Prasejarah adalah sebutan bagi kurun waktu yang bermula ketika makhluk hominini mulai memanfaatkan perkakas batu sekitar 3,3 juta tahun silam, dan berakhir ketika sistem tulis diciptakan. Oleh karena itu prasejarah juga disebut Zaman Praaksara (zaman sebelum ada aksara) atau Zaman Nirleka (zaman ketiadaan tulisan).[1] Manusia prasejarah sudah pandai membuat lambang-lambang, tanda-tanda, maupun gambar-gambar, tetapi sistem-sistem tulis tertua diketahui baru muncul sekitar 5.300 tahun silam, dan adopsi sistem tulis secara luas baru terjadi ribuan tahun kemudian. Beberapa kebudayaan baru menggunakan sistem tulis pada abad ke-19, bahkan masih ada segelintir kebudayaan yang belum menggunakannya sampai sekarang. Oleh karena itu tarikh akhir prasejarah berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lain, dan istilah "prasejarah" tidak begitu sering digunakan dalam wacana mengenai masyarakat-masyarakat yang baru belakangan ini keluar dari masa prasejarah.

Sumer di Mesopotamia, Lembah Sungai Indus, dan Mesir Kuno adalah peradaban-peradaban yang pertama kali menciptakan aksara dan menyimpan rekam sejarah. Kemajuan ini dicapai sejak permulaan Zaman Perunggu. Jejak mereka mula-mula diikuti peradaban-peradaban tetangganya. Sebagian besar peradaban lain baru keluar dari masa prasejarah pada Zaman Besi. Pembagian prasejarah menjadi Zaman Batu, Zaman Perunggu, dan Zaman Besi disebut sistem tiga zaman. Sistem ini dipakai di sebagian besar kawasan Erasia dan Afrika Utara, tetapi tidak umum dipakai di belahan-belahan dunia lain yang baru mendadak mengenal kepandaian mengolah logam-logam keras dari kontak dengan kebudayaan-kebudayaan Erasia, misalnya kawasan Oseania, kawasan Australasia, sebagian besar kawasan Afrika Sub-Sahara, dan beberapa kawasan di Benua Amerika. Selain peradaban-peradaban Pra-Kolumbus di Benua Amerika, kawasan-kawasan tersebut tidak memiliki sistem tulis yang kompleks sebelum kedatangan bangsa Erasia, dan oleh karena itu belum lama keluar dari masa prasejarah. Sebagai contoh, prasejarah Indonesia dianggap berakhir sekitar tahun 400, sementara prasejarah Australia lazimnya dianggap baru berakhir pada tahun 1788.

Kurun waktu ketika sebuah kebudayaan belum memiliki sistem tulis sendiri, tetapi sudah terperikan dalam rekam sejarah pihak lain, disebut sebagai protosejarah kebudayaan tersebut. Bertolak dari definisi di atas,[2] dapat disimpulkan bahwa tidak ada rekam sejarah dari masa prasejarah-manusia, sehingga penentuan tarikh pembuatan benda-benda prasejarah menjadi sangat penting. Teknik-teknik penentuan tarikh secara jelas baru disempurnakan pada abad ke-19.[3]

Artikel ini berisi uraian mengenai prasejarah-manusia, yakni kurun waktu yang bermula sejak kemunculan perdana makhluk hidup yang berdasarkan perilaku maupun anatominya dapat disebut sebagai "manusia modern", dan berakhir pada permulaan masa sejarah. Mengingat kurun waktu sebelum kemunculan perdana manusia modern juga disebut "prasejarah", uraian mengenai kurun waktu tersebut disajikan secara terpisah dalam artikel Sejarah Bumi dan artikel Sejarah Evolusi Makhluk Hidup.

DefinisiSunting

 
Pilar-pilar batu raksasa di Göbekli Tepe, kawasan tenggara Turki, didirikan untuk keperluan ritual oleh masyarakat Neolitikum 11.000 tahun silam
 
Seorang remaja mengamati proses pembuatan perkakas batu, salah satu sketsa imajinatif perdana tentang peri kehidupan manusia prasejarah
 
Penggambaran gagasan abad ke-19 tentang kehidupan manusia prasejarah di alam liar
Awal
Istilah "prasejarah" dapat berarti kurun waktu panjang yang bermula dari kejadian alam semesta atau penciptaan Planet Bumi, tetapi lebih sering diartikan sebagai kurun waktu yang bermula sejak kemunculan makhluk hidup di Planet Bumi, bahkan lebih khusus lagi diartikan sebagai kurun waktu yang bermula sejak kemunculan umat manusia.[4][5]
Akhir
Tarikh akhir prasejarah lazimnya dianggap sebagai tarikh yang bertepatan dengan munculnya rekam sejarah.[6][7] Dengan demikian tarikh akhir prasejarah berbeda-beda dari satu kawasan ke kawasan lain, tergantung pada tarikh ketika rekam sejarah yang relevan menjadi sumber ilmiah yang berguna.[8] Sebagai contoh, di Mesir, masa prasejarah pada umumnya dianggap berakhir sekitar tahun 3200 Pra-Masehi, sementara di Papua, masa prasejarah dianggap baru berakhir sekitar tahun 1900 Masehi. Di Eropa, kebudayaan-kebudayaan Zaman Klasik yang relatif terdokumentasi secara lengkap, yakni kebudayaan Yunani Kuno dan kebudayaan Romawi Kuno, hidup bertetangga dengan kebudayaan-kebudayaan lain yang hanya sedikit atau sama sekali tidak meninggalkan rekam sejarah sendiri, antara lain kebudayaan Kelta dan kebudayaan Etruska. Oleh karena itu para sejarawanlah yang harus memutuskan seberapa andal keterangan-keterangan tentang kebudayaan-kebudayaan "prasejarah" tersebut dalam rekam sejarah peninggalan Yunani dan Romawi, yang seringkali kental dengan prasangka.
Kurun waktu
Dalam membagi prasejarah-manusia di Erasia, para sejarawan bisanya menggunakan sistem tiga zaman, sementara para ahli di bidang kajian prasejarah-pramanusia biasanya menggunakan rekam geologi yang didefinisikan dengan jelas dan tingkatan stratum dalam rentang skala waktu geologi yang didefinisikan secara internasional. Sistem tiga zaman adalah periodisasi prasejarah-manusia menjadi tiga kurun waktu berurutan yang diberi nama menurut teknologi pembuatan perkakasnya yang paling menonjol, yaitu:

Sejarah istilahSunting

Gagasan "prasejarah" mulai mengemuka pada Abad Pencerahan dalam karya-karya tulis para ahli purbakala, yang memakai kata 'primitif' untuk menyifatkan masyarakat-masyarakat yang sudah wujud sebelum munculnya rekam sejarah.[10] Prasejarawan Prancis, Paul Tournal, pertama kali memunculkan istilah "pré-historique" untuk menyifatkan temuan-temuannya di gua-gua kawasan selatan Prancis. Istilah ini dimasukkan ke dalam kosakata bahasa Prancis pada tahun 1830 sebagai sebutan bagi kurun waktu sebelum sistem tulis diciptakan, dan kemudian hari diserap menjadi kata "prehistorie" dalam bahasa Belanda. Kata "prasejarah" adalah terjemahan harfiah dari "prehistorie", tetapi frasa "zaman praaksara" dan "zaman nirleka" juga kerap dipakai sebagai bentuk lain dari istilah "prasejarah".[11]

Penggunakan skala waktu geologi untuk membagi prasejarah-pramanusia, dan sistem tiga zaman untuk membagi prasejarah-manusia, adalah sistem yang muncul menjelang akhir abad ke-19 dalam karya-karya tulis para antropolog, arkeolog, dan ahli purbakala Inggris, Jerman, maupun Skandinavia.[9]

Cara-cara penelitianSunting

Sumber utama informasi tentang masa prasejarah adalah arkeologi (cabang ilmu antropologi), tetapi sementara ahli kini mulai lebih banyak memanfaatkan bukti-bukti dari bidang-bidang ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial.[12][13][14] Cara mendapatkan informasi seperti ini telah digembar-gemborkan para penganjur kajian sejarah mendalam.

Peneliti-peneliti utama prasejarah-manusia adalah para arkeolog dan ahli antropologi biologis yang menggunakan ekskavasi, survei geologi, survei geografi, dan berbagai analisis ilmiah lain untuk menyingkap dan menafsirkan fitrah serta perilaku masyarakat-masyarakat praaksara dan tunaaksara.[4] Para ahli genetika populasi manusia dan para ahli linguistik historis juga menyumbangkan tinjauan-tinjauan berharga bagi usaha tersebut.[5] Para antropolog kebudayaan membantu menyiapkan konteks bagi interaksi-interaksi sosial yang merupakan ajang perpindahan benda-benda hasil karya manusia di tengah-tengah masyarakat, sehingga memungkinkan dilakukannya analisis terhadap benda apa saja yang muncul dalam konteks prasejarah-manusia.[5] Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data tentang masa prasejarah diperoleh dari berbagai bidang ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial, seperti antropologi, arkeologi, arkeoastronomi, linguistik komparatif,biologi, geologi, genetika molekuler, paleontologi, palinologi, antropologi biologis, dan lain-lain.

Kajian prasejarah-manusia berbeda dengan ilmu sejarah bukan hanya karena menggunakan istilah kronologis yang berbeda, melainkan juga karena menggeluti aktivitas-aktivitas kebudayaan-kebudayaan arkeologis alih-alih bangsa-bangsa atau orang-orang pribadi yang memiliki nama. Dengan hanya berkutat pada proses-proses bendawi, sisa-sisa benda, dan artefak-artefak alih-alih dengan keterangan-keterangan tertulis, kajian prasejarah menjadi kajian atas hal-hal yang awanama. Oleh karena itu istilah-istilah yang dipakai para prasejarawan untuk menyebut sesuatu, misalnya istilah "Manusia Neandertal" atau istilah "Zaman Besi", adalah label-label modern yang definisinya kadang-kadang dapat diperdebatkan.

Zaman BatuSunting

Konsep "Zaman Batu" dipakai dalam kajian arkeologi di hampir semua negara di dunia. Dalam kajian arkeologi Benua Amerika, Zaman Batu disebut dengan berbagai nama lain, dan dimulai dari Tahap Litikum atau Zaman Paleo-Indian. Pembagian Zaman Batu berikut ini digunakan dalam kajian prasejarah Erasia, dan tidak selalu sama dari satu tempat ke tempat lain.

PaleolitikumSunting

 
Peta perkiraan migrasi awal manusia berdasarkan genetika populasi mitokondrial dengan angka-angka ribuan tahun dihitung mundur dari masa kini (keakuratannya diragukan)

Paleolitikum atau Zaman Batu Tua bermula ketika manusia mulai memanfaatkan perkakas-perkakas batu. Paleolitikum adalah kurun waktu tertua dalam rentang Zaman Batu.

