Gunung Lawu

gunung di Indonesia

Gunung Lawu (Hanacaraka:ꦒꦸꦤꦸꦁ​ꦭꦮꦸ) (3.265 MDPL) terletak di Pulau Jawa, Indonesia, tepatnya di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Gunung Lawu terletak di antara tiga kabupaten yaitu Kabupaten Karanganyar di Jawa Tengah; Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Magetan di Jawa Timur. Status gunung ini adalah gunung api "istirahat" (diperkirakan terakhir meletus pada tanggal 28 November 1885[3][4]) dan telah lama tidak aktif, terlihat dari rapatnya vegetasi serta puncaknya yang tererosi. Studi pada 2019 tentang geothermal heat flow menyugestikan bahwa Gunung Lawu masih aktif sampai sekarang.[5]

Gunung Lawu
Jawa:ꦒꦸꦤꦸꦁ​ꦭꦮꦸ
Lawu.jpg
Titik tertinggi
Ketinggian3.265 m (10.712 ft)[1]
Puncak3.118 m (10.230 ft)[2]
Posisi ke-76 gunung tertinggi di dunia
Geografi
Gunung Lawu di Jawa
Gunung Lawu
Gunung Lawu
Lokasi di pulau Jawa
LetakKabupaten Karanganyar, Jawa Tengah dan Kabupaten Ngawi, Kabupaten Magetan Jawa Timur, Indonesia
Geologi
Jenis gunungStratovolcano
Letusan terakhir28 November 1885
Pendakian
Rute termudahCemoro Sewu
Rute normalCemoro Kandang, Candi Cetho

Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara). Gunung Lawu mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan hutan Ericaceous. Gunung Lawu adalah sumber inspirasi dari nama kereta api Argo Lawu, kereta api eksekutif yang melayani Solo Balapan–Jakarta Gambir.

Gunung Lawu memiliki tiga puncak, yakni Hargo Dalem, Hargo Dumiling, dan puncak tertinggi bernama Hargo Dumilah.[6]

Di lereng gunung ini terdapat sejumlah tempat yang populer sebagai tujuan wisata, terutama di daerah Tawangmangu, Cemorosewu, dan Sarangan. Agak ke bawah, di sisi barat terdapat dua komplek percandian dari masa akhir Majapahit: Candi Sukuh dan Candi Cetho. Di kaki gunung ini juga terletak komplek pemakaman kerabat Praja Mangkunagaran: Astana Girilayu dan Astana Mangadeg. Di dekat komplek ini terletak Astana Giribangun, mausoleum untuk keluarga presiden ke-2 Indonesia, Soeharto.

EtimologiSunting

 
Koordinat Gunung Lawu

Nama Gunung Lawu, yang berarti unggul, oleh masyarakat setempat disebut juga sebagai Wukir Mahendra Giri. Kata tersebut berasal dari bahasa Jawa, dan ketiganya memiliki arti yang sama yaitu gunung; sehingga dapat diartikan sebagai tiga gunung. Hal ini sejalan dengan fakta bahwa Gunung Lawu memang memiliki tiga puncak besar yaitu Hargo Dalem, Hargo Dumiling, dan Hargo Dumilah.[7]

Nama-nama puncak gunung kemungkinan besar bersumber dari Serat Centhini, yang menyebutkan bahwa Gunung Lawu memiliki lima belas puncak. Di sebelah selatan, terdapat tujuh puncak yaitu Hargo Dalem, Dumilah, Pethapralaya, Mayang, Cakrakembang, Tenjomaya, dan Kepanasan. Sementara itu, di sebelah utara terdapat delapan puncak yaitu Hargo Tiling, Pekareman, Sadewa, Pamenang, Candhirenggo, Bayu, Rimbi, dan Kalithi. Dalam Serat Centhini, hanya Hargo Dumiling yang tidak disebutkan. Kemungkinan nama tersebut merupakan modifikasi dari Hargo Tiling. Perkiraan ini didukung oleh puncaknya yang sama rata di bagian utara Gunung Lawu.[7]

