Kota Bukittinggi

Kota di Provinsi Sumatera Barat, Indonesia
(Dialihkan dari Bukittinggi)

Kota Bukittinggi (bahasa Minangkabau: Bukiktinggi; Jawi, بوكيق تيڠڬي) adalah kota dengan perekonomian terbesar kedua di Provinsi Sumatra Barat, Indonesia.[5] Kota ini pernah menjadi ibu kota Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia.[6][7] Kota ini juga pernah menjadi ibu kota Provinsi Sumatra dan Provinsi Sumatra Tengah.[8] Kota ini pada zaman kolonial Belanda disebut dengan Fort de Kock dan mendapat julukan sebagai Parijs van Sumatra. Bukittinggi dikenal sebagai kota perjuangan bangsa dan merupakan tempat kelahiran beberapa tokoh pendiri Republik Indonesia, di antaranya adalah Mohammad Hatta dan Assaat yang masing-masing merupakan proklamator dan pejabat presiden Republik Indonesia.

Kota Bukittinggi
كوتو بوكيق تيڠڬي
Salah satu sudut Kota Bukittinggi
Balai Kota BukittinggiJalan Ahmad Yani dilihat dari Jembatan Limpapeh
Jenjang Koto GadangNgarai Sianok
Dari atas, kiri ke kanan: Salah satu sudut Kota Bukittinggi, panorama dari Gunung Marapi, patung Tuanku Imam Bonjol, Jam Gadang, Jembatan Limpapeh, Balai kota, Jalan Ahmad Yani, Jenjang Koto Gadang, Ngarai Sianok.
Official logo of Kota Bukittinggi كوتو بوكيق تيڠڬي
[[Kota Bukittinggi|]]
Julukan: 
Londen van Andalas
Motto: 
Saayun Salangkah (Bahasa Minang: Seayun selangkah, bermakna persatuan dan kesatuan.[1])
Letak Bukittinggi di Sumatra Barat
Letak Bukittinggi di Sumatra Barat
Kota Bukittinggi كوتو بوكيق تيڠڬي berlokasi di Indonesia
Kota Bukittinggi كوتو بوكيق تيڠڬي
Kota Bukittinggi
كوتو بوكيق تيڠڬي
Letak Bukittinggi di Indonesia
NegaraIndonesia
ProvinsiSumatra Barat
Pemerintahan
 • Wali kotaErman Safar
Luas
 • Total25,24 km2 (9,75 sq mi)
Populasi
 (2020[2])
 • Total121.028
 • KepadatanBad rounding here4,800/km2 (Bad rounding here12,000/sq mi)
Zona waktuUTC+7 (WIB)
Kode area+62 752
Situs webwww.bukittinggikota.go.id

Kota Bukittinggi terletak pada rangkaian Pegunungan Bukit Barisan atau sekitar 90 km arah utara dari Kota Padang. Kota ini berada di tepi Ngarai Sianok dan dikelilingi oleh dua gunung yaitu Gunung Singgalang dan Gunung Marapi. Lokasinya pada ketinggian 909–941 mdpl menjadikan Bukittinggi kota berhawa sejuk dengan suhu berkisar antara 16.1–24.9 °C. Luas Bukittinggi secara de jure adalah 145,29 km², mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 84 tahun 1999.[9] Namun, karena penolakan sebagian masyarakat Kabupaten Agam, luas wilayah secara de facto saat ini adalah 25,24 km², yang menjadikan Bukittinggi sebagai salah satu kota dengan wilayah tersempit di Indonesia.

Kota Bukittinggi merupakan salah satu pusat perdagangan grosir terbesar di Pulau Sumatra. Pusat perdagangan utamanya terdapat di Pasar Ateh, Pasar Bawah, dan Pasar Aur Kuning. Dari sektor perekonomian, Bukittinggi merupakan kota dengan PDRB terbesar kedua di Sumatra Barat, setelah Kota Padang.[10] Tempat wisata yang ramai dikunjungi adalah Jam Gadang, yaitu sebuah menara jam yang terletak di jantung kota sekaligus menjadi simbol bagi Bukittinggi.

