Buka menu utama

Bandar Udara Internasional Ngurah Rai

bandar udara di Indonesia
(Dialihkan dari Bandara Ngurah Rai)

Bandar Udara Internasional Ngurah Rai (bahasa Inggris: Ngurah Rai International Airport) (IATA: DPSICAO: WADD) atau disebut juga Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai adalah bandar udara internasional yang terletak di sebelah selatan Bali, Indonesia, tepatnya di daerah Kelurahan Tuban, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, sekitar 13 km dari Denpasar. Bandar Udara Internasional Ngurah Rai merupakan bandara tersibuk kedua di Indonesia, setelah Bandara Internasional Soekarno-Hatta.[1]

Bandar Udara Internasional Ngurah Rai

Ngurah Rai International Airport
Igustingurahraiairportlogo.png
Bali Airport Denpasar Birds View.jpg
Bandara Ngurah Rai pada tahun 2008
Informasi
JenisPublik
PemilikPemerintah Indonesia
PengelolaAngkasa Pura I
MelayaniDenpasar
LokasiKabupaten Badung, Bali, Indonesia
Dibuka1932
Maskapai penghubung
Maskapai utama
Ketinggian dpl14 kaki / 4 m
Koordinat08°44′53″S 115°10′03″E / 8.74806°S 115.16750°E / -8.74806; 115.16750Koordinat: 08°44′53″S 115°10′03″E / 8.74806°S 115.16750°E / -8.74806; 115.16750
Situs webhttp://www.bali-airport.com/
Peta
DPS berlokasi di Denpasar
DPS
DPS
DPS berlokasi di Bali
DPS
DPS
DPS (Bali)
DPS berlokasi di Indonesia
DPS
DPS
DPS (Indonesia)
DPS berlokasi di Southeast Asia
DPS
DPS
DPS (Southeast Asia)
Landasan pacu
Arah Panjang Permukaan
kaki m
09/27 9.843 3.100 Aspal
Statistik (2019)
Penumpang50.790.190 ( 15,0%)
Pergerakan Pesawat272.689 ( 41,1%)
Pesawat DC-3 Dakota Belanda di lapangan terbang Kuta tahun 1949
Bandara Ngurah Rai.

Nama bandara ini diambil dari nama I Gusti Ngurah Rai, seorang pahlawan Indonesia dari Bali.

SejarahSunting

Bandar Udara Ngurah Rai dibangun tahun 1930 oleh Departement Voor Verkeer en Waterstaats (semacam Departemen Pekerjaan Umum). Landas pacu berupa airstrip sepanjang 700 m dari rumput di tengah ladang dan pekuburan di desa Tuban. Karena lokasinya berada di Desa Tuban, masyarakat sekitar menamakan airstrip ini sebagai Pelabuhan udara Tuban.[2] Tahun 1935 sudah dilengkapi dengan peralatan telegraph dan  KNILM (Koninklijke Nederlands Indische Luchtvaar Maatschappij) atau Royal Netherlands Indies Airways mendarat secara rutin di South Bali (Bali Selatan), yang merupakan nama lain dari Pelabuhan Udara Tuban.
Tahun 1942 South Bali Airstrip dibom oleh Tentara Jepang, yang kemudian dikuasai untuk tempat mendaratkan pesawat tempur dan pesawat angkut mereka. Airstrip yang rusak akibat pengeboman diperbaiki oleh Tentara Jepang dengan menggunakan Pear Still Plate (sistem plat baja).
Lima tahun berikutnya 1942–1947, airstrip mengalami perubahan. Panjang landas pacu menjadi 1,2 km dari semula 700 m. Tahun 1949 dibangun gedung terminal dan menara pengawas penerbangan sederhana yang terbuat dari kayu. Komunikasi penerbangan menggunakan transceiver kode morse.[2]
Untuk meningkatkan kepariwisataan Bali, Pemerintah Indonesia kembali membangun gedung terminal internasional dan perpanjangan landas pacu kearah barat yang semula 1,2 km menjadi 2,7 km dengan overrun 2×100 meter. Proyek yang berlangsung tahun 1963–1969 diberi nama Proyek Airport Tuban dan sekaligus sebagai persiapan internasionalisasi Pelabuhan Udara Tuban.
Proses reklamasi pantai sejauh 1,5 km dilakukan dengan mengambil material batu kapur yang berasal dari Ungasan dan batu kali serta pasir dari Sungai Antosari – Tabanan.
Seiring selesainya temporary terminal dan runway pada Proyek Airport Tuban, pemerintah meresmikan pelayanan penerbangan internasional di Pelabuhan Udara Tuban, tanggal 10 Agustus 1966.[2]
Penyelesaian Pengembangan Pelabuhan Udara Tuban ditandai dengan peresmian oleh Presiden Soeharto pada tanggal 1 Agustus 1969, yang sekaligus menjadi momen perubahan nama dari Pelabuhan Udara Tuban menjadi Pelabuhan Udara Internasional Ngurah Rai (Bali International Airport Ngurah Rai).
Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang dan kargo, maka pada tahun 1975–1978 Pemerintah Indonesia kembali membangun fasilitas-fasilitas penerbangan, antara lain dengan membangun terminal internasional baru. Gedung terminal lama selanjutnya dialihfungsikan menjadi terminal domestik, sedangkan terminal domestik yang lama digunakan sebagai gedung kargo, usaha jasa katering, dan gedung serba guna.[2]

