Kedokteran hewan

Ilmu dan praktik kedokteran pada hewan untuk kesejahteraan manusia.
Tongkat Asklepios dan huruf V yang merupakan logo kedokteran hewan.

Kedokteran hewan adalah suatu disiplin ilmiah yang mempelajari cara melakukan diagnosis, terapi, dan pencegahan penyakit pada hewan. Secara umum, semua jenis hewan dapat dikategorikan sebagai pasien, baik hewan domestik maupun liar.

Interaksi antara hewan dan manusia telah berlangsung selama ribuan tahun, yang dimulai saat manusia berusaha menjinakkan mereka. Sejak dulu, manusia berusaha menjaga kesehatan hewan-hewan yang dianggap bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Kuda merupakan hewan yang kesehatannya dijaga karena mereka dimanfaatkan sebagai sarana transportasi dan peperangan, yakni sebagai bagian dari pasukan kavaleri. Kesehatan sapi, babi, dan hewan ternak lainnya juga diperhatikan sebab mereka berperan sebagai penghasil makanan. Anjing baru mendapatkan fokus pada zaman modern saat perekonomian dunia mulai tumbuh dan peperangan mulai berhenti, lalu disusul oleh hewan kesayangan lainnya. Saat anjing dan kucing telah umum dipelihara, beberapa orang kemudian mencoba memelihara hewan eksotis di rumah mereka.

Globalisasi dan perdagangan internasional yang semakin meningkat berdampak pada tingginya lalu lintas orang dan barang. Hal ini memungkinkan penyakit hewan menyebar lintas negara. Di tingkat internasional, Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) mengoordinasikan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian penyakit hewan lintas batas.

Di sisi lain, populasi penduduk dunia yang terus bertambah membuat industri peternakan pabrik dan hewan hasil rekayasa genetika dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Ilmu kedokteran hewan pun dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi guna menjamin kesehatan dan kesejahteraan penduduk bumi. Mengingat lebih 60% penyakit infeksius pada manusia berasal dari hewan,[1] ilmu kedokteran, kedokteran hewan, kesehatan masyarakat, dan kesehatan lingkungan kemudian dipadukan dalam bentuk Satu Kesehatan (one health).

EtimologiSunting

Dalam bahasa Inggris, kedokteran hewan disebut veterinary medicine, sedangkan dokter hewannya sendiri disebut veterinary surgeon (bahasa Inggris Britania) atau veterinary physician yang disingkat menjadi veterinarian (bahasa Inggris Amerika). Istilah ini berasal dari bahasa Latin, veterīnārius. Veterīnārius adalah nama yang diberikan kepada sekelompok orang yang bertugas untuk mengurusi veterīnae atau hewan pekerja.[2][3] Bahasa Indonesia telah menyerap kata ini menjadi veteriner, yang artinya “mengenai penyakit hewan (kedokteran hewan)”.[4]

SejarahSunting

Zaman prasejarahSunting

 
Hieroglif Mesir kuno yang menggambarkan seseorang yang sedang memerah susu sapi. Hal ini menunjukkan telah terjadi domestikasi pada hewan.

Pada awal masa kehidupan, hewan hidup secara liar di habitatnya masing-masing, terpisah dengan manusia. Ilmu sejarah mengajarkan pada kita bahwa pada zaman batu, manusia hidup dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan. Di era ini, hewan-hewan liar diburu oleh manusia untuk dijadikan makanan.

Saat zaman berubah menjadi zaman bertani dan bercocok tanam, manusia mengubah gaya hidup menjadi agraris. Mereka tak lagi menggantungkan seluruh hidupnya dengan cara berburu hewan dan memetik tumbuhan. Manusia mulai berpikir untuk merawat dan mengembangkannya sendiri di lingkungan mereka Orang-orang melihat bahwa hewan liar dapat dimanfaatkan untuk membantu kehidupan. Sejak saat itu dimulailah masa domestikasi hewan dan tumbuhan. Secara sederhana, domestikasi adalah suatu usaha untuk menjadikan hewan (atau tumbuhan) dapat hidup dan tinggal bersama-sama dengan manusia.

