Ekologi

ilmu tentang interaksi antara makhluk hidup dengan sesama makhluk hidup serta dengan lingkungannya

Ekologi adalah cabang ilmu biologi yang mempelajari interaksi antara makhluk hidup dengan makhluk hidup lain dan juga dengan lingkungan sekitarnya.[1] Dalam ilmu lingkungan, ekologi dijadikan sebagai ilmu dasar untuk memahami interaksi di dalam lingkungan.[2] Komponen yang terlibat dalam interaksi ini dapat dibagi menjadi komponen biotik (hidup) dan abiotik (tak hidup).[3] Sistem ekologi terbentuk dari kesatuan dan interaksi antarkomponen penyusun ekosistem yang saling berhubungan satu sama lain.[4] Analisis ekologi digunakan oleh manusia untuk menciptakan lingkungan hidup berkelanjutan dengan cara yang dapat dipertanggungjawabkan demi pengamanan dan kelestarian, dan kesejahteraan. Asas-asas ekologi digunakan dalam menganalisis lingkungan hidup manusia, pertambahan penduduk, peningkatan produksi makanan, penghijauan, erosi, banjir, pelestarian plasma nutfah, dan hewan-hewan langka, koleksi buah-buahan langka, dan pencemaran lingkungan.[5]

Ekologi
Ekologi membahas seluruh skala kehidupan, dari bakteri mikroskopik hingga proses yang menjangkau seluruh planet.

Ekologi merupakan ilmu dengan topik yang luas dan kompleks, yang mencakup hierarki dan keanekaragaman hayati, jumlah dan persebaran organisme, peran dan interaksi antarorganisme, habitat dan relung, jaring-jaring makanan, daur nutrien dan daur biogeokimia, serta berbagai proses lainnya. Berbagai pendekatan dapat digunakan untuk mengelompokkan ekologi menjadi sejumlah subdisiplin ilmu, baik menurut pola spasial (tempat) dan temporal (waktu), subjek yang dipelajari, maupun keterkaitan dengan bidang ilmu lainnya.

Sejarah

sunting
 
Ernst Haeckel, ilmuwan yang mencetuskan kata ekologi

Tak ada batas yang jelas mengenai permulaan ekologi sebagai disiplin ilmiah. Meskipun demikian, prinsip-prinsip ekologi telah ditelaah sejak zaman Yunani Kuno oleh Aristoteles. Murid Aristoteles yang bernama Theophrastus, kemudian mengamati dan menjelaskan hubungan antara organisme dan lingkungannya. Ia memusatkan perhatian pada alasan spesies tertentu lebih menyukai lingkungan tertentu.[6] Pada awal abad ke-19 M, Alexander von Humboldt menjelaskan korelasi antara asosiasi tumbuhan (seperti padang rumput, hutan hujan, dan tundra) dengan faktor lingkungan (seperti suhu, curah hujan, dan topografi) untuk memahami jumlah dan persebaran spesies hewan dan tumbuhan.[7] Istilah ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernst Haeckel sebagai oekologie pada tahun 1866; kata bahasa Yunani oikos sendiri dijadikan akar bagi istilah ekonomi (pengaturan rumah tangga) dan ekologi (studi tentang rumah tangga).[8] Tiga tahun setelah memublikasikan istilah ini, Haeckel mendefinisikan ekologi sebagai seluruh ilmu tentang hubungan organisme dengan dunia luar di sekitarnya serta hubungan yang dapat diperhitungkan dalam arti yang lebih luas pada semua kondisi keberadaan. Hal ini sebagian bersifat organik, sebagian lagi bersifat anorganik.[9]

Para ahli memandang definisi ekologi yang disampaikan oleh Haeckel sebagai bagian dari fisiologi. Charles Krebs kemudian memisahkan ekologi dari kajian fisiologi. Ia menberikan penjelasan bahwa ekologi merupakan ilmu yang mengkaji interaksi mahluk hidup yang menjelaskan tentang distribusi dan keragaman mahluk hidup. Dalam interaksi lingkungan, ekologi tetap tidak terpisahkan dengan fisiologi. Definisi ekologi Krebs kemudian dijadikan inti dari kajian ekologi.[10]

George Evelyn Hutchinson (1903–1991) disebut sebagai bapak limnologi dan bapak ekologi modern. Ia secara komprehensif mengamati dan mengukur secara empiris faktor-faktor organik dan lingkungan yang dapat memengaruhi biota suatu danau, serta meletakkan dasar-dasar relung ekologi.[11][12]

Ekologi kemudian menjadi populer sekitar tahun 1960-an ketika isu-isu lingkungan mulai mendapatkan perhatian publik.[13] Perkembangan keilmuan ekologi dan hubungaannya dengan ilmu pengetahuan lain, terjadi pada tahun 1968 dan tahun 1970 dengan timbulnya gerakan kesadaran lingkungan. Masyarakat mulai memikirkan masalah polusi, pelestarian alam, kependudukan serta konsumsi pangan dan energi. Sebelum tahun 1970-an, ekologi masih dipandang sebagai bagian dari biologi. Setelahnya ekologi menjadi disiplin ilmiah yang terpisah dari biologi. Kajian ekologi berkaitan dengan proses-proses fisis dan biologis dan menghubungkan ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial.[14] Pada masa kini, ekologi dikaitkan dengan beragam bidang ilmu lain karena kompleksitasnya yang tinggi, mulai dari filsafat hingga matematika.[15][16]

