Afrika Selatan

negara di Afrika Selatan
(Dialihkan dari Afrika selatan)

Republik Afrika Selatan (en: Republic of South Africa), atau yang biasa disebut Afrika Selatan, disingkat dengan Afsel, adalah sebuah negara yang terletak di kawasan paling selatan Afrika. Afrika Selatan dibatasi oleh garis pantai sepanjang 2.798 km yang membentang di sepanjang Samudra Atlantik dan Hindia di sebelah selatan;[4] di sebelah utara berbatasan dengan Namibia, Botswana, dan Zimbabwe; di sebelah timur dan timur laut berbatasan dengan Mozambik dan Eswatini; dan mengelilingi negara enklave Lesotho.[5] Afrika Selatan adalah negara paling selatan di daratan utama Dunia Lama dan negara paling padat dengan wilayah yang terletak seluruhnya di selatan khatulistiwa. Afrika Selatan merupakan titik panas keanekaragaman hayati dengan keanekaragaman bioma dan kehidupan tumbuhan dan hewan yang unik. Dengan jumlah populasi lebih dari 60 juta orang, Afrika Selatan adalah negara terpadat ke-23 di dunia yang mencakup area seluas 1.221.037 km2. Afrika Selatan memiliki tiga ibu kota, dengan cabang pemerintahan eksekutif berada di Pretoria, yudikatif berada di Bloemfontein, dan legislatif berada di Cape Town. Kota terbesarnya adalah Johannesburg.

Republik Afrika Selatan

Inggris:Republic of South Africa
Afrika:Republiek van Suid-Afrika
Zulu:IRiphabliki yase Ningizimu Afrika
Xhosa:iRiphabliki yomZantsi Afrika
Swazi:iRiphabhulikhi yeNingizimu Afrika
Ndebele:iRiphabliki yeSewula Afrika
Sotho:Rephaboliki ya Afrika Borwa
Sotho Utara:Repabliki ya Afrika-Borwa
Tsonga:Riphabliki ra Afrika Dzonga
Tswana:Rephaboliki ya Aforika Borwa
Venda:Riphabuḽiki ya Afurika Tshipembe
Semboyan!ke e: ǀxarra ǁke
(/Xam: "Berbeda-beda namun satu")
South Africa (orthographic projection).svg
Location South Africa AU Africa.svg
Flag-map of South Africa.svg
Lokasi  Afrika Selatan  (hijau tua)

– di Afrika  (biru muda & kelabu tua)
– di Uni Afrika  (biru muda)

Lokasi Afrika Selatan
Ibu kotaCape Town (legislatif)
33°31′S 18°26′E / 33.517°S 18.433°E / -33.517; 18.433
Pretoria (eksekutif)
25°46′S 28°17′E / 25.767°S 28.283°E / -25.767; 28.283
Bloemfontein (yudikatif)
29°7′S 26°13′E / 29.117°S 26.217°E / -29.117; 26.217
Kota terbesarJohannesburg
26°16′S 28°44′E / 26.267°S 28.733°E / -26.267; 28.733
Bahasa resmi
PemerintahanKesatuan semi-presidensial republik konstitusional1
• Presiden
Cyril Ramaphosa
David Mabuza
LegislatifParlemen
Dewan Provinsi Nasional
Majelis Nasional
Kemerdekaan 
• Dominion
31 Mei 1910
• Republik
31 Mei 1961
• Konstitusi saat ini
4 Februari 1997
 - Perairan (%)
0,38
Penduduk
 - Perkiraan 2015
54.956.900[1] (24)
PDB (KKB)2015
 - Total
$725.004 miliar[2] (30)
$13.215[2] (90)
PDB (nominal)2015
 - Total
$323.809 miliar[2] (35)
$5.902[2] (88)
Gini (2009)63,1
sangat tinggi
IPM (2013)Kenaikan 0,658[3]
sedang · 118
Mata uangRand Afrika Selatan (R)
(ZAR)
Zona waktuWaktu Standar Afrika Selatan (SAST)
(UTC+2)
Lajur kemudikiri
Kode telepon+27
Kode ISO 3166ZA
Ranah Internet.za
  1. Gabungan dari konsep sistem presidensial dan sistem parlementer. Presiden dipilih oleh parlemen dan memegang kursi parlemen, seperti halnya perdana menteri, tetapi presiden kebal dari mosi tidak percaya, tidak seperti perdana menteri.

