Kabupaten Jayawijaya

kabupaten di Papua, Indonesia

Kabupaten Jayawijaya adalah salah satu kabupaten di provinsi Papua, Indonesia yang terletak di kawasan Pegunungan Tengah. Ibu kota kabupaten ini terletak di Wamena yang terletak di Lembah Baliem. Lembah Baliem lebih terkenal sehingga banyak orang menyebut Lembah Baliem identik dengan Jayawijaya atau Wamena. Dalam literatur asing Lembah Baliem juga sering disebut sebagai Lembah Agung. Penduduk kabupaten ini pada tahun 2020 berjumlah 272.984 jiwa, dengan kepadatan penduduk 38,83 jiwa/km2.[3] Kabupaten Jayawijaya berada di wilayah adat La Pago.[7]

Kabupaten Jayawijaya
Kabupaten di Papua, Indonesia
Lambang Kabupaten Jayawijaya.png
Lambang
Map kurulu.png
Kabupaten Jayawijaya is located in Maluku dan Papua
Kabupaten Jayawijaya
Kabupaten Jayawijaya
Kabupaten Jayawijaya is located in Indonesia
Kabupaten Jayawijaya
Kabupaten Jayawijaya
Koordinat: 4°05′00″S 139°05′00″E / 4.08333°S 139.08333°E / -4.08333; 139.08333
Negara Indonesia
ProvinsiPapua
Tanggal peresmian10 September 1969
Dasar hukumUU Nomor 12 Tahun 1969[1]
Ibu kotaWamena
Pemerintahan
 • BupatiJohn Richard Banua
 • Wakil BupatiMarthin Yogobi
Luas
 • Total7.031,00 km2 (2,714,68 sq mi)
Populasi
 • Total272.984 jiwa
 • Kepadatan38,83/km2 (100,6/sq mi)
Demografi
 • AgamaKristen 92,84%
- Protestan 69,47%
- Katolik 23,37%
Islam 6,76%
Kepercayaan 0,36%
Hindu 0,04%[2][4]
Zona waktuWIT (UTC+09:00)
Kode Kemendagri91.02 Edit the value on Wikidata
Jumlah kecamatan40 kecamatan
Jumlah kelurahan4 kelurahan
Jumlah desa328 desa
DAURp 764.158.093.000,00- (2020)[5]
IPMKenaikan 58,67 (2021)
( sedang )[6]
Situs webwww.jayawijayakab.go.id
Bukit Dosa di kampung habusa kabupaten Jayawijaya

GeografisSunting

Batas WilayahSunting

Batas wilayah Kabupaten Jayawijaya antara lain;[8]

Utara Kabupaten Mamberamo Tengah dan Kabupaten Yalimo
Timur Kabupaten Pegunungan Bintang
Selatan Kabupaten Yahukimo
Barat Kabupaten Lanny Jaya dan Kabupaten Tolikara

SejarahSunting

 
Lambang Kabupaten Jayawijaya Lama
 
Sebuah perkantoran di Wamena
 
Pasar Wamena

Sejarah Kabupaten Jayawijaya sangat berhubungan erat dengan sejarah perkembangan gereja di wilayah ini, karena daerah ini adalah daerah terisolasi dari dunia luar, tetapi sejak tahun 1950-an misionaris mulai berdatangan dan mulai melakukan penginjilan di daerah ini.[9]

Lembah Baliem ditemukan secara tidak sengaja, ketika Richard Archbold, ketua tim ekspedisi yang disponsori oleh American Museum of Natural History melihat adanya lembah hijau luas dari kaca jendela pesawat pada tanggal 23 Juni 1938. Penglihatan tidak sengaja ini adalah awal dari terbukanya isolasi Lembah Baliem dari dunia luar.

Tim ekspedisi yang sama di bawah pimpinan Kapten Teerink dan Letnan Van Areken mendarat di Danau Habema. Dari sana mereka berjalan menuju arah Lembah Baliem melalui Lembah Ibele dan mereka mendirikan basecamp di Lembah Baliem.