Poerbatjaraka menyebutkan bahwa nama asli Gunung Lawu adalah Katong yang berarti dewa. Nama tersebut tertulis dalam Tantu Panggelaran. Gunung Katong adalah bagian dari reruntuhan Gunung Mahameru ketika dibawa oleh para dewa melalui langit Pulau Jawa. Reruntuhan lainnya menjadi Gunung Wilis, Kamput, Kawi, Arjuno, dan Kemukus. Menurut Poerbatjaraka, Gunung Katong diidentikkan dengan Gunung Lawu. Dengan kata lain, Gunung Katong adalah nama kuno untuk Gunung Lawu.[7]

Menurut Zoetmulder arti kata katong adalah dewa, rasa hormat, penghormatan, dan kekaguman. Sementara, kata lawu berarti tertinggi dan unggul. Makna kedua kata tersebut sama-sama mengandung makna kekaguman; sehingga meskipun namanya diubah, tetapi tidak menggeser makna yang terkandung di dalamnya.[8]

Lawu dalam naskah kunoSunting

Selain dalam Serat Centhini, nama Lawu juga disebutkan dalam Serat Manikmaya. Serat tersebut ditulis pada 1794 Masehi, yang isinya memiliki kesamaan dengan Tantu Panggelaran. Namun, hal yang membedakan adalah Serat Manikmaya ditulis dalam bahasa Jawa Baru. Konon, Gunung Lawu merupakan bagian dari delapan belas gunung keramat di Jawa Tengah. Sangat mungkin bahwa mandala-mandala terletak di pegunungan tempat karya sastra itu dibuat.[7]

Karya sastra yang lebih tua adalah Babad Tanah Jawi. Dalam kitab tersebut, Gunung Lawu disebut sebagai tempat moksa terakhir Prabu Brawijaya yang memiliki nama lain yaitu Sunan Gunung Lawu.[7] Mitos yang berkembang di masyarakat menyatakan bahwa ia melakukan moksa di pertapaan Pringgodani.[9] Pernyataan ini merupakan indikasi bahwa sampai saat penulisan Babad Tanah Jawi, yaitu pada masa Mataram Islam, Gunung Lawu masih dipandang sebagai tempat suci. Setidaknya, ia merupakan gunung yang dianggap berharga oleh umat Hindu.[7]

Naskah tertua adalah Bhujangga Manik. Gunung Lawu juga disebut ketika Bhujangga Manik melakukan perjalanan dari Sunda ke Majapahit dan Bali.[7] Berikut adalah petikan kutipan dari naskah tersebut.[7]

1080. Sacu (n) duk Ka Pasugihan
Dipipirna gunung Wilis,
Ku ngaing tebeh kudilna,
Datang aing ka Dawuhan
Ngalalar ka gunung Lawu
1085. inya na lurah Urawan

Terjemahan dalam bahasa Indonesia sebagai berikut.

1080. Sampai Pasugihan
Berbaring di balik Gunung Wilis,
Saya pergi melalui selatan,
Saya tiba di Dawuhan,
Berjalan melalui Gunung Lawu,
1085. Di situlah daerah Urawan

LegendaSunting

Cerita dimulai dari masa akhir kerajaan Majapahit (1400 M) pada masa pemerintahan Sinuwun Bumi Nata Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping 5 (Pamungkas). Dua istrinya yang terkenal ialah Dara Petak putri dari daratan Tiongkok dan Dara Jingga. Dara Petak melahirkan putra bernama Raden Fatah, sementara Dara Jingga melahirkan putra bernama Pangeran Katong. Raden Fatah setelah dewasa beragama islam, berbeda dengan ayahandanya yang beragama Budha. Bersamaan dengan pudarnya Majapahit, Raden Fatah mendirikan Kerajaan Demak dengan pusatnya di Glagah Wangi (Alun-Alun Demak).

Melihat kondisi yang demikian itu, hati Sang Prabu terusik. Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun akhirnya bermeditasi memohon petunjuk Sang Maha Kuasa. Dalam semadinya didapatkannya wangsit yang menyatakan bahwa sudah saatnya cahaya Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan Demak.

Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan hanya disertai pemomongnya yang setia Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton dan melanglang praja dan pada akhirnya naik ke Puncak Lawu. Sebelum sampai di puncak, dia bertemu dengan dua orang kepala dusun yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai abdi dalem yang setia dua orang itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Merekapun pergi bersama ke puncak Harga Dalem.

Saat itu Sang Prabu bertitah, "Wahai para abdiku yang setia sudah saatnya aku harus mundur, aku harus muksa dan meninggalkan dunia ramai ini. Dipa Menggala, karena kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi semua makhluk gaib dengan wilayah ke barat hingga wilayah gunung Merapi/gunung Merbabu, ke timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan, dan ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan kepada Wangsa Menggala, kau kuangkat sebagai patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.

Tak kuasa menahan gejolak di hatinya, Sabdopalon pun memberanikan diri berkata kepada Sang Prabu: Bila demikian adanya hamba pun juga pamit berpisah dengan Sang Prabu, hamba akan naik ke Harga Dumiling dan meninggalkan Sang Prabu di sini.

Singkat cerita Sang Prabu Brawijaya pun muksa di Harga Dalem, dan Sabdopalon moksa di Harga Dumiling. Tinggalah Sunan Lawu Sang Penguasa gunung dan Kyai Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi mahluk gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu Brawijaya.

PendakianSunting

Pendakian Gunung Lawu sudah dilakukan sejak awal abad ke-12. Pada masa kolonial, eksplorasi di Gunung Lawu didorong oleh berbagai kepentingan mulai dari pembukaan lahan pertanian, pemetaan, kondisi sosial, dan lain-lain.[10] Pendakian standar dapat dimulai dari tiga tempat (basecamp): Cemorokandang di Tawangmangu (Jawa Tengah), Candi Cetho di Karanganyar (Jawa Tengah), dan Cemorosewu, di Sarangan (Jawa Timur).[6]

Selain tiga jalur tersebut, ada beberapa jalur pendakian lain yakni Jalur Pendakian Jagaraga, Ngrambe, Jamus, Tambak, Sukuh, Pringgodani, Cemara Bulus, Mojosemi, Sidalangu, dan Maospati. Jalur pendakian tidak resmi ini sering digunakan masyarakat setempat untuk mencari kayu, mencari tanaman obat, ritual, dan kepentingan tertentu lainnya. Jalur pendakian Pringgodani tercatat dalam Serat Centhini sebagai jalur pendakian spiritual. Salah satu tokoh yang melalui jalur tersebut adalah Seh Amongraga. Serat Centhini Pupuh 417-421 menceritakan perjalanan Seh Amongraga memulai pendakian melalui Desa Gandasuli lalu menuju puncak Lawu.[11]

Jalur pendakian melalui Cemorosewu lebih curam jika dibandingkan dengan jalur lainnya. Meskipun demikian, waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke puncak lebih singkat. Jalur pendakian ini juga cukup tertata dengan baik. Jalannya terbuat dari batu-batuan yang sudah ditata. Pada jalur ini, pendaki akan melalui lima pos dan dua sumber mata air. Pertama, pendaki akan melalui sumber air bernama Sendang Panguripan yang terletak di antara Cemorosewu dan pos 1. Pendaki kemudian melanjutkan pendakian hingga melewati pos 2 dan pos 3. Jalur pendakian setelah pos 3 hingga pos 4 sudah berupa tangga yang terbuat dari batu alam. Ketika sampai di pos 4, pendaki akan disuguhi pemandangan Telaga Sarangan dari kejauhan. Jalur pendakian dari pos 4 menuju pos 5 sudah tidak lagi securam jalur menuju pos-pos sebelumnya. Setelah pos 5, pendaki dapat menemukan sumber air Sendang Drajat. Jalur pendakian melalui Cemorosewu tidak direkomendasikan bagi pemula yang ingin mendaki di malam hari.

Pendakian melalui Cemorokandang akan melewati 5 selter dengan jalur yang relatif telah tertata dengan baik.