Sekitar 81% dari populasi Afrika Selatan adalah orang Kulit Hitam Afrika Selatan. Sisanya terdiri dari komunitas keturunan Eropa terbesar di Afrika (Kulit Putih Afrika Selatan), keturunan Asia (India-Afrika Selatan dan Tionghoa-Afrika Selatan), dan keturunan multiras (Kulit Berwarna Afrika Selatan). Afrika Selatan adalah masyarakat multietnis yang mencakup beragam budaya, bahasa, dan agama. Komposisi pluralistiknya tercermin dalam pengakuan konstitusi terhadap 11 bahasa resmi, menjadika Afrika Selatan sebagai negara dengan bahasa resmi terbanyak keempat di dunia. Menurut sensus 2011, dua bahasa pertama yang paling banyak digunakan adalah bahasa Zulu (22,7%) dan bahasa Xhosa (16,0%). Dua bahasa berikutnya berasal dari Eropa: Bahasa Afrikaans (13,5%) yang berkembang dari bahasa Belanda dan berfungsi sebagai bahasa ibu sebagian besar orang Kulit Berwarna dan Kulit Putih Afrika Selatan; dan Bahasa Inggris (9,6%) yang mencerminkan warisan kolonialisme Inggris yang umumnya digunakan dalam kehidupan publik dan komersial sebagai basantara.

Afrika Selatan sering dijuluki sebagai "Negeri Pelangi" karena keanekaragaman multikultural negara yang tergambarkan, terutama setelah era apartheid.[6] Negara ini juga terkenal sebagai produsen berlian, emas, dan platinum yang utama di dunia.

SejarahSunting

Afrika Selatan merupakan salah satu negara tertua di benua Afrika. Banyak suku yang telah menghuni wilayahnya, termasuk suku Khoi, San, Xhosa dan Zulu. Penjelajah Belanda yang dikenal sebagai Afrikaner tiba di wilyah ini pada tahun 1652.[7] Pada saat itu, Inggris juga meminati wilayah tersebut, terutama setelah penemuan cadangan berlian yang melimpah. Hal ini menyebabkan Perang Inggris-Belanda dan dua Perang Boer. Pada tahun 1910, empat republik utama digabung di bawah Uni Afrika Selatan. Pada tahun 1931, Afrika Selatan menjadi jajahan Britania Raya sepenuhnya.[8]

Walaupun Afrika Selatan berada di bawah jajahannya, Britania Raya terpaksa berbagi kuasa dengan pihak Afrikaner. Pembagian kuasa ini berlanjut hingga tahun 1940-an, saat partai pro-Afrikaner, yaitu Partai Nasional memperoleh kursi mayoritas di parlemen.

Strategi-strategi partai tersebut menciptakan dasar apartheid (yang disahkan pada tahun 1948), suatu cara untuk mengawal sistem ekonomi dan sosial negara dengan dominasi kulit putih dan diskriminasi ras. Namun, pemerintahan Britania Raya kerap kali menggagalkan usaha apartheid yang menyeluruh di Afrika Selatan.

Pada tahun 1961, setelah pemilu khusus kaum kulit putih, Afrika Selatan dideklarasikan sebagai sebuah republik. 'Grand Apartheid' (apartheid besar) mulai dilaksanakan pada tahun1960-an. Politik ini menekankan pengasingan wilayah dan kezaliman pihak polisi.

Penindasan kaum kulit hitam terus berlanjut hingga akhir abad ke-20. Pada Februari 1990, akibat dorongan dari bangsa lain dan tentangan hebat dari berbagai gerakan anti-apartheid khususnya Kongres Nasional Afrika, pemerintahan Partai Nasional di bawah pimpinan Presiden F. W. de Klerk menarik balik larangan terhadap Kongres Nasional Afrika dan partai-partai politik berhaluan kiri yang lain dan membebaskan Nelson Mandela dari penjara.

Undang-undang apartheid mulai dihapus secara perlahan-lahan dan pemilu tanpa diskriminasi yang pertama diadakan pada tahun 1994. Kemenangan yang besar diraih oleh Partai Kongres Nasional Afrika dan Nelson Mandela dilantik sebagai Presiden kulit hitam pertama di Afrika Selatan. Walaupun kekuasaan sudah berada di tangan kaum kulit hitam, berjuta-juta penduduknya masih hidup dalam kemiskinan.

Sewaktu Nelson Mandela menjadi presiden selama 5 tahun, pemerintahannya berjanji untuk melaksanakan perubahan terutama dalam isu-isu yang telah diabaikan semasa era apartheid. Beberapa isu-isu yang ditangani oleh pemerintahan pimpinan KNA adalah seperti pengangguran, wabah AIDS, dan kekurangan perumahan dan pangan.

Pemerintahan Mandela juga mula memperkenalkan kembali Afrika Selatan kepada ekonomi global setelah beberapa tahun diasingkan karena politik apartheid. Di samping itu, dalam usahanya untuk menyatukan rakyat, pemerintah juga membuat sebuah komite yang dikenal dengan Truth and Reconciliation Committee (TRC) di bawah pimpinan Uskup Desmond Tutu. Komite ini berperan untuk memantau badan-badan pemerintah seperti badan polisi agar masyarakat Afrika Selatan dapat hidup dalam aman dan harmonis.

