Bahasa Sunda Cirebon

bentuk variasi bahasa Sunda yang digunakan di wilayah eks-Keresidenan Cirebon

Bahasa Sunda Cirebon (BSC) adalah varietas bahasa Sunda yang dituturkan di wilayah bekas Keresidenan Cirebon.[2] Varietas bahasa yang dimaksud adalah sekumpulan dialek atau klaster dialek yang menyebar di wilayah Kabupaten Kuningan, Kabupaten Majalengka, sebagian Kabupaten Cirebon, sebagian kecil Kota Cirebon, dan sebagian kecil Kabupaten Indramayu.[3][1] Bahasa Sunda Cirebon diperkirakan mempunyai penutur sekitar 60% dari seluruh penduduk yang menempati wilayah eks-Keresidenan Cirebon.[1] Bila merujuk pada data statistik pada tahun 2020, akumulasi dari jumlah penduduk di wilayah eks-Keresidenan Cirebon adalah 6.567.393, dengan demikian jumlah penutur bahasa Sunda Cirebon sekitar 3.940.436 jiwa.

Bahasa Sunda Cirebon
ᮘᮞ ᮝᮨᮝᮨᮀᮊᮧᮔ᮪ ᮎᮤᮛᮨᮘᮧᮔ᮪
Basa Wewengkon Cirebon
Dialek Timur Laut
Pengucapanbasa sʊnda t͡ʃirəbɔn
Dituturkan diIndonesia
Wilayah
Penutur
3.940.436 (2020)[1]
Lihat sumber templat}}
Untuk kontributor: Sedang dilakukan otomatisasi klasifikasi bahasa secara berkala. Silakan sampaikan saran, pendapat, maupun perbaikan pada halaman pembicaraan templat maupun pembicaraan ProyekWiki
Posisi bahasa Sunda Cirebon dalam dialek-dialek bahasa Sunda Sunting klasifikasi ini

Catatan:

Simbol "" menandai bahwa bahasa tersebut telah atau diperkirakan telah punah
Bentuk awal
Dialek
Sunda Cirebon
Alfabet bahasa Sunda, Aksara Sunda Baku
Kode bahasa
ISO 639-3
LINGUIST List
sun-cir
Glottologcire1239
Linguasfer31-MFN-ah
Artikel ini mengandung simbol fonetik IPA. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode. Untuk pengenalan mengenai simbol IPA, lihat Bantuan:IPA.
 Portal Bahasa
L • B • PW   
Sunting kotak info  Lihat butir Wikidata  Info templat
Struktur Bahasa Sunda Dialek Cirebon terbitan 1985

Bahasa Sunda Cirebon hingga kini masih hidup dan digunakan sebagai alat komunikasi lisan dalam kegiatan sehari-hari dan kehidupan sosial budaya sejak masa lampau.[4] Jarak yang cukup jauh antara wilayah penutur bahasa Sunda Cirebon dengan bahasa Sunda Priangan (bahasa Sunda baku) menyebabkan adanya kekhasan dalam bahasa Sunda Cirebon yang berbeda dengan bahasa Sunda baku, perbedaan tersebut terdapat dalam hal struktur bahasa, kosakata, maupun intonasi sehingga memunculkan adanya pola-pola tertentu dalam frasa, klausa, dan susunan kalimat.[5] Karena bahasa Sunda Cirebon memiliki wilayah penuturan yang cukup luas, fungsi dan kedudukannya memiliki makna yang penting.[2] Dari kenyataan yang ditempukan di lapangan, bahasa Sunda Cirebon digunakan sebagai penghubung antara anggota masyarakat dengan anggota aparatur pemerintahan, ataupun antaranggota masyarakat itu sendiri.[6]

Fonologi sunting

Sistem bunyi bahasa Sunda Cirebon tidak berbeda dengan bahasa Sunda baku, sehingga jumlah fonem vokal maupun konsonan pada dua dialek tersebut sama-sama berjumlah 25 dengan fonem konsonan sebanyak 18 dan fonem vokal sebanyak 7.[7] Hal ini dijabarkan sebagai berikut.