Konsep

sunting

Lingkungan

sunting

Lingkungan merupakan segala sesuatu di sekitar organisme yang mempengaruhi hidup organisme tersebut. Suatu organisme selalu hidup dalam ingkungan yang merupakan suatu ekosistem. Lingkungan merujuk ke suatu organisme, sedangkan ekosistem tidak dapat merujuk ke suatu jenis organisme. Lingkungan dapat dinyatakan secara kualitatif, sedangkan ekosistem hanya dapat dinyatakan secara kuantitatif.[17]

Ekosistem

sunting

Suatu sistem ekologi disebut sebagai ekosistem. Susunan dai ekosistem ialah seluruh organisme yang berfungsi bersama dalam suatu wilayah yang berinteraksi dengan lingkungan fisiknya. Interaksi ini membentuk aliran energi yang menghasilkan struktur biota yang jelas dan siklus materi antara bagian hidup dan tak hidup.[18] Struktur yang sama terbentuk dalam berbagai ekosistem yang berbeda. Semua ekosistem memiliki komponen biotik dan abiotik. Komponen biotiknya dapat dikelompokkan berdasarkan tingkat trofiknya. Semua ekosistem juga memiliki fungsi utama yang sama, yaitu mengalirkan energi dan membentuk siklus materi.[19]

Interaksi organisme

sunting

Ekologi mempelajari tentang interaksi antar-organisme dan interkasi organisme dengan komponen abiotik. Bentuk interaksi ini berupa cara-cara organisme beradaptasi untuk memanfaatkan lingkungannya. Mahluk hidup membutuhkan energi dan materi yang konstan untuk mempertahankan kehidupanya sehingga interaksi selalu melibatkan materi dan energi.[20] Interaksi organisme terjadi di dalam ekosistem yang mencakup kegiatan pemangsaan, persaingan, dan hubungan simbiosis.[21]

Suksesi

sunting

Suksesi merupakan proses perubahan komposisi spesies di dalam suatu bentang alam atau ekosistem. Perubahan komposisi terjadi karena adanya gangguan pada ekosistem atau bentang alam yang merupakan habitat satwa. Setelah gangguan menghilang atau lenyap, para satwa mencoba mengembalikan kondisi habitat seperti semula. Proses suksesi dapat terjadi secara cepat atau perlahan. Suksesi yang berlangsung selama ratusan tahun akan mencapai tahapan akhir yang membuat suatu komunitas, ekosistem, atau bentang alam tidak dapat berubah lagi.[22] Suksesi dapat dibedakan berdasarkan proses terjadinya yaitu menjadi suksesi primer dan suksesi sekunder. Suksesi primer adalah suksesi yang terjadi pada ekosistem atau bentang alam yang tidak menyisakan habitat sedikit pun. Lokasi suksesi primer dapat ditemukan pada wilayah geografis yang luas. Suksesi primer umumnya terjadi di daerah yang terkena letusan gunung api, seperti pada letusan gunung Krakatau dan letusan gunung Merapi. Proses pemulihan pada suksesi primer sangat sulit dilakukan karena kondisi abiotik telah banyak berubah. Pada suksesi sekunder, pemulihan dapat terjadi dengan cepat. Lokasi yang mengalami suksesi sekunder berada pada areal tebang pilih, lokasi pohon tumbang, atau peladangan berpindah. Suksesi sekunder tidak memperbaiki secara menyeluruh karena gangguan yang timbul tidak merusak seluruh lingkungan.[23]

Ruang lingkup

sunting

Biotik dan abiotik

sunting
 
Komponen biotik (hidup) dan abiotik (tak hidup) berinteraksi satu sama lain

Ada dua komponen yang terlibat dalam interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya, yaitu komponen hidup (disebut komponen biotik atau faktor biotik) dan komponen tak hidup (disebut komponen abiotik atau faktor abiotik). Semua jenis makhluk hidup dengan berbagai perannya merupakan komponen biotik, termasuk patogen dan parasit penyebab penyakit.[24]

Komponen abiotik merupakan penyusun ekosistem yang berupa benda-benda tak hidup, misalnya air, udara, cahaya, suhu, kelembapan, atmosfer, tanah, dan keasaman. Di lingkungan laut, keasinan, kadar oksigen, kejernihan air, dan energi matahari juga termasuk komponen abiotik yang memengaruhi organisme di dalamnya.[25]

Hierarki

sunting

Dunia biologis dapat dikelompokkan secara hierarkis menurut subjek yang dipelajari. Secara berurutan, unit terkecil hingga terbesar yaitu sel, jaringan, organ, organisme, spesies, populasi, komunitas, ekosistem, bioma, dan biosfer. Ekologi juga dapat dibagi menjadi beberapa cabang berdasarkan pengelompokan ini (di atas tingkat organisme individual), misalnya ekologi populasi, ekologi komunitas, dan ekologi ekosistem. Populasi diartikan sebagai semua organisme dari spesies yang sama yang hidup di tempat dan waktu yang sama. Komunitas adalah semua populasi dari dua spesies organisme atau lebih yang hidup di tempat dan waktu yang sama. Ekosistem yaitu semua makhluk hidup (biotik) dan benda mati (tak hidup atau abiotik) yang berada di tempat yang sama. Bioma yakni sekelompok ekosistem serupa yang memiliki sifat lingkungan fisik yang sama di seluruh dunia. Terakhir, biosfer adalah keseluruhan ekosistem di Bumi.[26][27]