Presiden Mandela menumpukan seluruh perhatiannya terhadap perdamaian di tahap nasional dan mencoba untuk membina satu jati diri untuk Afrika Selatan dalam masyarakat majemuk yang terpisah oleh konflik berlarut-larut selama beberapa dasawarsa. Kemampuan Mandela dalam mencapai objektifnya jelas terbukti karena setelah tahun 1994 negara ini telah bebas dari konflik politik.

Nelson Mandela melepas jabatannya sebagai presiden partai KNA pada Desember 1997 untuk memberi kesempatan kepada presiden yang baru, Thabo Mbeki. Mbeki dipilih sebagai presiden Afrika Selatan setelah memenangkan pemilu nasional pada tahun 1999. Partainya menang tipis dua pertiga mayoritas di parlemen. Presiden Mbeki mengalihkan fokus pemerintahan dari pendamaian ke perubahan, terutama dari segi ekonomi negara.

KemerdekaanSunting

Empat tahun setelah negosiasi, Uni Afrika Selatan dibentuk berdasarkan sebuah undang-undang Parlemen Inggris dari cakupan bekas wilayah Koloni Tanjung, Transvaal, dan Natal, serta Negara Bebas Oranye pada tanggal 31 Mei 1910, persis delapan tahun setelah akhir Perang Boer Kedua. Uni Afrika Selatan yang baru didirikan tersebut merupakan salah satu dominion Britania Raya.[9]

Natives Land Act tahun 1913 sangat membatasi kepemilikan tanah oleh orang kulit hitam; pada jenjang itu, mereka hanya menguasai tujuh persen wilayah negara. Jumlah tanah yang dicadangkan untuk penduduk asli kemudian sedikit meningkat.[10]

Pada tahun 1931, Uni Afrika Selatan meraih kemerdekaan sepenuhnya dari Britania Raya dengan disahkannya UU Westminster, yang menghapus kekuasan Britania Raya untuk membuat dan mengatur undang-undang di Uni Afrika Selatan. Hanya tiga negara Afrika lainnya—Liberia, Etiopia, dan Mesir yang telah merdeka sebelumnya. Pada tahun 1934, Partai Afrika Selatan dan Partai Nasional bergabung untuk membentuk Partai Persatuan, mencoba rekonsiliasi antara etnis Afrikaner dan etnis kulit putih berbahasa Inggris.

ApartheidSunting

Pada tahun 1948, Partai Nasional terpilih untuk menguasai Afrika Selatan. Hal ini memperkuat implementasi pemisahan rasial di bawah kekuasaan kolonial Inggris dan Belanda, dan pemerintahan Afrika Selatan selanjutnya sejak terbentuknya perserikatan (union). Pemerintahan Nasionalis mengatur jalannya undang-undang pemisahan, menggolongkan orang-orang ke dalam tiga ras, mengembangkan hak-hak dan batasan-batasan untuk masing-masing golongan, seperti hukum pass dan batasan permukiman. Minoritas kulit putih menguasai mayoritas kulit hitam yang jauh lebih besar. Sistem pemisahan ini kemudian dikenal secara kolektif sebagai apartheid.

[11] Perbedaan ini dimaksudkan orang kulit putih untuk mengontrol kekayaan yang mempercepat industrialisasi dari tahun 1950-an, '60-an, dan ' 70-an. Sementara orang kulit putih menikmati standar hidup tertinggi di Afrika, sebanding dengan negara-negara barat dunia pertama, mayoritas kulit hitam tetap dirugikan oleh hampir semua standar, termasuk pendapatan, pendidikan, perumahan, dan harapan hidup. Piagam Kebebasan yang diadopsi pada tahun 1955 oleh Aliansi Kongres menuntut dibentuknya lembaga masyarakat yang non-rasial dan diakhirinya diskriminasi. Pada tanggal 31 Mei 1961, mengikuti referendum orang-orang kulit putih, negara ini menjadi sebuah republik dan meninggalkan Persemakmuran. Ratu Elizabeth II tidak lagi menjadi kepala negara Gubernur Jenderal terakhir, C. R. Swart, diangkat menjadi presiden.

