Kota Kefamenanu, Timor Tengah Utara

kecamatan di Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur
(Dialihkan dari Kefamenanu)

Kota Kefamenanu adalah sebuah Kecamatan yang juga merupakan pusat pemerintahan (ibu kota) Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Kota yang biasa dipanggil dengan sebutan Kefa ini terletak di Lembah Bikomi, sehingga tidak banyak sinyal dapat masuk ke kota ini. Luas kecamatan ini sekitar 74,00 km2 dengan jumlah penduduk tahun 2020 sebanyak 43.177 jiwa, dan kepadatan penduduk 583 jiwa/km2.[1]

Kota Kefamenanu
Negara Indonesia
ProvinsiNusa Tenggara Timur
KabupatenTimor Tengah Utara
Populasi
 • Total43,177 (2.020) jiwa
Kode Kemendagri53.03.05 Edit the value on Wikidata
Luas74,00 km2
Desa/kelurahan9 kelurahan

Kefamenanu dikenal sebagai "Kota Pendidikan Kedua". Arti dari Kota Pendidikan adalah kota ini memiliki sebuah universitas negeri sendiri, sedangkan Kedua adalah karena kota ini mempunyai universitas kedua di Pulau Timor, selain Universitas Nusa Cendana di Kupang. Kota ini juga merupakan salah satu kota di Timor Barat yang menampung pengungsi dari Timor Timur saat Konflik Timor Leste, 1998-2002. Kota dan kabupaten ini dilayani oleh Keuskupan Atambua, yang berada di Atambua, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

SejarahSunting

 
Bundaran Biinmafo, dengan latar belakang Kantor DPR Kabupaten Timor Tengah Utara

Kota Kefamenanu adalah sebuah kota kecil di Lembah Bikomi, yang didirikan oleh Belanda pada tanggal 22 September 1922. Kota ini kemudian dijadikan sebagai ibu kota Pemerintahan Belanda yang disebut Onderafdeling Noord-Midden Timor. Lahirnya Kota Kefamenanu tidak lepas dari usaha Belanda untuk menguasai Pulau Timor seluruhnya. Namun niatnya itu terganjal karena sudah bercokol lebih dahulu Portugis di ujung timur Pulau Timor dan sebagian wilayah utara, yang kini dikenal dengan nama Oecussi-Ambeno. Selain itu beberapa raja kecil bersekutu dengan Portugis untuk melawan Belanda. Dan sudah pasti dibayangkan, terjadi beberapa kali perang dan pemberontakan yang dilakukan oleh raja Timor dibantu Portugis.

Topasses (Portugis Hitam) yang menguasai bagian utara Pulau Timor dan beberapa wilayah lainnya berusaha menghalangi langkah Belanda masuk ke pedalaman Timor. Namun usahanya gagal karena hubungan mesranya dengan beberapa raja retak. Konflik ini akibat perebutan 'lahan' dalam perdagangan kayu cendana dan lilin. Beberapa raja kecil memihak Belanda.

Sebelumnya, Belanda sedang mengincar Raja Sonbay di Bijela. Sonbay adalah raja yang punya kharisma dan sangat disegani oleh raja-raja Timor lainnya. Dia juga yang mempengaruhi raja-raja kecil lainnya untuk memberontak kepada Belanda. Tersebutlah, sebuah kerajaan kecil di kaki Gunung Miomaffo, yang sangat taat dan loyal kepada Sonbay. Kerajaan ini disebut Kerajaan Us Kono atau Ama Kono. Keturunan Kono dan Oematan yang berkuasa di Kerajaan Miomaffo, memerintah dari generasi ke generasi. Ibu kota kerajaan ini terletak di puncak bukit dan beberapa tempat, kemudian pindah ke Kampung Noetoko. Kampung Noetoko terletak di delta Sungai Noenoni dan Noeniti. Namun kemudian Kono dan Oematan dan rakyatnya memberontak melawan Sonbay, lewat sebuah revolusi berdarah, yaitu Revolusi Letaes'am.

Revolusi tersebut bersumber dari kekejaman Raja Sonbay di Oenam, yang sering meminta persembahan gadis-gadis belia yang cantik dan menjadikan nyawa manusia yaitu rakyatnya sebagai korban persembahan kepada Dewa dalam pesta persembahan hasil panen (tama maus, mau sufa). Usai melakukan pemberontakan, Kono meminta perlindungan Belanda di Kupang dan Niki-niki. Jadi ia memerintah kerajaannya dibantu Belanda. Bahkan ia membantu Belanda menangkap Sonbay.

