Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara

Angkatan Udara Militer Indonesia

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (atau biasa disingkat TNI Angkatan Udara atau TNI-AU) adalah salah satu cabang angkatan perang dan merupakan bagian dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang bertanggung jawab atas operasi pertahanan negara Republik Indonesia di udara.

Tentara Nasional Indonesia
Angkatan Udara
Insignia of the Indonesian Air Force.svg
Lambang TNI Angkatan Udara
Dibentuk9 April 1946
Negara Indonesia
Tipe unitAngkatan Udara
Jumlah personel37,850 personel
224 pesawat[1]
Bagian dariTentara Nasional Indonesia
MotoSwa Bhuwana Paksa
(Bahasa Sanskerta: "Sayap Tanah Airku")
BARET BIRU 
Ulang tahun9 April
Pesawat dan helikopter631[2] (2012)
Pertempuran
Situs webwww.tni-au.mil.id
Tokoh
Kepala StafMarsekal TNI Fadjar Prasetyo
Wakil Kepala StafMarsekal Madya TNI Agustinus Gustaf Brugman
Insignia
Roundel & Fin FlashRoundel of Indonesia.svg Flag of Indonesia.svg
Roundel 1946-1949Roundel of Indonesia (1946–1949).svg
BenderaFlag of the Indonesian Air Force.svg
Pesawat tempur
Pesawat serbuSu-30, F-16, Hawk Mk. 209
Pesawat tempurSu-27, Su-30, F-16, T-50 Golden Eagle
Pesawat penyergapSu-27, F-16
Pesawat patroli737-2X9 Surveiller, CN235MPA, C-295MPA, NC-212MPA
Pesawat pengintaiEMB-314
Pesawat latihKT-1, Hawk Mk.109, T-34, AS/SA-202, T-50 Golden Eagle, Su-30
Pesawat pengangkutC-130, CN-235, CASA-C-295, F-27, F-28, C-212, Boeing 737-400, Boeing 737-BBJ2

TNI Angkatan Udara pada awalnya merupakan bagian dari TNI Angkatan Darat yang dulunya bernama Tentara Keamanan Rakyat (TKR Jawatan Penerbangan). TNI Angkatan Udara dibentuk dan mulai berdiri sendiri pada tanggal 9 April 1946 bersamaan dengan dibentuknya Tentara Republik Indonesia (TRI Angkatan Udara) sesuai dengan Penetapan Pemerintah Nomor 6/SD Tahun 1946.

TNI Angkatan Udara dipimpin oleh seorang Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) yang menjadi pemimpin tertinggi di Markas Besar Angkatan Udara (MABESAU). KASAU saat ini dijabat oleh Marsekal TNI Fadjar Prasetyo.

Kekuatan TNI-AU saat ini memiliki 3 Komando Operasi Udara Nasional (Koopsudnas) yaitu Komando Operasi Angkatan Udara I (Koops AU I) yang bermarkas di Jakarta Timur, Komando Operasi Angkatan Udara II (Koops AU II) yang bermarkas di Makassar, dan Komando Operasi Angkatan Udara III (Koops AU III) yang bermarkas di Biak, serta Komando Pemeliharaan Materiil Angkatan Udara (Koharmatau). TNI Angkatan Udara juga memiliki satuan khusus, yang disebut dengan Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (Paskhas TNI-AU), Pasukan ini terkenal dengan sebutan Korps Baret Jingga.

TNI Angkatan Udara saat ini memiliki 37.850 personel dan dilengkapi dengan 110 pesawat tempur. Pesawat tempur tersebut termasuk lima Su-27 dan sebelas Su-30 sebagai pesawat tempur utama (dari Rusia) ditambah dengan 33 F-16 Fighting Falcons (dari Amerika Serikat), Hawk 200, KAI T-50 dan Embraer EMB314.[3]. [4][5]

SejarahSunting

TNI AU lahir dengan dibentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada Tanggal 22 Agustus 1945, yang merupakan salah satu dari keputusan yang dihasilkan oleh PPKI. BKR bertugas menjaga terjaminnya keamanan dan ketertiban umum.[6]

Guna memperkuat Armada Udara yang saat itu berkekurangan pesawat terbang dan fasilitas-fasilitas lainnya. pada tanggal 5 Oktober 1945 berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) jawatan penerbangan di bawah Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma.

