Kota Lhokseumawe

kotamadya di provinsi Aceh, Indonesia
(Dialihkan dari Lhokseumawe)

Kota Lhokseumawe (ejaan Acèh: Lhôk Seumaw‘èë) adalah sebuah kota di provinsi Aceh, Indonesia. Kota ini berada persis di tengah-tengah jalur timur Sumatra. Berada di antara Banda Aceh dan Medan, sehingga kota ini merupakan jalur vital distribusi dan perdagangan di Aceh. Kota Lhokseumawe, Aceh, dengan ketinggian 2-24 meter diatas permukaan laut memiliki luas wilayah 181,06 Km² yang dibagi dalam 4 kecamatan yaitu Kecamatan Blang Mangat dengan luas wilayah 56,12 Km², Kecamatan Muara Dua luas wilayah 57,80 Km², Kecamatan Muara Satu luas wilayah 55,90 Km² dan Kecamatan Banda Sakti luas wilayah 11,24 Km². Keempat kecamatan ini terdiri dari 9 kemukiman dan 68 desa/gampong.

Kota Lhokseumawe
كوتا لهوک سيوماوي
Lambang Kota Lhokseumawe
Lambang Kota Lhokseumawe
كوتا لهوک سيوماوي


Masjid di Kota Lhokseumawe
Masjid di Kota Lhokseumawe
Peta Kota Lhokseumawe
Peta lokasi Kota Lhokseumawe
كوتا لهوک سيوماوي di Aceh
Koordinat: 5°11′17″N 97°8′25″E / 5.18806°N 97.14028°E / 5.18806; 97.14028Koordinat: 5°11′17″N 97°8′25″E / 5.18806°N 97.14028°E / 5.18806; 97.14028
Provinsi Aceh
Dasar hukum UU No.2 Tahun 2001
PP No.32 Tahun 1986
Tanggal peresmian 21 Juni 2001
14 Agustus 1986
Ibu kota -
Pemerintahan
- Wali kota Suaidi Yahya
- Wakil Yusuf Muhammad
APBD
- APBD Rp.786.821.025.020,-[1]
- PAD Rp. 66.522.617.843,-[1]
- DAU Rp.459.628.037.000,-(2018)[1]
Luas 181,06 km² (2017)[2]
Populasi
- Total 190.624 jiwa 2017[2]
- Kepadatan 1.052 jiwa/km²
Demografi
- Suku bangsa Aceh, Toba, Jawa, Tionghoa, Minangkabau
- Agama Islam, Katolik, Protestan, Buddha, Hindu.
- Bahasa Indonesia (Resmi)
Aceh
- IPM 75,78 (2016)[3]
- Zona waktu UTC+07:00 (WIB)
- Kodepos 24315-24375
- Kode area telepon (+62)645
Pembagian administratif
- Kecamatan 4[2]
- Kelurahan -
- Desa 68 gampong[2]
Simbol khas daerah
Situs web www.lhokseumawekota.go.id

GeografiSunting

Batas WilayahSunting

berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2001, tanggal 21 Juni 2001 Lhokseumawe ditetapkan statusnya menjadi kota dengan batas-batas wilayah:[4]

Utara Selat Malaka
Timur Kecamatan Syamtalira Bayu, Kabupaten Aceh Utara
Selatan Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara
Barat Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara

Penggunaan lahan terbesar di Kota Lhokseumawe adalah untuk permukiman seluas 10 877 ha atau sekitar 60% dari luas yang ada. Kebutuhan lahan yang menonjol adalah untuk usaha kebun campuran 4.590 ha atau sekitar 25,35%, di samping untuk kebutuhan persawahan seluas 3 747 ha atau sekitar 21%. Untuk kebutuhan perkebunan rakyat telah dimanfaatkan seluas 749 ha atau sekitar 4% dan untuk lain–lainnya.[5]

