Kabupaten Lebak

kabupaten di Banten, Indonesia
(Dialihkan dari Lebak)


Kabupaten Lebak (Sunda: ᮜᮨᮘᮊ᮪) adalah sebuah wilayah kabupaten yang terletak di provinsi Banten, Indonesia. Ibu kota Lebak berada di kecamatan Rangkasbitung. Kabupaten Lebak merupakan kabupaten paling luas di Banten dan juga terluas kelima di Pulau Jawa. Jumlah penduduk Kabupaten Lebak pada pertengahan tahun 2023 adalah 1.402.324 jiwa.[2]

Kabupaten Lebak
Pantai Tanjung Layar
Lambang resmi Kabupaten Lebak
Motto: 
Iman aman uman amin
(Sunda) Tangguh menghadapi rintangan, yang diimbangi dengan kesucian iman, perbuatan yang menenteramkan, dan sikap toleransi
Peta
Peta
Kabupaten Lebak di Jawa
Kabupaten Lebak
Kabupaten Lebak
Peta
Kabupaten Lebak di Indonesia
Kabupaten Lebak
Kabupaten Lebak
Kabupaten Lebak (Indonesia)
Koordinat: 6°39′00″S 106°13′00″E / 6.65°S 106.21667°E / -6.65; 106.21667
Negara Indonesia
ProvinsiBanten
Hari jadi2 Desember 1828 (umur 195)
Ibu kotaRangkasbitung
Jumlah satuan pemerintahan
Daftar
  • Kecamatan: 28
  • Kelurahan: 5
  • Desa: 340
Pemerintahan
 • BupatiIwan Kurniawan (Pj.)
 • Wakil BupatiLowong
Luas
 • Total3.426,56 km2 (1,323,00 sq mi)
Populasi
 (30 Juni 2023)[2]
 • Total1.484.585
 • Kepadatan430/km2 (1,100/sq mi)
Demografi
 • AgamaIslam 99,09%
Sunda Wiwitan 0,57%
Kristen 0,23%
- Protestan 0,16%
- Katolik 0,07%
Buddha 0,10%
Lainnya 0,01%[2]
 • BahasaSunda Banten, Indonesia
 • IPMKenaikan 64,71 (2022)
sedang[3]
Zona waktuUTC+07:00 (WIB)
Kode pos
Kode BPS
3602
Kode area telepon+62 252
Pelat kendaraanA xxxx
Kode Kemendagri36.02
Kode SNI 7657:2023LBK
DAURp 1.114.873.247.000.-
Fauna resmiOwa abu-abu
Situs webwww.lebakkab.go.id

Kabupaten Lebak juga oleh masyarakat setempat biasa disebut Rangkasbitung saja karena merepresentasikan Ibu Kota Kabupaten yang menjadi jalur utama Commuter Line terintegrasi ke Jabodetabek dan jalur kereta api Jakarta-Merak.

Museum Multatuli (nama pena Eduard Douwes Dekker, penulis buku Max Havelaar yang menjadi asisten residen di Lebak pada 1856) juga menjadi museum anti-kolonial pertama di Indonesia yang telah dibuka pada 11 Februari 2018 di Rangkasbitung. Museum ini berisi tentang sejarah kolonial Belanda dan peran Multatuli dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.[4]

Sejarah sunting

Sebagai bagian dari wilayah Kesultanan Banten, Kabupaten Lebak dengan luas Wilayah 304.472 Ha, sejarahnya tidak dapat dipisahkan dari sejarah Kesultanan Banten. Berkaitan dengan hari jadi Kabupaten Lebak yang jatuh pada tanggal 2 Desember 1828. Terdapat beberapa catatan sejarah yang menjadi dasar pertimbangan, antara lain:

Kesultanan Banten sunting

Mulai dari tahun 1811, Kesultanan Banten berada dibawah kekuasaan Inggris, yang telah merebut Banten dari Belanda. Pada tanggal 19 Maret 1813, Sultan Maulana Muhammad Sofiyudin (Sultan Banten Terakhir) diturunkan secara paksa dari tahtanya oleh Thomas Stamford Raffles (wakil pemerintah Inggris), kemudian Pemerintahan Kesultanan Banten diberhentikan, dan dibentuklah Karesidenan Banten sebagai Pengganti Pemerintahan Kesultanan Banten, lalu Kesultanan Banten sendiri hanya dijadikan sebagai lambang/simbol kebudayaan dan tidak memiliki kedaulatan, diangkatlah Joyo Miharjo (orang Rembang-Jawa Tengah) menjadi Sultan Adat Banten dengan nama Sultan Muhammad Rafiudin sebagai pengganti Sultan Banten Terakhir (Sultan Maulana Muhammad Sofiyudin), Joyo Miharjo/Muhammad Rafiudin ialah Suami Ratu Arsiah, dan Ratu Arsiah ialah Adik Ratu Asiah (Ibunda Sultan Maulana Muhammad Sofiyudin). Joyo Miharjo/Muhammad Rafiudin yang bukan keturunan Sultan-sultan Banten diberikan gelar Sultan Banten oleh Pemerintah Inggris dengan tidak memiliki wilayah kekuasaan. sedangkan daerah kekuasaan Kesultanan Banten dibagi 4 wilayah yaitu:

  • Wilayah Banten Lor
  • Wilayah Banten Kulon
  • Wilayah Banten Tengah dan
  • Wilayah Banten Kidul

Ibu kota Wilayah Banten Kidul terletak di Cilangkahan dan pemerintahannya dipimpin oleh Bupati yang diangkat oleh Gubernur Jenderal Inggris Thomas Stamford Raffles, yaitu Tumenggung Suradilaga (Raden Muhammad). Ia bertanggung jawab langsung kepada Residen Banten (wakil Pemerintah Inggris), bukan pada Kesultanan Banten lagi hingga pada tahun 1816, Banten kembali jatuh ke Belanda. Di tahun itu pula Kesultanan Banten dihapuskan/dibubarkan, Joyo Miharjo/Muhammad Rafiudin dicopot gelar Sultannya. Kemudian mengganti semua keempat Bupati yang diangkat oleh Pemerintah Inggris diwilayah Banten. Untuk Banten Kidul Tumenggung Suradilaga/Raden Muhammad digantikan oleh Tubagus Jamil (Putra Sultan Banten Abul Mahasin Muhammad Syifa'u Zainul Abidin) dengan gelar Raden Adipati Jamil atau Pangeran Sanjaya, dengan Ki Ngabehi Bahu Pringga (Bekas Punggawa Kesultanan Banten) sebagai Wakilnya dengan gelar Patih Derus.

Perubahan Nama Menjadi Kabupaten Lebak sunting

Pada tahun 1828, ibu kota Kabupaten Banten Kidul dipindahkan dari Cilangkahan ke Lebak Parahiang (daerah Leuwidamar) dan mengganti nama Kabupaten Banten Kidul menjadi Kabupaten Lebak pada tanggal 2 Desember 1828.[5] Tanggal bulan ini dijadikan hari jadi Kabupaten Lebak.

 
Pemandangan pantai di Sawarna pada tahun 1929.

Karena Pangeran Sanjaya/Raden Adipati Jamil (Bupati Lebak Pertama) dan Patih Derus (Patih Lebak Pertama) tidak mampu mengatasi perlawanan rakyat terhadap Belanda, tahun 1830 Pemerintah Belanda pun mengganti kedudukan mereka berdua, Raden Adipati Jamil diganti oleh Raden Tumenggung Adipati Karta Nata Nagara (Demang Jasinga yang telah berhasil membantu Belanda menumpas perlawanan Nyai Gumparo/Nyi Mas Gamparan) dan Patih Derus diganti oleh Patih Jahar. Pada tahun 1842, ibu kota Kabupaten Lebak dipindahkan dari Lebak Parahiang (daerah Leuwidamar) ke Warunggunung, namun nama Lebak tetap dipakai.

Pemindahan Ibu Kota ke Rangkasbitung sunting

Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda nomor 15 tanggal 17 Januari 1849, ibu kota Kabupaten Lebak yang saat itu berada di Warunggunung harus dipindahkan. Kemudian Raden Tumenggung Adipati Karta Natanagara (Bupati Lebak) memerintahkan wakilnya yaitu Patih Jahar (Patih Lebak) untuk menemukan lokasi strategis untuk dijadikan ibu kota Pusat Pemerintahan Lebak. Maka ditemukanlah daerah hutan bambu belantara, yang kemudian setelah hutan tersebut dibuka, kemudian langsung dinamai Rangkasbitung. Lalu dimulailah pembangunan berbagai macam sarana pusat pemerintahan dan pelaksanaan pemindahan ibu kotanya secara resmi baru dilaksanakan pada tahun 1851 dengan diresmikan pada tanggal 31 Maret 1851.

