Qaṣr Al-Farīd (bahasa Arab: قَصْر ٱلْفَرِيْد‎), makam terbesar pada situs Madain Shaleh

Kaum Tsamūd (bahasa Arab: ثمود) adalah salah satu peradaban Arabia kuno. Mereka diperkirakan berasal dari wilayah Arab selatan yang kemudian pindah menuju utara. Mereka kemudian menetap di Gunung Athlab, Madain Shaleh.

Sejumlah besar kaum Tsamud merupakan pengukir dan pemahat bukit yang baik. Ukiran dan pahatan mereka hingga saat ini dapat ditemui di Gunung Athlab dan hampir seluruh Arab bagian tengah.[1]

AyatSunting

"Dan adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan)
daripada petunjuk itu, maka mereka disambar petir sebagai azab yang menghinakan disebabkan hal yang telah mereka kerjakan."

— Fushshilat (41): 17

GenealogiSunting

Nama Tsamud diambil dari leluhur mereka yang diyakini merupakan cicit dari Sam, salah satu putra Nuh yang selamat saat banjir. Silsilahnya adalah Tsamud bin 'Abir bin Iram bin Sam bin Nuh.[2] Pendapat lain menyatakan Tsamud bin Amid bin Iram.[3] Iram diyakini sebagai orang yang sama dengan Aram yang disebutkan dalam Alkitab. Nama lain dari Tsamud adalah Ashab Al-Hijr (Penduduk Al-Hijr).[4]

SumberSunting

Al Qur'anSunting

Dalam Al-Qur'an Tsamud disebut sebanyak 26 kali, baik dalam bentuk kata yang berdiri sendiri maupun untuk menunjukkan kaum.[3] Kisah mereka disebutkan dalam surah Al-A'raf (07): 73-79, Hud (11): 61-68, Al-Hijr (15): 80-84, Al-Isra' (17): 59, Asy-Syu'ara' (26): 141-159, An-Naml (27): 45-53, Fushshilat (41): 17-18, Al-Qamar (54): 23-32, dan Asy-Syams (91): 11-15.

Al-Qur'an menjelaskan bahwa kaum Tsamud tinggal di sebuah tempat yang bernama Al-Hijr. Dari segi waktu, mereka berkuasa setelah kehancuran kaum 'Ad.[5] Ciri khas negeri mereka adalah penduduknya memahat bukit dan gunung untuk dijadikan tempat tinggal.[6][7][8] Terdapat pula sumber mata air dan banyak perkebunan,[9] dan juga pepohonan seperti kurma.[10] Dari segi keagamaan, kaum Tsamud menyembah selain Allah dan itu sudah menjadi tradisi turun-temurun.[11]

Rasul yang diutus untuk berdakwah pada kaum Tsamud adalah Shaleh yang juga saudara sekaum mereka sendiri.[12] Namun sebagian dari mereka menentangnya, sehingga mereka mendapat azab. Azab yang diterima kaum Tsamud penentang Shaleh sebagaimana yang termaktub dalam beberapa ayat Al-Qur'an adalah:

Sumber lainSunting

Sumber non-Qur'an yang menyebutkan keberadaan kaum Tsamud adalah syair-syair Arab kuno, catatan sejarah Asyur, prasasti kuil Yunani dari Hijaz barat laut tahun 169 M, sumber Romawi Timur abad ke-5 M, dan grafiti Arab utara kuno di Tayma.

Sumber tertua mengenai kaum Tsamud adalah prasasti dari tahun 715 SM dari Raja Asyur, Sargon II, yang berkuasa pada 722–705 SM. Di sana disebutkan bahwa mereka adalah penghuni Arab bagian tengah dan utara dan merupakan bawahan dari Asyur. Sumber Islam menyatakan bahwa keberadaan kaum Tsamud sudah lebih tua dari tanggal prasasti tersebut.[18]

Kaum Tsamud disebut 'Tamudei' oleh Aristo dari Khios (filsuf Stoikisme), Klaudius Ptolemaeus (ahli matematika dan geografi Mesir pada masa Romawi), dan Plinius Tua (sejarawan dan filsuf Romawi).[19]

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menjelaskan bahwa kaum Tsamud menggantikan kaum 'Ad setelah mereka hancur. Tsamud kemudian digantikan bangsa Amalek. Amalek kemudian digantikan oleh Himyar. Himyar kemudian digantikan oleh Adhwa', sampai kekuasaan beralih ke tangan Mudar, sebuah persekutuan suku Arab utara.[20]

TempatSunting

Kaum Tsamud tinggal di kawasan bernama Al-Hijr (ٱلْحِجْر), disebut Hegra (Ἔγρα) dalam sumber Yunani kuno,[21][22] terletak di kawasan pegunungan di semenanjung Arab bagian utara, antara Hijaz dan Tabuk.[2] Tempat tersebut kemudian dinamai Madain Shaleh (bahasa Arab: مدائن صالح‎) yang bermakna "Kota Shaleh."