SejarahSunting

Secara etimologi Lhokseumawe berasal dari kata Lhok dan Seumawe. Dalam Bahasa Aceh, Lhok dapat berarti dalam, teluk, palung laut, dan Seumawe bermaksud air yang berputar-putar atau pusat mata air pada laut sepanjang lepas pantai Banda Sakti dan sekitarnya. Keberadaan kawasan ini tidak lepas dari kemunculan Kerajaan Samudera Pasai sekitar abad ke-13, kemudian kawasan ini menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh sejak tahun 1524.[6]

Zaman KolonialSunting

 
Pemandangan jalan di Lhokseumawe pada masa Hindia Belanda

banyak warga masih menyebut Lhokseumawe sebagai Kota Petro Dolar. Padahal era itu telah pula berakhir, seiring berakhirnya masa kejayaan Mobil Oil, PT Arun, dan sejumlah proyek vital lainnya di Lhokseumawe.

Saat kehidupan Lhokseumawe masih gemerlap, banyak orang yang menyangka bahwa Lhokseumawe adalah kota baru. Padahal, kawasan ini sudah memainkan perannya sejak kemunculan Kerajaan Samudera Pasai sekitar abad ke-13. Lhokseumawe terus memainkan peran penting saat menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh sejak tahun 1524, masa kolonial dan perang kemerdekaan.

Peran penting Kota Lhokseumawe dalam sejarah Aceh bisa terlihat dari banyaknya situs bersejarah (dari abad 11 M-20 M) di seantero kota yang membawahi lima kecamatan ini. Di antaranya, tiang gantung atau tempat Teuku Chik Di Tunong dieksekusi, Benteng Tentara Jepang, Makam Teungku Lhokseumawe, Makan Tgk Chik Ditunong.

Meriam Belanda, Tugu Perlawanan Tentara Indonesia melawan Tentara Belanda, Makam Putro Neng, Makam Tgk Syiah Hudam. Gua Ibrahim Tapa, Cot Bukulah, Gua Jepang, Makam Tgk Chik Di Paloh, Makam Tgk Jrat Meuindram, Makam Tgk Chik Buket Bruek Krueng, Rumah Adat Ule Balang, Tugu TKR melawan tentara Jepang, Tugu Syahid Tgk Abdul Jalil Cot Plieng dan makam prajuritnya, Mon Tujoh, Makam Mualim Taufiq Shaleh, Makam Tgk Batee Meutarah, dan kawasan sumur Tgk di Mon Lhok.

Sayangnya, belum banyak upaya untuk melestarikan situs-situs bersejarah ini. Padahal, jika dikelola secara profesional dan dikemas secara menarik, semua situs bersejarah ini dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke Kota Lhokseumawe. Sejumlah rujukan juga mengarahkan bahwa sektor wisata (sejarah) akan memberikan pendapatan dalam jangka panjang, dibandingkan dengan ekploitasi hasil alam. Hanya perlu kemauan dan inovasi bagi kita untuk mengelola warisan orang terdahulu.

Sebelum abad ke-20, negeri ini telah diperintah oleh Uleebalang Kutablang. Tahun 1903, setelah perlawanan pejuang Aceh terhadap penjajah Belanda melemah, Aceh mulai dikuasai dan dijajah Belanda. Lhokseumawe menjadi daerah taklukan dan mulai saat itu status Lhokseumawe menjadi Bestuur Van Lhokseumawe dengan Zelf Bestuurder adalah Teuku Abdul Lhokseumawe yang tunduk di bawah Aspiran Controeleur. Di Lhokseumawe, berkedudukan juga Wedana serta Asisten Residen atau Bupati.

Pada dasawarsa kedua abad ke-20 itu, di antara seluruh daratan Aceh, Kota Lhokseumawe sebagai salah satu pulau kecil dengan luas sekitar 11 km² yang dipisahkan dengan Sungai Krueng Cunda diisi bangunan-bangunan Pemerintah Umum, Militer, dan Perhubungan Kereta Api oleh Pemerintah Belanda. Pulau kecil dengan desa-desa (Gampong) Kampung Keude Aceh, Kampung Jawa, Kampung Kutablang, Kampung Mon Geudong, Kampung Teumpok Teungoh, Kampung Hagu, Kampung Uteuen Bayi, dan Kampung Ujong Blang yang keseluruhannya baru berpenduduk 5.500 jiwa secara jamak di sebut Lhokseumawe. Bangunan demi bangunan mengisi daratan ini sampai terwujud embrio kota yang memiliki pelabuhan, pasar, stasiun kereta api dan kantor-kantor lembaga pemerintahan.[7]