Pada tanggal 23 Januari 1946 TKR ditingkatkan lagi menjadi TRI, sebagai kelanjutan dari perkembangan tunas Angkatan Udara. Pada tanggal 9 April 1946, TRI jawatan penerbangan dihapuskan dan diganti menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia, yang kini diperingati sebagai hari lahirnya TNI AU yang diresmikan bersamaan dengan berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Agresi Militer Belanda IISunting

Pada 29 Juli 1947 tiga kadet penerbang TNI AU masing-masing Kadet Muljono, Kadet Suharnoko Harbani dan Kadet Sutarjo Sigit dengan menggunakan dua pesawat Cureng dan satu Guntei berhasil melakukan pengeboman terhadap kubu-kubu pertahanan Belanda di tiga tempat, masing-masing di kota Semarang, Salatiga, dan Ambarawa.

Modal awal TNI AU adalah pesawat-pesawat hasil rampasan dari tentara Jepang seperti jenis Cureng, Nishikoren, serta Hayabusha. Pesawat-pesawat inilah yang merupakan cikal bakal berdirinya TNI AU. Setelah keputusan Konferensi Meja Bundar tahun 1949, TNI AU menerima beberapa aset Angkatan Udara Belanda meliputi pesawat terbang, hanggar, depo pemeliharaan, serta depot logistik lainnya. Beberapa jenis pesawat Belanda yang diambil alih antara lain C-47 Dakota, B-25 Mitchell, P-51 Mustang, AT-6 Harvard, PBY-5 Catalina, dan Lockheed L-12.

TALOASunting

Tahun 1950, TNI AU mengirimkan 60 orang calon penerbang ke California Amerika Serikat, mengikuti pendidikan terbang pada Trans Ocean Airlines Oakland Airport (TALOA).

1960Sunting

TNI AU mengalami popularitas nasional tinggi saat dipimpin oleh KASAU Kedua Marsekal Madya TNI Omar Dhani awal 1960-an. Beberapa pesawat buatan Uni Soviet mulai berdatangan pada awal 1960-an termasuk MiG-15UTI dari Cekoslowakia, MiG-17F / PF, MiG-19S dan MiG-21F-13, ditambah dengan datangnya Ilyushin Il-28, Mil Mi-4, Mil Mi-6, Antonov An-12 dan Avia 14 juga dari Cekoslowakia. Indonesia juga mendatangkan Lavochkin La-11. Beberapa Tupolev Tu-2 dari Tiongkok juga didatangkan dengan maksud untuk menggantikan B-25, namun pesawat ini tidak pernah mencapai status operasional. Pesawat-pesawat ini dioperasikan secara bersamaan dengan sisa pesawat Amerika seperti North American B-25 Mitchell, Douglas A-26 Invader, Douglas C-47 Dakota, dan North American P-51 Mustang.

Selama periode inilah Angkatan Udara Indonesia menjadi Angkatan Udara pertama di Asia Tenggara yang memperoleh kemampuan pengeboman strategis dengan membeli Tupolev Tu-16 baru pada tahun 1961, sebelum akuisisi Ilyushin Il-28 oleh Angkatan Udara Rakyat Vietnam. Sekitar 25 Tu-16KS dikirim lengkap dengan peluru kendali udara ke permukaan AS-1.

1980Sunting

TNI AU memperbarui armadanya pada awal tahun 1980-an dengan kedatangan pesawat OV-10 Bronco, A-4 Sky Hawk, F-5 Tiger, F-16 Fighting Falcon, dan Hawk 100/200.

