Buka menu utama

Pangeran Djaija Samitra (Sumitra)[1] atau Pangeran Djaja Samitra (Sumitra)[2] atau Pangeran Djaya Simitra[3] adalah sekretaris pribadi Sultan Adam, Raja Banjar. Sebagai staff Sultan Adam, Pangeran Djaija (Djaja) Samitra memperoleh hasil pungutan tanah apanage sebagai penghasilannya. Dalam tahun 1860, Pangeran Djaija (Djaja) Samitra (Sumitra) berusia dan kerabatanya yang juga menjadi staff Sultan Adam yaitu Pangeran Aminullah berusia 30 tahun.[1][3]

Sepeninggal Sultan Adam, Pangeran ini pindah ke kampung Salino dan menjadi Raja di Pulau Laut.

Pangeran Djaija (Djaja) Samitra merupakan anak Pangeran Hadji Moesa (bin Pangeran Hadji Moehamad). Pangeran Hadji Moehamad, pemilik tanah apanage Sela-Selilau, Tanah Kusan, dan Kuranji.[2][4]

Pangeran Hadji Moesa ini memiliki anak-anak berikut, seperti: Pangeran Djaja Samitra, Mohamad Napis, Pandji dan Ab'doel Kadir dan Goesti Djamal-oedin.[2][4]

Pangeran Djaja Samitra, yang ibunya keturunan masyarakat kecil, masih menjadi penulis rahasia Sulthan di Banjarmasin. Pangeran Mohamad Napis pengganti ayahnya sebagai raja Koessan, telah wafat pada tahun 1845 dan kemudian digantikan oleh saudaranya, Abd'oel Kadir. Pangeran Pandji meninggal di Batavia. Goesti Djamal-oedien menjabat mangkubumi negara Koessan saat ini (tahuhn 1860).[2]

Daftar isi

PemakamanSunting

Makam Pangeran Djaija Samitra (Pangeran Jaya Sumitra) dan Raja-raja Pulau Laut lainnya terletak di Kampung Sigam, Jalan Barangas, km 3,5, Pulau Laut Utara.

RelasiSunting

Maka Sultan Hidayatullah (ke-1) pun matilah, maka ditanam di Kuin dekat dengan kubur Sultan Rakhmatillah. Adapun Sultan Musta'in Billah berputra Sultan Indallah (Inayatullah), dan Sultan Indallah berputra Sultan Sa'idillah, berputra Sultan Tahlilillah, berputra enam orang, yang tuha Sultan Tamjidillah dan Pangeran Nullah jadi mangkubumi, dan Pangeran Dipati [Desa Bumi] dan Pangeran Mas dan Pangeran Istana Dipati dan Pangeran Wira Kusuma. Adapun Pangeran Dipati [Desa Bumi] beristeri Raja Bugis berputra Aji Pangeran, ialah jadi raja di tanah Kusan. Adapun Pangeran Mas beristeri di Banjarmasin, berputera dua orang laki-laki, yang tuha bernama Pangeran Arga, dan yang muda bernama Pangeran Dipati.[5]

Pangeran Djaija Samitra merupakan anak Pangeran Hadji Moesa, dan juga sekaligus cucu dari Pangeran Hadji Moehamad alias Hadji Pangeran/Aji Pangeran (bin Pangeran Dipati Desa Boemi ?). Pangeran Hadji Moehamad juga keturunan Pangeran Dipati Toeha raja Tanah Bumbu ke-1.[4]

Pememilik Tanah Bumbu, Pangeran Dipati Toewa (putera mahkota perwalian dari Sultan Achmad-ollah/Tantahid-ollah/Raden Alit), saudara dari Pangeran Dipati Anom.[6]

[8]

SULTAN BANJAR
♂ Sultan Tahlilu'llah
♂ Pangeran Dipati Desa Boemi
♂ Pangeran Kasuma Nagara
♂ Pangeran Mangku
APANAGE SELA SELILAU-BATULICIN KUSAN (1802)
♂ Pangeran Hadji Moehamad[7]
(Aji Pangeran)
RAJA BATULICIN-BANGKALAAN (1832)
♂ Pangeran Hadji Moesa = ♀ Nyai Ambak
RAJA PULAU LAUT 1
♂ Pangeran Djaija Samitra
♂ Pangeran Kasoema Giri
(Goesti Abdoellah)
♂ Goesti M.Basoe
♂ Goesti Abdoellah
♂ Goesti Moehammad

ReferensiSunting

  1. ^ a b Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (1860). Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap (dalam bahasa Belanda). 9. Batavia: Lange. hlm. 128. 
  2. ^ a b c d Schwaner, C.A.L.M. (1851). Historische, geografische en statistieke aanteekeningen betreffende Tanah Boemboe: aangetroffen onder de bij het Gouvernement van Nederlandsch-Indië berustende papieren van C.A.L.M. Schwaner (dalam bahasa Belanda). 1. hlm. 40. 
  3. ^ a b (Belanda) Rees, Willem Adriaan (1867). De Bandjermasinsche Krijg van 1859-1863: Nader Toegelicht (dalam bahasa Belanda). Arnhem: D.A. Thieme. 
  4. ^ a b c (Belanda) Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (1853). Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde. 1. Lange. hlm. 344. 
  5. ^ (Indonesia) Saleh, Mohamad Idwar (1986). Tutur Candi, sebuah karya sastra sejarah Banjarmasin. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. hlm. 150. 
  6. ^ (Belanda) Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (1857). Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde. 6. Lange. hlm. 245. 
  7. ^ (Inggris) "Rulers in Asia (1683 – 1811): attachment to the Database of Diplomatic letters" (PDF). Arsip Nasional Republik Indonesia. hlm. 56. Diakses tanggal 2019-01-05. 
  8. ^ https://www.kompasiana.com/istorya/5a34b7205e13735d2e48ba33/pangeran-kesuma-giri-bangsawan-birokrat-serambi-mekah

Pranala luarSunting