Ada beberapa bukti bahwa, sebagaimana kaum 'Ad, kaum Tsamud juga berasal dari semenanjung Arab selatan. Namun kemudian mereka berpindah ke utara.[23][24]

KebangsaanSunting

Sangat sedikit informasi yang diketahui tentang identitas atau kebangsaan kaum Tsamud, tetapi mereka disebut sebagai orang Arab (‘àrabes) di Bibliotheka historika oleh sejarawan Yunani Diodoros Sikolos.[25] Keterangan yang diberikan oleh Patriark Photios I terkait kaum Tsamud menunjukkan bahwa mereka memiliki status yang mirip dengan suku Kedar yang diidentifikasikan sebagai orang Arab.[26] Pada tahun 2003, Profesor Jan Retsö[27] dalam sebuah penelitian dalam bukunya The Arabs in Antiquity menyimpulkan bahwa kaum Tsamud adalah orang Arab.[26]

Sejarawan Romawi Plinius Tua menyatakan bahwa kaum Tsamud ("Tamudaei") dan kelompok etnis Arab lainnya hidup di antara dan di dekat kota Domata,[28] orang Arab yang berafiliasi dengan putra Ismail, Duma, yang keturunannya menjadi bangsa pemahat batu Edom. Perubahan dari "Dumah" atau "Dumat" ke "Tsamud" dapat dikaitkan dengan vokal yang tidak terlambangkan dalam bahasa Semit tertulis serta pergeseran bertahap pengucapan konsonan dan dialek karena perubahan waktu dan perpindahan lokasi suku-suku nomaden.

Penggunaan namaSunting

Setelah lenyapnya kaum Tsamud yang asli, Robert Hoyland berpendapat bahwa nama mereka kemudian digunakan oleh kelompok-kelompok baru lainnya yang mendiami wilayah tersebut.[29] Saran ini didukung oleh 'Abdullah bin ʿUmar dan Ibnu Katsir yang melaporkan bahwa orang-orang menyebut daerah Tsamud dengan Al-Hijr, sementara mereka menyebut provinsi Madain Shaleh sebagai Ardh Tsamud (negeri Thamud) dan Bayt Tsamud (kediaman Tsamud).[30][31] Kesimpulan yang dapat diambil dari bukti-bukti di atas adalah bahwa istilah 'Tsamud' tidak merujuk pada kelompok yang tinggal di Madain Shaleh, seperti Lihyan dan Nabath,[32][33] tetapi lebih pada wilayah itu sendiri.

Lihat pulaSunting

RujukanSunting

  1. ^ Encyclopædia Britannica Online
  2. ^ a b Ibnu Katsir 2014, hlm. 163.
  3. ^ a b Abu Khalil, Shawqi (2003). Athlas al-Hadith al-Nabawi Minal Kutub ash-Shihah as-Sittah. Damaskus: Darul Fikr. 1-59239-148-6. 
  4. ^ Temuan Arkeologis dari Kaum Tsamud [1] di Majelis Rasulallah
  5. ^ Asy-Syu'ara' 26:149
  6. ^ Al-A'raf 7:74
  7. ^ Al-Hijr 15:82
  8. ^ Asy-Syu'ara' 26:149
  9. ^ Asy-Syu'ara' 26:147
  10. ^ Asy-Syu'ara' 26:148
  11. ^ Hud 11:62
  12. ^ Al-A'raf 7:73
  13. ^ Al-A'raf 07:78
  14. ^ Hud 11:67
  15. ^ Al-Hijr 15:83
  16. ^ Al-Qamar 54:31
  17. ^ Fussilat 41:17
  18. ^ Houtsma, M. Th.; et al., ed. (1913–1936). E.J. Brill's First Encyclopaedia of Islam. E. J. Brill. 
  19. ^ Hitti, Phillip (1970). A History of the Arabs. London: Macmillan Publishers. hlm. 37. 
  20. ^ Ibn Khaldun. "Chapter 2.21". Muqaddimah. Diterjemahkan oleh Rosenthal, Franz. 
  21. ^ Stephanus of Byzantium, Ethnica, §E260.11
  22. ^ Strabo, Geography, § 16.4.24
  23. ^ "Encyclopædia Britannica, Thamūd". Thamūd probably originated in southern Arabia 
  24. ^ Matthew S. Gordon, Chase F. Robinson, Everett K. Rowson, Michael Fishbein. Works of Ibn Wāḍiḥ al-Yaʿqūbī (Volume 2): An English Translation. hlm. 277 ff. 
  25. ^ Siculus, Diodorus (1933). Walton, Francis R., ed. Diodorus of Sicily in Twelve Volumes. 2 (Books 2.35-4.58). Diterjemahkan oleh Oldfather, C. H. London; Cambridge (Mass.). hlm. 219. ISBN 978-0-674-99334-1. 
  26. ^ a b Retsö, Jan (2003). The Arabs in Antiquity: Their History from the Assyrians to the Umayyads. Psychology Press. hlm. 299. 
  27. ^ "Jan Retsö". University of Gothenburg. 
  28. ^ Pliny the Elder (1949–1954). Natural History. Diterjemahkan oleh Rackham, H.; Jones, W.H.S.; Eichholz, D.E. London: William Heinemann. Book VI. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-12-29. Diakses tanggal 2017-01-01. 
  29. ^ Hoyland, Robert G. (2001). Arabia and the Arabs: From the Bronze Age to the Coming of Islam. Routledge. hlm. 69. ISBN 0415195349. 
  30. ^ Shahih Bukhari, diriwayatkan ʿAbdullah bin ʿUmar, Hadits 2116 & 3379
  31. ^ Ibnu Katsir (2003). Al-Bidayah wan Nihayah [The Beginning and The End]. 1. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyya. hlm. 159. 
  32. ^ The New Encyclopædia Britannica: Macropædia. 13. USA: Encyclopædia Britannica, Inc. 1995. hlm. 818. 
  33. ^ "History of Arabia". Encyclopædia Britannica Online. Dedān and Al-Ḥijr. 

Daftar pustakaSunting

Pranala luarSunting