Nelson Mandela

Politisi Afrika Selatan | Aktivis dan pejuang HAM asal Afrika Selatan | Revolusioner anti-apartheid

Nelson Rolihlahla Mandela (pengucapan Xhosa[xoˈliːɬaɬa manˈdeːla]; lahir di Mvezo, Afrika Selatan, 18 Juli 1918 – meninggal di Johannesburg, Afrika Selatan, 5 Desember 2013 pada umur 95 tahun) adalah seorang revolusioner antiapartheid dan politisi Afrika Selatan yang menjabat sebagai Presiden Afrika Selatan sejak 1994 sampai 1999. Ia adalah orang Afrika Selatan berkulit hitam pertama yang memegang jabatan tersebut dan presiden pertama yang terpilih melalui keterwakilan penuh, dalam sebuah pemilu multiras. Pemerintahannya berfokus pada penghapusan pengaruh apartheid dengan memberantas rasisme, kemiskinan dan kesenjangan, dan mendorong rekonsiliasi rasial. Selaku nasionalis Afrika dan sosialis demokratik, ia menjabat sebagai Presiden Kongres Nasional Afrika (ANC) pada 1991 sampai 1997. Selain itu, Mandela pernah menjadi Sekretaris Jenderal Gerakan Non-Blok pada 1998 sampai 1999.

His Excellency
Nelson Mandela
OM AC CC OJ OSJ QC GCH BR RSO NPK
Nelson Mandela saat berulang tahun ke-90 di Johannesburg, Afrika Selatan, Mei 2008
Mandela tahun 2008
Presiden Afrika Selatan
Masa jabatan
10 Mei 1994 – 14 Juni 1999
WakilThabo Mbeki
F. W. de Klerk
PendahuluF. W. de Klerk
PenggantiThabo Mbeki
Informasi pribadi
LahirRolihlahla Mandela
(1918-07-18)18 Juli 1918
Mvezo, Afrika Selatan
Meninggal dunia5 Desember 2013(2013-12-05) (umur 95)
Johannesburg, Afrika Selatan
KebangsaanAfrika Selatan
Partai politikKongres Nasional Afrika
PasanganEvelyn Ntoko Mase (1944–1957)
Winnie Madikizela (1958–1996)
Graça Machel (1998–2013; hingga kematiannya)
AnakMadiba Thembekile
Makgatho Lewanika
Makaziwe
Maki
Zenani
Zindziswa
Tempat tinggalHoughton Estate, Johannesburg, Gauteng, Afrika Selatan
Alma materUniversity of Fort Hare
University of London External System
University of South Africa
University of the Witwatersrand
Tanda tanganTanda tangan Nelson Mandela
Situs webwww.nelsonmandela.org

Terlahir dari keluarga kerajaan Thembu dan bersuku Xhosa, Mandela belajar hukum di Fort Hare University dan University of Witwatersrand. Ketika menetap di Johannesburg, ia terlibat dalam politik antikolonial, bergabung dengan ANC, dan menjadi anggota pendiri Liga Pemuda ANC. Setelah kaum nasionalis Afrikaner dari Partai Nasional berkuasa tahun 1948 dan menerapkan kebijakan apartheid, popularitas Mandela melejit di Defiance Campaign ANC tahun 1952, terpilih menjadi Presiden ANC Transvaal, dan menghadiri Congress of the People tahun 1955. Sebagai pengacara, ia berulang kali ditahan karena melakukan aktivitas menghasut dan, sebagai ketua ANC, diadili di Pengadilan Pengkhianatan pada 1956 sampai 1961, namun akhirnya divonis tidak bersalah. Meski awalnya berunjuk rasa tanpa kekerasan, ia dan Partai Komunis Afrika Selatan mendirikan militan Umkhonto we Sizwe (MK) tahun 1961 dan memimpin kampanye pengeboman terhadap target-target pemerintahan. Pada 1962, ia ditahan dan dituduh melakukan sabotase dan bersekongkol menggulingkan pemerintahan, dan dihukum penjara seumur hidup di Pengadilan Rivonia.