Pada tanggal 20 April 1954, sejumlah missionaris dari Amerika Serikat, termasuk di dalamnya Dr. Myron Bromley, tiba di Lembah Baliem. Tim misionaris ini menggunakan pesawat kecil yang mendarat di Sungai Baliem, tepatnya di Desa Minimo dengan tugas utama memperkenalkan agama Kristen ke orang Dani di Lembah Baliem. Stasiun Misionaris Pertama didirikan di Hitigima. Selama 7 (tujuh) bulan mereka mendirikan landasan pesawat terbang pertama. Beberapa waktu kemudian misionaris menemukan sebuah areal yang ideal untuk dijadikan landasan pendaratan pesawat udara. Areal landasan pesawat terbang itu terletak berbatasan dengan daerah Suku Mukoko dan di areal inilah mulai dibangun landasan terbang yang kemudian berkembang menjadi landasan terbang Wamena saat ini.

Pada tahun 1958 Pemerintah Belanda mulai kekuasaannya di Lembah Baliem, dengan mendirikan pos pemerintahannya di sekitar areal landasan terbang, namun kehadiran Belanda di Lembah Baliem tidak lama, karena melalui proses panjang diawali dengan ditandatanganinya dokumen Pepera pada tahun 1969, Irian Barat kembali ke Pemerintah Republik Indonesia, sehingga Pemerintah Belanda segera meninggalkan Irian Barat (Papua).

Kabupaten Jayawijaya dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1969, tentang pembentukan Provinsi Otonom Irian Barat dan Kabupaten-Kabupaten Otonom di Provinsi Irian Barat.[10] Berdasarkan pada Undang-undang tersebut, Kabupaten Jayawijaya terletak pada garis meridian 137°12'-141°00' Bujur Timur dan 3°2'-5°12' Lintang Selatan yang memiliki daratan seluas 52.916 km², merupakan satu-satunya Kabupaten di Provinsi Irian Barat (pada saat itu) yang wilayahnya tidak bersentuhan dengan bibir pantai.

Pemekaran KabupatenSunting

Mengingat luasnya wilayah ini, Pemerintah Pusat berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya mulai mengupayakan pemekaran wilayah. Dimulai dengan pemekaran desa, pemekaran kecamatan dan pemekaran kabupaten. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 dengan diberlakukannya Otonomi Khusus di Papua, maka khusus di Provinsi Papua (dan kemudian juga di Provinsi Papua Barat), istilah kecamatan diganti menjadi distrik dan desa menjadi kampung.

Pemekaran Kabupaten dilakukan mulai tahun 2002 melalui Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002 dengan membentuk tiga kabupaten baru yaitu Kabupaten Tolikara dengan ibu kota Karubaga, Kabupaten Pegunungan Bintang dengan ibu kota Oksibil dan Kabupaten Yahukimo dengan ibu kota Dekai.

Pemekaran kabupaten kedua adalah pada tahun 2008, yaitu pemekaran dari wilayah Kabupaten Jayawijaya dan sebagian wilayah kabupaten pemekaran pertama. Dimekarkan empat kabupaten baru yang diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri RI pada tanggal 12 Juni 2008 di Wamena. Keempat kabupaten yang baru dimekarkan itu masing-masing berdasarkan:

  1. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2008 tentang pemekaran Kabupaten Mamberamo Tengah dengan ibu kota Kobakma, meliputi Distrik Kobakma, Kelila, Eragayam, Megambilis dan Ilugwa.
  2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2008 tentang pemekaran Kabupaten Yalimo, dengan ibu kota Elelim, meliputi Distrik Elelim, Apalapsili, Abenaho, Benawa dan Welarek.
  3. Undang-undang Nomor 5 Tahun 2008 tentang pemekaran Kabupaten Lanny Jaya, dengan ibu kota Tiom, meliputi Distrik Tiom, Pirime, Makki, Gamelia, Dimba, Melagineri, Balingga, Tiomneri, Kuyawage dan Poga.
  4. Undang-Undang Nomor 6 tahun 2008 tentang pemekaran wilayah Kabupaten Ndugadengan ibu kota Kenyam, meliputi Distrik Kenyam, Mapenduma, Yigi, Wosak, Geselma, Mugi, Mbua dan Gearek.