Kabupaten Lebak juga dikenal sebagai tempat bertugasnya Eduard Douwes Dekker, yang lebih dikenal dengan nama pena "Multatuli". Eduard pernah diangkat pada tahun 1856 sebagai Asisten Residen. Setelah mengundurkan diri dari tugasnya di Lebak selama tiga bulan, Eduard telah menerbitkan buku pada empat tahun kemudian, yaitu Max Havelaar. Tulisan itu berupa novel satirisnya yang berisi kritik atas perlakuan buruk para penjajah terhadap orang-orang pribumi di Hindia Belanda.

Demografi sunting

Suku Bangsa sunting

Sebagian besar penduduk kabupaten ini berasal dari suku Sunda (termasuk masyarakat adat Kanekes).

Agama sunting

Kabupaten ini merupakan kabupaten dengan populasi yang beragama Sunda Wiwitan terbesar di Provinsi Banten. Hampir seluruh penduduk kabupaten ini beragama Islam, yaitu sebanyak 99,09%, sisanya adalah Sunda Wiwitan sebanyak 0,57%, Kristen sebanyak 0,23% di mana terdapat Protestan sebanyak 0,16% dan Katolik sebanyak 0,07%, Buddha sebanyak 0,10%, serta agama Hindu dan Konghucu kurang dari 0,01%.[2]

Geografi sunting

Kabupaten Lebak secara geografis terletak pada titik koordinat 105º25' – 106º30' Bujur Timur dan 6º18'–7º00' Lintang Selatan.[6] Topografi Kabupaten Lebak terdiri atas pantai, dataran rendah hingga pegunungan.[butuh rujukan] Ketinggian wilayah Kabupaten Lebak berkisar antara 0–1.929 meter di atas permukaan air laut.[7]

Batas Wilayah sunting

Kabupaten Lebak berbatasan dengan beberapa wilayah berikut:[8]

Utara Kabupaten Serang dan Kabupaten Tangerang
Timur Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
Selatan Samudra Hindia
Barat Kabupaten Pandeglang

Iklim dan Hidrologi sunting

Iklim di Kabupaten Lebak dipengaruhi oleh angin Muson dan La Nina. Cuaca didominasi oleh angin baratan dari Samudera Hindia dan benua Asia pada musim hujan dan angin timuran pada musim kemarau. Curah hujan rata-rata per tahun mencapai 2.000-4.000 mm dengan suhu udara antara 20°-32 °C.

Sungai Ciujung yang mengalir ke arah utara menuju Laut Jawa melintasi Kabupaten Lebak merupakan sungai terpanjang di Provinsi Banten. Sedangkan sungai yang bermuara ke Samudra Hindia diantaranya Sungai Cibareo, Sungai Cisawarna, Sungai Cimadur, Sungai Cisiih, Sungai Cimancak, Sungai Cihara, Sungai Cipageran dan Sungai Cilangkahan.

Data iklim Lebak, Banten, Indonesia
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Rata-rata tertinggi °C (°F) 29.7
(85.5)
30.1
(86.2)
30.6
(87.1)
31.2
(88.2)
31.5
(88.7)
31.4
(88.5)
31.5
(88.7)
31.6
(88.9)
32
(90)
32.1
(89.8)
31.6
(88.9)
30.8
(87.4)
31.18
(88.16)
Rata-rata harian °C (°F) 25.7
(78.3)
26
(79)
26.2
(79.2)
26.5
(79.7)
26.7
(80.1)
26.3
(79.3)
26.1
(79)
25.8
(78.4)
26.5
(79.7)
26.8
(80.2)
26.7
(80.1)
26.4
(79.5)
26.31
(79.38)
Rata-rata terendah °C (°F) 21.8
(71.2)
21.9
(71.4)
22.8
(73)
22.9
(73.2)
21.9
(71.4)
21.3
(70.3)
20.8
(69.4)
20.5
(68.9)
21
(70)
21.5
(70.7)
22
(72)
21.9
(71.4)
21.69
(71.08)
Presipitasi mm (inci) 395
(15.55)
319
(12.56)
306
(12.05)
250
(9.84)
223
(8.78)
121
(4.76)
117
(4.61)
120
(4.72)
137
(5.39)
215
(8.46)
229
(9.02)
274
(10.79)
2.706
(106,53)
Rata-rata hari hujan 24 21 20 18 16 10 10 10 11 15 16 19 190
% kelembapan 86 85 84 83 82 80 79 79 79 80 81 83 81.8
Rata-rata sinar matahari bulanan 143 155 190 221 238 244 263 274 245 249 203 184 2.609
Sumber #1: Climate-Data.org[9]
Sumber #2: Weatherbase[10]