Mandela menjalani masa kurungan 27 tahun, pertama di Pulau Robben, kemudian di Penjara Pollsmoor dan Penjara Victor Verster. Kampanye internasional yang menuntut pembebasannya membuat Mandela dibebaskan tahun 1990. Setelah menjadi Presiden ANC, Mandela menerbitkan otobiografi dan bernegosiasi dengan Presiden F.W. de Klerk untuk menghapuskan apartheid dan melaksanakan pemilu multiras tahun 1994 yang kelak dimenangkan ANC. Ia terpilih sebagai Presiden dan membentuk Pemerintahan Persatuan Nasional. Selaku Presiden, ia menyusun konstitusi baru dan membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi untuk menyelidiki pelanggaran-pelanggaran HAM sebelumnya. Ia juga memperkenalkan kebijakan reformasi lahan, pemberantasan kemiskinan, dan perluasan cakupan layanan kesehatan. Di luar negeri, ia bertindak sebagai mediator antara Libya dan Britania Raya dalam pengadilan pengeboman Pan Am Penerbangan 103 dan mengawasi intervensi militer di Lesotho. Ia menolak mencalonkan diri untuk kedua kalinya dan digantikan oleh wakilnya, Thabo Mbeki. Ia kemudian menjadi negarawan ulung yang berfokus pada aktivitas amal demi memberantas kemiskinan dan HIV/AIDS melalui Nelson Mandela Foundation.

Kontroversial nyaris sepanjang hayatnya, para kritikus sayap kanan menyebut Mandela teroris dan simpatisan komunis. Meski begitu, ia memperoleh pengakuan internasional atas sikap antikolonial dan antiapartheidnya, menerima lebih dari 250 penghargaan, termasuk Hadiah Perdamaian Nobel 1993, Medali Kebebasan Presiden Amerika Serikat, dan Order of Lenin dari Uni Soviet. Ia sangat dihormati di Afrika Selatan dan lebih dikenal dengan nama klan Xhosa-nya, Madiba atau tata. Nelson Mandela sering dijuluki "bapak bangsa".

Kehidupan awalSunting

Masa kecil: 1918–1936Sunting

Mandela lahir tanggal 18 Juli 1918 di desa Mvezo di Umtatu, waktu itu terletak di Provinsi Cape, Afrika Selatan.[1] Dengan nama depan Rolihlahla, istilah Xhosa yang berarti "pembuat masalah",[1] ia nantinya justru lebih dikenal dengan nama klannya, Madiba.[2] Kakek buyut dari ayahnya, Ngubengcuka, adalah penguasa suku Thembu di Teritori Transkei yang saat ini menjadi provinsi Eastern Cape di Afrika Selatan.[3] Salah satu putranya, Mandela, menjadi kakek Nelson dan sumber nama belakangnya.[4] Karena Mandela adalah satu-satunya putra raja yang ibunya berasal dari klan Ixhiba, "Dinasti Tangan Kiri", keturunan cabang kadet keluarga kerajaannya bersifat morganatik, artinya tidak berhak mewarisi takhta tetapi diakui sebagai anggota dewan kerajaan yang jabatannya turun temurun.[4] Karena itu, ayahnya, Gadla Henry Mphakanyiswa, merupakan kepala suku setempat dan anggota dewan kerajaan; ia dilantik tahun 1915 setelah pendahulunya dituduh korupsi oleh hakim kulit putih yang berkuasa waktu itu.[5] Pada tahun 1926, Gadla juga dituduh melakukan korupsi dan Nelson kelak diberitahu bahwa ayahnya dipecat karena bersikukuh menolak permintaan hakim yang tidak masuk akal.[6] Sebagai penyembah dewa Qamata,[7] Gadla adalah seorang poligamis yang memiliki empat istri, empat putra, dan sembilan putri, yang tinggal di beberapa desa. Ibu Nelson, Nosekeni Fanny, adalah istri ketiga Gadla yang merupakan putri Nkedama dari Dinasti Tangan Kanan dan anggota klan amaMpemvu.[8]

"Tak satupun di keluargaku yang pernah bersekolah [...] Pada hari pertama sekolah, guruku, Miss Mdingane, memberikan nama Inggris kepada setiap murid. Ini adalah kebiasaan orang Afrika waktu itu dan tentunya dikarenakan pengaruh Britania pada pendidikan kami. Hari itu, Miss Mdingane memberitahuku bahwa nama baruku adalah Nelson. Aku tidak tahu mengapa ia memilih nama itu."

