Pangeran Mangkubumi

" Sebab perkara sepuluh, sebelas dan duabelas dari kontrak lama ada salah sedikit dari pada nama didalam dia punja Melaju maka diatur sekarang jang tersebut dibawah ini adanja. Selamanja pangiran jang Paduka Sri Sultan Bandjar dengan kesukaan geburmin sudah angkat akan mendjadi sultan punja ganti djikalo datang kehendak Allah kepada tuan Sultan nanti mesti pakai nama Sultan Muda atawa Pangiran Ratu bagaimana Paduka Sri Sultan punja suka minta kepada geburmin dan lagi siapa memegang keradjaan akan djadi radja bitjara pasti selamanja dapat nama Pangiran Mangkubumi adanja tetapi sebab Paduka Panembahan Adam sudah diterima geburmin akan djadi Sultan Muda maka itu berdjandji hari dibelakang baru ada berguna djikalo datang tuan Allah punja suka jang Paduka Sri Sultan2 mesti pulang kerachmatullah adanja."

— CONTRACT MET DEN SULTAN VAN BANDJERMASIN Sultan Sulaiman al-Mu'tamid 'Alâ Allâh, pasal sepuluh, Kontrak Perjanjian Karang Intan II tanggal 13 September 1823 M (7 Muharam 1239 Hijriyah).[1]

Pangeran Mangkubumi Dipati,Raden Dipati ,Pangeran Dipati Radja Bitjara Sultan Bicara Rijksbestierder,merupakan gelar berganda Pangeran yang menjabat dan menyandang gelar Dewan Senior Mahkota, Pangeran Bendahara ,Pangeran Dipati Anom, Pangeran Perabu Anum ,Pangeran Ratu Anum,Pangeran Ratu Anom,Perdana Menteri ,wazir mu'adlam, Wali Pangeran Ratu, Wali Putera Mahkota, Wali Sultan Muda,Wali Sultan, Pangeran kedua atau putera kedua yaitu calon mangkubumi untuk menggantikan mangkubumi atau Pangeran Mangkubumi yang meninggal .

Seorang Pangeran yang menjabat sebagai Pangeran Mangkubumi merupakan Kepala Administrasi Pemerintahan negara dependensi Kesultanan Banjar.Pangeran ke-2 atau saudara-saudara dari Sultan yang bertahta. Jika Pangeran Mangkubumi meninggal dunia pada saat menjabat, maka almarhum akan digantikan oleh adiknya selanjutnya atau saudara-saudara dari almarhum secara berurutan menurut senioritas tidak melompat atau melangkahi abang kakak kakak nya hingga adik tiri pun secara berurutan menurut senioritas.Pangeran pertama atau putra sulung dari Sultan yang bertahta akan menjadi Sultan,Pangeran Ratu yaitu Putera Mahkota Sultan Muda, sedangkan Pangeran kedua atau putera kedua akan dipersiapkan sebagai calon Pangeran Mangkubumi level generasi berikutnya.Gelar Pangeran Mangkubumi ini sering dipakai di pulau Jawa, Kalimantan dan lain-lain.

Di dalam Hikayat Banjar Adipati terdapat istilah Dipati dan Pangeran Dipati, misalnya Dipati Sukadana sebutan untuk penguasa kerajaan Sukadana, Dipati Sambas sebutan untuk penguasa kerajaan Sambas, Dipati Martapura Sultan Hidayatullah HalilIllah Pada tanggal 3 September 1859 Sultan Hidayatullah HalilIllah dinobatkan oleh para panglima perang kiai Adipati Lehman Mangku Negara - Mangkoe Boemi Idris Adhipattie Mangkoe Nagara (Adipati Mangku Negara) Adhipattie Mangkoe Boemi (Adipati Mangkubumi) legitimasi (Adipati Mangku Negara) Adhipattie Mangkoe Boemi ( Adipati Mangkubumi) memegang pusaka kasultanan Banjar yaitu Keris Singkir dan sebuah tombak bernama Kaliblah yang berasal dari Sumbawa.[2][3] adalah kiai Adipati Lehman Mangku Negara - Mangkoe Boemi Idris yang lahir di Martapura tahun 1832 dan meninggal di Martapura pada tanggal 27 Februari 1864 pada usia 32 tahun. Adipati sebutan untuk penguasa kerajaan Martapura, Dipati Ngganding seorang adipati Kotawaringin, Pangeran Dipati Anta-Kasuma, Pangeran Dipati Tuha, Pangeran Dipati Anom dan lain-lain.Pada masa Sultan Adam, dilantik seorang keponakan permaisurinya yaitu Kiai Adipatie Danoe Radja, untuk memimpin Banua Lima, yang merupakan suatu wilayah keadipatian dari Kesultanan Banjar yang merupakan gabungan dari lima lalawangan/distrik/katamanggungan. Pada masa kolonial Hindia Belanda, Kiai Adipati Danu Raja tetap memimpin wilayah yang sama dan dilantik sebagai wali penguasa dengan gelar Raden Adipati Danu Raja.Lalawangan yaitu suatu wilayah yang dipimpin Kiai Tumenggung (setara dengan jabatan bupati di Jawa).


Para Pangeran Mangkubumi Pangeran yang menyandang gelar Pangeran Mangkubumi:


3.Pangeran Mangkubumi Pangeran Mangkoe Boemi Pangeran Ismail Ratu Anum Mangku Dilaga Sukma Dilaga Ratoe Anom Mangkoe Boemi Ismail dilantik oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda,ditahan kemudian dibunuh oleh Sultan Sulaiman karena diduga akan melakukan kudeta.Jabatan mangkubumi kemudian dipegang oleh Pangeran Husein dengan gelar Pangeran Mangkubumi Nata putera Sultan Sulaiman sendiri



4.Pangeran Mangkubumi Pangeran Mangkoe Boemi Pangeran Mangkoe Boemi Nata (Pangeran Husin), mangkubumi Banjar 1823-1842[5][6]Pangeran Husin bergelar Pangeran Mangkoe Boemi Nata[7][8][9] atau Pangeran Mangkoe Boemi[10][11] atau Pangerang Mangkoe Boemie[12][13] atau Pangeran Mangkubumi Nata Kasuma putra Sultan Sulaiman adalah mangkubumi Kesultanan Banjar yang dilantik oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Ia adalah adik Sultan Adam,Pangeran Mangkubumi Nata Kasuma merupakan anak laki-laki yang kedua Sultan Sulaiman. Ia menjabat mangkubumi mendampingi ayahandanya Sultan Sultan Sulaiman.Pangeran Mangkoe Boemi Nata memperisteri Nyai Intan aloh intan putri Alooh Oengka binti Kiai Singasari[14]