Vokal sunting

Vokal dalam bahasa Sunda Cirebon yang berjumlah 7 dapat diamati pada tabel di bawah ini.

Vokal
Depan Madya Belakang
Tertutup i ɨ u
Tengah ɛ ə ɔ
Terbuka a
  • [ɤ] adalah alofon [ɨ] seperti pada /bɨtɨŋ/ 'perut' [bɨtɨŋ] atau pun [bɤtɤŋ] dan /dɨi/ 'lagi' [dɨi] atau pun [dɤi].
  • [ɤ] juga adalah alofon [ɔ] seperti pada /naɔn/ 'apa' [naɔn] atau pun [naɤn].
  • [ɛ] adalah alofon [i] seperti pada /id͡ʒɔ/ 'hijau' [id͡ʒɔ] atau pun [ɛd͡ʒɔ].
  • Diftong [ui] dalam Bahasa Sunda Baku dialek menjadi [i] seperti pada [tului] 'selanjutnya' menjadi [tɔli].
  • Vokal di akhir dapat dikenakan bunyi hentian glotis seperti pada [əntɨʔ] 'tidak'.
  • Pada Bahasa Sunda Cirebon di Lelea, Indramayu, beberapa vokal yang dapat hadir di dalam kata di Bahasa Sunda Baku dapat tereduksi hingga hilang sama sekali seperti pada [salapan] di Bahasa Sunda Baku menjadi [slapan]; [ŋalakɔn] > [ŋlakɔn]; [parɛan] > [prɛan]; [t͡ʃarita] > [t͡ʃrita]; [sabaraha] > [səbraha].
  • /a/ dan /i/ pada suku kata awal di Bahasa Sunda Baku dapat tereduksi menjadi [ə] seperti pada [sad͡ʒalan] > [səd͡ʒalan]; [sapərti] > [səpərti]; [mimiti] > [məmiti].
  • /i/ di Bahasa Sunda Baku, selayaknya di Bahasa Sunda Banten, di Lelea, Indramayu, dapat menjadi /ɔ/ seperti [int͡ʃu] > [ɔnt͡ʃu]; [tilu] > [tɔlu]; [ninun] > [nɔnun]; [ditu] > [dɔtu]; [diuk] > [dɔuk]; [timu] > [tɔmu].

Fonem vokal sunting

Untuk contoh-contoh tentang posisi fonem vokal, baik itu di awal, tengah, maupun akhir dapat dilihat pada tabel berikut.[8][9]

Fonem Posisi
Awal Tengah Akhir
/i/ /i.aŋ/ 'pergi' /si.riŋ/ 'sisi' /gi.li/ 'jalan'
/ɛ/ /ɛ.tɛm/ 'ketam' /ŋɛ.ɛs/ 'tidur' /cə.wɛ.nɛ/ 'gadis'
/ə/ /ən.dog/ 'telur' /də.rəp/ 'kuli penuai padi'
/u/ /u.duh/ 'empuk' /bu.jut/ 'ayah dari kakek' /ku.ru/ 'kurus'
/ɨ/ /ɨ.wɨh/ 'tak ada' /pɨ.d͡ʒɨh/ 'hati-hati' /hən.tɨ/ 'tidak'
/ɔ/ /ɔ.mɔŋ/ 'bicara' /kɔ.lɔt/ 'tua' /d͡ʒə.rɔ/ 'dalam'
/a/ /a.ja/ 'ada' /ɲa.ʔah/ 'sayang' /rə.ga/ 'harga'

Konsonan sunting

Konsonan pada bahasa Sunda Cirebon yang berjumlah 18 dijabarkan pada tabel di bawah ini.