Kurun waktu tertua dalam rentang Paleolitikum disebut Paleolitikum Awal, yakni kurun waktu sebelum munculnya Homo sapiens. Kurun waktu ini bermula dengan kemunculan Homo habilis (berikut spesies-spesies kerabatnya) dan perkakas-perkakas batu perdana yang diperkirakan berasal dari 2,5 juta tahun silam.[15] Kepandaian manusia prasejarah dalam mengendalikan api pada kurun waktu Paleolitikum Awal tidak dapat dibuktikan secara pasti dan terbatas dukungan ilmiahnya. Klaim yang paling luas berterima adalah klaim bahwa Homo erectus atau Homo ergaster sudah membuat api dalam rentang waktu 790.000 sampai 690.000 tahun silam di situs Gesyer Benot Ya'aqov, Israel. Pemanfaatan api memungkinkan manusia prasejarah untuk memasak makanan, menghangatkan badan, dan menerangi kegelapan pada malam hari.

Kemunculan Homo sapiens perdana sekitar 200.000 tahun silam menandai bermulanya kurun waktu Paleolitikum Madya. Pada kurun waktu ini, terjadi perubahan-perubahan anatomis yang mengindikasikan kemampuan berbahasa modern.[16] Bukti definitif pertama dari pemanfaatan api oleh manusia prasejarah juga berasal dari kurun waktu Paleolitikum Madya. Tulang dan kayu hangus dari situs-situs di Zambia diperkirakan berasal dari 61.000 tahun silam. Penguburan jenazah yang tersistem, kepandaian bermusik, seni rupa perdana, dan pemanfaatan perkakas-perkakas rakitan yang kian canggih adalah unsur-unsur paling menonjol dari kurun waktu Paleolitikum Madya.

Sepanjang kurun waktu Paleolitikum, umat manusia pada umumnya berpenghidupan sebagai pemburu-peramu nomaden. Kelompok-kelompok masyarakat pemburu-peramu cenderung sangat kecil ukurannya dan bersifat egaliter.[17] Meskipun demikian, kelompok-kelompok masyarakat pemburu-peramu yang memiliki sumber-sumber daya melimpah atau teknik-teknik pencadangan pangan yang sudah maju kadang-kadang mengembangkan gaya hidup kelesa dengan struktur kemasyarakatan yang kompleks seperti perkauman,[18] dan stratifikasi sosial. Perhubungan jarak jauh mungkin pula sudah dirintis, seperti dalam kasus "jalan bebas hambatan" pribumi-Australia yang disebut jalur kidung.[19]

MesolitikumSunting

Mesolitikum atau Zaman Batu Madya adalah kurun waktu perkembangan teknologi manusia yang mengantarai Paleolitikum dan Neolitikum dalam rentang Zaman Batu. Kurun waktu ini bermula pada akhir kala Pleistosen, sekitar 10.000 tahun silam, dan berakhir pada waktu munculnya kepandaian bercocok tanam yang berbeda-beda dari satu kawasan ke kawasan lain. Di beberapa kawasan, misalnya Timur Dekat, kegiatan bercocok tanam sudah dirintis pada akhir kala Pleistosen, sehingga kurun waktu Mesolitikum di kawasan itu berlangsung singkat dan tidak begitu jelas batas-batasnya. Di kawasan-kawasan yang hanya sedikit terkena dampak glasiasi, kadang-kadang digunakan istilah "Epipaleolitikum" atau Zaman Batu Tua Lanjut.

Kawasan-kawasan yang sangat terdampak glasiasi selepas akhir Zaman Es memiliki lebih banyak bukti peninggalan Mesolitikum yang berlangsung ribuan tahun lamanya. Di kawasan utara Eropa, kelompok-kelompok manusia prasejarah dapat hidup berkecukupan dengan pasokan pangan melimpah dari paya-paya berkat iklim yang menghangat. Kondisi-kondisi semacam ini melahirkan perilaku-perilaku khas manusia yang terlestarikan dalam peninggalan rekam bendawi, misalnya kebudayaan Maglemosia dan kebudayaan Azilia. Kondisi-kondisi tersebut juga memperlambat peralihan ke Neolitikum sampai tahun 4000 Pra-Masehi (6.000 tahun silam) di kawasan utara Eropa.

Sisa-sisa peninggalan dari kurun waktu ini cukup langka, dan seringkali hanya berupa timbunan-timbunan sampah dapur. Di kawasan-kawasan berhutan telah didapati tanda-tanda pertama deforestasi, meskipun kegiatan deforestasi baru giat dilakukan pada Neolitikum, manakala manusia membutuhkan lahan yang lebih luas untuk bercocok tanam.

Di banyak tempat, Mesolitikum dicirikan oleh perkakas-perkakas rijang rakitan, yakni mikrolit dan mikroburin. Alat pancing, beliung batu, dan benda-benda dari kayu seperti biduk dan busur telah ditemukan di beberapa situs. Teknologi-teknologi tersebut pertama kali muncul di Afrika, dan dihubung-hubungkan dengan kebudayaan-kebudayaan Azilia, baru kemudian menyebar ke Eropa melalui kebudayaan Iberomaurusia di kawasan utara Afrika dan kebudayaan Kebara di Syam. Meskipun demikian, tidak mustahil ada kebudayaan yang menciptakan sendiri teknologi-teknologi tersebut dengan kemampuan reka cipta mereka.