5. Pangeran Mangkubumi Pangeran Mangkoe Boemi Ratoe Anom Mangkoe Boemi Kentjana Pangeran Noch/Nor (lahir 1803) Putra Sultan Adam,Ia menjabat mangkubumi mendampingi ayahandanya Sultan Adam yang menjadi kepala negara Kesultanan Banjar.[15][16][17] atau Ratoe Anom Mangkoe Boemie Kentjana (ejaan Melayu[18][19][20][7] atau Pangeran Perabu Anum Mangkubumi Kencana[21] adalah Perdana Menteri atau wazir mu'adlam atau mangkubumi (Rijksbestierder, kepala administrasi pemerintahan) negara dependensi Kesultanan Banjar. Kepala Administrasi  Kesultanan Banjar : wali Sultan Keraton Boemi Kentjana Martapura 3 Mei 1841 hingga 7 September 1851"Ratoe Anom Mangkoe Boemi Kentjana adalah adik kandung sultan muda abdurrahman dilantik untuk mendampingi Sultan Muda abdurrahman dan Sultan Adam dan diresmikan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk menggantikan Pangeran Mangkoe Boemi Nata telah wafat pada tahun 1 mei 1841.[13][22][23] Pangeran Mangkubumi Noch/Nor mempunyai 10 saudara yaitu:Pangeran Ratu Sultan Muda Abdoe Rachman (lahir 1796),Pangeran Soeria Mataram (lahir 1801), Pangeran Prabu Citra (lahir 1807),Ratoe Aminah,Ratoe Salamah,Ratoe Kramat/Ratoe Didjah (Khadijah),Ratoe Djantra Kasoema, Pangeran Nasaroedin (Serudin), Ratoe Idjah.Pangeran Mangkubumi Noch/Nor mempunyai 10 anak yaitu :Pangeran Ali (lahir 1820), Pangeran Mohamat lahir 1821 dikenal juga sebagai Pangeran Muhammad Tambak Anyar),Pangeran Achmat (lahir 1824),Pangeran Abdullah (lahir 1826),Pangeran Mohamat Seman (lahir 1839),Ratoe Aminah (lahir 1841),Ratoe Hadidjah (lahir 1843),Ratoe Salamah (lahir 1845),Ratoe Koema Radjeman (lahir 1846),Ratoe Djambroet (lahir 1849).


6. Pangeran Mangkubumi Pangeran Mangkoe Boemi Tamjidillah II dilantik oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda berdasarkan besluit per tanggal 13 November 1851 No. 2 untuk menggantikan Pangeran Noch Ratoe Anom Mangkoe Boemi Kentjana Berkuasa 7 September 1851  - 10 Juni 1852/1268 Hijriyah Banjarmasin Pangeran Mangkoe Boemi Tamjidillah al-Watsiq Billah ,SULTAN ADAM meminta ke Belanda untuk menggantikan Pangeran Mangkoe Boemi Tamjidillah al-Watsiq Billah dengan Pangeran Mangkoe Boemi PRABOE ANOM adik Kandung Sultan Muda Abdurrahman - NAMUN permohonan Sultan Adam DITOLAK BELANDA pada tahun 1851.Pangeran Mangkoe Boemi PRABOE ANOM di Martapuran di dampingi sultan Adam sedangkan Pangeran Mangkoe Boemi Tamjidillah al-Watsiq Billah di Banjarmasin di dampingi Sultan  Muda Abdurrahman di Banjarmasin.Tamjidullah al-Watsiq Billah (سلطان الواثق بالله) atau Tamjid Allah II bin Pangeran Ratu Sultan Muda Abdurrahman, terlahir dengan nama Gusti Wayuri[24][25] Ia memerintah antara tahun 1857-25 Juni 1859 Diarsipkan 2018-01-11 di Wayback Machine..[26]Tamjidillah al-Watsiq Billah bin Pangeran Sultan Muda Abdur Rahman dilantik oleh pemerintahan Hindia Belanda untuk menggantikan almarhum Sultan Adam.[27][28][29][30]Setelah kematian mangkubumi Ratoe Anom Mangkoe Boemi Kentjana maka untuk sementara ia dilantik menjadi mangkubumi berdasarkan besluit per tanggal 13 November 1851 No. 2[31] Tidak lama setelah itu, Sultan Muda kerajaan Banjar, Pangeran Abdurrahman mangkat pada 5 Maret 1852.Pelantikan Tamjidillah II sebagai mangkubumi oleh pemerintah Hindia Belanda tidak disetujui oleh Sultan Adam karena melangkahi anak ke-4 Sultan Adam yaitu Sultan Muda Prabu Citra Pangeran Praboe Anom, adik almarhum Sultan Muda kerajaan Pangeran Abdurrahman), bahkan Sultan Adam dari Banjar meminta Belanda untuk memecat Pangeran Tamjidillah II sebagai Mangkubumi, langkah selanjutnya Sultan Adam melantik Sultan Muda Prabu Citra Pangeran Praboe Anom sebagai Sultan Muda kerajaan Banjar.[32]Pangeran Tamjidullah al-Watsiq Billah bin Pangeran Sultan Muda Abdur Rahman merupakan putera ke-2 Pangeran ke-2 dari Putra mahkota Pangeran Ratu Sultan Muda Abdul Rachman dengan Nyai Besar Dawang bergelar Nyai Besar Aminah Putri Dayak Tionghoa dengan nama lahir Gusti Wayuri.Dari perkawinan terdahulu Sultan Muda Abdul Rachman dengan isteri utama Permaisuri Ratu Sultan Abdul Rahman alias Ratu Salmah (adik Pangeran Antasari) menghasilkan seorang putera calon pewaris Kesultanan Banjar Putra Mahkota bernama Pangeran Ratu Rakhmatillah (Rachmadillah) pangeran ke-1 , namun putera tersebut meninggal usia 3 tahun.Pemerintah Hindia Belanda sebelumnya sudah mengangkat Pangeran Tamjid sebagai mangkubumi semasa ayahnya (Sultan Muda Abdurrahman) masih hidup, kemudian setelah ayahnya mangkat, ia dilantik menjadi Sultan Muda sejak 10 Juni 1852 merangkap jabatan mangkubumi yang telah dijabatnya sebelumnya. Sebagai mangkubumi (rijksbestuurder) dan Putera Mahkota, Pangeran Ratu Sultan Muda Tamjidillah memperoleh gaji f 12.000 dan hasil peramasan (tambang emas) senilai 40 tahil @75 - 3.000 setahun.[33] [34] [35] Pemerintahan Kesultanan Banjar Martapoera & Pemerintahan Kesultanan Banjar Bandjarmasing 3 Juni 1825 - 3 maret 1862

Monarch Sultan Adam al-Wâthiq billâh Adam dari Banjar lahir 1782 Memerintah Bandjarmasing 3 Juni 1825- 1 November 1857
MonarchPangeran Ratu Sultan Muda Abdur Rahman dari Banjar Sultan Muda
lahir 1799 Memerintah Bandjarmasing 3 Juni 1825- 5 Maret 1852
Monarch Pangeran Ratu Sultan Muda Pangeran Praboe Anom
lahir 1807 Memerintah Martapoera 10 juni 185523 Februari 1858
Monarch Sultan
Tamjidillah II al-Wâthiq billâh lahir 1816 Memerintah Bandjarmasing (3 November 1857 - 25 juni 1859)
Monarch Pangeran Mangkubumi
Pangeran Ratu Anom Wirakusuma al-Wâthiq billâh
lahir 1822 Memerintah Bandjarmasing 3 November 1857 - 25 juni 1859
Monarch Pangeran Mangkubumi
Pangeran Ratu Anom Hidayatullah Halillillah lahir 1822 Memerintah Martapoera 9 Oktober 1856 - 5 Februari 1860

