Buka menu utama

Panembahan Badarul Alam[5] atau Panembahan Sepuh/SultanTamdjidoellah 1[6] (bin Sulthan Tahmid Illah I/Panembahan Kuning/Panembahan Tengah/Tahliloellah bin Sulthan Tahirullah/Amarullah Bagus Kasuma) adalah Wali Sultan Banjar antara tahun 1734-1759[7][8][9][10]

Tuan Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Sultan Tamjidullah I/ Sepuh bin Sultan Tahmidullah I
Masa kekuasaan1734-1759
Dinobatkan1734
Anak1. ♂ Panembahan Kaharoeddin Haliloellah[1]

2. ♂ Pangeran Mangku Dilaga
3. ♂ Pangeran Aria Mangku Negara
4. ♂ Pangeran Isa
5. ♂ Pangeran Berahim[2]
6. ♀ Putri Sara
7. ♀ Ratu Anom Kasumagiri
8 .♂ Pangeran Prabujaya/Prabajangga
[3] 9. ♂ Pangeran Thoha
10. ♂ Pangeran Suria
11. ♂ Pangeran Ahmad

12. ♀ Ratu Syarif Abdurrahman Alkadrie[4]
WangsaDinasti Banjarmasin
AgamaIslam Sunni

Pangeran Tamjid-Allah I semula menjabat mangkubumi namun kemudian setelah wafatnya Sultan il-Hamidullah maka ia bertindak sebagai pemangku Raja yakni wali Putra Mahkota yaitu Muhammad Aliuddin Aminullah yang belum dewasa. Tetapi ia kemudian mengangkat dirinya menjadi Sultan Banjar dengan gelar Sultan Sepuh (artinya Sultan tua). Pada tahun 1759, sultan Sepuh turun tahta dan melepas gelar Sultan menjadi Panembahan yaitu Panembahan Sepuh. Panembahan Sepuh mangkat pada tahun 1767.[11]

Sultan Sepuh dibantu adiknya Pangeran Nullah (Panembahan Hirang) sebagai mangkubumi (kepala pemerintahan). Salah seorang saudaranya yang bernama Pangeran Mas Dipati diangkat sebagai kepala daerah Negara.

Sultan Tahlilullah berputra enam orang yaitu Pangeran Tamjidullah, Pangeran Nullah, Pangeran Dipati, Pangeran Istana Dipati, Pangeran Wira Kasuma dan Pangeran Mas. Pangeran Mas kelak menjadi mangkubumi dengan gelar Ratu Anum Kasuma Yuda (mangkubumi Sultan Tahmidullah II).[12]

Pada tahun 1747, Kyai Martajaya, seorang Banjar dilantik sebagai syahbandar (biasanya jabatan syahbandar dipegang oleh orang Gujarat atau Tionghoa). Kyai Martaraga dilantik menjadi penghulu (ulama keraton) tahun 1752. Kyai ingabehi Surengrana yang berasal dari Margasari memegang jabatan Puspawana (petugas yang mengurus ternak, padang perburuan, dan sungai untuk persediaan ikan bagi warga istana).

Sepupu Sultan Sepuh yang bernama Pangeran Suryanata menjadi ketua Dewan Mahkota. Ia tinggal di Martapura dan meninggal tahun 1750. Putera almarhum yang bernama Pangeran Prabukasuma menggantikan sebagai ketua Dewan Mahkota. Beberapa anggota Dewan Mahkota tinggal di luar Kayu Tangi yaitu Pangeran Marta dan Pangeran Ulahnegara yang tinggal di Margasari dan Pangeran Wiranata tinggal di Tapin[3]

Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah bin Sultan Hamidullah menjadi Putra Mahkota dengan gelar Ratu Anum[12], belakangan ia berhasil menuntut tahta dari pamannya.

Latar BelakangSunting

Kemangkatan Sultan Hamidullah (Sultan Kuning) tahun 1734, merupakan pertanda awan mendung di kesultanan Banjarmasin. Kembali muncul penyakit lama, pertentangan kepentingan perebutan kekuasaan mulai terjadi lagi. Apalagi putra mahkotanya belum dewasa pada saat Sultan mangkat. Sesuai dengan tradisi, maka wali dipegang oleh pamannya atau adik Sultan Kuning yaitu Pangeran Tamjidillah, sehingga kelak jika putra mahkota telah dewasa, barulah tahta kerajaan akan diserahkan. Pangeran Tamjidillah sebagai wali sultan mempunyai siasat yang lebih jauh, yaitu berkeinginan menjadikan hak kekuasaan politik berada dalam tangannya dan keturunannya. Untuk itu, Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah yang telah dewasa menjadi menantunya. Dengan perkawinan tersebut, putra mahkota tentunya tidak sampai hati meminta bahkan merebut kekuasaan dari mertuanya, yang berarti sama dengan ayahnya sendiri. Kenyataan memang demikian, sehingga putra mahkota tidak begitu bernafsu, untuk meminta kembali hak atas tahta kesultanan Banjarmasin. Oleh sebab itu, Pangeran Tamjidillah berhasil berkuasa selama 25 tahun dan mengangkat dirinya menjadi Sultan dengan gelar Sultan Sepuh (1734-1759).

Tetapi bagaimanapun juga Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah ingin mengambil kembali hak atas tahta kerajaan sebagai ahli waris yang sah dari Sultan Kuning/Sultan Chamidullah. Usahanya meminta bantuan VOC merebut tahta dari pamannya, sekaligus juga mertuanya, tidak kunjung tiba, karena itu dengan inisiatif sendiri, Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah berhasil lepas dari kungkungan pamannya dan melarikan diri ke Tabanio, sebuah pelabuhan perdagangan lada yang terpenting dari kesultanan Banjarmasin. Putera mahkota menjadi bajak laut untuk mengumpulkan kekuatan, dan menanti saat yang baik merebut kembali tahta pamannya. Sementara itu Sultan Tamjidillah pada tahun 1747 membuat kontrak dagang dengan VOC, yang merupakan dasar bagi VOC, untuk mengadakan hubungan dagang dan politik dengan kesultanan Banjarmasin sampai tahun 1787.