Berbagai penelitian arkeologis dan genetis menyatakan bahwa anjing adalah spesies hewan pertama yang didomestikasi oleh manusia. Hewan ini didomestikasi dari serigala sejak 12-15 ribu tahun yang lalu.[5] Sementara itu, bangsa Mesir kuno yang sangat menjunjung tinggi kucing, diperkirakan melakukan domestikasi pada kucing pada tahun 4400 SM.[6]

Beragam spesies hewan pun didomestikasi oleh berbagai peradaban di berbagai belahan bumi. Sejak saat itu, tubuh dan kesehatan hewan mulai diperhatikan. Baik sebagai usaha untuk mengobati penyakit hewan, maupun sebagai bahan studi perbandingan dengan tubuh manusia.

Zaman pertengahanSunting

 
Aristoteles, filsuf Yunani yang dikenal sebagai bapak zoologi.

Aristoteles (384 SM-322 SM), salah satu dari tiga filsuf terbesar Yunani kuno, dikenal sebagai bapak zoologi dan terkadang disebut sebagai bapak kedokteran hewan karena ia adalah orang pertama yang melakukan penelitian mendalam mengenai hewan.[7] Aristoteles meneliti berbagai jenis hewan, mencatat hal-hal yang ia temukan, dan menuliskan hasil penelitiannya itu dalam berbagai buku-bukunya, yang dijadikan acuan untuk pengembangan ilmu selanjutnya.[8] Walaupun karya Aristoteles tergolong tidak akurat jika dibandingkan dengan pengetahuan masa kini. Namun, hasil kerjanya menjadi dasar utama teori ilmiah di bidang biologi, jauh sebelum munculnya tokoh seperti Charles Darwin dan Carolus Linnaeus.

Asoka (273 SM-232 SM), salah satu emperor terbesar India, merupakan penguasa yang sangat peduli dengan kesejahteraan seluruh rakyatnya, baik manusia maupun hewan. Sebagai penguasa, ia menyediakan pelayanan medis pada manusia dan hewan mendirikan klinik untuk manusia dan hewan secara berdampingan, melarang pemotongan dan konsumsi sapi dan hewan-hewan lainnya, terutama bagi keluarga kerajaan. Di bawah pemerintahan Asoka, Kekaisaran Maurya dikenal sebagai “Salah satu dari sedikit pemerintahan di dunia yang memperlakukan hewan sebagai rakyatnya, dengan memberi mereka perlindungan yang sama terhadap manusia”.[butuh rujukan]

Zaman modernSunting

Walaupun berbagai buku tentang anatomi, fisiologi, dan taksonomi hewan telah ditulis dan dipelajari, tetapi usaha untuk menjadikan kedokteran hewan sebagai bidang ilmu formal dan profesi yang legal, baru dimulai sejak abad ke-18. Usaha ini dirintis oleh seorang bangsawan Prancis yang bernama Bourgelat.

 
Claude Bourgelat, pendiri sekolah kedokteran hewan pertama di dunia.

Claude Bourgelat (1712-1779) adalah orang yang mendirikan sekolah kedokteran hewan pertama di dunia, yaitu École nationale vétérinaire d'Alfort yang terletak di Prancis.[9] Bourgelat adalah seorang ahli kuda. Karena ketertarikan dan pengetahuannya yang mendalam mengenai kuda, ia diangkat menjadi direktur akademi berkuda Lyon. Bourgelat juga belajar tentang metodologi ilmiah untuk melakukan pembedahan dan meneliti anatomi kuda bersama dengan para dokter bedah di Lyon. Melalui pembedahan ini, ia melihat bahwa terdapat banyak kesamaan antara tubuh manusia dan hewan, sehingga ia mempertimbangkan kemungkinan adanya profesi dokter hewan. Ia akhirnya aktif dalam kegiatan ilmuwan dan menjadi penulis artikel-artikel tentang kuda di ensiklopedia Prancis.