Pemerintahan sunting

Kecamatan sunting

Kabupaten Lebak terdiri dari 28 kecamatan, 5 kelurahan dan 340 desa dengan jumlah penduduk pada tahun 2017 diperkirakan sebesar 1.222.258 jiwa dan luas wilayah 3.426,56 km² dengan kepadatan 357 jiwa/km².[11][12]

Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Lebak, adalah sebagai berikut:

Kode
Kemendagri
Kecamatan Jumlah
Kelurahan
Jumlah
Desa
Status Daftar
Desa/Kelurahan
36.02.09 Banjarsari 20 Desa
36.02.03 Bayah 11 Desa
36.02.07 Bojongmanik 9 Desa
36.02.18 Cibadak 15 Desa
36.02.19 Cibeber 22 Desa
36.02.28 Cigemblong 8 Desa
36.02.26 Cihara 9 Desa
36.02.16 Cijaku 11 Desa
36.02.17 Cikulur 13 Desa
36.02.10 Cileles 12 Desa
36.02.20 Cilograng 10 Desa
36.02.11 Cimarga 17 Desa
36.02.04 Cipanas 14 Desa
36.02.27 Cirinten 10 Desa
36.02.23 Curugbitung 10 Desa
36.02.08 Gunungkencana 12 Desa
36.02.24 Kalang Anyar 7 Desa
36.02.25 Lebak Gedong 6 Desa
36.02.06 Leuwidamar 12 Desa
36.02.13 Maja 14 Desa
36.02.01 Malingping 14 Desa
36.02.05 Muncang 12 Desa
36.02.02 Panggarangan 11 Desa
36.02.14 Rangkasbitung 5 11 Desa
Kelurahan
36.02.12 Sajira 15 Desa
36.02.22 Sobang 10 Desa
36.02.21 Wanasalam 13 Desa
36.02.15 Warunggunung 12 Desa
TOTAL 5 340

Pemekaran Daerah sunting

Pemerintah Provinsi Banten mengajukan 12 wilayah pemekaran yang nantinya menjadi daerah otonom kabupaten/kota. Keduabelas wilayah yang diusulkan untuk dimekarkan tersebut masing-masing berada di wilayah Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, Kabupaten Tangerang, dan Kota Tangerang.[13]

Daftar Bupati sunting

Berikut merupakan daftar Bupati Lebak.[14][15]

No. Potret Bupati Partai Awal Akhir Periode Wakil Ref.
1   Raden Adipati Tubagus Jamil
Pangeran Sendjaja
Non Partai 1819 1 November 1837 Ki Ngabehi Bahu Pringga
Patih Derus
2   Raden Tumenggung Adipati Kartanata Negara
Regen Sepoeh
(1796–1879)
Non Partai 1 November 1837 1865 Patih Jahar [16]
3   Tumenggung Prawirakoesoemah Non Partai 1865 1877 Tidak ada
4   Raden Tumenggung Suta Angun-Angun Non Partai 1877 1881
5   Raden Adipati Soetanataningrat Non Partai 1881 1907
6   Raden Adipati Suryadiputra Non Partai 1907 16 Maret 1925
7   Raden Tumenggung Arya Gondosaputra Non Partai 16 Maret 1925 1938 [17]
8   Raden Tumenggung Hardiwinangun
(wafat 1945)
Non Partai 1938 1944
9   Raden Denda Kusumah Non Partai 1944 1945
10   Tubagus Hasan Non Partai 1945 19 Desember 1948
11   Ipik Gandamana IPKI 19 Desember 1948 1949 [ket. 1]
12   Raden Soedibdja Non Partai 1949 1949
13   Hollan Soekmadiningrat PNI 1949 1 September 1950
14   Tubagus Soeriaatmadja Non Partai 1 September 1950 1952
15   Raden Kasoem Non Partai 1952 1953
16   Raden Moeljani Nataatmadja Non Partai 1953 1957
17   Mochammad Saleh Non Partai 1957 1959
18   Iko Djatmiko Non Partai 1959 1960
19   Raden Bidin Soeria Goenawan Non Partai 1960 1967
20   Raden A. Hardiwinangoen Non Partai 1967 1973 [18]
21   Dana Soedharna Non Partai 1973 1978
1978 1983
22   Oman Sachroni Non Partai 1983 1988
23   Endang Suwarna Non Partai 1988 1993
24   Didin Muchjidin Non Partai 1993 1998 25
(1993)
Tidak diketahui [19]
25   Mochammad Yas'a Mulyadi
(1948–2018)
Non Partai 1998 2003 26
(1998)
26   Mulyadi Jayabaya
(lahir 1957)
PDI-P 17 November 2003 17 November 2008 27
(2003)
Odih Chudori Padma
(2003–06)
[20][21]
17 November 2008 17 November 2013 28
(2008)
Amir Hamzah
27   Iti Octavia Jayabaya
(lahir 1978)
Partai Demokrat 15 Januari 2014 15 Januari 2019 29
(2013)
Ade Sumardi [22]
15 Januari 2019 3 November 2023 30
(2018)