7.Pangeran Mangkubumi Pangeran Mangkoe Boemi Pangeran Praboe Anom Berkuasa 10 Juni 1852/1268 Hijriyah - 10 Juni 1855 Martapura Pangeran Mangkoe Boemi PRABOE ANOM - Wali Raja (Sultan) Pangeran Mangkubumi Kesultanan Banjar diangkat Sultan Muda  oleh SULTAN ADAM untuk menggantikan  Sultan muda Abdurahman yang wafat 5 maret 1852 dan untuk menggantikan -Pangeran Mangkoe Boemi Sultan muda Tamjidillah al-Watsiq Billah NAMUN permohonan Sultan Adam DITOLAK BELANDA pada tahun 1852,  - Pangeran Mangkoe Boemi Tamjidillah al-Watsiq Billah diangkat Sultan Muda  oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk menggantikan Sultan muda Abdurahman yang wafat 5 maret 1852.namun Hindia belanda tetap tidak memencat Pangeran mangkubumi sultan muda Tamjidillah al-Watsiq Billah merangkap  Pangeran Mangkoe Boemi Banjarmasin.Pangeran Mangkoe Boemi PRABOE ANOM di Martapura didampingi Sultan Adam. Pangeran Praboe Anom Putra Sulthan Adam adalah Sultan Muda Kesultanan Banjar yang dilantik oleh Sulthan Adam Al-Watsiq Billah (سلطان آدم الواثق بالله ) bin Sultan Sulaiman pada tahun 10 Juni 1855.Pangeran Praboe / Pangeran Praboe Anom / Pangeran Citra / Pangeran Praboe Abdullahjuga dikenal sebagai diplomat yang cerdas.Di dalam naskah Tutur Candi,namanya adalah Pangeran Prabu Citra. [36]: Ia salah satu kandidat Putra Mahkota pengganti Sultan Adam,namun Saat itu yang terpilih sebagai Mangkubumi adalah Pangeran Mangkubumi Tamjidullah bin Sultan Muda Abdul Rahman[37] Hingga Sultan adam 10 Juni 1855 menobatkan nya sebagai Sultan muda Putra Mahkota seorang pangeran yang berperan signifikan dalam sejarah politik dan sosial Kerajaan Banjar.[36][7][38]

Pangeran Praboe Anom pada tahun 1851 Mencalonkan sebagai Pangeran Mangkubumi di Martapura Setelah kematian Abang kandungnya 7 September 1851 Pangeran Mangkubumi Ratoe Anom Mangkoe Boemi Kentjana Pihak Kerajaan Menunjuk Mangkubumi sejak 7 September 1851 Pangeran Mangkubumi Praboe / Pangeran Praboe Anom / Pangeran Praboe Citra / Pangeran Praboe Abdullah yang pendapatannya diambil dari provinsi Kelua, Amuntai, Sei Banar, Alabio, Negara. namun pihak Kolonial Hindia Belanda Menobatkan Pangeran Tamjidillah al-Watsiq Billah dilantik menjadi Pangeran Mangkubumi Banjarmasin bergelar Pangeran Mangkubumi Tamjidillah al-Watsiq Billah berdasarkan besluit per tanggal 13 November 1851 No. 2.Sebagai mangkubumi (rijksbestuurder) dan Putera Mahkota, Pangeran Ratu Sultan Muda Tamjidillah al-Watsiq Billah memperoleh gaji f 12.000 dan hasil peramasan (tambang emas) senilai 40 tahil @75 - 3.000 setahun.Pada Tanggal 5 Maret 1852.Sultan Muda Abdurrahman mangkat,Pemerintah Kolonial Hindia Belanda Menobatkan Pangeran Mangkubumi Tamjidillah al-Watsiq Billah putra Sultan Muda Abdurrahman sebagai Sultan Muda Banjarmasin Pada Tanggal 10 Juni 1852 oleh dengan gelar Pangeran Mangkubumi Sultan Muda Tamjidillah al-Watsiq Billah.Sultan Muda Pangeran Tamjidullah al-Watsiq Billah bin Pangeran Sultan Muda Abdur Rahman merupakan putera ke-2 Pangeran ke-2 dari Putra mahkota Pangeran Ratu Sultan Muda Abdul Rachman dengan Nyai Besar Dawang bergelar Nyai Besar Aminah Putri Dayak Tionghoa dengan nama lahir Gusti Wayuri.tidak disetujui oleh Sultan Adam al-Watsiq Billah karena melangkahi Pangeran Mangkubumi Prabu Citra Pangeran Praboe Anom,adik Kandung almarhum Sultan Muda Abdurrahman, bahkan Sultan Adam al-Watsiq Billah meminta Belanda untuk memecat Pangeran Mangkubumi Sultan Muda Tamjidillah al-Watsiq Billah sejak 1852-1855 selama tiga tahun tidak mendapatkan hasil.Pangeran Mangkubumi Martapura Prabu Citra Pangeran Praboe Anom terlibat dalam berbagai peristiwa penting yang mempengaruhi dinamika kekuasaan di Kalimantan Selatan.dikenal karena keterlibatannya dalam politik kerajaan, langkah selanjutnya Sultan Adam al-Watsiq Billah melantik Pangeran Mangkubumi Martapura Prabu Citra Pangeran Praboe Anom sebagai Sultan Muda Martapura Pada Tanggal 10 Juni 1855 dengan gelar Pangeran Mangkubumi Sultan Muda Prabu Citra Pangeran Praboe Anom Menggantikan Abang Kandung Nya yang meninggal dunia yaitu Sultan Muda Abdurrahman wafat Pada Tanggal 5 Maret 1852. Jabatan Sultan Muda Martapura Prabu Citra Pangeran Praboe Anom ini merupakan tandingan jabatan Sultan Muda Banjarmasin yang dijabat oleh Pangeran Mangkubumi Sultan Muda Tamjidillah al-Watsiq Billah yang dilantik pemerintah kolonial Hindia Belanda.Sultan Banjar Ketika Sultan Adam al-Watsiq Billah meninggal pada tanggal 1 November 1857 karena sakit, pemerintahan Hindia Belanda menobatkan Sultan Muda Tamjidillah al-Watsiq Billah sebagai Sultan Banjar. Pada tahun 1274 Hijriyah, yang bertepatan dengan tanggal 3 November 1857, Tamjidillah II dilantik oleh pemerintahan kolonial Hindia Belanda sebagai Sultan Banjar sewaktu dilantik Sultan Banjar pada tanggal 3 November 1857. didampingi Pangeran Mangkubumi Wira Kasoema (wirakusuma II) Kepala Pemerintah Negri Kesultanan Banjar 1857-1859 Mangkubumi Banjamasin memperoleh gaji bulanan f 1.000 gulden (f 12.000 gulden setahun) Penghasilan sebagai Mangkubumi kerajaan Banjar yang pendapatannya diambil dari hasil pungutan dari Tambang Paramasan 40 tahil intan Berlian, (tambang intan Berlian) senilai 40 tahil @75 - 3.000 setahun lobang intan di Titian Taras, dan Penghasilan kompensasi (f 200 gulden perbulan dari hasil pungutan dari sungai Gatal, Banjarmasin. lahir 1822 berusia 35 tahun sewaktu diumumkan pada 3 November 1857. Sultan Tamjidillah al-Watsiq Billah adalah cucu Sultan Adam al-Watsiq Billah Anak dari Nyai Besar Aminah seorang Putri Dayak Tionghoa.setelah kematian Sultan Adam al-Watsiq Billah meninggal pada tanggal 1 November 1857, Sultan Muda Prabu Citra Pangeran Praboe Anom di Martapura dengan pendampingnya Pangeran Mangkubumi Hidayatulah di Martapura Sebagai Vazal Tandingan di Banjarmasin Sultan Tamjidillah al-Watsiq Billah di Banjarmasin Dan Pangeran Mangkubumi Wira kasoema di Banjarmasin.

