Buka menu utama

Dewa Masmawa Sultan Harunnurrasyid I, gelar anumerta Datu Loka (bin Raden Subangsa Pangeran Taliwang) adalah Sultan Sumbawa ke-3 (m.1674-1702/05).

Bernama asli Dewa Mas Bantan/Raden Bantan, merupakan putra dari Raden Subangsa (Trah Sultan Hidayatullah 1 Bin Sultan Rahmatullah, Sultan Banjar ) yang memperistri Dewa Mas Panghulu, kakak dari Mas Cinni dan Mas Gowa. Dewa Mas Bantan pada tahun 1674 diangkat sebagai Sultan Sumbawa atas permufakatan majelis pemerintahan Pangantong Lima Olas disebabkan oleh kultur pemerintahan Dewa Mas Gowa tidak berbeda dengan pemerintahan Dewa Mas Cinni.

Dewa Mas Bantan Sultan Harunurrasyid I, disebut juga Dewa Dalam Bawa, sebagaimana nama dinastinya yakni Dinasti Dewa Dalam Bawa. Pada masa pemerintahan Sultan Harunurrasyid I inilah penerapan syariat Islam dilaksanakan secara total baik dalam pemerintahan maupun dalam adat istiadat dan kemasyarakatan. Sehingga lahirlah Falsafah Budaya Sumbawa Adat Barenti Ko Syara’, Syara Barenti Ko Kitabullah (adat berpegang pada Syara’, Syara berpegang kepada Kitabullah) untuk Kerik Salamat Tau Ke Tana Samawa (Keselamatan dan kesejahteraan bagi penduduk dan bumi Sumbawa).

Dewa Masmawa Sultan Harunurrasyid I mempersunting St. Halimah Daeng Tomi Karaeng Tannisanga, putri dari Raja Gowa I Meppaiyo pada tanggal 29 Juni 1684, dan memperoleh beberapa orang putra dan putri antara lain:

  1. Datu Bala Sawo ( Datu Seran – Seteluk )
  2. Amasa Samawa Dewa Mas Madina ( Sultan Sumbawa )
  3. Mas Palembang Dewa Maja Jareweh ( Datu Jereweh ).
  4. Dewa Iya ( Permaisuri Sultan Hasanuddin, Sultan Bima )
  5. Dewa Isa Karaeng Barong Patolla ( diperistri oleh Aroe Kajoe )

Dimasa pemerintahan Sultan Harunurrasyid I Kesultanan Sumbawa mencapai puncak kemakmuran karena perannya memajukan bidang pertanian, bidang peternakan maupun bidang pertahanan dan keamanan. Tahun 1702 Sultan Harunurrasyid I menyerahkan kekuasaan kepada putra keduanya Amasa Samawa Dewa Mas Madina. Sedangkan beliau yang kemudian digelari Datu Loka meneruskan tugasnya memimpin pasukan perang Kesultanan Sumbawa.[1][2][3][4][5][6][7][8][9][10][11][12]

Menjadi Sultan Sumbawa tahun 1674Sunting

Atas keputusan adat Pangantong Lima Olas, dinobatkan Dewa Mas Bantan sebagai Sultan Sumbawa ke-3, bergelar Dewa Masmawa Sultan Harunnurrasyid I.

Ada tiga gelar induk atau Puin Kajuluk yang digunakan sebagai nama gelar kesultanan Sumbawa:

  1. Sultan Harun Arrasyid
  2. Sultan Jalaluddin
  3. Sultan Kaharuddin

Dewa Mas Bantan merupakan Sultan Sumbawa pertama yang menggunakan gelar Sultan Harun Arrasyid.

Menurut Arsip Nasional Republik Indonesia, korespondensi antara Sultan Sumbawa Dewa Masmawa Sultan Harunnurrasyid I Datu Loka kepada VOC-Belanda terjadi sejak tanggal 6 November 1687 sampai 5 Agustus 1698.[13]

Catatan Kerajaan Bima Bo' Sangaji Kai Naskah No. 34Sunting

Sitti Maryam Rachmat Salahuddin (1999:56) dalam Catatan Kerajaan Bima Bo' Sangaji Kai pada Naskah No. 34 yang ditulis sejaman Lalu Muhammad (Sultan Muhammad Kaharuddin II) menyebutkan bahwa Raja Sumbawa Dewa Masmawa Sultan Harunnurrasyid I Datu Loka merupakan cucu Dewa Maja Paruwa:[14]