Keanekaragaman hayati

sunting
 
Keanekaragaman hayati pada terumbu karang

Keanekaragaman hayati atau biodiversitas menggambarkan keanekaragaman kehidupan mulai dari gen hingga ekosistem. Keanekaragaman hayati mencakup setiap tingkat organisasi biologis, misalnya keanekaragaman spesies, keanekaragaman ekosistem, dan keanekaragaman genetik. Para ilmuwan tertarik pada cara keanekaragaman ini memengaruhi proses ekologi yang kompleks yang beroperasi di tingkat dan di antara tingkat masing-masing.[28][29] Keanekaragaman hayati memainkan peran penting dalam layanan ekosistem yang menjaga dan meningkatkan kualitas hidup manusia.[30] Keanekaragaman hayati (khususnya keanekaragaman spesies) dan ekosistem saling memengaruhi. Perubahan lingkungan dapat mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati sehingga kestabilannya perlu dijaga.[31]

Habitat

sunting

Habitat adalah jenis lingkungan alami yang ditempati oleh suatu spesies tertentu untuk hidup. Habitat dari suatu spesies merupakan tempat yang digunakan oleh spesies tersebut untuk menemukan makanan, tempat tinggal, perlindungan, dan bereproduksi.[32] Beberapa jenis habitat misalnya habitat terestrial yang meliputi hutan, padang rumput, dan gurun; habitat air tawar meliputi sungai, danau, dan kolam; habitat laut meliputi teluk, laut lepas, terumbu karang, dan dasar laut. Organisme yang mengalami pergeseran habitat merupakan bukti akan adanya persaingan di alam. Sebagai contoh, salah satu populasi kadal tropis (Tropidurus hispidus) memiliki tubuh yang lebih rata dibandingkan dengan populasi utama mereka yang hidup di sabana terbuka. Populasi kadal tropis yang tinggal di singkapan batuan yang terisolasi dapat bersembunyi di celah-celah bebatuan sehingga tubuh mereka yang rata memberikan keuntungan selektif. Pergeseran habitat juga terjadi dalam sejarah perkembangan kehidupan amfibi, dan pada serangga yang bertransisi dari habitat akuatik ke darat. Istilah biotop dan habitat kadang-kadang digunakan secara bergantian, tetapi biotop berlaku untuk lingkungan komunitas, sedangkan habitat berlaku untuk lingkungan suatu spesies.[33][34][35]

Relung

sunting

Dalam ekologi, relung adalah sekumpulan kondisi biotik dan abiotik yang menjadikan suatu spesies dapat bertahan hidup dan mempertahankan jumlah populasi yang stabil. Definisi ini diajukan oleh George Evelyn Hutchinson pada tahun 1957 meskipun konsep relung ekologis telah mulai diperkenalkan sejak tahun 1917 oleh Joseph Grinnell.[36] Jika habitat adalah lokasi spesifik tempat suatu organisme hidup, relung adalah peran yang dimainkan oleh spesies di dalam suatu ekosistem. Relung menggambarkan posisi suatu spesies dalam jaring-jaring makanan dan hubungannya dengan spesies lainnya dalam suatu ekosistem.[37] Seiring dengan perubahan ekosistem, misalnya oleh rekayasa, relung juga dapat berubah melalui proses yang disebut konstruksi relung. Konstruksi ini berperan sebagai jembatan yang menghubungkan ekologi, evolusi, dan ekosistem.[38]

Jejaring makanan

sunting
 
Gambaran umum jaring-jaring makanan di antara burung air di Teluk Chesapeake

Jaring-jaring makanan merupakan jejaring ekologis dasar. Tumbuhan menangkap energi matahari dan menggunakannya untuk menyintesis gula sederhana melalui fotosintesis. Mereka mengumpulkan nutrien lalu dimakan oleh herbivora sehingga energi ditransfer ke organisme pemakannya melalui konsumsi. Jalur makan-memakan linier sederhana dari spesies trofik basal ke konsumen teratas disebut rantai makanan. Pola rantai makanan yang saling terkait dalam komunitas ekologis menciptakan jaring-jaring makanan yang kompleks. Jaring makanan merupakan peta konsep atau perangkat heuristik yang digunakan untuk menggambarkan dan mempelajari jalur aliran energi dan material.[39][40][41]

Gambaran jaring makanan sering kali memiliki keterbatasan dibandingkan dengan dunia nyata. Pengukuran empiris jaring makanan secara lengkap umumnya terbatas pada habitat tertentu, seperti gua atau kolam, dan prinsip-prinsip yang diperoleh dari studi jaring makanan diekstrapolasi ke sistem yang lebih besar. Hubungan makan-memakan membutuhkan penyelidikan ekstensif ke dalam isi usus organisme yang mungkin sulit untuk dijelaskan. Sebagai alternatif, isotop stabil dapat digunakan untuk melacak aliran diet nutrien dan energi dalam jaring makanan.[42] Terlepas dari keterbatasan ini, jaring makanan tetap menjadi alat yang berharga dalam memahami ekosistem komunitas.[43]

Tingkatan trofik

sunting
 
Sebuah piramida trofik (a) dan jaring-jaring makanan (b) yang menggambarkan hubungan ekologis di antara organisme di ekosistem darat boreal utara pada umumnya. Piramida trofik secara kasar mewakili biomassa (biasanya diukur sebagai berat kering total) di setiap tingkatan. Tumbuhan umumnya memiliki biomassa terbesar. Nama kategori trofik ditampilkan di sebelah kanan piramida. Beberapa ekosistem, seperti berbagai lahan basah, tidak diatur sebagai piramida yang ketat karena tumbuhan air tidak seproduktif tumbuhan darat berumur panjang seperti pohon. Piramida trofik ekologi biasanya digambarkan sebagai salah satu dari tiga jenis: 1) piramida angka, 2) piramida biomassa, atau 3) piramida energi.[24]