Pada abad ke-18, wabah penyakit sampar sapi (rinderpest) melanda benua Eropa. Bourgelat berhasil meyakinkan Raja Louis XV, penguasa Prancis saat itu, akan pentingnya mendirikan sekolah dokter hewan untuk memberi pendidikan kepada masyarakat tentang ilmu kedokteran hewan, yang akan menguntungkan negara dalam memerangi penyakit hewan seperti sampar sapi.

Sang raja lalu mengabulkan permintaannya. Pada tahun 1761, Bourgelat diberi sebidang tanah di Lyon untuk mendirikan sekolah kedokteran hewan dan ia sendiri ditunjuk menjadi direkturnya. Sejak saat itu dimulailah usaha dalam menggali dan menyebarkan ilmu pengetahuan dan pengobatan penyakit pada hewan domestik yang dimulai dari Lyon, lalu ke Alford (daerah kecil dekat Paris), dan kemudian menyebar ke kota-kota lain di daratan Eropa, hingga ke seluruh dunia.

Perkembangan di IndonesiaSunting

Masa sebelum kemerdekaanSunting

Tahun 1800-anSunting

Di Indonesia, ilmu kedokteran hewan telah diterapkan sejak zaman penjajahan Belanda. Hal ini bermula pada tahun 1820 saat R.A. Coppicters, dokter hewan asal Belanda datang ke Hindia Belanda.[10][11] Ia bertugas menangani hewan-hewan yang penting bagi pemerintah kolonial Belanda, misalnya kuda milik pasukan militer. Pada tahun 1851, tercatat beberapa dokter hewan Belanda di Indonesia.[a] Layanan kedokteran hewan (Veeartsenijkundige Dienst) dibentuk pada tahun 1941[11] yang kemudian berubah menjadi layanan kedokteran hewan sipil (Burgerlijke Veeartsenijkundige Dienst) pada 1853.[13] Keterbatasan jumlah dokter hewan menjadikan layanan tidak maksimal. Dalam periode 1853-1869, tiga dokter hewan yang melayani seluruh Pulau Jawa; masing-masing di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.[14] Baru pada tahun 1869, dua dokter hewan ditempatkan di luar Pulau Jawa: satu di Sumatra dan satu di Sulawesi.[14]

Belanda mendirikan sekolah dokter hewan yang disebut Inlandsche Veeartsen School (IVS) di Surabaya pada tahun 1861.[12][15] Pimpinan sekolah ini adalah Dr. J. van der Weide.[12][b] Siswa yang diterima adalah para bumiputra (pribumi) dengan lama pendidikan dua tahun. Namun, IVS ditutup pada tahun 1875 karena selama sembilan tahun hanya delapan orang dokter hewan bumiputra (inlandsche veearts) yang dihasilkan.[12]

Pendidikan dokter hewan dilanjutkan dalam bentuk lain, yaitu berupa magang pada dokter hewan pemerintah (gouvernements veearts) di Purwokerto.[15][12] Dalam periode 1875-1880, sembilan pemuda bumiputra yang magang pada tujuh orang dokter hewan pemerintah; delapan orang di antaranya diluluskan pada tahun 1880 sebagai dokter hewan bumiputra.[12] Tak berselang lama, wabah penyakit hewan melanda Hindia Belanda, mulai dari sampar sapi pada tahun 1875, antraks dan septisemia epizotik pada 1884, surra pada 1886, dan penyakit mulut dan kuku pada 1887.[10][17] Organisasi dokter hewan pertama pun berdiri pada tahun 1884 dengan nama Nederland-Indische Vereeniging voor Diergeneeskunde untuk mengatasi wabah-wabah tersebut.[17]