 
Pintu masuk ke kuil utama Ħaġar Qim di Malta, kompleks kuil fase Ġgantija dari tahun 3900 Pra-Masehi[20]

NeolitikumSunting

 
Kumpulan artefak Neolitikum, mencakup gelang, kapak genggam, pahat, dan alat pengupam - Kecuali perkakas tertentu, artefak-artefak Neolitikum adalah perkakas batu yang diupam alih-alih ditokok

Dari sekian banyak spesies manusia yang muncul pada kurun waktu Paleolitikum, hanya Homo sapiens sapiens yang tersisa pada kurun waktu Neolitikum[21] (Homo floresiensis mungkin bertahan hidup sampai ke permulaan kurun waktu Neolitikum sekitar 12.200 tahun silam).[22] Neolitikum adalah kurun waktu perkembangan teknologi dan pembentukan masyarakat primitif. Neolitikum atau Zaman Batu Muda bermula kira-kira 10.200 tahun Pra-Masehi di beberapa tempat di Timur Tengah, baru kemudian hari bermula di kawasan-kawasan lain,[23] dan berakhir pada kurun waktu 4.500 tahun sampai 2.000 tahun Pra-Masehi. Neolitikum merupakan kurun waktu perubahan serta kemajuan perilaku dan karakteristik budaya, yang mencakup pemanfaatan tanaman pangan liar maupun tanaman pangan yang dibudidayakan dan satwa-watwa yang dijinakkan.

 
Bangunan monumental di situs Luni sul Mignone, Blera, Italia, tahun 3500 Pra-Masehi

Usaha tani pada permulaan kurun waktu Neolitikum terbatas pada penanaman segelintir tanaman saja, baik tanaman liar maupun tanaman hasil budidaya, antara lain gandum monokokum, jawawut, dan gandum spelta. Manusia Neolitik memelihara anjing, biri-biri, dan kambing. Sekitar 6.900–6.400 tahun Pra-Masehi, manusia mulai menjinakkan dan memelihara lembu dan babi, mulai membangun permukiman-permukiman yang dihuni secara permanen maupun musiman, dan mulai memanfaatkan tembikar. Neolitikum adalah kurun waktu munculnya desa-desa perdana, pertanian, penjinakan satwa, perkakas-perkakas, dan jejak-jejak peperangan tertua.[24] Neolitikum bermula dengan munculnya kepandaian bercocok tanam yang melahirkan "Revolusi Neolitikum", dan berakhir ketika pemanfaatan perkakas logam mulai menyebar luas (pada Zaman Tembaga atau Zaman Perunggu, atau pada Zaman Besi di beberapa kawasan). Istilah "Neolitikum" hanya lazim digunakan di Dunia Lama, karena penerapannya pada kebudayaan-kebudayaan di Benua Amerika dan kawasan Oseania yang belum sempurna teknologi olah logamnya menimbulkan sejumlah permasalahan.

Sifat permukiman mulai lebih permanen. Beberapa di antaranya memiliki rumah-rumah bundar beruangan tunggal berbahan baku bata lumpur. Permukiman mungkin pula dikelilingi tembok batu untuk mencegah ternak kabur sekaligus melindungi warga dari suku-suku lain. Permukiman-permukiman yang dibangun lebih kemudian memiliki rumah-rumah berbahan baku bata lumpur, tempat keluarga hidup bersama dalam satu atau lebih dari dari ruangan. Temuan-temuan kubur menyiratkan adanya adat penghormatan terhadap leluhur dalam bentuk pengawetan tengkorak orang mati. Kebudayaan Vinča mungkin telah menciptakan sistem tulis tertua.[25] Komplek-kompleks kuil megalitik di Ġgantija menonjol karena ukuran raksasanya. Meskipun beberapa masyarakat Neolitikum Akhir di Erasia sudah membentuk perkauman-perkauman terstratifikasi yang kompleks bahkan negara, negara-negara baru terbentuk di Erasia pada saat kemunculan metalurgi, dan kebanyakan masyarakat Neolitik relatif sederhana dan egaliter.[26] Kebanyakan pakaian tampaknya terbuat dari kulit hewan, sebagaimana diindikasikan oleh temuan sejumlah besar peniti dari tulang dan tanduk yang ideal digunakan untuk menyemat dan mengencangkan pakaian berbahan kulit hewan. Pakaian berbahan wol dan lenan mungkin sudah dibuat menjelang akhir kurun waktu Neolitikum,[27][28] sebagaimana yang diisyaratkan oleh temuan batu-batu berlubang yang (tergantung ukurannya) mungkin pernah digunakan sebagai cakram gelendong atau pemberat benang lungsin.[29][30][31]

KalkolitikumSunting

 
Lukisan pemandangan Los Millares, kota bertembok di Iberia pada Zaman Tembaga, menurut perkiraan pelukis

Kalkolitikum atau Zaman Tembaga adalah kurun waktu transisi, manakala kepandaian mengolah logam tembaga muncul bersamaan dengan menyebarnya pemanfaatan perkakas batu. Pada kurun waktu ini, sejumlah senjata dan perkakas dibuat dari tembaga. Meskipun masih sangat bersifat Neolitik, sesungguhnya Kalkolitikum adalah fase Zaman Perunggu sebelum manusia mengetahui bahwa melakur tembaga dengan timah akan menghasilkan logam yang lebih keras, yakni perunggu. Zaman Tembaga mula-mula didefinisikan sebagai kurun waktu transisi dari Neolitikum ke Zaman Perunggu. Meskipun demikian, karena dicirikan oleh pemanfaatan logam, Zaman Tembaga lebih dianggap sebagai bagian dari Zaman Perunggu daripada Zaman Batu.