Tingkatan trofik (dari bahasa Yunani troph, τροφή, trophē, yang berarti "makanan" atau "makan") adalah "sekelompok organisme yang memperoleh sebagian besar energinya dari tingkatan yang lebih rendah (menurut piramida ekologi) yang lebih dekat dengan sumber abiotik".[44] Tautan dalam jaring-jaring makanan menghubungkan relasi konsumsi atau trofisme antarspesies. Keanekaragaman hayati dalam ekosistem dapat diatur ke dalam piramida trofik, dengan dimensi vertikal yang mewakili hubungan makan-memakan dari dasar rantai makanan hingga predator puncak, dan dimensi horizontal yang mewakili kelimpahan atau biomassa di setiap tingkatan.[45]

Berdasarkan peranannya dalam jaring-jaring makanan, suatu spesies dikategorikan sebagai autotrof (atau produsen utama), heterotrof (atau konsumen), dan dekomposer atau pengurai (juga meliputi detritivor). Autotrof adalah organisme yang menciptakan makanannya sendiri. Mereka menghasilkan senyawa organik kompleks (seperti karbohidrat, lemak, dan protein) dengan memanfaatkan energi dari cahaya (fotosintesis) atau reaksi kimia anorganik (kemosintesis). Heterotrof adalah organisme yang harus memakan organisme lain untuk mendapatkan energi. Heterotrof dapat dibagi lebih lanjut menjadi beberapa kelompok fungsional yang meliputi konsumen primer (herbivor ketat), konsumen sekunder (pemangsa bersifat karnivor yang secara eksklusif memakan herbivor), dan konsumen tersier (pemangsa yang memakan campuran herbivor dan pemangsa lain). Omnivor tidak cocok dengan kategori fungsional ini karena mereka memakan jaringan tumbuhan dan hewan. Meskipun demikian, omnivor memiliki pengaruh fungsional yang lebih besar sebagai pemangsa. Di sisi lain, dekomposer atau pengurai adalah organisme yang memecah organisme yang telah mati melalui proses pembusukan, contohnya bakteri dan jamur. Pengurai juga tergolong sebagai heterotrof yang menyerap nutrien secara langsung melalui proses kimiawi dan biologis secara eksternal. Ada pula organisme pengurai yang disebut detritivor seperti cacing tanah dan kutu kayu. Mereka mencerna dan menguraikan bagian tubuh tumbuhan dan hewan, termasuk tinja.[24][46]

Cabang keilmuan

sunting

Sebagai disiplin ilmu yang luas, ekologi dapat dibagi menjadi beberapa cabang. Berdasarkan kompleksitasnya, misalnya, subdisiplin ekologi mencakup ekologi molekuler, ekologi populasi atau autekologi, ekologi komunitas atau sinekologi, ekologi ekosistem, ekologi sistem, dan ekologi perilaku. Berdasarkan jenis organismenya, ekologi dapat dibagi menjadi ekologi hewan, ekologi tumbuhan, dan ekologi mikrob. Berdasarkan lokasi atau lingkungannya, ekologi dapat berupa ekologi hutan, ekologi intertidal, ekologi gurun, dan ekologi pertanian. Kata ekologi juga digunakan secara luas oleh bidang ilmu lain, misalnya ekologi industrial, ekologi media, ekologi sosial, dan antropologi ekologi.

sunting

Ekologi hewan

sunting

Ekologi hewan adalah cabang ekologi yang memusatkan kajian tentang hubungan antara hewan dan lingkungan hidupnya. Kajian tentang persebaran hewan dimulai pada abad ke-19 Masehi, sedangkan kajian tentang ekologi hewan secara resmi dimulai pada tahun 1920-an. Pekerjaan yang berkaitan dengan ekologi hewan pertama kali dilakukan oleh ahli zoologi berkebangsaan Inggris, yaitu Charles Elton. Kajiannya tentang ekologi hewan masih terbatas pada populasi di alam liar. Elton melakukan penelitian dengan hewan yang dapat diperdagangkan dan mulai menyusun sejumlah konsep terminologi ahli alam, yang meliputi relung ekologi, rantai makanan, dan piramida jumlah. Piramida jumlah membahas tentang pengurangan jumlah individu organisme, atau berat keseluruhan dari organisme pada setiap tahap rantai makanan. Aliran ekologi hewan bermunculan pada awal pertengahan abad ke-20 M di Eropa dan Amerika Serikat.[47]

Ekologi hewan tanah
sunting

Ekologi hewan tanah dapat dipandang dari dua jenis keilmuan dan objek kajiannya. Pertama, ekologi hewan tanah dengan ekologi sebagai ilmu dan hewan tanah sebagai objek. Sebagai ilmu, ekologi mempelajari keberadaan organisme dan jumlahnya dalam suatu habitat. Selain itu, ekologi sebagai ilmu juga memperhatikan faktor lingkungan. Dalam konteks ekologi hewan, ekologi hewan tanah merupakan ilmu yang mengkaji tentang keberagaman hubungan timbal balik yang terdapat antara hewan tanah dengan lingkungannya serta antara kelompok-kelompok hewan tanah.[48] Tanah merupakan suatu bagian dari ekosistem daratan yang dihuni oleh banyak organisme yang disebut sebagai biodiversitas tanah. Peran biodiversitas tanah yaitu mempertahankan sekaligus meningkatkan fungsi tanah untuk menopang kehidupan di dalam dan di atasnya. Sistem kehidupan di dalam tanah sangat rumit karena keberadaan berbagai jenis organisme dengan beragam fungsi untuk menjalankan berbagai proses penting bagi kehidupan daratan. Bersama dengan mikroba, hewan tanah melaksanakan berbagai metabolisme atau kegiatan biologi tanah. Hewan tanah berperan dalam memelihara dan memperbaiki kualitas bahan organik dan siklus hara di dalam tanah.[49]

