Buka menu utama

Sebagai negara dengan 16.5 juta pemeluk Kristen dan 6.9 juta pemeluk agama Katolik Roma, hari Natal di Indonesia dirayakan dengan tradisi yang sangat berbeda-beda di berbagai daerah.[1] Di daerah-daerah dengan jumlah penduduk Kristen/Katolik yang besar, perayaan Natal diwarnai dengan ritual khusus dan makanan khas daerah setempat.[2] Di kota-kota besar, kawasan pertokoan kerap dihiasi dengan pohon Natal plastik dan Sinterklas. Di Bali, perayaan Natal dirayakan dengan pohon Natal yang terbuat dari bulu ayam.[3] Pohon Natal unik tersebut telah diimpor ke berbagai negara Eropa. Sebagian besar stasiun televisi lokal akan menyiarkan konser musik Natal dan juga perayaan Natal nasional yang diselenggarakan setiap tahun oleh pemerintah. Di samping berbagai makanan tradisional, Natal umumnya dilengkapi dengan sajian kue kering seperti nastar, kastengel, dan 'putri salju'.[4]

Daftar isi

Natal di PapuaSunting

 
Natal di Papua ditandai dengan ritual Barapen atau bakar batu.

Di daerah Papua, setelah misa atau ibadat Natal, akan dilakukan tradisi barapen (bakar batu), yaitu ritual memasak babi untuk disantap bersama. Warga Papua memasak sayuran dan daging babi di atas batu yang dibakar dengan kayu. Cara menyalakan api pun sangat khas karena tidak menggunakan korek, melainkan menggesekkan kayu terus menerus hingga menghasilkan serbuk panas yang menjadi api. Untuk mempersiapkan upacara barapen, para lelaki akan membuat lubang untuk menaruh batu panas yang sudah membara. Sedangkan, para wanita menyiapkan daun-daunan seperti petatas (ubi jalar), kangkung, pakis, singkong, bayam, dan pepaya. Ke dalam lubang tersebut akan dimasukkan daging babi dan dedaunan yang sudah disiapkan, kemudian ditutup dedaunan, dan dilapisi dengan batu kembali. Lapisan ini disusun hingga tiga tingkat untuk memasak daging babi selama setengah hari. Ketika daging mulai masak, akan dihasilkan asap dan aroma daging dari lubang tersebut. Bakar batu atau barapen merupakan salah satu uangkapan syukur, kebersamaan, saling berbagi, dan mengasihi yang ditandai dengan makan daging babi secara massal.[5][6]

Natal di AmbonSunting

Menjelang perayaan Natal dan tahun baru, sebagian penduduk Ambon, khususnya yang berada di Negeri Naku, Kecamatan Leitimur Selatan menggelar upacara adat cuci negeri. Upara tersebut melambangkan pembersihan dan penyucian diri (pembebasan dosa) warga dan lingkungan setempat. Upacara cuci negeri diawali dengan berkumpul pada rumah komunitas marga (Soa) untuk menggelar ritual adat masing-masing. Kemudian warga beramai-ramai berkumpul ke rumah adat (Baileo) sambil menyanyikan lagu dalam dalam bahasa setempat, menari dengan iringan tifa (alat musik tradisional), dan kaum perempuan membawa seserahan berupa sirih, pinang, dan minuman tradisional yang disebut sopi.[7] Hal lain yang khas dari daerah ini adalah pada malam Natal akan dibunyikan sirene kapal dan lonceng gereja secara serempak.[8][6]

Natal di YogyakartaSunting

Di daerah Yogyakarta, perayaan Natal diwarnai dengan pertunjukan wayang kulit yang bertema kelahiran Yesus Kristus. Perayaan misa atau ibadat di Gereja dibawakan dalam bahasa Jawa halus oleh pastor atau pendeta yang mengenakan pakaian adat daerah setempat, yaitu beskap dan blankon. Seperti halnya perayaan Idul Fitri, hari Natal diisi dengan acara saling mengunjungi keluarga dan kerabat. Sebagian anak-anak akan mendapatkan amplop berisi uang dari para tetua.[6][8]

Natal di ManadoSunting

Perayaan pra-natal di Manado dilakukan sejak 1 Desember di mana para pejabat pemerintah daerah akan melakukan Safari Natal, yaitu mengikuti ibadah di setiap kecamatan yang berbeda setiap harinya. Sebagian warga Manado memiliki kebiasaan untuk melakukan pawai keliling, serta mengunjungi kuburan kerabat dan membersihkannya. Rangkaian perayaan Natal akan diakhiri pada minggu pertama di bulan Januari dengan perayaan yang disebut kunci taon. Pada kunci taon akan diadakan pawai keliling dengan kostum-kostum yang unik.[8][6]

Natal di BaliSunting

 
Penjor yang menghiasi jalanan di Bali menjelang perayaan Natal.

