Solihin G. P.

Letnan Jenderal TNI (Purn.) Solihin Gautama Purwanegara atau Mang Ihin (aksara Sunda: ᮞᮧᮜᮤᮠᮤᮔ᮪ ᮌᮅᮒᮙ ᮕᮥᮁᮝᮔᮨᮌᮛ) (lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 21 Juli 1926; umur 94 tahun) adalah Gubernur Jawa Barat periode 1970 sampai 1975. Ia memiliki perhatian yang besar untuk mengatasi rawan pangan di wilayah Indramayu, dengan cara memasyarakatkan padi gogo rancah. Upayanya memperlihatkan hasil sehingga terus dikembangkan. Lahir dalam keluarga bangsawan, dikenal sebagai tokoh yang merakyat. Karier militernya dimulai ketika pecah revolusi, sebagai komandan TKR Bogor, kemudian bergabung ke Divisi Siliwangi.[2]

Solihin Gautama Purwanegara
ᮞᮧᮜᮤᮠᮤᮔ᮪ ᮌᮅᮒᮙ ᮕᮥᮁᮝᮔᮨᮌᮛ
Het koninklijk paar in Bandung. In het midden de gouverneur van West-Java. Op de, Bestanddeelnr 254-9054 (Solihin Gautama Purwanegara).jpg
Foto resmi Solihin sebagai Gubernur Jawa Barat (1970)
Gubernur Jawa Barat ke-8
Masa jabatan
14 Februari 1970 – 14 Februari 1975
PresidenSoeharto
WakilRaden Ahmad Nashuhi (1970–73)
PendahuluMashudi
PenggantiAang Kunaefi
Gubernur Akademi Militer ke-7
Masa jabatan
1968–1970
Informasi pribadi
LahirSolihin Poerwanegara[1]
21 Juli 1926 (umur 94)
Bendera Belanda Tasikmalaya, Jawa Barat, Hindia Belanda
KebangsaanBendera Indonesia Indonesia
PasanganNy. Maryam Harmain
Orang tua
  • Abdul Gani Poerwanegara (Ayah)
  • Siti Ningrum (Ibu)
ProfesiMiliter
Dinas militer
Dinas/cabangInsignia of the Indonesian Army.svg TNI Angkatan Darat
PangkatPdu letjendtni komando.png Letnan Jenderal TNI

PendidikanSunting

  • Europeesche Lagere School (ELS).
  • Meer Uitgebreid Lager Oderwijs (MULO).
  • Sekolah Menengah Pertama.
  • Sekolah Menengah Tinggi.
  • Sekolah Staf Komandan Angkatan Darat, 1954.
  • US Army Infantry School, 1957.
  • Sekolah Staf dan Komando TNI AD, 1969.[3]

JabatanSunting

PenghargaanSunting

  • Bintang Jasa Pratama
  • Bintang Dharma
  • Bintang Gerilya
  • Bintang Ekapaksi Kelas IV
  • Medali Sewindu Angkatan Perang
  • Satya Lencana Perang Kemerdekaan I
  • Satya Lencana Perang Kemerdekaan II
  • Bintang Kongo
  • Heung In (Korea Selatan)
  • Satya Lencana Kesetiaan XXIV Tahun.

Hubungan dengan Ali SadikinSunting

Solihin hendak sowan ke Letjen KKO Ali Sadikin di Jakarta. Sebagai Gubernur Jawa Barat yang baru, Mang Ihin merasa perlu berkonsultasi dengan Bang Ali, sapaan Ali, tentang bagaimana membangun wilayah. Saat Mang Ihin menjadi Gubernur Jawa Barat pada 1970, Bang Ali sudah empat tahun memimpin Jakarta. Prestasi-prestasi Bang Ali membangun Jakarta itulah yang membuat Mang Ihin merasa perlu berkonsultasi dengan gubernur ibu kota negara itu.

Nah, pada saat berbincang-bincang itu Mang Ihin merasa dilecehkan. Dalam 'Cendramata 80 Tahun Solihin GP' diceritakan, Mang Ihin tersinggung karena Bang Ali ingin 'mengambil' wilayah perbatasan yang menurutnya tidak bisa diurus oleh Jawa Barat. "Jawa Barat tidak bisa melakukan pembangunan, sedangkan saya didesak oleh masyarakat agar memperluas daerah perbatasan antara DKI Jakarta dan Jawa Barat. Untuk itu, agar diikhlaskan saja saya membangun daerah perbatasan itu. Apalagi kan kita sama-sama dilahirkan di Jawa Barat," kata Bang Ali sambil menunjuk peta Kabupaten Bekasi, Tangerang dan sebagian wilayah Kabupaten Bogor.