 
Tambang tembaga Kalkolitikum di Lembah Timna, Padang Gurun Negev, Israel

Sebuah situs arkeologi di Serbia menyimpan bukti tertua peleburan tembaga pada suhu tinggi yang dapat dipastikan berasal dari 7.500 tahun silam. Temuan yang didapatkan pada bulan Juni 2010 ini menambah jumlah informasi tentang peleburan tembaga dalam rentang waktu 800 tahun, dan menyiratkan bahwa kepandaian melebur tembaga mungkin ditemukan secara mandiri di berbagai kawasan berbeda di Asia dan Eropa, alih-alih menyebar dari satu sumber saja.[32] Metalurgi mungkin pertama kali muncul di kawasan Bulan Sabit Subur dan memicu kemunculan Zaman Perunggu di kawasan itu pada milenium ke-4 Pra-Masehi (menurut pandangan tradisional). Meskipun demikian, temuan-temuan dari kebudayaan Vinča di Eropa kini telah dipastikan dibuat sedikit lebih awal daripada temuan-temuan di kawasan Bulan Sabit Subur. Situs Lembah Timna menyimpan bukti-bukti kegiatan penambangan tembaga dari kurun waktu 9.000 sampai 7.000 tahun silam. Proses transisi dari Neolitikum ke Kalkolitikum di Timur Tengah dicirikan oleh perkakas-perkakas batu yang menunjukkan adanya penurunan dalam pengadaan dan pemanfaatan bahan baku bermutu tinggi. Afrika Utara dan Lembah Sungai Nil mengimpor teknologi pengolahan besi dari Timur Dekat dan mengikuti jejak perkembangan Zaman Perunggu dan Zaman Besi di Timur Dekat. Meskipun demikian, Zaman Besi berlangsung serentak dengan Zaman Perunggu di sebagian besar Benua Afrika.

Transisi ke masa sejarah Abad KunoSunting

Zaman PerungguSunting

 
Gambar bajak berpenghela lembu disertai tulisan, Mesir, sekitar tahun 1200 Pra-Masehi

Pada Zaman Perunggu, beberapa kebudayaan mulai mengenal kepandaian mengabadikan ingatan tentang suatu kejadian dalam bentuk keterangan tertulis, dan dengan demikian menjadi kebudayaan-kebudayaan pertama yang keluar dari masa prasejarah. Oleh karena itu Zaman Perunggu atau kurun-kurun waktu tertentu dalam rentang Zaman Perunggu hanya dapat dianggap sebagai bagian dari masa prasejarah di kawasan-kawasan dan peradaban-peradaban yang baru belakangan mengadopsi atau mengembangkan sistem penyimpanan keterangan tertulis. Di beberapa kawasan, waktu penciptaan tulisan bertepatan dengan permulaan Zaman Tembaga. Tak lama sesudah kemunculan tulisan, orang mulai menghasilkan teks-teks, antara lain uraian kejadian secara tertulis dan catatan-catatan administratif.

Istilah "Zaman Perunggu" mengacu kepada kurun waktu dalam perkembangan kebudayaan umat manusia manakala kepandaian pengolahan logam yang paling maju (setidaknya dari segi pemanfaatannya yang luas dan sistematis) sudah mencakup teknik-teknik peleburan tembaga dan timah dari bijih-bijih yang muncul ke permukaan bumi secara alami, kemudian memadukan kedua jenis logam tersebut menjadi perunggu. Kandungan arsenikum adalah salah satu unsur ketidakmurnian yang lumrah ditemukan pada bijih-bijih yang muncul ke permukaan bumi secara alami. Bijih tembaga maupun timah adalah bijih-bijih yang langka, dicerminkan oleh kenyataan bahwa tidak ada perunggu fosfor di kawasan barat Asia sebelum tahun 3000 Pra-Masehi. Zaman Tembaga merupakan bagian dari sistem tiga zaman dalam penggolongan masyarakat-masyarakat prasejarah. Dalam sistem ini, Zaman Perunggu berlangsung selepas Zaman Batu Muda di beberapa kawasan dunia.

Meskipun bijih tembaga ada di mana-mana, timah merupakan barang langka di Dunia Lama, dan seringkali harus diperdagangkan atau diangkut melewati jarak tempuh yang cukup jauh dari tempat-tempat penambangannya yang cuma segelintir, sehingga memicu terciptanya rute-rute dagang penghubung berbagai kawasan yang saling berjauhan. Di daerah-daerah yang sangat berjauhan, misalnya Tiongkok dan Inggris, logam baru ini dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan sebagai senjata, tetapi selama jangka waktu yang lama agaknya tidak digunakan sebagai bahan baku pembuatan perkakas-perkakas bercocok tanam. Sebagian besar perkakas-perkakas perunggu tampaknya ditimbun oleh kalangan elit dalam masyarakat, dan kadang-kadang disimpan dalam jumlah yang luar biasa banyaknya, mulai dari barang-barang perunggu untuk upacara orang Tionghoa dan simpanan-simpanan harta benda tembaga orang India sampai dengan simpanan-simpanan harta benda orang Eropa berupa kepala-kepala kapak yang belum terpakai.