OrganisasiSunting

TNI Angkatan Udara adalah merupakan bagian dari Tentara Nasional Indonesia. Organisasi TNI Angkatan Udara disusun berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2019. Markas Besar Tentara Nasional Indonesia membawahi Markas Besar TNI Angkatan Udara.[7]

Unsur PimpinanSunting

Unsur Pembantu PimpinanSunting

Seluruh pejabat pembantu pimpinan adalah perwira tinggi bintang dua dengan pangkat Marsekal Muda

  • Inspektur Jenderal Angkatan Udara
  • Koordinator Staf Ahli Angkatan Udara
  • Staf Perencanaan dan Anggaran Angkatan Udara
  • Staf Intelijen Angkatan Udara
  • Staf Operasi Angkatan Udara
  • Staf Personalia Angkatan Udara
  • Staf Logistik Angkatan Udara
  • Staf Potensi Dirgantara Angkatan Udara
  • Staf Komunikasi dan Elektronika Angkatan Udara

Unsur PelayananSunting

  • Detasemen Markas Besar Angkatan Udara

Komando Utama PembinaanSunting

Satuan KhususSunting

Badan Pelaksana Pusat (BALAKPUS)[8]Sunting

Dinas Militer (KEDINASAN)[9]Sunting

PangkalanSunting

KecabanganSunting

Tanda KepangkatanSunting

Sebagaimana di kecabangan lainnya, kepangkatan terdiri dari Perwira, Bintara dan Tamtama. Adapun pangkat tertinggi di Angkatan Udara adalah Marsekal Besar dengan bintang lima. Pangkat ini ditandai dengan lima bintang emas di pundak. Pangkat ini sepadan dengan Jenderal Besar di TNI Angkatan Darat dan Laksamana Besar di TNI Angkatan Laut. Sampai saat ini belum ada seorang pun perwira TNI Angkatan Udara yang dianugerahi pangkat tersebut, Marsekal dengan bintang empat, Marsekal Madya dengan bintang tiga, Marsekal Muda dengan bintang dua, Marsekal Pertama dengan bintang satu.

KekuatanSunting

 
Penerbang dan Teknisi TNI AU
 
Prajurit TNI AU

Kekuatan pasukanSunting

TNI Angkatan Udara saat ini dperkuat oleh 2 Pasukan yang keduanya mempunyai tugas dan fungsi yang berbeda yaitu terdiri dari:

  1. Korps Pasukan Khas (Korpaskhas). Pasukan baret jingga yang dulu sangat terkenal dengan nama Pasukan Gerak Tjepat (PGT) merupakan pasukan berkualifikasi Para Komando adalah pasukan pemukul tempur darat TNI Angakatan Udara yang bersifat ofensif, pasukan ini terdiri dari:
    1. Satbravo 90 Paskhas/Anti Teror
    2. Satwalkol Paskhas/Mabes TNI AU
    3. Denmatra Paskhas
    4. Denhanud Paskhas (Hanud Titik dan Hanud Menengah/Jauh)
    5. Pasukan Para Komando (Yonko 461-469)
    6. Resimen Bantuan Tempur Paskhas
    7. Kompi Hanlan "BS" Paskhas (di Satkamhanlan tiap Lanuma)
    8. Pusdiklat Pasukan Khas
  2. Satuan Keamanan Pertahanan Pangkalan TNI AU (bersifat defensif). Pasukan Kamhanlan sebelumnya telah ada setiap lanuma dan lanud di seluruh Indonesia yang anggotanya terbentuk dengan mengambil beberapa orang dari tiap staf yang ada di pangkalan dengan dikepalai seorang perwira sebagai Kasi Kamhanlan. Kamhanlan akan dibentuk menjadi Satuan sendiri dipimpin oleh seorang Pama sebagai Komandan Satuan Kamhanlanau yang bertugas melaksanakan pengamanan, pertahanan pangkalan TNI AU juga sebagai pasukan taktis dari tiap lanud. Tugas pengamanan pangkalan sebelumnya diemban oleh Satuan Provost AU kala itu masih menggunakan korps pasukan (Psk)yang salah satunya bertugas sebagai Pamfik, maka setelah berubah menjadi POMAU selanjutnya dikembalikan melaksanakan tugas-tugas kepolisian militer yaitu Gaktiblin, penyidikan, walmor dan protokoler. Organisasi Satuan Keamanan Pertahanan Pangkalan TNI AU (Satkamhanlanau) terdiri dari gabungan kekuatan:
    1. Kompi Hanlan (Kekuatan inti Personel dari Paskhas dengan dilengkapi persenjataan berat 12,7 mm)
    2. Kompi Kamlan, yaitu Kompi Taktis Lanud (Personel Organik Lanud dengan dilengkapi perlengkapan PHH dan kendaraan water canon)
    3. Ton Paspam Pomau
    4. Ton Brigan Pomau