Perjanjian 18 Mei 1747Sunting

 
Gustaaf Willem baron van Imhoff, Gubernur Jenderal VOC tahun 1743-1750

Beberapa buah kontrak perjanjian telah dibuat oleh Sultan Sepuh dengan VOC-Belanda.[13]

Dari pendahuluan surat perjanjian ini dapat diketahui bahwa perjanjian yang telah dibuat sebelumnya, tidak ditaati oleh Orang Banjar, karena Orang Banjar memang dikenal sebagai pedagang bebas tidak mau terikat dengan aturan-aturan yang merugikan perdagangan mereka sendiri. Perjanjian ini dibuat antara Kesultanan Banjar yang dilakukan oleh Sultan Tamjidillah I serta Ratu Anum (Muhammad Aliuddin Aminullah) dengan pihak VOC yang diwakili Steven Marcus van der Heijden, Yan van Suchtelen dan Danil van der Burgh atas perintah Gubernur Jenderal Gustaaf Willem baron van Imhoff.[13]

Pasal-pasal dalam perjanjian itu menyangkut perdagangan monopoli lada di dalam Kesultanan Banjar. Dalam perjanjian itu disebutkan tentang harga patokan lada dan larangan bagi bangsa kulit putih selain VOC mengadakan perdagangan lada dengan Kesultanan Banjar. Pasal-pasal dari perjanjian itu antara lain adalah:[13]

Perjanjian itu berisi dua belas pasal. Disamping ketentuan tentang harga yang sudah pasti juga meliputi persyaratan tentang kualitas lada, bahwa lada itu harus kering. Ketetapan monopoli tersebut juga menyangkut tentangnya para pedagang ke negeri Banjar. Orang Tionghoa tidak boleh membeli lada kepada orang Banjar, tetapi harus membeli kepada kompeni. Kompeni membeli lada kepada orang Banjar seharga enam real sepikul sedangkan Kompeni menjualnya kepada orang Tionghoa delapan real sepikulnya.[13]

Monopoli tersebut juga mengatur bahwa Orang Banjar tidak boleh berlayar ke sebelah timur sampai ke Bali, Sumbawa, Lombok, batas ke sebelah barat tidak boleh melewati Palembang, Johor, Malaka dan Belitung.[13]

Perjanjian tanggal 18 Mei 1747 tertulis huruf Arab-Melayu dan bahasa Melayu dan huruf Latin bahasa Belanda. Perjanjian yang tertulis dengan huruf Arab-Melayu dan berbahasa Melayu berbunyi:[13]



Perjanjian itu ditandatangani oleh Sultan Tamjidillah I, dengan cap segi delapan di tengahnya tertera huruf Arab dan terbaca Sultan Tamjidillah.

Pada bagian yang ditandatangani Kompeni tertulis:[13]

Secara sepintas bahwa perjanjian itu mendudukkan pihak Kompeni Belanda pada posisi yang lebih dominan, tetapi pada praktiknya kemudian perjanjian itu hanya sekadar siasat bagi pihak kerajaan untuk melindungi terhadap pengaruh pihak lain, karena Orang Banjar selalu mengadakan transaksi perdagangan secara bebas dengan bangsa apa saja yang membeli lada. Kenyataan ini dapat diketahui bahwa setelah sembilan tahun kemudian diadakanlah perjanjian kembali sebagai usaha Kompeni Belanda untuk lebih mengefektifkan perjanjian tahun 1747.[13]

Perjanjian 20 Oktober 1756Sunting

 
Jacob Mossel, Gubernur Jenderal VOC tahun 1750-1761

Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal VOC Jacob Mossel (1750-1761) dibuat lagi perjanjian baru antara raja Banjar Sultan Tamjid Allah (ke-1) dengan John Andreas Paravicini komisaris Belanda ditandatangani pada 20 Oktober 1756. Dalam pendahuluan dari surat perjanjian itu sebagai konsiderans dari diadakannya perjanjian disebutkan bahwa:[13]

Bahwa Tuan Jang Maha Mulia Gurnadur Djenderal dan Tuan2 jang maha Bangsawan Raden pan India dengan sangat kesukaran memandang dan beberapa kali telah mengetahui jang Sultan2 Bandjar dari dahulu2 selamanja tinggal dalam kekurangan pada memelihara akan bunji maksud waad perdjandjian serta dengan adat jang tiada berpaut2an pada orang jang baik dan asal jang bersetiawan sahabat-bersahabat jang telah tersambung dalam tali ablu luidath dan membawa rakjat2 daripada kedua pihak perdjandjian pada suatu kehidupan jang bertunas2an akan beroleh rezekinja sekali2 ditegahkan hanja lagi memberi kesukaran antara Paduka Seri Sultan dan Kompeni Walandawi.

Selanjutnya dapat dibaca dalam konsiderans perjanjian itu bahwa orang Banjar berdagang secara bebas dengan orang Tionghoa (dalam naskah perjanjian disebut orang Tjina), sehingga bunyi dalam perjanjian tahun 1747 tidak pernah ditepati. Konsideran itu berbunyi:
.....Orang Tjina sekarang lima tahun lamanya adalah membawa lada ke negeri Tjina daripada yang telah dijanjikan dalam waad perjanjian......
[13]

Larangan berdagang dengan orang Tionghoa lebih dipertegas lagi dalam Pasal yang keenam, begitu pula larangan berdagang dengan orang Inggris dan Prancis.

Isi perjanjian diantaranya (pasal 6):[13]

  • Larangan berdagang lada dengan orang Tionghoa, Inggris dan Prancis. Perjanjian tersebut juga menyangkut komoditas lainnya seperti sarang burung dan intan.
  • Kompeni Belanda akan membantu Seri Sultan untuk menaklukkan kembali daerah kerajaan Banjar yang telah memisahkan diri seperti: Berau, Kutai, Pasir, Sanggau, Sintang dan Lawai serta daerah taklukannya. Kalau berhasil maka Seri Sultan akan mengangkat Penghulu-Penghulu di daerah tersebut dan selanjutnya Seri Sultan memerintahkan kepada Penghulu-Penghulu tersebut untuk menyerahkan hasil dari daerah tersebut setiap tahun kepada Kompeni Belanda dengan perincian sebagai berikut:
  1. Berau, 20 pikul sarang burung dan 20 pikul lilin.
  2. Kutai, 20 pikul sarang burung dan 40 pikul lilin.
  3. Pasir, 40 tahil emas halus dan 20 pikul sarang burung, serta 20 pikul lilin
  4. Sanggau, 40 tahil emas halus dan 40 pikul lilin[14]
  5. Sintang, 60 tahil emas halus dan 40 pikul lilin
  6. Lawai (alias Pinoh), 200 tahil emas halus, dan 20 pikul sarang burung [13]

Di Majapahit, ukuran timbangan disebut sekati, sama dengan 20 tahil; setahil sama dengan 16 qian; 1 qian sama dengan 4 kubana. Satu tahil= 3,8 gram.

