Stasiun Parungpanjang

stasiun kereta api di Indonesia

Stasiun Parungpanjang (PRP) adalah stasiun kereta api kelas besar yang terletak di Kecamatan Parung Panjang, Bogor. Stasiun yang terletak pada ketinggian +54 meter ini hanya melayani perjalanan KRL Commuter Line saja.

Stasiun Parungpanjang
KAI Commuter
R12

LiveryPapanStasiun 2020.svg

PapanNamaStasiun PRP.png
Stasiun Parungpanjang.jpg
Stasiun Parungpanjang, 2012
LokasiJalan Marga Mekar No.54
Parungpanjang, Parungpanjang, Bogor, Jawa Barat 16360
Indonesia
Ketinggian+54 m
PengelolaKAI Commuter
Letak dari pangkalkm 41+463 lintas Angke-Tanah Abang-Rangkasbitung-Merak[1]
Jumlah peron3 (satu peron sisi dan dua peron pulau)
Jumlah jalur4 (jalur 2 dan 3: sepur lurus)
Informasi lain
Kode stasiun
  • PRP
  • 0207
  • PARUNG
[2]
KlasifikasiBesar[butuh rujukan]
Sejarah
Dibuka1 Oktober 1899; 122 tahun lalu (1899-10-01)[3]
Dibangun kembali2016; 6 tahun lalu (2016) (bangunan baru)
Elektrifikasi2009; 13 tahun lalu (2009)
Nama sebelumnyaParoengpandjang
Operasi layanan
KRL Commuter Line
Stasiun sebelumnya Logo KAI Commuter.svg Stasiun berikutnya
Cicayur
ke arah Tanah Abang
Lin Rangkasbitung Cilejit
Jatake
ke arah Tanah Abang
Lin Rangkasbitung
rencana
Parayasa
Fasilitas dan teknis
FasilitasLift Tangga naik/turun Musala Toilet Mesin tiket Pemesanan langsung di loket Isi baterai Parkir Pertokoan/area komersial Restoran Galeri ATM Ruang/area tunggu 
Lokasi pada peta

Sebelum difungsikan sebagai stasiun yang hanya melayani perjalanan KRL Commuter Line, stasiun ini juga pernah melayani perjalanan KRL & kereta api lokal yang menuju ke Stasiun Rangkasbitung maupun ke Stasiun Merak, serta juga pernah melayani perjalanan kereta ekspres seperti KA Krakatau Ekspres. Pada tanggal 1 April 2017, layanan kereta api lokal ini akhirnya dihapus & digantikan oleh KRL Commuter Line dengan rute Tanah Abang-Rangkasbitung, menyusul dengan KA Krakatau Ekspres yang ikut dihapus pada tanggal 17 Juli 2017. Stasiun Parung Panjang juga merupakan stasiun kereta api yang menggunakan bangunan baru di rute Merak-Tanah Abang selain Stasiun Maja, Kebayoran, dan Palmerah.

SejarahSunting

Agar mobilitas penumpang dari Batavia menuju Rangkasbitung hingga kawasan Banten semakin lancar, maka pada tahun 1890-an perusahaan Staatsspoorwegen membangun sebuah jalur kereta api beserta stasiun-stasiunnya (termasuk Stasiun Parung Panjang) yang menghubungkan daerah Duri hingga daerah Rangkasbitung, melewati daerah Tanah Abang. Proyek ini pun selesai pada tahun 1899, dan langsung dijalankan kereta api-kereta api reguler yang melayani rute tersebut.