Alat utama sistem persenjataanSunting

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara menyusun strategi alat utama sistem persenjataan (alutsista) dalam melaksanakan tugasnya menjaga kedaulatan wilayah udara NKRI.[10]

Pesawat tempur dan helikopterSunting

Pesawat Negara Asal Peran Versi Jumlah Beroperasi Dalam Pesanan Catatan
Pesawat Latih
KAI KT-1 Wongbee   Korea Selatan pesawat latih KT-1B 20 20 1 jatuh di Bali.

2 jatuh di Langkawi.

Grob G120TP-A Jerman pesawat latih G120TP-A 30 30
Total 50 50
Pesawat Tempur
BAe Systems Hawk   Britania Raya pesawat serang ringan Hawk 109/209 32 32 1 jatuh di Palembang.
KAI T-50 Golden Eagle   Korea Selatan pesawat latih dan serang ringan T-50 15 15 6 1 jatuh di Yogyakarta
Embraer EMB 314 Super Tucano   Brasil pesawat serang ringan/COIN (counter-insurgency) A-29 15 15 16 dipesan;[11]1 jatuh di Malang
Lockheed Martin F-16 Fighting Falcon   Amerika Serikat pesawat multiperan

F-16A/B


F-16C/D

7/3

24

7/3

24

2 unit F 16 A/B mengalami kecelakaan pada dua insiden berbeda.[12]
Sukhoi Su-27   Rusia pesawat superioritas udara Su-27SK

Su-27SKM

2

3

2

3

Sukhoi Su-30   Rusia pesawat superioritas udara Su-30MK

Su-30MK2

2

9

2
9
KAI KF-21 Boramae/F-33 Fighting Hawk   Korea Selatan   Indonesia pesawat multiperan K/IF-X 0 0 50
Total 112 112 56
Angkutan udara taktis, pesawat transport, pesawat patroli maritim
Boeing 737   Amerika Serikat transportasi VIP

pesawat pengintaian maritim

737 2Q8

737-400


737 2x9 Surveiller

1

2


3

1

2


3


bekas Garuda Indonesia


Dilengkapi Motorola AN/APS-135 SLAMMR (Side-looking Airborne Modular Multi-mission Radar)[13]

de Havilland Canada DHC-5 Buffalo   Kanada pesawat angkut DHC-5D 3 3 Sudah tidak beroperasi lagi
Lockheed C-130 Hercules   Amerika Serikat pesawat angkut

pesawat pengisi bahan bakar

C-130B/-H/-H-30

KC-130B Hercules

24

2

8

2

9 4 unit hibah dari Australia +5 unit bekas seri h dibeli dari Australia. 1 Unit K-130B nomor registrasi A1310 jatuh
Lockheed L-100   Amerika Serikat pesawat angkut/ transportasi VIP L-100-30 8 6
Fokker F-27 Friendship   Belanda pesawat angkut F27-400M 7 6 grounded
CASA CN-235   Spanyol
  Indonesia
pesawat angkut