— Mandela, 1994.[9]

Sempat menyebut kehidupan awalnya didominasi "adat, ritual, dan tabu",[10] Mandela tumbuh bersama dua saudarinya di kraal ibunya di desa Qunu, tempat Mandela bekerja sebagai gembala sapi dan menghabiskan waktunya bersama anak-anak lain.[11] Kedua orang tuanya buta huruf, namun merupakan penganut Kristen yang taat. Ibunya mengirimkan Mandela ke sekolah Methodis setempat ketika menginjak usia 7 tahun. Dibaptis sebagai Methodis, Mandela diberi nama depan Inggris "Nelson" oleh gurunya.[12] Saat Mandela kira-kira berusia 9 tahun, ayahnya menetap di Qunu dan meninggal akibat penyakit yang tidak diketahui yang diyakini Mandela sebagai penyakit paru-paru.[13] Merasa "terabaikan", ia kelak mengaku mewarisi "sifat pemberontak bangga" dan "rasa keadilan yang keras" dari ayahnya.[14]

Ibunya membawa Mandela ke istana "Great Place" di Mqhekezweni, lalu dipercayakan untuk asuhan bupati Thembu, Kepala Suku Jongintaba Dalindyebo. Meski ia tidak akan melihat ibunya lagi selama sekian tahun, Mandela merasa bahwa Jongintaba dan istrinya Noengland memperlakukannya seperti anak sendiri, membesarkannya bersama putra-putri mereka, Justice dan Nomafu.[15] Karena Mandela sering menghadiri misa setiap Minggu bersama orang tua asuhnya, Kristen menjadi bagian utama hidupnya.[16] Ia mengenyam pendidikan di sekolah misi Methodis dekat istana tersebut. Di sana ia belajar bahasa Inggris, Xhosa, sejarah, dan geografi.[17] Ia mulai tertarik dengan sejarah Afrika, mendengarkan cerita-cerita yang diujarkan para pengunjung istana yang tua, dan terpengaruh retorika antiimperialis Kepala Suku Joyi.[18] Waktu itu, ia tetap saja menganggap kolonialis Eropa sebagai penolong, bukan penindas.[19] Pada usia 16 tahun, ia, Justice, dan teman-temannya berangkat ke Tyhalarha untuk menjalani ritual sunat yang secara simbolis menandakan mereka sudah dewasa. Seusai ritual, Mandela diberi nama "Dalibunga".[20]

Clarkebury, Healdtown, dan Fort Hare: 1936–1940Sunting

 
Mandela, sekitar 1937

Untuk mendapatkan keterampilan supaya bisa menjadi anggota dewan penasihat untuk keluarga raja Thembu, Mandela mengenyam pendidikan menengah di Clarkebury Boarding Institute di Engcobo, institusi bergaya Barat yang merupakan sekolah Afrika berkulit hitam terbesar di Thembuland.[21] Dirancang supaya murid-muridnya saling bersosialisasi setiap hari, ia mengklaim kehilangan sikap "tertutupnya" dan berteman baik dengan wanita untuk pertama kalinya; ia mulai berolahraga dan merintis kecintaannya dalam berkebun.[22] Setelah menyelesaikan Junior Certificate selama dua tahun,[23] pada tahun 1937 ia pindah ke Healdtown, perguruan Methodis di Fort Beaufort yang juga dihadiri sebagian besar anggota keluarga raja Thembu, termasuk Justice.[24] Kepala sekolah menekankan superioritas budaya dan pemerintahan Inggris, namun Mandela semakin tertarik dengan budaya Afrika pribumi dan berteman untuk pertama kalinya dengan orang non-Xhosa, seorang penutur bahasa Sotho, dan dipengaruhi salah satu guru favoritnya, seorang Xhosa yang mematahkan tabu dengan menikahi orang Sotho.[25] Selain menghabiskan waktu luangnya dengan berlari dan tinju, pada tahun keduanya Mandela memutuskan menjadi prefek.[26]