Konsonan
Dwi-bibir Gigi Langit-langit
keras
Langit-langit
lunak
Celah suara
Sengau m n ɲ ŋ
Letup/Gesek nirsuara p t t͡ʃ k ʔ
bersuara b d d͡ʒ g h
Desis/Geser s
Kepak/Hampiran r l
Semivokal w j
  • /h/ seringkali hilang, misalnya /həntɨ/ [əntɨ] 'tidak'.
  • Metatesis dapat terjadi seperti pada /riwajat/ menjadi [wirajat]; /wahaŋan/ menjadi [hawaŋan].

Fonem konsonan sunting

Pada tabel di bawah ini, dipaparkan posisi fonem-fonem konsonan di awal, tengah, dan akhir.[10]

Fonem Posisi
Awal Tengah Akhir
/p/ /pa.rɛ/ 'padi' /sə.pit/ 'sunat' /kɨ.jɨp/ 'ketam'
/b/ /bə.bə.ra/ 'sawah baru' /ta.bɔ/ 'sabut' /t͡ʃa.lub/ 'subur'
/m/ /ma.war/ 'mawar' /ka.mi/ 'saya' /t͡ʃə.ləm/ 'sayur (jenis kuliner, bedakan sayuran)'
/t/ /tɛ.ɔh/ 'bawah' /t͡ʃa.tu/ 'jatah padi' /maŋ.kat/ 'berangkat'
/d/ /du.lur/ 'saudara' /mu.du/ 'harus' /kɔ.sɔd/ 'kosod'[diskusikan]
/n/ /na.pɛ/ 'membuat tapai' /nɔ.nun/ 'menenun' /na.ɨn/ 'apa'
/t͡ʃ/ /t͡ʃa.ɔr/ 'alat tenun' /bon.t͡ʃɛl/ 'jenis ikan'
/d͡ʒ/ /d͡ʒam.broŋ/ 'udang besar' /u.d͡ʒu.ŋan/ 'ujung'
/ɲ/ /ɲa.nɛh/ 'kamu' /ka.ɲɛ.rɛ/ 'tanaman kanyere'
/k/ /ku.kum.buŋ/ 'penghalang' /rak.sa/ 'jaga' /wu.duk/ 'nasi uduk'
/g/ /ga.gɛ/ 'cepat' /rə.ga/ 'harga' /ba.dog/ 'rampok'
/ŋ/ /ŋo.ra/ 'muda' /muŋ.kal/ 'batu' /ka.saŋ/ 'kain penutup'
/s/ /se.pit/ 'sunat' /ru.si.a/ 'bertengkar' /rɛ.rɛs/ 'selesai'
/h/ /hɨ.bɨl/ 'masa lampau' /bu.ra.hɔl/ 'nakal' /ru.rah/ 'tetua kampung'
/l/ /la.diŋ/ 'pisau' /gi.li/ 'jalan orang' /ka.til/ 'keranda'
/r/ /rɛ.rɛs/ 'selesai' /wi.ra.jat/ 'riwayat' /si.ar/ 'cari'
/w/ /wɛ.daŋ/ 'camilan' /ku.wu/ 'kepala desa' /t͡ʃə.waw/ 'mulut yang terbuka'
/j/ /ja.kin/ 'yakin' /wa.jah/ 'kala' /d͡ʒu.rej/ 'banyak ikannya'

Morfologi sunting

Dalam bidang morfologi, ditemukan banyak persamaan antara bahasa Sunda Cirebon dengan bahasa Sunda baku, meskipun juga ditemukan beberapa perbedaan yang cukup mencolok.[11] Bentukan linguistik yang dapat diamati di antaranya berupa morfem, kata, frasa, klausa, dan kalimat.[12] Hal-hal ini dijelaskan pada bagian di bawah ini.