PembangunanSunting

Pada tanggal 10 Mei 2017 Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau jalan Trans Papua, di Distrik Habema, Kabupaten Jayawijaya dengan mengendarai sendiri motor trail menyusuri jalan Trans Papua sepanjang kurang lebih 6 km yang belum diaspal. Jalan tersebut menghubungkan Kabupaten Jayawijaya dengan Kabupaten Nduga dan Kabupaten Asmat (ruas Wamena menuju Agats) sepanjang 287 km dan yang sudah diaspal 38 km. Perjalanan dari Wamena menuju tempat acara yang berjarak 42 km, dilalui Presiden dengan menggunakan kendaraan roda 4 sepanjang 36 km. Sisanya 6 km, Jokowi mengendarai sendiri motor trail.[11] Jalan ini merupakan bagian dari ruas jalan Trans Papua sepanjang 4.300 km yang dalam proses Pembangunan.

PemerintahanSunting

Daftar BupatiSunting

Berikut ini adalah Bupati Jayawijaya dari masa ke masa.

No Bupati Mulai menjabat Akhir menjabat Prd. Ket. Wakil Bupati
1 M. Harahap 1965[12] 1968[12] 1
2   Arnold Mampioper 1968[12] 1969[12] 2
3   Clemens Kiriwaib 1969[12] 1971[12] 3
4   Andreas Karma 1971[12] 1978[12] 4
5   Albert Dien 1978[12] 13 April 1989[13] 5
6
6   Jos Buce Wenas 13 April 1989[13] 24 Februari 1998[14] 7 Arie Mamentu
8
Basyir Bachtiar 24 Februari 1998[14] 21 Oktober 1998[15]
7 David Agustein Hubi 21 Oktober 1998[15]
2006
9
10 Nicolas Jigibalom
8 Nicolas Jigibalom
2006
2007
Washinton Turnip
2007
2008
9   John Wempi Wetipo
S.H., M.H.
18 Desember 2008
18 Desember 2013
11
[16]
John Richard Banua
18 Desember 2013
18 Desember 2018
12
[17][18]
10   John Richard Banua
18 Desember 2018
petahana
13
[19]
Marthin Yogobi


Dewan PerwakilanSunting

Nomor Ketua Wakil Ketua Periode Keterangan
1 Simon Hilapok Agustina Walilo Haluk
Alexandria Morin
2009 – 2014 [20]
2 Taufik Petrus Latuihamalo Matias Tabuni
Soleman Elosak
2015 – 2020 [21][22]

Daftar DistrikSunting

Kabupaten Jayawijaya terdiri atas 40 distrik, 4 kelurahan, dan 328 kampung dengan luas wilayah 8.495,85 km² dan jumlah penduduk 212.811 jiwa (2017). Kode Wilayah Kabupaten Jayawijaya adalah 91.02.[23][24][25] Pada tahun 2017, data berbeda ditampilkan Kemendagri, Kabupaten Jayawijaya memiliki luas wilayah 7.030,66 km² dan jumlah penduduk sebesar 268.137 jiwa dengan sebaran penduduk 38 jiwa/km².[23]