Surat pembaharui daripada waad perdjandjian jang dahulu telah ditetapkan antara Tuan Kompeni dari pada pihak masjrik dan Sultan2 jang

turun menurun dari tachta keradjaan Bandjarmasing sebagai lagi lain perkara2 dan pasal2 jang telah dikerdjakan dan ditetapkan antara Tuan jang Maha Mulia Paduka Seri Sultan Tamdjidullah serta bersama2 dengan kepala2 jang almusjarafat dari pada tachta keradjaan jang tersebut sebela suatu

dan

daripada nama dan pihak Tuan jang Maha Mulia dan amat Bangsawan jaitu Tuan Jakub Musil Djenderal diatas orang jang memegang sendjata alat peperangan berdjalan kaki dalam pekerdjaan Tuan Istatan Djenderal dan Kompeni Wilanduwi dan lagi Gurnadur Djenderal serta tuan2 jang amat Bangsawan Raden pan India oleh Komisaris istimewah utusan jaitu Operkupman Sjahbandar dan mutakdzim jang memberi idin Djuhannis Andrijas Parapisini

sebela lain

Bahwa Tuan Jang Maha Mulia Gurnadur Djenderal dan Tuan2 jang maha Bangsawan Raden pan India dengan sangat kesukaran memandang dan beberapa kali telah mengetahui jang Sultan2 Bandjar dari dahulu2 selamanja tinggal dalam kekurangan pada memelihara akan bunji maksud waad perdjandjian serta dengan adat jang tiada berpaut2an pada orang jang baik dan asal jang bersetiawan sahabat-bersahabat jang telah tersambung dalam tali ablu luidath dan membawa rakjat2 daripada kedua pihak perdjandjian pada suatu kehidupan jang bertunas2an akan beroleh rezekinja sekali2 ditegahkan hanja lagi memberi kesukaran antara Paduka Seri Sultan dan Kompeni Walandawi.


Oleh karena Tuan Jang Maha Mulia dan Tuan2 jang amat Bangsawan

Gurnadur Djenderal dan Raden pan India telah memandang dagangan lada jang sekali2 tiada boleh menjebut sekarang beberapa tahun dipandang dengan kasjat walchair jang halaman Bandjar mentjahari pada menurut asal mutawalin oleh jang mana Kompeni dengan kesetiaan dan kebadjikan mau menurut sebegitu lagi telah beroleh nasehat jang chair jang orang Tjina sekarang lima tahun lamanja adalah membawa butir lada kenegeri Tjina lebih dari pada jang telah didjandjikan dalam waad perdjandjian dan oleh karena sebab itulah Tuan Gurnadur Djenderal dan Raden pan India oleh pertjintaan damai dan kasih pada Paduka Seri Sultan jang sekarang ini memerintahkan negeri Bandjar dan tiada mau menghendaki dengan tadjam dan tiada mau berdjedjak dengan upaja jang tiada berpatut2an hanja bersama2 mau meradjinkan usaha jang wadjib oleh sifat jang chair mana ditetapkan pada tahun seribu tudjuh ratus ampat puluh tudjuh akan membaharui dan menetapkan sekaliannja oleh perdjandjian jang baharu ini oleh karena tiada mau berlambati lebih lama telah mengirimkan Komisaris istimewah utusan jang tersebut pada ulu satar ini ke Borneo supaja dengan jang mempunjai tachta keradjaan Bandjar serta sekalian kepala2 jang almusarafat membaharui dan menetapkan sahabat bersahabat jang tiada berkeputusan maka Kompeni selama akan meradjinkan dalam semuahnja atau sekalian jang memberi faedah dan kebadjikan tachta keradjaan dan rakjat2 negeri Bandjar sebab itulah dengan tidhik nadhir Tuan Gurnadur Djenderal dan Raden pan India telah dipesankan jang ia dengan jang mempunjai Sultan jang sekarang memerintahkan halaman Bandjar pada hal mentjaharikan segala djenis daja upaja mana mendjadi kebadjikan dan kesentausaan kedua pihak tentara serta mengeluarkan segala peripengaduan pada kemudian mana merusakan sahabat bersahabat hanja menetapkan handai taulan dari zaman hingga sekarang oleh karena akan tinggal tetap djua djumlah dengan bertelahakahan, oleh karena sebab itulah kedua perdjandjian jang maha mulia kemudian daripada telah bermufakat antara kedua pihak dengan usaha jang amat sangat telah beroleh keluasan pada hal menjukupi dan menetapkan segala fasal dan perka jang berikut demikian

Fasal jang pertama.

Memulai pada sekarang ini hingga selamanja akan ada suatu damai jang kekal dan suatu sahabat bersahabat handai taulan jang tetap antara Tuan Kompeni Wilanduwi dan Paduka Seri Sultan jang mempunjai tachta keradjaan Bandjar dan Kepala2 negeri serta asal usul turun temurun hingga zuriat muta'zirina.

Fasal jang kedua.

kan membaharui segala perdjandjian lama istimewah jang telah dikerdjakan pada tahun seribu enam ratus enam puluh empat dan seribu tudjuh ratus tiga puluh ampat dan seribu tudjuh ratus ampat puluh tudjuh antara Sultan2 jang dahulu2 dan Paduka Seri Sultan jang sekarang ini memerintahkan keradjaan Bandjar dengan Kompeni Welandawi pada sekarang akan menetapkan dan berikrarkan perdjandjian baharu ini olehnja serta membawa pada suatu tarra jang terutama seperti dari kalam kekalam termadzkurkan maka kedua pihak dengan kesutjian akan memelihara akan segala fasal dan perkara jang tersebut dalam perdjandjian baharu ini tiada sjak dan waham hanja berikut selama2nja tinggal tetap djua dengan berteguh2an djua adanja.

Fasal jang ketiga.

Dipohonkan keteratak Paduka Seri Sultan Bandjar kepada Tuan jang Maha Mulia Tuan Gurnadur Djenderal dan Raden pan India oleh jang mana terambil pada tempat Tuan Istatan Djenderal dan Kompeni Wilanda oleh seperti suatu sahabat handai taulan jang bersetiawan dan indah pada serta bahagian oleh perintah tachta keradjaan Bandjarmasin serta perihal negeri ini akan menghusahakan seperti dari pada sendirinja oleh karena inilah dipohonkan oleh Paduka Seri Sultan akan menampilikan antara segala jang mentjahari kedudukan dengan kebenaran akan bertudungkan oleh segala keharuan jang dari dalam dan dari luar negeri berdjandji Paduka Seri Sultan diatas itu dan tiada berlainan kepala atas keradjaan djikalau terlebih dahulu tiada beroleh akal jang baik daripada sahabat handai taulan jang bersetiawan jaitu Tuan Kompeni lagi pun mengaku Paduka Seri Sultan oleh sendirinja dan jang berikut bunji fasal jang ketiga daripada waad perdjandjian achir tiada lagi tinggal dalam kuatnja

Fasal jang keempat.