Morfem sunting

Ada morfem bebas dan morfem terikat, morfem bebas adalah morfem yang dapat berdiri sendiri dan digunakan dalam tuturan bahasa sehari-hari. Contoh morfem bebas yaitu, kuring 'saya', indit 'pergi', dan gawé 'kerja'. Sementara itu, morfem terikat adalah morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dan hanya dapat digunakan dalam tuturan ketika sudah mengalami proses morfologi. Morfem terikat terdiri dari morfem terikat secara morfologis dan morfem terikat secara sintaksis.[13]

Morfem terikat secara morfologis (MIM) merupakan morfem yang akan memiliki arti jika sudah terikat dengan morfem bebas, misalnya di- yang terikat dengan gawé menjadi digawé 'bekerja', dipi- dalam dipigawé 'dikerjakan', -keun dalam gawékeun 'kerjakan', serta pi-/-eun dalam pigawéeun 'sesuatu yang akan dikerjakan'. Lazimnya, MIM ini dalam bahasa Sunda berupa afiks (imbuhan). Morfem terikat secara sintaksis (MIS) adalah morfem yang berpadu dengan morfem lain dalam sebuah kalimat yang terbentuk. Misalnya: di dalam untaian kalimat Di Bandung jeung Jakarta usum rambutan 'Di Bandung dan Jakarta musim rambutan', téh 'itu', keur 'untuk' dalam untaian kalimat Duit téh keur anak jeung pamajikan 'Uang itu untuk anak dan istri'.[14]

Kata sunting

Terdapat empat macam kata, yaitu: kata tunggal atau sederhana, kata kompleks, kata ulang, dan kata majemuk. Kata tunggal adalah kata yang berupa morfem bebas, contohnya, jelema 'orang', bageur 'baik', dan leumpang 'berjalan'. Kata kompleks adalah kata yang berisi satu atau lebih bentuk-bentuk terikat, contohnya: pagawé 'pegawai', sinatria 'bersifat satria', pakéeun 'yang bakal dipakai', ngabaékeun 'mengabaikan', dan lak-lakdasar 'dicaci maki'. Kata ulang adalah kata yang dibentuk dengan reduplikasi, contohnya: dari kata dasar sépak 'sepak' dapat diproduksi turunan-turunannya seperti, sésépak 'menyepak-nyepak', sépak-sépak 'sepak-sepak', dan supak-sépak 'sepak-sepak'.[14]

Kata majemuk adalah sebuah kata dapat terdiri dari morfem awal yang ditambah dengan morfem asal (baik itu ditambahkan dengan imbuhan ataupun tidak). Ada enam macam kata majemuk, seperti yang dijabarkan di bawah ini.[15]

  1. Kata majemuk yang dibentuk dari kata tunggal + kata tunggal, contohnya, panon poé 'matahari', dan panjang leungeun 'panjang tangan'.[14]
  2. Kata majemuk yang dibentuk dari kata tunggal + kata kompleks, maupun sebaliknya, contohnya, asak kapoé 'matang terpaksa', paméran batik 'pameran batik'.[14]
  3. Kata majemuk yang dibentuk dari kata tunggal + kata majemuk, maupun sebaliknya, contohnya, konci beusi 'kunci lemari besi', kuda rénggong Sumedang 'kuda renggong Sumedang'.[14]
  4. Kata majemuk yang dibentuk dari kata kompleks + kata majemuk, maupun sebaliknya, contohnya, padukuhan urang désa 'pemukiman orang desa', lembur singkur paniisan 'kampung terpencil peristirahatan'.[14]
  5. Kata majemuk yang dibentuk dari kata kompleks + kata kompleks, contohnya, paméran pertanian 'pameran pertanian', pimitohaeun dulur téré 'calon mertua saudara tiri'.[15]
  6. Kata majemuk yang dibentuk dari kata majemuk + kata majemuk, contohnya, kulub endog hayam kampung 'telur rebus ayam kampung', sangu goréng béas Cianjur 'sangu goreng beras Cianjur'.[16]

Proses morfologis sunting

Dalam bahasa Sunda, termasuk dalam hal ini bahasa Sunda Cirebon, terdapat empat macam proses morfologis, yaitu afiksasi, pengulangan, pemajemukan, dan nasalisasi.[16]