"Wah ini kurang ajar banget," kata Mang Ihin dalam hati. Meski merasa dilecehkan oleh Bang Ali, Mang Ihin tetap tersenyum. Alih-alih naik pitam, dia justru menyindir balik Bang Ali kenapa dia tidak sekalian saja menyatukan Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat.

"Kalau Bang Ali ahli strategi yang ulung dan hebat, jadikan saja Jawa Barat dan DKI Jakarta satu provinsi," sindir Mang Ihin kepada Bang Ali. Tidak jelas, bagaimana selanjutnya kisah saling sindir itu. Namun, yang jelas perbincangan itu membawa kebaikan bagi dua provinsi. Baik Mang Ihin, maupun Bang Ali kemudian saling berlomba-lomba untuk membangun wilayahnya. Saat itulah, terjadi istilahnya 'perang daerah' atau 'perang wilayah' di perbatasan Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Setelah itu, wilayah Jawa Barat tak kalah maju. Industri semen Kaisar dan Tiga Roda dibangun di Bekasi. Kemudian pabrik tekstil di Tangerang. Menyadari cuaca Puncak yang sejuk, Mang Ihin juga membangun tempat rekreasi Taman Safari. Setelah berhasil membangun wilayah perbatasan, Mang Ihin pun mengajak Bang Ali ke Puncak. Dia memperlihatkan bagaimana arus lalu lintas dari Jakarta ke Jawa Barat juga tidak kalah dari arah sebaliknya. Artinya, tiap provinsi sudah punya magnet masing-masing sebagai hasil dari pembangunan. Sungguh persaingan yang positif bagi kemajuan rakyat.[6]

Sebagai Gubernur Jawa BaratSunting

Penyerahan Mesin Huller untuk mantan Pejuang Pembantu LogistikSunting

Presiden Soeharto menyerahkan mesin Huller (penggiling padi) kepada Hudori dari desa Cikoneng, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Hudori adalah bekas pejuang pembantu logistik yang memberikan makanan kepada pasukan yang dipimpin oleh Gubernur Solihin dan Pangdam Siliwangi, Mayjen. A.J. Witono, dalam perang kemerdekaan.

Hudori kini menjadi petani, dan ketika ditemui Presiden dalam kunjungan incognito-nya beberapa waktu lalu, keadaannya sangat menyedihkan. Penyerahan dilakukan melalui Gubernur Jawa Barat, Solichin GP, di Bina Graha hari Rabu, 06 Mei 1970, Sementara itu sebuah “padi traktor” akan diserahkan kepada desa Karang Luas Lor, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah melalui Residen Banyumas. [7]

Kisah Petani Jawa Barat tidak mengenal Presiden SoehartoSunting

Presiden Soeharto memulai kunjungan incognito[8] ke Jawa Barat dan Jawa Tengah tanggal 06 April 1970. Kunjungan yang diadakan bertepatan dengan awal pelaksanaan tahun kedua Pelita I ini, merupakan inspeksi langsung Presiden Soeharto di daerah pedesaan.

Tempat-tempat yang ditinjau adalah desa-desa Binong, Subang, Sindang, dan Kertasmaya, semuanya di Provinsi Jawa Barat. Di tempat-tempat tersebut Jenderal Soeharto berdialog dengan para petani, disamping melihat secara langsung pembangunan jalan, pengairan dan irigasi di pedesaan Jawa Barat itu. Satu hal yang perlu dicatat, tak satu pejabat pun di setiap tempat yang ia kunjungi, yang mengetahui kehadiran Pak Harto.

Entah dari mana informasinya, keesokan paginya ketika Pak Harto sedang berdialog dengan salah seorang petani, muncul Gubernur Jawa Barat Solihin G. P. Sesaat setelah berdialog, petani mempersilahkan rombongan Pak Harto untuk singgah di rumahnya. Setiba di rumah petani, Pak Solihin menanyakan, siapa yang sedang berbicara dengan dirinya itu? Petani menjawab, petugas pertanian. Pak Solihin kemudian menunjukkan gambar Presiden Soeharto yang kebetulan dipasang di dinding rumah petani. Dengan perasaan malu, kikuk dan salah tingkah, petani memohon maaf, karena tidak mengenali wajah Presiden Soeharto. [9]

Tim Pemberantasan Korupsi dan Laporan BIMASSunting

Presiden Soeharto memanggil Gubernur Jawa Barat, Solihin G.P., untuk menghadap dan melaporkan masalah Bimas di daerahnya tanggal 18 Februari 1970. Solihin telah melaporkan kepada Presiden bahwa dari jumlah Rp. 5,8 miliar untuk kredit Bimas di Jawa Barat, telah dapat dikembalikan sebanyak Rp. 4,5 miliar. Sedangkan sisanya yang Rp. 1 miliar lebih itu masih diusut oleh pemerintah daerah Jawa Barat.