Masa KemerdekaanSunting

Sejak Proklamasi Kemerdekaan, Pemerintahan Negara Republik Indonesia belum terbentuk sistemik sampai kecamatan ini. Pada mulanya Lhokseumawe digabung dengan Bestuurder Van Cunda. Penduduk didaratan ini makin ramai berdatangan dari daerah sekitarnya seperti Buloh Blang Ara, Matangkuli, Blang Jruen, Lhoksukon, Nisam, cunda serta Pidie.

Pada tahun 1956, dengan Undang-Undang Darurat Nomor 7 Tahun 1956, terbentuk daerah-daerah otonom kabupaten-kabupaten dalam lingkup daerah Provinsi Sumatra Utara, di mana salah satu kabupaten diantaranya adalah Aceh Utara dengan ibu kotanya Lhokseumawe.

Pada tahun 1964, dengan Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Aceh Nomor 34/G.A/1964 tanggal 30 November 1964, ditetapkan bahwa kemukiman Banda Sakti dalam Kecamatan Muara Dua, dijadikan Kecamatan tersendiri dengan nama Kecamatan Banda Sakti.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, status Lhokseumawe berpeluang ditingkatkan menjadi Kota Administratif. Pada tanggal 14 Agustus 1986, dengan Peraturan Daerah Nomor 32 Tahun 1986 Pembentukan Kota Administratif Lhokseumawe ditandatangani oleh Presiden Soeharto, dan diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Soeparjo Roestam pada tanggal 31 Agustus 1987. Dengan adanya hal tersebut maka secara de jure dan de facto Lhokseumawe telah menjadi Kota Administratif dengan luas wilayah 253,87 km² yang meliputi 101 desa dan 6 kelurahan yang tersebar di lima kecamatan yaitu: Kecamatan Banda Sakti, Kecamatan Muara Dua, Kecamatan Dewantara, Kecamatan Muara Batu, dan Kecamatan Blang Mangat.

Sejak Tahun 1988 gagasan peningkatan status Kotif Lhokseumawe menjadi Kotamadya mulai diupayakan sehingga kemudian lahir UU Nomor 2 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Lhokseumawe tanggal 21 Juni 2001 yang ditandatangani Presiden RI Abdurrahman Wahid, yang wilayahnya mencakup tiga kecamatan, yaitu: Kecamatan Banda Sakti, Kecamatan Muara Dua, dan Kecamatan Blang Mangat.

Pada tahun 2006, kecamatan Mura Dua mengalami pemekaran menjadi Kecamatan Muara Dua dan Muara Satu sehingga jumlah kecamatan di Kota Lhokseumawe menjadi empat kecamatan.[8]

PemerintahanSunting

Daftar Wali kotaSunting

No. Wali Kota Awal menjabat Akhir menjabat Prd. Ket. Wakil
Rachmatsyah
2006
2007
1
 
Munir Usman
2007
2012
1
[9]
Suaidi Yahya
2
 
Tengku Suaidi Yahya
2012
2017
2
Nazaruddin
2017
Petahana
3
[10]
Yusuf Muhammad


Dewan PerwakilanSunting

KecamatanSunting

Kecamatan Luas Jumlah Desa/Kelurahan
Banda Sakti 11,24 km² 18
Blang Mangat 56,12 km² 22
Muara Dua 57,80 km² 17
Muara Satu 55,90 km² 11

KesehatanSunting

Sarana kesehatan yang tersedia di Kota Lhokseumawe terdiri dari:

  • Catatan: Tidak termasuk Perusahaan Swasta, Hanya Data sarana/prasarana Pemerintah dan pegawai pemerintah[11][12]
Sarana Kesehatan Jumlah Satuan
Puskesmas 6 Unit
Puskesmas pembantu 12 Unit
Puskesmas keliling 5 Unit
Polindes 32 Unit
Praktik Dokter 85 Unit
Praktik Dokter Gigi 9 Unit
Toko obat 77 Unit

Jumlah tenaga kesehatan yang tersedia adalah:

Tenaga Kesehatan Jumlah Satuan
Dokter 60 Orang
Dokter Gigi 5 Orang
Tenaga Medis 399 Orang
Perawat 194 Orang
Bidan 151 Orang
Tenaga Farmasi 9 Orang
Ahli Gizi 4 Orang
Ahli Sanitasi 7 Orang

SosialSunting

PendidikanSunting

Jumlah sarana pendidikan umum yang ada di Kota Lhokseumawe sampai dengan tahun 2007, terdiri dari Taman Kanak – kanak 25 unit (swasta 24 unit), Sekolah Dasar sebanyak 59 unit, SLTP 15 unit serta SMU/SMK sebanyak 13 unit, Akademi/Perguruan Tinggi 10 unit.

Sarana pendidikan agama yang ada 8 unit Madrasah Ibtidaiyah (5 negeri dan 3 swasta), 6 unit Madrasah Aliyah (1 negeri dan 5 swasta). Di Kota Lhokseumawe memiliki 26 unit Pondok Pasantren dan 189 unit Balai Pengajian.[13]

Sarana IbadahSunting

Sedangkan sarana peribadatan yang dimiliki Kota Lhokseumawe adalah [11]:

Fasilitas Ibadah Total Unit
Masjid 118 Unit
Mushala 76 Unit
Gereja 1 Unit
Biara 1 Unit

PerekonomianSunting

Perekonomian Kota Lhokseumawe mengarah pada sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran. Sektor ini semakin meningkat dari tahun ke tahun. Tingkat permintaan penginapan di Kota Lhokseumawe juga terbilang tinggi, karena Kota Lhokseumawe merupakan Kota transit antara Medan dan Banda Aceh. Selain itu, karyawan negeri dan swasta yang bekerja di Kota Lhokseumawe sering mencari penginapan ketika dalam masa penugasan, mengingat karyawan-karyawan tersebut berasal dari luar Kota Lhokseumawe.

Berdasarkan hasil penelitian Geologi Departemen Pertambangan dalam wilayah kawasan Kota Lhokseumawe terdapat bahan galian Golongan C berupa batu kapur, tanah timbun dan pasir/kerikil. Di samping itu terdapat juga sumber daya alam berupa gas alam yang pengolahannya dilakukan oleh PT. Arun NGL Co. Sumber daya alam tersebut sudah dieksplorasi sejak tahun 1975 oleh Mobil Oil Indonesia Inc (sekarang Exxon Mobil) di Kabupaten Aceh Utara yang selanjutnya dilakukan pengolahan untuk diekspor ke luar negeri, hasil pengolahan gas berupa condensat juga dimanfaatkan oleh Pabrik Aromatix yang dibangun tahun 1998 dan perusahan–perusahaan besar lainnya seperti pabrik pupuk.

PT. Kertas Kraft Aceh(PT.KKA), PT. Pupuk Iskandar Muda, PT. Asean Aceh Fertilizer dan EXXON Mobil - Arun berada di sekitar kota ini. Dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat dari pabrik-pabrik besar yang dimiliki kota Lhokseumawe, namun tak juga mampu mengangkat derajat kehidupan sebagian besar penduduk asli Lhokseumawe dari bawah garis kemiskinan.[14]

PariwisataSunting

Beberapa objek wisata yang dinilai sangat menunjang kemampuan Sektor Pariwisata ke depan antara lain:

Kesemua objek ini dapat menjadi aset bagi dunia Pariwisata Kota Lhokseumawe jika ditata dan dikembangkan dengan lebih menarik.