Afiksasi sunting

Afiksasi ialah pembentukan kata dengan pengimbuhan, yang berarti penambahan afiks pada kata dasar, jika afiks ditambahkan pada awal kata, maka afiks tersebut disebut sebagai prefiks dan prosesnya dinamakan prefiksasi, jika pada tengah kata, maka afiks menjadi infiks yang dan prosesnya disebut infiksasi, dan jika pada akhir kata, maka afiks menjadi sufiks dan prosesnya disebut sufiksasi.[17]

Prefiksasi sunting

Di bawah ini adalah tabel yang memperinci jenis-jenis prefiks beserta prefiksasinya.[18]

Prefiks Prefiksasi Prefiks PrefiksasiPrefiksasi
pa- paijek 'terinjak'

pagawé 'pegawai'

ma- magawé 'bekerja'
pak- pakséngok 'bersengok' mang- mangtaun-taun 'bertahun-tahun'
pang- panganggit 'pengarang' ti- tilantar 'terlantar'
para- parakuwu 'para kepala desa' ting- tinggarauh 'bersorak-sorai'
pari- paribasa 'peribahasa' di- dipépér 'dipotong'
pating- patingsaruit 'bersuit-suitan' ka- kahiji 'kesatu'
pra- prajurit 'prajurit' nga- ngamuhit 'memuja'
pri- pribumi 'pribumi' sa- sadongdang 'sedondang'
per- pertelu 'pertiga' sang- sanghulu 'arah kepala sewaktu terlentang'
pi- pisaur 'kata' si- sibeungeut 'cuci muka'
bala- balakecrakan 'makan-makan' silih- silihéjék 'saling ejek'
bal(r)ang barangsiar 'mencari'

Keseluruhan prefiks yang dijabarkan pada tabel di atas produktif digunakan dalam bahasa Sunda Cirebon, dengan pengecualian untuk prefiks ma- dan si- yang tidak produktif.[19]

Ada prefiks yang diciptakan dengan menggabungkan prefiks-prefiks yang telah ada pada awal kata.[19]

Prefiks-prefiks Prefiksasi
pi- + ka- pikalucueun 'menyebabkan lucu'
di- + pi- dipiindung 'dianggap seperti ibu'
di- + per- dipertelu 'dipertiga'
di- + pi- + ka+ dipikahayang 'dikehendaki'
sa- + ka- sakainget 'seingatnya'
sa- + pa-(N) sapamendak 'setemunya'
Sufiksasi sunting

Di bawah ini dijabarkan contoh-contoh sufiks beserta proses sufiksasinya.[20]

Sufiks Sufiksasi
-keun nuhunkeun 'minta'
-na cukupna 'cukupnya'
-an kumpulan 'kumpulan'
-eun paéheun 'kematian'
-a ngaputa 'menjahit'
-ing bakating 'karena'
-ning kayaning 'seperti'
-i ngaleuleuwihi 'melebihi'

Terdapat sufiks yang dibentuk dengan menggabungkan lebih dari satu sufiks yang telah ada untuk direkatkan di akhir kata.[21]

Sufiks-sufiks Sufiksasi
-keun + -eun bagikeuneun 'yang akan dibagikan'
-keun + -an + -na (di)pentaskeunana 'dipentaskannya'
-an + -an horénganan 'menyatakan keheranan'
-an + -an + -an anak-anakanana 'anak-anaknya'
-an + -eun kaputaneun 'yang akan dijahit'
-an + -i nyakséni 'menyaksikan'
-eun + -an + -na bacaeunana 'yang akan dibacanya'

Semua sufiks yang telah dijabarkan di atas produktif digunakan di seluruh wilayah penuturan bahasa Sunda Cirebon, walaupun begitu, ada beberapa sufiks yang hanya digunakan di wilayah Indramayu (wilayah penuturan bahasa Sunda Parean-Lelea), seperti sufiks pada asalé 'asalnya', -né pada artiné 'artinya', dan -a pada ngaputa 'menjahit'. Sufiks -eun dalam bahasa Sunda Cirebon diperlakukan seperti sufiks -keun dalam bahasa Sunda Priangan, seperti pada ngarosuleun 'merasulkan'.[22]