Apartheid menjadi semakin kontroversial, mendorong ke arah meluasnya sanksi internasional, divestasi dan kerusuhan serta penindasan dalam Afrika Selatan. Suatu periode panjang penindasan oleh pemerintah, dan kadang-kadang dengan kekerasan, pemogokan, demonstrasi, protes, dan sabotase dengan menggunakan bom atau cara lain, oleh berbagai gerakan anti-apartheid yang diikuti terutama oleh Kongres Nasional Afrika (ANC).[12]

DemokrasiSunting

Pada tahun 1990, pemerintah Partai Nasional mengambil langkah pertama untuk menghapus diskriminasi dengan mencabut larangan terhadap ANC dan organisasi politik lainnya. Pemerintah membebaskan Nelson Mandela dari penjara setelah 27 tahun menjalani hukuman karena sabotase. Hal ini diikuti dengan sebuah proses negosiasi untuk mengakhiri apartheid di Afrika Selatan. Dengan persetujuan dari pemilih kulit putih dalam referendum 1992, pemerintah melanjutkan negosiasi. Afrika Selatan juga menghancurkan persenjataan nuklirnya dan menyetujui Perjanjian Nonproliferasi Senjata Nuklir. Afrika Selatan mengadakan pemilihan umum pertama pada tahun 1994, yang dimenangkan oleh ANC dengan suara mayoritas. ANC terus menguasai Afrika Selatan sejak saat itu. Negara tersebut bergabung kembali dengan Persemakmuran dan menjadi anggota Komunitas Pembangunan Afrika Selatan (SADC).[13]

Angka pengangguran tetap tinggi pasca era apartheid. Walaupun banyak orang kulit hitam sudah naik ke kelas menengah atau atas, tingkat pengangguran keseluruhan orang kulit hitam memburuk antara tahun 1994 dan 2003 dalam pengukuran resmi, tetapi menurun secara signifikan jika menggunakan definisi yang diperluas. Kemiskinan di kalangan kulit putih yang sebelumnya jarang terjadi meningkat.[14] Selain itu, pemerintah telah berjuang untuk mencapai disiplin moneter dan fiskal untuk memastikan redistribusi kekayaan dan pertumbuhan ekonomi. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Afrika Selatan terus meningkat hingga pertengahan 1990-an,[15] kemudian turun dari tahun 1995 hingga 2005, sebelum mencapai puncak 1995-nya pada tahun 2013. Penurunan tersebut sebagian besar disebabkan oleh pandemi HIV/AIDS Afrika Selatan yang membuat harapan hidup Afrika Selatan turun dari titik tertinggi 62,25 tahun pada tahun 1992 ke titik terendah 52,57 tahun pada tahun 2005, serta kegagalan pemerintah untuk mengambil langkah-langkah untuk mengatasi masalah pandemi tersebut di tahun-tahun awalnya.

GeografiSunting

Afrika Selatan terletak di 29° 00' S, 24° 00' T. Luas kawasannya adalah 1.219.912 km² termasuk Pulau Robben dan Kepulauan Pangeran Edward (Pulau Marion dan Pulau Prince Edward). Afrika Selatan bersebelahan dengan Samudra Atlantik di pantai barat dan Samudra Selatan dan Samudra Hindia di pantai timur. Arus utama di samudra-samudra tersebut adalah arus sejuk Benguela dan arus hangat Agulhas. Titik paling rendah adalah Samudra Atlantik pada 0 m dan paling tinggi ialah Njesuthi pada ketinggian 3.408 m.

Afrika Selatan mempunyai iklim yang berbeda-beda. Di barat daya negara ini, iklimnya adalah Mediterania, di kawasan pendalaman ia beriklim sederhana, dan di timur laut iklimnya adalah subtropis.

Afrika Selatan merupakan sebuah negara yang kaya dengan bahan tambang bernilai seperti emas, platinum dan berlian. Bahan tambang semula jadinya termasuk emas, kromium, antimoni, arang, biji besi, manganese, nikel, fosfat, biji timah, uranium, berlian, platinum, kuprum, vanadium, garam, gas asli.

PolitikSunting

 
Bangunan National Assembly di Kaapstad

Afrika Selatan merupakan negara demokrasi konstitusional dengan sistem tiga tingkat dan institusi kehakiman yang bebas. Terdapat tiga peringkat yaitu nasional, wilayah dan pemerintahan lokal yang mempunyai badan legislatif serta eksekutif dengan daerah kekuasaan masing-masing.

Presiden Afrika Selatan memegang dua jabatan yaitu sebagai Kepala Negara dan juga Kepala Pemerintahan. Ia dipilih sewaktu Majelis Nasional (National Assembly) dan Majelis Provinsi-provinsi Nasional (National Council of Provinces) bergabung. Lazimnya, Presiden adalah pemimpin partai mayoritas di Parlemen.

National Assembly mempunyai 400 anggota yang dipilih melalui pemilu secara perwakilan proporsional. National Council of Provinces, yang telah menggantikan Senat pada 1997, terdiri dari 90 anggota yang mewakili setiap 9 provinsi termasuk kota-kota besar di Afrika Selatan.

