Buka menu utama

Keuskupan Bogor merupakan keuskupan sufragan dari Keuskupan Agung Jakarta. Wilayahnya meliputi 18.400 km2 di enam kabupaten di Provinsi Jawa Barat dan Banten, berpusat di Bogor. Umat Katolik di Keuskupan Bogor berjumlah sekitar 90.000 dan tersebar dalam 23 paroki dan dilayani oleh 72 imam.

Keuskupan Bogor

Diœcesis Bogorensis
Coat of arms of Paskalis Bruno Syukur.png
Lambang Uskup Bogor,
Mgr. Paskalis Bruno Syukur, O.F.M.
Lokasi
Negara Indonesia
WilayahBogor, Banten, Cianjur, Sukabumi
Provinsi GerejawiJakarta
Dekenat
PusatJalan Kapten Muslihat 22, Paledang, Bogor Tengah, Bogor 16122
Koordinat6°35′49″S 106°47′36″E / 6.5970°S 106.7932°E / -6.5970; 106.7932
Statistik
Luas wilayah18,368 km2 (7,092 sq mi)[1]
Populasi
- Total
- Katolik
(per 2015)
18.010.983
116.138 (0.64%)
Jumlah paroki22
Jumlah imam religius31
Informasi
DenominasiKatolik Roma
RitusRitus Latin
Sebelumnya
  • Prefektur Apostolik Sukabumi (9 Desember 1948–3 Januari 1961)
Didirikan9 Desember 1948 (70 tahun, 344 hari)
KatedralGereja Katedral Santa Perawan Maria, Bogor
Jumlah imam58
Kepemimpinan saat ini
PausFransiskus
UskupMgr. Paskalis Bruno Syukur, O.F.M.[2]
Vikaris JenderalR.D. Paulus Haruna[3]
Vikaris YudisialR.D. Yohanes Driyanto[4]
SekretarisR.D. Yustinus Monang Damanik[4]
EkonomR.D. Stefanus Sri Haryono Putro[4]
Uskup EmeritusMgr. Cosmas Michael Angkur, O.F.M.
(Uskup, 1994–2013)
Situs web
keuskupanbogor.org

Imam diosesan (Praja) dikembangkan sejak awal di Keuskupan Bogor dan sekarang berjumlah 42 orang. Jumlah imam dari tarekat religius 14 orang. Rata-rata setiap imam melayani keperluan rohani 1.607 orang umat.

Keuskupan Bogor memiliki ikon katekese yaitu, Mamedo. Mamedo adalah Boneka peraga yang dibuat untuk berkatekese dalam mengenalkan Yesus Kristus. Mamedo adalah akronim dari Magnificat Anima Mea Dominum, sebagai semboyan Bapa Uskup Paskalis.

SejarahSunting

  • Didirikan sebagai Prefektur Apostolik Sukabumi pada tanggal 9 Desember 1948, memisahkan diri dari Vikariat Apostolik Batavia
  • Ditingkatkan menjadi Keuskupan Bogor pada tanggal 3 Januari 1961

Walaupun kontak pertama agama Katolik yang dibawa para pedagang Portugis dengan penduduk Banten yang beragama Hindu terjadi di awal abad ke-16, namun baru pada pertengahan abad ke-19 Bogor dikunjungi oleh imam dari Batavia (Jakarta) untuk merayakan Ekaristi. Pada 1885 Pastor MYD Claessens Pr menetap di Bogor. Ia juga mendirikan gereja di Sukabumi (1896) dan membangun gereja yang sekarang menjadi katedral Bogor. Pada tahun 1929 imam-imam Fransiskan Konventual mulai bekerja di Batavia (Jakarta) dan berangsur-angsur mereka membina stasi-stasi Rangkasbitung (1933), Cianjur (1933), Cicurug (1934) dan Serang (1939). Dalam perkembangan selanjutnya kemudian dibentuklah suatu Prefektur Apostolik Sukabumi dipisahkan dari Vikariat Apostolik Batavia (Jakarta) pada 9 Desember 1948, dan pembinaannya diserahkan kepada Ordo Fransiskan. Dengan berdirinya hierarki Gereja Katolik mandiri di Indonesia pada 3 Januari 1961, paroki Bogor digabungkan dengan Prefektur Apostolik Sukabumi menjadi Keuskupan Bogor.

GembalaSunting

Prefek Apostolik SukabumiSunting

Uskup BogorSunting

Paternus Nicholas Joannes Cornelius Geise, O.F.M. (3 Januari 1961–16 Oktober 1961; administrator apostolik)

ParokiSunting

Dekenat BaratSunting

  • Gereja Santa Maria Tak Bernoda, Rangkasbitung, Banten (1888)
  • Gereja Kristus Raja, Serang, Banten (1950)

Dekenat SelatanSunting

  • Gereja Hati Maria Tak Bernoda, Cicurug (1951)
  • Gereja Santo Fransiskus Asisi, Cibadak
  • Gereja Santo Joseph, Sukabumi (1927)
  • Gereja Santo Petrus, Cianjur (1931)
  • Gereja Santa Maria Ratu Para Malaikat, Cipanas (1948)

Dekenat TengahSunting

Dekenat UtaraSunting


ReferensiSunting

Pranala luarSunting