Kode Wilayah Nama Distrik Ibu kota Jumlah Daftar
Kelurahan Kampung
91.02.01 Wamena Wamena 3 8
91.02.03 Kurulu Jiwika - 12
91.02.04 Asologaima Kimbin - 10
91.02.12 Hubikosi Hubikosi - 11
91.02.15 Bolakme Bolakme - 12
91.02.25 Walelagama Walelagama - 6
91.02.27 Musatfak Temia - 10
91.02.28 Wolo Wolo - 8
91.02.29 Asolokobal Asolokobal - 9
91.02.34 Pelebaga Wililimo - 13
91.02.35 Yalengga Yalengga - 11
91.02.40 Trikora Trikora - 6
91.02.41 Napua Napua - 9
91.02.42 Walaik Walaik - 5
91.02.43 Wouma Wouma - 7
91.02.44 Hubukiak Hubukiak - 8
91.02.45 Ibele Ibele - 10
91.02.46 Taelarek Tailarek - 8
91.02.47 Itlay Hisage Lukaken - 9
91.02.48 Siepkosi Siepkosi - 9
91.02.49 Usilimo Usilimo - 10
91.02.50 Wita Waya Tulem - 5
91.02.51 Libarek Muliama - 5
91.02.52 Wadangku Wadangku - 5
91.02.53 Pisugi Pisugi - 7
91.02.54 Koragi Koragi - 5
91.02.55 Tagime Tagime - 11
91.02.56 Molagalome Molagalome - 6
91.02.57 Tagineri Tagineri - 9
91.02.58 Silo Karno Doga Wonenggulik - 8
91.02.59 Piramid Piramid - 10
91.02.60 Muliama Miliama - 12
91.02.61 Bugi Bugi - 8
91.02.62 Bpiri Dlonggoki - 7
91.02.63 Welesi Welesi - 7
91.02.64 Asotipo Asotipo - 10
91.02.65 Maima Maima - 7
91.02.66 Popugoba Popugoba - 4
91.02.67 Wame Wame - 4
91.02.68 Wesaput Ilokama 1 7
Total 4 328

Topografi dan IklimSunting

 
Lembah Baliem

Kabupaten Jayawijaya berada di hamparan Lembah Baliem, sebuah lembah aluvial yang terbentang pada areal ketinggian 1500–2000 m di atas permukaan laut. Temperatur udara bervariasi antara 14,5 derajat Celcius sampai dengan 24,5 derajat Celcius. Dalam setahun rata-rata curah hujan adalah 1.900 mm dan dalam sebulan terdapat kurang lebih 16 hari hujan. Musim kemarau dan musim penghujan sulit dibedakan. Berdasarkan data, bulan Maret adalah bulan dengan curah hujan terbesar, sedangkan curah hujan terendah ditemukan pada bulan Juli.[26]

Lembah Baliem dikelilingi oleh Pegunungan Jayawijaya yang terkenal karena puncak-puncak salju abadinya, antara lain: Puncak Trikora (4.750 m), Puncak Mandala (4.700 m) dan Puncak Yamin (4.595 m). Pegunungan ini amat menarik wisatawan dan peneliti Ilmu Pengetahuan Alam karena puncaknya yang selalu ditutupi salju walaupun berada di kawasan tropis. Lereng pegunungan yang terjal dan lembah sungai yang sempit dan curam menjadi ciri khas pegunungan ini. Cekungan lembah sungai yang cukup luas terdapat hanya di Lembah Baliem Barat dan Lembah Baliem Timur (Wamena).

Vegetasi alam hutan tropis basah di dataran rendah memberi peluang pada hutan iklim sedang berkembang cepat di lembah ini. Ekosistem hutan pegunungan berkembang di daerah ketinggian antara 2.000–2.500 m di atas permukaan laut.

DemografiSunting

Orang Dani di lembah Baliem biasa disebut sebagai "Orang Dani Lembah". Rata-rata kenaikan populasi orang Dani sangat rendah dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia, salah satu penyebabnya adalah keengganan pada ibu untuk mempunyai anak lebih daripada dua yang menyebabkan rendahnya populasi orang Dani di Lembah Baliem. Sikap berpantang pada ibu selama masih ada anak yang masih disusui, membuat jarak kelahiran menjadi jarang. Hal ini selain tentu saja karena adat istiadat mereka, mendorong terjadinya poligami. Poligami terjadi terutama pada laki-laki yang kaya, mempunyai banyak babi. Babi merupakan maskawin utama yang diberikan laki-laki kepada keluarga wanita. Selain sebagai maskawin, babi juga digunaklan sebagai lambang kegembiraan maupun kedukaan. Babi juga menjadi alat pembayaran denda terhadap berbagai jenis pelanggaraan adat. Dalam pesta adat besar babi tidak pernah terlupakan bahkan menjadi bahan konsumsi utama.

