Buka menu utama

Kabupaten Ciamis

kabupaten di Jawa Barat
(Dialihkan dari Ciamis)

Kabupaten Ciamis (aksara Sunda: ᮊᮘᮥᮕᮒᮦᮔ᮪ ᮎᮤᮃᮙᮤᮞ᮪, Latin: Kabupatén Ciamis) adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibu kotanya adalah Ciamis Kota. Kabupaten ini berada di bagian tenggara Jawa Barat, berbatasan dengan Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan di utara, Kabupaten Cilacap (Jawa Tengah) dan Kota Banjar di timur, Kabupaten Pangandaran di selatan, serta Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Tasikmalaya di barat.

Kabupaten Ciamis
Lambang Kabupaten Ciamis
Lambang Kabupaten Ciamis


Moto: Mahayunan Ayuna Kadatuan



Ciamis locator map.png
Peta lokasi Kabupaten Ciamis di Jawa Barat
Koordinat:
Provinsi Jawa Barat
Hari jadi 12 Juni 1642
Ibu kota Ciamis
Pemerintahan
-Bupati Herdiat Sunarya [1]
APBD
-DAU Rp. 1.303.907.527.000.-(2013)[2]
Luas 2.556,75 km2
Populasi
-Total 1.428.532 jiwa (2018)[3]
-Kepadatan 558,73 jiwa/km2
Demografi
-Bahasa Sunda, Indonesia, Jawa
-Kode area telepon 0265
Pembagian administratif
-Kecamatan 27
-Kelurahan 7
Simbol khas daerah
-Flora resmi Bunga Patma
-Fauna resmi Macan Tutul
Situs web www.ciamiskab.go.id

Kabupaten Ciamis terdiri atas 27 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Ciamis.

Kecamatan Banjar, yang dulunya bagian dari Kabupaten Ciamis, ditingkatkan statusnya menjadi kota administratif, dan sejak tanggal 11 Desember 2002 ditetapkan menjadi kota (otonom), yang terpisah dari Kabupaten Ciamis. Selain itu, bagian selatan Kabupaten Ciamis mengalami pemekaran pada tanggal 25 Oktober 2012 menjadi Kabupaten Pangandaran yang memiliki 10 Kecamatan.

Daftar isi

SejarahSunting

 
Raden Aria Koesoemadiningrat, regent (bupati) Galuh (1879)

Menurut sejarawan W.J Van der Meulen, Pusat Asli Daerah (kerajaan) Galuh, yaitu disekitar Kawali (Kabupaten Ciamis sekarang). Selanjutnya W.J Van der Meulen berpendapat bahwa kata "galuh", berasal dari kata "sakaloh" berarti "dari sungai asalnya", dan dalam lidah Banyumas menjadi "segaluh". Dalam Bahasa Sansekerta, kata "galuh" menunjukkan sejenis batu permata, dan juga biasa dipergunakan untuk menyebut puteri raja (yang sedang memerintah) dan belum menikah.

Sebagaimana riwayat kota-kabupaten lain di Jawa Barat, sumber-sumber yang menceritakan asal usul suatu daerah pada umumnya tergolong historiografi tradisional yang mengandung unsur-unsur mitos, dongeng atau legenda disamping unsur yang bersifat historis. Naskah-naskah ini antara lain Carios Wiwitan Raja-raja di Pulo Jawa, Wawacan Sajarah Galuh, dan juga naskah Sejarah Galuh bareng Galunggung, Ciung Wanara, Carita Waruga Guru, Sajarah Bogor. Naskah-naskah ini umumnya ditulis pada abad ke-18 hingga abad ke-19. Adapula naskah-naskah yang sezaman atau lebih mendekati zaman Kerajaan Galuh. Naskah-naskah tersebut, diantaranya Sanghyang Siksakanda ‘Ng Karesian, ditulis tahun 1518, ketika Kerajaan Sunda masih ada dan Carita Parahyangan, ditulis tahun 1580.