SejarahSunting

Kota Bukittinggi semula merupakan pasar (pekan) bagi masyarakat Agam Tuo. Setelah kedatangan Belanda, kota ini menjadi kubu pertahanan mereka untuk melawan Kaum Padri.[11] Pada tahun 1825, Belanda mendirikan benteng di salah satu bukit yang terdapat di dalam kota ini. Tempat ini dikenal sebagai benteng Fort de Kock, sekaligus menjadi tempat peristirahatan opsir-opsir Belanda yang berada di wilayah jajahannya. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, kawasan ini selalu ditingkatkan perannya dalam ketatanegaraan yang kemudian berkembang menjadi sebuah stadsgemeente (kota),[12] dan juga berfungsi sebagai ibu kota Afdeeling Padangsche Bovenlanden dan Onderafdeeling Oud Agam.[13]

Pada masa pendudukan Jepang, Bukittinggi dijadikan sebagai pusat pengendalian pemerintahan militernya untuk kawasan Sumatra, bahkan sampai ke Singapura dan Thailand. Kota ini menjadi tempat kedudukan komandan militer ke-25 Kempetai, di bawah pimpinan Mayor Jenderal Hirano Toyoji.[14] Kemudian kota ini berganti nama dari Stadsgemeente Fort de Kock menjadi Bukittinggi Si Yaku Sho yang daerahnya diperluas dengan memasukkan nagari-nagari sekitarnya seperti Sianok Anam Suku, Gadut, Kapau, Ampang Gadang, Batu Taba, dan Bukit Batabuah. Sekarang nagari-nagari tersebut masuk ke dalam wilayah Kabupaten Agam.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Bukittinggi ditetapkan sebagai Ibu Kota Provinsi Sumatra, dengan gubernurnya Mr. Teuku Muhammad Hasan.[15] Kemudian Bukittinggi juga ditetapkan sebagai wilayah pemerintahan kota berdasarkan Ketetapan Gubernur Provinsi Sumatra Nomor 391 tanggal 9 Juni 1947.

Pada masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Kota Bukitinggi berperan sebagai kota perjuangan, ketika pada tanggal 19 Desember 1948 kota ini ditunjuk sebagai Ibu Kota Negara Indonesia setelah Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda atau dikenal dengan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Di kemudian hari, peristiwa ini ditetapkan sebagai Hari Bela Negara, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia tanggal 18 Desember 2006.[16][17]

Selanjutnya Kota Bukittinggi menjadi kota besar berdasarkan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1956 tentang pembentukan daerah otonom kota besar dalam lingkungan daerah Provinsi Sumatra Tengah masa itu,[18] yang meliputi wilayah Provinsi Sumatra Barat, Jambi, Riau, dan Kepulauan Riau sekarang.

Dalam rangka perluasan wilayah kota, pada tahun 1999 pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 1999 yang isinya menggabungkan nagari-nagari di sekitar Bukittinggi ke dalam wilayah kota. Nagari-nagari tersebut yaitu Cingkariang, Gaduik, Sianok Anam Suku, Guguak Tabek Sarojo, Ampang Gadang, Ladang Laweh, Pakan Sinayan, Kubang Putiah, Pasia, Kapau, Batu Taba, dan Koto Gadang.[19] Namun, sebagian masyarakat Kabupaten Agam menolak untuk bergabung dengan Bukittinggi sehingga, peraturan tersebut hingga saat ini belum dapat dilaksanakan.[20]

GeografiSunting

Kota Bukittinggi terletak pada rangkaian Bukit Barisan yang membujur sepanjang pulau Sumatra, dan dikelilingi oleh dua gunung berapi yaitu Gunung Singgalang dan Gunung Marapi. Kota ini berada pada ketinggian 909–941 meter di atas permukaan laut, dan memiliki hawa sejuk dengan suhu berkisar antara 16.1–24.9 °C. Sementara itu, dari total luas wilayah Kota Bukittinggi saat ini (25,24 km²), 82,8% telah diperuntukkan menjadi lahan budidaya, sedangkan sisanya merupakan hutan lindung.

Kota ini memiliki topografi berbukit-bukit dan berlembah, beberapa bukit tersebut tersebar dalam wilayah perkotaan, di antaranya Bukit Ambacang, Bukit Tambun Tulang, Bukit Mandiangin, Bukit Campago, Bukit Kubangankabau, Bukit Pinang Nan Sabatang, Bukit Canggang, Bukit Paninjauan, dan sebagainya. Selain itu, terdapat lembah yang dikenal dengan Ngarai Sianok dengan kedalaman yang bervariasi antara 75–110 m, yang di dasarnya mengalir sebuah sungai yang disebut dengan Batang Masang.