Sebelum tahun 1954, penduduk Kabupaten Jayawijaya merupakan masyarakat yang homogen dan hidup berkelompok menurut wilayah adat, sosial dan konfederasi suku masing-masing. Pada saat sekarang ini penduduk Jayawijaya sudah heterogen yang datang dari berbagai daerah di Indonesia dengan latar belakang sosial, budaya dan agama yang berbeda namun hidup berbaur dan saling menghormati.[27]

EkonomiSunting

Mata pencaharian utama masyarakat Jayawijaya adalah bertani, dengan sistem pertanian tradisional. Makanan pokok masyarakat asli Jayawijaya adalah ubi jalar, keladi dan jagung sehingga pada areal pertanian mereka dipenuhi dengan jenis tanaman makanan pokok ini.

Pemerintah Kabupaten Jayawijaya berusaha memperkenalkan jenis tanaman lainnya seperti berbagai jenis sayuran (kol, sawi, wortel, buncis, kentang, bunga kol, daun bawang dan sebagainya) yang kini berkembang sebagai barang dagangan yang dikirim ke luar daerah untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.

Lembah Baliem adalah areal luas yang sangat subur sehingga cocok untuk berbagai jenis komoditas pertanian yang dikembangkan tanpa pupuk kimia. Padi sawah juga mulai berkembang di daerah ini kerena penduduk Dani sudah mengenal cara bertani padi sawah. Begitupun komoditas perkebunan lainnya kini dikembangkan adalah kopi Arabika.[28]

Salah satu lokasi pariwisata di Kabupaten Jayawijaya ialah Batas Batu Wamena, yang terdapat di perbatasan antara Kabupaten Jayawijaya dengan Kabupaten Nduga.[29]

TransportasiSunting

Transportasi Kabupaten Jayawijaya hingga saat ini masih mengandalkan perhubungan udara, trayek komersial Wamena-Jayapura yang (pada tahun 2011) dilayani oleh dua maskapai penerbangan yaitu Trigana dan Nusantara Air Charter. Dahulu trayek ini pernah dilayani oleh antara lain oleh Merpati Nusantara, Manunggal Air, dan Aviastar. Trayek Wamena-Biak maupun Wamena-Merauke biasanya dilayani oleh penerbangan TNI AURI dengan pesawat Hercules C130 nya.

Semua jenis barang, baik barang kebutuhan pokok masyarakat, bahan bangunan seperti semen, besi beton, kendaraan seperti mobil, truk, bus hingga alat berat seperti buldozer maupun excavator serta kebutuhan bahan bakar minyak (bensin dan solar) diangkut ke Wamena menggunakan pesawat terbang.

Sedangkan transportasi darat yang menghubungkan Wamena dengan empat puluh distrik (hasil pemekaran distrik tahun 2011) di kabupaten Jayawijaya, sudah dapat dijangkau dengan kendaraan beroda empat atau setidaknya dengan kendaraan roda dua. Jalan darat menghubungkan Wamena dengan ibu kota kabupaten hasil pemekaran yaitu ke Tiom (kabupaten Kabupaten Lanny Jaya), Karubaga (Kabupaten Tolikara), Elelim (Kabupaten Yalimo). Jalan darat hingga ke Distrik Kurima di Kabupaten Yahukimo juga sudah ada, namun kendala longsor yang selalu terjadi di Sungai Yetni membuat bagian jalan ini tidak selalu dapat dilalui dengan kendaraat beroda empat.