Sumber BelandaSunting

Penerbit Martinus Nijhoff (1971:58) dalam "Rijks geschiedkundige publicatiën: Grote serie", Volume 134, menyebutkan: [15]

Mas Bantam en Mas Mataram, zoons van twee zusters van den Koning van Sumbawa en van den Bandjarmasinsen Raden Subangsa. Mas Bantam volgde na de afzetting van Mas Gowa in Sumbawa op; hij was gehuwd met een dochter van den Vorst van Tello en werd in 1705 opgevolgd door zijn zoon Mas Madura; hij stierf in mei 1713. (Mas Bantam dan Mas Mataram, putra dari dua saudara perempuan Raja Sumbawa dan Raden Subangsa dari Bandjarmasin. Mas Bantam berhasil [menjadi raja] setelah deposisi (menggeser) Mas Goa di Sumbawa; dia menikah dengan seorang putri Pangeran Tallo dan digantikan pada tahun 1705 oleh putranya Mas Madura; dia meninggal pada Mei 1713.)

[16][15]


Silsilah kekerabatan dengan Kesultanan BanjarSunting

Raja-raja di Sumbawa menurut naskah Hikayat Raja-raja Banjar dan Kotawaringin dan Majelis Adat - Lembaga Adat Tanah Samawa (LATS) serta Bidang Kebudayaan - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa, memiliki leluhur seorang bangsawan dari Kesultanan Banjar yang bernama Raden Subangsa bergelar Pangeran Taliwang yang menikah dengan Mas Surabaya, lalu dari pernikahan ini lahirlah seorang putra yang lahir di Taliwang bernama Raden Mataram (Raja Taliwang). Kemudian Mas Surabaya meninggal dunia sehingga Raden Subangsa menikah lagi dengan Mas Panghulu, dari pernikahan ini lahirlah seorang putera lainnya yang lahir di Sumbawa bernama Raden Bantan (Dewa Mas Bantan) yang kelak menjadi Sultan Sumbawa ke-3.[2][3][17][18][19][20][21][22][23][24][25][26]

RAJA MAJAPAHIT Bhre Kahuripan
(Prabu Hayam Wuruk Sri Rajasanagara ?)
RAJA NEGARA DIPA 4
♂ Maharaja Suria-Nata
Raden Putra
Raden Suria-Cipta
Raden Aria Gegombak Janggala Rajasa
(ayah Maharaja Suria-Ganggawangsa RAJA NEGARA DIPA 5)


↓(beristeri)


♀ Putri Junjung Buih RAJA NEGARA DIPA 3
Raden Galuh Cipta-Sari
Putri Ratna Janggala Kadiri
♂ Pangeran Suria-Wangsa
bin
Maharaja Suria-Nata


↓(beristeri)


♀ Putri Kalarang
binti
♂ Maharaja Suria-Ganggawangsa = ♀ Putri Huripan binti Lambung Mangkurat RAJA NEGARA DIPA 2 bin Empu Jat-Maka Maharaja di Candi RAJA NEGARA DIPA 1
RAJA NEGARA DIPA 6
♂ Maharaja Carang Laleyan


↓(beristeri)


♀ Putri Kalungsu RAJA NEGARA DIPA 7
binti
♂ Maharaja Suria-Ganggawangsa = ♀ Putri Huripan
RAJA NEGARA DAHA 1
♂ Maharaja Sari Kaburungan
Raden Sekar Sungsang
Panji Agung Rama Nata
♂ Raden Bangawan
(adik Maharaja Sukarama RAJA NEGARA DAHA 2)
♂ Raden Mantri Alu


↓(beristeri)


♀ Putri Galuh Baranakan
binti
Maharaja Sukarama
SULTAN BANJAR 1
m. 1500-1540[27][28]
♂ Raden Jaya Sutera
Raden Raga Samudera
Pangeran Jaya Samudera
Sultan Suryanullah
Sultan Suriansyah
anumerta: Susunan Panembahan Batu Habang
Pangeran Anom
Pangeran di Hangsana
SULTAN BANJAR 2
Sultan Rahmatullah
anumerta: Susunan Panembahan Batu Hirang
Putri Norhayati
Pangeran Demang
Dipati Demang
SULTAN BANJAR 3
Sultan Hidayatullah 1
anumerta: Susunan Panembahan Batu Putih
Raden Zakaria
SULTAN BANJAR 4
Sultan Mustain Billah
Marhum Panembahan
Raden Senapati
Gusti Kecil
Raden Kushil
(cucu dari Tuan Khatib Banun)
♂ Raden Subamanggala
Pangeran Mangkunagara
(anak dari Putri Nur Alam binti Pangeran di Laut)
Ratu Bagus
Raden Bagus
(cucu dari Kiyai Di Podok)
♂ Raden Timbakako
Pangeran Singasari
♂ Raden Timbakal
Pangeran Dipati Martasari