MediaSunting

RadioSunting

Kota Lhokseumawe memiliki beberapa stasiun radio yaitu:

Nama Frekuensi Signal Stasiun
RRI Pro-1, 89,3-MHz FM
CITIS FM 94.4-MHz
RRI Pro-3, 95,2-MHz
Radio SaPa FM 96.0-MHz
RRI Pro-2, 101.9-MHz
Bujang Salim FM 101,5-MHz
Vina Vira FM - 101,1-MHz
Istiqomah Arun FM - 102,7-MHz
Adyemaja FM - 103,5-MHz
Radio Rimba Pase FM - 106.6-MHz
Radio Gisa FM - 107,7-MHz

TelevisiSunting

Kota Lhoksumawe juga memiliki 18-buah stasiun televisi (17 siaran nasional dan 1 siaran lokal) yaitu:

Stasiun Televisi Frekuensi Jaringan Status
Nasional (17 saluran)
TVRI Nasional 30 UHF TVRI Nasional
RCTI 24 UHF MNC
SCTV 34 UHF Emtek
MNCTV 28 UHF MNC
ANTV 22 UHF Viva
Indosiar 46 UHF Emtek
MetroTV 52 UHF Media
Trans TV 56 UHF Trans
GTV (Indonesia) 28 UHF MNC
Trans7 38 UHF Trans
tvOne 48 UHF Viva
iNews 50 UHF MNC
RTV 32 UHF Grup Rajawali
Kompas TV 40 UHF KG
NET. 58 UHF Indika
BeritaSatu 60 UHF BeritaSatu Media Holdings
MYTV 62 UHF Mayapada Group
Lokal (2 Saluran)
LhokseumaweTV Cable-TV Keisha Tv Kabel - Cunda Lokal
Puja TV. 30 UHF Puja Group Lokal

PerhubunganSunting

Objek perhubungan yang menunjang sektor perekonomian antara lain:

  • Darat:
  1. Terminal Mobil Bongkar Muat Kandang
  2. Terminal Mobil Penumpang Keude Aceh
  3. Terminal Terpadu Lhokseumawe

Lihat pulaSunting

Pranala luarSunting

ReferensiSunting

  1. ^ a b c "APBD 2018 ringkasan update 04 Mei 2018". 2018-05-04. Diakses tanggal 2018-07-06. 
  2. ^ a b c d "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diakses tanggal 05-12-2018. 
  3. ^ "Indeks Pembangunan Manusia 2016". Diakses tanggal 2018-07-06. 
  4. ^ RI, Setjen DPR. "J.D.I.H. - Dewan Perwakilan Rakyat". www.dpr.go.id. Diakses tanggal 2019-10-24. 
  5. ^ "UU No. 2 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Lhokseumawe [JDIH BPK RI]". peraturan.bpk.go.id. Diakses tanggal 2019-10-24. 
  6. ^ portalsatu.com (2015-08-22). "Tinggalan Sejarah Lhokseumawe; Nisan Ahli Pelayaran Hingga Segel Tengku Maharaja". portalsatu.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-10-24. 
  7. ^ "Lhokseumawe, Kota Penuh Jejak Sejarah". Serambi Indonesia. Diakses tanggal 2019-10-24. 
  8. ^ ".:: Pemerintah Kota Lhokseumawe ::". www.lhokseumawekota.go.id. Diakses tanggal 2019-10-24. 
  9. ^ "Siapa Calon Kuat Penjabat Walikota Lhokseumawe? | acehnetwork.com". acehnetwork.com. Diakses tanggal 2018-11-27. 
  10. ^ "Suaidi-Yusuf Sah jadi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Lhokseumawe". GoAceh. Diakses tanggal 2018-11-27. 
  11. ^ a b Lhokseumawe Dalam Angka 2013
  12. ^ Profil Kesehatan Kota Lhokseumawe Tahun 2017
  13. ^ halim. "LHOKSEUMAWE DALAM KEPOMPONG LITERASI MENUJU KOTA PENDIDIKAN | Ikatan Guru Indonesia". Diakses tanggal 2019-10-24. 
  14. ^ "KEK Lhokseumawe Diharapkan Jadi Pusat Ekonomi Bagian Barat". Republika Online. 2018-12-15. Diakses tanggal 2019-10-24.