Buka menu utama

Kota Padang Sidempuan

kota di Sumatera Utara
(Dialihkan dari Padangsidempuan)

Kota Padang Sidempuan adalah sebuah kota di Provinsi Sumatra Utara, Indonesia.

Kota Padang Sidempuan
ᯂ᯲ᯥᯖ ᯈᯑᯊ᯲ᯎ᯲ ᯚᯪᯑᯪᯔ᯲ᯇᯮᯀᯊ᯲
Padangsidempuan.jpg
Logo resmi Kota Padang Sidempuan ᯂ᯲ᯥᯖ ᯈᯑᯊ᯲ᯎ᯲ ᯚᯪᯑᯪᯔ᯲ᯇᯮᯀᯊ᯲
Logo
Semboyan: Salumpat Saindege
(Selangkah Seirama, Seia Sekata)
Letak Kota Padang Sidempuan di Sumatra Utara
Letak Kota Padang Sidempuan di Sumatra Utara
Kota Padang Sidempuan ᯂ᯲ᯥᯖ ᯈᯑᯊ᯲ᯎ᯲ ᯚᯪᯑᯪᯔ᯲ᯇᯮᯀᯊ᯲ berlokasi di Indonesia
Kota Padang Sidempuan ᯂ᯲ᯥᯖ ᯈᯑᯊ᯲ᯎ᯲ ᯚᯪᯑᯪᯔ᯲ᯇᯮᯀᯊ᯲
Kota Padang Sidempuan
ᯂ᯲ᯥᯖ ᯈᯑᯊ᯲ᯎ᯲ ᯚᯪᯑᯪᯔ᯲ᯇᯮᯀᯊ᯲
Letak kota Padang Sidempuan di Indonesia
Koordinat: 1°22′00″N 99°16′20″E / 1.36667°N 99.27222°E / 1.36667; 99.27222
NegaraIndonesia
ProvinsiSumatra Utara
AgamaIslam 85.57%
Kristen Protestan 13.11%
Katolik 0.88%
Buddha 0.43%[1]
Pemerintahan
 • Wali KotaIrsan Efendi Nasution SH
 • WakilIr. H. Arwin Siregar M.M.
Luas
 • Total114.65 km2 (44.27 sq mi)
Penduduk (2016[2])
 • Total212.917
 • KepadatanBad rounding here1,900/km2 (Bad rounding here4,800/sq mi)
Zona waktuWIB (UTC+7)
Kode wilayah+62 634

Kota Padang Sidempuan merupakan kota terbesar di wilayah Tapanuli. Kota ini terkenal dengan sebutan Kota Salak karena di kota inilah para petani salak yang berada di Kabupaten Tapanuli Selatan (yang mengelilingi wilayah kota ini), terutama pada kawasan di kaki Gunung Lubukraya, menjual hasil panen mereka.

SejarahSunting

Nama kota ini berasal dari "Padang na dimpu" (padang=hamparan luas, na=yang, dan dimpu=tinggi) yang berarti "hamparan rumput yang luas yang berada di tempat yang tinggi." Pada zaman dahulu daerah ini merupakan tempat persinggahan para pedagang dari berbagai daerah, pedagang ikan dan garam dari Sibolga - Padang Sidempuan - Panyabungan, Padang Bolak (Paluta) - Padang Sidempuan - Sibolga.

Seiring perkembangan zaman, tempat persinggahan ini semakin ramai dan kemudian menjadi kota. Kota ini dibangun pertama kali sebagai benteng pada tahun 1821 oleh pasukan Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Lelo. Benteng ini membentang dari Batang Ayumi sampai Aek Sibontar. Sisa-sisa benteng peninggalan Perang Paderi saat ini masih ditemukan, walau sudah tidak terawat dengan baik. Salah satu pengaruh pasukan Paderi ini pada kota bentukan mereka ialah agama yang dianut oleh mayoritas penduduk kota ini, yaitu agama Islam.

Pada zaman penjajahan Belanda, kota Padang Sidempuan dijadikan pusat pemerintahan oleh penjajah Belanda di daerah Tapanuli. Peninggalan bangunan Belanda disana masih dapat dijumpai berupa kantor pos polisi di pusat kota. Sehingga tidak heran, kalau ingin melihat sejarah kota Padang Sidempuan, tersimpan foto-foto zaman dahulu kota Padang Sidempuan di sebuah museum di kota Leiden, Belanda.

GeografisSunting

Secara geografis, kota Padang Sidempuan secara keseluruhan dikelilingi oleh Kabupaten Tapanuli Selatan yang dulunya merupakan kabupaten induknya. Kota ini merupakan persimpangan jalur darat menuju kota Medan, Sibolga, dan Padang (Sumatra Barat) di jalur lintas barat Sumatra.