Berdirinya Galuh sebagai kerajaan, menurut naskah-naskah kelompok pertama tidak terlepas dari tokoh Ratu Galuh sebagai Ratu Pertama. Dalam laporan yang ditulis Tim Peneliti Sejarah Galuh (1972), terdapat berbagai nama kerajaan sebagai berikut:

  • Kerajaan Galuh Sindula (menurut sumber lain, Kerajaan Bojong Galuh) yang berlokasi di Lakbok dan beribu kota Medang Gili (tahun 78 Masehi?);
  • Kerajaan Galuh Rahyang berlokasi di Brebes dengan ibu kota Medang Pangramesan;
  • Galuh Kalangon berlokasi di Roban beribu kota Medang Pangramesan;
  • Galuh Lalean berlokasi di Cilacap beribu kota di Medang Kamulan;
  • Galuh Pataruman berlokasi di Banjarsari beribu kota Banjar Pataruman;
  • Galuh Kalingga berlokasi di Bojong beribu kota Karangkamulyan;
  • Galuh Tanduran atau Pangauban berlokasi di Pananjung beribu kota Bagolo;
  • Galuh Kumara berlokasi di Tegal beribu kota di Medangkamulyan;
  • Galuh Pakuan beribu kota di Kawali;
  • Pajajaran berlokasi di Bogor beribu kota Pakuan;
  • Galuh Pataka berlokasi di Nanggalacah beribu kota Pataka;
  • Kabupaten Galuh Nagara Tengah berlokasi di Cineam beribu kota Bojonglopang kemudian Gunungtanjung;
  • Kabupaten Galuh Imbanagara berlokasi di Barunay (Pabuaran) beribu kota di Imbanagara dan Kabupaten Galuh berlokasi di Cibatu beribu kota di Ciamis (sejak tahun 1812).

Untuk penelitian secara historis, kapan Kerajaan Galuh didirikan, dapat dilacak dari sumber-sumber sezaman berupa prasasti. Ada prasasti yang memuat nama "Galuh", meskipun nama tanpa disertai penjelasan tentang lokasi dan waktunya. Dalam prasasti berangka tahun 910, Raja Dyah Balitung disebut sebagai "Rakai Galuh". Dalam Prasasti Siman berangka tahun 943 M, disebutkan bahwa "kadatwan rahyangta I mdang I bhumi mataram ingwatu galuh" (Prasasti Anjuk Ladang) menunjuk sebuah tempat di Watugaluh, dan Megaluh, Jawa Timur.[4] Kemudian dalam sebuah Piagam Calcutta disebutkan bahwa para musuh penyerang Airlangga lari ke Galuh dan Barat, mereka dimusnahkan pada tahun 1031 Masehi. Dalam beberapa prasasti di Jawa Timur dan dalam Kitab Pararaton (diperkirakan ditulis pada abad ke-15), disebutkan sebuah tempat bernama "Hujung Galuh" yang terletak di tepi sungai Brantas. Nama Galuh sebagai ibu kota disebut berkali-kali dalam naskah sebuah prasasti berangka tahun 732, ditemukan di halaman Percandian Gunung Wukir di Dukuh Canggal (dekat Muntilan sekarang).

Pada bagian carita Parahyangan, disebutkan bahwa Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (1350-1357) berkedudukan di Kawali sebagai penguasa Kerajaan Sunda Galuh.[5][6] Setelah menjadi raja selama tujuh tahun, pergi ke Jawa terjadilah perang di Majapahit. Dari sumber lain diketahui bahwa Prabu Hayam Wuruk, yang baru naik tahta pada tahun 1350, meminta Puteri Prabu Maharaja Linggabuanawisésa untuk menjadi isterinya. Hanya saja, konon, Patih Gajah Mada menghendaki Puteri itu menjadi upeti. Raja Sunda tidak menerima sikap arogan Majapahit ini dan memilih berperang hingga gugur dalam peperangan di Bubat. Puteranya yang bernama Prabu Niskala Wastu Kancana (1371-1475) waktu itu masih kecil. Oleh karena itu kerajaan dipegang Hyang Bunisora (1357-1371) beberapa waktu sebelum akhirnya diserahkan kepada Niskala Wastu Kancana ketika sudah dewasa. Keterangan mengenai Niskala Wastu Kancana, dapat diperjelas dengan bukti berupa Prasasti Kawali dan Prasasti Batutulis serta Kebantenan.