Data iklim Bukittinggi
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Rata-rata harian °C (°F) 23.7
(74.7)
23.7
(74.7)
23.9
(75)
24.4
(75.9)
24.4
(75.9)
23.7
(74.7)
23.6
(74.5)
23.7
(74.7)
24.0
(75.2)
24.4
(75.9)
24.3
(75.7)
23.9
(75)
24.0
(75.2)
Presipitasi mm (inci) 251.8
(9.913)
215.3
(8.476)
244.6
(9.63)
282.6
(11.126)
165.8
(6.528)
106.6
(4.197)
108.7
(4.28)
127.2
(5.008)
167.4
(6.591)
176.3
(6.941)
215.6
(8.488)
228.3
(8.988)
2.290,2
(90,165)
Rata-rata hari hujan atau bersalju 16.7 14.0 16.5 18.6 16.3 13.7 14.4 16.3 18.0 21.1 22.7 21.0 209.3
Sumber: [21]

PendudukSunting

 
Ruas Jalan Sudirman yang asri

Perkembangan penduduk Bukittinggi tidak terlepas dari berubahnya peran kota ini menjadi pusat perdagangan di dataran tinggi Minangkabau. Hal ini ditandai dengan dibangunnya pasar oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1890 dengan nama loods. Masyarakat setempat mengejanya dengan loih, dengan atap melengkung kemudian dikenal dengan nama Loih Galuang.

Saat ini Bukittinggi merupakan kota terpadat di Provinsi Sumatra Barat, dengan tingkat kepadatan mencapai 4.400 jiwa/km². Jumlah angkatan kerja sebanyak 52.631 orang dan sekitar 3.845 orang di antaranya merupakan pengangguran.[4] Kota ini didominasi oleh etnis Minangkabau, namun terdapat juga etnis Melayu, Tionghoa, Jawa, Tamil, dan Batak.

Masyarakat Tionghoa datang bersamaan dengan munculnya pasar-pasar di Bukittinggi. Mereka diizinkan pemerintah Hindia Belanda membangun toko/kios pada kaki bukit Benteng Fort de Kock, yang terletak di bagian barat kota, membujur dari selatan ke utara, dan saat ini dikenal dengan nama Kampung Cino. Sementara pedagang India ditempatkan di kaki bukit sebelah utara, melingkar dari arah timur ke barat dan sekarang disebut juga Kampung Keling.

Tahun 2008 2010
Jumlah penduduk 106.045   110.954
Sejarah kependudukan kota Bukittinggi
Sumber:[4][22]

PemerintahanSunting

Daftar Wali KotaSunting

No Wali Kota[23] Mulai menjabat Akhir menjabat Prd. Ket. Wakil Wali Kota
1
  Bermawi Sutan Rajo Ameh
1945
1945
2
  Iskandar Tedjasukmana
1945
1945
3
  Djamin Datuk Bagindo
1945
1947
4
Aziz Karim
5
  Eni Karim
6
  Saadudin Jambek[24]
1950
1952
7
  Nauman Djamil Dt. Mangkuto Ameh
1952
1957
8
MB. Dt. Majo Basa Nan Kuning
9
Syahbuddin Latif Dt. Sibungsu
10
  dr.
Abdoel Rivai
1958
1959
11
  Baharuddin Kamil
1959
1960
12
  Anwar Maksum Marah Sutan
1960
1966
13
  Prof.
M. Asril
SH
1966
1968
14
  H.
A. Kamal
SH
1968
1976
15
  Drs.
Masri
1976
1978
16
  Drs.
Oemar Gaffar
1978
1983
17
  Drs.
B. Burhanuddin
1983
1988

-

  Drs. H.
Hasan Basri
(Pelaksana tugas)
1988
1989
18
  H.
Armedi Agus
1989
1999

-

  Drs.
Rusdi Lubis
(Pelaksana tugas)
1999
2000
19
  Drs. H.
Djufri
2000
2005

-

  Drs. H.
Oktisir Sjovijerli Asir
(Pelaksana tugas)
2005
2005
(19)
  Drs. H.
Djufri
2005
2010
20
  H.
Ismet Amzis
S.H.
13 Agustus 2010
13 Agustus 2015
Harma Zaldi
-
  H.
Abdul Gafar
S.E., M.M.
(Penjabat)
13 Agustus 2015
17 Februari 2016
21
  H.
Ramlan Nurmatias
S.H.
17 Februari 2016
17 Februari 2021
Irwandi
-
  H.
Yuen Karnova
S.E., M.E.
(Pelaksana Harian)
17 Februari 2021
26 Februari 2021
[25]
22
  H.
Erman Safar
S.H.
26 Februari 2021
Petahana
[26]
Marfendi
 
Balai kota Bukittinggi

Sejak tahun 1918 Kota Bukittinggi telah berstatus gemeente,[27] selanjutnya tahun 1930 wilayah kota ini diperluas menjadi 5.2 km².[28] Pada masa pendudukan Jepang wilayah kota ini kembali diperluas. Kemudian di awal kemerdekaan Indonesia terjadi tumpang tindih batas-batas wilayah kota ini karena penetapan sepihak baik masa Hindia Belanda maupun Jepang.