Topografi wilayahnya yang berupa lembah yang dikelilingi oleh Bukit Barisan, sehingga kalau dilihat dari jauh, wilayah kota Padang Sidempuan tak ubahnya seperti cekungan yang meyerupai danau. Puncak tertinggi dari bukit dan gunung yang mengelilingi kota ini adalah Gunung Lubuk Raya dan Bukit (Tor) Sanggarudang yang terletak berdampingan di sebelah utara kota. Salah satu puncak bukit yang terkenal di Padang Sidempuan yaitu Bukit (Tor) Simarsayang. Juga terdapat banyak sungai yang melintasi kota ini, antara lain sungai Batang Ayumi, Aek Sangkumpal Bonang (yang sekarang menjadi nama pusat perbelanjaan di tengah kota ini), Aek Rukkare yang bergabung dengan Aek Sibontar, dan Aek Batangbahal, serta Aek Batang Angkola yang mengalir di batas selatan/barat daya kota ini dan dimuarai oleh Aek Sibontar didekat Stadion Naposo.

PemerintahanSunting

Sejak pemerintahan Hindia Belanda hingga kota ini berubah menjadi Kota Administratif berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1982, kota ini terbagi atas enam (6) wek (wijk) yakni Wek I (Kampung Marancar), Wek II (Pasar Julu), Wek III (Kampung Teleng), Wek IV (Kampung Jawa dan Kantin), Wek V (Pasar Siborang dan Sitamiang), dan Wek VI (Kampung Darek). Kemudian sejak tanggal 21 Juni 2001, berdasarkan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2001, Kota Padang Sidempuan ditetapkan sebagai Daerah Otonom dan merupakan hasil penggabungan dari Kecamatan Padang Sidempuan Utara, Kecamatan Padang Sidempuan Selatan, Kecamatan Padang Sidempuan Batunadua, Kecamatan Padang Sidempuan Hutaimbaru, dan Kecamatan Padang Sidempuan Tenggara yang sebelumnya masuk wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan. Pada tanggal 17 Oktober 2001, Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno meresmikan Pemerintah Kota Padangsidimpuan di Jakarta. Gubernur Provinsi Sumatra Utara kemudian melantik Drs. Zulkarnain Nasution sebagai Pejabat Wali kota Padangsidimpuan pada tanggal 9 Nopember 2001 di Padangsidimpuan.

Daftar Wali KotaSunting

No Gambar Nama Awal menjabat Akhir menjabat Prd. Ket. Wakil
1
Zulkarnaen Nasution
2002
2007
1
2007
2012
2
Maragunung Harahap
2
  Andar Amin Harahap
4 Januari 2013
4 Januari 2018
3
M Isnandar Nasution
Sarmadan
(Penjabat)
12 Januari 2018
28 September 2018
[3][4]
3
  Irsan Efendi Nasution
28 September 2018
Petahana
4
[5]
Arwin Siregar


Dewan PerwakilanSunting

Sesuai dengan hasil Pemilu 2014, kota ini diwakili oleh sejumlah partai sebagaimana yang tertera pada tabel.

Kota Padang Sidempuan 2014-2019
Partai Kursi
Lambang PDI-P PDI-P 5
Lambang Partai Hanura Hanura 4
  PKN 3
  Gerindra 3
Lambang PAN PAN 3
PBB 2
  Nasdem 1
  PKPI 1
Sumber:[6]

KecamatanSunting

Kecamatan di Kota Padang Sidempuan adalah:

DemografiSunting

AgamaSunting

Mayoritas penduduk kota Padang Sidempuan beragama Islam, dan sebagian lagi beragama Kristen, Katolik dan Budha. Berdasarkan Sensus 2010, penduduk yang beragama Islam berjumlah 89.95%, Kristen: 8.94%, Katolik: 0.46%, Budha: 0.35%, dan lainnya: 0.29%.

EtnisSunting

Komposisi etnis Kota Padang Sidempuan pada tahun 2010
Etnis Jumlah (%)
Angkola 44,8
Mandailing 20,1
Batak Toba 14,5
Jawa 11,3
Minangkabau 4,2
Nias 2,5
Lain-lain 2,6
Sumber: Sensus Penduduk Tahun 2010

Sebagai kota terbesar di Tapanuli, Padang Sidempuan merupakan kota pertemuan tiga etnis di Sumatra Utara, yakni Angkola, Mandailing, dan Batak Toba. Selain itu dalam jumlah besar terdapat pula etnis Jawa dan Minangkabau. Kehadiran orang-orang Jawa di Padang Sidempuan diperkirakan sejak tahun 1970-an disaat pembangunan Jalan Raya Lintas Sumatra. Sedangkan orang-orang Minang, sudah merantau ke Padang Sidempuan sejak masa Perang Paderi. Sebelum masa kemerdekaan, banyak ulama dan guru asal Minangkabau yang mengajar di kota ini.[7]