Dengan bantuan Jongintaba, Mandela mengambil gelar Bachelor of Arts (BA) di University of Fort Hare, institusi kulit hitam elit di Alice, Eastern Cape dengan kurang lebih 150 mahasiswa. Di sana ia belajar bahasa Inggris, antropologi, politik, pemerintahan pribumi, dan hukum Belanda Romawi pada tahun pertamanya, dan ingin menjadi penerjemah atau juru tulis di Departemen Urusan Pribumi.[27] Mandela menetap di asrama Wesley House, berteman dengan Oliver Tambo dan sesama anggota sukunya, K.D. Matanzima.[28] Melanjutkan ketertarikannya di bidang olahraga, Mandela mengambil kelas tari ballroom,[29] dan terlibat dalam pementasan drama tentang Abraham Lincoln.[30] Sebagai anggota Students Christian Association, ia memimpin kelas Injil untuk masyarakat setempat[31] dan menjadi pendukung Britania Raya ketika Perang Dunia Kedua pecah.[32] Meski teman-temannya memiliki hubungan dengan Kongres Nasional Afrika (ANC) dan gerakan antiimpterialis, Mandela tidak mau terlibat.[33] Setelah membantu mendirikan House Committee untuk mahasiswa tahun pertama yang melawan dominasi mahasiswa tahun kedua,[34] di akhir tahun pertamanya ia terlibat aksi boikot Students' Representative Council (SRC) terhadap kualitas makanan, sehingga ia diskors sementara dari universitas; ia meninggalkan kuliahnya tanpa gelar.[35]

Tiba di Johannesburg: 1941–1943Sunting

Sepulangnya ke Mqhekezweni bulan Desember 1940, Mandela mengetahui bahwa Jongintaba telah mengatur dua pernikahan untuk Mandela dan Justice; karena tidak senang, mereka pergi ke Johannesburg melalui Queenstown dan tiba bulan April 1941.[36] Mandela bekerja sebagai pengawas malam di Crown Mines, "pemandangan kapitalisme Afrika Selatan pertama[nya]", tetapi dipecat setelah induna (mandor) mengetahui ia kabur dari rumah.[37] Setelah menetap di rumah sepupunya di Kotapraja George Goch, Mandela diperkenalkan pada pemasar rumah dan aktivis ANC Walter Sisulu, yang memberinya pekerjaan sebagai articled clerk di firma hukum Witkin, Sidelsky and Edelman. Perusahaan ini dioperasikan oleh seorang Yahudi liberal, Lazar Sidelsky, yang simpati terhadap perjuangan ANC.[38] Di firma tersebut, Mandela berteman dengan Gaur Redebe, anggota ANC dan Partai Komunis bersuku Xhosa, dan Nat Bregman, komunis Yahudi yang menjadi teman kulit putih pertamanya.[39] Dengan menghadiri pertemuan-pertemuan komunis, Mandela terpesona melihat orang Eropa, Afrika, India dan Kleurlinge berbaur begitu saja. Akan tetapi, ia kemudian mengaku tidak bergabung dengan Partai tersebut karena sifat ateismenya bertentangan dengan keyakinan Kristen Mandela, dan karena ia memandang perjuangan Afrika Selatan lebih berbasis ras alih-alih kesejahteraan kelas.[40] Semakin terpolitisasi, bulan Agustus 1943 Mandela mendukung boikot bus demi menggagalkan kenaikan tarif.[41] Untuk melanjutkan pendidikan tingginya, Mandela mengikuti kursus korespondensi di University of South Africa dan mengerjakan tugas akhirnya pada malam hari.[42]

