Bahasa Sunda Kuno

Bahasa Sunda Kuno ialah bahasa Sunda dialek temporal (arkais) yang pernah digunakan di wilayah Jawa bagian barat. Bukti-buktinya tercatat pada prasasti dari abad sekitar ke-14 dan naskah-naskah lontar kuno dari abad ke-15 sampai ke-17 M. Bahasa ini sudah tidak digunakan di masa sekarang, namun masih memiliki kaitan dekat dengan bahasa Sunda moderen.[1]

Bahasa Sunda Kuno
Basa Sunda Buhun
WilayahJawa Barat
PunahBerkembang menjadi Bahasa Sunda menjelang abad ke-18.
Aksara Buda
Aksara Sunda Kuna
Kode bahasa
ISO 639-2
ISO 639-3

Bukti TertulisSunting

Penggunaan bahasa Sunda kuno antara lain tercatat dalam prasasti berbahan batu alam seperti Prasasti Kawali di Ciamis, dan Prasasti Batutulis di Bogor, juga dalam prasasti berbahan pelat tembaga seperti Prasasti Kabantenan dari daerah Bekasi.[2][3] Peninggalan lain yang mendokumentasikan penggunaan bahasa Sunda Kuno yaitu pada naskah-naskah lontar dan gebang dari wilayah Bandung, Garut, dan Bogor. Naskah-naskah itu kini tersimpan di beberapa lembaga, antara lain Kabuyutan Ciburuy di Bayongbong Garut, Museum Sri Baduga di Bandung, Perpustakaan Nasional RI di Jakarta, dan Perpustakaan Bodleian di London.[4][5][6][7]

KarakteristikSunting

LeksikonSunting

Kosakata yang digunakan dalam bahasa Sunda kuno masih banyak dikenali dalam bahasa Sunda moderen, baik yang memiliki arti sama maupun mengalami perubahan atau pergeseran makna. Penggunaan bahasa Sansakerta yang disesuaikan dengan pelafalan atau penulisan Sunda kuno berbaur cukup kentara. Hal ini karena nuansa penggunaan bahasa Sunda kuno dalam teks-teks keagamaan Hindu maupun Buddha. Pada beberapa bagian sering ditemukan kosakata yang sama, bahkan berpadu dengan untaian kalimat dalam bahasa Jawa Kuna.[8] Dalam bagian lain ditemukan juga penggunaan kosakata Melayu kuno[9][10] dan bahasa Arab.[11] Beberapa peniliti teks Sunda kuno telah mendaftarkan leksikon Sunda kuno menjadi kamus dwibahasa (Sunda Kuno-Indonesia).[12]

MorfologiSunting

Morfologi pembentukan kata pada umumnya dapat dikenali dalam bahasa Sunda moderen dengan beberapa pengecuailan, misalnya penggunaan imbuhan awal a- dalam kata awurung. Imbuhan akhir -keun memiliki fungsi gramatikal yang mirip dengan -aken dalam bahasa Jawa Kuno. Sedangkan penggunaan bentuk imbuhan sisipan (infiks) -in- dan -um- dalam kata ginawe (kata dasar gawe; ‘dikerjakan’) dan gumanti (kata dasar ganti: ‘mengganti’) sama seperti dalam Jawa Kuno, di samping penggunaan sisipan -ar- yang berarti jamak, misalnya dalam kata karolot (kata dasar kolot; ‘yang tua-tua’).[13]

SintaksisSunting

Dalam tingkatan sintaksis, secara umum bentuk kalimat dalam bahasa Sunda kuno masih memiliki kemiripan dengan bahasa Sunda moderen.[14][15] Salah satu fitur dari bahasa Sunda kuno yang dapat dibedakan dari struktur bahasa Sunda moderen yaitu adanya penggunaan pola predikat-subjek pada struktur kalimat bahasa Sunda kuno dengan predikat berupa kata kerja (verba) dan subjek berupa kata benda (nomina) yang cukup konsisten.[15] Fitur lain yang menjadi ciri khas yaitu penggunaan partikel ma yang dapat berfungsi sebagai penguat frasa atau klausa sebelumnya. Dalam konstruksi kalimat, partikel ma berfungsi sebagai pemarkah yang memisahkan klausa, dan berfungsi untuk memperkenalkan informasi baru.[16]