Setelah Pemerintah kolonial Hindia Belanda melantik Pangeran Mangkubumi Sultan Muda Tamjidillah menjadi Sultan Banjar tanggal 3 November 1857, maka pada tanggal 4 November 1857 Residen mengizinkan dengan bantuan serdadu yang ada di Martapura untuk menangkap Sultan Muda Prabu Citra Pangeran Praboe Anom di Martapura pergi ke Martapura lari dari tahanannya di Banjarmasin (sekarang Kelurahan Melayu) karena mengurusi pemakaman ayahnya Sultan Adam al Watsiq Billah. Alasannya dan tuduhan yang dikenakan pada Sultan Muda Prabu Citra Pangeran Praboe Anom ialah bahwa di Martapura membahayakan tahta, tetapi penangkapan itu tidak berhasil. Rakyat menjadi saksi atas tindakan Sultan Tamjidillah al-Watsiq Billah di Banjarmasin Dan Pangeran Mangkubumi Wira kasoema di Banjarmasin dalam usahanya menangkap Sultan Muda Prabu Citra Pangeran Praboe Anom. Lima hari setelah pemakaman Sultan Adam Al Wasik Billah yang sangat dicintai rakyat, keraton Martapura ditembaki serdadu Belanda untuk menangkap Sultan Muda Prabu Citra Pangeran Praboe Anom. Sultan Muda Pangeran Praboe / Pangeran Praboe Anom / Pangeran Praboe Citra / Pangeran Praboe Abdullah turut terlibat dalam perjuangan melawan kekuatan kolonial yang mencoba menguasai wilayah Banjar. Ia berusaha mempertahankan kedaulatan kerajaan dari ancaman eksternal.Konflik Internal Seperti banyak kerajaan lainnya, Kerajaan Banjar juga menghadapi konflik internal, namanya dikaitkan dengan Mangkubumi Hidayatulah di Martapura Sebagai Vazal Tandingan di Banjarmasin Sultan Tamjidilah Dan Mangkubumi Wira Kasoema baik dalam bentuk persaingan kekuasaan antar anggota keluarga kerajaan maupun pemberontakan dari kelompok-kelompok yang tidak puas. pada tanggal 21 november 1857 Sultan Muda Pangeran Praboe / Pangeran Praboe Anom / Pangeran Praboe Citra / Pangeran Praboe Abdullah akhirnya ditangkap oleh Pangeran Mangkubumi Hidayatulah menyerahkan kepada Sultan Tamjidillah al-Watsiq Billah di Banjarmasin Dan Pangeran Mangkubumi Wira kasoema di Banjarmasin.De bandjermasinsche krijg van 1859-1863, Volume 1 Oleh Willem Adriaan Rees halaman 17 https://books.google.co.id/books/content?id=JRQ5AQAAIAAJ&hl=id&pg=PA17&img=1&zoom=3&sig=ACfU3U2CzK4QPVfltT9DpE3uVT3KPAQ3Ng&w=1025 kemudian Sultan Muda Pangeran Praboe / Pangeran Praboe Anom / Pangeran Praboe Citra / Pangeran Praboe Abdullah dijebloskan ke penjara benteng Tatas selama 90 hari sejak 21 november 1857 - 23 Februari 1858.Sultan Tamjidullah al-Watsiq Billah dan Pangeran Mangkubumi Banjarmasin Wira kasoema menandatangani surat pengasingan pada tanggal 23 Februari 1858.Sultan Muda Prabu Citra Pangeran Praboe Anom dengan Nyai Ratu Kamala Sari, yang kemudian diasingkan ke Bandung karena dianggap membahayakan jika berada di Banjarmasin dan kemudian dibuang ke Pulau Jawa Barat . Pemerintahan Kesultanan Banjar Martapoera & Pemerintahan Kesultanan Banjar Bandjarmasing 3 Juni 1825 - 3 maret 1862

Monarch Sultan Adam al-Wâthiq billâh Adam dari Banjar lahir 1782 Memerintah Bandjarmasing 3 Juni 1825- 1 November 1857
MonarchPangeran Ratu Sultan Muda Abdur Rahman dari Banjar Sultan Muda
lahir 1799 Memerintah Bandjarmasing 3 Juni 1825- 5 Maret 1852
Monarch Pangeran Ratu Sultan Muda Pangeran Praboe Anom
lahir 1807 Memerintah Martapoera 10 juni 185523 Februari 1858
Monarch Sultan
Tamjidillah II al-Wâthiq billâh lahir 1816 Memerintah Bandjarmasing (3 November 1857 - 25 juni 1859)
Monarch Pangeran Mangkubumi
Pangeran Ratu Anom Wirakusuma al-Wâthiq billâh
lahir 1822 Memerintah Bandjarmasing 3 November 1857 - 25 juni 1859
Monarch Pangeran Mangkubumi
Pangeran Ratu Anom Hidayatullah Halillillah lahir 1822 Memerintah Martapoera 9 Oktober 1856 - 5 Februari 1860


8. Pangeran Mangkubumi Hidayatullah II dari Banjar Berkuasa 9 oktober 1856 -5 Februari 1860 Martapura Pangeran Mangkoe Boemi Hidayatullah Halillah diangkat  oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk menggantikan Pangeran Mangkoe Boemi PRABOE ANOM di Martapura - diangkat SULTAN MUDA  oleh SULTAN ADAM di Martapura dinobatkan pada atanggal 10 juni 1855 Pada tanggal 9 oktober 1856. Pengangkatan Hidayatullah sebagai mangkubumi tertuang dalam Akte Van Beeediging Van Den Rijksbestierder Van Bandjarmasin, Pangeran Hidajat Oellah op 9 October 1856. (Besluit 4 Januari 1857 No. 41) Borneo, tertulis dalam bahasa Melayu di bawah:[1]

Besluit 4 Januari 1857 No. 41

Hadjrat Annabi Salallahu alaihi wassallam seribu dua ratus tudjuh puluh tiga pada kesembilan hari bulan Sjafar kepada hari Chamis djam pukul sepuluh pagi2.