Simulfiksasi sunting

Simulfiksasi adalah gabungan penambahan sufiks dan prefiks, yang berarti penambahan afiks pada awal kata dan akhir kata secara bersamaan.[23]

Prefiks Sufiks Simulfiksasi Prefiks Sufiks Simulfiksasi
pi- -eun pibenereun 'yang akan benar' di- + si- -an disibeungeutan 'dicuci muka'
pi- -na pisaurna 'katanya' ka- -an kabuyutan 'bebuyutan'
pi- -an pileuleuyan 'selamat tinggal' ka- -an + an + -na kahirupanana 'kehidupannya'
pi- + ka- -eun pikalucueun 'menyebabkan lucu' nga- -keun ngaderepkeun 'memotong padi'
pa- -an paimahan 'perumahan' nga- -an ngalétakan 'menjilati'
pa- -na pagawéna 'pegawainya' nga- -eun ngadéngéeun 'dia mendengar'
pang- -na pangpinterna 'terpintar' sa- -na sakuasana 'sekuasanya'
pang-(N) -keun pangnuhunkeun 'dimintakan' sa- -an saturunan 'seturunan'
pang-(N) -an + -keun pangnulisankeun 'menyuruh ditulisi' sa- -eun sahuapeun 'hanya sesuap'
di- -an diteundeunan 'disimpani' sa- -keun salombangkeun 'selubangkan'
di- -keun disérénkeun 'diserahkan' sang- -keun sanghareupkeun 'hadapkan'
di- + pang-(N) -keun dipangmacakeun 'dibacakan' si- -an sibeungeutan 'dicucikan mukanya'
di- + sa- -keun disabeungkeutkeun 'diseikatkan' silih- -an silihtulungan 'saling tolong'
di- + sang- -keun disanghareupkeun 'dihadapkan' silih- -keun silihgoréngkeun 'saling ejek'

Beberapa prefiks seperti ba- dan pa- memiliki variasi be- dan pe- yang terutama digunakan di wilayah penuturan bahasa Sunda Indramayu (Parean-Lelea).[24]

Infiksasi sunting

Infiks adalah afiks yang diletakkan di tengah-tengah kata. Berikut ini adalah contoh-contoh infiks beserta infiksasinya.[25]

Infiks Infiksasi
-in- pinangéran 'yang dianggap pangeran'
-um- rumaos 'merasa'
-ar- rareuneuh 'pada hamil'
-al- laleumpang 'berjalan jamak'

Jika sebuah kata diawali dengan fonem vokal, maka beberapa infiks di atas akan berubah menjadi prefiks, seperti contohnya araruih (kata dasar: uih 'pulang') 'pulang' (jamak), alakur (kata dasar: akur 'akur') 'akur' (jamak), umendog (kata dasar: endog 'telur') 'menyerupai telur'.[25]

Ada beberapa infiks yang dapat digabungkan secara bersama-sama, sehingga membentuk infiks baru, seperti pada contoh berikut.[25]

Gabungan infiks Infiksasi
-ar- + -ar- araruih 'pulang' (jamak)
-al- + -al- alaludur 'sakit' (jamak)
-ar- + -um- arumendog 'seperti telur, menyerupai telur'

Infiks juga bisa direkatkan secara bersama-sama dengan prefiks dan sufiks, contohnya ada di bawah ini.[25]

digarawé 'bekerja' (jamak)
lalumpatan 'lari' (jamak)
digarsékeun 'dikerjakan' (jamak)
Nasalisasi sunting

Nasalisasi atau penyengauan adalah proses berubahnya fonem konsonan awal kata dengan fonem konsonan sengau yang sama dasar ucapannya (homorgan).[25] Contoh-contoh penyengauan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.[26]