Dalam hubungan ini Presiden menginstruksikan agar para pejabat yang terlibat dalam penyalahgunaan uang bimas diajukan ke pengadilan. Keesokan harinya, tanggal 18 Februari 1970 Presiden Soeharto telah memutuskan untuk mempertemukan Team Pemberantasan Korupsi dengan Komisi Empat. [10]

Ajak Soeharto Mandi di SungaiSunting

Solihin bercerita bahwa saat menjadi Gubernur Jawa Barat, ia pernah mengajak Presiden Soeharto mandi di sungai.[11] Suatu ketika, Presiden Soeharto mengadakan kunjungan bersama Solihin ke pemukiman suku Baduy. Solihin yang memang dikenal spontan, mengajak Soeharto untuk mandi di sungai. "Mandi di sungai?" Presiden terkejut, tapi senyum. "Iya dong kita mandi di sungai, Pak. Tidak ada tempat lain," kata Solihin.

Presiden Soeharto menuruti kemauan Solihin. Mereka kemudian turun dan mandi di sungai. Berjongkok, bermain air, bahkan hingga buang air di sungai itu. Semuanya tanpa pengawalan dan berlangsung aman-aman saja. Selesai mandi dan sarapan, presiden menonton pertunjukan debus yang memperlihatkan kekebalan orang Baduy.

Sayangnya, pada saat produksi minyak Indonesia sedang tinggi-tingginya kala itu menjadikan Indonesia surplus minyak, dan menyebabkan investasi luar negeri membaik. "Negara kita saat itu menjadi negara yang banyak uang. Lalu, ketika keuangan negara berlimpah, beliau (Soeharto) mulai berpikir apa yang beliau anggap tidak tepat. Yaitu seolah-olah segalanya bisa dicapai dengan uang," kata Solihin. Mulailah Solihin merasa memiliki perbedaan pendapat. Orang-orang yang punya uang bisa langsung menjadi tokoh, tanpa tahu dari mana uangnya. "Pahamlah saya bahwa kami sudah berbeda pola pikir. Saya yang pernah berpikir bahwa beliau adalah Presiden terbaik, seketika itu juga lalu merasa ia adalah the worst president in the world," tuturnya.

Masa tuaSunting

Terkena StrokeSunting

Solihin terbaring sakit dan dilarikan ke RS Advent, Bandung pada 4 Juni 2017.[12] Diagnosa dokter, beliau terkena serangan stroke. Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil menjenguk pria yang akrab disapa Mang Ihin pada 9 Juni 2017.

Kisah cinta dengan istriSunting

Kisah cinta Solihin dengan istrinya, Maryam Harmain terbilang mirip dengan kisah cinta Habibie Ainun.[13] Hal ini dibuktikan saat mereka berdua dirawat di RS Borremus Bandung, mereka berdua tampak bermesraan dan Solihin juga tampak menggenggam tangan istri.

Silaturahmi dari tokoh hingga pejabatSunting

Dijenguk Wakil Presiden Jusuf KallaSunting

Wakil Presiden Jusuf Kalla menjenguk Solihin yang sedang terbaring sakit pada 10 Juni 2017.[14] Solihin berpesan kepada Jusuf Kalla untuk meneruskan dan menjaga NKRI dan Pancasila.

Silaturahmi Presiden Joko WidodoSunting

Pada 22 Februari 2018, disela-sela kunjungan kerja, Presiden Joko Widodo bersilaturahmi dengan Mang Ihin, tokoh Jawa Barat.[15] Mang Ihin berpesan agar revitalisasi daerah aliran Sungai Citarum dilaksanakan dengan tuntas. Mereka juga membahas mengenai Pilkada 2018 di Jawa Barat.