Mendjadi hadjrat Almasih kesembilan hari bulan Oktober hari Chamis tahun seribu delapan ratus lima puluh enam, maka dewasa itulah sahaja Pangiran Hidajat Allah jang dengan permintaan Sri Paduka Tuan Sultan Adam Alwasikh Billah jang mempunjai tahta keradjaan Bandjarmasin beserta mupakatan dengan Sri Paduka Tuan van de Graaff residen Bandjarmasin jang memegang kuasa atas segala tanah sebelah Selatan dan Timur pulau Kalimantan sudah terima oleh Sri Paduka Jang Dipertuan Besar Gurnadur Djenderal dari tanah Hindia Nederland jang bersemajam di Betawi.

Mendjadi mangkubumi dikeradjaan Bandjarmasin bepersembahan suatu surat persumpahan ini kechadirat geburmin Hindia Nederland pada menjatakan ha mim Allah wal Rasul.

Pertama : bahwa dengan sesungguhnja sahaja berdjandji hendak maangkat pekerdjaan mangkubumi itu dengan hati jang tulus dan ichlas serta senantiasa hendak bepertolongan didalam maksud dan kehendak geburmin Hindia Nederland.

Kedua : bahwa sahaja berdjandji akan mengikuti dan mendengar sekalian titah dan perintah Sri Paduka Tuan Residen dari tanah Selatan dan timur pulau Kalimantan jang mendjadi wakil mutlaq geburnemin dipulau ini dan perintah Sri Paduka Tuan Sultan Bandjarmasin.

Ketiga : bahwa sahaja berdjandji hendak memelihara kari tulus dan ichlas antara geburnemin Hindia Nederland dengan Sri Paduka Tuan Sultan Bandjarmasin senantiasa djuga adanja.

Keempat : bahwa sahaja berdjandji hendak mendjalankan hukum jang adil dan berbuat sekalian jang mendjadikan selamat dan sentosanja Sri Paduka Tuan Sultan Bandjarmasin.

Kelima : bahwa sahaja berdjandji hendak mendjalankan sekalian aturan dan perintahan menurut seperti jang tersebut didalam kontrak jang telah diperbuat antara geburnemin Hindia Nederland dengan Sri Paduka Tuan Sultan Bandjarmasin serta mendjaga orang melanggar itu.

Kaenam : bahwa sahaja berdjandji dengan sebolih-bolihnja djua hendak mengerdjakan atas segala hal jang mendjadikan kebaikan dan sentosa keradjaan Bandjarmasin.

Ketudjuh : bahwa sahaja berdjandji tiada hendak berbuat keberatan dan kesusahan pada orang2 negeri hanja akan membuat aturan jang baik supaja segala orang didalam daerah Sri Paduka Tuan Sultan dihukumkan dengan hukum jang adil.

Kedelapan : maka sahaja mengaku lagi jang sahaja tiada sudah memberi sesuatu apa2 pembarian dan tiada sudah akan memberi apa2 kepada orang2 baik siapa2 jang oleh karena itu sahaja akan mendapat pekerdjaan mangkubumi ini. Maka demikian tersurat tiga kali sama bunjinja pada hadjemat jang tersebut diatas ini serta dibubuh tjap dengan tapak tangan sahaja sendiri dihadapan Sri Paduka Tuan Residen jang tersebut diatas ini dan dihadapan Sri Paduka Tuan Sultan Adam Alwasikh Billah dan Paduka Tuan Sultan Muda Tamdjid Illah serta sekalian radja2 dan menteri2 ditempat Sri Paduka Tuan Residen Bandjarmasin adanja.

Tjap : Sultan muda Tamdjid Illah.
Warna hidjau dalam lingkaran huruf Latin ditengah dengan huruf Arab.

Zegel : Sultan Adam.

Zegel : Zuid an Oost kust van Borneo
Ie main tiendrai.
ttd. van de Graaff.

Zegel ditulis dengan huruf Arab. Pangeran Hidajat Allah. Zegel warna merah.