Usul penggabungan pendidikan dokter dan pendidikan dokter hewan pada STOVIA (Sekolah Pendidikan Dokter Hindia) pernah dilontarkan oleh Direktur Departemen Kepamongprajaan (Binnenlands Bestuur).[18] Meskipun gagasan ini disetujui Menteri Urusan Jajahan (Minister van Kolonien) di Belanda, tetapi karena keberatan yang disampaikan Direktur Departemen Pendidikan Keibadatan dan Kerajinan (Onderwijs, Eeredienst en Nijverheid) dan direktur STOVIA, usul ini tidak terlaksana.[18]

Tahun 1900—1945Sunting

Pada tahun 1907, atas usul Melchior Treub, Direktur Departemen Pertanian, Kerajinan, dan Perdagangan (Landbouw, Nijverheid en Handel), Belanda mendirikan laboratorium veteriner (veeartsenijkundig laboratorium; saat ini menjadi Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor) untuk menangani wabah sampar sapi.[18] Di laboratorium ini juga dibuka kursus untuk mendidik dokter hewan bumiputra yang bernama ”Cursus tot Opleiding van Inlandsche Veearstsen”.[18][19] Lama pendidikan ditetapkan empat tahun dan siswanya adalah lulusan HBS atau MULO (setingkat SMP), dan sekolah-sekolah lain yang dianggap sederajat. Dua orang siswa pertamanya ternyata lulusan Sekolah Pertanian Menengah Atas (Middelbare Landbouwschool atau MLS) yang setara dengan SMA sehingga mereka langsung diterima di tingkat III.[18]

Awalnya, kursus ini berada di bawah pengawasan Koningsberger, Kepala Kebun Raya dan Museum Zoologi Bogor. Pada tahun 1908, L. de Blieck didatangkan dari Belanda untuk memimpin laboratorium veteriner, dan setahun kemudian (1909) ia juga diberi tugas memimpin kursus.[18] Pada tahun 1910 nama kursus diubah menjadi ”Inlandsche Veeartsenschool” (sekolah dokter hewan bumiputra) dan sebutan kepala sekolahnya menjadi direktur yang merangkap sebagai kepala laboratorium.[19] Seorang siswa asal Minahasa, Johannes Alexander Kaligis, lulus di tahun 1910 sebagai dokter hewan Indonesia yang pertama.[10][15] Pada tahun 2010, seratus tahun setelah kelulusan Kaligis, dirayakan sebagai satu abad dokter hewan Indonesia.[10]

Pada tahun 1914, nama sekolah diubah lagi menjadi ”Nederlands Indische Veeartsenschool” (NIVS).[19] Sekolah ini tidak hanya untuk siswa bumiputra, melainkan juga terbuka bagi golongan lain. NIVS lalu mengalami kemunduran karena kembali disatukan dengan laboratorium menjadi ”veeartsenijkundig instituut” (VI) atau lembaga veteriner.[18] Namun pada tahun 1919, NIVS dipisahkan dari lembaga sehingga berdiri sendiri dan dapat berkembang sebaik-baiknya.[18] Pelajaran bahasa Jerman dimasukkan agar para siswa dapat menggunakan buku-buku kedokteran hewan berbahasa Jerman. Lulusan NIVS yang berkinerja baik diberi kesempatan melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan di Utrecht, Belanda, dengan langsung menjadi mahasiswa tingkat III.[18][20] Selain Kaligis, dokter hewan Indonesia yang lulus dari Utrecht yaitu Soeparwi, Iskandar Titus, dan A.A. Ressang.[10][20] Lulusan NIVS lainnya adalah Alwi Abdul Jalil Habibie, yang tak lain merupakan ayah dari Presiden Republik Indonesia yang ketiga B.J. Habibie.[21]

Pada masa pendudukan Jepang, nama NIVS diubah menjadi Bogor Semon Zui Gakko.[19] Sekolah ini akhirnya ditutup saat Jepang menyerah kepada tentara sekutu. Jumlah dokter hewan Indonesia yang dihasilkan sejak IVS didirikan, lalu berganti nama menjadi NIVS, dan terakhir Semon Zui Gakko, adalah 143 orang.[20]