Dewan Perwakilan sunting

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kabupaten Lebak dalam dua periode terakhir.[23][24]

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2014-2019 2019-2024
PKB 5   6
Gerindra 4   9
PDI-P 10   7
Golkar 8   6
NasDem 6   5
PKS 5   5
Perindo (baru) 1
PPP 4   4
PAN 1   0
Hanura 1   0
Demokrat 6   7
Jumlah Anggota 50   50
Jumlah Partai 10   9


Pariwisata sunting

Kabupaten Lebak memiliki destinasi wisata yang beragam, baik wisata budaya maupun wisata alam.

Wisata Budaya sunting

Wisata budaya berupa destinasi Urang Badui yang terletak di Kecamatan Leuwidamar, serta Museum Multatuli di Rangkasbitung yang berisi tentang sejarah kolonial Belanda dan peran Multatuli dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.[25]

Museum Multatuli sunting

Museum Multatuli adalah museum umum yang menempati bekas Wedana Rangkasbitung yang telah digunakan sejak tahun 1923.

 
Rumah Multatuli di Rangkasbitung, Lebak
 
Museum Multatuli Rangkasbitung Lebak Banten

Multatuli atau bernama asli Edward Douwes Dekker adalah tokoh Belanda yang berperan penting dalam membentuk dan memodifikasi kebijakan kolonial Belanda di Hindia Belanda pada ke-19. Multatuli menulis Max Havelaar yang membuat masyarakat Eropa mulai menyadari bahwa kekayaan yang mereka dapat merupakan hasil penderitaan di bagian lain dunia. Kesadaran ini kemudian membentuk motivasi kebijakan politik etis, dimana pemerintah kolonial Belanda berusaha untuk membayar hutang mereka kepada rakyat kolonial. Pembayaran hutang ini dilakukan dengan memberikan pendidikan kepada beberapa kelas pribumi, umumnya anggota pribumi yang setia kepada pemerintah kolonial.[26] Novel karya Multatuli yang mulai terbit pada 1860, merupakan karya yang banyak mengisahkan potret kondisi masyarakat Lebak pada masa kolonial Belanda. Gerakan politik etis dari rakyat belanda sebagai dampak novel Max havelaar inilah yang memunculkan ide terkait perlunya membayar utang budi terhdap tanah jajahan wilayah Hindia-Belanda. Ide politik etis ini yang disebut menjadi awal kehancuran kolonialisme Belanda di nusantara. Khusus untuk program edukasi yang akhirnya diberikan pemerintah Belanda bagi pribumi ini yang diyakini berpengaruh pada lahirlah masyarakat terpelajar di wilayah Nusantara yang 'melek' untuk memerdekakan Indonesia seperti Soekarno, Hatta dan para pejuang terdidik lainnya.[27]

Wisata Alam sunting

Sementara untuk wisata alam cukup beragam dimulai dari wisata di wilayah pegunungan dan wisata di wilayah dataran rendah seperti pantai, salah satunya destinasi wisata pantai adalah Desa Wisata Sawarna yang terletak di Kecamatan Bayah dan Geopark Bayah Dome.