Sultan Banjar Ketika Sultan Adam al-Watsiq Billah meninggal pada tanggal 1 November 1857 karena sakit,pemerintah Hindia Belanda menobatkan Tamjidullah II sebagai sultan Banjar yang baru di Banjarmasin Pada tahun 1274 Hijriyah, yang bertepatan dengan tanggal 3 November 1857, dipilih sebagai pusat pemerintahannya,dimana penobatan ini ditentang oleh rakyat Banjar Sehari setelah penobatannya, Setelah Pemerintah kolonial Hindia Belanda melantik Pangeran Mangkubumi Sultan Muda Tamjidillah menjadi Sultan Banjar tanggal 3 November 1857,Sultan Tamjidillah II dilantik oleh pemerintahan kolonial Hindia Belanda sebagai Sultan Banjar lahir 1816 berusia 41 tahun sewaktu dilantik Sultan Banjar pada tanggal 3 November 1857. didampingi Pangeran Mangkoe Boemi Wira Kasoema (wirakusuma) Kepala Pemerintah Negri Kesultanan Banjar 1857-1859 Mangkubumi Banjamasin memperoleh gaji bulanan f 1.000 gulden (f 12.000 gulden setahun) Penghasilan sebagai Mangkubumi kerajaan Banjar yang pendapatannya diambil dari hasil pungutan dari Tambang Paramasan 40 tahil intan Berlian, (tambang intan Berlian) senilai 40 tahil @75 - 3.000 setahun lobang intan di Titian Taras, dan Penghasilan kompensasi (f 200 gulden perbulan dari hasil pungutan dari sungai Gatal, Banjarmasin. lahir 1822 berusia 35 tahun sewaktu diumumkan pada 3 November 1857. Sultan Tamjidillah al-Watsiq Billah adalah cucu Sultan Adam al-Watsiq Billah. Tamjidillah II Anak dari Nyai Besar Aminah seorang Putri Dayak Tionghoa ,phan tong fang (petompang),setelah kematian Sultan Adam al-Watsiq Billah meninggal pada tanggal 1 November 1857, Sultan Muda Prabu Citra Pangeran Praboe Anom di Martapura dengan pendampingnya Pangeran Mangkubumi Hidayatulah di Martapura Sebagai Vazal Tandingan di Banjarmasin Sultan Tamjidillah al-Watsiq Billah di Banjarmasin Dan Pangeran Mangkubumi Wira kasoema di Banjarmasin.Setelah Pemerintah kolonial Hindia Belanda melantik Pangeran Mangkubumi Sultan Muda Tamjidillah menjadi Sultan Banjar tanggal 3 November 1857, maka pada tanggal 4 November 1857 Residen mengizinkan dengan bantuan serdadu yang ada di Martapura untuk menangkap Sultan Muda Prabu Citra Pangeran Praboe Anom di Martapura pergi ke Martapura lari dari tahanannya di Banjarmasin (sekarang Kelurahan Melayu) karena mengurusi pemakaman ayahnya Sultan Adam al Watsiq Billah. Alasannya dan tuduhan yang dikenakan pada Sultan Muda Prabu Citra Pangeran Praboe Anom ialah bahwa di Martapura membahayakan tahta, tetapi penangkapan itu tidak berhasil. Rakyat menjadi saksi atas tindakan Sultan Tamjidillah al-Watsiq Billah di Banjarmasin Dan Pangeran Mangkubumi Wira kasoema di Banjarmasin dalam usahanya menangkap Sultan Muda Prabu Citra Pangeran Praboe Anom. Lima hari setelah pemakaman Sultan Adam Al Wasik Billah yang sangat dicintai rakyat, keraton Martapura ditembaki serdadu Belanda untuk menangkap Sultan Muda Prabu Citra Pangeran Praboe Anom.Sultan Muda Pangeran Praboe / Pangeran Praboe Anom / Pangeran Praboe Citra / Pangeran Praboe Abdullah turut terlibat dalam perjuangan melawan kekuatan kolonial yang mencoba menguasai wilayah Banjar. Ia berusaha mempertahankan kedaulatan kerajaan dari ancaman eksternal.Konflik Internal Seperti banyak kerajaan lainnya, Kerajaan Banjar juga menghadapi konflik internal, namanya dikaitkan dengan Mangkubumi Hidayatulah di Martapura Sebagai Vazal Tandingan di Banjarmasin Sultan Tamjidilah Dan Mangkubumi Wira Kasoema baik dalam bentuk persaingan kekuasaan antar anggota keluarga kerajaan maupun pemberontakan dari kelompok-kelompok yang tidak puas. pada tanggal 21 november 1857 Sultan Muda Pangeran Praboe / Pangeran Praboe Anom / Pangeran Praboe Citra / Pangeran Praboe Abdullah akhirnya Prabu Anom berhasil ditangkap oleh Pangeran Mangkubumi Hidayatulah menyerahkan kepada Sultan Tamjidillah al-Watsiq Billah di Banjarmasin Dan Pangeran Mangkubumi Wira kasoema di Banjarmasin.De bandjermasinsche krijg van 1859-1863, Volume 1 Oleh Willem Adriaan Rees halaman 17 https://books.google.co.id/books/content?id=JRQ5AQAAIAAJ&hl=id&pg=PA17&img=1&zoom=3&sig=ACfU3U2CzK4QPVfltT9DpE3uVT3KPAQ3Ng&w=1025 kemudian Sultan Muda Pangeran Praboe / Pangeran Praboe Anom / Pangeran Praboe Citra / Pangeran Praboe Abdullah dijebloskan ke penjara benteng Tatas selama 90 hari sejak 21 november 1857 - 23 Februari 1858.Sultan Tamjidullah al-Watsiq Billah menandatangani surat pengasingan pada tanggal 23 Februari 1858 dan Pangeran Mangkubumi Banjarmasin Wira kasoema menandatangani surat yang menyetujui pengasingan Belanda atas pamannya Prabu Anom ke Jawa.menandatangani surat pengasingan pada tanggal 23 Februari 1858.Sultan Muda Prabu Citra Pangeran Praboe Anom dengan Nyai Ratu Kamala Sari, yang kemudian diasingkan ke Kota Bandung di awal tahun 1858 pada tanggal 23 Februari 1858. dan akhirnya ia diasingkan karena dianggap membahayakan jika berada di Banjarmasin dan kemudian dibuang ke Pulau Jawa Barat Peristiwa pengasingan ini membuat geram bangsawan lainnya.serta mengakibatkan keadaan keraton Bumi Kencana Martapura tegang dan tidak kondusif. Muncul gerakan perlawanan terhadap kepemimpinan Pemerintahan Banjarmasin yang dimulai oleh tokoh karismatik bernama Panglima Aling Datu Aling Panembahan Muda Aling Sultan Muda Aling atau Panembahan Muning dari Tapin, dimana pengikut gerakan ini semakin bertambah banyak karena banyak rakyat yang tidak puas terhadap kepemimpinan Pemerintahan Banjarmasin.Dimartapura didapati Sultan nya Sultan Adam di dampingi Anak kandung nya  Sultan muda Prabu Anom didampingi cucunya Pangeran Mangkoe Boemi Hidayatulah Halillah adalah keponakan Sultan muda Prabu Anom.pemerintah Hindia Belanda mengangkat Gusti Andarun sebagai mangkubumi yang mengatur pemerintahan dari Martapura dengan gelar Pangeran Hidayatullah pada tanggal 9 Oktober 1856.[39],Sedangkan di Banjarmasin Sultan nya didapati sultan adam  didampingi   SULTAN MUDA Tamjidillah al-Watsiq Billah dengan mangkubuminya juga Pangeran Mangkoe Boemi  Tamjidillah al-Watsiq Billah Belum ada yang bertugas mangkubumi di banjarmasin sejak 1852-1857 sehingga SULTAN MUDA Tamjidillah al-Watsiq Billah merangkap pangeran mangkubumi juga.tragedi pencopotan jabatan mangkubumi Banjar Hidayatulah halillah Pada tanggal 5 Februari 1860 Pemerintah kolonial hindia belanda Mencopot jabatan mangkubumi  Pangeran Mangkoe Boemi  Hidayatulah Halillah hingga pada tanggal 3 Maret 1862 Pangeran Mangkoe Boemi Mangkubumi  Hidayatulah Halillah ditangkap kemudian diasingkan ke Cianjur karena dianggap membahayakan jika tetap berada di Banjarmasin. Pemerintahan Kesultanan Banjar Martapoera & Pemerintahan Kesultanan Banjar Bandjarmasing 3 Juni 1825 - 3 maret 1862

Monarch Sultan Adam al-Wâthiq billâh Adam dari Banjar lahir 1782 Memerintah Bandjarmasing 3 Juni 1825- 1 November 1857
MonarchPangeran Ratu Sultan Muda Abdur Rahman dari Banjar Sultan Muda
lahir 1799 Memerintah Bandjarmasing 3 Juni 1825- 5 Maret 1852
Monarch Pangeran Ratu Sultan Muda Pangeran Praboe Anom
lahir 1807 Memerintah Martapoera 10 juni 185523 Februari 1858
Monarch Sultan
Tamjidillah II al-Wâthiq billâh lahir 1816 Memerintah Bandjarmasing (3 November 1857 - 25 juni 1859)
Monarch Pangeran Mangkubumi
Pangeran Ratu Anom Wirakusuma al-Wâthiq billâh
lahir 1822 Memerintah Bandjarmasing 3 November 1857 - 25 juni 1859
Monarch Pangeran Mangkubumi
Pangeran Ratu Anom Hidayatullah Halillillah lahir 1822 Memerintah Martapoera 9 Oktober 1856 - 5 Februari 1860