Terlebih djauh berdjandji Paduka Seri Sultan jang sekali2 tiada beridinkan pada suatu djenis bangsa orang Wilandah seperti orang Inggris orang Peransis orang baik sebagaimana dinamai pada hal berniagakan kemari tetapi sekaliannja dengan tiada perbedakan diendjahkan dan tiada dikurniakan jang ia berniaga kemari dan pada tempat atawa negeri atawa djadjahan jang lain jang ada ditakluk dibawah Paduka Seri sultan pada membawa barang2 akan mendjual dan membeli atawa diperniagakan dengan apa djenis rupa2 dagangan serta berdjaga2 jang rakjat2 Paduka Seri Sultan djangan diperniagakan dengan olehnja barang djenis dagangan baik sebagaimana diatasnja serta diketahuikan sigerah harus menghukumkan demi itu seperti orang jang melumpuhkan dan memetjahkan waad perdjandjian ini.


Fasal jang kelima.

Maka segala djenis jang lain2 sebagai lagi tiga djung Tjina boleh datang berlajar dan berniaga kemari diluar badjak laut dan jaitu jang membawa apiun dan rempah2 tersembunji akan ditangkap dan dirampas perahu2 dan isi2nja sekaliannja serta bahagi dua suatu bahagian atas hisab Kompeni dan suatu bahagian atas hisab Paduka Seri Sultan lagi pun atas denda kehidupannja.

Fasal jang keenam.

Supaja memberi alamal alichlas dan kesetiaan jang tiada berkeputusan daripada Paduka Seri Sultan kepada Tuan Gurnadur Djenderal dan Raden pan India jang mana ojeh perdjandjian jang indah tachta keradjaan ditetapkan maka berdjandji Paduka Seri Sultan akan melarangkan sekali2 jang tersembunji dan pada sekarang ini tiada sekali2 akan mendjual lada dengan djung Tjina atawa bangsa Wilandah atawa djenis jang lain2 baik sebagaimana dinamai tetapi sekaliannja jang tersebut daripada pulo jang besar ini dan tempat2 jang akan dialahkan dengan waktunja akan diserahkan kepada Kompeni dengan keteguhan dari djenis jang tersebut dengan harga jang telah dituntuti jaitu anem rijal tuah lagi pun mengaku Paduka Seri Sultan mana bunji fasal jang ketudjuh dari waad perdjandjian jang telah dikerdjakan pada achir dengan ia ini tiada tinggal dalam kuatnja.

Fasal jang ketudjuh.

Sebab Paduka Seri Sultan menghendaki pada hal melarang sekali djangan membawa keluar tersembunji butir lada serta lain2 barang2 dari jang telah dilarangkan kontraban supaja diketahuikan terlebih baiklah Paduka Seri Sultan memberi kuasa pada Kompeni akan memeriksakan segala wangkang Tjina dan perahu jang 4ain2 jang masuk dan keluar kometir daripada kedua pihak jaitu daripada Paduka Seri Sultan dan dari Kompeni djikalau dapat ditangkap jang ada butir lada dan barang jang telah dilarangkan atawa kontraban akan diturut bagaimana bunji pasal jang keempat maka Paduka Sejri Sultan mengambil supaja terlebih baik boleh mengetahui mengambil djangan diperniagakan jang tiada patut dan tersembunji akan suruh kerdjakan surat daftar daripada butir lada jang masuk dan jaitu tiap2 tahun akan dikirimkan kepada Tuan Gurnadur Djenderal dan Raden pan India ke Batawi.

Fasal jang kedelapan.

Oleh karena sebab itulah lada rempah2 dan apiun akan diseDutkan dagangan larangan atawa kontraban serta berikut barang siapa2nja dari pada chadam2 dan rakjat2 Kompeni dan resident bersama2 diartikan melumpuhkan dan melanggarkan maksud waad perdjandjian ini dengan mengerdjakan dan beri idzin atawa memberi pertolongan atas perniagaan dagang jang telah dilarangkan jaitu rempah2 apiun dan lada seperti jang tersebut pada fasal jang diatas akan suruh mengambil dia dari sini serta disiksakan atas keridaan jang Maha Mulia dan Tuan jang Bangsawan Tuan Gurnadur Djenderal dan Raden pan India tetapi djikalau djadi pada sebelah pihak Tuan jang almusjarafat Paduka Seri Sultan jaitu dalam kaum keluarga atawa pangeran2 daripada darah akan dan diambil seperti suatu orang jang memetjah sahabat bersahabat tetapi rakjat2 Paduka Seri Sultan baik rakjat2 jang benar atawa orang asing jang mengdijami disini atawa datang berniaga kemari orang Tjina orang Bugis orang Mandar orang Bali orang Djawa dan orang Palembang serta lain djenis2 tiada membedakan sekali2 baik disini atawa tempat jang lain2 kuliling segala pulau Borneo dapat jang bertjela dan bersalahan akan disiksakan pada tubuhnja maka kedua perkara jang tersebut pada achir akan dimulai daripada hari jang termeteraikan waad perdjandjian ini hanja jaitu daripada chadam dan ra’jat Kompeni akan bernanti terlebih dahulu hingga dikabulkan oleh Gurnadur Djanderal dan Raden pan India dan djikalau menjukupi jang telah dimusjawaratkan dan kemudian akan dimulai.

Fasal jang kesembilan.

Dan djikalau barang siapa2nja daripada pihak Kompeni jang mengdiami disini seperti resident atawa hoperhop jang memegang kuasa memberanikan pada hal dipaksai rakjat2 Sultan atawa lain djenis orang2 asing jang datang berniaga kemari atawa memberi idzin dagangan dengan perkara jang kedji atawa dipintaki djumlah rejal pas lebih dari pada biasa maka Kompeni akan suruh mengambil dia itu dari sini serta dibuang daripada pangkatnja supaja mendjadi suatu tuladan pada jang lain.

Fasal jang Kesepuluh.