Pada akhir Zaman Perunggu, negara-negara besar yang seringkali disebut kekaisaran, sudah muncul di Mesir, Tiongkok, Anatolia (bangsa Het), dan Mesopotamia, semuanya sudah mengenal kepandaian baca-tulis.

Zaman BesiSunting

Zaman Besi bukanlah bagian dari Prasejarah bagi peradaban-peradaban yang sudah mengenal kepandaian menyimpan rekam sejarah dalam bentuk tulisan pada Zaman Perunggu.

Prasejarah IndonesiaSunting

Prasejarah di Indonesia sendiri diperkirakan berakhir pada masa berdirinya Kerajaan Kutai, sekitar abad ke-5; dibuktikan dengan adanya prasasti yang berbentuk yupa yang ditemukan di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur baru memasuki era sejarah. Karena tidak terdapat peninggalan catatan tertulis dari masa prasejarah, keterangan mengenai zaman ini diperoleh melalui bidang-bidang seperti paleontologi, astronomi, biologi, geologi, antropologi, arkeologi. Dalam artian bahwa bukti-bukti prasejarah didapat dari artefak-artefak yang ditemukan di daerah penggalian situs prasejarah.

Periodisasi Prasejarah IndonesiaSunting

Secara umum, masa prasejarah Indonesia ditinjau dari dua aspek, bedasarkan bahan untuk membuat alat-alatnya (terbagi menjadi Zaman Batu dan Zaman Besi), serta berdasarkan kemampuan yang dimiliki oleh masyarakatnya (terbagi menjadi Zaman Berburu dan Meramu, Zaman Bercocok Tanam, dan Zaman Perundagian)

Zaman BatuSunting

Zaman Batu terjadi sebelum logam dikenal dan alat-alat kebudayaan terutama dibuat dari batu di samping kayu dan tulang. Zaman batu ini diperiodisasi lagi menjadi empat zaman, antara lain:

Zaman Batu Tua (Zaman Berburu dan Meramu Tahap Awal)Sunting

Terdapat dua kebudayaan yang merupakan patokan zaman ini, yaitu:

  1. Kebudayaan Pacitan (berhubungan dengan kapak genggam dengan varian-variannya seperti kapak perimbas dan kapak penetak)
  2. Kebudayaan Ngandong (berhubungan dengan Flakes dan peralatan dari tulang)

Bedasarkan kebudayaan yang ditemukan, maka dapat disimpulkan ciri-ciri kehidupan pada Palaeolithikum antara lain:

  1. Masyarakatnya belum memiliki rasa estetika (disimpulkan dari kapak genggam yang bentuknya tidak beraturan dan bertekstur kasar)
  2. Belum dapat bercocok tanam (karena peralatan yang dimiliki belum dapat digunakan untuk menggemburkan tanah).
  3. Memperoleh makanan dengan cara berburu (hewan) dan mengumpulkan makanan (buah-buahan dan umbi-umbian).
  4. Hidup nomaden (jika sumber makanan yang ada di daerah tempat tinggal habis, masyarakatnya harus pindah ke tempat baru yang memiliki sumber makanan).
  5. Hidup dekat sumber air (mencukupi kebutuhan minum dan karena di dekat sumber air ada banyak hewan dan tumbuhan yang bisa dimakan).
  6. Hidup berkelompok (untuk melindungi diri dari serangan hewan buas).
  7. Sudah mengenal api (berdasarkan studi perbandingan dengan Zaman Palaeolithikum di Cina, di mana ditemukan fosil kayu yang ujungnya bekas terbakar di dalam sebuah gua).
Zaman Batu Madya (Zaman Berburu dan Meramu Tahap Lanjut)Sunting

Terdapat dua kebudayaan yang merupakan patokan zaman ini, yaitu:

Kebudayaan Kjokkenmoddinger

Kjokkenmodinger, istilah dari bahasa Denmark, kjokken yang berarti dapur & moddinger yang berarti sampah (dan kjokkenmoddinger artinya sampah dapur). Dalam kaitannya dengan budaya manusia, kjokkenmoddinger merupakan timbunan kulit siput & kerang yang menggunung di sepanjang pantai Sumatra Timur antara Langsa di Aceh sampai Medan. Di antara timbunan kulit siput & kerang tersebut ditemukan juga perkakas sejenis kapak genggam yaitu kapak Sumatra/Pebble dan batu pipisan.

Kebudayaan Abris Sous Roche

Abris sous roche, yang berarti gua-gua yang pernah dijadikan tempat tinggal, berupa gua-gua yang diduga pernah dihuni oleh manusia. Dugaan ini muncul dari perkakas seperti ujung panah, flakke, batu penggilingan, alat dari tulang dan tanduk rusa; yang tertinggal di dalam gua.