Geopark Bayah Dome sunting

 
Sawarna di Bayah, Lebak
 
Berselancar di Sawarna

Geopark Bayah Dome merupakan Prioritas Pariwisata Kabupaten Lebak. Geopark Bayah Dome tersebut meliputi geosite Bayah, Cilograng, Cibeber, Panggarangan, Cigemblong, Cihara, Sajira dan Curugbitung.[28] Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga telah menetapkan Kawasan Bayah Dome atau Kubah Bayah di Kabupaten Lebak sebagai Geopark yang memiliki warisan Geologi atau Geoheritage melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 164 Tahun 2022 tentang Penetapan Warisan Geoheritage kawasan Bayah Dome atau Kubah Bayah tersebut. Geopark Bayah Dome bertujuan untuk menjaga konservasi alam, melestarikan budaya, serta menjadi sumber pendapatan berbasis wisata edukasi.[29]

Sejarah Geopark Bayah Dome juga sudah tercatat sejak lama melalui tulisan seorang ahli geologi berkebangsaan Belanda, Van Bemmelen membuat buku tentang Geologi Indonesia yang ia terbitkan tahun 1949. Di dalam buku itu, Van Bemmelen membahas pembentukan Kubah Bayah. Kubah ini adalah sebuah struktur atau bentang alam gunung api yang berumur Neogen sampai Kuarter (23 – 0.01 juta tahun lalu). Di kawasan Bayah Dome juga terbentuk cebakan-cebakan emas, perak, dan bahan galian logam lainnya yang bernilai ekonomis. Sehingga kawasan ini terkenal sebagai kawasan “Gold District”. Selain itu, kawasan ini juga populer sebagai tambang emas sejak zaman penjajahan. Hingga kini, aktivitas penambangan di beberapa tempat masih berlangsung.[29]


Transportasi sunting

Stasiun kereta api sunting

Kabupaten Lebak memiliki 3 stasiun kereta api yang masih beroperasi, diantaranya:

Selain itu, Kabupaten Lebak juga memiliki 17 stasiun yang sudah berhenti beroperasi dikarenakan jalur tersebut sudah tidak aktif, namun wacana reaktivasi jalur kereta banyak dibahas pemangku kebijakan dan menunggu keputusan pemerintah, yaitu:

Terminal sunting

Angkutan Kota dan Angkutan Pedesaan wilayah Kabupaten Lebak dan beberapa rute yang menghubungkan Kabupaten Pandeglang dengan Terminal Mandala.

Ruas jalan tol sunting

Pendidikan sunting

Universitas sunting

Universitas di Kabupaten Lebak terdiri dari:

  1. Universitas Setia Budhi Rangkasbitung
  2. Universitas La Tansa Mashiro Rangkasbitung

Sekolah dasar dan Menengah sunting

Pendidikan formal TK atau RA SD atau MI SMP atau MTs SMA atau MA SMK Perguruan tinggi Lainnya
Negeri 2 780 149 30 5 0 2
Swasta 81 209 158 70 19 11 3
Total 83 989 307 100 24 11 5
Data sekolah di kabupaten Lebak periode 2010/2011
Sumber:[30]

Keterangan sunting

  1. ^ Belanda melakukan agresi militer yang menyerang seluruh wilayah Bogor yang mengakibatkan Ipik Gandamana mengungsi ke Cipanas (Lebak), Cileuksa, Kembang Kuning, Lebak Huni, Pangradin, dan sekitar hutan-hutan di Jasinga. Ia ditugaskan oleh pemerintah pusat untuk memimpin pemerintahan darurat di Kabupaten Bogor dan ditetapkan sebagai bupati, serta merangkap jabatan sebagai Bupati Lebak oleh Wakil Gubernur Jawa Barat.

