Kabupaten Dharmasraya

kabupaten di Indonesia

Kabupaten Dharmasraya adalah salah satu kabupaten di provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Pada kawasan ini dahulunya pernah menjadi ibu kota dan pusat kerajaan Malayapura. Ibu kota Kabupaten Dharmasraya berada di Pulau Punjung. Kabupaten ini dibentuk berdasarkan Undang-undang No. 38 Tahun 2003, dan merupakan pemekaran dari Kabupaten Sijunjung. Kabupaten Dharmasraya dikenal juga dengan sebutan Ranah Cati Nan Tigo.

Kabupaten Dharmasraya
Transkripsi bahasa daerah
 • Jawi Minangضارمسراي
Jembatan Sungai Dareh
Jembatan Sungai Dareh
Lambang resmi Kabupaten Dharmasraya
Julukan: 
Ranah Cati nan Tigo
Motto: 
Tau jo nan ampek
(Minang) Masyarakatnya memiliki empat pengetahuan yang terperinci tentang adat, agama, ilmu pengetahuan, dan teknologi
Peta
Peta
Kabupaten Dharmasraya di Sumatra
Kabupaten Dharmasraya
Kabupaten Dharmasraya
Peta
Kabupaten Dharmasraya di Indonesia
Kabupaten Dharmasraya
Kabupaten Dharmasraya
Kabupaten Dharmasraya (Indonesia)
Koordinat: 1°03′00″S 101°22′01″E / 1.05°S 101.367°E / -1.05; 101.367
Negara Indonesia
ProvinsiSumatera Barat
Tanggal berdiri18 Desember 2003[1]
Dasar hukumUU Nomor 38 Tahun 2003[1]
Ibu kotaPulau Punjung
Jumlah satuan pemerintahan
Daftar
  • Kecamatan: 11
  • Nagari: 52
Pemerintahan
 • BupatiSutan Riska Tuanku Kerajaan
 • Wakil BupatiLowong
Luas
 • Total3.025,99 km2 (1,168,34 sq mi)
Populasi
 (30 Juni 2023)
 • Total234.509
 • Kepadatan77/km2 (200/sq mi)
Demografi
 • Agama
  • 97,96% Islam
  • 0,02% Kepercayaan[3]
 • BahasaIndonesia, Minangkabau
 • IPMKenaikan 72,30 (2022)
tinggi[4]
Zona waktuUTC+07:00 (WIB)
Kode BPS
1311 Edit nilai pada Wikidata
Kode area telepon0754
Pelat kendaraanBA xxxx V**
Kode Kemendagri13.10 Edit nilai pada Wikidata
DAURp 535.658.048.000,- (2020)
Situs webwww.dharmasrayakab.go.id

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik kabupaten Dharmasraya 2021, penduduk kabupaten ini berjumlah 228.591 jiwa (2020), dengan kepadatan 77 jiwa/km2, dan pada pertengahan tahun 2023, penduduk Dharmasraya sebanyak 234.509 jiwa.[3][2]

Sejarah sunting

 
Balai nagari Silago pada tahun 1877-1879

Nama kabupaten ini diambil dari manuskrip yang terdapat pada Prasasti Padang Roco,[5] di mana pada prasasti itu disebutkan Dharmasraya sebagai ibu kota dari kerajaan Malayapura waktu itu. Kerajaan ini muncul setelah kejatuhan kerajaan Sriwijaya pada abad 13-14, di mana daerah kekuasaan kerajaan ini merupakan wilayah kekuasaan kerajaan Sriwijaya sebelumnya, yaitu mulai dari Semenanjung Malaya hingga Sumatra. Hal ini dapat dibuktikan dari Prasasti Grahi di Chaiya, selatan Thailand serta catatan dalam naskah Cina yang berjudul Zhufan Zhi (諸蕃志) karya Zhao Rugua tahun 1225.[6] Kemudian kerajaan ini menjalin hubungan dengan Kerajaan Singhasari, sebagaimana yang terpahat pada Prasasti Padang Roco.[7][8] Selain itu nama Dharmasraya juga disebutkan dalam catatan sejarah kerajaan Majapahit, Nagarakretagama[9] sebagai salah satu daerah vasal.