Dengan upah kecil, Mandela menyewa kamar di rumah keluarga Xhoma di Kotapraja Alexandra; meski penuh kemiskinan, kejahatan, dan polusi, Alexandra selalu menjadi "tempat berharga" baginya.[43] Walaupun malu dengan kemiskinan yang dialaminya, ia sempat merayu seorang wanita Swazi sebelum gagal merayu putri tuan tanahnya.[44] Setelah menemukan kamar sewa yang lebih murah, Mandela pindah ke markas Witwatersrand Native Labour Association, tinggal bersama para penambang dari berbagai suku dan bertemu Ratu Basutoland.[45] Pada akhir 1941, Jongintaba mengunjungi Mandela dan memaafkan kelakuannya. Sepulangnya ke Thembuland, sang bupati meninggal dunia pada musim dingin 1942, Mandela dan Justice terlambat sehari untuk menghadiri pemakamannya.[46] Pasca wisuda awal 1943, Mandela kembali ke Johannesburg untuk menjadi pengacara alih-alih anggota dewan penasihat di Thembuland.[47] Ia kelak berkata bahwa saat itu ia tidak sadar, tapi "mengetahui diriku sedang melakukannya dan tidak bisa melawan."[48]

Aktivitas revolusiSunting

Studi hukum dan ANC Youth League: 1943–1949Sunting

Saat belajar hukum di University of Witwatersrand, Mandela adalah satu-satunya orang pribumi Afrika di fakultas tersebut, dan meski menghadapi rasisme ia berteman dengan sejumlah mahasiswa Eropa, Yahudi, dan India liberal dan komunis, termasuk Joe Slovo, Harry Schwarz, dan Ruth First.[49] Setelah bergabung dengan ANC, Mandela semakin dipengaruhi Sisulu dan menghabiskan waktunya bersama aktivis lain di rumah Sisulu di Orlando, termasuk teman lamanya Oliver Tambo.[50] Tahun 1943, Mandela bertemu Anton Lembede, seorang nasionalis Afrika yang sangat menentang front ras bersatu terhadap kolonialisme dan imperialisme atau aliansi dengan kaum komunis.[51] Meski berteman dengan orang non-kulit hitam dan komunis, Mandela mendukung pandangan Lembede, percaya bahwa orang Afrika kulit hitam harus terbebas sepenuhnya dalam perjuangan mendapatkan penentuan nasib sendiri secara politik.[52] Merasa perlunya sayap pemuda untuk memobilisasi penduduk Afrika secara besar-besaran dalam penentangan penindasan mereka, Mandela ikut dalam delegasi yang memberitahu Presiden ANC Alfred Bitini Xuma soal rencana tersebut dirumahnya di Sophiatown; African National Congress Youth League (ANCYL) didirikan pada Minggu Paskah 1944 di Bantu Men's Social Centre di Eloff Street; Lembede menjadi Presiden dan Mandela menjadi anggota komite eksekutif.[53]

 
Mandela dan Evelyn tahun 1944

Di rumah Sisulu, Mandela bertemu Evelyn Mase, seorang aktivis ANC dan perawat dari Engcobo, Transkei. Menikah tanggal 5 Oktober 1944, setelah awalnya tinggal bersama kerabat Evelyn, mereka menyewa Rumah no. 8115 di Orlando pada awal 1946.[54] Anak pertama mereka, Madiba "Thembi" Thembekile, lahir bulan Februari 1946, sementara seorang putri bernama Makaziwe lahir tahun 1947 namun meninggal 9 bulan kemudian akibat meningitis.[55] Mandela menikmati kehidupan rumah tangga, mengajak ibu dan saudarinya Leabie untuk tinggal bersamanya.[56] Pada awal 1947, masa kerjanya di Witkin, Sidelsky and Edelman selama tiga tahun berakhir dan ia memutuskan menjadi mahasiswa purnawaktu, bergantung pada pinjaman dari Bantu Welfare Trust.[57]

Bulan Juli 1947, Mandela melarikan Lembede ke rumah sakit, tempat ia meninggal dunia; Lembede digantikan sebagai presiden ANCYL oleh Peter Mda yang lebih moderat dan sepakat bekerja sama dengan kaum komunis dan non-kulit hitam. Mda menunjuk Mandela sebagai sekretaris ANCYL.[58] Pada Desember 1947, Mandela tidak sependapat dengan pendekatan Mda untuk mendukung upaya pengusiran kaum komunis dari ANCYL, karena ideologi mereka dianggap tidak Afrikawi; upaya ini terbukti gagal.[59] Tahun 1947, Mandela terpilih masuk komite eksekutif ANC Transvaal di bawah presiden regional C.S. Ramohanoe. Ketika Ramohanoe bertindak melawan keinginan Komite Eksekutif Transvaal dengan bekerja sama dengan orang India dan komunis, Mandela termasuk salah satu yang memaksanya mengundurkan diri.[60]