Ekologi tumbuhan

sunting

Ekologi tumbuhan merupakan cabang ilmu ekologi yang mempelajari tumbuhan sebagai objek kajiannya. Kajian utama dalam ekologi tumbuhan adalah hubungan timbal-balik antara tumbuhan dan lingkungannya. Ekologi tumbuhan mengkaji seluruh faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi keberadaan satu spesies tumbuhan, atau satu komunitas tumbuhan di suatu daerah tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan yaitu tumbuhan, hewan, mikroorganisme, dan manusia.[50] Komunitas tumbuhan merupakan suatu kesatuan kelompok tumbuhan yang saling mempengaruhi dan saling bergantung satu sama lain. Perbedaan dari tiap komunitas tumbuhan diamati melalui jenis vegetasi yang memberikan perubahan secara nyata dari segi ruang. Perubahan ruang dapat berbentuk perubahan komposisi jenis tanaman, perubahan jarak antartanaman, dan perubahan ukuran tanaman serta perubahan tanggapan tanaman terhadap lingkungan.[51] Suatu komunitas tumbuhan dapat terdiri atas tanaman berukuran besar, mikroorganisme, jamur dan ganggang. Komunitas tumbuhan dapat berada di bawah atau di atas permukaan tanah.[52]

Ekologi manusia

sunting

Ekologi manusia merupakan cabang ilmu ekologi yang memperhatikan latar belakang fisik dan latar belakang budaya manusia. Aspek yang dipelajari pada ekologi manusia mencakup aspek ekonomi, sosiologi, politik, dan budaya. Beragam aspek manusia tersebut dipahami melalui latar belakang lingkungan alam dan lingkungan masyarakat. Ekologi manusia terbentuk dari keterkaitan antara unsur alam yang berdampingan dengan kehidupan manusia. Kajian ekologi manusia berkaitan dengan hubungan manusia dengan iklim, cuaca, batuan, tanah, bentuk muka bumi, air, danau, laut, samudra, air tanah, sungai, tumbuhan, dan hewan.[53]

Ekologi adminstrasi
sunting

Ekologi administrasi merupakan lingkungan yang dipengaruhi dan memengaruhi administrasi. Unsur pembentuknya yaitu politik, ekonomi, budaya, teknologi, keamanan, dan sumber daya alam. Ekologi administrasi berkaitan dengan keberlangsungan pemerintahan melalui peran suatu masyarakat dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya dan keamanan. Dalam pemerintahan, administrasi negara memengaruhi faktor-faktor lingkungannya melalui pembinaan, penataan, dan proses pemerintahan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sesuai dengan peraturan yang berlaku.[54] Dalam ekologi administrasi, objek yang dianggap sebagai organisme ialah administrasi yang dipengaruhi dan memengaruhi keadaan lingkungan. Dalam hubungan timbal balik antara administrasi dan lingkungan, terjadi proses perubahan ke arah pencapaian tujuan. Selama proses berlangsung, faktor ekologi menampakkan pengaruhnya secara positif maupun negatif. Sebaliknya, dalam administrasi yang tidak mudah mengikuti perubahan ini harus mampu memanfaatkan hal-hal yang negatif menjadi bernilai positif, sehingga tidak menghambat proses administrasi.[55]

sunting

Ekologi hutan pantai

sunting

Hutan pantai tidak terpengaruh oleh iklim lingkungan di sekitarnya dan memiliki tanah kering yang mengandung pasir, batu karang, atau lempung. Tanaman hanya tumbuh di bagian tanah pantai yang rendah pantai dan pepohonannya terkadang penuh dengan epifit. Jenis epifit pada hutan pantai yaitu tumbuhan paku dan anggrek. Jenis hutan pantai ini banyak ditemukan di Indonesia, khususnya di pantai bagian selatan di Pulau Jawa, pantai bagian barat daya di Pulau Sumatra, dan pantai di Pulau Sulawesi. Keanekaragaman hayati pada hutan pantai termasuk dalam kategori yang rendah. Jenis tanaman hutan pantai meliputi tumbuhan runjung, liana serta pepohonan berbunga. Selain itu, hutan pantai juga ditumbuhi pandan wangi dan butun dengan jumlah yang melimpah. Sarang semut banyak ditemukan pada batang butun. Vertebrata yang hidup di hutan pantai sangat beragam. Hewan langka yang ditemukan di hutan pantai yaitu kakatua, betet-kelapa buru, dan burung gosong.[56] Hutan pantai melakukan suksesi melalui tumbuhan katang-katang dengn formasi pescaprae dan melalui baringtonia dengan formasi barringtonia. Kedua jenis formasi ini ditemukan pada pantai berpasir dan pantai berbatu. Pertumbuhan dan penyebaran benih tanaman di hutan pantai dibantu oleh air laut, angin atau burung yang menyerupai kelelawar. Penyebaran benih melalui air laut terjadi pada tanaman butun, ketapang, dan nyamplung. Penyebaran benih melalui burung terjadi pada ketapang, nyamplung, dan kubis pantai. Sedangkan penyebaran benih yang dibantu oleh angin terjadi pada jenis heritiera.[57]

sunting

Ekologi yang ditinjau dari segi lingkungan dapat dibedakan menjadi ekologi tumbuhan dan ekologi hewan. Kajian kedua jenis ekologi ini berkaitan tentang spesies dan komunitas. Kajian ekologi terhadap spesies disebut dengan autekologi, sedangkan kajian tentang komunitas disebut sinekologi. Autekologi hanya membahas interaksi antara satu jenis organisme dengan lingkungan fisiknya tanpa memperhitungkan kehadiran organisme lain di dalam habitat yang sama. Sedangkan sinekologi membahas tentang interaksi antara suatu organisme dengan organisme lain.[58]