Oleh karena seberapa kali2 dipeladjari oleh pengetahuan rakjat2 Paduka Sultan antara berniaga dengan djenis Tjina dan bangsa lain2 jang tiada boleh dipertjajakan seperti patut pada saudagar2 jang mulai selamanja kerugian sudagar2 jang datang berniaga serta dikurangkan charadjatnja Paduka Seri Sultan dan membeli barang2nja dengan tiada mau membajar hanja djikalau ia berniat pada membajar maka paksa suruh mengambil dan membeli barang2nja dengan harga jang terlalu amat tinggi dan supaja ditegahkan perbuatan jang kedji itu dan selamatkan perniagaan mengkabulkan Paduka Seri Sultan jang sendiri boleh diperniagakan dengan keteguhan dari sekalian ra'jat2nja dan dari Tjina datangnja djung boleh dibelikan serta atas keridaan mendjual tetapi diluar dua atawa tiga ribu reial harga barang mana Tuan Sultan menghendaki dan menghusahakan dan jaitu dengan harga jang akan ditentukan.

Fasal jang kesebelas.

Dan pada sekarang ini perniagaan intan ketjil besar tiada seorang boleh berniaga melainkan Tuan Sultan dan Pangeran boleh diperniagakan berdjandji Paduka Seri Sultan baik oleh sendirinja dan Pangeran2 jang tersebut akan mendjual dan menjerahkan batu intan itu kepada Kompeni dengan harga jang akan ditentukan, oleh karena itulah batu jang tersebut lagi akan dibilang dagang larangan seperti apiun lada dan rempah2 bagaimana bunji fasal jang tersebut diatas maka barang siapa2nja membawa intan dari Bandjar atawa daripada tempat jang lain2 jang ta'luk dibawah pulau Borneo ke Batawi pada hal didjual dengan tiada tjap dan idzin Paduka Seri Sultan akan dendakan pegang batu2nja dan disiksakan bagaimana menjertai.

Fasal jang keduabelas.

Sarang burung daripada djenis jang pertama dan kedua dan ketiga sebagai lagi lain barang2 jang mengusahakan dalam negeri Tjina djikalau datang djung dari sana kemari maka nachoda itu harus menerima barang2 jang tersebut oleh tangan Kompeni atas pembajaran barang2nja dengan harga bagaimana biasa dalam daerah ini.

Fasal jang ketiga belas.

Oleh karena Kompeni sekarang ini sekian tahun2 terlalu amat telah mengurangkan perniagaan emas oleh karena orang Kompeni tiada mau berchadam dengan setianja tetapi dengan sangat kesukaran telah mengetahui jang resident2 sendiri mentjahari supaja boleh memenuhi pardjandjiannja dan Kompeni tiada boleh diperolehkan benda jang amat indah ini maka berdjandji Komisaris jang tersebut pada awal satar ini akan ditetapkan harga perbendaan ini atas dua belas rejal tuah pada serejal berat emas halus atawa baik maka djadilah telah dua rejal lebih harganja atas satu2 seperti jang telah biasa disini maka jang mendjual boleh diserahkan ke Tatas di lodji Kompeni atawa ke Batawi oleh tangan operkupman2 dari Kota Intan disana.

Fasal jang keempatbelas.

Terlebih djauh berdjandji Kompeni dari sekarang hingga selama waad perdjandjian ini dengan tiada pertjideraan menurut dan memeliharakan menridakan iang orang Bandjar boleh berlajar ke Batawi Mangkasar Bima Djawa Sumencp Bali Surubawa tetapi tiada boleh lebih djauh kepihak masrik dan lagi tiada boleh lebih djauh kemagrib dan seperti Beliton Palimbang Djohor Malaka dan lain2 negeri jang bersisi atawa berdekat2 maka Paduka Seri Sultan akan menaruh perintah jang chair supaja rakjat jang tiada menurui: ia ini djangan beroleh kerugian dan tjilaka.

Fasal jang limabelas.

Dan oleh karena sebab seseorang jang membawa dagang larangan dan tersembunji dengan segala djenis pendustaan dan memakai nama Paduka Seri Sultan supaja boleh berbebas daripada perpas serta dengan tiada tiada berhentinja mentjahari untung oleh perbuatan jang kedji dan dusta jang ia membawa perahu Tuan Sultan maka Paduka Seri Sultan mengkabulkan pada hal menjerahkan suatu surat daftar daripada perahu2nja dengan nama dan besarnja oleh resident2 jang mengdijami disini supaja boleh tersebut dalam pas serta menghabiskan dari perbuatan jang djahat itu.

Fasal jang keenambelas.

Terlebih djauh sekalian perahu2 jang mengeluarkan dari sini akan ada dengan suatu pas daripada Kompeni dan barang siapanja baik dilaut disini atawa pada tempat jang lain2 ditangkap oleh kapal2 dan pentjalang2 atawa perahu Kompeni jang lain2 dengan tiada pas jang demikian itu akan dirampas atas hisab Kompeni dan Paduka Seri Sultan.

Fasal jang ketudjuhbelas.

Berdjandjilah Kompeni djikalau barangkali datang kuasa dari djenis orang asing baik orang Wilanda seperti orang dari pihak masrik baik sebagaimana dinamai pada hal n.elawan atawa berperang ditanah Bandjar baik didarat atawa dilaut maka Kompeni akan menolong dengan sesungguhnja Paduka Seri Sultan mengusirkan dan melinjapkan musuh itu dengan tiada dipintaki suatu pembajaran atawa didjumlahkan belandja obat dan peluru.

Fasal jang kedelapanbelas.

Mengambillah lagi Paduka Seri Sultan jang sekali2 tiada beridzinkan pada musuh jang melawan Kompeni baik siapa2nja atawa bagaimana keadaannja pada hal menjembunjikan dirinja dalam negeri2 jang ta’luk dibawahnja atawa tolong menjandarkan dan lagi bernaungkan dibawah pandji2nja sidurhaka seteru Kompeni, tetapi serta datang dibawa aidzatnja dengan sigerah suruh menangkap serta diserahkan pada Kompeni.

Fasal jang kesembilanbelas.

Sebagai lagi mengambil dan berdjandji Paduka Seri Sultan akan bertudung operhupt atawa resident Kompeni serta rakjat dan lain chadam2 jang ada disini atawa jang akan datang atawa berlajar berniaga kemari sekaliannja itu dibawah pandji2nja antara hebat perbuatan orang Bandjar sebagai lagi barang siapa2nja bertjela atawa bersalahan akan suruh siksakan dia itu supaja Kompeni beroleh keluasan.

Fasal jang keduapuluh.

Diatas itu Kompeni pun demikian akan berdjaga2 jang rakjat dan chadam2nja djangan membuat barang kesukaran dan kerugian pada rakjat2 Sultan djikalau diketahui akan disiksakan bagaimana menjertai.