Saat ini batas wilayah pemerintahan kota dikelilingi oleh Kabupaten Agam, dan konfik antara kedua pemerintah daerah tersebut tentang batas wilayah masih berlanjut,[29] ditambah setelah keluarnya Peraturan Pemerintah No. 84 Tahun 1999 tentang perubahan batas wilayah Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam. Dari peraturan pemerintah (PP) ini luas wilayah Kota Bukittinggi bertambah menjadi 145.29,90 km², dengan memasukkan beberapa nagari yang sebelumnya pada masa pendudukan Jepang berada dalam wilayah administrasi Kota Bukittinggi.[30]

Namun seiring bergulirnya reformasi pemerintahan yang memberikan hak otonomi yang luas kepada kabupaten dan kota, muncul kembali penolakan dari masyarakat Kabupaten Agam atas perluasan dan pengembangan wilayah Kota Bukittinggi tersebut. Bagi masyarakat Kabupaten Agam yang masuk ke dalam wilayah perluasan kota ini, merasa rugi karena dengan kembalinya penerapan model pemerintahan nagari lebih menjanjikan, dibandingkan berada dalam sistem kelurahan. Selain itu timbul asumsi, masyarakat kota yang telah heterogen juga dikhawatirkan akan memberikan dampak kepada tradisi adat dan kekayaan yang selama ini dimiliki oleh nagari.

Dewan PerwakilanSunting

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kota Bukittinggi dalam tiga periode terakhir.

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2009-2014[31] 2014-2019[32] 2019-2024[33]
  PKB 0   1   1
  Gerindra 1   4   5
  PDI Perjuangan 0   1 0
  Golkar 3   4 3
  NasDem (baru) 1   2
  PKS 3   3   5
  PPP 3   3 2
  PAN 3 1   3
  Hanura 2   3 0
  Demokrat 8 4   4
  PBB 1 0   0
  PKPI 1 0   0
Jumlah Anggota 25   25   25
Jumlah Partai 9   10 8

KecamatanSunting

Kota Bukit Tinggi memiliki 3 kecamatan dan 24 kelurahan. Luas wilayahnya mencapai 25,24 km² dan penduduk 115.986 jiwa (2017) dengan sebaran 4.595 jiwa/km².[34]

PendidikanSunting

Sejak zaman kolonialis Belanda, kota ini telah menjadi pusat pendidikan di Pulau Sumatra.[35] Dimulai sejak tahun 1872, dengan berdirinya Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers (sekolah guru untuk guru-guru bumiputra) atau dikenal juga dengan nama sekolah radja, yang selanjutnya berkembang menjadi volksschool atau sekolah rakyat. Kemudian pada tahun 1912 muncul Hollandsch Inlandsche School (HIS), yang dilanjutkan dengan berdirinya Sekolah Pamong Opleiding School voor Inlandsch Ambtenaren (OSVIA) tahun 1918. Pada tahun 1926 juga telah berdiri MULO di Kota Bukittinggi.[36]

Pada masa awal kemerdekaan di kota ini pernah berdiri sekolah Polwan dan Kadet serta sekolah Pamong Praja yang pertama di Indonesia.[37] Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dan FKIP Universitas Andalas (sekarang Universitas Negeri Padang) juga pertama kali didirikan di kota ini sebelum dipindahkan ke Kota Padang.[38]

Pendidikan formal TK SD atau MI negeri dan swasta SMP atau MTs negeri dan swasta SMA negeri dan swasta MA negeri dan swasta SMK negeri dan swasta Perguruan tinggi
Jumlah satuan 34 65 19 11 5 13 18
Data sekolah di kota Bukittinggi
Sumber:
[39][40][41]

KesehatanSunting

Kota Bukittinggi telah memiliki pelayanan kesehatan yang baik, kota dengan luas relatif kecil ini telah memiliki 5 rumah sakit, yaitu 3 milik pemerintah dan 2 milik swasta. Selain itu, juga didukung oleh 5 puskesmas, 6 puskesmas keliling, dan 15 puskesmas pembantu. Salah satu yang utama adalah Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Achmad Mochtar, merupakan rumah sakit umum milik pemerintah bertipe B dengan jumlah tempat tidur sebanyak 299.[42]

