Buka menu utama

Sultan Amaroe'llah[1][2] atau Dewa Masmawa Sultan Lalu Muhammad Amarullah (bin Sultan Mahmud) adalah Sultan Sumbawa ke-15 (m.1837-1883).[3] Guna menggantikan Sultan Lalu Mesir yang mangkat, diangkatlah sang kakak Lalu Muhammad Amrullah sebagai Sultan Sumbawa. Sultan Amrullah berpermaisuri Lala Rante Patola putri Raja Bicara Bima dari perkawinan tersebut diperoleh 7 orang Putra – Putri, antara lain Datu Raja Muda Daeng Mas Kuncir atau juga dikenal dengan sebutan Mas Kuncir Datu Lolo Daeng Manassa. Serta adiknya yang bernama Daeng Mesir yang menjadi Datu Taliwang.

Pada masa pemerintahan Sultan Amrullah, Kesultanan Sumbawa memperoleh kemajuan yang sangat pesat dalam bidang perdagangan. Kesultanan Sumbawa membeli sebuah kapal dagang type Scoognard ( Sumbawa; sekonyar ) yang diberi nama “ Mastora “ untuk mengadakan hubungan perdagangan hingga ke Selat ( Singapura ). Selain dalam bidang perdagangan, dalam bidang pertanian Sultan Amrullah memasukkan bibit kopi Arabica yang ditanam di pegunungan Batulanteh dan Ropang.

Dalam bidang peternakan bibit sapi dimasukkan pula untuk dipelihara diWilayah Pulau Moyo dan pegunungan dalam Wilayah Kesultanan Sumbawa, meskipun akhirnya menjadi berkembang biak dan menjadi liar. Pada masa pemerintahan beliau dapat diatasi permasalahan-permasalahan yang menyangkut kesetiaan daerah taklukan. Pada bulan agustus 1872 kembali terjadi peristiwa hebat, kebakaran atas Istana Gunung Setia pusat pemerintahan/kekuasaan serta rumah tinggal Sultan dan keluarga. Kebakaran yang terjadi karena ledakan bibit mesiu. Dimana pada saat kejadian tersebut Sultan Amrullah sedang berada di Makasar sekembalui dari Batavia. Datu Raja Muda Daeng Maskuncir yang diserahi tanggung jawab mengendalikan pemerintahan tidak dapat berbuat banyak atas peristiwa yang memakan koban harta benda bahkan jiwa manusia. Sebagai ganti Istana Gunung Setia yang terbakar dibangunnya Istana yang baru yang diberi nama Istana Bala Sawo. [4][5][6][7][8]

Sultan Amaroe'llah membuat kontrak politik dengan Belanda pada tanggal 2 Agustus 1857.[1][9]

Silsilah Sultan Muhammad AmrullahSunting

Sultan Muhammad Amrullah dan Raja-raja di Sumbawa menurut naskah Hikayat Raja-raja Banjar dan Kotawaringin dan Majelis Adat - Lembaga Adat Tanah Samawa (LATS) serta Bidang Kebudayaan - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa, memiliki leluhur seorang bangsawan dari Kesultanan Banjar yang bernama Raden Subangsa bergelar Pangeran Taliwang.[4]

Selain itu Sultan Muhammad Amrullah dan Raja-raja di Sumbawa juga memiliki leluhur dari Kerajaan Binamu di Jeneponto, Sulawesi Selatan.[5]

Pada masa Pemerintahan YM. Dewa Masmawa Sultanah Shafiatuddin, Sultanah Sumbawa XII ( 1791 – 1795 ), telah datang ke Kesultanan Sumbawa, Permaisuri Raja Kerajaan Bugis Binamu. Kedatangan beliau bersama putra – putrinya serta Dayang dan pengikut setianya.

Bermula dari peristiwa mangkatnya sang Suami, Raja Binamu, lalu keputusan adat menetapkan Iparnya menggantikan kedudukan Sang Suami menjadi Raja, hal ini telah menyinggung perasannya sebagai Permaisuri yang menurut hukum adat Binamu, berhak atas tahta yang ditinggal Sang Raja, suaminya.

Ketersinggungan ini menyebabkan Beliau membulatkan tekad untuk keluar dari wilayah Kerajaan Binamu, berlayar menuju Kesultanan Sumbawa, karena pada saat itu Kesultanan Sumbawa tengah di perintah seorang wanita bernama Daeng Masiki putri Sultan Harunurrasyid II, Sultan Sumbawa XI (1777–1791 ).