Bedasarkan kebudayaan yang ditemukan, maka dapat disimpulkan ciri-ciri kehidupan pada zaman Mesolithikum antara lain:

  • Sudah mengenal rasa estetika (dilihat dari peralatannya seperti kapak Sumatra, yang bentuknya sudah lebih beraturan dengan tekstur yang lebih halus dibandingkan kapak gengggam pada Zaman Paleolithikum)
  • Masih belum dapat bercocok tanam (karena peralatan yang ada pada zaman itu masih belum bisa digunakan untuk menggemburkan tanah)
  • Gundukan Kjokkenmoddinger yang dapat mencapai tinggi tujuh meter dengan diameter tiga puluh meter ini tentu terbentuk dalam waktu lama, sehingga disimpulkan bahwa manusia pada zaman itu mulai tingggal menetap (untuk sementara waktu, ketika makanan habis, maka harus berpindah tempat, seperti pada zaman Palaeolithikum) di tepi pantai.
  • Peralatan yang ditemukan dari Abris Sous Roche memberi informasi bahwa manusia juga menjadikan gua sebagai tempat tinggal.
Zaman Batu Muda (Zaman Bercocok Tanam)Sunting

Ciri utama pada zaman batu Muda (neolithikum) adalah alat-alat batu buatan manusia sudah diasah atau diupam sehingga halus dan indah. Alat-alat yang dihasilkan antara lain:

  • Kapak persegi, misalnya beliung, pacul, dan torah yang banyak terdapat di Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, Kalimantan,
  • Kapak batu (kapak persegi berleher) dari Minahasa.
  • Perhiasan (gelang dan kalung dari batu indah) ditemukan di Jawa,
  • Pakaian dari kulit kayu
  • Tembikar (periuk belaga) ditemukan di Sumatra, Jawa, Melolo (Sunda)

Manusia pendukung Neolitikum adalah Austronesia (Austria), Austro-Asia (Kahmer-Indocina)

Kebudayaan MegalitikSunting

Antara zaman neolitikum dan zaman logam setelah itu berkembanglah kebudayaan megalitik, yaitu kebudayaan yang menggunakan media batu-batu besar sebagai alatnya (Membuat rumah, Alat Berburu, dll) bahkan hingga puncak kebudayaan megalitik justru pada terjadi pada zaman logam. Hasil kebudayaan Megalitik, antara lain:

  • Menhir: tugu batu yang dibangun untuk pemujaan terhadap arwah-arwah nenek moyang.
  • Dolmen: meja batu tempat meletakkan sesaji untuk upacara pemujaan roh nenek moyang
  • Sarkofagus (keranda batu): peti mati berbentuk lesung bertutup
  • Punden berundak: tempat pemujaan bertingkat
  • Kubur batu: peti mati yang terbuat dari batu besar yang dapat dibuka-tutup
  • Arca/patung batu: simbol untuk mengungkapkan kepercayaan mereka

Zaman Logam (Zaman Perundagian)Sunting

Pada zaman Logam orang sudah dapat membuat alat-alat dari logam di samping alat-alat dari batu. Orang sudah mengenal teknik melebur logam, mencetaknya menjadi alat-alat yang diinginkan. Teknik pembuatan alat logam ada dua macam, yaitu dengan cetakan batu yang disebut bivalve dan dengan cetakan tanah liat dan lilin yang disebut a cire perdue. Periode ini juga disebut masa perundagian karena dalam masyarakat timbul golongan undagi yang terampil melakukan pekerjaan tangan. Zaman logam di Indonesia didominasi oleh alat-alat dari perunggu sehingga zaman logam juga disebut zaman perunggu. Alat-alat besi yang ditemukan pada zaman logam jumlahnya sedikit dan bentuknya seperti alat-alat perunggu, sebab kebanyakan alat-alat besi, ditemukan pada zaman sejarah. Zaman logam di Indonesia dibagi atas:

Zaman PerungguSunting

Pada zaman Perunggu/disebut juga dengan kebudayaan Dongson-Tongkin China (pusat kebudayaan ini) manusia purba sudah dapat mencampur tembaga dengan timah dengan perbandingan 3: 10 sehingga diperoleh logam yang lebih keras.

Alat-alat perunggu pada zaman ini antara lain:

  • Kapak Corong (Kapak perunggu, termasuk golongan alat perkakas) ditemukan di Sumatra Selatan, Jawa-Bali, Sulawesi, Kepulauan Selayar, Irian
  • Nekara Perunggu (Moko) sejenis dandang yang digunakan sebagai maskawin. Ditemukan di Sumatra, Jawa-Bali, Sumbawa, Roti, Selayar, Leti
  • Benjana Perunggu ditemukan di Madura dan Sumatra.
  • Arca Perunggu ditemukan di Bang-kinang (Riau), Lumajang (Jawa Timur) dan Bogor (Jawa Barat)
Zaman BesiSunting

Pada zaman ini, manusia sudah terampil melebur bijih besi untuk dituang dan dijadikan alat sesuai keperluan. Teknik peleburan besi lebih sulit dari teknik peleburan tembaga maupun perunggu sebab melebur besi membutuhkan panas yang sangat tinggi, yaitu ± 3500 °C.

Alat-alat besi yang dihasilkan antara lain:

  • Mata Kapak bertungkai kayu
  • Mata Pisau
  • Mata Sabit
  • Mata Pedang
  • Cangkul

Alat-alat tersebut ditemukan di Gunung Kidul (Yogyakarta), Bogor (Jawa Barat), Besuki dan Punung (Jawa Timur)