Fasal jang keduapuluh satu.

Terlebih djauh mengambil Tuan Maha Mulia Gurnadur Djenderal dan Raden pan India akan menundjuki pekerdjaannja jang bersetiawan dalam pangkatnja pada hal beriktikadkan Paduka Seri Sultan dengan Tuan Pangeran Ratu Anum serta berikrarkan mana jang patut2 supaja Pangeran Ratu akan menurut nasehat alchair Paduka Seri Sultan maka berhentilah dan meninggalkan djalan jang tiada patut pada suatu Pangeran Ratu hingga sekarang ini mengkelilingkan serta dengan patut akan dibaiki oleh karena kedjadiannja jang maha mulia djikalau didjadikannja menridakan Paduka Seri Sultan Bandjar pada hal dengan setjukup2nja membajar utang Pangeran Ratu Anum kepada Kompeni.

Fasal jang keduapuluh dua.

Mengambillah lagi Tuan Kompeni akan tolong mengalahkan negeri2 Paduka Seri Sultan jang telah ditjaraikan jaitu Berau dan Kutai dan Pasir dan Sanggauh dan Sintang dan Lawai serta djadjahan2 jang takluknja serta mengusirkan jang mengdiami disana dan jaitu Kompeni dilaut dan Paduka Seri Sultan didarat Pasir akan menangguhi.

Fasal jang keduapuluh tiga.

Dan djikalau sudah dialahkan maka Paduka Seri Sultan akan menaruh penghulu2 akan penghulu2 memerintahkan dan setahun harus memberi suatu hasil kepada Kompeni daripada barang2 jang akan tersebut pada hal menjukupi belandja jakni Berau duapuluh pikol sarang burung dan duapuluh pikol lilin Kutai duapuluh pikol sarangburung dan ampatpuluh pikol lilin Pasir ampatpuluh tahil emas halus dan duapuluh pikol sarangburung serta duapuluh pikol lilin Sanggauh ampatpuluh tahil emas halus dan ampatpuluh pikol lilin Santang anempuluh tahil emas halus dan ampatpuluh pikol lilin Lawai duaratus tahil emas halus dan duapuluh pikol sarangburung. Sebagai lagi sekaliannja jang tersebut terbit daripada tanah2 jaitu dengan ketegahan dari lain2 orang asing istimewa pula intan emas sarang burung lilin dan lain2nja akan menjerahkan pada Kompeni dengan harga jang patut diluar lain barang2 jang terbit Paduka Seri Sultan akan dapat bahagian bagaimana Kompeni jaitu pada tiap2 tahun.

Fasal jang keduapuluh empat.

Terlebih djauh mengambil Paduka Seri Sultan dengan ia ini akan suruh menanam lada baik disini atawa diudik-udik dan negeri jang akan dialahkan supaja dalam sedikit tahun2 dapat didjumlahkan limabelas ribu pikol dan sekaliannja akan diserahkan pada Kompeni dengan harga jang telah dituntuti jaitu enam rijal tuah.

Fasal jang keduapuluh lima.

Mengabulkan Paduka Seri Sultan diatas itu akan mengambil haradjat dan tiada dari segala barang jang bawa masuk kemari.

Fasal jang keduapuluh enam.

Oleh karena segala bahagian dunia mengetahui jang rijal tuah dalam suatu djuga keradjaan dikerdjakan dan kapal dari sana djarang datang ke Batawi sebab itulah djadi mengurangkan tiap2 tahun makin lama makin lebih dan sekali2 tiada boleh membajar harga lada dan lain barang2 dengan rijal itu meridhakan Paduka Seri Sultan pada hal menerima dikaton perak dengan harga duwalapan puluh tanguang atawa empat dikaton pada lima rijal tuah sebagai lagi uang tali2 baharu dan uang2an serta duit ketjil besar dan sekaliannja akan menerilna dan lakukan dalam negeri dan daerah2 jang takluk dibawah tachta keradjaan Paduka Seri Sultan.

Fasal jang keduapuluh tudjuh.

Lagipula meluaskan kepada Kompeni pada hal perdirikan kota batu baik di Tatas atawa pada tempat jang lain2 mana dikehendakinja istimewa pula didjadjahan jang akan dialahkan dan tunggui dengan beberapa orang mana ia akan dimupakatkan atas pertjaja sendirinja dan perlindungan Paduka Seri Sultan.

Fasal jang keduapuluh delapan.

Pada achirnja berdjandji Paduka Seri Sultan pada sendirinja dan asal-usul turun menurun sebagai lagi pada sebelah pihak Tuan jang Maha Mulia dan Tuan2 jang amat bangsawan jaitu Gurnadur Djenderal dan Raden pan India jang menggantikan Tuan Kompeni Wilandui segala fasal dan perkara jang tersebut dalam semuanja dengan tiada barang pertjideraan seperti patut pada suatu handai taulannja jang bersetiawan dari pada Kompeni Wilandui dengan ketulusan dan kesutjian menurut dan memeliharakan serta oerdjaga2 jang waad perdjandjian jang baharu ini oleh rakjat2 Pangeran2 dari darahnja kepala2 dari keradjaan asal usul kaum keluarga turun menurun hingga zuriat muta'chirina selama2nja dengan usaha jang wadjib terambil memeliharakan dianja menjaksamai dengan tilik nadhir dan supaja djadi berteguh-teguhan.

Maka kedua perdjandjiannja jang maha mulia seseorang telah dikasadkan dengan meterainja jang biasa dan ijaitu telah mengerdjakan dua silah2 dalam satu bunjinja suatu dari itu akan tinggal dengan Paduka Seri Sultan dan suatu dengan Kompeni.

Telah diselesaikan dan diperdjandjikan di Kajutangi atas Pulau Borneo dalam halaman perdiaman Paduka Seri Sultan Tamdjidullah pada tahun seribu tudjuh ratus lima puluh enam pada ’Arba’ duapuluh hari bulan Oktober.


Fasal jang ditjeraikan mengambil kuatnja dalam fasal jang sepuluh,

daripada waad perdjandjian.

Oleh karena harga daripada barang Tjina terlalu amat berlainannja maka Tuan Komisaris dengan Paduka Seri Sultan telah mupakat jang akan membeli seperti adat kebiasaan dan mendjual dengan beroleh laba tiga puluh pada seratus sepuluh pada Kompeni punja susa dan sepuluh Kompeni punja bunga dan sepuluh pada Tuan Sultan.

Telah diperdjandjikan bulan dan hari seperti jang telah tersebut.