9. Pangeran Mangkubumi Pangeran Mangkoe Boemi Pangeran Wira Kasoema al-Watsiq Billah Berkuasa 3 November 1857 -25 Juni 1859 Banjarmasin Pangeran Mangkoe Boemi Wirakusuma al-Watsiq Billah Pangeran Mangkubumi Kesultanan Banjar memerintah Banjarmasin bersama abang nya Sultan Tamjidilah al-Watsiq Billah dari 1857- hingga 1859. Setelah kematian Sultan Adam pada 1 November 1857, terjadi perselisihan mengenai penerus tahta. Pemerintah kolonial Belanda menobatkan Sultan Tamjidillah al-Watsiq Billah pada 3 November 1857, didamping Pangeran Mangkubumi Wira Kasoema al-Watsiq Billah yang menyebabkan ketegangan di dalam kerajaan. Pada 23 Februari 1858, Sultan Muda Prabu Anom diasingkan ke Bandung Jawa Barat karena dianggap membahayakan jika tetap berada di Banjarmasin. Setelah itu, pada 25 Juni 1859, Sultan Tamjidillah al-Watsiq Billah juga dimakzulkan dan diasingkan oleh pemerintah Hindia Belanda,ke empang Bogor Jawa Barat . Pemerintah Kolonial Belanda Mempercayakan Negri Kesultanan Banjar kepada Pangeran Mangkubumi Sultan Ratu Anum Wira Kasoema al-Watsiq Billah Putra Sultan Muda Abdurrahman , Pangeran sorie Mataram Adik Tiri Sultan muda Abdurrahman dan Pangeran Tambak anyar Keponakan Sultan Muda Abdur Rahman dari Banjar [Pangeran Tambak anyar putra Mangkubumi Kencana Pangeran Noch/Nor]. Pada 3 Maret 1862 Pangeran Mangkubumi Pangeran Mangkoe Boemi Sultan Ratu Anum Wira Kasoema al-Watsiq Billah  diasingkan ke Cianjur karena dianggap membahayakan jika tetap berada di Banjarmasin. Pemerintahan Kesultanan Banjar Martapoera & Pemerintahan Kesultanan Banjar Bandjarmasing 3 Juni 1825 - 3 maret 1862

Monarch Sultan Adam al-Wâthiq billâh Adam dari Banjar lahir 1782 Memerintah Bandjarmasing 3 Juni 1825- 1 November 1857
MonarchPangeran Ratu Sultan Muda Abdur Rahman dari Banjar Sultan Muda
lahir 1799 Memerintah Bandjarmasing 3 Juni 1825- 5 Maret 1852
Monarch Pangeran Ratu Sultan Muda Pangeran Praboe Anom
lahir 1807 Memerintah Martapoera 10 juni 185523 Februari 1858
Monarch Sultan
Tamjidillah II al-Wâthiq billâh lahir 1816 Memerintah Bandjarmasing (3 November 1857 - 25 juni 1859)
Monarch Pangeran Mangkubumi
Pangeran Ratu Anom Wirakusuma al-Wâthiq billâh
lahir 1822 Memerintah Bandjarmasing 3 November 1857 - 25 juni 1859
Monarch Pangeran Mangkubumi
Pangeran Ratu Anom Hidayatullah Halillillah lahir 1822 Memerintah Martapoera 9 Oktober 1856 - 5 Februari 1860


Pegustian (Partai Sultan) adalah dewan pertahanan/pemerintahan [darurat/pelarian] yang terdiri dari gusti-gusti (bangsawan Banjar) dan para panglima perang sebagai penerus Kesultanan Banjar yang secara fisik berwujud sebuah benteng pertahanan yang dibangun Tumenggung Surapati pada tahun 1865, yaitu setelah bangsawan Banjar tiada seperti Pangeran Mangkubumi Pangeran Mangkoe Boemi Pangeran Ismail Ratu Anum Mangku Dilaga Sukma Dilaga Ratoe Anom Mangkoe Boemi Ismail mati terbunuh,Pangeran Mangkubumi Pangeran Mangkoe Boemi Pangeran Mangkoe Boemi Nata (Pangeran Husin meninggal), Pangeran Mangkubumi Pangeran Mangkoe Boemi Ratoe Anom Mangkoe Boemi Kentjana Pangeran Noch/Nor meninggal, Pangeran Ratu Pangeran Mangkubumi Sultan Muda Sultan Tamjidillah II Putra Sultan Muda Abdur Rahman dari Banjar di asingkan ke empang Bogor, Pangeran Mangkubumi Pangeran Mangkoe Boemi Pangeran Praboe Anom Putra Sultan Adam dari Banjar di asingkan ke bandung jawa barat, Pangeran Mangkubumi Sultan Ratu Anum Hidayatullah Halillillah Putra Sultan Muda Sultan Muda Abdur Rahman dari Banjar di asingkan ke cianjur jawa barat,Pangeran Mangkubumi Sultan Ratu Anum Wira Kasoema al-Watsiq Billah Putra Sultan Muda Abdur Rahman dari Banjar di asingkan ke cianjur jawa barat, Pangeran Antasari meninggal karena sakit.


Pagustian ini terletak di Gunung Bondang, diudik sungai Laung, daerah Puruk Cahu. Pertahanan yang kedua terletak di Manawing, yaitu kampung Bomban, Kalang Barah diudik Baras Kuning, Barito.


10. Pangeran Mangkubumi Pangeran Mangkoe Boemi Pangeran Muhammad Said  Berkuasa  14 Maret 1862 - 1875 Pangeran Mangkoe Boemi -Wali Raja (Sultan) Pangeran Mangkubumi Kesultanan Banjar adalah Adik Ipar  Pangeran Mangkubumi Sultan Ratu Anum Wira Kasoema al-Watsiq Billah  diasingkan ke Cianjur karena dianggap membahayakan jika tetap berada di Banjarmasin. serta untuk menggantikan meninggal yaitu Pangeran Antasari adalah Ayah Mertua  Pangeran Mangkubumi Sultan Ratu Anum Wira Kasoema al-Watsiq Billah. Pangeran Antasari dan  Pangeran Mangkubumi Muhammad Said ,meneruskan Perjuangan Pangeran Mangkubumi Sultan Ratu Anum Wira Kasoema al-Watsiq Billah  diasingkan ke Cianjur karena dianggap membahayakan jika tetap berada di Banjarmasin. Pangeran Antasari dan  Pangeran Mangkubumi Muhammad Said mangkubumi Pagustian Banjar dan pejuang perang Banjar


11. Pangeran Mangkubumi Pangeran Mangkoe Boemi Pangeran Perbatasari Berkuasa 1875 - 1885 Pangeran Mangkoe Boemi Perbatasari menggantikan Pangeran Mangkoe Boemi Muhammad Said Yang Tewas. mangkubumi Pagustian Banjar dan pejuang perang Banjar

12.Pangeran Mangkoe Boemi Muhamad Arsyad Berkuasa 1885 - 1905 pejuang perang Banjar, memerintah dari 1885 hingga 1905 untuk menggantikan Pangeran Mangkoe Boemi Perbatasari yang Diasingkan me sulawesi- Pagustian Banjar dibubarkan dan dihapuskan oleh kolonial hindia belanda.