Pada awal era 1990-an, sempat terdengar sebuah rancangan/masterplan mengenai pembangunan jalur kereta api lingkar luar Jakarta yang dibuat oleh Departemen Perhubungan Republik Indonesia dari & ke Stasiun Parung Panjang, dengan tujuan agar kereta api angkutan barang tidak memasuki wilayah DKI Jakarta. Perencanaan rute ini menghubungkan antara Stasiun Parung Panjang menuju ke Stasiun Cikarang & juga ke Stasiun Sungai Lagoa. Namun, karena krisis finansial yang menimpa Asia pada tahun 1997 menyebabkan rancangan rute ini terhenti di tengah jalannya proyek, sehingga jalur kereta api yang sudah terbangun hanya mulai dari Stasiun Citayam hingga ke Stasiun Nambo saja.[4]

Pada akhir era 1990-an, Stasiun Parung Panjang sempat menggunakan sebuah kanopi, yang dimana kanopi ini merupakan kanopi bekas yang diambil dari Stasiun Angke. Penggunaan kanopi ini pun tidak berlangsung lama, sampai akhirnya dibongkar beberapa waktu kemudian.[5][6]

Dalam rangka meningkatkan pelayanan kereta api komuter, jalur kereta api antara Stasiun Serpong hingga Stasiun Parung Panjang pun dielektrifikasi pada tahun 2009, dilanjutkan dengan Stasiun Parung Panjang hingga Stasiun Maja pada tanggal 17 April 2013.

Pada awalnya, stasiun ini memiliki total 4 jalur. Saat era single track/jalur tunggal, jalur 2 merupakan sepur lurus & jalur sisanya adalah sepur belok. Jalur 3 yang mengarah ke Cicayur pun ikut menjadi sepur lurus setelah proyek double track/jalur ganda di segmen Serpong-Parung Panjang selesai dibangun pada tahun 2012,[7] dilanjutkan dengan jalur 3 yang mengarah ke Cilejit juga menjadi sepur lurus setelah proyek double track/jalur ganda di segmen Parung Panjang-Maja selesai dibangun pada tanggal 17 Desember 2015.

Dibangun sebuah gudang penyimpanan baru di area dekat Stasiun Parung Panjang, gudang ini digunakan untuk tempat menyimpan material-material perkeretaapian yang sudah tidak dipakai lagi, seperti contohnya sinyal. Selain gudang, emplasemen Stasiun Parung Panjang juga dibangun jalur-jalur baru yang digunakan untuk tempat bongkar muat & menyimpan/stabling rangkaian gerbong angkutan batu ballast, serta jalur-jalur baru ini juga digunakan untuk tempat menyimpan/stabling KRL.

Untuk meningkatkan okupansi penumpang KRL Green Line, maka pada tahun 2014-2016 Kementerian Perhubungan Republik Indonesia mulai merenovasi secara besar-besaran Stasiun Parung Panjang, Stasiun Maja, serta Stasiun Kebayoran menjadi 2 tingkat dengan arsitektur yang modern & megah serta fasilitas yang sangat lengkap. Pada tanggal 11 Mei 2016, ketiga stasiun itu pun selesai dibangun & diresmikan oleh Direktur Jenderal Perkeretaapian, Hermanto Dwiatmoko bersama dengan Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya, di Stasiun Maja.[8]

Bangunan dan tata letakSunting

Pada awalnya, stasiun ini memiliki total 4 jalur. Saat era single track/jalur tunggal, jalur 2 merupakan sepur lurus & jalur sisanya adalah sepur belok. Jalur 3 yang mengarah ke Cicayur pun ikut menjadi sepur lurus setelah proyek double track/jalur ganda di segmen Serpong-Parung Panjang selesai dibangun pada tahun 2012,[9] dilanjutkan dengan jalur 3 yang mengarah ke Cilejit juga menjadi sepur lurus setelah proyek double track/jalur ganda di segmen Parung Panjang-Maja selesai dibangun pada tanggal 17 Desember 2015.

Dibangun sebuah gudang penyimpanan baru di area dekat Stasiun Parung Panjang, gudang ini digunakan untuk tempat menyimpan material-material perkeretaapian yang sudah tidak dipakai lagi, seperti contohnya sinyal.

 
Bekas sinyal & gerbong lama di gudang Stasiun Parung Panjang.