Contoh PenggunaanSunting

 
Prasasti Kawali I di kawasan kabuyutan Astana Gede, Kawali

PrasastiSunting

Berikut ini adalah contoh penggunaan bahasa Sunda kuno yang tercatat dalam Prasasti Kawali. Alihaksara diplomatis dikerjakan oleh arkeolog Hasan Jafar & Titi Surti Nastiti [3]

"nihan tapak walar nu sang hyang mulia tapa(k) inya parĕbu raja wastu mangadĕg di kuta kawali nu mahayu na kadatuan surawisesa nu marigi sakuliling dayĕh nu najur sakala desa aya ma nu pa(n)deuri pakĕna gawe rahayu pakĕn hĕbĕl jaya dina buana"

Terjemahan:

''Inilah jejak (tapak) (di) Kawali (dari) tapa dia Yang Mulia Prabu Raja Wastu (yang) mendirikan pertahanan (bertahta di) Kawali, yang telah memperindah kedaton Surawisesa, yang membuat parit pertahanan di sekeliling wilayah kerajaan, yang memakmurkan seluruh pemukiman. Kepada yang akan datang, hendaknya menerapkan keselamatan sebagai landasan kemenangan hidup di dunia.''

Naskah KunoSunting

Bahasa Sunda kuno yang digunakan pada naskah-naskah lontar dan gebang dapat dibedakan berdasarkan bentuk teksnya, yaitu puisi dan prosa.[8][14][15]

PuisiSunting

 
Naskah lontar Kawih Pangeuyeukan koleksi Perpusnas RI berisi teks dengan bahasa Sunda Kuno.

Beberapa naskah Sunda kuno yang memuat teks dengan bentuk puisi antara lain Sewaka Darma,[17] Carita Purnawijaya,[18] Bujangga Manik, Sri Ajnyana,[8] Kawih Pangeuyeukan[19] dan Sanghyang Swawarcinta.[20] Bahasa Sunda kuno yang dituliskan dalam bentuk teks puisi umumnya menggunakan pola delapan suku kata, walaupun dalam beberapa naskah kaidah ini tidak begitu ketat.[8][21]

Teks Pendakian Sri Ajnyana:

"Sakit geui ngareungeuheun
cicing hanteu dék matingtim,
usma ku raga sarira.
Béngkéng upapen rasana,
dosa a(ng)geus kanyahoan,
ngeureuy teuing gawé hala,
hanteu burung katalayahan,
Ja kini teuing rasana,
Kasasar jadi manusa.
Saurna Sri Ajnyana:
‘Adiing, ambet ka dini.
Mulah ceurik nangtung dinya.
Dini di lahunan aing.
Tuluy dirawu dipangku"

ProsaSunting

 
Naskah gebang dengan bahasa Sunda Kuno Sanghyang Raga Dewata koleksi Museum Sribaduga, Bandung.

Teks yang memuat bahasa Sunda dalam bentuk prosa antara lain Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Amanat Galunggung,[17] Sanghyang Sasana Maha Guru, dan Sanghyang Raga Dewata. Berikut ini contoh kalimat yang digunakan dalam Amanat Galunggung.[17]

"Awignam astu. Nihan tembey sakakala Rahyang Ba/n/nga, masa sya nyususk na Pakwan makangaran Rahyangta Wuwus, maka manak Maharaja Dewata, Maharaja Dewata maka manak Baduga Sanghyang, Baduga Sanghyang maka manak Prebu Sanghyang, Prebu Sanghyang maka manak Sa(ng) Lumahing rana, Sang Lumahing Rana maka manak Sa(ng) Lumahing Winduraja, Sa(ng) Lumahing Winduraja maka manak Sa(ng) Lumahing Tasikpa(n)jang, Sang Lumahing Tasik pa(n)jang (maka manak) Sa(ng) Lumahing Hujung Kembang, Sa(ng) Lumahing Hujung Kembang maka manak Rakeyan Darmasiksa."