Saat Wastu Kancana wafat, kerajaan sempat kembali terpecah dua dalam pemerintahan anak-anaknya, yaitu Prabu Susuk Tunggal yang berkuasa di Pakuan (Sunda) dan Dewa Niskala yang berkuasa di Kawali (Galuh). Sri Baduga Maharaja (1482-1521) yang merupakan anak Prabu Dewa Niskala, putra Prabu Niskala Wastu Kancana sekaligus menantu Prabu Susuk Tunggal menyatukan kembali Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Setelah runtuhnya Sunda Galuh oleh Kesultanan Banten, bekas kerajaan ini banyak disebut sebagai Kerajaan Pakuan Pajajaran.[7]

Pada tahun 1595, Galuh jatuh ke tangan Senapati dari Mataram. Invasi Mataram ke Galuh semakin diperkuat pada masa Sultan Agung. Penguasa Galuh, Adipati Panaekan, diangkat menjadi Wedana Mataram dan cacah sebanyak 960 orang. Ketika Mataram merencanakan serangan terhadap VOC di Batavia pada tahun 1628, massa Mataram di Priangan bersilang pendapat. Rangga Gempol I dari Sumedang misalnya, menginginkan pertahanan diperkuat dahulu, sedangkan Dipati Ukur dari Tatar Ukur, menginginkan serangan segera dilakukan. Pertentangan terjadi juga di Galuh antara Adipati Panaekan dengan adik iparnya Dipati Kertabumi, Bupati di Bojonglopang, anak Prabu Dimuntur keturunan Geusan Ulun dari Sumedang. Dalam perselisihan tersebut Adipati Panaekan terbunuh tahun 1625. Ia kemudian diganti puteranya Mas Dipati Imbanagara yang berkedudukan di Garatengah (Cineam sekarang).

Pada masa Dipati Imbanagara, ibu kota Kabupaten Galuh dipindahkan dari Garatengah (Cineam) ke Calingcing. Tetapi tidak lama kemudian dipindahkan ke Bendanagara (Panyingkiran). Pada Tahun 1693, Bupati Sutadinata diangkat VOC sebagai Bupati Galuh menggantikan Angganaya. Pada tahun 1706, ia digantikan pula oleh Kusumadinata I (1706-1727).

Kangjeng Prabu. Pada pertengahan abad ke-19, yaitu pada masa pemerintahan bupati Galuh yang keenambelas ini paling ternama R.A.A. Kusumadiningrat menjadi Bupati Galuh Ciamis (1839-1886). Ia mempunyai ilmu yang tinggi dan merupakan bupati pertama di wilayah itu yang bisa membaca huruf latin. Memerintah dengan adil disertai dengan kecintaannya pada rakyat. Empat puluh tujuh tahun lamanya Raden Adipati Aria Kusumadiningrat memimpin. Pemerintah kolonial sedang giat-giatnya melaksanakan tanam paksa. Rakyat yang ada di Wilayah Galuh, disamping dipaksa menanam kopi juga menanam nila. Untuk meringankan beban yang harus ditanggung rakyat, R.A.A. Kusumadiningrat yang dikenal sebagai "Kangjeng Perbu" oleh rakyatnya, membangun saluran air dan dam-dam untuk mengairi daerah pesawahan. Sejak Tahun 1853, Kangjeng Perbu tinggal di kediaman yang dinamai Keraton Selagangga. Antara tahun 1859-1877, dilakukan pembangunan gedung di ibu kota kabupaten. Disamping itu perhatiannya terhadap pendidikan pun sangat besar pula. Kangjeng Perbu memerintah hingga tahun 1886, dan jabatannya diwariskan kepada puteranya yaitu Raden Adipati Aria Kusumasubrata.

Pada tahun 1914, Kabupaten Galuh dipimpin oleh Tumenggung Sastrawinata, yang notabene-nya bukan merupakan keturunan Bupati Galuh sebelumnya. Kemudian di tahun 1915, Kabupaten Galuh dimasukkan ke Keresidenan Priangan, dan atas persetujuan Belanda, Tumenggung Sastrawinata secara resmi mengubah nama Kabupaten Galuh menjadi Kabupaten Ciamis. Belanda meresmikan perubahan tersebut pada 1 Januari 1916.[8][9]

Beberapa tahun belakangan, muncul keinginan beberapa masyarakat untuk mengubah nama Kabupaten Ciamis menjadi Kabupaten Galuh, dengan alasan bahwa nama Galuh mempunyai makna filosofis yang mendalam, dan mereka beranggapan bahwa perubahan nama Kabupaten Galuh menjadi Kabupaten Ciamis tidak mendasar.[10][9] Mereka juga menganggap bahwa nama Ciamis itu berasal dari cemoohan dan olok-olok kolonial Belanda.[9] Zaman itu Ciancang yang merupakan daerah Ciamis Kota sekarang merupakan tempat berperang.[9] Dimulai saat prajurit Mataram bertempur dengan Galuh di Ciancang hingga saat melawan kompeni.[9] Dikarenakan di daerah tersebut banjir darah karena perang, maka menimbulkan bau amis. Kemudian daerah tersebut dinamai Ciamis.[9]

GeografiSunting

TopografiSunting

 
Lambang Kabupaten Ciamis di sebuah Monumen Perbatasan
 
Pemandangan teluk Pangandaran pada tahun 1930-an

Sebagian besar wilayah Kabupaten Ciamis berupa pegunungan dan dataran tinggi, kecuali di perbatasan dengan Jawa Tengah bagian selatan. Semenjak ada pemekaran Kabupaten Pangandaran, maka saat ini wilayah Kabupaten Ciamis tidak memiliki pesisir pantai.