Pada pemilihan umum Afrika Selatan 1948 yang hanya boleh diikuti penduduk kulit putih, Partai Herenigde Nasionale yang didominasi Afrikaner pimpinan Daniel François Malan menang dan bergabung dengan Partai Afrikaner menjadi Partai Nasional. Karena rasialis secara terbuka, partai ini meresmikan dan memperluas segregasi ras melalui undang-undang apartheid yang baru.[61] Semakin meningkat pengaruhnya di ANC, Mandela dan kader-kadernya mulai menyerukan aksi langsung terhadap apartheid, seperti boikot dan mogok, yang dipengaruhi oleh taktik masyarakat India Afrika Selatan. Xuma tidak mendukung aksi ini dan didepak dari kursi presiden melalui pemungutan suara tidak percaya dan digantikan oleh James Moroka dan kabinet yang lebih militan yang terdiri dari Sisulu, Mda, Tambo, dan Godfrey Pitje; Mandela kelak berkata bahwa "Kami sekarang telah memandu ANC ke jalur yang lebih radikal dan revolusioner."[62] Karena meluangkan waktunya untuk politik, Mandela gagal pada tahun terakhirnya sebanyak tiga kali di Witwatersrand; gelarnya akhirnya ditahan permanen pada Desember 1949.[63]

Defiance Campaign dan Presiden ANC Transvaal: 1950–1954Sunting

 
Bendera triwarna Kongres Nasional Afrika

Mandela menggantikan Xuma sebagai Eksekutif Nasional ANC pada bulan Maret 1950.[64] Bulan itu, Defend Free Speech Convention diadakan di Johannesburg dan meminta para aktivis Afrika, India, dan komunis melakukan mogok massal antiapartheid. Mandela menentang mogok tersebut karena tidak dipimpin ANC, tetapi mayoritas pekerja berkulit hitam terlibat, sehingga kepolisian terpaksa meningkatkan aksi kekerasan dan memperkenalkan Undang-Undang Pemberantasan Komunisme 1950 yang memengaruhi aksi semua kelompok pengunjuk rasa.[65] Pada tahun 1950, Mandela terpilih sebagai presiden nasional ANCYL; di konferensi nasional ANC Desember 1951, ia terus menentang front ras bersatu, sayangnya ia kalah jumlah suara.[66] Sejak itu, ia mengubah seluruh sudut pandangnya dan beralih ke pandangan tadi; dipengaruhi teman-temannya seperti Moses Kotane dan dukungan Uni Soviet terhadap perang pembebasan nasional. Ketidakpercayaan Mandela terhadap komunisme juga patah. Ia terpengaruh tulisan-tulisan Karl Marx, Friedrich Engels, Vladimir Lenin, Joseph Stalin, dan Mao Zedong, dan menganut materialisme dialektik.[67] Pada April 1952, Mandela mulai bekerja di firma hukum H.M. Basner,[68] meski komitmen kerja dan aktivismenya yang meningkat berarti ia menghabiskan lebih sedikit waktunya untuk keluarga.[69]

Tahun 1952, ANC memulai persiapan Defiance Campaign gabungan terhadap apartheid dengan kelompok India dan komunis dan mendirikan National Voluntary Board untuk merekrut voluntir. Tentang jalur pemberontakan non-kekerasan yang dipengaruhi Mohandas Gandhi, beberapa pihak menganggapnya pilihan yang etis, tetapi Mandela menganggapnya pragmatis.[70] Di rapat umum Durban tanggal 22 Juni, Mandela menyampaikan pidato di hadapan 10.000 orang, memulai protes kampanye, yang karena itu ia ditangkap dan ditahan sementara di penjara Marshall Square.[71] Seiring berlanjutnya protes, keanggotaan ANC meledak dari 20.000 menjadi 100.000; pemerintah menanggapi dengan penangkapan massal dan memperkenalkan Undang-Undang Keselamatan Umum 1953 supaya bisa menerapkan darurat militer.[72] Bulan Mei, pihak berwenang melarang Presiden ANU Transvaal J. B. Marks tampil di hadapan publik; karena gagal mempertahankan posisinya, ia menyarankan agar Mandela menggantikannya. Meski kelompok ultra-Afrikanis Bafabegiya menentang pencalonannya, Mandela terpilih sebagai presiden regional pada bulan Oktober.[73]