Rumah Sakit Stroke Nasional yang terdapat di kota ini, merupakan rumah sakit milik pemerintah dengan pelayanan khusus penyakit stroke, dan memiliki jumlah tempat tidur sebanyak 124 buah.[43][44] Rumah sakit ini merupakan rumah sakit khusus pengobatan stroke pertama di Indonesia dan ketiga di dunia.[38] Selain itu terdapat juga Rumah Sakit Islam Ibnu Sina, sebuah rumah sakit swasta yang telah memiliki kapasitas tempat tidur sebanyak 136 buah.[42]

Sementara itu untuk meningkatkan ketersediaan dan kualitas tenaga kesehatan dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat, sampai tahun 2009 terdapat delapan institusi pendidikan tenaga kesehatan di Kota Bukittinggi. Dua institusi milik pemerintah (Poltekes) dan enam dikelola oleh pihak swasta.[42]

PerhubunganSunting

Kota Bukittinggi berada pada posisi strategis Jalur Lintas Sumatra, yang menghubungkan Padang, Medan, dan Palembang, serta berada di antara Padang dan Pekanbaru. Terminal Aur Kuning merupakan terminal utama untuk angkutan transportasi darat di kota ini. Sementara untuk transportasi dalam kota, tersedia angkutan kota, taksi, dan bendi (kereta kuda). Berdasarkan catatan Dinas Pekerjaan Umum, seluruh jalan di kota ini panjangnya mencapai 196 km, termasuk jalan negara dan jalan provinsi.

Sebelumnya kota ini dilalui oleh jalur kereta api yang menghubungkan Payakumbuh dan Padang yang dibangun sekitar awal abad ke-20. Namun pada dekade 1970-an, sarana transportasi ini tidak diaktifkan lagi. Kota ini juga telah memiliki sarana transportasi udara non-kelas yang bernama Bandar Udara Gadut.[45]

EkonomiSunting

 
Lubang Jepang di Bukittinggi
 
Pasar Atas
 
Suasana pasar di dekat Benteng Fort de Kock, sekitar 1900.

Perkembangan pasar Loih Galuang yang sekarang disebut juga Pasar Ateh, membuat pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1900 mengembangkan sebuah loods ke arah timur, tepatnya pada kawasan pinggang bukit yang berdekatan dengan selokan yang mengalir di kaki bukit. Karena lokasi pasar tersebut berada di kemiringan, masyarakat setempat menyebutnya dengan nama Pasar Teleng (Miring) atau Pasar Lereng. Perkembangan berikutnya di sekitar kawasan tersebut muncul lagi beberapa pasar, di antaranya Pasar Bawah dan Pasar Banto. Pasar-pasar tradisional di sekitar kawasan Jam Gadang ini, kemudian berkembang menjadi tempat penjualan hasil kerajinan tangan dan cendera mata khas Minangkabau. Dalam penataan pasar, pemerintah Hindia Belanda juga menghubungkan setiap pasar tersebut dengan janjang (anak tangga), dan di antara anak tangga yang terkenal adalah Janjang 40.

Untuk mengurangi penumpukan pada satu kawasan, pemerintah Bukittinggi kemudian mengembangkan kawasan perkotaan ke arah timur dengan membangun Pasar Aur Kuning, yang saat ini merupakan salah satu pusat perdagangan grosir terbesar di Pulau Sumatra. Disebabkan luas wilayah yang kecil, sektor perdagangan merupakan salah satu pilihan bagi pemerintah Bukittinggi dalam meningkatkan pendapatan penduduknya.

Selain itu pemerintah Bukittinggi juga menelurkan beberapa program dalam mengentaskan kemiskinan, di antaranya pelatihan keterampilan membordir dan pelatihan pembuatan kebaya, serta penumbuhan wirausaha baru.[46] Bordir asli Bukittinggi biasanya menggunakan teknik krancang langsung yang tergolong rumit dan memakan waktu. Ini berbeda dengan barang hasil serupa buatan Tasikmalaya, Jawa Barat yang menggunakan teknik krancang solder.[47]

PariwisataSunting

Industri pariwisata merupakan salah satu sektor andalan Kota Bukittinggi. Banyaknya objek wisata yang menarik, menjadikan kota ini dijuluki sebagai "kota wisata". Pada tahun 2012, jumlah wisatawan mancanegara yang mengunjungi kota ini mencapai 26.629 orang.[48] Saat ini di Bukittinggi terdapat sekitar 60 hotel dan 15 biro perjalanan.[49] Hotel-hotel yang terdapat di Bukittinggi antara lain The Hills, Hotel Pusako, dan Grand Rocky Hotel.