pesawat patroli maritim

CN-235 110/220M

CN-235 MPA

16

0

16

0

0

3

CASA C-295   Spanyol
  Indonesia
pesawat angkut

pesawat patroli maritim


pesawat peringatan dini

C-295 M

C-295 MPA


C-295 AEW&C

2

0


0

2

0


0

2

3


3

† Indonesia agree for license C-295, 40% spare parts from Indonesia. Indonesia build role of transport aircraft, MPA, and AEW&C [14]
Fokker F28 Fellowship   Belanda pesawat angkut F-28 Mk 1000

F-28 Mk 3000

5 5
CASA C-212 Aviocar   Spanyol pesawat angkut NC-212-100

NC-212-200


NC-212-400[15]

28

28




Akan dikembangkan menjadi NC212-200/-400

Total 91 75 3
Helicopters and Non Fix Winged Aircraft
Eurocopter EC 120 Colibri helikopter utilitas ringan EC-120B 11 11 Menggantikan Bell 47G-3B
Aérospatiale AS 330 Puma   Prancis helikopter angkut NAS 330J 11 11
Bell 412   Amerika Serikat helikopter angkut NBell 412S

NBell 412HP

4

4

4

4

Bell 204   Amerika Serikat helikopter angkut Bell 204B 5 4
MBB Bo 155   Jerman misi pencarian dan penyelamatan NBO-105 CB

NBO-105 CBS

6

1

6

1

Eurocopter AS 332 Super Puma helikopter angkut

VIP transport


NAS-332 Super Puma

NAS-332 Super Puma VVIP

7

2

7

2

7

Total 16 yang telah dipesan sejak 1998

Total 63 58 7

diproduksi dalam negeri oleh PT. Dirgantara Indonesia

Radar dan peluru kendaliSunting

Saat ini TNI AU mengoperasikan 16 situs radar di seluruh Indonesia.

Daftar peluru kendali yang digunakan TNI AU:

Komando Operasi Udara NasionalSunting

Komando Operasi Udara (Koopsudnas) merupakan penggabungan dua Kotama yaitu Kohanudnas dan Koopsau[16][17] dengan tugas melaksanakan operasi-operasi udara dalam rangka penegakan kedaulatan negara di udara, mendukung penegakan kedaulatan Negara di darat dan laut baik itu operasi pertahanan udara, serangan udara maupun dukungan udara dan melaksanakan pembinaan kemampuan personel di satuannya. Koopsudnas dipimpin oleh perwira tinggi bintang 3 (Marsekal Madya).[18]

Koopsudnas mempunyai fungsi operasi dan fungsi pembinaan dengan kedudukan di Jakarta, dalam pembinaan kesiapan operasi dan administrasi di bawah KASAU, dalam pembinaan kesiagaan dan pelaksanaan operasi di bawah Panglima TNI. Komando Operasi Udara Nasional (Koopsudnas) yang membawahi Komando Pertahanan Udara (Kohanud), Komando Serangan Udara (Koserud), Komando Dukungan Udara (Kodukud), dan Komando Pembinaan Angkatan Udara (Kobinau).[18]

Pemberdayaan wilayah pertahanan udaraSunting

Sesuai dengan UU TNI pasal 10, Angkatan Udara salah satunya adalah bertugas melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan udara di seluruh Indonesia.[19] Dalam konteks ini TNI AU diharapkan mampu melaksanakan pemberdayaan kewilayahan tentang pertahanan udara melalui pembinaan kepada masyarakat tentang potensi dirgantara di seluruh pelosok dan pencegahan secara dini ancaman udara melalui koordinasi aktif dengan satuan samping teritorial daerah, yaitu dengan menempatkan personel sebanyak 25 orang di tiap Korem di seluruh Indonesia.