RujukanSunting

  1. ^ Iskandarwassid (1992). Kamus istilah sastra: pangdeudeul pengajaran sastra Sunda (dalam bahasa Sunda). Geger Sunten. 
  2. ^ Djafar, Hasan (1991). Prasasti-prasasti dari masa kerajaan-kerajaan Sunda / oleh Hasan Djafar. [s.n.] 
  3. ^ a b Hasan Jafar, Titi Surti Nastiti (2016). "Prasasti-prasasti dari Masa Hindu Buddha (Abad ke-12-16 Masehi di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat". PURBAWIDYA. Vol. 5 (No. 2): 101–116. 
  4. ^ Katalog induk naskah-naskah nusantara: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Djambatan. 1990. ISBN 978-979-428-151-2. 
  5. ^ Ekajati, Edi Suhardi (1999). Jawa Barat, koleksi lima lembaga. Yayasan Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-331-3. 
  6. ^ Chambert-Loir, Henri; Fathurahman, Oman (1999). Khazanah naskah: panduan koleksi naskah-naskah Indonesia sedunia. Yayasan Obor Indonesia. 
  7. ^ Ekajati, Edi Suhardi (2000). Direktori naskah Nusantara. Yayasan Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-334-4. 
  8. ^ a b c d Tiga pesona Sunda Kuna. PT Dunai Pustaka Jaya. 2009. ISBN 978-979-419-356-3. 
  9. ^ "Bahasa Melayu Kuna dalam Naskah Lontar Sunda Kuna – Kairaga.com". Diakses tanggal 2020-06-18. 
  10. ^ Kosakata Melayu dalam naskah Sunda kuno: deskripsi dan dampak homonimi. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. 2000. 
  11. ^ Darsa, Undang A. (2006). Gambaran kosmologi Sunda, kropak 420: silsilah Prabu Siliwangi, Mantera Aji Cakra, mantera Darmapamulih, ajaran Islam, kropak 421, jatiraga, kropak 422. Kiblat Buku Utama. ISBN 978-979-3631-77-6. 
  12. ^ Sumarlina, Elis Suryani Nani; Darsa, Undang A. (2003). KBSKI: kamus bahasa Sunda kuno Indonesia (dalam bahasa Sunda). Alqaprint Jatinangor. ISBN 978-979-9462-42-8. 
  13. ^ Nurwansah, Ilham. "Afiksasi dalam Bahasa Sunda Kuno (Analisis morfologis terhadap teks abad ke-16)" (dalam bahasa Inggris). 
  14. ^ a b Ruhaliah (1997). Kajian Diakronis Struktur Bahasa Sunda Bihari dan Bahasa Sunda Kiwari. Bandung: IKIP. 
  15. ^ a b c Nurwansah, Illam; Sudaryat, Yayat; Ruhaliah, Ruhaliah (2017). "KALIMAT BAHASA SUNDA DALAM TEKS PROSA SUNDA KUNO ABAD KE-16 (Analisis Struktur dan Semantis)". LOKABASA (dalam bahasa Inggris). 8 (2): 181–196. doi:10.17509/jlb.v8i2.14199. ISSN 2528-5904. 
  16. ^ Gunawan, Aditia; Fauziyah, Evi Fuji (2018). "Fungsi dan posisi partikel Ma dalam Bahasa Sunda Kuno" (PDF). kbi.kemdikbud.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-06-18. 
  17. ^ a b c Sewaka darma (Kropak 408) ; Sanghyang siksakandang karesian (Kropak 630) ; Amanat Galunggung (Kropak 632): transkripsi dan terjemahan. Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi), Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1987. 
  18. ^ Tijdschrift voor Indische taal-, land-, en volkenkunde (dalam bahasa Belanda). Lange & Company. 1914. 
  19. ^ Ruhimat, Mamat; Gunawan, Aditia; Wartini, Tien (2014). Kawih pangeuyeukan: tenun dalam puisi Sunda kuna dan teks-teks lainnya. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia bekerjasama dengan Pusat Studi Sunda. ISBN 978-979-008-685-2. 
  20. ^ Wartini, Tien; Ruhimat, Mamat; Ruhaliah; Gunawan, Aditia (2011). Sanghyang swawarcinta. Kerjasama Perpustakaan Nasional RI dan Pusat Studi Sunda. 
  21. ^ Atep Kurnia, Aditia Gunawan (2019). Tata Pustaka: Sebuah Pengantar terhadap Tradisi Tulis Sunda KUna. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI & Manassa.