Pengembangan fasilitas Bandara dan Keselamatan Penerbangan (FBUKP) Tahap ISunting

Proyek FBUKP tahap I (1990–1992)  meliputi Perluasan Terminal yang dilengkapi dengan garbarata (aviobridge), perpanjangan landas pacu menjadi 3 km, relokasi taxiway, perluasan apron, renovasi dan perluasan gedung terminal, perluasan pelataran parkir kendaraan, pengembangan gedung kargo, gedung operasi serta pengembangan fasilitas navigasi udara dan fasilitas catu bahan bakar pesawat udara.[2]

Pengembangan fasilitas Bandara dan Keselamatan Penerbangan (FBUKP) Tahap IISunting

Proyek FBUKP tahap II (1998–2000), pengembangan bandara dikerjakan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, antara lain dengan memanfaatkan hutan bakau seluas 12 ha untuk digunakan sebagai fasilitas keselamatan penerbangan.[2]

Pengembangan fasilitas Bandara dan Keselamatan Penerbangan (FBUKP) Tahap IIISunting

Rencana Proyek FBUKP tahap III meliputi Pengembangan Gedung Terminal, Gedung Parkir, dan Apron. Luas terminal domestik saat ini hanya akan dikembangkan hingga total luasnya mencapai 12.000 m² yang nantinya akan digunakan sebagai terminal internasional. Adapun eksisting terminal internasional akan dialihfungsikan menjadi terminal domestik. Dengan kondisi tersebut, Bandara Ngurah Rai akan mampu menampung hingga 25 juta penumpang.[2]

TerminalSunting

Bandara ini memiliki satu terminal domestik dan satu terminal internasional.

Terminal DomestikSunting

Saat ini, terminal domestik menempati area terminal internasional lama. Terminal domestik keberangkatan memiliki 8 gerbang, gerbang 1A, 1B, 1C, 2, 3, 4, 5, dan 6. Terminal domestik kedatangan memiliki 4 pengambilan bagasi.

Terminal InternasionalSunting

 
Area pengambilan bagasi terminal kedatangan internasional Bandara Ngurah Rai, Bali

Terminal internasional sudah selesai direnovasi. Untuk keberangkatan berada di lantai 3 dan kedatangan ada di lantai 1. Terminal internasional keberangkatan memiliki 14 gerbang. Gerbang 1A, 1B, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9A, dan 9B berada di lantai 3 dan gerbang 10, 11, dan 12 ada di lantai 1. Untuk gerbang keberangkatan internasional difasilitasi garbarata (aviobridge). Terminal internasional kedatangan memiliki 7 pengambilan bagasi.[3] Terdapat pula fasilitas Visa on Arrival (VOA) dan imigrasi serta bea cukai (custom) di area kedatangan internasional.

Maskapai Penerbangan dan TujuanSunting

Penumpang

MaskapaiTujuan
Air New Zealand Musiman: Auckland
AirAsia Kuala Lumpur–Internasional
AirAsia Philippines Manila
AirAsia X Kuala Lumpur–Internasional
Air India Chennai, Delhi, Kolkata, Mumbai
Batik Air Balikpapan, Chennai, Guilin, Jakarta—Soekarno—Hatta,

Kuala Lumpur–Internasional, Kunming, Labuan Bajo, Perth, Samarinda, Surabaya, Yogyakarta–Internasional