Masa setelah kemerdekaanSunting

Tahun 1945—1949Sunting

Setelah proklamasi kemerdekaan, Sekolah Dokter Hewan (SDH) di Bogor dibuka kembali. Status SDH ditingkatkan menjadi Perguruan Tinggi Kedokteran Hewan (PTKH) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kemakmuran No. 1280a/Per. tanggal 20 September 1946 dengan lama pendidikan lima tahun.[22] Wakil Presiden Mohammad Hatta membuka PTKH secara resmi pada bulan November 1946 dengan Dr. Mohede sebagai rektor magnifikus, sebutan bagi pemimpin PTKH.[23]

Pergolakan Perang Kemerdekaan Indonesia menyebabkan PTKH dikuasai Belanda sehingga aktivitas perkuliahan terhenti.[22] Pada tahun 1947, atas persetujuan rektor PTKH dan Kementerian Kemakmuran, kelas pararel bernama Perguruan Tinggi Kedokteran Hewan Republik Indonesia (PTKH-RI) dibuka di Klaten, Jawa Tengah.[20][23] Sementara di Bogor pada bulan Mei 1948, Belanda membentuk ”Faculteit der Diergeneeskunde" (Fakultas Kedokteran Hewan) yang menjadi bagian dari Universiteit van Indonesië.[20][23]

Ketika Yogyakarta sebagai ibu kota RI diserbu dalam peristiwa Agresi Militer Belanda II pada tanggal 19 Desember 1948, PTKH-RI ditutup.[23] Kelas PTKH-RI dibuka kembali pada 1 November 1949 setelah Yogyakarta berada dalam penguasaan Pemerintah RI, tetapi lokasinya dipindah dari Klaten ke Yogyakarta.[23] Pada tanggal 19 Desember 1949 semua perguruan tinggi di Yogyakarta bergabung menjadi Universiteit Negeri Gadjah Mada, dan PTKH-RI menjelma menjadi Fakultit Kedokteran Hewan UGM.[22] Periode konflik dengan Belanda berakhir setelah Konferensi Meja Bundar berlangsung sukses dan kedaulatan Indonesia dipulihkan pada 27 Desember 1949.

Tahun 1950—sekarangSunting

Pada tanggal 3 Februari 1950 secara resmi dibentuk Universiteit Indonesia yang terdiri atas beberapa fakulteit, di antaranya pertanian dan kedokteran hewan di Bogor. Nama Faculteit der Diergeneeskunde diubah menjadi Fakulteit Kedokteran Hewan Universiteit Indonesia (FKH-UI).[24] Melalui Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995, istilah fakultit (yang digunakan UGM) dan fakulteit (yang digunakan UI) kemudian diseragamkan menjadi fakultas, sedangkan universiteit diubah menjadi universitas.[25]

Organisasi dokter hewan bernama Perhimpunan Ahli Kehewanan yang didirikan sejak awal kemerdekaan mengadakan kongres pertama di Lembang, Jawa Barat pada tanggal 9 Januari 1953.[17] Dalam kongres ini, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) dibentuk sebagai organisasi profesi dokter hewan Indonesia.[17]

Dalam perkembangannya, pendidikan kedokteran hewan sempat digabungkan dengan peternakan. Di UGM, nama Fakultet Kedokteran Hewan berubah menjadi Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan (FKHP) pada tanggal 21 Juni 1955.[26]. Meskipun demikian, Fakultas Kedokteran Hewan dan Fakultas Peternakan berpisah pada 10 November 1969.[27] Hal yang sama juga terjadi di UI, nama FKH UI berubah menjadi Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan (FKHP) UI pada tahun 1960.[24] Pada tahun 1962 nama Fakultas Kedokteran Hewan UI kembali digunakan, sedangkan pendidikan peternakan digabungkan dengan perikanan menjadi Fakultas Peternakan dan Perikanan UI.[24]