Fonem konsonan pada awal kata Fonem konsonan sengau yang homorgan Penyengauan
/p/ /m/ pelakmelak 'tanam'
/b/ /m/ beunangmeunang 'dapat'
/w/ /m/ wadonmadon 'main perempuan'
/d/ /n/ deuleuneuleu 'melihat'
/t/ /n/ tongtaknongtak 'menarik'
/t͡ʃ/ /ɲ/ candaknyandak 'membawa'
/d͡ʒ/ /ɲ/ jieunnyieun 'membuat'
/k/ /ŋ/ kupingnguping 'mendengar'
/g/ /ŋ/ gebrakngebrakkeun 'membuka'
/s/ /n/ suhunkeunnuhunkeun 'meminta'
/s/ /ɲ/ suhunkeunnyuhunkeun 'meminta

Penyengauan pada kata-kata yang berawalan fonem vokal dilakukan dengan menambahkan fonem /ng/ atau /m/ pada awal kata tersebut.[27]

Fonem vokal pada awal kata Fonem yang ditambahkan Penyengauan
/i/ /ŋ/ ilaringilari 'mencari'
/i/ /m/ iangmiang 'berangkat'
/ɛ/ /ŋ/ éléhngéléhan 'mengalah'
/ə/ /ŋ/ ebabngebab 'memasalahkan'
/a/ /ŋ/ ayunngayun 'mengayun'
/u/ /ŋ/ ungsingungsi 'pindah'
/ɨ/ /ŋ/ eureunngeureunkeun 'memberhentikan'
/ɔ/ /ŋ/ omongngomong 'berbicara'

Pengulangan sunting

Pengulangan atau reduplikasi dalam bahasa Sunda Cirebon dapat dijabarkan di bawah ini.[28]

Cara pengulangan Kata tunggal/morfem bebas Proses pengulangan
Pengulangan suku kata pertama kejek 'injak' kekejek 'menginjak-injak'
Pengulangan seluruh kata tanpa perubahan fonem ria 'ria' ria-ria 'bersuka ria'
Pengulangan seluruh kata dengan perubahan fonem tindak 'tindak' tindak-tanduk 'tindak-tanduk'
purilit 'putar' puralat-purilit 'putar-putar'

Pengulangan dapat direkatkan secara sekaligus dengan afiksasi, baik itu prefiksasi, sufiksasi, simulfiksasi, maupun infiksasi.[29]

Pengulangan Gabungan pengulangan dengan afiksasi
babajingan 'bajing-bajing' Pengulangan suku kata pertama dengan sufiks -an
dilelebah-lebah 'dikira-kira' Pengulangan penuh kata dasar dan suku pertamanya, kemudian menambahkan sufiks di- pada bentukan akhir itu
digagandéngan 'dibisingi' Pengulangan suku kata pertama dengan simulfiksasi di-...-an
dieurih-eurihkeun 'dipindahkan' Pengulangan seluruh kata dengan simulfiksasi di-...-keun
serat-sinerat 'surat-surat' Pengulangan seluruh kata dengan infiks -in-
pinangéran-pinangéran 'yang dianggap pangeran' Pengulangan seluruhnya dengan infiks -in-

Pemajemukan sunting

Pemajemukan dapat tercipta dari beberapa proses di bawah ini.[30]

Kata-kata Pemajemukan
kata tunggal + kata tunggal buku/taun 'ulang tahun'
kata tunggal + kata kompleks rama/tuana 'kakek'
kata tunggal + kata ulang hajat/mamaleman 'selamatan pada malam hari di akhir bulan puasa'
kata tunggal + kata majemuk hayam/balik sumpah 'ayam balik sumpah'
kata kompleks + kata tunggal gedogan/kuda 'kandang kuda'
kata kompleks + kata kompleks paméran/pertanian 'pameran pertanian'
kata kompleks + kata majemuk aturan/hukum waris 'aturan hukum waris'
kata ulang + kata tunggal popojok/galeng 'pojok pematang'
kata ulang + kata majemuk tatabeuhan/goong rénténg 'tabuhan gong renteng'
kata majemuk + kata tunggal pusaka karuhun/cibali 'pusaka leluhur cibali'
kata majemuk + kata kompleks waduk liwet/dihayaman 'nali liwet uduk liwet ayam'
kata majemuk + kata ulang bulan puasa/lilikuran 'bulan puasa tanggal dua puluhan'
kata majemuk + kata majemuk pangéran pati/arya dipati 'Pangeran Pati Arya Dipati'