Baca jugaSunting

RujukanSunting

  1. ^ McCall, Daniel F.; Struever, Stuart; Van Der Merwe, Nicolaas J.; Roe, Derek (1973). "Prehistory as a Kind of History". The Journal of Interdisciplinary History. 3 (4): 733–739. doi:10.2307/202691. JSTOR 202691. 
  2. ^ "Dictionary Entry". Diakses tanggal 8 Agustus 2017. 
  3. ^ Graslund, Bo. 1987. The birth of prehistoric chronology. Cambridge:Cambridge University Press.
  4. ^ a b Fagan, Brian. 2007. World Prehistory: A brief introduction New York: Prentice-Hall, Edisi Ketujuh, Bab Satu
  5. ^ a b c Renfrew, Colin. 2008. Prehistory: The Making of the Human Mind. New York: Modern Library
  6. ^ Fagan, Brian (2017). World prehistory: a brief introduction (edisi ke-Ninth). London: Routledge. hlm. 8. ISBN 978-1-317-27910-5. OCLC 958480847. 
  7. ^ Forsythe, Gary (2005). A critical history of early Rome : from prehistory to the first Punic War. Berkeley: University of California Press. hlm. 12. ISBN 978-0-520-94029-1. OCLC 70728478. 
  8. ^ Connah, Graham (2007-05-11). "Historical Archaeology in Africa: An Appropriate Concept?". African Archaeological Review. 24 (1–2): 35–40. doi:10.1007/s10437-007-9014-9. ISSN 0263-0338. 
  9. ^ a b Matthew Daniel Eddy, ed. (2011). Prehistoric Minds: Human Origins as a Cultural Artefact. Royal Society of London. 
  10. ^ Eddy, Matthew Daniel (2011). "The Line of Reason: Hugh Blair, Spatiality and the Progressive Structure of Language". Notes and Records of the Royal Society. 65: 9–24. doi:10.1098/rsnr.2010.0098. 
  11. ^ Laporan Seminar Sedjarah pada tanggal 14 s/d 18 Desember 1957 di Jogjakarta (Laporan). Universitas Gadjah Mada. 1958. hlm. 135. 
  12. ^ The Prehistory of Iberia: Debating Early Social Stratification and the State disunting oleh María Cruz Berrocal, Leonardo García Sanjuán, Antonio Gilman. Hlm. 36.
  13. ^ Historical Archaeology: Back from the Edge. Disunting oleh Pedro Paulo A. Funari, Martin Hall, Sian Jones. Hlm. 8.[tanpa ISBN]
  14. ^ Through the Ages in Palestinian Archaeology: An Introductory Handbook. Oleh Walter E. Ras. Hlm. 49.[tanpa ISBN]
  15. ^ The Essence of Anthropology Edisi ke-3. Karya William A. Haviland, Harald E. L. Prins, Dana Walrath, Bunny McBrid. Hlm. 83.
  16. ^ Race and Human Evolution. Oleh Milford H. Wolpoff. hlm. 348.
  17. ^ Vanishing Voices : The Extinction of the World's Languages. Oleh Daniel Nettle, Suzanne Romaine Merton Profesor Sastra Inggris Universitas Oxford. hlmn. 102–103.
  18. ^ Earle, Timothy (1989). "Chiefdoms". Current Anthropology. 30 (1): 84–88. doi:10.1086/203717. JSTOR 2743311. 
  19. ^ "Songlines: the Indigenous memory code". Radio National (dalam bahasa Inggris). 2016-07-08. Diakses tanggal 2019-02-18. 
  20. ^ "Hagarqim « Heritage Malta". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-02-03. Diakses tanggal 2009-02-20. 
  21. ^ "World Museum of Man: Neolithic / Chalcolithic Period". World Museum of Man. Diarsipkan dari versi asli tanggal 21 Oktober 2013. Diakses tanggal 21 Agustus 2013. 
  22. ^ Lyras; et al. (2008). "The origin of Homo floresiensis and its relation to evolutionary processes under isolation". Anthropological Science. 
  23. ^ Gambar 3.3 Dari First Farmers: The Origins of Agricultural Societies oleh Peter Bellwood, 2004
  24. ^ "The Perfect Gift: Prehistoric Massacres. The twin vices of women and cattle in prehistoric Europe". Diarsipkan dari versi asli tanggal 11 Juni 2008. 
  25. ^ Winn, Shan (1981). Pre-writing in Southeastern Europe: The Sign System of the Vinča Culture ca. 4000 BC. Calgary: Western Publishers. 
  26. ^ Leonard D. Katz Rigby; S. Stephen Henry Rigby (2000). Evolutionary Origins of Morality: Cross-disciplinary Perspectives. United kingdom: Imprint Academic. hlm. 158. ISBN 978-0-7190-5612-3. 
  27. ^ Harris, Susanna (2009). "Smooth and Cool, or Warm and Soft: Investigatingthe Properties of Cloth in Prehistory". North European Symposium for Archaeological Textiles X. Academia.edu. Diakses tanggal 5 September 2013. 
  28. ^ "Aspects of Life During the Neolithic Period" (PDF). Teachers' Curriculum Institute. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 5 May 2016. Diakses tanggal 5 September 2013. 
  29. ^ Gibbs, Kevin T. (2006). "Pierced clay disks and Late Neolithic textile production". Proceedings of the 5th International Congress on the Archaeology of the Ancient Near East. Academia.org. Diakses tanggal 5 September 2013. 
  30. ^ Green, Jean M (1993). "Unraveling the Enigma of the Bi: The Spindle Whorl as the Model of the Ritual Disk". Asian Perspectives. 32 (1): 105–124. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-02-11. 
  31. ^ Cook, M (2007). "The clay loom weight, dalam: Early Neolithic ritual activity, Bronze Age occupation and medieval activity at Pitlethie Road, Leuchars, Fife". Tayside and Fife Archaeological Journal. 13: 1–23. 
  32. ^ "Serbian site may have hosted first copper makers". ScienceNews. July 17, 2010. 

Pranala luarSunting

Templat:Teknologi prasejarah