Di Banda Aceh, Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan dibentuk pada 17 Oktober 1960 sebagai bagian dari Universitas Sumatera Utara.[28] Pada 2 September 1961, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) didirikan melalui Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) Nomor 11 tahun 1961 tanggal 21 Juli 1961 dengan FKHP sebagai salah satu fakultasnya.[29] Nama FKHP Unsyiah kemudian berubah menjadi FKH Unsyiah pada 10 Oktober 1985 ketika Jurusan Peternakan diintegrasikan ke dalam Fakultas Pertanian.[28]

Pada 1 September 1963 pemerintah membentuk Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui Keputusan Menteri PTIP Nomor 91 Tahun 1963.[24] Sejak saat itu, FKH UI berubah menjadi FKH IPB.

Di Jawa Timur, pendidikan kedokteran hewan dibentuk atas kerja sama Universitas Airlangga Surabaya dan Universitas Brawijaya Malang. Universitas Brawijaya mendirikan Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan (FHKP) pada tahun 1961 yang kemudian diresmikan melalui Keputusan Menteri PTIP Nomor 92 Tahun 1962 dengan berada di bawah naungan Universitas Airlangga.[30] Pada tahun berikutnya, FKHP dikelola sepenuhnya oleh Universitas Brawijaya melalui Keputusan Menteri PTIP Nomor 1 Tahun 1963.[30] Di Surabaya sendiri, Jurusan Kedokteran Hewan dibuka pada 25 November 1969.[31] Jurusan ini berada di bawah FKHP Universitas Brawijaya Malang.[31] Pada tahun 1972, pendidikan kedokteran hewan di lingkungan Universitas Brawijaya Malang dipindahkan seluruhnya ke Universitas Airlangga Surabaya sehingga terbentuk Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga.[31]

Universitas Udayana (Unud) di Denpasar, Bali membuka Jurusan Kedokteran Hewan pada tahun 1978 di bawah FKHP.[32] Lima tahun kemudian, nama FKHP Unud berubah menjadi Fakultas Peternakan dan Program Studi Kedokteran Hewan.[32] Status sebagai fakultas baru diperoleh pada tahun 1997 dengan didirikannya Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana.[32]

Pada tahun 2001, Universitas Nusa Tenggara Barat Mataram membuka Program Studi Kedokteran Hewan.[33] Pendidikan kedokteran hewan di universitas swasta bermula pada tahun 2008 saat Universitas Wijaya Kusuma Surabaya membentuk Fakultas Kedokteran Hewan.[34] Pada tahun yang sama, Universitas Brawijaya Malang kembali membuka Program Kedokteran Hewan yang saat ini telah menjadi FKH Universitas Brawijaya.[35] Pada tahun 2010, program studi kedokteran hewan dibuka di Universitas Nusa Cendana Kupang[36] dan Universitas Hasanuddin Makassar.[37] Terakhir, Universitas Padjadjaran Bandung membuka Program Studi Kedokteran Hewan yang berada di bawah Fakultas Kedokteran pada tahun 2019.[38]

Dokter hewanSunting

 
Seorang dokter hewan melakukan pemeriksaan klinis pada anjing.

Profesi dokter hewanSunting

Dokter hewan (disebut juga medik veteriner) adalah dokter yang menangani hewan dan penyakit-penyakitnya. Selain bertanggung jawab terhadap kesehatan hewan (keswan), dokter hewan juga berperan dalam kesehatan masyarakat veteriner (kesmavet) dan meningkatkan kesejahteraan hewan (kesrawan). Sebagaimana profesi lainnya, sebelum dilantik menjadi dokter hewan, seseorang harus mengucapkan sumpah untuk berjanji akan mengabdikan diri pada profesi yang akan ditekuninya.

Berbeda dengan dokter dan dokter gigi yang sebagian besar bekerja sebagai praktisi, sebagian dokter hewan memilih untuk berkarya dalam bidang lain selain membuka praktik klinik. Dokter hewan praktisi biasanya lebih memfokuskan diri pada satu kelompok hewan tertentu, seperti hewan kecil atau hewan besar. Kelompok hewan kecil merujuk kepada hewan kesayangan yang dipelihara sebagai hewan hobi, seperti anjing, kucing, dan kelinci. Sedangkan kelompok hewan besar meliputi ternak seperti sapi, kambing, kuda, dan babi.