Di Afrika Selatan, pemilu diadakan setiap 5 tahun dan setiap rakyat berusia 18 tahun ke atas diwajibkan untuk ikut. Pemilu terakhir ialah pada April 2004, di mana partai ANC berhasil memenangkan 69,68% kursi di parlemen. Partai ini bersama Partai Kebebasan Inkatha (6,97%) telah membentuk aliansi pemerintahan. Partai-partai oposisi utama termasuk Aliasi Demokrat (12,37%), Gerakan Demokratik Bersatu atau UDM (2,28%), Demokrat Bebas atau ID (1,73%), Partai Nasional Baru atau NNP (1,65%) dan Partai Demokratik Kristen Afrika atau ACDP (1,6%).

Di samping itu, setiap provinsi di Afrika Selatan mempunyai satu penggubah undang-undang negeri dan Majelis Eksekutif yang diketuai oleh seorang Perdana Menteri atau "Premier".

Identitas nasionalSunting

Lambang negaraSunting

Lambang negara Afrika Selatan diperkenalkan pertama kali pada hari kemerdekaan Afrika Selatan 27 April 2000. Lambang ini menggantikan lambang lama yang digunakan sejak tahun 1910.

Bendera nasionalSunting

Bendera Afrika Selatan ini dipakai oleh pemerintahan sejak tanggal 27 April 1994, pada pemilihan umum pertama sejak berakhirnya apartheid. Bendera ini digunakan untuk melambangkan demokrasi Afrika Selatan. Bendera yang sediakalanya hanya untuk sementara ini, dan didesain oleh Frederick G. Brownell, diterima dengan baik oleh masyarakat sehingga akhirnya dijadikan bendera nasional.

Pembagian administratifSunting

 
Peta Afrika Selatan

ProvinsiSunting

Afrika Selatan terdiri dari sembilan provinsi yaitu:

  1. Eastern Cape
  2. Free State
  3. Gauteng
  4. KwaZulu-Natal
  5. Limpopo
  6. Mpumalanga
  7. North West
  8. Northern Cape
  9. Western Cape

Kota-kota utamaSunting

Kota-kota utama di Afrika Selatan termasuk Johannesburg, Durban, Cape Town, Pretoria, Kimberley, Port Elizabeth dan Bloemfontein.

Organisasi internasionalSunting

Afrika Selatan adalah anggota beberapa organisasi internasional, di antaranya:

Hubungan RI-Afrika SelatanSunting

Hubungan Indonesia-Afrika Selatan sudah terjalin baik sejak tahun 1994 ketika kedua negara menandatangani komunike bersama pembukaan hubungan diplomatik. Secara politis, Indonesia ikut mendukung perjuangan Kongres Nasional Afrika (ANC), partai yang dulu dipimpin Nelson Mandela, untuk menentang apartheid.

Sejak zaman Presiden Soeharto sampai Megawati Soekarnoputri, kunjungan ke Afrika Selatan sudah pernah dilakukan. Begitu sebaliknya, Mandela setidaknya dua kali ke Indonesia, yakni ketika masih menjadi presiden (1997) dan setelah tak menjadi presiden (2002).

Belakangan ini secara bergantian sejumlah pejabat kedua negara juga saling berkunjung. Yang terakhir, Presiden Afrika Selatan mengunjungi RI pada April 2005, dan kunjungan mantan presiden Indonesia Megawati Soekarnoputri pada waktu yang hampir bersamaan untuk menerima sebuah penghargaan pejuang kemerdekaan. Ia mewakili almarhum ayahnya, Ir. Soekarno. Sementara itu sejumlah pejuang kemerdekaan dari berbagai belahan dunia (diwakili oleh anak/keluarga terdekat) juga diundang di acara penghargaan ini, seperti Indira Gandhi, dan anak perempuan dari Jawarharlal Nehru dari India.

EkonomiSunting

 
Kawasan Sandton di Johannesburg yang telah menjadi lokasi perusahaan-perusahaan besar penggerak ekonomi Afrika Selatan.

Afrika Selatan adalah sebuah negara maju dengan penduduk yang berpendapatan sederhana. Negara ini kaya dengan bahan tambang terutamanya bahan tambang bernilai tinggi seperti emas, platinum dan berlian. Ia juga mempunyai sistem keuangan, perundangan, telekomunikasi, energi, infrastruktur yang maju dan modern. Bursa sahamnya di Johannesburg begitu aktif hingga pernah berada di urutan ke-10 terbesar di dunia.