Sejarawan zaman kolonial Belanda sudah banyak mempelajari sejarah tersebut, bahkan pada tahun 1930 memboyong arca Amoghapasa dan arca Bhairawa ke tempat yang sekarang disebut Museum Nasional Indonesia di Jakarta. Namun sayangnya kebanyakan masyarakat termasuk diantaranya pemuka adat Tuanku Rajo Dipati mengaku jika nama Dharmasraya sudah lama terlupakan oleh mereka. Nama Dharmasraya mencuat kembali di kalangan masyarakat saat proses pemekaran Kabupaten Sawahlunto-Sijunjung dan akhirnya dipakai sebagai nama kabupaten baru.[10] Pemerintah Kabupaten Dharmasraya berusaha mengangkat sejarah ekspedisi Pamalayu yang terlupakan ini misalnya dengan mengadakan Festival Pamalayu di Museum Nasional bahkan mengungkapkan keinginan untuk memulangkan arca di Museum Nasional ke tempat asalnya.[11][12]

Kabupaten Dharmasraya merupakan salah satu dari 3 kabupaten baru hasil pemekaran Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung, yang dibentuk berdasarkan Undang-undang nomor 38 tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Solok Selatan dan Kabupaten Pasaman Barat di provinsi Sumatera Barat, dan diresmikan pada tanggal 7 Januari 2004.

Geografis sunting

Secara geografi Kabupaten Dharmasraya berada di ujung tenggara Provinsi Sumatera Barat. Secara astronomis, wilayah Kabupaten Dharmasraya berada di antara 00°48'25,4"–01°41'40,3" Lintang Selatan dan 101°08'32,5"–101°53'30,3" Bujur Timur. Luas wilayah Kabupaten Dharmasraya berdasarkan Perda No 4 Tahun 2009 yaitu 2.961,13 Km² (296.113 Ha), sedangkan berdasarkan perhitungan pemetaan hasil digitasi citra spot 5 pada RT/RW Kabupaten Dharmasraya memiliki luas 3.025,99 km² (302.599) Ha.[13][14]

Batas Wilayah sunting

Batas wilayah kabupaten Dharmasraya adalah sebagai berikut:[13]

Utara Kabupaten Sijunjung dan Kabupaten Kuantan Singingi, Riau
Timur Kabupaten Tebo dan Kabupaten Bungo, Jambi
Selatan Kabupaten Bungo dan Kabupaten Kerinci, Jambi
Barat Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan

Topografi sunting

Secara topografi, daerah Kabupaten Dharmasraya bervariasi antara berbukit, bergelombang, dan datar dengan variasi ketinggian dari 100 m–1.500 m di atas permukaan laut. Ketinggian dari permukaan laut mulai dari 100 meter dpl pada bagian kawasan yang mengarah ke sebelah timur, hingga 1.500 meter dpl pada bagian kawasan yang menjadi bagian dari gugusan Bukit Barisan di sebelah barat. Kelerengan lahan bervariasi dari datar sebesar 7,65%, landai sebesar 46,64%, curam sebesar 34,29% sampai sangat curam sebesar 11,42%. Sebagian besar jenis tanah di Kabupaten Dharmasraya berjenis podsolik merah kuning, dengan penggunaan lahan yang didominasi untuk peruntukan hutan hujan tropik seluas 133.186 hektare (44,98%) dan lahan perkebunan seluas 118.803 hektare (40,12%) sedangkan untuk penggunaan lainnya sebesar 14.90%.[13][14]

Iklim sunting

Iklim di wilayah Kabupaten Dharmasraya adalah iklim tropis dengan tipe ekuatorial (Af). Suhu udara di kabupaten ini berkisar antara 21 °C hingga 33 °C dengan rata-rata hari hujan 14.35 hari per bulan dan rata-rata curah hujan 265,36 mm per bulan. Tingkat kelembapan nisbi di wilayah Dharmasraya pun cukup tinggi ±83%. Curah hujan tahunan di wilayah Dharmasraya cenderung tinggi berkisar antara 2600–3200 mm per tahun dengan jumlah hari hujan lebih dari 160 hari hujan per tahun.