Dokter hewan juga banyak bekerja sebagai konsultan ahli (misalnya konsultan unggas seperti ayam atau satwa liar seperti gajah) baik secara mandiri maupun pada perusahaan swasta. Sejumlah dokter hewan juga bekerja pada lembaga penelitian, konservasi hewan, pembibitan, produksi dan reproduksi hewan, serta badan karantina.

Di Indonesia, organisasi profesi dokter hewan adalah Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI). Semboyan dokter hewan Indonesia adalah "Manusya mriga satwa sewaka" yang artinya "Mengabdi untuk kesejahteraan manusia melalui dunia hewan".

PendidikanSunting

Kedokteran hewan merupakan suatu profesi yang resmi yang dipelajari melalui pendidikan di tingkat universitas. Pendidikan ini terbagi menjadi dua tahap. Tahap pertama adalah pendidikan sarjana (S-1) yang biasanya ditempuh selama delapan semester. Setelah menyelesaikan tahap ini, seseorang akan mendapatkan gelar sarjana kedokteran hewan (S.K.H.). Tahap kedua adalah pendidikan profesi (koasisten) yang biasanya memerlukan waktu 1,5-2 tahun. Setelah menyelesaikan koas, seseorang baru akan mendapatkan gelar dokter hewan (drh).

Jumlah universitas yang memiliki fakultas atau program studi kedokteran hewan di Indonesia berjumlah 11 buah. Kesebelas universitas itu adalah:

  1. Universitas Syiah Kuala (Aceh)
  2. Institut Pertanian Bogor (Bogor)
  3. Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta)
  4. Universitas Airlangga (Surabaya)
  5. Universitas Wijaya Kusuma (Surabaya)
  6. Universitas Brawijaya (Malang)
  7. Universitas Udayana (Denpasar)
  8. Universitas Nusa Tenggara Barat (Mataram)
  9. Universitas Hasanuddin (Makassar)
  10. Universitas Nusa Cendana (Kupang)
  11. Universitas Padjadjaran (Bandung)

Lihat pulaSunting

CatatanSunting

  1. ^ Sebuah sumber menyatakan bahwa hanya ada dua dokter hewan,[12] sedangkan sumber lainnya[13] menyatakan ada lima dokter hewan di Indonesia pada tahun 1851.
  2. ^ Sumber lain menuliskan nama pimpinan IVS adalah Dr. J. van der Helde[15][16]