Selain gudang, emplasemen Stasiun Parung Panjang juga dibangun jalur-jalur baru yang digunakan untuk tempat bongkar muat & menyimpan/stabling rangkaian gerbong angkutan batu ballast, serta jalur-jalur baru ini juga digunakan untuk tempat menyimpan/stabling KRL.

 
Rangkaian gerbong ballast di sepur simpan Stasiun Parung Panjang.
 
Gerbong ballast yang teronggok di sepur simpan Stasiun Parung Panjang.

Untuk meningkatkan okupansi penumpang KRL Green Line, maka pada tahun 2014-2016 Kementerian Perhubungan Republik Indonesia mulai merenovasi secara besar-besaran Stasiun Parung Panjang, Stasiun Maja, serta Stasiun Kebayoran menjadi 2 tingkat dengan arsitektur yang modern & megah serta fasilitas yang sangat lengkap. Pada tanggal 11 Mei 2016, ketiga stasiun itu pun selesai dibangun & diresmikan oleh Direktur Jenderal Perkeretaapian, Hermanto Dwiatmoko bersama dengan Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya, di Stasiun Maja.

 

  R12  

G Bangunan utama stasiun
P

Lantai peron

Peron sisi
Jalur 1 ← (Cilejit)      Lin Rangkasbitung menuju Rangkasbitung/Tigaraksa
Peron pulau
Jalur 2 ← (Cilejit)      Lin Rangkasbitung menuju Rangkasbitung/Tigaraksa
Jalur 3      Lin Rangkasbitung menuju Tanah Abang (Cicayur) →
Peron pulau
Jalur 4      Lin Rangkasbitung menuju Tanah Abang (Cicayur) →

Layanan kereta apiSunting

KomuterSunting

R Lin Rangkasbitung, tujuan Rangkasbitung dan Tanah Abang

Antarmoda pendukungSunting

Jenis Angkutan Umum Trayek Tujuan
Angkot Kabupaten Bogor[10] F83 Parungpanjang-Griya
Angkot Kabupaten Tangerang A03 Parungpanjang-Bitung
Angkot Kota Tangerang Selatan KSS Stasiun Serpong-Gunungsindur

ReferensiSunting

  1. ^ Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero). 
  2. ^ Buku Informasi Direktorat Jenderal Perkeretaapian 2014 (PDF). Jakarta: Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 1 Januari 2020. 
  3. ^ Staatsspoorwegen (1921–1932). Verslag der Staatsspoor-en-Tramwegen in Nederlandsch-Indië 1921-1932. Batavia: Burgerlijke Openbare Werken. 
  4. ^ "Sejarah dan Drama di Balik Pengoperasian KRL Jalur Nambo". Kaori Nusantara. 4 April 2015. Diakses tanggal 6 Agustus 2017. 
  5. ^ Michiel van Ballegoijen. Spoorwegstations Op Java. 
  6. ^ Google Earth awal era 2000-an.
  7. ^ "Jalur Ganda KRL Serpong-Parungpanjang Beroperasi". Liputan6.com. 16 September 2009. Diakses tanggal 16 Oktober 2017. 
  8. ^ Sari, Nursita (11 Mei 2016). "Menengok Wajah Baru Stasiun Parung Panjang". Kompas.com. Diakses tanggal 18 September 2017. 
  9. ^ "Jalur Ganda KRL Serpong-Parungpanjang Beroperasi". Liputan6.com. 16 September 2009. Diakses tanggal 16 Oktober 2017. 
  10. ^ "Rute Angkot di Bogor". e-transportasi.com. Diakses tanggal 2021-10-11. 
Stasiun sebelumnya   Lintas Kereta Api Indonesia Stasiun berikutnya
Cilejit
ke arah Merak
Merak–Tanah Abang Cicayur
ke arah Tanah Abang


Koordinat: 6°20′39″S 106°34′07″E / 6.3441538°S 106.5686595°E / -6.3441538; 106.5686595