Referensi sunting

  1. ^ "Luas kabupaten Lebak versi situs web resmi pemerintah kabupaten Lebak". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-11-26. Diakses tanggal 2010-02-16. 
  2. ^ a b c d "Visualisasi Data Kependudukan - Kementerian Dalam Negeri 2023". www.dukcapil.kemendagri.go.id. Diakses tanggal 16 Oktober 2023. 
  3. ^ "Indeks Pembangunan Manusia 2021-2022". www.bps.go.id. Diakses tanggal 16 Oktober 2023. 
  4. ^ "10 Hal yang Perlu Anda Ketahui Tentang Museum Multatuli". Historia. 14 Februari 2018. Diarsipkan dari versi asli tanggal 22 Juni 2020. Diakses tanggal 3 Februari 2022. 
  5. ^ "Mengenal Lebak Parahiang pernah menjadi ibu kota Lebak". Idn Times. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-03-28. Diakses tanggal 2022-07-04. 
  6. ^ Ginandar (2022). Toponimi Nama-nama Kecamatan di Kabupaten Lebak. Lebak: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak. hlm. 15. ISBN 978-623-9785-56-7. 
  7. ^ Lasmana, H., dkk. (2022). Dokumen Informasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerag Kabupaten Lebak Tahun 2022 (PDF). Lebak: Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lebak. hlm. I–5. 
  8. ^ Ginandar (2022). Toponimi Nama-nama Kecamatan di Kabupaten Lebak. Lebak: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak. hlm. 15. ISBN 978-623-978-556-7. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-02-02. Diakses tanggal 2023-05-29. 
  9. ^ "Rangkasbitung, Banten, Indonesia". Climate-Data.org. Diakses tanggal 14 September 2020. 
  10. ^ "RANGKASBITUNG, INDONESIA". Weatherbase. Diakses tanggal 14 September 2020. 
  11. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019. 
  12. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020. 
  13. ^ "Gubernur Banten Ajukan 12 Wilayah Pemekaran". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-08-20. Diakses tanggal 2014-08-19. 
  14. ^ "Profil Bupati dan Wakil Bupati Lebak". Pemerintah Kabupaten Lebak. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-11-09. Diakses tanggal 9 November 2018. 
  15. ^ "Ini Nama-nama Bupati Lebak Dari Pertama Hingga Sekarang". Chanel Banten. 17 Oktober 2017. Diakses tanggal 9 November 2018. [pranala nonaktif permanen]
  16. ^ "Raden Adipati Karta Natanagara". Rodovid.id. Diakses tanggal 17 Juni 2022. 
  17. ^ Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indië. Landsdrukkeru-Weltevreden. 1931. hlm. 339. 
  18. ^ Mimbar Penerangan, Volume 21. Dinas Penerbitan Direktorat Publisitas. hlm. 114-117. 
  19. ^ Direktori Pemerintahan RI 1998. Mitra Info. 1998. hlm. 75. 
  20. ^ "Mulyadi Jayabaya Terpilih Sebagai Bupati Lebak". Tempo.co. 6 November 2003. Diakses tanggal 18 Juni 2022. 
  21. ^ "Mulyadi Jayabaya Dilantik Menjadi Bupati". Tempo.co. Rangkasbitung. 15 Januari 2004. Diakses tanggal 18 Juni 2022. 
  22. ^ Dami, Laurens (16 Januari 2014). "Bupati dan Wakil Bupati Lebak Terpilih Akhirnya Dilantik". BeritaSatu.com. Diakses tanggal 9 November 2018. 
  23. ^ Puskapol UI (11 November 2014). "Hasil Pemilu 2014 Provinsi Banten". Diakses tanggal 13 Maret 2019. 
  24. ^ Administrator (2019-08-26). "50 Anggota DPRD Lebak Diambil Sumpah Dan Janji Jabatan - Fajar Banten". 50 Anggota DPRD Lebak Diambil Sumpah Dan Janji Jabatan - Fajar Banten. Diakses tanggal 2023-01-31. 
  25. ^ "10 Hal yang Perlu Anda Ketahui Tentang Museum Multatuli". Historia. 14 Februari 2018. Diarsipkan dari versi asli tanggal 22 Juni 2020. Diakses tanggal 3 Februari 2022. 
  26. ^ Media, Kompas Cyber (2021-06-22). "Max Havelaar: Cerita, Kritik, dan Dampak Halaman all". KOMPAS.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-05-08. Diakses tanggal 2023-05-03. 
  27. ^ "Max Havelaar, Novel Legendaris yang Mengguncang Belanda". Republika Online. 2019-11-01. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-05-05. Diakses tanggal 2023-05-03. 
  28. ^ "Geopark Bayah Dome Bakal Dikembangkan Jadi Prioritas Pariwisata Kabupaten Lebak | Dinas Pariwisata Provinsi Banten". dispar.bantenprov.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-08-20. Diakses tanggal 2023-05-03. 
  29. ^ a b Jurnalistika (2022-12-14). "ESDM Tetapkan Kawasan Bayah Dome Jadi Geopark". Jurnalistika.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-05-06. Diakses tanggal 2023-05-03. 
  30. ^ Data Pokok Pendidikan (DAPODIK) wilayah kabupaten Lebak Diarsipkan 2011-05-27 di Wayback Machine.

Pranala luar sunting