   
Pada awal 1950-an, Mandela dipengaruhi pemikiran antikolonialis sayap kiri, termasuk olah tokoh-tokoh seperti Karl Marx (kiri) dan Jawaharlal Nehru (kanan).

Tanggal 30 Juli 1952, Mandela ditangkap di bawah UU Pemberantasan Komunisme dan diadili sebagai bagian dari 21 orang terdakwa—termasuk Moroka, Sisulu, dan Dadoo—di Johannesburg. Dinyatakan bersalah karena "komunisme menurut undang-undang", hukuman kerja paksa mereka selama sembilan bulan diperpanjang menjadi dua tahun.[74] Bulan Desember, Mandela dijatuhkan larangan menghadiri pertemuan atau berbicara kepada lebih dari satu orang dalam satu waktu selama enam bulan, sehingga kepresidenan ANU Transvaal-nya menjadi tidak praktis. Defiance Campaign berangsur-angsur selesai.[75] Bulan September 1953, Andrew Kunene membacakan pidato "No Easy Walk to Freedom" Mandela di sebuah pertemuan ANC Transvaal; judulnya diambil dari kutipan pemimpin kemerdekaan India Jawaharlal Nehru, kelak memengaruhi pemikiran Mandela. Pidato ini menetapkan rencana cadangan seandainya ANC dibubarkan. Rencana Mandela (Mandela Plan) atau M-Plan ini terdiri dari pembelahan organisasi menjadi struktur sel dengan kepemimpinan yang lebih tersentralisasi.[76]

Mandela mendapatkan pekerjaan sebagai pengacara untuk firma Terblanche and Briggish sebelum pindah ke Helman and Michel yang liberal dan lulus tes kualifikasi untuk menjadi pengacara penuh.[77] Pada Agustus 1953, Mandela dan Oliver Tambo membuka firma hukumnya sendiri, Mandela and Tambo, yang beroperasi di pusat kota Johannesburg. Sebagai satu-satunya firma hukum milik orang Afrika di negara itu, firma ini populer di kalangan orang kulit hitam yang merasa dirugikan dan sering menangani kasus kebrutalan polisi. Karena tidak disukai pihak berwenang, firma ini dipaksa pindah ke lokasi terpencil setelah izin pendiriannya dicabut sesuai Group Areas Act; akibatnya, pengguna jasa mereka menyusut.[78] Walau putri kedua, Makaziwe Phumia, lahir pada Mei 1954, hubungan Mandela dengan Evelyn merenggang dan Evelyn menuduhnya selingkuh. Bukti-bukti muncul bahwa ia selingkuh dengan anggota ANC Lillian Ngoyi dan sekretaris Ruth Mompati; klaim kuat namun tanpa bukti menandakan Mompati memiliki anak dengan Mandela. Karena jijik akan kelakuan putranya, Nosekeni pulang ke Transkei, sedangkan Evelyn memeluk Saksi-Saksi Yehuwa dan menentang obsesi politik Mandela.[79]

Kongres Rakyat dan Pengadilan Pengkhianatan: 1955–1961Sunting

"Kami, rakyat Afrika Selatan, menyatakan kepada seluruh negeri dan dunia:
Bahwa Afrika Selatan adalah milik semua orang yang tinggal di dalamnya, hitam dan putih, dan tak satu pemerintahan pun yang dapat mengklaim kekuasaan kecuali berdasarkan keinginan rakyat."