Sowan dari Ridwan KamilSunting

Calon Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil sowan dengan Solihin, sekaligus menyampaikan hasil Quick Count yang menyatakan Ridwan Kamil unggul di Pilkada Jawa Barat 2018.[16] Solihin berpesan agar tim kampanye dari Ridwan Kamil terus memantau hasil akhir Pilkada dan tidak merayakan eufimoria berlebihan dalam merespon hasil quick count.

Kunjungan dari Luhut Binsar PanjaitanSunting

Solihin menerima kunjungan dari Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan pada 30 Januari 2019.[17] Solihin marah dengan Luhut dikarenakan ia berjanji mengunjunginya namun tidak datang, padahal istrinya saat itu sudah memasak sop buntut. Meski begitu, Solihin berpesan agar selalu menjaga kata dan perbuatan. Selain itu, ia juga berpesan bahwa Indonesia harus tenang, damai, jangan ada kampanye seram. Menurutnya, merdeka itu bukan untuk seram-seram, ideologi Pancasila tidak perlu lagi dipermasalahkan dan Pancasila sendiri sudah menyelesaikan masalah.

Lihat pulaSunting

RujukanSunting

  1. ^ “Gautama, Ayo Ikut Mencari Kapten Solihin!” destinasianews.com (24/9/2019)
  2. ^ Buku tentang Solihin GP http://issuu.com/dpklts/docs/solihin_gp_the_trouble_shooter
  3. ^ Koesoemadinata, Iyan, S. (2005). The TROUBLE SHOOTER 80 tahun Solihin G.P.‎ Bandung: FDWB & DPKLTS
  4. ^ http://www.akmil.ac.id/index.php?option=com_content&view=section&id=15&Itemid=75
  5. ^ http://bukan-tokohindonesia.blogspot.co.id/2009/05/solihin-gautama-porwanegara-berpikir.html
  6. ^ http://www.merdeka.com/peristiwa/ketika-gubernur-jabar-merasa-dilecehkan-ali-sadikin.html
  7. ^ http://soeharto.co/1970-05-06-presiden-soeharto-bahas-ruu-perimbangan-keuangan-pusat-daerah
  8. ^ http://soeharto.co/timeline-incognito-pak-harto/
  9. ^ http://soeharto.co/soeharto-presiden-desakan-jenderal-nasution-kepada-bung-karno
  10. ^ http://soeharto.co/1970-02-18-mempertemukan-tim-pemberantasan-korupsi
  11. ^ Solihin GP, gubernur merakyat ajak Soeharto mandi di sungai Merdeka.com (24/2/2013). Diakses tanggal 6 Juni 2020
  12. ^ Kena Stroke, Mantan Gubernur Jabar Solihin GP Dirawat di RS Detik.com (9/6/2017). Diakses tanggal 6 Juni 2020
  13. ^ Mantan Gubernur Jawa Barat, Solihin GP dan Istri Masuk RS, Kisah Cintanya Mirip Ainun dan Habibie hargo.co.id (28/7/2018). Diakses tanggal 6 Juni 2020
  14. ^ Dijengkuk Wapres JK, Solihin GP bicarakan NKRI dan Pancasila Merdeka.com (10/6/2017). Diakses tanggal 6 Juni 2020
  15. ^ Jokowi Temui Solihin GP Bahas Pilkada Jabar hingga Citarum Detik.com (22/2/2018). Diakses tanggal 6 Juni 2020
  16. ^ Unggul di Pilgub Jabar, Ridwan Kamil sowan dan dititipkan 2 pesan dari Solihin GP Merdeka.com (28/6/2018). Diakses tanggal 6 Juni 2020
  17. ^ Gara-gara Pernah Dimarahi, Luhut Binsar Akhirnya Kunjungi Kediaman Solihin GP Tribunnews.com (30/1/2019). Diakses tanggal 6 Juni 2020
Jabatan politik
Didahului oleh:
Mayor Jenderal (Purn) Mashudi
Gubernur Jawa Barat
1970-1975
Diteruskan oleh:
Mayor Jenderal (Purn) Aang Kunaefi
Jabatan militer
Didahului oleh:
Mayor Jenderal Achmad Tahir
Gubernur Akademi Militer
1968-1970
Diteruskan oleh:
Mayor Jenderal Sarwo Edhie Wibowo
Didahului oleh:
Brigadir Jenderal M. Jusuf
Panglima Komando Daerah Militer XIV/Hasanuddin
1960 - 1965
Diteruskan oleh:
Brigadir Jenderal Sayidiman Suryohadiprojo