Bidang keilmuan terkait

sunting

Ilmu lingkungan

sunting

Ekologi membahas kajian dasar dalam ilmu lingkungan yaitu spesies, populasi, komunitas, ekosistem dan habitat.[59] Kajian tentang keseimbangan ekologi terdapat dalam kajian pelestarian lingkungan dan peran lingkungan sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat. Keterkaitan ilmu lingkungan dengan ekologi dihubungkan dengan adanya kearifan lokal.[60] Ilmu lingkungan menjadi bagian dari ekologi terapan. Ekologi mempelajari susunan serta peran seluruh makhluk hidup dan komponen kehidupannya, lalu ilmu lingkungan mempelajari tempat dan peranan makhluk hidup.[61]

Kegunaan

sunting

Memahami cara kerja dari alam

sunting

Cara kerja dari alam yang rumit dan teratur dapat dipahami melalui ekologi. Peran ekologi adalah mempertanyakan, menyelidiki, dan memahami bagaimana alam bekerja secara mendasar. Selain itu, ekologi juga memberitahukan keberadaan makhluk hidup dan kebutuhannya dalam sistem kehidupan yang berbentuk habitat. Ekologi juga menjelaskan cara makhluk hidup dapat hidup bersama, bertahan dan beradaptasi di lingkungan yang sama dengan spesies lain dengan berbagai perubahannya.[62]