Sejak kedatangan Inggris di sana, ekonomi negara bergantung kepada sektor pertambangan. Tetapi beberapa dasawarsa yang lalu, kegiatan tersebut telah digantikan oleh sektor produksi. Sektor industri Afrika Selatan yang sangat maju, dan merupakan ekonomi ke-25 terbesar di dunia. Dengan hanya 7% penduduk dan 4% jumlah kawasan keseluruhan Afrika, Afrika Selatan mengeluarkan lebih sepertiga produk dan jasa di Afrika, dan hampir 40 % pengeluaran industri di Afrika. Bahan komoditas yang diekspor: alat-alat mesin, makanan dan peralatan, bahan kimia, produk petroliam dan peralatan ilmiah.

Namun demikan, wabah HIV merupakan masalah yang kritikal di negara ini. Diperkirakan 4,79 juta penduduknya dijangkiti AIDS dan pemerintahan Afrika yang baru terpaksa mengeluarkan berjuta-juta Rand untuk menangani masalah ini. Sejak Afrika Selatan membuka perbatasannya selepas berakhirnya Apartheid, sindikat NAPZA internasional telah memasuki negara ini. Kini Afrika Selatan adalah produsen mariyuana terbesar di dunia. Pergolakan politik di Zimbabwe juga memberi dampak yang buruk kepada ekonomi negara ini. Banyak investor asing khawatir masalah ini akan berpengaruh kepada Afrika Selatan. Pada tahun 2002, masalah-masalah ini telah menjadi faktor utama penurunan nilai Rand sebanyak 30 persen tetapi pada tahun 2004 mata uang Rand telah kembali kukuh.

Akibat dasar apartheid yang dilaksanakan selama lebih dari empat dasawarsa, kemiskinan di kalangan penduduk kulit hitam merupakan masalah paling utama pemerintahan baru Afrika Selatan. Pada akhir 1980-an dianggarkan 16 juta penduduknya hidup di bawah paras kemiskinan dan 2,3 juta orang berisiko kekurangan gizi dan kekurangan pangan. Walaupun begitu, pemerintahan kulit hitam Afrika Selatan telah berhasil mengurangkan kemiskinan dari 42% pada 1994 ke 24% pada tahun 2003.

DemografiSunting

Demografi di Afrika Selatan dibagi menjadi empat kumpulan utama yaitu: orang kulit hitam, orang kulit putih, orang berwarna (orang dari Asia atau berdarah campuran) dan orang berbangsa India.

Kaum yang terbesar di Afrika Selatan adalah kaum pribumi berkulit hitam yaitu 77% jumlah penduduk di sini. Penduduk kulit hitam terdiri dari masyarakat majemuk yang dapat diklasifikasikan kepada empat kelompok etnis berdasarkan kepada bahasa masing-masing. Kelompok yang terbesar yaitu 50% penduduk Afrika di sini adalah yang berbahasa Nguni termasuk bangsa Ndebele, Swazi, Xhosa dan Zulu. Kelompok yang kedua terbesar adalah yang berbahasa Sotho-Tswana, termasuk beberapa bangsa Sotho, Pedi, dan Tswana dan merupakan mayoritas di kebanyakan kawasan Highveld. Dua kelompok yang terakhir adalah Tsonga, atau Shangaan, yang tertumpu di Utara dan wilayah Mpumalanga, dan Venda, yang juga tertumpu di wilayah utara Afrika Selatan.

Kaum kulit putih terdiri dari 11% penduduk di sini, yang berbangsa Belanda, Prancis, Inggris dan Jerman. Kebanyakan orang Eropa di negara ini adalah keturunan penjelajah-penjelajah awal di koloni Cape. Terdapat juga kelompok minoritas Portugis — kelompok pertama dari keturunan penjelajah Eropa yang awal, manakala kelompok kedua keturunan budak Belanda yang datang dari Indonesia.

9% dari penduduk Afrika Selatan terdiri dari bangsa berwarna atau coloured. Bangsa ini termasuk kelompok yang kawin campur dan juga pendatang Asia, yang dibawa masuk untuk bekerja sebagai kuli di Natal. Manakala, 3% lagi terdiri dari bangsa India yang berasal dari pedagang-pedagang India.

PendidikanSunting

Di Afrika Selatan, masa persekolahan adalah selama 13 tahun - atau tingkat. Namun, tahun pertama pendidikan atau tingkat 0 dan tiga tahun terakhir yaitu dari tingkat 10 hingga tingkat 12 (juga dipanggil "matric") tidak diwajibkan. Kebanyakan sekolah dasar menawarkan tingkat 0. Tetapi tingkat ini dapat juga dibuat di TK. Lazimnya untuk memasuki universitas, seseorang wajib lulus "matric" dengan minimum tiga mata pelajaran tingkat tinggi dan bukan sekadar lulus (standar). Malah beberapa universitas prestisius akan mengenakan syarat akademik yang lebih tinggi. Walaupun begitu, mereka yang lulus "National Senior Certificate" layak untuk belajar di "technikon" atau kampus teknikal.