Kendati beberapa keturunan Sonbay dan para meo (panglima perang) ditangkap dan dibunuh, kekuasaan Sonbay tidak juga berakhir. Salah satu keturunan Sonbay melarikan diri ke Mollo (Kapan/TTS) dan mendirikan sebuah kerajaan di sana. Belanda tidak tinggal diam. Ia terus mengejar Sonbay dan keturunannya ke Mollo hingga masuk ke wilayah Miomaffo. Pengejaran itu dipimpin oleh Letnan Connmestz. Karena jatuh kasihan, Raja Kono melindungi keturunan Sonbay ini, yang dikenal dengan julukan Sobe Sonbay Ana. Ia kemudian berganti nama menjadi Sobe Kono agar tidak dicari dan ditangkap Belanda. Ia pun hidup aman dan terlindung di Noetoko.

Karena gagal mencari keturunan Sonbay, maka Letnan Connmestz melakukan gencatan senjata dengan para meo dan Raja Kono. Selanjutnya, atas izin Raja Kono, Letnan Connmestz mendirikan markas militernya di Noetoko pada tahun 1909. Kemudian Belanda menjadikan Noetoko sebagai pusat Pemerintahan Militer Belanda yang disebut Onderafdeling Noord Midden Timor. Diangkatlah Letnan Z. Steinmetz sebagai Controleur Landshoofd Noord-Midden Timor. Namun, karena letak geografisnya yang sulit dan sempit, Noetoko dianggap kurang pas dijadikan pusat pemerintahannya.

Pengganti Letnan Steinmetz, yaitu Letnan Sketel Olifielt, mencoba mencari wilayah yang dianggap pas untuk dijadikan sebagai kota dan pusat Pemerintahan Militer Belanda. Ia membawa pasukannya mengembara menuju Nilulat, Oefui, Ukimnatu, Fatuknapa, Ekat, Oeapot, Faotsuba, Oeekam, Nunpene, hingga Kampung Matmanas (wilayah ini terletak di belakang Pasar Baru Kefamenanu sekarang). Di sini Letnan Sketel sempat mendirikan markas militer di tepi Sungai Benpasi. Bekas reruntuhan bangunan markas itu masih ada sampai sekarang. Karena takut banjir dari Sungai Benpasi, Letnan Sketel memindahkan lagi markasnya ke Tele (sekarang kota lama di belakang Tangsi Polisi Lama).

Dalam suatu kesempatan, seorang komandan regu Belanda berkuda mengelilingi wilayah sekitar Tele yang masih terdiri dari hutan lebat. Ia hendak mencari sumber air. Kemudian ia berjumpa dengan seorang warga ( rakyat dari Usif Bana yang sedang menggembalakan sapi dan tinggal di sekitar celukan anak sungai tersebut yang disebut Nuntaen ) dan bertanya dalam bahasa Melayu, "Di mana ada sumber air? Dan warga yang ditanya tersebut dengan setengah mengerti menunjuk ke sebuah arah sambil menyebut: "Kefa'mnanu!". Sang komandan regu Belanda itu berjalan menuju arah yang ditunjuk, yaitu sebuah tebing jurang yang terjal (sekarang di halaman belakang rumah almarhum Laurens Ogom, di Gua Aplasi).

Ia sangat terkejut ketika menjumpai sebuah pemandangan yang sangat indah. Yaitu sebuah kolam air dari sebuah pusaran air dari tebing yang curam. Air terjun ini menghempas dalam kolam dan membentuk liukan pusaran seperti perut ayam. Pengalaman ini diceritakan komandan itu kepada semua orang. Dan akhirnya tempat itu diberi nama Kefamenanu (setelah disesuaikan dengan idiolek Bahasa Belanda).

Merasa sangat cocok, maka pada tanggal 22 September 1922, ibu kota Pemerintahan Militer Belanda (Onderafdeeling Noord Midden Timor) di Noetoko pindah ke Kefamenanu. Dan pada tahun 1923, Kantor Onderafdeeling Noord Midden Timor dibangun oleh Tuan Peddemons. Dan gedung Kantor Onderafdeeling Noord Midden Timor sempat dijadikan Kantor Bupati TTU oleh mantan Bupati TTU pertama, Petrus Salasa. Sekarang gedung ini dijadikan sebagai kantor Arsip Daerah Kabupaten TTU.

