Kapau, Tilatang Kamang, Agam

nagari di Kabupaten Agam

Kapau merupakan salah satu nagari yang terdapat dalam kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat, Indonesia.

Kapau
Peta Administrasi Nagari Kapau Kecamatan Tilatang Kamang.jpg
Peta lokasi Nagari Kapau
Negara Indonesia
ProvinsiSumatra Barat
KabupatenAgam
KecamatanTilatang Kamang
Kodepos
26152
Luas475 ha
Jumlah penduduk- jiwa

Batas WilayahSunting

Secara geografis, batas Nagari Kapau adalah: Sebelah utara berbatas dengan Nagari Koto Tangah dan Gadut. Sebelah selatan berbatas dengan Mandiangin (Kota Bukittinggi)dan Kecamatan IV Angkat. Sebelah timur berbatas dengan Koto Merapak (Kecamatan IV Angkat) Kabupaten Agam. Sebelah barat berbatas dengan Nagari Gadut.

Kampung atau DesaSunting

Nagari Kapau luasnya hanya 475 ha, adalah Nagari terkecil dari tiga Nagari di Kecamatan Tilatang Kamang. Secara tradisional Nagari Kapau terdiri dari 12 jorong (kampung/desa) yang ditata menjadi 3 sidang. Kemudian Nagari Kapau juga pernah dijadikan tiga desa, sesuai jumlah sidang yaitu Desa Induring, Desa Pandam Basasak dan Desa Pasir.

Namun setelah muncul UU No.22/1999, Sumatra Barat kembali ke pemerintahan Nagari. Dua belas jorong di Nagari Kapau adalah sebagai berikut:

pada Sidang Induring terdiri dari jorong Pandan Banyak, Induring, Koto Panalok, Cingkariang dan Padang Cantiang.

Sedangkan pada Sidang Pandam Basasak adalah, jorong Koto Panjang, Koto Panjang Hilir, Korong Tabik dan jorong Cubadak.

Ada pun untuk Sidang Pasir terdiri dari jorong Parak Maru, Ladang Laweh dan jorong Dangkek atau Paninjauan.

PersukuanSunting

 
Rumah tradisional di Kapau, 1900-1920

Jumlah suku di Kapau ada sembilan (9) suku, masing-masingnya suku Jambak Gadang, Malayu, Koto, kemudian bergabung dalam satu suku (rumpun) Guci, Pili. Dan suku Tanjung, Pisang, Simabua tergabung pula dalam satu rumpun. Kemudian suku Jambak Kaciak berdiri sendiri. Dengan demikian, ada yang digabungkan menjadi 6 suku (rumpun), dipimpin masing-masing oleh seorang Penghulu. Sehingga bernamalah Kapau VI suku.

Ninik MamakSunting

Dalam adat enam suku, basuku bainduak babuah parut, kampuang dibari banan tuo, rumah dibari batungganai, panghulu nan anam suku (panghulu pucuak),

itulah yang akan jadi hakim tertinggi dalam Nagari Kapau atapun menurut adat Mamacik arek, mangganggam taguah

Terdiri dari:

Penghulu yang berenam di atas diberi pituo (diingatkan), kalau tumbuh menurut adat Datuk Bandaro, kalau tumbuh menurut syarak Datuak Mangkudun, maka keduanya dibesarkan menurut adat dengan kata mufakat. Kalau melekatkan pusaka kedua orang itu ditambah dengan seekor sapi. Sedangkan mengangkat Ninik Mamak (Penghulu baru) yang satu induk, masing-masing seekor kerbau. Tetapi Datuk Bandaro dan Datuk Mangkudun, satu ekor kerbau dan satu ekor sapi.

Itulah sebabnya Datuk Bandaro dan Datuk Mangkudun sebagai pucuk bulek dalam sukunya masing masing dan pucuk bulek dalam yang enam suku. Penempatan pucuk bulek ini berpedoman kepada yang mula-mula turun dari Bukit Kapau ke Kapau sekarang.

Kedua Penghulu ini jugalah yang akan menyelesaikan, memutuskan biang, manabuakan dengan kato nan hak dalam adat, bila ada perselisiahan paham di antara ninik mamak yang enam suku ini.