Perjanjian 27 Oktober 1756Sunting

Sebagai upaya merebut kekuasaan dari pamannya, seminggu kemudian terjadi lagi perjanjian yang dibuat oleh Tuan Almusyarafat Pangeran Ratu Anom adalah gelar dari Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah, menantu Seri Sultan Tamjidillah I dan juga keponakan Sultan dengan Kompeni Belanda. Perjanjian itu ditandatangani di benteng Tatas (sekarang Banjarmasin Tengah) pada 27 Oktober 1756. Perjanjian ini dibuat atas inisiatif sendiri dari Ratu Anom (artinya Putra Mahkota) dalam usahanya memperoleh tahta dari mertuanya, sesuai dengan perjanjian bahwa Seri Sultan Tamjidullah I sebetulnya hanya berfungsi sebagai wali, sementara Ratu Anom belum dewasa. Pasal yang kedua dari perjanjian yang dibuatnya, menjelaskan usahanya merebut kekuasaan dan juga kekuasaan yang sekarang dipegang oleh Seri Sultan Tamjidillah I adalah perbuatan seorang jahil yang hendak melenyapkan asal keturunan Sultan Banjar yang sah.[13]

Sultan Sepuh/Tamjidullah I akhirnya menyerahkan tahta kepada Pangeran Ratu Anom pada tahun 1759 yang mengambil gelar Sultan Muhammadillah, sedangkan Pangeran Tamjidullah I sendiri melepaskan gelar Sultan kemudian menyebut dirinya hanya sebagai Panembahan, tetapi kemudian Sultan Muhammadillah/Pangeran Ratu Anom meninggal pada tahun 1761. Kekuasaan kembali berada di tangan Pangeran Tamjidullah I kemudian ia menunjuk puteranya Pangeran Nata Dilaga sebagai Wali Sultan (1761-1767) dengan gelar Panembahan Kaharuddin Khalilullah. Pangeran Mas dilantik sebagai mangkubumi dengan gelar Ratu Anum Kasuma Yuda dalam masa pemerintahan tersebut.[12]

Bagan SilsilahSunting

Willem Adriaan van Rees menulis dalam "De bandjermasinsche krijg van 1859-1863" (1865:7) menyebutkan bahwa Sultan Tamjidillah 1 (Sultan Sepuh) dan Sultan ilhamidillah (Sultan Kuning) adalah anak Sultan Tahmidillah 1.[15]

In 1785 overleed de regerende sulthan Tahhmid Illah 1, nalatende twee zonen, de oudste sulthan Ilhamid lllah of Sulthan Koening, de jongste sulthan Tamdjid lllah I ook sulthan Sepoh genaamd. Sulthan Koening stierf niet lang na zijne troonsbeklimming, en daar zijn zoon sulthan Mohamad Amin Oelah nog minderjarig was, werd Tamdjid lllah I tot waarnemend sulthan benoemd.

Den mannelijken leeftijd bereikt hebbende, nam Amin Oelah zelf de teugels van het bewind in handen en stierf na een regering van zeven jaren, nalatende drie onmondige zonen, de pangerangs Rahhmat, Abdoellah en Amir. Tamdjid Illah I trad nu andermaal als waarnemend sulthan op, verhief zich kort daarop wederregtelijk tot werkelijk sulthan en werd bij zijn overlijden opgevolgd door zijn zoon sulthan Tahhmid Illah II, ook bekend onder den naam van pangerang Natta en Panembahan Batoe (van batoeah, de gelukkige). Deze liet de twee oudste zonen van Amin Oelah van kant maken en vergunde den derden, pangerang Amir, die hetzelfde lot duchtte, een bedevaart naar Mekka te doen. Amir, eenmaal uit de magt van zijn oom, ging niet naar Mekka, maar zocht hulp tegen den overweldiger bij den toenmaligen vorst van Pagattan, Aroeng Trawee. Deze stelde een leger van 3000 Boeginezen tot zijne beschikking, waarmede Amir over land naar Martapoera trok. (Pada tahun 1785, penguasa sulthan Tahhmid Illah 1, meninggalkan dua putra, yang tertua sulthan Ilhamid lllah atau Sulthan Koening, sulthan termuda Tamdjid lllah I juga disebut sulthan Sepoh. Sulthan Koening meninggal tidak lama setelah pasukannya naik, dan ketika putranya sulthan Mohamad Amin Ulah masih di bawah umur, Tamdjid lllah ditunjuk bertindak sebagai [wali] sulthan. Setelah mencapai usia dewasa, Amin Ulah sendiri mengambil alih tampuk pemerintahan dan meninggal setelah masa tujuh tahun, meninggalkan tiga putra yang belum diperhitungkan, sang pangeran Rahhmat, Abdullah dan Amir. Tamdjid Illah I sekali lagi bertindak sebagai [wali] sulthan, segera setelah itu diremajakan menjadi sulthan yang sebenarnya dan setelah kematiannya ia digantikan oleh putranya sulthan Tahhmid Illah II, juga dikenal dengan nama pangerang Natta dan Panembahan Batu (dari batoeah, yang beruntung). Hal ini membuat dua putra tertua Amin Oelah berbalik (tewas) dan memberi lisensi ketiga, pangeran Amir, yang takut akan nasib yang sama, untuk berziarah ke Mekah. Amir, yang pernah keluar dari pengawasan pamannya, tidak pergi ke Mekah, tetapi meminta bantuan dari perampas pangeran Pagattan, Aroeng Trawee. Dia menempatkan pasukan 3.000 Bugis di tempat pembuangannya (pengasingan), dengan mana Amir melakukan perjalanan darat ke Martapoera.)

[15]

Salah satu versi silsilah Sultan Tamjidillah 1 sebagai adik Sultan Kemuning/Kuning dan cucu Sultan Tahlil-Lillah.[16][17][18]

♂ Sultan Sayidillah
(Sultan Ratu Anom)
Pangeran Kasuma Alam
♂ Sultan Tahlil-lillah
(Panembahan Tengah)[19]
♂ Sultan Tahmid / Tahmidillah 1
(Panembahan Kuning)[15][20][21][22]
Sultan Kemuning
(Sultan Chamidullah)
sulthan Ilhamid Illah[15]
Sultan TamjidillahPangeran Mangku Dalaga
(Pangeran Sepuh)
Pangeran IsaPangeran Mangku DilagaSultan Tahmidillah 2
Sunan Sulaiman Saidullah 1
Panembahan Batuah
Pangeran Nata Mangkubumi
Pangeran Mangku NegaraPangeran Ibrahim


Silsilah Sultan Panembahan Batuah sebagai keponakan Pangeran Dipati Sena/Sultan Kuning dan cucu Sultan Tahlil-Lillah. versi museum Candi Agung di Amuntai.

