Buka menu utama

Kereta Api Parahyangan adalah kereta api bisnis dan eksekutif yang pernah dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) di Pulau Jawa pada tahun 1971-2010 dengan jurusan Bandung (BD)-Jakarta (GMR) dan sebaliknya. Perjalanan Jakarta - Bandung sepanjang ± 173 km menelusuri alam pegunungan Priangan Bagian Barat ditempuh kereta ini dengan waktu rata-rata 3 jam.

Kereta api Parahyangan
320px
Kereta api Parahyangan feat BB301 melintas area stasiun Padalarang menuju Gambir
Ikhtisar
JenisEksekutif dan bisnis
SistemKereta api ekspres
StatusTidak beroperasi (Disatukan dengan KA Argo Gede menjadi KA Argo Parahyangan
LokasiDaop 2 Bandung
TerminusStasiun Bandung
Stasiun Gambir
Stasiun Jakarta Kota
Stasiun6
Layanan7
Operasi
Dibuka31 Juli 1971
Ditutup26 April 2010
PemilikPT Kereta Api Indonesia
OperatorDaerah Operasi II Bandung
DepotBandung (BD)
RangkaianC28, BB301, CC201, CC203, CC204
Data teknis
Panjang lintas170 km
Kecepatan operasi40 s.d. 90 km/jam
Jumlah rute19-30
Peta rute

Peta rute KA Argo Parahyangan

Continuation backward
ke Kasugihan, Yogyakarta, Surabaya
Straight track
Stop on track
Stasiun Kiaracondong
Straight track
Stop on track
Stasiun Cikudapateuh
Straight track
Station on track
Stasiun Bandung
Straight track
Stop on track
Stasiun Ciroyom
Straight track
Stop on track
Stasiun Andir
Straight track
Stop on track
Stasiun Cimindi
Straight track
Stop on track
Stasiun Cimahi
Straight track
Station on track
Stasiun Gadobangkong
Straight track
Stop on track
Stasiun Padalarang
Straight track
Unknown route-map component "ABZgl" Unknown route-map component "CONTfq"
ke Manggarai
Straight track
Enter and exit tunnel
Terowongan Sasaksaat
Straight track
Stop on track
Stasiun Sasaksaat
Straight track
Straight track
Perbatasan antara Wilayah Bandung dan Purwakarta
Straight track
Transverse water Unknown route-map component "hKRZWae" Transverse water
Jembatan Cisomang
Straight track
Stop on track
Stasiun Cisomang
Straight track
Station on track
Stasiun Purwakarta
Straight track
Straight track
Perbatasan antara Daop 2 dan Daop 1
Straight track
Unknown route-map component "CONTgq" Unknown route-map component "KRWg+r"
Ke Cirebon
Straight track
Straight track
Selamat datang di Wilayah Daop 1
Straight track
Stop on track
Stasiun Cikampek
Straight track
Stop on track
Stasiun Dawuan
Straight track
Stop on track
Stasiun Kosambi
Straight track
Stop on track
Stasiun Klari
Straight track
Stop on track
Stasiun Karawang
Straight track
Stop on track
Stasiun Kedunggedeh
Straight track
Stop on track
Stasiun Lemahabang
Straight track
Unknown route-map component "ABZgl" Unknown route-map component "CONTfq"
Ke CDP
Straight track
Stop on track
Stasiun Cikarang
Straight track
Stop on track
Stasiun Cibitung
Straight track
Stop on track
Stasiun Tambun
Straight track
Stop on track
Stasiun Bekasi Timur
Straight track
Station on track
Stasiun Bekasi
Straight track
Stop on track
Stasiun Kranji
Straight track
Stop on track
Stasiun Cakung
Straight track
Station on track
Stasiun Jatinegara
Straight track
Unknown route-map component "CONTgq" Unknown route-map component "ABZgr"
Ke Pasar Senen
Straight track
Unknown route-map component "KRWg+l" Unknown route-map component "CONTfq"
Ke Bogor
Straight track
Station on track
Stasiun Manggarai
Straight track
Unknown route-map component "ABZgl" Unknown route-map component "CONTfq"
Ke Tanah Abang
Straight track
Stop on track
Stasiun Cikini
Straight track
Stop on track
Stasiun Gondangdia
Straight track
Straight track
Sinyal Masuk
Unknown route-map component "hBHF"
Stasiun Gambir
Straight track
Sinyal Keluar
Stop on track
Stasiun Juanda
Straight track
Stop on track
Stasiun Sawah Besar
Straight track
Stop on track
Stasiun Mangga Besar
Straight track
Stop on track
Stasiun Jayakarta
Straight track
Straight track
Sinyal Masuk/Keluar
Unknown route-map component "hCONTf"
Ke Jakarta Kota