Kosakata sunting

Berikut adalah perbandingan kosakata dari ragam percakapan bahasa Sunda Cirebon dan bahasa Sunda dialek lain.[31][32]

Banten Bogor Priangan Cirebon (Kuningan) Cirebon (Majalengka) Cirebon (Indramayu) Binong Glosa Keterangan
dia, sia manéh, sia anjeun nyanéh déwék, sorangan inya, kita manéh, sira kamu Pada bahasa Sunda Indramayu, kata "kita" memiliki makna yang lebih halus dibandingkan dengan kata "inya".
aing aing, urang abdi, kuring aing, kami uing aing, kami, kola urang, kuring, kami, nyong saya Pada bahasa Sunda Kuningan, kata "kami" memiliki makna yang lebih halus dibanding dengan "aing". Begitu juga dengan bahasa Sunda Indramayu, namun pada dialek Indramayu, ada kosakata yang lebih halus lagi dari kata "kami", yakni "kola".


Lihat pula sunting

Referensi sunting

  1. ^ a b c Abdurrachman et al. (1985), hlm. 6.
  2. ^ a b Abdurrachman et al. (1985), hlm. 2.
  3. ^ Abdurrachman et al. (1985), hlm. 3.
  4. ^ Abdurrachman et al. (1985), hlm. 1.
  5. ^ Abdurrachman et al. (1985), hlm. 2-3.
  6. ^ Abdurrachman et al. (1985), hlm. 1-3.
  7. ^ Abdurrachman et al. (1985), hlm. 9.
  8. ^ Abdurrachman et al. (1985), hlm. 10.
  9. ^ Abdurrachman et al. (1985), hlm. 11.
  10. ^ Abdurrachman et al. (1985), hlm. 11-12.
  11. ^ Abdurrachman et al. (1985), hlm. 48.
  12. ^ Abdurrachman et al. (1985), hlm. 12.
  13. ^ Abdurrachman et al. (1985), hlm. 12-13.
  14. ^ a b c d e f Abdurrachman et al. (1985), hlm. 13.
  15. ^ a b Abdurrachman et al. (1985), hlm. 13-14.
  16. ^ a b Abdurrachman et al. (1985), hlm. 14.
  17. ^ Abdurrachman et al. (1985), hlm. 15.
  18. ^ Abdurrachman et al. (1985), hlm. 15-16.
  19. ^ a b Abdurrachman et al. (1985), hlm. 16.
  20. ^ Abdurrachman et al. (1985), hlm. 16-17.
  21. ^ Abdurrachman et al. (1985), hlm. 17.
  22. ^ Abdurrachman et al. (1985), hlm. 17-18.
  23. ^ Abdurrachman et al. (1985), hlm. 18-19.
  24. ^ Abdurrachman et al. (1985), hlm. 19.
  25. ^ a b c d e Abdurrachman et al. (1985), hlm. 20.
  26. ^ Abdurrachman et al. (1985), hlm. 21.
  27. ^ Abdurrachman et al. (1985), hlm. 21-22.
  28. ^ Abdurrachman et al. (1985), hlm. 22-24.
  29. ^ Abdurrachman et al. (1985), hlm. 23.
  30. ^ Abdurrachman et al. (1985), hlm. 23-24.
  31. ^ Puji Lestari, Miranti. 2009. Penelitian: Geofrafi Dailek Bahasa Daerah Di Kecamatan Binong Kabupaten Subang Propinsi Jawa Barat (Tinjauan Fonologis Sinkronis). Bandung: Universtias Pendidikan Indonesia
  32. ^ Nurfaidah, Dedeh. 2008. Penelitian: "Basa Sunda Dialék Majalengka Di Kacamatan Sukahaji". Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia

Daftar pustaka sunting

Pranala luar sunting