Daftar wali nagariSunting

Pemimpin Nagari Kapau dari masa ke masa:

  1. DT. RAJO LABIAH, Kampuang: Induring, Periode: 1901 – 1913, Ket: LARAS / LAREH
  2. HAMZAH DT.BATUAH, Kampuang: Koto Panalok, Periode: 1913 – 1931, KEPALA NAGARI (Inyiak Palo)
  3. ABDUL HAMID DT.MANGKUDUN, Kampuang: Padang Canting, Periode: 1932 – 1937, KEPALA NAGARI
  4. ABDUL HALIM DT.NAN GADANG, Kampuang: Korong Tabik, Periode: 1938 – 1939, KEPALA NAGARI
  5. ABDUL MANAN DT.BATUAH, Kampuang: Koto Panalok, Periode: 1939 – 1945, KEPALA NAGARI
  6. RASHIDIN KARI BAGINDO, Kampuang: Koto Panjang Hilir, Periode: 1946 – 1947, WALI NAGARI
  7. TADJUDDIN MALIN SUTAN, Kampuang: Induring, Periode: 1947 – 1948, PJ. WALI NAGARI
  8. DEWAN DT.MARADJO ( I ), Kampuang: Padang Canting, Periode: 1948 – 1951, WALI PERANG
  9. HAJI SJARBAINI, Kampuang: Ladang Laweh, Periode: 1952 – 1958, WALI NAGARI
  10. ANAS ST.SADJATINO, Kampuang: Induring, Periode: 1958 – 1959, WALI NAGARI
  11. DEWAN DT.MARADJO ( II ), Kampuang: Padang Canting, Periode: 1959 – 1962, WALI NAGARI
  12. DT. PANDUKO SINARO, Kampuang: Induring, Periode: 1962 – 1964, WALI NAGARI
  13. AMINUDDIN DT.BAGINDO BASA ( I ), Kampuang: Koto Panjang Hilir, Periode: 1964 – 1965, PJ. WALI NAGARI
  14. DEWAN DT.MARADJO ( III ), Kampuang: Padang Canting, Periode: 1965 – 1969, WALI NAGARI
  15. ABDUL WAHAB INTAN BATUAH ( I ), Kampuang: Induring, Periode: 1970 – 1975, WALI NAGARI
  16. AMINUDDIN DT.BAGINDO BASA ( II ), Kampuang: Koto Panjang Hilir, Periode: 1975 – 1981, WALI NAGARI
  17. ABDUL WAHAB INTAN BATUAH ( II ), Kampuang: Induring, Periode: 1981 – 1982, WALI NAGARI
  18. UMAR KARI MARADJO, Kampuang: Induring, Periode: 1982 – 1983, PJ. WALI NAGARI

V A C U M ( Kepala Desa ), Pasir, Pandam Basasak, Induring, 1983 – 2002, TIGA ORANG KEPALA DESA

19. MUCHLIS KARI MANGKUTO, Kampuang: Induring, Periode: 2002 – 2003, PJ. WALI NAGARI

20. MASNIR RASYIDIN MAJO NAN TINGGI, Kampuang: Ladang Laweh, Periode: 2003 – 2005, WALI NAGARI

21. YOMENDRA, Kampuang: Korong Tabik, Periode: 2005 – 2006, PJ. WALI NAGARI

22. EDI GUSRIANTO, S.PdI, Kampuang: Ladang Laweh, Periode: 2006 – 2010, WALI NAGARI

23. AMSESDI, Kampuang: Koto Panjang Hilir, Periode: 2010, PJ.WALI NAGARI

24. YASRIL GAZALI, Kampuang: Koto Panjang, Periode: 2010 – 2016, WALI NAGARI

25. ZULKARNAINI, ST, Kampuang Pandan Banyak, Periode: 2017 - 2023, WALINAGARI

Masakan Khas KapauSunting

Gulai Kapau sangat khas dengan warna kunyitnya yang sangat dominan, dengan rasa gurih dan pedas. Sayur gulai Kapau terdiri dari potongan nangka muda, rebung, kol, pakis, kacang panjang, jengkol dalam kuah yang tidak terlalu kental (tidak terlalu banyak santan) berwarna kuning (kunyit) kemerahan (cabe merah). Yang juga sangat khas adalah gulai tunjang, atau kikil. Pangek ikan paweh batalua (gulai ikan tawes bertelur yang dimasak sampai kering), gulai usus (sapi) berisi campuran telor dan tahu yang dilumatkan, dendeng balado, goreng belut.

Pranala luarSunting