Ngarai Sianok merupakan salah satu objek wisata utama. Taman Panorama yang terletak di dalam kota Bukittinggi memungkinkan wisatawan untuk melihat keindahan pemandangan Ngarai Sianok. Di dalam Taman Panorama juga terdapat gua bekas persembunyian tentara Jepang sewaktu Perang Dunia II yang disebut dengan Lubang Japang. Untuk mengunjungi nagari Koto Gadang di bawah ngarai, wisatawan bisa melalui Janjang Koto Gadang. Jenjang yang memiliki panjang sekitar 1 km ini, memiliki desain seperti Tembok Besar Tiongkok.[50]

Di Taman Bundo Kanduang terdapat replika Rumah Gadang yang berfungsi sebagai museum kebudayaan Minangkabau. Kebun Binatang Bukittinggi dan Benteng Fort de Kock, dihubungkan oleh jembatan penyeberangan yang disebut Jembatan Limpapeh. Jembatan penyeberangan Limpapeh berada di atas Jalan A. Yani yang merupakan jalan utama di Kota Bukittinggi.

Pasar Ateh (Pasar Atas) berada berdekatan dengan Jam Gadang yang merupakan pusat keramaian kota. Di Pasar Ateh terdapat banyak penjual kerajinan tangan dan bordir,[51] serta makanan kecil oleh-oleh khas Sumatra Barat, seperti keripik sanjai (keripik singkong ala daerah Sanjai di Bukittinggi) yang terbuat dari singkong, karupuak jangek yang dibuat dari bahan kulit sapi atau kerbau, dan karak kaliang, sejenis makanan kecil khas Bukittinggi yang berbentuk seperti angka 8.

OlahragaSunting

Masyarakat Bukittinggi sangat menyukai olahraga berkuda, dan setiap tahunnya kota ini mengadakan lomba pacuan kuda di Bukit Ambacang, yang sudah diselenggarakan sejak tahun 1889.[11] Perlombaan pacuan kuda ini merupakan rangkaian perlombaan pacuan kuda yang diadakan di beberapa kawasan lain di Sumatra Barat. Dengan adanya perlombaan ini, mendorong para peternak kuda untuk tetap bertahan dan memanfaatkan tradisi ini sebagai sumber mata pencarian.[52]

Pers dan MediaSunting

Sekitar tahun 1924 di kota ini diterbitkan surat kabar Periodik yang dipimpin oleh S. Moesjafir, kemudian disusul penerbitan surat kabar mingguan Doenia Achirat oleh Sain al Malik dan Soetan Perpatih, namun surat kabar ini tidak berumur panjang. Selain itu beberapa tokoh pers wanita di kota ini seperti Djanewar Djalil dan Sjamsidar Jahja juga menerbitkan surat kabar Soeara Poetri yang mengetengahkan beberapa isu emansipasi wanita.[53]

Pada masa pendudukan Jepang, di kota ini pernah didirikan pemancar radio terbesar untuk Pulau Sumatra. Pemancar ini dalam rangka mengibarkan semangat rakyat untuk menunjang kepentingan Perang Asia Timur Raya versi Jepang.[54] Di kota ini terdapat beberapa stasiun pemancar radio sebagai sarana informasi dan hiburan masyarakat, antara lain: RRI Bukittinggi, Elsi FM[55], SK FM[56], dan GRC FM.[57]

Kota SaudaraSunting

Kota lain yang menjadi Sister City dari kota Bukittinggi adalah:

GaleriSunting

ReferensiSunting

  1. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-09-18. Diakses tanggal 2020-08-25. 
  2. ^ Kota Bukittinggi Dalam 2021
  3. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-02-14. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  4. ^ a b c sumbar.bps.go.id Jumlah Penduduk Kota Bukittinggi Diarsipkan 2012-01-25 di Wayback Machine.
  5. ^ "Pola dan Model Keruangan Kualitas Penerimaan Sinyal Telepon Seluler di Kota Bukittinggi". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-10-04. Diakses tanggal 2013-12-26. 
  6. ^ Mestika Zed, Eddy Utama, Hasril Chaniago; Sumatra Barat di panggung sejarah, 1945-1995; Panitia Peringatan 50 Tahun RI, 1995.
  7. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-01-01. Diakses tanggal 2020-01-01. 
  8. ^ Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo Toer, Ediati Kamil; Kronik Revolusi Indonesia: 1947, Kepustakaan Populer Gramedia, 2001
  9. ^ http://penataanruang.pu.go.id/bulletin/index.asp?mod=_fullart&idart=94[pranala nonaktif permanen]
  10. ^ Bukittinggi - Kompaspedia[pranala nonaktif permanen]
  11. ^ a b Asnan, Gusti, (2003), Kamus sejarah Minangkabau, Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau, ISBN 978-979-97407-0-0.
  12. ^ Sujamto, (1991), Cakrawala otonomi daerah, Sinar Grafika, ISBN 978-979-8061-17-2.
  13. ^ http://www.docstoc.com Diarsipkan 2021-03-05 di Wayback Machine. Pembangunan-infrastruktur Kota Bukittinggi masa kolonial Belanda Diarsipkan 2011-02-18 di Wayback Machine. (diakses pada 29 Juni 2010)
  14. ^ Barbara Gifford Shimer & Guy Hobbs, (2010), The Kenpeitai in Java and Sumatra, Equinox Publishing, ISBN 978-602-8397-10-0.
  15. ^ Hasan, Teuku Moehammad (1991). Meester Teuku Moehammad Hasan memoir gubenur Sumatra dari Aceh ke pemersatu bangsa. Papas Sinar Sinanti. ISBN 979-9314-00-3. 
  16. ^ http://www.setneg.go.id Diarsipkan 2012-02-02 di WebCite Hari Bela Negara Diarsipkan 2012-06-12 di Wayback Machine..
  17. ^ Hakiem, Lukman, (2008), 100 tahun Mohammad Natsir: berdamai dengan sejarah, Penerbit Republika, ISBN 978-979-1102-31-5.
  18. ^ hukum.unsrat.ac.id Undang-undang Nomor 9 Tahun 1956 Diarsipkan 2011-11-05 di Wayback Machine. (diakses pada 29 Juni 2010)
  19. ^ "Harian Haluan". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-03-12. Diakses tanggal 2012-05-25. 
  20. ^ http://www.pu.go.id Diarsipkan 2010-06-27 di Wayback Machine. Pemkot Bukittinggi Bertekad Menata Kembali Ruang Kota-nya Diarsipkan 2020-10-24 di Wayback Machine. (diakses pada 26 Juni 2010)
  21. ^ "Bukittinggi, Indonesia Travel Weather Averages". Weatherbase. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-03-07. Diakses tanggal 7 Maret 2016. 
  22. ^ "BPS Kota Bukittinggi". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-04-24. Diakses tanggal 2019-12-18. 
  23. ^ "Sejarah Kota Bukittingi". Pemerintahan Kota Bukittinggi. Pemerintahan Kota Bukittinggi. Diakses tanggal 3 Januari 2018. 
  24. ^ https://www.zwp-lbstudie.nl/ned-indie/ptt/Telf-Gids/Telefoongids-Sumatra-WKP-Pd-1951-KIT.pdf
  25. ^ https://padangkita.com/ramlan-nurmatias-akhiri-jabatan-sekda-yuen-karnova-jadi-plh-wako-bukittinggi/
  26. ^ https://padangkita.com/gubernur-sumbar-mahyeldi-lantik-11-kepala-daerah-ingatkan-visi-misi-harus-sesuai-dengan-provinsi/
  27. ^ Staadblats van Nederlandsch-Indie, 310, 1918.
  28. ^ Besluit van Gouverneur General, 25, 1930.
  29. ^ Haris, Syamsuddin, (2004), Desentralisasi dan otonomi daerah: Naskah akademik dan RUU usulan LIPI, Yayasan Obor Indonesia, ISBN 978-979-98014-1-8.
  30. ^ hukum.unsrat.ac.id Peraturan Pemerintah RI No. 84 Tahun 1999 Diarsipkan 2011-11-05 di Wayback Machine. (diakses pada 26 Juni 2010)
  31. ^ caleg-sumbar.com Caleg Terpilih Kota Bukittinggi