Di bawah sistem apartheid, sistem pendidikannya dirangka berdasarkan warna kulit yaitu kementerian yang berbeda untuk pelajar kulit putih, berwarna, Asia, dan kaum kulit hitam di luar Bantustan. Pengasingan ini telah menghasilkan 14 kementerian pendidikan yang berbeda di negara ini.

Penstrukturan sistem pendidikan selepas era-apartheid merupakan tantangan yang besar bagi pemerintahan negara ini. Pemerintahan baru telah membentuk suatu sistem pendidikan nasional tanpa diskriminasi kaum tetapi menggabungkan 14 kementerian pendidikan merupakan tugas yang sukar. Oleh karena itu pada Februari 1996, Kementerian Pendidikan telah meluncurkan suatu kurikulum baru yang dinamakan "Curriculum 2005". Kurikulum ini yang akan menggantikan dasar pendidikan berdasarkan apartheid, akan memberi tumpuan kepada hasilnya yaitu pelajar akan menjadi lebih proaktif dalam lingkungan di sekitarnya dan juga di dalam masyarakat. Untuk mencapai objektif ini, pada 1999 pemerintahan telah menyediakan 5,7 persen anggaran belanja untuk sektor pendidikan termasuk membangun 2.000 sekolah-sekolah baru, 65.000 ruang kelas yang baru dan beralatan lengkap, 60.000 guru-guru yang terlatih dan 50 juta buku teks yang dicetak.

Pada 2004, Afrika Selatan mempunyai 366.000 guru dan hampir 28.000 sekolah-sekolah -termasuk 390 sekolah khusus dan 1.000 sekolah swasta. Dari jumlah ini, 6.000 adalah sekolah tinggi (tingkat 7 hingga tingkat 12) dan selebihnya adalah sekolah dasar (tingkat 1 hingga tingkat 6).

Afrika Selatan juga mempunyai suatu sistem pendidikan tinggi yang maju, yang juga dipisahkan mengikut ras sewaktu era apartheid. Pada 1995 terdapat 385.000 pelajar yang belajar di 21 universitas dan 190.000 pelajar di "technikon" (institut teknikal atau vokasional). Hampir 37 persen adalah dari golongan kulit putih. Tetapi sejak 1994, penyertaan pelajar kulit hitam di universitas-universitas yang dikhususkan untuk pelajar kulit putih telah bertambah secara mendadak. [1] Diarsipkan 2005-06-05 di Wayback Machine.

AgamaSunting

 
Groote Kerk di Cape Town adalah bangunan gereja tertua yang masih berdiri di Afrika bagian selatan.


Menurut sensus tahun 2001, umat Kristen terdiri dari 79,8% total populasi, dengan mayoritasnya adalah anggota dari berbagai denominasi Protestan dan minoritas Katolik Roma dan Kristen lainnya. Dalam kategori Kristen termasuk Kristen Sion (11,1%), Pentakosta (Karismatik) (8,2%), Katolik Roma (7,1%), Metodis (6,8%), Reformasi Belanda (bahasa Afrikaans: Nederduits Gereformeerde Kerk; 6,7%), dan Anglikan (3,8% ). Anggota gereja-gereja Kristen sisanya terdiri atas 36% dari total populasi. Muslim terdiri dari 1,5% populasi, Hindu 1,2%, agama tradisional Afrika 0,3%, dan Yudaisme 0,2%. Sisa penduduk lainnya: 15,1% tidak memiliki afiliasi agama, 0,6% memilih kategori lainnya, dan 1,4% tidak spesifik.

Selama abad ke-20, mayoritas orang keturunan Eropa adalah umat Kristen Protestan.

Islam diperkenalkan oleh budak Melayu Cape dari yang dibawa oleh pemukim Belanda, Hindu diperkenalkan oleh pekerja kontrak yang diimpor dari anak benua India, dan Buddhisme diperkenalkan oleh imigran India dan Tiongkok. Pemukim Yahudi baru mulai berdatangan dalam jumlah besar pada tahun 1820-an.

BudayaSunting

 
Penjara Pulau Robben yang menampung para tahanan politik era apartheid, termasuk Nelson Mandela, kini merupakan salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.