}}

♂ Sultan Mas Tainubillah
(Gusti Kecil)
♂ Sultan Inayatullah
(Sultan Ratu Agung)
♂ Sultan Saidillah 1
(Sultan Ratu Anom)
Sultan Saidullah 2
(Raden Bagus)[23]
Sultan Tahlil-Lillah
(Raden Basus)
Pangeran Dipati Sena
(Sultan Kuning)
Pangeran Mas Dipati GendingSultan Tahmidillah 1Pangeran Wira KasumaPangeran Dipati Mangkubumi
(Pangeran Dipati Desa Bumi)
♂ Sultan Tamjidillah
(Panembahan Batuah)


Adapun Silsilah Sultan Tamjidillah 1 sebagai anak Sultan Tahlil-Lillah. versi hikayat Tutur Candi, ada satu generasi yang hilang (Sultan Tahmidillah 1).[12][24]


♂ Sultan Sa'idillah
♂ ♂ Sultan Tahlillillah
Sultan Tamjidillah
(Sultan Kuning)
Pangeran Nullah
(Mangkubumi Tamjidillah)
Pangeran Mas
(Pangeran Mas Dipati Gending)
Pangeran Dipati
(Pangeran Dipati Desa Bumi)
Pangeran Istana Dipati
(Pangeran Sepuh)
Pangeran Wira Kasuma

RujukanSunting

  • Arsip Nasional, Surat-Surat Perjanjian antara Kesultanan Bandjarmasin, dengan Pemerintahan VOC, Bataafse Republik, Inggeris dan Hindia Belanda 1835-1860, Jakarta, 1965, hal. 34.

ReferensiSunting

  1. ^ (Belanda) Cornelis Noorlander, Johannes (1935). Bandjarmasin en de Compagnie in de tweede helft der 18de eeuw. M. Dubbeldeman. hlm. 43. 
  2. ^ http://sinarbulannews.wordpress.com/2011/01/02/silsilah-keturunan-sultan-adam-al-wasikubillah-martapura-kerajaan-banjar
  3. ^ a b http://eprints.lib.ui.ac.id/12976/1/82338-T6811-Politik%20dan-TOC.pdf
  4. ^ (Belanda) (1855)Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde. 3. hlm. 569. 
  5. ^ Tamar Djaja (1965). Pustaka Indonesia: riwajat hidup orang-orang besar tanah air. 2. Bulan Bintang. hlm. 49. 
  6. ^ Cornelis Noorlander, Johannes (1935). Bandjarmasin en de Compagnie in de tweede helft der 18de eeuw (dalam bahasa Belanda). M. Dubbeldeman. hlm. 43. 
  7. ^ Regnal Chronologies Southeast Asia: the Islands
  8. ^ http://www.kabarbanjarmasin.com/posting/raja-banjar-sejak-sultan-suriansyah.html
  9. ^ (Belanda) (1867)De tijdspiegel. Fuhri. hlm. 165. 
  10. ^ http://britishlibrary.typepad.co.uk/asian-and-african/2015/08/early-malay-trading-permits-from-borneo.html
  11. ^ Sjamsuddin, Helius (2001). Pegustian & Temenggung Akar Sosial, Politik, Etnis, dan Dinasti Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah 1859–1906. Balai Pustaka & Penerbit Ombak. hlm. 488. 
  12. ^ a b c d e (Indonesia)Mohamad Idwar Saleh (1986). Tutur Candi, sebuah karya sastra sejarah Banjarmasin. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. hlm. 150. 
  13. ^ a b c d e f g h i j k l m Hindia-Belanda (1965). Bandjermasin (Sultanate), Surat-surat perdjandjian antara Kesultanan Bandjarmasin dengan pemerintahan2 V.O.C.: Bataafse Republik, Inggeris dan Hindia-Belanda 1635-1860 (PDF). Arsip Nasional Republik Indonesia, Kompartimen Perhubungan dengan Rakjat. hlm. 33. 
  14. ^ Belakangan Sanggau ditaklukan oleh Sultan Pontianak, sedangkan Sintang dan Lawai (Kabupaten Melawi) tetap dimasukan dalam mandala Kesultanan Banjar.
  15. ^ a b c d (Belanda) Willem Adriaan van Rees (1865). De bandjermasinsche krijg van 1859-1863. 1. D. A. Thieme. hlm. 7. 
  16. ^ https://sinarbulannews.files.wordpress.com/2011/01/silsilah-sultan-adam.jpg
  17. ^ http://sejarahastrologimetafisika.blogspot.com/2011/06/silsilah-kerajaan-banjar.html
  18. ^ https://plus.google.com/104506069717580147857/posts/gsKkmG8PtcB
  19. ^ (Inggris) Pinkerton, John (1812). A general collection of the best and most interesting voyages and travels in all parts of the world: many of which are now first translated into English : digested on a new plan. 11. Longman. hlm. 112. 
  20. ^ https://www.researchgate.net/publication/323478532_PERJALANAN_KESULTANAN_BANJAR_DARI_LEGITIMASI_POLITIK_KE_IDENTITAS_KULTURAL
  21. ^ (Prancis)von Siebold, Philipp Franz (1847). "Le moniteur des Indes orientales et occidentales: recueil de mémoires et de notices scientifiques et industriels... concernant les possessions néerlandaises d'Asie et d'Amérique". Belinfante frères: 166. 
  22. ^ http://britishlibrary.typepad.co.uk/asian-and-african/2015/08/early-malay-trading-permits-from-borneo.html
  23. ^ von Siebold, Philipp Franz (1847). "Le moniteur des Indes orientales et occidentales: recueil de mémoires et de notices scientifiques et industriels... concernant les possessions néerlandaises d'Asie et d'Amérique" (dalam bahasa Prancis). Belinfante frères: 166. 
  24. ^ http://bubuhanbanjar-bakisah.blogspot.com/2008/12/makam-raja-raja-banjar-di-martapura.html


Didahului oleh:
Sultan il-Hamidullah
Sultan Banjar
1734-1759
Diteruskan oleh:
Muhammad Aliuddin Aminullah
Didahului oleh:
Pangeran Suria Nagara
Mangkubumi
1730-1734
Diteruskan oleh:
Pangeran Nullah


Pranala luarSunting

  1. ^ Templat:Idnl Departemen Penerangan Indonesia (1959). Republik Indonesia. 7. Indonesia: Kementerian Penerangan. hlm. 365.