  32. ^ Perolehan Kursi DPRD Kota Bukittinggi 2014-2019
  33. ^ Perolehan Kursi DPRD Kota Bukittinggi 2019-2024
  34. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Permendagri
  35. ^ Abdullah, Taufik, (2009), Schools and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatra (1927-1933), Equinox Publishing, ISBN 978-602-8397-50-6.
  36. ^ Azizah Etek, Mursyid A. M., Arfan B. R., (2008), Kelah sang demang Jahja Datoek Kajo: pidato otokritik di Volkstraad, 1927-1939, PT LKiS Pelangi Aksara, ISBN 978-979-1283-58-8.
  37. ^ http://www.bukittinggikota.go.id Diarsipkan 2007-09-29 di Wayback Machine. Pendidikan Diarsipkan 2012-03-24 di Wayback Machine. (diakses pada 8 September 2012)
  38. ^ a b Daniel Dhakidae, ed. (2003). Profil Daerah: Kabupaten dan Kota Jilid 2. Penerbit Buku Kompas. hlm. 120. ISBN 979-709-054-X. 
  39. ^ nisn.jardiknas.org Rekap data[pranala nonaktif permanen]
  40. ^ ban-pt.depdiknas.go.id Hasil Pencarian Akreditasi Program Studi Diarsipkan 2010-02-10 di Wayback Machine. (diakses pada 27 Juni 2010)
  41. ^ Bukittinggi Kota, - (-). "Potensi Kota Bukittinggi Bidang Pendidikan". Website Kota Bukittinggi. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-12-04. Diakses tanggal 21 Desember 2020. 
  42. ^ a b c http://www.depkes.go.id Diarsipkan 2010-07-20 di Wayback Machine. Profil Kesehatan Kota Bukittinggi Diarsipkan 2010-12-29 di Wayback Machine.
  43. ^ http://www.bukittinggikota.go.id Diarsipkan 2007-09-29 di Wayback Machine. Kesehatan Diarsipkan 2010-11-23 di Wayback Machine. (diakses pada 11 Juli 2010)
  44. ^ http://www.depkes.go.id Diarsipkan 2010-07-20 di Wayback Machine. Daftar rumah sakit Diarsipkan 2010-07-29 di Wayback Machine. (diakses pada 11 Juli 2010)
  45. ^ Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional, (1999), Profil 111 kawasan andalan Indonesia: Kawasan barat Indonesia, Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional
  46. ^ http://www.kabarindonesia.com Diarsipkan 2010-05-12 di Wayback Machine. Sang Pengentasan Kemiskinan ala Kota Bukittinggi Diarsipkan 2016-02-03 di Wayback Machine. (diakses pada 26 Juni 2010)
  47. ^ Daniel Dhakidae, ed. (2003). Profil Daerah: Kabupaten dan Kota Jilid 2. Penerbit Buku Kompas. hlm. 115–118. ISBN 979-709-054-X. 
  48. ^ http://www.antarasumbar.com Diarsipkan 2013-06-07 di Wayback Machine. Kunjungan Turis Mancanegara ke Bukittinggi Meningkat
  49. ^ regionalinvestment.com Profil Kota Bukittinggi Diarsipkan 2012-01-18 di Wayback Machine. (diakses pada 26 Juni 2010)
  50. ^ padangekspres.co.id Janjang Koto Gadang Diarsipkan 2020-10-19 di Wayback Machine.
  51. ^ Vaisutis, Justine (2007). Indonesia. Lonely Planet. ISBN 1-74104-435-9. 
  52. ^ Bangun, M. Tinjauan ekonomi-sosial & pembangunan sepanjang Sumatra dan Kalimantan Barat,. Yayasan Pola Pembangunan Indonesia. 
  53. ^ Marthias Dusky Pandoe, Julius Pour, (2010), Jernih melihat cermat mencatat: antologi karya jurnalistik wartawan senior Kompas, Penerbit Buku Kompas.
  54. ^ "Situs resmi pemerintah kota Bukittinggi". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-02-02. Diakses tanggal 2007-10-31. 
  55. ^ http://www.elsifm.com Diarsipkan 2010-07-02 di Wayback Machine. Elsi FM Diarsipkan 2010-07-02 di Wayback Machine. (diakses pada 11 Juli 2010)
  56. ^ http://www.skfmbukittinggi.com Diarsipkan 2010-07-16 di Wayback Machine. SK FM Diarsipkan 2010-07-16 di Wayback Machine. (diakses pada 11 Juli 2010)
  57. ^ http://www.grcfmbukittinggi.com Diarsipkan 2010-09-20 di Wayback Machine. GRC FM Diarsipkan 2010-09-20 di Wayback Machine. (diakses pada 11 Juli 2010)
  58. ^ "Bukittinggi: Jabaran Rencana Kota Kembar". Bukittinggi Department. Diakses tanggal 10 Juli 2013. 

Pranala luarSunting