↓(beristeri)


♀ nyai Si Jawa
♂ Raden Subantaka
♂ Raden ModinKEDATUAN TALIWANG
Pangeran Taliwang 1
♂ Raden Marabut
Raden Subangsa
(ipar dari Dewa Mas Pamayam SULTAN SUMBAWA 1
m. 1648-1668)
♂ Raden Khatib
♀ Gusti YadaGusti PikaSULTAN SUMBAWA 3
(m. 1675-1705, + 1713)
♂ Raden Bantan
Dewa Mas Bantan
Datu Loka
Dewa Dalam Bawa
Sultan Hasanurrasyid I
(anak dengan ♀ Dewa Mas Panghulu, saudari dari Dewa Mas Pamayam)


↓(beristeri)


♀ St. Halimah Tomi Karaeng Tannisanga
binti
I Mappaijo Daeng Mannjauru
Sultan Harun Al Rasyid
anumerta Tumenanga ri Lampana
(Raja Tallo ke-10 )
RAJA TALIWANG
♂ Raden Mataram
Dewa Mas Mataram
(anak dengan ♀ Mas Surabaya saudari dari Dewa Mas Panghulu)
(disebutkan dalam surat tahun 1689)[5]
♀ Gusti Tika
RIWABATANG (PEMANGKU) SULTAN SUMBAWA
(m. 1722 – 1725)
DATU SERAN
♂ Raja Tua Datu Bala Sawo
Dewa Loka Ling Sampar
(+ 25 Agustus 1725)
SULTAN SUMBAWA 4
(m. 1702 – 1725)
DATU TALIWANG
♂ Sultan Jalaluddin Muhammad Syah I
Amasaq
Amas Samawa
Mas Madina
(+ 12 Februari 1725)
DATU JEREWEH
♂ Dewa Maja Jerewe
Mas Palembang
♀ Dewa Iya
(Permaisuri Sultan Hasanuddin, Sultan Bima)
♀ Dewa Isa Karaeng Barong Patolla
(diperistri oleh Aroe Kajoe)