Data iklim Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, Indonesia
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Rata-rata tertinggi °C (°F) 30.1
(86.2)
30.7
(87.3)
31.1
(88)
31.9
(89.4)
32.4
(90.3)
32.6
(90.7)
31.9
(89.4)
31.3
(88.3)
30.8
(87.4)
30.6
(87.1)
30.4
(86.7)
30.1
(86.2)
31.16
(88.08)
Rata-rata harian °C (°F) 26
(79)
26.3
(79.3)
26.7
(80.1)
27.4
(81.3)
26.8
(80.2)
26.4
(79.5)
26.1
(79)
26
(79)
26.3
(79.3)
26.4
(79.5)
26.2
(79.2)
25.9
(78.6)
26.38
(79.5)
Rata-rata terendah °C (°F) 21.9
(71.4)
22
(72)
22.4
(72.3)
22.8
(73)
22.3
(72.1)
21.8
(71.2)
21.2
(70.2)
21.5
(70.7)
21.9
(71.4)
22
(72)
22.2
(72)
21.9
(71.4)
21.99
(71.64)
Presipitasi mm (inci) 276
(10.87)
222
(8.74)
293
(11.54)
261
(10.28)
192
(7.56)
130
(5.12)
148
(5.83)
117
(4.61)
140
(5.51)
182
(7.17)
287
(11.3)
273
(10.75)
2.521
(99,28)
Rata-rata hari hujan 19 17 21 19 16 11 11 10 12 14 20 19 189
% kelembapan 83 82 83 84 83 81 81 82 83 85 85 84 83
Rata-rata sinar matahari bulanan 161 173 154 169 219 220 216 221 184 176 157 169 2.219
Sumber #1: Climate-Data.org [15] & BMKG[16]
Sumber #2: Weatherbase [17]

Pemerintahan sunting

Aktivitas pemerintah daerah Kabupaten Dharmasraya secara resmi setelah dilantiknya Penjabat Bupati Dharmasraya Ahmad Munawar pada tanggal 10 Januari 2004 dan sejak tanggal 12 Agustus 2005 Kabupaten Dharmasraya telah memiliki bupati definitif hasil Pilkada secara langsung, yaitu H. Marlon Martua Dt. Rangkayo Mulie, S.E. dan Ir. Tugimin sebagai wakilnya. Pada pilkada 2010, terpilih pasangan H. Adi Gunawan, M.M. dan H. Syafruddin R. sebagai bupati dan wakil bupati Dharmasraya periode 2010-2015, keduanya dilantik 12 Agustus 2010. Tanggal 09 Desember 2015, digelar pilkada serentak dan terpilih Bupati Sutan Riska Tuanku Kerajaan dan Amrizal Dt Rajo Medan sebagai wakilnya.

Bupati sunting

Bupati Mulai menjabat Akhir menjabat Periode Wakil Bupati
 
Sutan Riska Tuanku Kerajaan
26 Februari 2021
Petahana
2020
Lowong

Dewan Perwakilan sunting

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kabupaten Dharmasraya dalam dua periode terakhir.[18][19]

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2014-2019 2019-2024
PKB 2   1
Gerindra 2   3
PDI-P 4   7
Golkar 5   5
NasDem 3   3
Berkarya (baru) 2
PKS 1   2
PPP 1   0
PAN 2   4
Hanura 3   1
Demokrat 2   2
Jumlah Anggota 25   30
Jumlah Partai 10   10


Kecamatan sunting

Kabupaten Dharmasraya terdiri dari 11 kecamatan, 52 nagari dan 461 jorong. Berikut adalah tabel yang merincikan ibu kota dan luas wilayah setiap kecamatan;

Kecamatan Ibu kota kecamatan Luas wilayah (km2) Kode Pos
Asam Jujuhan Sungai Limau 257,72 27684
Koto Baru Koto Baru 251,35 27681
Koto Besar Koto Besar 488,19 27685
Koto Salak Koto Salak 464,39 27680
Padang Laweh Padang Laweh 59,76 27682
Pulau Punjung Sungai Dareh 482,50 27573
Sembilan Koto Silago 454,80 27683
Sitiung Sitiung 87,68 27681
Sungai Rumbai Sungai Rumbai 47,63 27686
Timpeh Tabek 237,93 27679
Tiumang Tiumang 129,18 27681
Sumber[20]

Perhubungan sunting

Kabupaten ini berada di persimpangan Jalur Lintas Sumatra yang menghubungkan antara Padang, Pekanbaru, hingga Jambi.