Keterangan:

  • Untuk KA 19/20/22/30/32/34 Argo Parahyangan berhenti di Stasiun Purwakarta
  • Untuk KA 11758/11752 Argo Parahyangan Tambahan BD berhenti di Stasiun Purwakarta
  • Untuk KA 11314 Argo Parahyangan Tambahan PSE berhenti di Stasiun Purwakarta
  • Untuk KA 11211/11163 Argo Parahyangan Tambahan SS berhenti di Stasiun Purwakarta
  • Untuk KA 7058/7059/7060 Argo Parahyangan Premium berhenti di Stasiun Purwakarta
  • Untuk KA 21/23/24/25/26/27/28/ Argo Parahyangan tidak berhenti di Stasiun Purwakarta
  • Untuk KA 11232/11234 Argo Parahyangan Tambahan SS tidak berhenti di Stasiun Purwakarta
  • Untuk KA 7049/7050 Argo Parahyangan Tambahan Malam tidak berhenti di Stasiun Purwakarta
  • Untuk KA Argo Parahyangan Tambahan Rangkaian (JAKK/BD) berterminus di Stasiun Kiaracondong
  • Untuk KA Argo Parahyangan Reguler berterminus di Stasiun Bandung
Bagian dalam gerbong kereta eksekutif Parahyangan.

KA Parahyangan mulai beroperasi tanggal 31 Juli 1971 dan beroperasi terakhir pada tanggal 26 April 2010. Mulai tanggal 27 April 2010, operasional KA Parahyangan bersama KA Argo Gede dilebur menjadi KA Argo Parahyangan

Daftar isi

SejarahSunting

Pertengahan abad XIX, Bandung masih berupa desa terpencil di pedalaman Tatar Sunda Parahyangan. Padahal kawasan itu adalah penghasil kina dan teh. Transportasi menuju kawasan Bandung yang berkelok-kelok, begitu sulit ditempuh. Namun dengan dimulainya pembangunan jalur kereta api di Semarang pada 10 Agustus 1867, maka jalur kereta api Batavia-Parahyangan pun ikut dibangun, yaitu pada 16 Mei 1884.

Jalur Jakarta-Bandung menjadi favorit warga Belanda karena pemandangan alam dan hawa yang sejuk. Dari sekadar kota persinggahan, Bandung jadi kota tujuan wisata bahkan tempat tinggal. Karena menjadi jalur favorit warga Belanda, kereta api yang mengangkut para noni, tuan, mevrouw, dan meneer, pun menggunakan loko uap C28 yang pada saat itu menjadi lokomotif tercepat dengan kecepatan 90 km/jam.

Pemerintah kolonial mengoperasikan KA Vlugge Vier, yang adalah kereta ekspres Jakarta-Bandung dan sungguh elit pada zaman itu. Vlugge Vier sekelas dengan Eendaagsche Express. Kemudian, Vlugge Vier kemudian menjadi KA Parahyangan. Sementara itu, Eendaagshce Express menjadi KA Bintang Fadjar dan Bintang Sendja, lalu KA Biru Malam Sekarang KA Bima. Nama Parahijangan berubah menjadi KA Parahyangan di awal 1970-an.[1]

Awal dan Masa-masa Beroperasi (1971-2004)Sunting

Kereta api Parahyangan diluncurkan pada 31 Juli 1971 di Stasiun Bandung, dan sampai tahun 1995, menjadi satu-satunya kereta api yang melayani rute Jakarta-Bandung. Kereta api Parahyangan menjadi pilihan masyarakat pada saat itu, ini dapat dilihat dari seringnya kereta api ini membawa rangkaian panjang dan juga jumlah perjalanan yang banyak. Kereta api ini menyediakan layanan kelas Eksekutif yang memiliki pendingin udara dan kelas Bisnis tanpa pendingin ruangan. Frekuensi perjalanan KA Parahyangan saat jayanya pernah mencapai 20 kali pada hari biasa dan 30 kali pada akhir pekan dan libur nasional.