Meskipun ketiga jalur pendakian tersebut sudah dikenal secara umum oleh kalangan awam para pendaki yang ingin mendaki Gunung Lawu, sebenarnya terdapat satu jalur pendakian lain yang memiliki keunikannya tersendiri. Jalur pendakian tersebut adalah Jalur Pendakian Klasik Gunung Lawu via Singolangu. Jalur pendakian ini berada di Singolangu, Kelurahan Sarangan; atau sekitar 3 km dari Telaga Sarangan. Sesuai dengan namanya, jalur pendakian ini diyakini sebagai jalur pendakian tertua di antara semua jalur pendakian Gunung Lawu. Selain itu, jalur ini juga diyakini sebagai napak tilas Prabu Brawijaya V saat pergi ke Gunung Lawu untuk menghindari kejaran pasukan Raden Patah. Di sepanjang jalur pendakian ini nantinya para pendaki akan menemukan beberapa situs yang diyakini sebagai petilasan Prabu Brawijaya V. Adanya situs-situs petilasan tersebut semakin membuktikan bahwa jalur ini merupakan jalur pendakian tertua dan sudah ada sejak lama.

Pendakian melalui Jalur Klasik via Singolangu akan melalui 5 pos, yakni Pos 1 Kerun-Kerun, Pos 2 Banyu Urip, Pos 3 Cemaran, Pos 4 Taman Edelweis, dan Pos 5 Cokro Paningalan. Setelah melalui kelima pos tersebut, para pendaki akan sampai di Sendang Drajat, sebelum mencapai puncak Hargo Dalem dan Hargo Dumilah. Medan yang akan dihadapi oleh para pendaki sangat komplet, mulai dari medan yang landai hingga curam. Selain itu di jalur pendakian ini kondisi alam sangatlah asri, dengan berbagai jenis vegetasi tumbuhan dan satwa yang dapat ditemui sepanjang perjalanan. Oleh karena itu, jalur pendakian Gunung Lawu via Singolangu memiliki daya tarik tersendiri untuk dicoba oleh para pendaki yang ingin mendaki Gunung Lawu.

Objek wisataSunting

 
Telaga Sarangan yang terletak di lereng Gunung Lawu

Objek wisata di sekitar gunung Lawu antara lain:

MisteriSunting

Gunung Lawu menyimpan misteri pada masing-masing dari tiga puncak utamanya dan menjadi tempat yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Hargo Dalem diyakini sebagai tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Hargo Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, sementara Hargo Dumilah diyakini merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.

Konon gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan berhubungan erat dengan tradisi dan budaya Praja Mangkunegaran. Setiap orang yang hendak pergi ke puncaknya harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar si pelaku diyakini bakal bernasib naas.

Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani.

Kehadiran Pasar Setan di Gunung Lawu menjadi pembicaraan hangat di kalangan para pendaki, banyak para pendaki yang pernah mendengar suara bising, seperti berada di pasar, bahkan tidak jarang terdengar orang-orang yang menawarkan dagangan, saat melakukan pendakian di gunung Lawu. Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, apabila anda mendengar suara bising di atas gunung Lawu, sebaiknya buanglah salah satu barang yang anda punya, sebagaimana orang yang sedang melakukan transaki barter

InsidenSunting

Kebakaran hutanSunting

Pada 18 Oktober 2015, terjadi kebakaran hutan di Gunung Lawu. Peristiwa tersebut dipicu oleh perapian para pendaki yang belum dipadamkan. Enam orang meninggal, sedangkan dua orang lainnya terluka. Menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho, kebakaran terjadi sekitar pukul 13.40 WIB di petak 73 KPH Gunung Lawu.[12] Berikut kronologinya:[12]

1. Pukul 08.00 WIB terlihat kepulan asap di sekitar Pos 3 Cemoro Sewu.

2. Pukul 09.30 WIB Tim gabungan dari Perhutani, Anggota Koramil 0804/02 Plaosan dan masyarakat menuju TKP untuk melaksanakan pemadaman.