12.Pangeran Chairul Saleh (Sultan) Pangeran Mangkubumi Kesultanan Banjar Berkuasa 2010- sekarang Bupati 2 periode pada tahun 2010 menghidupkan kembali Pagustian banjar yang dibubarkan belanda KESULTANAN BANJAR 1862 dan PAGUSTIAN BANJAR 1905

Kontrak Perjanjian Kesultanan Banjar dengan Hindia Belanda

sunting

Kontrak Perjanjian Karang Intan II tanggal 13 September 1823 Masehi (7 Muharam 1239 Hijriyah) memuat tentang penamaan Pangeran Mangkubumi untuk Raja Bicara (Rijksbestierder, kepala administrasi pemerintahan).[1]

Catatan kaki

sunting
  1. ^ a b c Hindia-Belanda (1965). Bandjermasin (Sultanate), Surat-surat perdjandjian antara Kesultanan Bandjarmasin dengan pemerintahan2 V.O.C.: Bataafse Republik, Inggeris dan Hindia-Belanda 1635-1860 (PDF). Arsip Nasional Republik Indonesia, Kompartimen Perhubungan dengan Rakjat. hlm. 158.  Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "Bandjermasin (Sultanate)" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  2. ^ (Belanda) "Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde". 14. Perpustakaan Negeri Bavarian. 1864: 503. 
  3. ^ G. Kolff (1866). "Notulen van de algemeene en directie-vergaderingen" (dalam bahasa Belanda). 3: 80. 
  4. ^ Cense, Anton Abraham (1928). De kroniek van Bandjarmasin (dalam bahasa Belanda). C.A. Mees. hlm. 97. 
  5. ^ Eysinga, Philippus Pieter Roorda van (1841). Handboek der land- en volkenkunde, geschiedtaal-, aardrijks- en staatkunde von Nederlandsch Indie (dalam bahasa Belanda). 3. hlm. 175. 
  6. ^ van Eijsinga, Philippus Pieter Roorda (1843). Indie: ter bevordering der kennis van Nederlands oostersche bezittingen. III. Boek Java : aardrijkskunde, staatkunde, krijgswezen, oudheidkunde, godsdiensten, kronijken, geschiedenis (dalam bahasa Belanda). 1. Gebroeders Nys. hlm. 175. 
  7. ^ a b c Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde (1860). "Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde" (dalam bahasa Belanda). 9: 102.  Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "Tijdschrift 9" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  8. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama De bandjermasinsche krijg 2
  9. ^ Rees, Willem Adriaan (1865). De bandjermasinsche krijg van 1859-1863 (dalam bahasa Belanda). D. A. Thieme. hlm. 12. 
  10. ^ van Eysinga, Philippus Pieter Roorda (1841). Handboek der land- en volkenkunde, geschiedtaal-, aardrijks- en staatkunde von Nederlandsch Indie (dalam bahasa Belanda). 3. Van Bakkenes. hlm. 175. 
  11. ^ van Ejsinga, Philippus Pieter Roorda (1843). Indie: ter bevordering der kennis van Nederlands oostersche bezittingen. III. Boek Java : aardrijkskunde, staatkunde, krijgswezen, oudheidkunde, godsdiensten, kronijken, geschiedenis (dalam bahasa Belanda). 1. Gebroeders Nys. hlm. 175. 
  12. ^ Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1832). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar (dalam bahasa Belanda). 8. Lands Drukkery. hlm. 68. 
  13. ^ a b Landsdrukkerij, Landsdrukkerij (Batavia) (1843). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar (dalam bahasa Belanda). 16. Batavia: Lands Drukkery. hlm. 72.  Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "Almanak 16" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  14. ^ http://silsilahkayutangi.blogspot.com/p/silsilah-kiai-adipati-singasari-raja.html
  15. ^ "Landsdrukkerij". Almanak en Naamregister voor Nederlandsch-Indië voor het SCHRIKKEL-JAAR 1844 (dalam bahasa Belanda). 17. Batavia: Ter Lands-Drukkerij. 1843. hlm. 71. 
  16. ^ (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1845). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar. 18. Lands Drukkery. hlm. 73. 
  17. ^ (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1846). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar. 19. Lands Drukkery. hlm. 85. 
  18. ^ (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar. 21. Lands Drukkery. hlm. 80. 
  19. ^ (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1849). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar. 22. Lands Drukkery. hlm. 83. 
  20. ^ (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1851). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar. 24. Lands Drukkery. hlm. 82. 
  21. ^ Annabel Teh Gallop (2002). "Malay Seal Inscriptions: A Study in Islamic Epigraphy from Southeast Asia" (dalam bahasa Inggris). 3. University of London: 461. 
  22. ^ J. B. J Van Doren (1860). Bydragen tot de kennis van verschillende overzeesche landen, volken, enz (dalam bahasa Belanda). 1. J. D. Sybrandi. hlm. 239. 
  23. ^ (Belanda) Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavia), Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavia) (1860). Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap. 9. Lange. hlm. 124. 
  24. ^ "Landsdrukkerij". Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indië voor 1860 (dalam bahasa Belanda). 33. Batavia: Ter Lands-Drukkerij. 1860. hlm. 141. 
  25. ^ Sudrajat, A. Suryana (2006). Tapak-tapak pejuang: dari reformis ke revisionis (Seri khazanah kearifan). Erlangga. hlm. 17. ISBN 9797816109.  ISBN 978-979-781-610-0
  26. ^ Hoëvel, Wolter Robert (1861). "Wolter Robert van Hoëvell, H.A. Lesturgeon". Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (dalam bahasa Belanda). Ter Lands-drukkerij. hlm. 200. 
  27. ^ Ricklefs, Merle Calvin (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200–2008. Penerbit Serambi. hlm. 306. ISBN 978-979-024-115-2. 
  28. ^ Poesponegoro, Marwati Djoened; Notosusanto, Nugroho (2008). Sejarah nasional Indonesia: Kemunculan penjajahan di Indonesia, ±1700-1900. PT Balai Pustaka. hlm. 276. ISBN 978-979-407-410-7. 
  29. ^ van Rees, Willem Adriaan (1865). De bandjermasinsche krijg van 1859-1863 (dalam bahasa Belanda). 1. D. A. Thieme. hlm. 7. 
  30. ^ Julius Mühlfeld, Julius Mühlfeld (1875). Wereldgeschiedenis van de jaren 1848-1870 (dalam bahasa Belanda). 3. Van Hoogstraten en Gorter. 
  31. ^ Meyer, Arnold (1866). De onpartijdigheid van den schrijver van "De bandjermasinsche krijg" (dalam bahasa Belanda). De Veij Mestdagh. hlm. 10. 
  32. ^ Republik Indonesia: Propinsi Sulawesi. 1963. hlm. 370. 
  33. ^ Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. 23. Ter Lands-drukkerij. 1861. hlm. 70. 
  34. ^ Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1854). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar. 27. Lands Drukkery. hlm. 92. 
  35. ^ Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1854). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar. 28. Lands Drukkery. hlm. 94. 
  36. ^ a b (Indonesia) Mohamad Idwar Saleh; Tutur Candi, sebuah karya sastra sejarah Banjarmasin, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, 1986
  37. ^ (Belanda) (1861)Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. 23. Ter Lands-drukkerij. hlm. 70. 
  38. ^ (Belanda) Nederlanderh, Host Indie. Brill Archive. hlm. 140. 
  39. ^ "Landsdrukkerij". Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indië, voor 1858 (dalam bahasa Belanda). 31. Batavia: Ter Lands-Drukkerij. 1858. hlm. 119.