PemerintahanSunting

Daftar BupatiSunting

Bupati Galuh
No Bupati Mulai jabatan Akhir jabatan Prd Keterangan
Bupati Galuh
1
Adipati Panaekan
1618
1625
1
[11]
2
Mas Dipati Imbanagara
1625
1636
Bupati Galuh Imbanagara
No Bupati Mulai jabatan Akhir jabatan Prd Keterangan
3
Raden Panji Aria Jayanegara
1636
1678
3
4
Anggapraja
1678
1679
4
5
Angganaya
1679
1693
5
6
Sutadinata
1693
1706
6
7
Kusumadinata I
1706
1727
7
8
Kusumadinata II
1727
1732
8
9
Raden Jayabaya
Patih Imbanagara
1732
1751
9
10
Kusumadinata III
Mas Garuda
1751
1801
10
11
Raden Adipati Natadikusuma
1801
1806
11
12
Surapraja
1806
1811
12
13
R.T. Jayengpati Kartanagara
1811
1811
13
14
Tumenggung Natanagara
1811
1814
14
Dari Cirebon
15
Pangeran Sutajaya
1814
1815
15
16
R. T. Wiradikusumah
1815
1819
16
17
R. A. Adikoesoemah
1819
1839
17
18
R. A. Aria Koesoemadiningrat
1839
1886
18
[12]
19
R. A. Aria Kusumasubrata
1886
1914
19
Bupati Ciamis
No Bupati Mulai jabatan Akhir jabatan Prd Ket. Wakil Bupati
20
R. T. Aria Sastrawinata
1914
1935
20
[13]
21
R. T. Aria Sunarya
1935
1944
21
[14]
22
R. Mas Ardiwiangun
1944
1946
22
23
R. Vater Dendakusumah
1946
1948
23
24
T. Gumelar Wiranagara
1948
1950
24
25
Prawiranata
1950
1950
25
26
Redi Martadinata
1950
1952
26
27
Abdul Rifa’i
1952
1952
27
28
Mas Rais Sastradipura
1952
1954
28
29
Raden Yusuf Suriadipura
1954
1958
29
30
Raden Gahara Wijayasurya
1958
1960
30
31
Raden Udia Kartapruwita
1960
1966
31
32
Kolonel
Abubakar
1966
1973
32
33
Kolonel
Hudli Bambang Aruman
1973
1978
33
34
Drs. H.
Soeyoed
1978
1983
34
35
Kolonel Inf. H.
Taufik Hidayat
1983
1988
35
36
Kolonel Kav. H.
Dedem Ruchlia
1993
1998
36
Drs.
Maman Suparman Rachman
37
Drs.
Maman Suparman Rachman
1998
1999
38
H.
Oma Sasmita
S.H.
1999
2004
37
39
Kolonel (Purn) H.
Engkon Komara
2004
2009
38
2009
2014
39
[15]
Drs H.
Iing Syam Arifin
M.M
40
Drs H.
Iing Syam Arifin
M.M
6 April 2014
6 April 2019
40
[16]
Jeje Wiradinata
(2014–15)
Oih Burhanudin
(2016–19)
Asep Sudarman
(Pelaksana Harian)
6 April 2019
20 April 2024
41
Dr.
Herdiat Sunarya
20 April 2019
20 April 2024
41
Yana D. Putra


Dewan PerwakilanSunting

Berikut adalah daftar fraksi DPRD Kabupatan Ciamis Periode 2014-2019;

No Nama Fraksi Ketua Jml. Kursi
1 PDI Perjuangan OIH BURHANUDIN 10
2 Partai Demokrat DADANG HADIWIJAYA, S.Pd 9
3 Partai Golkar R. DIDA YUDANEGARA, SH 8
4 Partai Keadilan Sejahtera H. ENDANG AHMAD HIDAYAT 5
5 Partai Persatuan Pembangunan Plus WOWO KUSTIWA 7
6 Partai Kebangkitan Bangsa Drs. H. WAGINO 5
7 Amanat Rakyat YANA D. PUTRA 5
Jumlah 50

KecamatanSunting

Kabupaten Ciamis memiliki 27 kecamatan, 7 kelurahan, dan 258 desa. Pada tahun 2017, jumlah penduduk mencapai 4.246.307 jiwa dengan luas wilayah 2.710,62 km² dan sebaran penduduk 1.566 jiwa/km².[17]

TransportasiSunting

 
Jembatan kereta api antara Banjar dan Cijulang.

