e f g Suriamiharja et al. (1984), hlm. 250.
  24. ^ a b c d e f g Suriamiharja et al. (1984), hlm. 251.
  25. ^ a b c d e f g h Suriamiharja et al. (1984), hlm. 252.
  26. ^ a b c Suriamiharja et al. (1984), hlm. 253.

Daftar pustaka sunting

Pranala luar sunting

Bahasa Sunda Bogor sunting

Bahasa Sunda Umum sunting