Daeng Masiki adalah Permaisuri Sultan Abdul Hamid Muhammadsyah Ruma Mantau Asi Saninu Sultan Bima V ( 1767 – 1811 ). Daeng Masiki putri Sultan Sumbawa ini sesungguhnya adalah Buyut dari I Rukkia Karaeng Kanjene Ratu Sidenreng, cucu dari putrinya I Sugiratu Karaeng Bonto Parang Sultanah Siti Aisyah, Sultanah Sumbawa ( 1759 – 1760 ) hasil pernikahan beliau dengan Sultan Muhammad Djalaluddinsyah I, Sultan Sumbawa ( 1702 – 1725 ), setelah dinobat sebagai Sultanah Sumbawa bergelar Sultanah Shafiatuddin.

Permaisuri Kerajaan Bugis Binamu mendarat di Labuhan Bontong Sumbawa, setelah perahu yang ditumpanginya menyusuri pelayaran yang cukup melelahkan. Setibanya di Wilayah Kesultanan Sumbawa, rombongan Permaisuri Binamu menetap di Bonto Kemase ( Bonto ), sebuah wilayah yang dekat dengan pesisir ( Labuhan Bontong ).

Y.M. Sultanah Shafiatuddin mendengar kabar tentang kedatangan Permaisuri Binamu, Y.M. Sultanah lalu mengutus Adipati Kesultanan Sumbawa yang bernama Lalu Djamelia Mele Habira, guna menemui Permaisuri Binamu untuk menanyakan apakah Beliau beserta putra – putrinya dan pengikut setianya akan menetap di Kesultanan Sumbawa dan bersedia bernaung di bawah syarat empat:

  • Suruh – Lalo
  • Kelek – Datang
  • Eneng – Beang
  • Beang – Tangko

Sebagai bentuk perlindungan dan pengayoman Kesultanan Sumbawa pada rakyat serta kesetiaan dan pengabdian rakyat kepada Kesultanan. Mendengar hal tersebut, Permaisuri Binamu lalu menjawab bahwa demikian pula adat dan hukum di negerinya.

Sultanah kemudian mengundang Permaisuri Binamu untuk “ Ngayap “ ke Istana Gunung Setia di Ibu Negeri Kesultanan Sumbawa. pertemuan dua Bangsawan Wanita yang sama – sama Permaisuri ini sangat berkesan, dan Sultanah sebagai Pemimpin Kesultanan berdulat lalu menghadiahkan tanah untuk mendirikan rumah bagi Permaisuri Binamu dan seluruh pengikutnya dan Kesultanan Sumbawa membuatkan sawah untuk penghidupan Permaisuri Binamu dan pengikutnya. Tanah yang dihadiahkan tersebut berlokasi di Tana Pampang Unter Malang, wilayah yang tidak terlalu jauh dari Ibu Negeri Kesultanan Sumbawa.

Diantara putra putri Permaisuri Binamu, yang dikenal dalam sejarah Sumbawa adalah Saragialu Karaeng Talebang ( Biasa disebut oleh Tau Samawa ; Daeng Talebang ) putri ini mendapat anugerah kebangsawanan dari Kesultanan Sumbawa dengan gelar “ Lala “ sehingga nama lengkapnya Lala Saragialu Karaeng Talebang. Putri cantik ini kemudian dilamar oleh Adipati Kesultanan Sumbawa Lalu Djamelia Mele Habira untuk menjadi Istrinya. Perkawinanpun berlangsung meriah di Kesultanan Sumbawa. dari perkawinan tersebut Lalu Djamelia Mele Habira memperolah Putra / putri antara lain: 1. Lalu Tunji Dea Tame (saudara lain ibu dari Lalu Muhammad Ali Dea Singa Ri Arong) 2. Lala Intan Ratu Nong Sasir

Kedua Putra Putri ini melahirkan orang–orang besar di Kesultanan Sumbawa.

Dari perkawinan Lalu Tunji Dea Tame lahir Adipati Abdul Jabbar Lalu Tunruang dan Lalu Makasau Mele Banggae yang dikemudian dikenal dengan julukan “ Dea Ranga Rango Berang “ (jika diterjemahkan artinya Perdana Menteri Berparang Besar; Berparang besar artinya memiliki keberanian yang luar biasa ).