PendidikanSunting

Saat ini aset pendidikan berupa sekolah di kota Padang Sidempuan tercatat TK sebanyak 13 unit negeri dan swasta. Tingkat SD, MIN (Madrasah Ibtidaiyah Negeri) dan swasta sebanyak 91 unit. setingkat SMP, MTs negeri dan swasta 34 unit dan SMA, MA, dan SMK negeri dan swasta sebanyak 37 unit. Sedangkan Perguruan Tinggi negeri dan swasta sebanyak 10 unit. Satu-satunya perguruan tinggi negeri di kota Padangsidmpuan adalah IAIN Padangsidimpuan dan satu perguruan tinggi swasta Universitas Graha Nusantara sedang tahap proses menjadi universitas negeri. UGN berada di Simarsayang. Satu sekolah tinggi Swasta yaitu STKIP Kota Padang Sidempuan atau Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kota Padang Sidempuan. Sedangkan salah satu perguruan tinggi swasta lainnya yaitu Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS) yang merupakan universitas swasta terbesar di daerah Tabagsel bahkan terbesar di daerah Sumut setelah kota Medan.

EkonomiSunting

Penghasilan masyarakat Padang Sidempuan sebagian besar bertani. meliputi persawahan dan perkebunan. Praroduksi perkebunan yang utama adalah salak. Dahulu, kebun salak hanya terpusat di kaki Tor Sanggarudang (di antaranya, Hutakoje, Hutalambung, Sibakkua) dan pada akhir 1970-an perkebunan salak kemudian meluas ke kaki Gunung Lubukraya (seperti Lobu Layan, Sitaratoit, Pintu Langit), dan wilayah barat kota ini. Hasil perkebunan lainnya ialah karet, kopi, kelapa, kakao, cengkih, kemiri dan kulit manis.

Sarana dan PrasaranaSunting

Tepat di pusat kota, terdapat alun-alun yang disebut dengan Alaman Bolak (Halaman Luas), Plaza Anugrah yang berdampingan dengan Pasar Sangkumpal Bonang, dan Masjid Raya al-Abror. Masjid ini dibangun pada lapangan sepak bola yang bersamaan dengan pembangunan masjid ini dibangun juga sebuah stadion baru. Kota ini juga memiliki klub sepak bola yang bernama PSKPS (Persatuan Sepak bola Kota Padang Sidempuan) yang bermarkas di Stadion Naposo (sekarang bernama Stadion "M. Nurdin Nasution," sebagai penghormatan kepadanya yang ketika menjabat bupati Tapanuli Selatan dia membangun stadion ini pada 1962). Untuk pengelolaan air bersih di Kota Padang Sidempuan dikelola oleh PDAM Kota Padang Sidempuan dengan menggunakan sistem BNA, dengan sumber air bersih dari sumber air permukaan.[8]

PariwisataSunting

Tugu SalakSunting

Tugu Salak adalah sebuah ikon kota dan banyak warga Padang Sidempuan yang menjadikannya sebagai taman wisata atau tempat bersantai, biasanya mulai dari sore hingga dengan larut malam.

ReferensiSunting

Pemerintah Kota Padangsidimpuan Menghadapi Tantangan Zaman oleh Basyral Hamidy Harahap

Pranala luarSunting


  1. ^ "Kota Padangsidimpuan Dalam Angka 2016"
  2. ^ Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kecamatan, 2010-2016
  3. ^ Batubara, Nanda Fahriza (12 Januari 2018). Tarigan, Salomo, ed. "Tengku Erry Lantik Sarmadan Hasibuan sebagai Penjabat Wali Kota Padangsidempuan". TribunNews Medan. Diakses tanggal 24 Januari 2018. 
  4. ^ Sugito, Irvan (12 Januari 2018). "Tengku Erry Lantik 2 Pejabat Daerah". Medan Bisnis Daily. Diakses tanggal 24 Januari 2018. 
  5. ^ Simbolon, Rafael; Pangaribuan, Peter (2015-07-14). "Gubsu Lantik Walikota Padangsidimpuan Irsan Efendi Nasution". Target 24 Jam. Diakses tanggal 2018-09-30. 
  6. ^ "Di Sidimpuan, PDI-P Raih Kursi Terbanyak, PKS Nihil", Harian Analisa
  7. ^ Hamka, Islam dan adat Minangkabau, 1984
  8. ^ ciptakarya.pu.go.id Profil Kota Padang Sidempuan