Sebuah ruas jalan yang diharapkan dapat menghubungkan Wamena dengan Kenyam (Kabupaten Nduga) sedang dibangun, namun karena jalan ini melintas dalam kawasan Taman Nasional Lorentz, untuk sementara pembangunan jalan ini sedang ditunda menunggu kajian lebih lanjut.[30]

Kerusuhan WamenaSunting

Sekelompok massa yang sebagiannya berseragam SMA melakukan aksi pengrusakan dan pembakaran sejumlah bangunan, termasuk kantor bupati Jayawijaya pada tanggal 23 September 2019. Pihak militer mencatat bahwa terdapat 351 unit ruko, 27 rumah, 10 kantor dan 1 kompleks pasar yang hancur akibat kerusuhan tersebut. Selain itu, aksi ini juga diikuti dengan penyerangan warga. Setidaknya terdapat 33 orang tewas dalam kerusuhan ini.[31] Sebagian besar korban merupakan warga pendatang Minangkabau dari Sumatera Barat dan Bugis dari Sulawesi Selatan.[32] Peristiwa ini dipicu oleh insiden perkataan yang diduga bernada rasial dari seorang guru terhadap siswa asli Papua di Wamena. Akan tetapi, dugaan ini dibantah oleh pihak kepolisian. Kepolisian menganggap massa perusuh termakan kabar hoaks. Per 4 Oktober 2019, Pangkalan TNI Angkatan Udara Silas Papare mencatat sebanyak 10.080 orang meninggalkan Wamena menuju Kota Jayapura.[33] Pada 28 Oktober 2019, Presiden Joko Widodo mengunjungi Wamena untuk melihat situasi kota pasca kerusuhan. Presiden meminta proses rekonstruksi segera dilakukan dan memerintahkan pemulihan situasi keamanan.

Peristiwa ini mengingatkan kembali kejadian "Wamena Berdarah" yang terjadi pada tanggal 6 Oktober 2000. Saat itu terjadi konfilik horisontal antara warga pendatang dan pribumi. Kejadian tersebut menyebabkan tujuh orang Papua dan 24 warga pendatang meninggal.[34] Pasca kerusahan, terdapat lebih dari 5.000 warga Wamena saat ini mengungsi di markas kepolisian dan militer, sedangkan sekitar 400 warga memilih pindah untuk sementara ke Jayapura.