3. Pukul 13.40 WIB Tim gabungan yang sedang menuju TKP mendapatkan informasi dari pendaki a.n Sdr Mansur Salim, 46 Th, alamat Ds Rowosari Kec Tembalang Kab Semarang Jateng bahwa telah menolong 1 orang pendaki tepatnya antara Pos 4 dan Pos 3 a.n Dita Kurniawan 18 Th, pelajar SMK Yosonegoro Magetan, alamat Ds Candirejo Kec/Kab Magetan dan mendapat informasi juga dari pendaki yang telah ditolong bahwa ada 8 orang korban yang masih terjebak di atas.

4. Pukul 14.00 WIB, Dita Kurniawan, dibawa turun ke Pos 1 dan menceritakan bahwa pada Sabtu (17-10-2015) telah mendaki melalui jalur Cemoro Kandang bersama 13 orang, namun 11 orang temannya belum diketahui keberadaanya karena terpisah dalam perjalanan.

5. Pukul 14.20 WIB Tim gabungan menemukan 1 korban a.n Sdr Eko Nurhadi, 45 Th, alamat Ngawi dalam keadaan luka bakar 50 % (perut, tangan dan wajah ).

6. Pukul 14.30 WIB Korban dievakuasi ke POS 1 Pemberangkatan, selanjutnya korban dievakuasi menuju RSUD DR Sayidiman Magetan.

7. Sampai dengan pukul 18.00 WIB Tim gabungan TNI, Polri, Perhutani, BPBD, AGL ( Anak Gunung Lawu) dibantu Masyarakat Cemoro Sewu dan Singolangu masih melaksanakan penyisiran dan evakuasi.

8. Hasil penyisiran sementara sampai dengan saat ini diperoleh infomasi korban kebakaran hutan yang terjadi di antara Pos 3 dan Pos 4 adalah 8 orang dengan rincian 6 orang meninggal, 2 orang dalam kondisi kritis dan masih dalam proses evakuasi.

ArkeologiSunting

Gunung Lawu menjadi titik temu dua peradaban kuno, yaitu peradaban megalitikum dan peradaban klasik Hindu-Buddha. Banyak peninggalan dan reruntuhan dari kedua peradaban tersebut yang dapat ditemui di sana.[13]

MegalitikumSunting

Lihat pula: Tradisi megalitik dan Megalit.

“Megalitikum” merupakan serapan kosakata Yunani yaitu megas (besar) dan lithos (batu). Mulanya, istilah ini ditujukan untuk penamaan bangunan yang berasal dari batu-batu besar. Seiring perkembangannya, istilah ini digunakan sebagai nama periodisasi suatu zaman prasejarah.[14]

Peradaban megalitik terlacak masuk ke Nusantara pada dua gelombang. Gelombang pertama, megalitik tua (2500-1500 SM), ditandai dengan kebudayaan kapak persegi yang dibawa oleh orang-orang Proto-Melayu. Gelombang kedua, megalitik muda (1000-100 SM), ditandai oleh kebudayaan Dongson atau Deutro-Melayu. Peninggalan gelombang kedua seperti kubur batu, dolmen, dan arca dinamis.[15]

Peninggalan zaman megalitik di Gunung Lawu dapat dilihat pada situs Watu Kandang. Situs ini menunjukkan adanya pemujaan pada roh leluhur yang dinyatakan dalam bangunan menhir yang berbentuk batu besar yang tegak berdiri dengan tinggi 3 meter dan lebar 2 meter. Selain itu, di situs Sawit terdapat empat buah patung yang dibuat secara kasar dan tak proporsional. Beberapa menhir juga ditemukan di tempat tersebut.[16]

Beberapa situs di sekitar puncak Lawu juga dinyatakan sebagai situs megalitik, yang memiliki beberapa teras undakan berbeda-beda. Nama situs-situs beserta jumlah terasnya: Argo Dumilah Timur (5), Argo Dumilah Utara (5), Argo Dumilah Barat (3), Argo Dalem Barat (5), Argo Dalem Barat Laut (5), Argo Dalem Selatan (2), Argo Dalem Timur (7), Sendang Drajat (5), Pasar Dieng (7).[17]

Hindu-BuddhaSunting

Lihat pula: Sejarah Nusantara pada era kerajaan Hindu-Buddha.