ReferensiSunting

  1. ^ Taylor, L.H.; Latham, S.N.; Woolhouse, M.E. (2001). "Risk factors for human disease emergence" (PDF). Philos Trans R Soc Lond B Biol Sci. 356 (1411): 983–989. doi:10.1098/rstb.2001.0888. PMID 11516376. 
  2. ^ "Veterinary". Dictionary.com. Diakses tanggal 2 Januari 2020. 
  3. ^ "Veterinarian? A brief historical description about the veterinary field". Animal Health Care of Marlboro. 13 November 2017. Diakses tanggal 23 Oktober 2019. 
  4. ^ "Veteriner". KBBI Daring. Diakses tanggal 2 Januari 2020. 
  5. ^ Thalmann, Olaf; Perri, Angela R. (2018). "Paleogenomic Inferences of Dog Domestication". Dalam Lindqvist, C.; Rajora, O. Paleogenomics. Population Genomics. Springer, Cham. hlm. 273–306. doi:10.1007/13836_2018_27. ISBN 978-3-030-04752-8. 
  6. ^ "The Domestication of Cats". News at Cummings School of Veterinary Medicine at Tufts (dalam bahasa Inggris). 2017-08-01. Diakses tanggal 2019-10-23. 
  7. ^ Wynn & Fougere 2006, hlm. 35.
  8. ^ Lennox, James (27 July 2011). "Aristotle's Biology". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Stanford University. Diakses tanggal 28 November 2014. 
  9. ^ Heintzman, Kit (2018). "A cabinet of the ordinary: domesticating veterinary education, 1766–1799". The British Journal for the History of Science. 51 (2): 239–260. doi:10.1017/S0007087418000274. ISSN 0007-0874. 
  10. ^ a b c d e Tjahjono, Subur (7 Januari 2010). "Seabad Dokter Hewan Indonesia". Kompas. Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 Januari 2020. Diakses tanggal 3 Januari 2020. 
  11. ^ a b "Sejarah Peternakan dan Kesehatan Hewan". Ditjen PKH Kementerian Pertanian RI. Diakses tanggal 3 Januari 2020. 
  12. ^ a b c d e f Sigit 2003, hlm. 1.
  13. ^ a b Barwegen 2010, hlm. 92.
  14. ^ a b Barwegen 2010, hlm. 94.
  15. ^ a b c d Dharmojono 2019, hlm. 60.
  16. ^ Kambie, A.S. (28 Juli 2017). "Inilah Selusin Fakta tentang Sarjana Pertama di Sulsel dari Kedokteran Hewan". Tribun Timur. Diakses tanggal 3 Januari 2020. 
  17. ^ a b c d "Sejarah Organisasi Kedokteran Hewan di Indonesia". Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia. Diakses tanggal 22 Juni 2019. 
  18. ^ a b c d e f g h i Sigit 2003, hlm. 2.
  19. ^ a b c d Priosoeryanto, Bambang Pontjo; Arifiantini, Iis (2014). "The history of the veterinary profession and education in Indonesia". Argos (Utrecht, Netherlands) (50): 342–345. ISSN 0923-3970. PMID 25029757. 
  20. ^ a b c d e Dharmojono 2019, hlm. 61.
  21. ^ "BJ Habibie, Darah Kental Pertanian dalam Diri Sang Teknokrat". Tabloid Sinar Tani. 11 September 2019. Diakses tanggal 3 Januari 2020. 
  22. ^ a b c "Sejarah Singkat". Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada. 2 Juni 2017. Diakses tanggal 4 Januari 2020. 
  23. ^ a b c d e Sigit 2003, hlm. 3.
  24. ^ a b c d "Selayang Pandang". Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Diakses tanggal 8 Januari 2020. 
  25. ^ "Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1955". Hukum Online. Diakses tanggal 8 Januari 2020. 
  26. ^ Soebaran dkk. 2015, hlm. 10.
  27. ^ Soebaran dkk. 2015, hlm. 11.
  28. ^ a b "Sejarah". Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala. Diakses tanggal 9 Januari 2020. 
  29. ^ "Sejarah". Universitas Syiah Kuala. Diakses tanggal 9 Januari 2020. 
  30. ^ a b "Sejarah". Universitas Brawijaya. Diakses tanggal 9 Januari 2020. 
  31. ^ a b c "Sejarah". Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. 20 Maret 2016. Diakses tanggal 9 Januari 2020. 
  32. ^ a b c "Sejarah". Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Diakses tanggal 9 Januari 2020. 
  33. ^ "Sejarah Berdirinya Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Nusa Tenggara Barat". Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Nusa Tenggara Barat. Diakses tanggal 9 Januari 2020. 
  34. ^ "Sejarah". Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Diakses tanggal 9 Januari 2020. 
  35. ^ "Sejarah". Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya. Diakses tanggal 9 Januari 2020. 
  36. ^ "Sejarah Singkat". Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana. Diakses tanggal 9 Januari 2020. 
  37. ^ "Sejarah". Universitas Hasanuddin. Diakses tanggal 9 Januari 2020. 
  38. ^ "Program Studi Kedokteran Hewan". Universitas Padjadjaran. Diakses tanggal 9 Januari 2020. 

Daftar pustakaSunting

Pranala luarSunting

Situs web universitas

Situs web lainnya