Cathay Dragon Hong Kong
Cathay Pacific Hong Kong
Cebu Pacific Manila
China Airlines Taipei–Taoyuan
China Eastern Airlines Beijing–Ibu Kota, Shanghai–Pudong
China Southern Airlines Guangzhou, Shenzhen
Citilink Balikpapan, Dili, Jakarta—Halim Perdanakusuma, Jakarta—Soekarno—Hatta, Kuala Lumpur–Internasional, Kunming, Makassar, Mataram–Lombok, Perth, Samarinda, Surabaya, Yogyakarta–Adisutjipto
Charter: Nanjing, Ningbo, Wenzhou, Wuxi
Emirates Auckland, Dubai—Internasional
Etihad Airways Abu Dhabi
EVA Air Taipei–Taoyuan
Garuda Indonesia Beijing—Ibu Kota, Chengdu, Ende, Guangzhou, Hong Kong, Jakarta–Halim Perdanakusuma, Jakarta–Soekarno–Hatta, Jayapura, London–Heathrow[a], Kupang, Labuan Bajo, Makassar, Mataram–Lombok, Maumere, Melbourne, Osaka—Kansai, Palembang, Perth, Semarang, Seoul—Incheon, Shanghai—Pudong, Singapura, Surabaya, Sydney, Tambolaka, Timika, Tokyo—Narita, Warsawa–Chopin[b], Xi'an, Yogyakarta–Adisutjpto, Zhengzhou
Charter: Kunming, Pulau Natal, Shenyang
Hong Kong Airlines Hong Kong
Indonesia AirAsia Bangkok—Don Mueang, Jakarta–Soekarno–Hatta, Kertajati, Kuala Lumpur—Internasional, Kupang, Labuan Bajo, Mataram–Lombok, Perth, Singapura, Surabaya, Surakarta/Solo, Yogyakarta–Adisutjipto
Jetstar Airways Adelaide, Brisbane, Cairns, Darwin, Melbourne, Perth, Singapura, Sydney
Jetstar Asia Airways Singapura
KLM Amsterdam, Singapura
Korean Air Seoul–Incheon
Lion Air Jakarta–Soekarno–Hatta, Kertajati, Kupang, Mataram–Lombok, Makassar, Manado, Surabaya, Surakarta/Solo, Yogyakarta–Adisutjipto
Charter: Changsha, Changzhou, Chengdu, Chongqing, Guangzhou, Haikou, Hangzhou, Harbin, Hefei, Hong Kong, Jinan, Nanchang, Sanya, Shenzhen, Tianjin, Ürümqi, Wenzhou, Wuhan, Xi'an, Zhengzhou
LOT Polish Airlines Charter Musiman: Warsawa—Chopin
Mahan Air Charter Musiman: Tehran–Imam Khomeini
Malaysia Airlines Kuala Lumpur–Internasional
Malindo Air Adelaide, Brisbane, Kuala Lumpur–Internasional, Melbourne, Sydney
NAM Air Bima, Dili, Mataram–Lombok, Labuan Bajo, Semarang, Surabaya, Tambolaka, Yogyakarta–Adisutjipto, Yogyakarta–Internasional
Philippine Airlines Manila
Qantas Melbourne, Sydney
Qatar Airways Doha
Rossiya Airlines Moskow–Sheremetyevo
Royal Brunei Airlines Bandar Seri Begawan
Royal Flight Charter Musiman: Moskow–Sheremetyevo
Scoot Singapura
Shanghai Airlines Shanghai–Pudong
Shenzhen Airlines Shenzhen
SilkAir Singapura
Singapore Airlines Singapura
Sriwijaya Air Dili, Jakarta—Soekarno—Hatta, Makassar, Surabaya
Charter: Changsha, Fuzhou, Guangzhou, Haikou, Hangzhou, Hefei, Nanjing, Nanning, Quanzhou, Wuhan, Zhangjiajie
Thai AirAsia Bangkok–Don Mueang
Thai Airways Bangkok–Suvarnabhumi
Thai Lion Air Bangkok–Don Mueang
Thai Vietjet Air Bangkok–Suvarnabhumi
Thomas Cook Airlines Charter Musiman: London–Gatwick
TransNusa Ende, Labuan Bajo, Ruteng, Tambolaka
Turkish Airlines Istanbul
VietJet Air Kota Ho Chi Minh
Virgin Australia Brisbane, Port Hedland, Sydney
Musiman: Darwin
Wings Air Bandung, Bima, Ende, Jakarta–Halim Perdanakusuma, Kupang, Labuan Bajo, Malang, Mataram–Lombok, Maumere, Semarang, Tambolaka, Waingapu
Xiamen Airlines Xiamen
  1. ^ Transit di Medan
  2. ^ Transit di Medan

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

Pranala luarSunting