Lihat pulaSunting

RujukanSunting

  1. ^ "Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Sultan-sultan Sumbawa". Universitas Teknologi Sumbawa. Diakses tanggal 18 Mei 2019. 
  2. ^ a b "Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 1". Universitas Teknologi Sumbawa. Diakses tanggal 18 Mei 2019. 
  3. ^ a b "Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 2". Universitas Teknologi Sumbawa. Diakses tanggal 18 Mei 2019. 
  4. ^ Ben Cahoon. "Indonesian Traditional States II". WORLD STATESMEN.org. Diakses tanggal 3 Juni 2019. 
  5. ^ a b Maarten Manse and Simon Kemper (2015). "Rulers in Asia (1683 – 1811): attachment to the Database of Diplomatic letters" (PDF). Arsip Nasional Republik Indonesia (dalam bahasa Inggris). University of Leiden. hlm. 57. Diakses tanggal 2019-01-05. 
  6. ^ "Sejarah Kesultanan Sumbawa". Website Resmi Pemerintah Kabupaten Sumbawa. Diakses tanggal 2019-08-06. 
  7. ^ "Sambangi Taliwang, Raja Gowa Tallo Sebut Silsilah Taliwang-Gowa Tallo Punya Hubungan Erat". kabarntb.com. Diakses tanggal 2019-19-06. 
  8. ^ "Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah". Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1978. hlm. 54. 
  9. ^ Mantja, Lalu (1984). Sumbawa pada masa dulu: suatu tinjauan sejarah. Indonesia: Rinta. 
  10. ^ Annabel Teh Gallop (2002). "Malay Seal Inscriptions: A Study in Islamic Epigraphy from Southeast Asia" (dalam bahasa Inggris). 3. University of London: 542. 
  11. ^ Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Nusa Tenggara Barat. Peninggalan sejarah dan kepurbakalaan Nusa Tenggara Barat. Indonesia: Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm. 126. 
  12. ^ "Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional (Indonesia), Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Indonesia), Proyek Peningkatan Penelitian Arkeologi Jakarta (Indonesia)". Berita penelitian arkeologi, Masalah 11-14. Indonesia: Proyek Pelita Pengembangan Media Kebudayaan, Departemen Pendidikan & Kebudayaan. 1977. hlm. 10. 
  13. ^ "Mencari Surat-Surat :: Sejarah Nusantara". Arsip Nasional Republik Indonesia. Diakses tanggal 2019-11-12. 
  14. ^ Rachmat Salahuddin, Sitti Maryam (1999). Henri Chambert-Loir, ed. Bo' Sangaji Kai: catatan kerajaan Bima. Indonesia: Ecole française d'Extrême-Orient : Yayasan Obor Indonesia, 1999. hlm. 56. ISBN 9794613398.  ISBN 9789794613399
  15. ^ a b "Netherlands. Ministerie van Binnenlandse Zaken, Netherlands. Ministerie van Onderwijs, Kunsten en Wetenschappen, Netherlands. Ministerie van Onderwijs en Wetenschappen, Netherlands. Commissie voor's Rijks Geschiedkundige Publicatiën, Netherlands. Rijkscommissie voor Vaderlandse Geschiedenis". Rijks geschiedkundige publicatiën: Grote serie (dalam bahasa Belanda). 134. Martinus Nijhoff. 1971. hlm. 58. 
  16. ^ Nederlandsche Oost-Indische Compagnie, Willem Philippus Coolhaas (1971). Generale missiven van gouverneurs-generaal en raden aan Heren XVII der Verenigde Oostindische Compagnie: deel. 1610-1638 (dalam bahasa Belanda). Martinus Nijhoff. hlm. 58. 
  17. ^ https://www.scribd.com/doc/190123982/Hikayat-Banjar
  18. ^ Ras, Johannes Jacobus (1968). Hikajat Bandjar: A study in Malay historiography (dalam bahasa Inggris). Bibliotheca Indonesica, Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (Netherlands), Martinus Nijhoff. 
  19. ^ Ras, Johannes Jacobus (1990). Hikayat Banjar (dalam bahasa Melayu). Diterjemahkan oleh Siti Hawa Salleh. Lot 1037, Mukim Perindustrian PKNS - Ampang/Hulu Kelang - Selangor Darul Ehsan, Malaysia: Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka. ISBN 9789836212405.  ISBN 983-62-1240-X
  20. ^ Rosyadi, Sri Mintosih, Soeloso, Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Indonesia) (1993). Hikayat Banjar dan Kotaringin. Indonesia: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara. hlm. 139. 
  21. ^ (Belanda) Cense, Anton Abraham (1928). De kroniek van Bandjarmasin. C.A. Mees. hlm. 54. 
  22. ^ Ras, Johannes Jacobus (1968). Johannes Jacobus Ras, ed. Hikajat Bandjar: A Study in Malay Historiography (dalam bahasa Inggris). Martinus Nijhoff. 
  23. ^ Ras, Johannes Jacobus (1968). Bibliotheca Indonesica (dalam bahasa Inggris). 1. Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde. 
  24. ^ Rogayah A. Hamid, Etty Zalita Zakaria. Inti sari karya klasik (dalam bahasa Melayu). 1. Malaysia: Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia. ISBN 9836295062.  ISBN 9789836295064
  25. ^ Hikayat Banjar, Siri karya sastera klasik untuk remaja (dalam bahasa Melayu). Malaysia: Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia. 2004. ISBN 9836280146.  ISBN 9789836280145
  26. ^ "Museum Negeri Lambung Mangkurat". Hikayat Banjar Volume 1 dari Seri penerbitan Museum Negeri Lambung Mangkurat. Indonesia: Museum Negeri Lambung Mangkurat. 1981. 
  27. ^ Hoëvel, Wolter Robert (1861). Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (dalam bahasa Belanda). 52. Ter Lands-drukkerij. hlm. 199. 
  28. ^ Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (1861). "Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (Geschiedkundige aanteekcningen omtrent zuidelijk Borneo)". 23. Ter Lands-drukkerij: 199. 

Pranala luarSunting