ReferensiSunting

  1. ^ "Pembentukan Daerah-Daerah Otonom di Indonesia s/d Tahun 2014" (PDF). www.otda.kemendagri.go.id. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2019-07-12. Diakses tanggal 22 Februari 2020. 
  2. ^ a b "Visualisasi Data Kependuduakan - Kementerian Dalam Negeri 2020". www.dukcapil.kemendagri.go.id. Diakses tanggal 22 Februari 2021. 
  3. ^ a b "Kabupaten Jayawijaya Dalam Angka 2020". www.jayawijayakab.bps.go.id. Diakses tanggal 4 Juni 2020. 
  4. ^ "Penduduk Menurut Wilayah dan Agama yang Dianut di Kabupaten Jayawijaya". www.sp2010.bps.go.id. Diakses tanggal 16 Februari 2020. 
  5. ^ "Rincian Alokasi Dana Alokasi Umum Provinsi/Kabupaten Kota Dalam APBN T.A 2020" (PDF). www.djpk.kemenkeu.go.id. (2020). Diakses tanggal 22 Januari 2021. 
  6. ^ "Indeks Pembangunan Manusia 2020-2021". www.bps.go.id. Diakses tanggal 1 Desember 2021. 
  7. ^ "La Pago". Badan Penghubung Daerah Provinsi Papua (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-04-10. Diakses tanggal 2021-04-11. 
  8. ^ Batas baru setelah pemekaran
  9. ^ Sejarah
  10. ^ Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1969 Nomor 47, tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2907
  11. ^ Naik Trail, Presiden Lihat Sulitnya Membangun Trans Papua Diarsipkan 2018-10-10 di Wayback Machine. - PresidenRI.go.id - 10 Mei 2017
  12. ^ a b c d e f g h i Gayo, Iwan (1990). Buku Pintar Nusantara. Upaya Warga Negara. hlm. 147. 
  13. ^ a b "Letkol Inf. Yos Buce Wenas Bupati Jayawijaya". Mimbar Kekaryaan (220). April 1989. hlm. 65. Diakses tanggal 11 Maret 2021. 
  14. ^ a b TOV (25 Februari 1998). "Daerah Sekilas: Wamena - Gubernur Irja Melantik Bupati Jayawijaya". Kompas. Wamena. hlm. 11. Diakses tanggal 11 Maret 2021. Gubernur Irian Jaya, J Patippi hari Selasa (24/2) di Wamena, melantik Brigjen TNI Basyir Bachtiar, sebagai Pejabat Bupati Jayawijaya, menggantikan Kolonel (Inf) JB Wenas yang menjadi Wakil Gubernur Sulawesi Utara. 
  15. ^ a b TOV/SAH (22 Oktober 1998). "Putra Daerah Jadi Bupati Jayawijaya". Kompas. hlm. 8. Diakses tanggal 11 Maret 2021. Gubernur Irja, Freddy Numberi, melantik David Agustein Hubi selaku Bupati Jayawijaya periode 1998-2003, Rabu (21/10) di Wamena. Hubi merupakan putra daerah pertama yang menjadi bupati di kabupaten tersebut, sejak Irja kembali ke pangkuan RI, 35 tahun lalu. 
  16. ^ "Gubernur Bangga, Jayawijaya Dipimpin Orang-orang Muda - SBP-News @VBaptistPapua". Gubernur Bangga, Jayawijaya Dipimpin Orang-orang Muda - SBP-News @VBaptistPapua. 2008-12-26. Diakses tanggal 2019-04-25. 
  17. ^ "Wetipo-Banua Kembali Membangun Jayawijaya". Papua Pos. 18 Desember 2013. Diakses tanggal 18 Desember 2013. [pranala nonaktif permanen]
  18. ^ "Gubernur Papua Lantik Bupati Jayawijaya". Tabloid Jubi. 18 Desember 2013. Diakses tanggal 18 Desember 2013. 
  19. ^ detikNews (18 Desember 2018). "Bupati-Wabup Jayawijaya 2018-2023 Dilantik Gubernur Papua". Diakses tanggal 18 Desember 2018. 
  20. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama pimpinan9
  21. ^ Tabloid Jubi (10-03-2015). Pimpinan DPRD Jayawijaya Resmi Dilantik. Tanah Papua. Diakses pada 25-04-2019.
  22. ^ "Tiga Pimpinan DPRD Jayawijaya Dilantik | Pasific Pos.com". www.pasificpos.com. Diakses tanggal 2019-04-25. [pranala nonaktif permanen]
  23. ^ a b "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-09-19. Diakses tanggal 5 Desember 2018. 
  24. ^ BPS Provinsi Papua, 26 Desember 2018, Statistik Potensi Desa Propinsi Papua 2018, dikunjungi pada 27 Februari 2019.
  25. ^ BPS Kabupaten Jayawijaya, 16 Agustus 2018, Kabupaten Jayawijaya Dalam Angka 2018, dikunjungi pada 28 Februari 2019.
  26. ^ Topografi dan Iklim
  27. ^ Demografi dan Budaya
  28. ^ Sosial ekonomi
  29. ^ https://indopos.co.id/read/2016/11/12/69003/menikmati-batas-batu-objek-wisata-di-daerah-pegunungan/
  30. ^ Transportasi
  31. ^ "Dua bulan sejak kerusuhan di Wamena, trauma dan rasa 'was-was' masih menghantui warga". BBC News Indonesia. Diakses tanggal 2021-04-11. 
  32. ^ "TOKOH Minang Bersuara Keras Kutuk Tragedi Wamena Papua hingga Tuntut Jokowi Mundur Dianggap Gagal". Warta Kota. Diakses tanggal 2021-04-11. 
  33. ^ Amirullah (2019-10-05). "Jumlah Pengungsi Kerusuhan Wamena Lebih 10 Ribu Orang". Tempo (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-04-11. 
  34. ^ "Wamena: Wilayah yang pernah dilanda peristiwa berdarah 'perlu waktu' untuk memulihkan trauma warga pendatang dan Papua". BBC News Indonesia. Diakses tanggal 2021-04-11. 

Pranala luarSunting