Periode Hindu-Buddha dalam kebudayaan Indonesia disebut juga sebagai zaman klasik. Pada masa ini Nusantara boleh disebut telah memasuki zaman sejarah, yang ditandai oleh temuan aksara Pallawa sebagai bentuk kebudayaan tulis-menulis klasik.[18]

Di Indonesia, masa klasik dimulai pada abad ke-4 dengan adanya tiga anasir besar dari India yang masuk, yaitu sistem aksara Pallawa, agama Hindu-Buddha, dan sistem penanggalan Saka. Berkat ketiga anasir tersebut, peradaban Nusantara saat itu berkembang pesat, mulai dari pembangunan tempat-tempat ibadah, pusat pemerintahan, budaya tulis-menulis, penanggalan, dan sebagainya.[18]

CandiSunting

Masa klasik Hindu-Buddha dibagi menjadi tiga periode, yaitu klasik tua, tengah, dan muda. Contoh candi dari masa klasik tua (800 M) adalah Kompleks Candi Dieng (809 M). Masa selanjutnya yaitu klasik tengah (800-1200 M) diwakili oleh Candi Borobudur (825 M) dan Candi Prambanan (856 M).[19]

Percandian di Lawu muncul pada masa akhir klasik atau masa klasik muda (1200-1400 M). Unsur budaya megalitik tampak menonjol pada percandian di Gunung Lawu, berpadu dengan struktur bangunan terutama di candi-candi seperti Candi Sukuh, Candi Cetho, dan Candi Kethek. Pada Candi Sukuh terlihat lingga-yoni (dari budaya klasik) yang diukir sama dengan menhir bergores (dari budaya megalitik).[20]

Candi Sukuh dan Cetho memiliki teras undakan yang lebih banyak daripada candi-candi lain. Candi Sukuh memiliki 14 teras undakan, sedangkan Candi Cetho memiliki 13 teras undakan. Sementara, pada Candi Kethek terdapat teras yang berjumlah empat buah, dibangun mengecil ke atas.[21]

Pada dasarnya candi-candi tersebut berlatar belakang agama Hindu. Hal ini dapat diidentifikasi melalui temuan-temuan arca maupun relief, seperti arca kura-kura di ketiga candi tersebut yang melambangkan Dewa Wisnu. Ada pula relief-relief bertemakan pewayangan dengan tokoh Batara Guru/Dewa Siwa, Ganesha, Bima, dan sebagainya.[22]

ArcaSunting

Beberapa arca yang menghiasi Candi Sukuh dan Candi Cetho sangat berbeda dengan bentuk arca masa klasik pada umumnya. Arca-arca pada candi tersebut lebih mirip dengan arca megalitik dari segi bentuk maupun proporsinya. Bagian tubuh arca terlihat kurang lengkap serta kurang ada hiasan yang melekat pada arca sehingga mengarah kepada kepolosan arca—berbeda dengan arca-arca pada umumnya yang bagian tubuhnya dibentuk lengkap dengan hiasan-hiasan lengkap pula seperti mahkota, kelat bahu, gelang, pakaian, dan lain-lain.[20]

Berikut adalah tabel yang menunjukan sebaran peninggalan arkeologi di Gunung Lawu.[23]

No. Nama situs Periode Informasi
1. Watu Kandang Prasejarah Kemungkinan sebagai tempat pemakaman
2. Situs Sawit Tradisi Megalitik Tempat pemujaan terhadap leluhur
3. Situs Selembu Periode Klasik Kemungkinan berasal dari masa Mataram Kuno
4. Rumah Arca Periode Klasik Tempat penyimpanan benda-benda arkeologi

yang ditemukan di Kabupaten Karanganyar (museum)