Beliau ini menjadi Ranga atau Perdana Menteri di masa pemerintahan Sultan Muhammad Amrullah ( Sultan Sumbawa 1836 – 1931 ) mengganti Nene Ranga Mele Huzaimah yang mengundurkan diri.

Adapun Adipati Lalu Kaidah Dea Mele Habirah alias Lalu Jemelela Dea kuasa Unter Iwes berputra Lalu Tunji Dea Tame berputra Lalu Makasau Dea Ranga Rango Berang berputra Lalu Banggae Dea Dipati Karang Berang berputra Lalu Muhammad Saleh Dea Mele Patongai berputra Lalu Patongai Dea Radan Mangandaralam memiliki anak perempuan Amatollah Dea Sahari.

Adapun Lala Intan Ratu Nong Sasir dinikahi oleh Datu Bonto Mangape salah seorang Bangsawan keturunan Sumbawa yang memiliki beberapa orang Putra dan Putri, diantaranya Lala Amatollah.

Lala Amatollah dinikahi dan menjadi Permaisuri dari Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin II, Sultan Sumbawa ( 1795 – 1816 ), menggantikan Sultanah Syafiatuddin yang turun tahta, kembali ke Bima mengikuti suami yang masih menjadi Sultan Bima.

Keturunan Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin II dan Lala Amatollah, Cicit dari Raja Binamu inilah yang kemudian menjadi Sultan–Sultan di Kesultanan Sumbawa hingga kini.

Adapun Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin II merupakan Putra dari Sultan Mahmud, buah pernikahannya dari Putri Sarah / Ratoe Laija, saudara perempuan dari Sultan Tahmidullah II alias Sunan Nata Alam bin Sultan Tahmjidullah I, Sultan Banjar XVII ( 1761 – 1801 ). Sedangkan ayah ( Djaja ) beliau, Sultan Mahmud, merupakan putra dari Dewa Masmawa Sultan Muhammad Djalaluddinsyah II, Sultan Sumbawa ( 1762 – 1765 ).

Sultan Muhammad Djalaluddinsyah II ini sesungguhnya Pangeran dari Kesultanan Banjar, putra dari Datu Arya bin Sultan Tahmidullah I Sultan Banjar XI (1700–1717 ), nama asli Sultan Muhammad Djalaluddinsyah II adalah Gusti Mesir Abdurrahman Pangeran Anom Mangkuningrat.

PemakamanSunting

Sultan Muhammmad Amarullah mangkat pada tahun 1883.[10] Almarhum Sultan Muhamammad Amarullah dimakamkan di pemakaman Sampar.[11]

Silsilah kekerabatan dengan Raja-raja Binamu JenepontoSunting

RAJA-RAJA BINAMU
RAJA BINAMU 11 m. 1796-1814
♂ I Bebasa Daeng Lalo Karaeng Lompoa Ri Binamu


↓(beristeri)


♀ Karaeng Baine Binamu We Tenri Ico Dai Karaeng Mangarabombang
Datu Pampang
♂ I Mangalle Daeng Datta♀ Saragialu Karaeng Talebang
Nama Sumbawa (pasangan Lalu): Lala Saragialu Daeng Talebang


↓(bersuami)


♂ Dea Adipati Lalu Kaidah Mele Habirah
Lalu Jamelela Dea Koasa Unter Iwis
bin
Lalu Prabu Anom Adipati Mele Dilaga
♂ Lalu Tunji Dea Tane♀ Lala Intan Ratu Nong Sasir


↓(bersuami)


♂ Karaeng Manippi Datu Bonto Mangape
♀ Lala Amatollah


↓(bersuami)


SULTAN SUMBAWA XIII m. 1795-1816
♂ Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin II
Lalu Muhammad
SULTAN SUMBAWA XIV
m. 1836-1837

♂ Dewa Masmawa Sultan Lalu Mesir
(+ 1837)
SULTAN SUMBAWA XV m. 1837-1883
♂ Dewa Masmawa Sultan Lalu Muhammad Amaroe'llah


↓(beristeri)


♀ Lala Rante Patolah
binti
Muhammad Yakub Ruma Kapenta Wadu bin Tureli Donggo Mawa'a Kadi (Abdul Nabi) Raja Bicara Bima
♂ Datu Bonto Mangape
DATU TALIWANG
♂ Daeng Mesir
DATU MARAJA MUDA SUMBAWA
♂ Datu Raja Muda Daeng Maskuncir
Maskuncir Datu Lolo Daeng Manassa


↓(beristeri)