Ibu kota kabupaten Ciamis berada di jalan Lintas jalur (Bandung-Yogyakarta-Surabaya). Kabupaten ini juga dilintasi jalur kereta api lintas selatan, dengan stasiun terbesarnya di Ciamis.

TelekomunikasiSunting

Pelayanan antar-kirim surat, barang, dan titipan dana dapat dilakukan melalui Kantor Pos di tiap-tiap kecamatan.

Sambungan telepon-tetap telah menjangkau hampir setiap desa/kelurahan di Kabupaten ini, kecuali di areal pegunungan yang masih belum diinstalasi.

Untuk kepentingan telekomunikasi bergerak, di pusat kabupaten, semua operator seluler GSM nasional dan beberapa operator CDMA telah dapat dimanfaatkan dengan cukup baik, juga di beberapa kecamatan sekitarnya. Sementara kecamatan-kecamatan lainnya baru dijangkau operator GSM.

Di beberapa kecamatan, Internet telah dapat diakses melalui sambungan telepon-tetap. Adopsi internet oleh masyarakat Ciamis cukup tinggi, yang juga dipengaruhi oleh lahirnya beberapa media online di Priangan Timur, seperti misalnya media online Warta Priangan yang memang berdomisili di Kabupaten Ciamis.

KesehatanSunting

Di tiap-tiap Kecamatan terdapat klinik Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), juga terdapat Praktik Dokter Swasta.

Di pusat Kabupaten terdapat Rumah Sakit Umum,Rumah Sakit Al-Arif, Rumah Sakit Permata Bunda, Rumah Sakit Nirmala dan Rumah Sakit Bersalin Harapan Bunda selain itu untuk mereka yang lebih dekat ke Kota Banjar dapat mengakses Rumah Sakit Umum Banjar (di Kota Banjar), atau dapat pula ke beberapa Rumah Sakit Umum di Kota Tasikmalaya.

PariwisataSunting

Objek wisata yang ditawarkan di Kabupaten Ciamis adalah Situ Lengkong, Situs Karangkamulyan (Ciung Wanara ).[18]

Beragam makanan khas ditawarkan seperti Sale Pisang, Galendo, Gula Merah, dan Abon Ikan Patin.

Media massaSunting

Ada beberapa media massa lokal yang beredar di Kabupaten Ciamis, baik dalam bentuk media cetak, elektronik maupun internet (media online). Beberapa media cetak lokal yang beredar di Ciamis antara lain Kabar Priangan (Grup Pikiran Rakyat) dan Radar Ciamis (Grup Jawa Pos). Selain kedua koran tersebut ada juga beberapa tabloid terbitan lokal, misalnya saja Tabloid Pendidikan Ganesha yang dikelola oleh PGRI Kabupaten Ciamis. Tabloid Pendidikan Ganesha berdiri sejak tahun 2004 kemudian sejak tahun 2009 berubah nama menjadi Tabloid Media Pendidikan Ganesha dan terbit mingguan.[butuh rujukan]

Sementara untuk media elektronik, ada beberapa stasiun radio yang mengudara di Kabupaten Ciamis, diantaranya: Radio Actari FM, Radio Pitaloka FM, MG FM, Piss FM, Kartika FM dan Tagati FM. Untuk media online, Ciamis memiliki Warta Priangan, media online yang beralamat domain di www.wartapriangan.com.

Pada tanggal 31 Desember 2017 sekelompok anak muda Ciamis yang digawangi oleh Khairul Anwar membentuk media online Galuh ID yang beralamat di www.galuh.id. Galuh ID dibuat dengan semangat ingin mengenalkan Ciamis ke dunia luar terutama prestasi dan potensi Ciamis di berbagai bidang.

Stasiun TV yang mengudara di Ciamis adalah Galuh TV. Sayangnya, Galuh TV berhenti beroperasi setelah mengalami kesulitan keuangan.