Pelaksanaan UU TNI pasal 10 implementasinya di antaranya adalah pembentukan Satuan Tugas Aksi Khusus Pengamanan Bandara Internasional (Satgas Aksus Pam Bandara) sebagai wujud tanggung jawab TNI AU melaksanakan tugas keamanan pertahanan wilayah pertahanan udara dari segala aspek gangguan, ancaman, bahkan teror kegiatan penerbangan. Satgas Aksus Pam Bandara ditempatkan di beberapa bandara di Indonesia. Organisasi Satgas Aksus Pam Bandara gabungan dari:

  1. Unit anti bajak udara dan anti teror (Sat Bravo 90)
  2. Unit Hanlan Paskhas
  3. Unit Satkamhanlan Lanud setempat
  4. Unit Pomau (Brigan dan Penyidik)

ReferensiSunting

  1. ^ "Flightglobal – World Air Forces 2015" (PDF). Flightglobal.com. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 19 December 2014. Diakses tanggal 21 April 2020. 
  2. ^ "Military Strength of Indonesia". GlobalFirepower.com. Diakses tanggal 3 Januari 2014. 
  3. ^ Tempo English Edition magazine, 19–25 October 2011 hal.17
  4. ^ Jon, Grevatt. "Indonesia reportedly negotiating price of Russian Su-35 fighters". IHS Janes 360. IHS Jane's Defence Weekly. Diarsipkan dari versi asli tanggal 19 February 2017. Diakses tanggal 21 April 2020. 
  5. ^ "Value of Indonesian Su-35 buy pegged at $1.14 billion". 23 August 2017. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 September 2017. Diakses tanggal 21 April 2020. 
  6. ^ "Sejarah". TNI Angkatan Udara. Diakses tanggal 2019-07-31. 
  7. ^ "Pasal 154 Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2019" (PDF). sipuu.setkab.go.id. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2020-06-19. Diakses tanggal 22 April 2020. 
  8. ^ "BALAKPUS". TNI Angkatan Udara. 09 Januari 2018. Diakses tanggal 19 Juli 2020. 
  9. ^ "KEDINASAN". TNI Angkatan Udara. 09 Januari 2018. Diakses tanggal 19 Juli 2020. 
  10. ^ Fiqih Arfani (24 Mei 2013). "TNI pesan alutsista baru". antaranews.com. Diakses tanggal 19 Juli 2013. 
  11. ^ "Indonesia purchases eight Embraer Super Tucano jets". Investe São Paulo. 16 October 2009. Diakses tanggal 17 Desember 2012. [pranala nonaktif permanen]
  12. ^ "Order of Battle-Indonesia". MilAvia Press.com (Military Aviation Publications). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-04-20. Diakses tanggal 17 Desember 2012. 
  13. ^ "History & Development of the Boeing 737 - Originals". b737.org.uk. Diakses tanggal 17 Desember 2012. 
  14. ^ Angkasa Magazine edition October
  15. ^ "C-212-400 Maritime Patrol Aircraft, Spain". airforce-technology.com. Diakses tanggal 17 Desember 2012. 
  16. ^ Adrian, Beny (03 Juni 2019). "TNI AU Akan Bentuk Koopsudnas, Kotama Gabungan Kohanudnas dan Koopsau". Angkasa News. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-10-29. Diakses tanggal 23 April 2020. 
  17. ^ Puspita, Ratna (26 Juli 2018). "Panglima: Komando Operasi Nasional Terus Dikaji". nasional.republika.co.id. Republika Online. Diakses tanggal 23 April 2020. 
  18. ^ a b Karsono, A. Karyanto (11 Februari 2019). "57 Tahun Kohanudnas, Menanti Realisasi Renstra TNI". rmol.id. Republik Merdeka. Diakses tanggal 23 April 2020. 
  19. ^ "Potdirga Untuk Pemberdayaan Dan Pertahanan Udara". tni.mil.id. Puspen Markas Besar Tentara Nasional Indonesia. 17 Desember 2017. Diakses tanggal 24 April 2020. 

Pranala luarSunting