— Kalimat pembuka Piagam Kebebasan[80]

Mandela berpendapat bahwa ANC "tidak punya alternatif terhadap pemberontakan bersenjata dan keras" setelah terlibat dalam unjuk rasa yang gagal mencegah penggusuran kota pinggiran berpenduduk kulit hitam Sophiatown, Johannesburg, pada Februari 1955.[81] Ia menyarankan Sisulu agar meminta persenjataan dari Republik Rakyat Tiongkok, tetapi meski mendukung perjuangan antiapartheid, pemerintah Tiongkok percaya gerakan ini tidak cukup siap untuk perang gerilya.[82] Dengan keterlibatan South African Indian Congress, Coloured People's Congress, South African Congress of Trade Unions dan Congress of Democrats, ANC berencana mengadakan Kongres Rakyat, meminta semua warga Afrika Selatan mengirimkan proposal untuk zaman pasca-apartheid. Berdasarkan tanggapan-tanggapan ini, Piagam Kebebasan dirancang oleh Rusty Bernstein yang isinya meminta pembentukan negara demokratis non-rasialis disertai nasionalisasi industri besar. Saat piagam ini diadopsi pada konferensi Juni 1955 di Kliptown yang dihadiri 3000 delegasi, polisi membubarkan acara, namun ini tetap menjadi bagian utama ideologi Mandela.[83]

Setelah akhir pelarangan kedua bulan September 1955, Mandela cuti kerja ke Transkei untuk membahas dampak Undang-Undang Otoritas Bantu 1951 bersama ketua-ketua suku setempat. Ia juga menjenguk ibunya dan Noengland sebelum melanjutkan perjalanan ke Cape Town.[84] Pada Maret 1956, ia dijatuhkan larangan tampil di hadapan publik untuk ketiga kalinya, melarangnya masuk Johannesburg selama lima tahun, tetapi sering ia langgar.[85] Pernikahannya berakhir setelah Evelyn meninggalkan Mandela, membawa anak-anak mereka ke rumah saudaranya. Saat memulai sidang cerai bulan Mei 1956, ia mengklaim Mandela menyiksanya secara fisik; ia menolak tuduhan-tuduhan tersebut dan berjuang mendapatkan hak asuh anak-anaknya. Evelyn menarik petisi perceraiannya pada November, namun Mandela meminta cerai pada Januari 1958; perceraian ini akhirnya diputuskan bulan Maret yang hasilnya anak-anak berada di bawah asuhan Evelyn.[86] Selama sidang cerai, Mandela mulai merayu dan melakukan politisasi terhadap seorang pekerja sosial, Winnie Madikizela, yang ia nikahi di Bizana tanggal 14 Juni 1958. Madikizela kelak terlibat dalam aktivitas ANC dan sempat dipenjara selama beberapa minggu.[87]

 
Sistem apartheid membatasi berbagai bidang kehidupan.

Pada tanggal 5 Desember 1956, Mandeal ditahan bersama sebagian besar eksekutif ANC karena "pengkhianatan tinggi" terhadap negara. Pada sidang di Penjara Johannesburg yang dipenuhi unjuk rasa massal, mereka menjalani pemeriksaan sementara di Drill Hall tanggal 19 Desember sebelum dibebaskan dengan jaminan.[88] Sidang sanggahan terdakwa dimulai tanggal 9 Januari 1957, melibatkan pengacara terdakwa Vernon Berrangé, dan berlanjut sampai ditangguhkan pada bulan September. Pada Januari 1958, hakim Oswald Pirow ditunjuk untuk menangani kasus ini, dan pada Februari ia memutuskan bahwa ada "bukti yang cukup" supaya para terdakwa diadili di Mahkamah Agung Transvaal.[89] Pengadilan Pengkhianatan resmi dimulai di Pretoria bulan Agustus 1958 dan para terdakwa berhasil meminta ketiga hakim—semuanya terlibat dengan Partai Nasional yang berkuasa—diganti. Pada Agustus, satu tuduhan dicabut, dan pada Oktober jaksa menarik dakwaannya dan mengirim rancangan baru pada November yang berpendapat bahwa pemimpin ANC melakukan pengkhianatan tinggi dengan menyerukan revolusi kekerasan, tuduhan yang ditolak mentah-mentah oleh terdakwa.[90]

Pada April 1959, para militan Afrikanis yang tidak puas dengan pendekatan front bersatu ANC mendirikan Pan-African Congress (PAC); teman Mandela