Referensi

sunting
  1. ^ "Definition of ECOLOGY". www.merriam-webster.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-10-18. Diakses tanggal 2020-11-30. 
  2. ^ Rizal, Reda (2017). Analisis Kualitas Lingkungan (PDF). Jakarta: Penerbit Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. hlm. 26. ISBN 978-602-19087-6-1. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2021-05-12. Diakses tanggal 2020-12-25. 
  3. ^ Hunaepi dan Firdaus 2017, hlm. 13.
  4. ^ Nurdiana 2016, hlm. 150.
  5. ^ Susilawati dan Bachtiar, N. (2018). Biologi Dasar Terintegrasi (PDF). Pekanbaru: Kreasi Edukasi. hlm. 166. ISBN 978-602-6879-99-8. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2021-04-15. Diakses tanggal 2021-01-31. 
  6. ^ Hughes, J. D. (1 Desember 1985). "Theophrastus as Ecologist". Environmental History Review. 9 (4): 296–306. doi:10.2307/3984460. ISSN 1053-4180. 
  7. ^ Egerton, Frank N.; Niquil, Nathalie; Martins, Irene (2019). "History of Ecology". Encyclopedia of Ecology. Elsevier. hlm. 398–428. doi:10.1016/b978-0-12-409548-9.00864-2. ISBN 978-0-444-64130-4. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-06-26. Diakses tanggal 2020-11-15. 
  8. ^ McManus, P. (2009). "Ecology". International Encyclopedia of Human Geography. Elsevier. hlm. 294–303. doi:10.1016/b978-008044910-4.00682-9. ISBN 978-0-08-044910-4. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-02-14. Diakses tanggal 2020-11-15. 
  9. ^ Friederichs, K. (Januari 1958). "A Definition of Ecology and Some Thoughts About Basic Concepts". Ecology. 39 (1): 154. doi:10.2307/1929981. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-11-27. Diakses tanggal 2020-11-15. 
  10. ^ Hunaepi dan Firdaus 2017, hlm. 12-13.
  11. ^ Lynch, Patrick (21 November 2015). "Ecology, evolution, & climate change: G. Evelyn Hutchinson and the founding of modern ecology". YaleNews. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-11-17. Diakses tanggal 15 November 2020. 
  12. ^ Slobodkin, Lawrence B.; Slack, Nancy G. (Januari 1999). "George Evelyn Hutchinson: 20th-century ecologist". Endeavour. 23 (1): 24–30. doi:10.1016/S0160-9327(99)01182-5. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-06-05. Diakses tanggal 2020-11-15. 
  13. ^ "Ecology". National Geographic. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-11-21. Diakses tanggal 15 November 2020. 
  14. ^ Utina, R., dan Baderan, D. W. K. (2009). Ekologi dan Lingkungan Hidup (PDF). Gorontalo: UNG Press. hlm. 11. ISBN 978-979-1340-13-7. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2020-12-02. Diakses tanggal 2020-12-05. 
  15. ^ deLaplante, K. (2008). "Philosophy of Ecology: Overview". Encyclopedia of Ecology. Elsevier. hlm. 510–515. doi:10.1016/b978-0-444-63768-0.00247-x. ISBN 978-0-444-64130-4. 
  16. ^ Legović, T. (2008). "Mathematical Ecology". Encyclopedia of Ecology. Elsevier. hlm. 2261–2266. doi:10.1016/b978-008045405-4.00694-7. ISBN 978-0-08-045405-4. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-06-26. Diakses tanggal 2020-11-15. 
  17. ^ Wiryono, dkk. (2017). Restorasi Ekosistem Hutan Pasca Penambangan Batubara (PDF). Bengkulu: Pertelon Media. hlm. 1–2. ISBN 978-602-14407-2-8. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2022-04-25. Diakses tanggal 2020-12-31. 
  18. ^ Wiryono 2013, hlm. 12.
  19. ^ Wiryono 2013, hlm. 14.
  20. ^ Utina 2008, hlm. 10.
  21. ^ Utina 2008, hlm. 10-11.
  22. ^ Mardiastuti 2018, hlm. 29.
  23. ^ Mardiastuti 2018, hlm. 30.
  24. ^ a b c Odum, Eugene Pleasants; Barrett, Gary W. (2005). Fundamentals of Ecology (edisi ke-5). Belmont, CA: Thomson Brooks/Cole. ISBN 0-534-42066-4. OCLC 56476957. Diarsipkan dari versi asli tanggal 28 Juli 2020. 
  25. ^ "Ocean Abiotic Factors" (PDF). National Geographic. 30 Agustus 2013. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2017-11-07. Diakses tanggal 16 November 2020. 
  26. ^ Jax, Kurt (September 2006). "Ecological Units: Definitions and Application". The Quarterly Review of Biology. 81 (3): 237–258. doi:10.1086/506237. ISSN 0033-5770. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-11-12. Diakses tanggal 2020-11-15. 
  27. ^ Wakim, Suzanne; Grewal, Mandeep. "24.2: Introduction to Ecology". Biology LibreTexts. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-12-09. Diakses tanggal 15 November 2020. 
  28. ^ Scholes, R. J.; Mace, G. M.; Turner, W.; Geller, G. N.; Jurgens, N.; Larigauderie, A.; Muchoney, D.; Walther, B. A.; Mooney, H. A. (22 Agustus 2008). "Ecology: Toward a Global Biodiversity Observing System". Science. 321 (5892): 1044–1045. doi:10.1126/science.1162055. ISSN 0036-8075. 
  29. ^ Purvis, Andy; Hector, Andy (Mei 2000). "Getting the measure of biodiversity". Nature. 405 (6783): 212–219. doi:10.1038/35012221. ISSN 0028-0836. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-03-08. Diakses tanggal 2020-11-16. 
  30. ^ Cardinale, Bradley J.; Duffy, J. Emmett; Gonzalez, Andrew; Hooper, David U.; Perrings, Charles; Venail, Patrick; Narwani, Anita; Mace, Georgina M.; Tilman, David (7 Juni 2012). "Biodiversity loss and its impact on humanity". Nature. 486 (7401): 59–67. doi:10.1038/nature11148. ISSN 0028-0836. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-11-20. Diakses tanggal 2020-11-16. 
  31. ^ Cleland, E.E. (2011). "Biodiversity and Ecosystem Stability". Nature Education Knowledge. 3 (10): 14. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-11-10. Diakses tanggal 2020-11-16. 
  32. ^ Thomas, Ryan (2019). "Fundamental of Ecology". Marine Biology: An Ecological Approach (edisi ke-reprint). Waltham Abbey, Essex: Scientific e-Resources (dipublikasikan tanggal 2020). hlm. 86. ISBN 9781839474538. Diarsipkan dari versi asli tanggal 22 Mei 2020. Diakses tanggal 8 Maret 2020. A habitat is an ecological or environmental area that is inhabited by a particular species of animal, plant, or other type of organism. The term typically refers to the zone in which the organism lives and where it can find food, shelter, protection and mates for reproduction. 
  33. ^ Whittaker, R. H.; Levin, S. A.; Root, R. B. (Mei 1973). "Niche, Habitat, and Ecotope". The American Naturalist. 107 (955): 321–338. doi:10.1086/282837. ISSN 0003-0147. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-08-06. Diakses tanggal 2020-11-16. 
  34. ^ Schoener, Thomas W. (1975). "Presence and Absence of Habitat Shift in Some Widespread Lizard Species". Ecological Monographs. 45 (3): 233–258. doi:10.2307/1942423. ISSN 1557-7015. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-12-13. Diakses tanggal 2020-11-16. 
  35. ^ Vitt, L. J.; Caldwell, J. P.; Zani, P. A.; Titus, T. A. (15 April 1997). "The role of habitat shift in the evolution of lizard morphology: evidence from tropical Tropidurus". Proceedings of the National Academy of Sciences. 94 (8): 3828–3832. doi:10.1073/pnas.94.8.3828. ISSN 0027-8424. PMC 20526 . PMID 9108063. 
  36. ^ Wiens, John J.; Graham, Catherine H. (Desember 2005). "Niche Conservatism: Integrating Evolution, Ecology, and Conservation Biology" (PDF). Annual Review of Ecology, Evolution, and Systematics. 36 (1): 519–539. doi:10.1146/annurev.ecolsys.36.102803.095431. ISSN 1543-592X. Diarsipkan dari versi asli tanggal 24 Oktober 2012. 
  37. ^ Steiner, Hannah (13 Januari 2020). "Ecological Habitat and Niche; what's The Difference?". Tired Earth. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-10-29. Diakses tanggal 16 November 2020. 
  38. ^ Matthews, Blake; De Meester, Luc; Jones, Clive G.; Ibelings, Bas W.; Bouma, Tjeerd J.; Nuutinen, Visa; de Koppel, Johan van; Odling-Smee, John (Mei 2014). "Under niche construction: an operational bridge between ecology, evolution, and ecosystem science". Ecological Monographs. 84 (2): 245–263. doi:10.1890/13-0953.1. ISSN 0012-9615. 
  39. ^ O'Neill, D.L.; Deangelis, D.L.; Waide, J.B.; Allen, T.F.H. (1986). A Hierarchical Concept of Ecosystems . Princeton University Press. hlm. https://archive.org/details/hierarchicalconc00onei/page/253 253]. ISBN 0-691-08436-X. 
  40. ^ Pimm, S. (2002). Food Webs. University of Chicago Press. hlm. 258. ISBN 978-0-226-66832-1. Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 Maret 2015. Diakses tanggal 27 Juni 2015. 
  41. ^ Pimm, S.L.; Lawton, J.H.; Cohen, J.E. (1991). "Food web patterns and their consequences" (PDF). Nature. 350 (6320): 669–674. Bibcode:1991Natur.350..669P. doi:10.1038/350669a0. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 10 Juni 2010. 
  42. ^ McCann, K. (2007). "Protecting biostructure" (PDF). Nature. 446 (7131): 29. Bibcode:2007Natur.446...29M. doi:10.1038/446029a. PMID 17330028. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 22 Juli 2011. 
  43. ^ Wilbur, H.W. (1997). "Experimental ecology of food webs: Complex systems in temporary ponds" (PDF). Ecology. 78 (8): 2279–2302. doi:10.1890/0012-9658(1997)078[2279:EEOFWC]2.0.CO;2. ISSN 0012-9658. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 19 Mei 2011. Diakses tanggal 27 November 2010. 
  44. ^ Hairston,, Nelson G.; Hairston,, Nelson G. (September 1993). "Cause-Effect Relationships in Energy Flow, Trophic Structure, and Interspecific Interactions". The American Naturalist. 142 (3): 379–411. doi:10.1086/285546. ISSN 0003-0147. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-08-04. Diakses tanggal 2020-11-16. 
  45. ^ Duffy, J. Emmett; Cardinale, Bradley J.; France, Kristin E.; McIntyre, Peter B.; Thébault, Elisa; Loreau, Michel (Juni 2007). "The functional role of biodiversity in ecosystems: incorporating trophic complexity". Ecology Letters. 10 (6): 522–538. doi:10.1111/j.1461-0248.2007.01037.x. ISSN 1461-023X. 
  46. ^ Davic, Robert D. (2003). "Linking Keystone Species and Functional Groups: A New Operational Definition of the Keystone Species Concept". Conservation Ecology. 7 (1): resp11. doi:10.5751/ES-00502-0701r11. ISSN 1195-5449. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-09-28. Diakses tanggal 2020-11-16. 
  47. ^ Sumarto, S., dan Koneri, R. (2016). Ekologi Hewan (PDF). Bandung: CV. Patra Media Grafindo. hlm. 4. ISBN 978-602-60134-2-2. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2022-01-27. Diakses tanggal 2020-12-05. 
  48. ^ Husamah, dkk. 2017, hlm. 13.
  49. ^ Husamah, dkk. 2017, hlm. 6.
  50. ^ Jayadi, E. M. (2015). Ekologi Tumbuhan (PDF). Mataram: Institut Agama Islam Negeri Mataram. hlm. 2. ISBN 978-602-74071-0-7. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2020-03-31. Diakses tanggal 2020-12-05. 
  51. ^ Mueller-Dombois dan Ellenberg 2016, hlm. 4.
  52. ^ Mueller-Dombois dan Ellenberg 2016, hlm. 5.
  53. ^ Hilmanto, R. (2010). Etnoekologi (PDF). Bandar Lampung: Penerbit Universitas Lampung. hlm. 25. ISBN 978-602-8616-60-7. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2022-01-21. Diakses tanggal 2020-12-05. 
  54. ^ Anggara 2018, hlm. 23.
  55. ^ Anggara 2018, hlm. 26.
  56. ^ Tuheteru dan Mahfudz 2012, hlm. 29.
  57. ^ Tuheteru dan Mahfudz 2012, hlm. 30.
  58. ^ Hunaepi dan Firdaus 2017, hlm. 14.
  59. ^ Nurdiana 2016, hlm. 146.
  60. ^ Hunaepi dan Firdaus 2017, hlm. 1.
  61. ^ Fadli, dkk. 2016, hlm. 6-7.
  62. ^ Fadli, dkk. 2016, hlm. 6.