Pergaulan bebas di kalangan masyarakat Afrika Selatan di kawasan-kawasan perkotaan dan penindasan budaya kaum kulit hitam sewaktu era apartheid telah mengakibatkan hilangnya cara hidup lama di kota-kota di sini. Namun, budaya kulit hitam masih ada di kawasan pedesaan. Beberapa perbedaan budaya tetap ada di antara etnis-etnis di sana, seperti adat perkawinan dan hukum adat mereka. Tetapi pada umumnya, tradisi masyarakat kulit hitam adalah berlandaskan kepercayaan kepada dewa-dewa yang perkasa serta maskulin, semangat nenek-moyang dan kuasa-kuasa gaib. Poligami juga dibenarkan dan "lobolo" (maskawin) biasanya akan dibayar. Kerbau memainkan peranan penting dalam kebanyakan budaya, sebagai simbol kekayaan dan hewan korban.

Kesenian Afrika Selatan dapat dilihat dari berbagai lukisan gua dan batu oleh suku San, beberapa di antaranya dilukis sejak 26.000 tahun yang lalu. Manik-manik yang direka secara teliti oleh suku Zulu juga merupakan kerajinan tangan yang populer di negara ini. Sayangnya, budaya kaum kulit hitam telah dihapus sewaktu era-apartheid. Tradisi sehari-hari yang berkaitan erat dengan tradisi dan budaya kaum kulit hitam telah diabaikan dan juga dihapuskan. Contoh yang paling ketara adalah pemusnahan "District Six", suatu kawasan multibudaya di Cape Town dan Sophiatown di Johannesburg, di mana banyak pemusik-pemusik terkenal internasional berkumpul dan mengasah kemahiran mereka. Antara kelompok musik terkenal termasuk Ladysmith Black Mambazo yang berhasil membawa musik Afrika Selatan ke dunia Barat, sebelum dan juga selepas apartheid.

Dari segi makanan, bistik atau sosis boerewors, sayur rebus dan chips (kentang goreng) adalah makanan utama, dan makanan yang lebih menantang biasanya agak menakutkan. Makanan di sini mengarah lebih kepada daging. Makanan kaum Afrika jarang dijual di restoran-restoran disini, walaupun orang-orang dapat mendapatkan nasi yang murah serta "stew" dari gerai-gerai di perkotaan. Bir dan brandy merupakan minuman paling popular di kalangan masyarakatnya, dan anggur semakin popular di sini.

ReferensiSunting

  1. ^ "Mid-year population estimates 2015" (PDF). Statistics South Africa. Diakses tanggal 11 Agustus 2015. 
  2. ^ a b c d "South Africa". International Monetary Fund. Diakses tanggal 2015-04-26. 
  3. ^ "2014 Human Development Report Summary" (PDF). United Nations Development Programme. 2014. hlm. 21–25. Diakses tanggal 27 Juli 2014. 
  4. ^ "Coastline - The World Factbook". www.cia.gov. Diakses tanggal 25 Juni 2022. 
  5. ^ "Lesotho | Culture, History, & People | Britannica". www.britannica.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-06-25. 
  6. ^ "Rainbow nation - dream or reality?" (dalam bahasa Inggris). 18 Juli 2008. Diakses tanggal 25 Juni 2022. 
  7. ^ "African History Timeline". West Chester University of Pennsylvania. Diarsipkan dari versi asli tanggal 7 Januari 2009. Diakses tanggal 25 Oktober 2012. 
  8. ^ "Native Land Act". South African Institute of Race Relations. 19 Juni 1913. 
  9. ^ "South Africa". 1911 Encyclopædia Britannica. Volume 25. 
  10. ^ "The Native Land Act is passed | South African History Online". www.sahistory.org.za. Diakses tanggal 25 Juni 2022. 
  11. ^ (Inggris) "Liberation Struggle in South Africa" (HTML). Diakses tanggal 2012-07-06. 
  12. ^ (Indonesia) [http://m.mediaindonesia.com/index.php/ read/2012/01/09/290057/39/6/Kongres_ Nasional_Afrika_Rayakan_Ulang_Tahun_Ke-100 "Kongres Nasional Afrika Rayakan Ulang Tahun Ke-100"] Periksa nilai |url= (bantuan) (php). Diakses tanggal 2012-07-19.  line feed character di |url= pada posisi 39 (bantuan)
  13. ^ (Inggris) "Nuclear Weapons Program-South Africa" (HTML). Diakses tanggal 2012-07-19. 
  14. ^ "Zuma surprised at level of white poverty". The Mail & Guardian (dalam bahasa Inggris). 2008-04-18. Diakses tanggal 2022-06-25. 
  15. ^ "Human Development Report 2007/2008 - Country Fact Sheets - South Africa". web.archive.org. 10 Desember 2008. Archived from the original on 2008-12-10. Diakses tanggal 25 Juni 2022. 

Bacaan lebih lanjutSunting

  • Negara dan Bangsa Jilid 2: Afrika, Asia. Jakarta: Widyadara. 1988. ISBN 979-8087-01-1.  (Indonesia)

Lihat pulaSunting

Pranala luarSunting