Namun pada tahun 1995, Perumka meluncurkan KA Argo Gede jurusan Jakarta-Bandung. Kereta ini sebagai kereta Eksekutif andalan Perumka hingga PT Kereta Api (KA). Keberadaan KA Argo Gede tidak berdampak signifikan terhadap KA Parahyangan, tetapi tentu saja pamor KA Argo Gede lebih tinggi karena rangkaian yang lebih baru dan nyaman (buatan 1995 dan 2002) dibandingkan KA Parahyangan yang menggunakan rangkaian yang lebih lama. Meskipun begitu, KA Parahyangan masih berjaya bersama Argo Gede, karena segmen konsumen yang berbeda, di mana kereta api Parahyangan didominasi kelas bisnis dibandingkan kelas eksekutif, apalagi tarifnya yang lebih murah dibandingkan kereta api Argo Gede. Kereta api ini masih sering menarik rangkaian panjang dan okupansi masih tinggi sampai tahun 2004.

Penurunan dan Penghentian Operasi (2005-2010)Sunting

Pada tahun 2005, Jalan Tol Cipularang beroperasi dan tingkat okupansi KA Parahyangan (dan juga Argo Gede) menjadi semakin turun. Seringkali kereta ini hanya membawa 2 kereta eksekutif dan 3 kereta bisnis dalam satu rangkaiannya sejak dioperasikannya Jalan Tol Cipularang.

PT KA telah mencoba memberi diskon (tarif reduksi), tetapi hasilnya okupansi penumpang masih rendah yakni di bawah 50 persen. Rendahnya okupansi KA Parahyangan itu berlaku baik untuk pemberangkatan Bandung maupun Jakarta. KA itu hanya penuh pada weekend saja. Dalam koridor jarak pendek seperti Bandung-Jakarta memang waktu tempuh lebih lama daripada Tol Cipularang, meski pada jam-jam peak hour tentu waktu tempuh KA masih unggul.[2] Data terakhir dari PT KA, KA Parahyangan mengalami kerugian besar, mencapai Rp 36 miliar per tahun akibat okupansinya yang tinggal 50%.[3]

KA Parahyangan melakukan perjalanan terakhir Gambir-Bandung pada 26 April 2010, ditarik oleh lokomotif CC201 99 (CC201 92 09). Pada 27 April 2010, setelah lebih kurang 39 tahun melayani koridor Bandung dan Jakarta, KA Parahyangan dihentikan operasinya. Sebagai gantinya, PT KA Daop II Bandung meluncurkan Kereta api Argo Parahyangan dengan jumlah lima dan enam gerbong. Kereta tersebut awalnya merupakan rangkaian Argo Gede yang dimodifikasi dengan menambah 1-2 gerbong kelas bisnis dari KA Parahyangan.[4] Selain itu, sisa gerbong Parahyangan pun dialihkan pada kereta baru yaitu kereta api Malabar rute Bandung-Malang PP, yang diluncurkan pada 30 April 2010.

RangkaianSunting

Kereta api Parahyangan menggunakan rangkaian kereta eksekutif dan bisnis milik Dipo Bandung yang mana kereta-kereta ini rata-rata merupakan buatan tahun 1960-an sampai dengan 1980-an, baik untuk kelas bisnis dan eksekutifnya. Normalnya, kereta ini membawa 2-3 kereta eksekutif (K1) dan 3-5 kereta bisnis (K2) ditambah dengan kereta makan (KM2) dan kereta pembangkit (BP). Namun seringkali kereta api ini justru membawa kereta makan dan pembangkit kelas bisnis (KMP2/MP2). Rangkaian tersebut merupakan susunan normal, pada musim liburan seringkali kereta api ini membawa rangkaian yang lebih panjang.

Lokomotif penarikSunting

KA ini awalnya menggunakan lokomotif BB301 pada masa awal beroperasi, lalu diganti dengan BB304, tetapi tergantikan oleh CC201 seiring waktu, juga oleh CC203 sejak tahun 90-an akhir, dan CC204 baik generasi 1 dan 2 mengingat lokomotif CC204 terbaru pada masa itu awalnya selalu dikirim ke dipo lokomotif Bandung. Pada tahun-tahun terakhir masa beroperasinya, KA Parahyangan secara bergantian ditarik oleh lokomotif CC201, CC203, dan CC204.

Catatan kakiSunting

  1. ^ "Akhir Riwayat Kereta "Vlugge Vier"". Pradaningrum Mijarto. Warta Kota. 16 April 2010. 
  2. ^ "KA Parahyangan Dihapus!". luc/Ant. Warta Kota. 16 April 2010. 
  3. ^ ""Weekend" Terakhir KA Parahyangan". -. Antara. 24 April 2010. 
  4. ^ "Selamat Tinggal Kereta Api Parahyangan..." Gin Gin Tigin Ginulur. Okezone. 26 April 2010. 

Pranala luarSunting