Daftar pustaka

sunting
  1. Anggara, Sahya (2018). Ekologi Administrasi: Holistik, Kontemporer, dan Kontekstual (PDF). Bandung: CV. Pustaka Setia. ISBN 978-979-076-710-2. 
  2. Fadli, dkk. (2016). Hukum dan Kebijakan Lingkungan (PDF). Malang: UB Press. ISBN 978-602-203-911-2. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2022-03-28. Diakses tanggal 2020-12-31. 
  3. Hunaepi dan Firdaus, L. (2017). Ekologi Berbasis Kearifan Lokal (PDF). Mataram: Duta Pustaka Ilmu. ISBN 978-602-73458-9-8. 
  4. Husamah, dkk. (2017). Ekologi Hewan Tanah: Teori dan Praktik (PDF). Malang: Penerbit Universitas Muhammadiyah Malang. ISBN 978-979-796-325-5. 
  5. Mardiastuti, Ani (2018). Ekologi Satwa pada Lanskap yang Didominasi Manusia (PDF). Bogor: PT Penerbit IPB Press. ISBN 978-602-440-029-3. 
  6. Mueller-Dombois, D., dan Ellenberg, H. (2016). Ekologi Vegetasi: Tujuan dan Metode (PDF). Jakarta: LIPI Press. ISBN 978-979-799-852-3. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2021-04-11. Diakses tanggal 2020-12-30. 
  7. Nurdiana (2016). Ilmu Alamiah Dasar. Lombok: Pustaka Lombok. ISBN 978-602-70165-5-2.  [pranala nonaktif permanen]
  8. Tuheteru, F. D., dan Mahfudz (2012). Ekologi, Manfaat dan Rehabilitasi Hutan Pantai Indonesia (PDF). Manado: Balai Penelitian Kehutanan Manado. ISBN 978-602-96800-2-7. 
  9. Utina, Ramli (2008). Pendidikan Lingkungan Hidup dan Konservasi Sumber Daya Alam Pesisir (PDF). Gorontalo: UNG Press. ISBN 978-979-26-8720-0. 
  10. Wiryono (2013). Pengantar Ilmu Lingkungan (PDF). Bengkulu: Pertelon Media. ISBN 978-602-9071-05-4. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2021-01-10. Diakses tanggal 2020-12-31. 

Pranala luar

sunting