Kependudukan sunting

Jumlah penduduk Kabupaten Dharmasraya berdasarkan sensus tahun 2010 sebanyak 191.422 jiwa dengan rasio jenis kelamin 107. Sedangkan jumlah angkatan kerja 80.911 orang dengan jumlah pengangguran 5.360 orang.[21] Konsentrasi penduduk terbesar tinggal di Kecamatan Koto Baru dan Sungai Rumbai. Sepertiga penduduk kabupaten ini merupakan transmigran dari berbagai daerah di Pulau Jawa, yang semula dipindahkan untuk memanfaatkan ladang tidur yang terhampar luas di kabupaten ini sekaligus membuka lapangan kerja baru. Proses transmigrasi ini terjadi antara tahun 1976 hingga 2002, dan pusat transmigrasi berada di Kecamatan Sitiung.

Perkembangan Populasi Kabupaten Dharmasraya
Tahun Jumlah Penduduk Pertumbuhan Penduduk Kepadatan Penduduk
2000 144.288 jiwa 2,46% 48,73 jiwa/km²
2004 169.871 jiwa 4,24% 57,37 jiwa/km²
2008 180.915 jiwa 2,48% 61,10 jiwa/km²
2009 186.354 jiwa 2,79% 62,94 jiwa/km²
2017 191.422 jiwa 3,09% 64,64 jiwa/km²
2020 228.591 jiwa 3,09% 77,20 jiwa/km²
Sumber:[22]

Ekonomi sunting

Perekonomian di Kabupaten Dharmasraya sampai dengan tahun 2006 selalu menunjukkan perkembangan yang cukup berarti. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan nilai PDRB Kabupaten Dharmasraya baik atas dasar harga berlaku maupun harga konstan 2000 yang terus mengalami peningkatan. Nilai PDRB Kabupaten Dharmasraya atas dasar harga berlaku pada tahun 2006 tercatat sebesar 1,513 triliun rupiah sedangkan atas dasar harga konstan tahun 2000 maka pada tahun 2006 tercatat sebesar 899,308 miliar rupiah.

Dengan membandingkan nilai PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000, sampai dengan tahun 2006 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Dharmasraya selalu menunjukkan kecenderungan yang selalu meningkat. Pada tahun 2006 tercatat pertumbuhan ekonomi sebesar 6,27% di mana pada tahun 2005 tercatat sebesar 5,46%.

Pertumbuhan ekonomi yang dicapai Kabupaten Dharmasraya pada tahun 2006 relatif lebih pesat dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi yang dicapai pada tahun 2005, di mana pada tahun 2005 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Dharmasraya hanya mengalami pertumbuhan sebesar 5,46 persen. Secara nominal, nilai PDRB Kabupaten Dharmasraya menurut harga berlaku tahun 2006 tercatat sebesar 1,51 triliun rupiah, yang berarti mengalami peningkatan sebesar 17,28 persen dibandingkan dengan nilai PDRB Kabupaten Dharmasraya tahun 2005. Sedangkan secara riil perekonomian Kabupaten Dharmasraya yang ditunjukkan oleh nilai PDRB berdasarkan harga konstan tahun 2000 mencapai 899,31 miliar rupiah tahun 2006 yang berarti mengalami peningkatan dari tahun 2005 sebesar 6,27 persen, di mana pada tahun 2005 nilai PDRB mencapai 802,39 miliar rupiah.

PDRB atau PRB per kapita atas dasar harga berlaku adalah salah satu indikator untuk menunjukkan tingkat kesejahteraan ekonomi penduduk suatu daerah.