Stadion sepak bolaSunting

Di Ciamis ada lapangan sepak bola kelas Divisi Utama yaitu Stadion Galuh yang merupakan kandang dari klub sepak bola PSGC Ciamis [19]

Perguruan tinggiSunting

Daftar hotelSunting

  • Hotel Tyara Plaza

Tokoh CiamisSunting

Ciamis telah melahirkan banyak tokoh dalam berbagai bidang kehidupan sosial, politik, akademis,dan agama namun pada umumnya enggan menunjukkan atau menonjolkan diri (tawadhu). Di antaranya yang dianggap memiliki jasa dalam mengharumkan nama Kabupaten Ciamis:

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ https://infopemilu.kpu.go.id/pilkada2018/paslon/jawabarat/ciamis/686 diakses 22 April 2019
  2. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  3. ^ http://jabar.bps.go.id/Tabel/penduduk/JumlahPenduduk.html Jumlah penduduk Kabupaten Ciamis tahun 2007 versi BPS Provinsi Jawa Barat
  4. ^ http://www.kompasiana.com/lintangwetan/ujung-galuh-bukan-surabaya_54f4108f7455137d2b6c85d1
  5. ^ Ekajati, Edi S. (2005). Kebudayaan Sunda Zaman Pajajaran. Yayasan Cipta Loka Caraka.
  6. ^ Noorduyn, J. (2005). Three Old Sundanese poem. KITLV Press.
  7. ^ Kebudayaan Sunda Zaman Pajajaran, Jilid 2, Edi S. Ekajati, Pustaka Jaya, 2005
  8. ^ "Lika-Liku Bubarnya Kabupaten Galuh". Sejarah Cirebon. Diakses tanggal 2019-06-02. 
  9. ^ a b c d e f "Nama Kabupaten Ciamis Berubah Menjadi Kabupaten Galuh?". SINDOnews.com. Diakses tanggal 2019-06-02. 
  10. ^ digital, pikiran rakyat. "Perubahan Nama Ciamis Jadi Galuh Mulai Diproses". Pikiran Rakyat. Diakses tanggal 2019-06-02. 
  11. ^ http://www.wisataciamis.info/2015/11/kisah-tragis-adipati-panaekan.html
  12. ^ Nina H. Lubis, Sejarah Kota-kota Lama di Jawa Barat, tahun 2000.
  13. ^ Prof.Dr.Sobana Harjasaputra, M.A, http://daerah.sindonews.com/read/1075926/21/nama-kabupaten-ciamis-berubah-menjadi-kabupaten-galuh-1452477570
  14. ^ http://www.harapanrakyat.com/2013/06/kabupaten-galuh-ciamis-menuju-perubahan/
  15. ^ "Engkon Komara Dilantik Jadi Bupati Ciamis". Pikiran Rakyat , Diakses 5 September 2015.
  16. ^ "Iing Syam Arifin Resmi Dilantik Jadi Bupati Ciamis". Media Jabar , Diakses 5 September 2015.
  17. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diakses tanggal 5 Desember 2018. 
  18. ^ "Best Places to Visit in Ciamis". September 10, 2017. 
  19. ^ http://daerah.sindonews.com/read/954552/151/menpora-terkesan-stadion-galuh-1421985160
  20. ^ http://www.uinsgd.ac.id/front/detail/fokus/kh-irfan-hielmy-ulama-teladan
  21. ^ https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=UIN_Sunan_Gunung_Djati&stable=0#Rektor
  22. ^ "Demi Pendidikan Sejarah Nasional". Pelita.or.id. Diakses tanggal 7 Agustus 2015. 
  23. ^ Blogs.unpad.ac.id. "Kkl Sastra Indonesia Unpad". Blogs.unpad.ac.id. Diakses tanggal 7 Agustus 2015.. 
  24. ^ https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Rektor_UIN_Syarif_Hidayatullah_Jakarta
  25. ^ http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI_PEND_DAN_BIMBINGAN/195003211974121-SUNARYO_KARTADINATA/CV_Prof._Sunaryo.pdf
  26. ^ http://gurubesar.upi.edu/sunaryo-kartadinata
  27. ^ http://www.ispi.or.id/2014/12/09/prof-sunaryo-kartadinata-m-pd-terpilih-kembali-menjadi-ketua-umum-ispi/
  28. ^ http://kampus.okezone.com/read/2010/06/18/373/344395/sunaryo-kartadinata-kembali-pimpin-upi

Pranala luarSunting