5. Situs Menggung Periode Klasik Unsur tradisi megalitik cukup terlihat
6. Candi Buntar Periode Klasik Tanggal tidak diketahui
7. Candi Cetho Periode Klasik Abad ke-15, 13 teras
8. Candi Kethek Periode Klasik Kemungkinan dari abad ke-15, 4 teras
9. Candi Sukuh Periode Klasik Abad ke-15, 3 teras
10. Candi Planggatan Periode Klasik Abad ke-15, 3 teras
11. Argo Dumilah Periode Klasik Ada sebuah inkripsi yang menunjukkan tahun

1438, 6 teras

12. Argo Dumilah Timur Periode Klasik 5 teras
13. Argo Dumilah Utara Tradisi Megalitik 5 teras
14. Argo Dumilah Barat Tradisi Megalitik 3 teras
15. Argo Dalem Barat Tradisi Megalitik 5 teras
16. Argo Dalem Barat Laut Tradisi Megalitik 5 teras
17. Argo Dalem Selatan Tradisi Megalitik 2 teras
18. Argo Dalem Timur Tradisi Megalitik 7 teras
19. Sendang Drajat Tradisi Megalitik 5 teras
20. Pasar Dieng Tradisi Megalitik 7 teras
21. Cemoro Bulus Periode Klasik Satu periode dengan Candi Sukuh, Planggatan,

dan Cetho

GaleriSunting

ReferensiSunting

  1. ^ a b "Lawu". Global Volcanism Program. Smithsonian Institution. Diakses tanggal 2006-12-26. 
  2. ^ "Indonesian high-prominence peaks". peaklist.org. Diakses tanggal 2006-12-30. 
  3. ^ "Usai Erupsi 1885, Gunung Lawu Masih Bisa Meletus"
  4. ^ Bramantyo (14 Maret 2014). "Ini Bukti Gunung Lawu Dahulu Berada di Dasar Laut". Okezone.com. Diakses tanggal 30 September 2022. 
  5. ^ B. Nurhandoko, Bagus Endar; Kurniadi, Rizal; Triyoso, Kaswandhi; Widowati, Sri; Asmara Hadi, M. Rizka; Abda, M. Rizal; K. Martha, Rio; Fatiah, Elfa; Rizal Komara, Insan (17 August 2019). "Integrated Subsurface Temperature Modeling beneath Mt. Lawu and Mt. Muriah in The Northeast Java Basin, Indonesia". Open Geosciences. 11 (1): 341–351. doi:10.1515/geo-2019-0027 . 
  6. ^ a b Raditya, Iswara N (24 Juli 2020). "Sejarah Gunung Lawu, Legenda Brawijaya V, dan Misteri Pendakian". Tirto.id. Diakses tanggal 21 Agustus 2020. 
  7. ^ a b c d e f g h Purwanto & Titasari 2018, hlm. 41.
  8. ^ Purwanto & Titasari 2018, hlm. 42.
  9. ^ Agusta 2021, hlm. 61.
  10. ^ Agusta 2021, hlm. 59.
  11. ^ Agusta 2021, hlm. 59–60.
  12. ^ a b Ferdianto, Riky (18 Oktober 2015). Ferdianto, Riky, ed. "Kronologi Pendaki Tewas Terbakar di Gunung Lawu". Tempo.co. Diakses tanggal 30 September 2022. 
  13. ^ Wahyudi 2021, hlm. 162.
  14. ^ Wahyudi 2021, hlm. 162–163.
  15. ^ Wahyudi 2021, hlm. 163–164.
  16. ^ Wahyudi 2021, hlm. 167.
  17. ^ Wahyudi 2021, hlm. 167–168.
  18. ^ a b Wahyudi 2021, hlm. 164.
  19. ^ Wahyudi 2021, hlm. 169–170.
  20. ^ a b Wahyudi 2021, hlm. 170.
  21. ^ Wahyudi 2021, hlm. 170–171.
  22. ^ Wahyudi 2021, hlm. 171.
  23. ^ Purwanto & Titasari 2018, hlm. 45.

Daftar pustakaSunting

JurnalSunting

BukuSunting

Pranala luarSunting