PDRB Per kapita merupakan hasil bagi antara nilai nominal PDRB dengan jumlah Penduduk pertengahan tahun sebanyak 170.440 jiwa.

PDRB Regional Per kapita menunjukkan perkiraan rata-rata pendapatan penduduk suatu daerah yang merupakan PDRB dikurangi penyusutan dan pajak tak langsung neto, dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun.

Kondisi PDRB Per kapita maupun Pendapatan Regional Per kapita untuk Tahun 2006 di Kabupaten Dharmasraya mengalami peningkatan, di mana pada tahun 2006 tercatat kenaikan pendapatan per kapita penduduk Kabupaten Dharmasraya mencapai 13,75 persen dengan nilai 8,9 juta rupiah per orang per tahun, terlihat lebih tinggi dari per kapita tahun 2005 yakni hanya 7,8 juta per orang per tahun.

Sedangkan PDRB Regional Per kapita juga mengalami peningkatan, di mana pada tahun 2005 tercatat sebesar 7,4 juta rupiah dan pada tahun 2006 meningkat menjadi 8,4 juta rupiah atau mengalami peningkatan sebesar 13,75 persen.

Perkembangan sektor-sektor ekonomi produktif baik dalam skala besar maupun skala rumah tangga juga menjadi salah satu faktor pendorong meningkatnya nilai Per kapita maupun Pendapatan Regional Per kapita untuk Tahun 2006 di Kabupaten Dharmasraya. Meningkatkan daya saing usaha dengan berkembangnya usaha-usaha produktif di setiap sektor ekonomi yang didukung oleh keberadaan sarana dan parasarana penunjang juga salah satu faktor yang mampu meningkatkan pendapatan per kapita Kabupaten Dharmasraya.

Potensi Daerah sunting

Kabupaten Dharmasraya berkembang sebagai salah satu penghasil kelapa sawit atau buah pasir menurut istilah setempat. Di samping itu, kabupaten ini juga merupakan produsen berbagai jenis tanaman keras lainnya, seperti kulit manis, karet, kelapa, gambir, kopi, cokelat, cengkih, dan pinang. Lahan perkebunan di sana lebih didominasi karet dan sawit. Penghasil kelapa sawit paling banyak di kabupaten ini adalah Kecamatan Sungai Rumbai.

Selain itu terdapat potensi tambang yang hingga detik ini belum tergarap, yakni batu bara, batu kapur, pasir kuarsa, emas, lempung kuarsit, dan sebagainya. Kabupaten ini masih baru dan masih dalam tahap mengembangkan diri dengan membuka peluang investasi seluas-luasnya. Ditunjang dengan posisi strategisnya di Sumatra (dilintasi Jalur Lintas Tengah Sumatra sepanjang 100 km), maka Dharmasraya cepat menjadi kawasan yang maju dan tumbuh sebagai wilayah perdagangan dan jasa.

Pariwisata sunting

Objek Situs/Benda Cagar Budaya sunting

  1. Prasasti Padang Roco
  2. Situs Candi Pulau Sawah
  3. Rumah Gadang Siguntur
  4. Rumah Gadang Pulau Punjung
  5. Rumah Gadang Padang Laweh
  6. Rumah Gadang Koto Salak
  7. Kerajaan Batu Kangkung
  8. Rumah Gadang Rajo Sungai Dareh

Objek Wisata Alam sunting

  1. Air Terjun Timbulun
  2. Air Terjun Sungai Batang
  3. Puncak Gunung Medan
  4. Danau Cinta
  5. Danau Batu Bakawik
  6. Danau Batang Mimpi
  7. Air Terjun Timpeh
  8. Bukit Tambun Sungai Kambut
  9. Ngalau Gua Cigak

Objek Wisata Lainnya sunting

  1. Kolam Renang Aquatik Lawai Fantasi
  2. Zaki Waterpark Seberang Piruko
  3. Embung Batu Ranah
  4. RTH Simpang Silago
  5. Taman Terpadu Ramah Anak (Tatra)
  6. Rumah Baca Ambun Suri

