Keuskupan Bandung adalah keuskupan sufragan dari Keuskupan Agung Jakarta. Wilayahnya meliputi 24.500 km2 dari sebagian Jawa Barat, berpusat di Bandung. Umat Keuskupan Bandung berjumlah sekitar 105.000, yang tersebar dalam 23 paroki dan dilayani oleh 80 imam. Saat ini tahta Uskup Bandung dipegang oleh Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C. yang dipilih oleh Paus Fransiskus pada tanggal 3 Juni 2014, setelah terjadi sede vecante selama lebih dari 3 tahun.

Keuskupan Bandung

Diœcesis Bandungensis
Bandung Cathedral Indonesia.jpg
Gereja Katedral Santo Petrus, Bandung
Lambang Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC.png
Lambang Uskup Bandung,
Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C.
Lokasi
Negara Indonesia
WilayahBandung Raya, Purwakarta, Karawang, Subang, Indramayu, Cirebon, Tasikmalaya, Kuningan, Majalengka, Ciamis, Pangandaran, Banjar, Garut
Provinsi GerejawiJakarta
Dekenat5
PusatJalan Mochamad Ramdan 18, Cigereleng, Regol, Bandung 40253[1]
Koordinat6°54′53″S 107°36′41″E / 6.91472°S 107.61139°E / -6.91472; 107.61139
Statistik
Luas wilayah23315 km2 (9002 sq mi)[4]
Populasi
- Total
- Katolik
(per 2016[5])
29.018.059
93,810 (0,32%)
Jumlah paroki26[2]
Jumlah imam religius73[3]
Informasi
DenominasiKatolik Roma
Gereja sui iurisGereja Latin
RitusRitus Roma
Didirikan20 April 1932 (88 tahun, 109 hari)
sebagai Prefektur Apostolik Bandung
KatedralSanto Petrus, Bandung
Jumlah imam42[3][6]
Kepemimpinan saat ini
PausFransiskus
UskupAntonius Subianto Bunjamin, O.S.C.[7]
Vikaris JenderalR.D. Yustinus Hilman Pujiatmoko[8]
Vikaris YudisialR.D. Paulus Wirasmohadi Soerjo[9]
SekretarisR.P. Ignatius Eddy Putranto, O.S.C.[9]
EkonomR.D. Antonius Sulastijana[9]
Situs web
keuskupanbandung.org

Keuskupan ini meliputi umat Katolik yang berada di Jawa Barat bagian timur, meliputi Bandung, Purwakarta, Karawang, Subang, Sumedang, Majalengka, Cirebon, Kuningan, Indramayu, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, dan Banjar.

SejarahSunting

  • Didirikan sebagai Prefektur Apostolik Bandung pada tanggal 20 April 1932, memisahkan diri dari Vikariat Apostolik Batavia
  • Ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik Bandung pada tanggal 16 Oktober 1941
  • Ditingkatkan menjadi Keuskupan Bandung pada tanggal 3 Januari 1961

Perkembangan awalnya berasal dari Cirebon yang sudah mempunyai gereja pada 1878. Bandung sendiri pada waktu itu masih merupakan stasi, yang baru berkembang sejak tahun 1906. Arah menuju keuskupan diawali dengan pembentukan Prefektur Apostolik Bandung, dipisahkan dari Vikariat Apostolik Batavia (Jakarta) pada 20 April 1932, dan pembinaannya diserahkan Kongregasi Suci Pewartaan Iman (Propaganda Fide) kepada Ordo Salib Suci (OSC). Ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik pada 16 Oktober 1941. Menjadi keuskupan (diosis) bersamaan dengan pendirian hierarki Gereja Katolik yang mandiri di Indonesia pada 3 Januari 1961.

Arah KaryaSunting

Melalui musyawarah pastoral, Keuskupan Bandung hendak mewujudkan Gereja ba-gai-ma-du, yaitu singkatan dari Gereja yang terlibat, bergairah, murah hati dan peduli; serta Gereja yang ta-man-ba-di, singkatan dari bertangan, beriman, berhati dan berbudi. Keuskupan Bandung juga mempunyai beberapa seminari tempat pendidikan calon imam, seperti Seminari Tinggi Fermentum milik Keuskupan Bandung.

GembalaSunting

Prefek Apostolik BandungSunting

Vikaris Apostolik BandungSunting

  • Jacobus Hubertus Goumans, O.S.C. (16 Oktober 1941–3 Maret 1951, mengundurkan diri)
    • Sede vacante (3 Maret 1951–10 Januari 1952)
  • Pierre Marin Arntz, O.S.C. (10 Januari 1952–3 Januari 1961)

Uskup BandungSunting

ParokiSunting

Keuskupan Bandung terdiri dari 28 paroki (per 2020) dengan rata-rata 1.200 umat per paroki. Jumlah imam Praja (diosesan) 27 orang, dan imam tarekat religius 53 orang (Statistik 2007). Gereja-gereja di keuskupan ini antara lain:

Dekenat Bandung TimurSunting

Dekenat Bandung BaratSunting

Dekenat Bandung SelatanSunting

Dekenat PanturaSunting

Dekenat PrianganSunting

KeteranganSunting

  • Catatan 1: Gereja Santo Albertus Magnus berada di bawah reksa pastoral Gereja Mahasiswa Bandung, namun secara teritorial berada di wilayah Paroki Santa Odilia, Cicadas.[10]
  • Catatan 2: [1]

ReferensiSunting

BibliografiSunting

Pranala luarSunting