♀ Datu Balasari
SULTAN SUMBAWA XVI m. 1882-1931
Gelar abhiseka: Dewa Masmawa Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III
Nama lengkap Sultan: Mas Madina Daeng Raja Dewa
Nama panggilan: Dewa Marhum


↓(beristeri)


Gelar: Dewa Maraja Bini
Nama lengkap Permaisuri: ♀ Siti Maryam Daeng Risompa
Nama panggilan: Datu Ritimu
binti
Daeng Padusung bin Sultan Amrullah Sultan Sumbawa XIV m. 1837-1883
DATU MARAJA MUDA SUMBAWA
♂ Datu Raja Muda Daeng Rilangi
SULTAN SUMBAWA XVII m. 1931-1975)
Gelar abhiseka: ♂ Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin III
Nama lengkap Sultan: Kaharuddin Daeng Raja Dewa
Nama panggilan: Daeng Manurung


↓(beristeri)
Gelar Permaisuri: Dewa Maraja Bini
Nama lengkap Permaisuri: ♀ Siti Khodijah Ruma Pa'duka
Nama panggilan: Daeng Ante

binti

Sultan Muhammad Salahuddin "Ma Kakidi Agama" SULTAN BIMA XIV m. 1915-1951
♀ Nindo Siti Rahayu Daeng RisompaSULTAN SUMBAWA XVIII m. 2011-sekarang


Gelar abhiseka: Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin IV
Nama lengkap Sultan: ♂ Muhammad Abdurrahman Daeng Raja Dewa
Nama panggilan: Daeng Ewan
(b. 5 April 1941)
↓(beristeri)


Gelar Permaisuri: Dewa Maraja Bini
Nama lengkap Permaisuri: ♀ Andi Bau Tenri Djadjah
Nama panggilan: Datu Tenri
(b. 23 Oktober 1946)
binti
Andi Burhanuddin Karaeng Pangkajene = Andi Tenri Ampareng Datu Sengngeng Pamanna Wajo[12]
♀ Daeng Nadia Indriana Hanoum♀ Daeng Sarrojini Naidu


↓(bersuami)


♂ Sentot Agus Priyanto
♂ Raehan Omar Hasani Priyanto♂ Raindra Saadya Ramadhan Priyanto♂ Rayaka Ali Kareem Priyanto

Lihat pulaSunting

RujukanSunting

  1. ^ a b Landsdrukkerij (Batavia) (1871). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar (dalam bahasa Belanda). 44. Lands Drukkery. hlm. 222. 
  2. ^ Annabel Teh Gallop (2002). "Malay Seal Inscriptions: A Study in Islamic Epigraphy from Southeast Asia" (dalam bahasa Inggris). 3. University of London: 543. 
  3. ^ "Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Sultan-sultan Sumbawa". Universitas Teknologi Sumbawa. Diakses tanggal 18 Mei 2019. 
  4. ^ a b "Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 1". Universitas Teknologi Sumbawa. Diakses tanggal 18 Mei 2019. 
  5. ^ a b "Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 2". Universitas Teknologi Sumbawa. Diakses tanggal 18 Mei 2019. 
  6. ^ Ben Cahoon. "Indonesian Traditional States II". WORLD STATESMEN.org. Diakses tanggal 3 Juni 2019. 
  7. ^ "Rulers in Asia (1683 – 1811): attachment to the Database of Diplomatic letters" (PDF). Arsip Nasional Republik Indonesia (dalam bahasa Inggris). hlm. 57. Diakses tanggal 2019-01-05. 
  8. ^ "Sejarah Kesultanan Sumbawa". Website Resmi Pemerintah Kabupaten Sumbawa. Diakses tanggal 2019-08-06. 
  9. ^ Mantja, Lalu (1 Januari 1991). Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Nusa Tenggara Barat. Indonesia: Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm. 21. 
  10. ^ Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Nusa Tenggara Barat. Peninggalan sejarah dan kepurbakalaan Nusa Tenggara Barat. Indonesia: Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm. 126. 
  11. ^ "Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional (Indonesia), Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Indonesia), Proyek Peningkatan Penelitian Arkeologi Jakarta (Indonesia)". Berita penelitian arkeologi, Masalah 11-14. Indonesia: Proyek Pelita Pengembangan Media Kebudayaan, Departemen Pendidikan & Kebudayaan. 1977. hlm. 10. 
  12. ^ "Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Lahirnya Kesultanan Sumbawa". Universitas Teknologi Sumbawa. Diakses tanggal 18 Mei 2019. 

Pranala luarSunting