GeografiSunting

Batas KotaSunting

DemografiSunting

Jumlah penduduk tahun 2020 berjumlah 43.177 jiwa, dimana laki-laki sebanyak 21.694 jiwa dan perempuan sebanyak 21.483 jiwa. Kota Kefamenanu memiliki 300 Rukun Tetangga (RT) dan 63 Rukun Warga (RW).[1] Penduduk asli Timor Tengah Utara ialah suku Timor, Tetum, dan Dawan, demikian juga yang ada di kecaamatan ini, serta ada suku pendatang lain seperti dari Jawa, dari Timor Leste, dan lainnya.[2] Sementara itu, bahasa yang digunakan di kawasan ini selain bahasa Indonesia, penduduk lokal memakai bahasa Timor.[2]

Salah satu ritual adat yang masih melekat di Timor Tengah Utara ialah ritual adat Tulu Nekak Ansaof Neu Ahonit Ma Ataos Amoet Apakaet. Ritual ini dilakukan oleh para ketua adat di tiga wilayah besar yakni, Insana, Miomaffo dan Biboki, yang di dalamnya terdapat 18 kevetoran dan Raja Sonbai. Dalam ritual, mereka akan menyembelih seekor kerbau besar. Selain kerbau, tokoh adat juga akan memberi sesajian berupa sirih pinang, seekor ayam, sebotol minuman lokal dan beberapa keping uang perak. Ritual ini merupakan simbol penyerahan diri kepada leluhur orang Timor.[2]

Dalam bidang keagamaan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik kabupaten Timor Tengah Utara 2020 mencatat bahwa warga yang memeluk agama Kristen sebanyak 89,99%, dimana Katolik 68,94% (29.767 jiwa) dan Protestan 21,05% (9.089 jiwa). Selebihnya memeluk agama Islam 9,73% (4.203 jiwa), Hindu 0,27% (115 jiwa), umumnya warga yang berasal dari Bali, dan Budha 0,01% (3 jiwa).[1]

PekerjaanSunting

Data usia kerja penduduk memiliki beragam macam atau jenis pekerjaan. Data tahun 2020 mencatat bahwa pada umumnya penduduk bekerja sebagai petani, dan sebagian sebagai Pegawai Negeri Sipil, pegawai swasta, pensiunan, wiraswasta, TNI dan polisi, buruh dan pekerjaan lainnya.[1]

PendidikanSunting

Ditahun 2020, kota Kefamenanu memiliki 8 sekolah untuk tingkat Taman Kanak-Kanak, dengan 584 murid dan 32 guru (11 PNS dan 21 Non PNS). Kemudian tingkat Sekolah Dasar memiliki 14 sekolah Negeri dengan jumlah 3.107 murid, dan 257 guru, serta 10 sekolah swasta dengan jumlah 3.362 murid, dan 181 guru. Kemudian tingkat Sekolah Menengah Pertama memiliki 6 sekolah dengan jumlah murid 1.947 siswa, dan 162 guru, serta 6 sekolah swasta dengan jumlah murid 1.605 siswa dan 131 guru. Sementara untuk tingkat Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri, memiliki 5 sekolah dengan jumlah murid 2.813 siswa dan 230 guru, serta swasta memiliki 10 sekolah dengan jumlah murid 2.127 siswa dan 192 guru.[1]

Pers dan MediaSunting

RadioSunting

Di kota ini, terdapat 2 stasiun Radio, yakni:

  1. RRI Atambua (FM 90.7 MHz)
  2. Radio Siaran PemDa Timor Tengah Utara

ReferensiSunting

  1. ^ a b c d e "Kecamatan Kota Kefamenanu Dalam Angka 2020" (pdf). www.timortengahutarakab.bps.go.id. Diakses tanggal 8 Oktober 2020. 
  2. ^ a b c "Ritual Adat Tulu Nekak Ansaof Neu, Simbol Penyerahan Diri Kepada Leluhur Orang Timor". www.liputan6.com. Diakses tanggal 8 Oktober 2020.