Sosial budaya sunting

Pada budaya populer sunting

Referensi sunting

  1. ^ a b "Pembentukan Daerah-Daerah Otonom di Indonesia s/d Tahun 2014" (PDF). www.otda.kemendagri.go.id. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 12 Juli 2019. Diakses tanggal 6 Desember 2021. 
  2. ^ a b "Kabupaten Dharmasraya Dalam Angka 2021" (pdf). www.dharmasrayakab.bps.go.id. BPS Kabupaten Dharmasraya. hlm. 6, 56. Diakses tanggal 17 April 2021. 
  3. ^ a b "Visualisasi Data Kependudukan - Kementerian Dalam Negeri 2023" (Visual). www.dukcapil.kemendagri.go.id. Diakses tanggal 30 November 2021. 
  4. ^ "Indeks Pembangunan Manusia 2022-2023". www.bps.go.id. Diakses tanggal 30 November 2023. 
  5. ^ Muljana, Slamet, (1981), Kuntala, Sriwijaya Dan Suwarnabhumi, Jakarta: Yayasan Idayu, hlm. 223.
  6. ^ Friedrich Hirth & W. W. Rockhill, (1911), Chao Ju-kua, His Work on the Chinese and Arab Trade in the Twelfth and Thirteen centuries, entitled Chu-fan-chi, St Petersburg.
  7. ^ Slamet Muljana, (2006), Sriwijaya, Yogyakarta: LKIS.
  8. ^ R.Pitono Hardjowardojo, (1966), Adityawarman, Sebuah Studi tentang Tokoh Nasional dari Abad XIV, Bhratara, Djakarta
  9. ^ Brandes, J.L.A., (1902), Nāgarakrětāgama; Lofdicht van Prapanjtja op koning Radjasanagara, Hajam Wuruk, van Madjapahit, naar het eenige daarvan bekende handschrift, aangetroffen in de puri te Tjakranagara op Lombok.
  10. ^ Wenri (12-07-2019). "Benarkah Ekspedisi Pamalayu Penaklukkan Jawa atas Sumatera? Ini Bukti Arkeologisnya..." JPNN.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-01-27. 
  11. ^ "Patung Terbesar Di Asia Akan Diboyong Ke Dharmasraya". dharmasrayakab.go.id. Humas Kabupaten Dharmasraya. 26-07-2017. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-09-12. 
  12. ^ Nasution, Mario Sofia. Atmoko, M. Hari, ed. "Di Museum Nasional, Pemkab Dharmasraya luncurkan Festival Pamalayu". ANTARA News. antaranews.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-08-14. Diakses tanggal 14-08-2019. 
  13. ^ a b c "Geografis - Pemerintah Kabupaten Dharmasraya". Pemerintah Kabupaten Dharmasraya Tau Jo Nan Ampek. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-07-26. Diakses tanggal 2020-08-26. 
  14. ^ a b "Profil Kabupaten Dharmasraya" (PDF). Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2021-01-20. Diakses tanggal 2020-09-16. 
  15. ^ "Dharmasraya, Sumatera Barat, Indonesia". Climate-Data.org. Diakses tanggal 16 September 2020. 
  16. ^ "Curah Hujan Kabupaten Dharmasraya – ZOM 21" (PDF). BMKG. hlm. 56. Diakses tanggal 16 September 2021. 
  17. ^ "Dharmasraya, Indonesia". Weatherbase. Diakses tanggal 16 September 2020. 
  18. ^ Perolehan Kursi DPRD Dharmasraya 2014-2019
  19. ^ "Perolehan Kursi DPRD Dharmasraya 2019-2024". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-08-10. Diakses tanggal 2020-05-17. 
  20. ^ "Kabupaten Dharmasraya". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-10-11. Diakses tanggal 2022-10-11. 
  21. ^ "Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat, 2010, 2014, dan 2015". Hak Cipta © 2018 Badan Pusat Statistik. Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat. 24 May 2016. Diakses tanggal 19 Juli 2018. [pranala nonaktif permanen]
  22. ^ "Profil Kabupaten Dharmasraya". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-10-15. Diakses tanggal 2022-10-15. 

Pranala luar sunting