Sebagian besar desa Kristen terdapat di bagian selatan Bali. Para penduduk akan mengenakan pakaian tradisional dan menghiasi jalanan dengan penjor (hiasan bambu seperti janur) yang melambangkan naga Anantaboga. Perayaan Natal di daerah Bali tidak banyak dihiasi dengan budaya Barat, melainkan lebih banyak dipengaruhi oleh budaya Hindu-Bali.[9]

Natal di TorajaSunting

Penduduk Toraja merayakan Natal dengan mengadakan festival budaya yang disebut Lovely December. Festival ini diisi dengan tarian massal, karnival budaya, pertunjukan musik bambu, festival kuliner, dan pameran kerajinan tangan. Puncak dari festival ini adalah kembang api dan prosesi Lettoan yang diselenggarakan pada tanggal 26 Desember.[6][2] Lettoan adalah ritual mengarak babi dengan simbol budaya yang mewakili tiga dimensi kehidupan manusia. Ketiga simbol yang digunakan adalah:

  • Saritatolamban, berbentuk tangga yang melambangkan doa dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik (seperti anak tangga yang selalu naik ke atas).
  • Matahari melambangkan sumber cahaya kehidupan.
  • Bunga tabang yang melambangkan kesuksesan dalam kehidupan warga Toraja.[10]

Natal di Sumatera UtaraSunting

Natal dirayakan oleh suku Batak di Sumatera Utara dengan mempersembahkan hewan yang dibeli dengan uang hasil menabung bersama warga sekitar. Tradisi yang disebut marbinda ini dilakukan dengan menyembelih hewan yang melambangkan kebersamaan dan gotong royong. Jenis hewan kurban yang dipersembahkan dapat berupa babi, lembu, atau kerbau dan dagingnya akan dibagi-bagikan kepada semua warga yang telah menyumbang.[6][10]

Perayaan Natal NasionalSunting

Setiap tahunnya, Kementerian Agama Republik Indonesia menggelar acara Perayaan Natal Nasional Republik Indonesia. Acara ini pertama kali dilaksanakan pada tahun 1993 atas usulan dari Tiopan Bernhard Silalahi, yang menjabat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara pada Kabinet Pembangunan VI, kepada Presiden RI Soeharto.[11] Sejak saat itu, Perayaan Natal Nasional selalu digelar setiap tahun, kecuali pada 2004 dibatalkan sebagai bentuk belasungkawa atas gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004.[12] Sampai dengan 2013, Perayaan Natal Nasional selalu digelar di DKI Jakarta, tempat yang biasanya digunakan adalah Jakarta Convention Center.[11] Sejak 2014, kebiasaan tersebut tidak lagi dilanjutkan oleh Presiden RI Joko Widodo.[13] Berikut ini daftar tuan rumah Perayaan Natal Nasional sejak 2014:

Tahun Tuan rumah Provinsi Tanggal Keterangan / Catatan
2014 Kota Jayapura[14] Papua 27 Desember 2014 Provinsi pertama di luar DKI Jakarta yang menggelar Perayaan Natal Nasional
2015 Kota Kupang[15] Nusa Tenggara Timur 28 Desember 2015
2016 Kabupaten Minahasa[16] Sulawesi Utara 27 Desember 2016 Pertama kalinya Perayaan Natal Nasional digelar di daerah kabupaten
2017 Kota Pontianak[17] Kalimantan Barat 28 Desember 2017 Pertama kalinya di luar ibukota RI Perayaan Natal Nasional digelar bukan di daerah berpenduduk mayoritas Protestan/Katolik

ReferensiSunting

  1. ^ (Indonesia) Sensus Penduduk 2010:Penduduk Indonesia Menurut Wilayah dan Agama yang Dianut, Badan Pusat Statistik. Diakses pada 15 Desember 2014.
  2. ^ a b (Inggris) Christmas celebration, the Indonesian way, ID Nugroho & Anissa S. Febrina, The Jakarta Post, Jakarta. 30 Desember 2009. Diakses pada 15 Desember 2014. Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "jp" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  3. ^ (Indonesia) Uniknya Pohon Natal dari Bulu Ayam, Ely - Ciputra Entrepreneurship. 19 Desember 2011. Diakses pada 15 Desember 2014.
  4. ^ (Inggris) Christmas in Indonesia, whychristmas.com. Diakses pada 15 Desember 2014.
  5. ^ (Inggris) Sukacita Natal di Nabire, HidupKatolik.com - 23 Desember 2012. Diakses pada 15 Desember 2014.
  6. ^ a b c d e f (Inggris) Unique Indoensian Traditions for Celebrating Christmas, Tempo.co - Rina Atmasari. 25 December, 2013. Diakses pada 15 Desember 2014.
  7. ^ (Indonesia) Warga Negeri Naku Gelar Adat Cuci Negeri, AntaraNews.com. Diakses pada 16 Desember 2014.
  8. ^ a b c (Indonesia) Tradisi Natal di Indonesia, Muna Zakiah: KebudayaanIndonesia.net - 20 Desember 2013. Diakses pada 16 Desember 2014.
  9. ^ (Inggris) Balinese Christians: In Search of Tradition, Benito Lopulalan in Bali Today: Modernity by Jean Couteau et al. Page 111-115. 2005. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Diakses pada 16 Desember 2014.
  10. ^ a b (Indonesia)[http://www.antaranews.com/berita/167297/lettoan-meriahkan-lovely-december-toraja Lettoan Meriahkan "Lovely December" Toraja], Aditia Maruli. AntaraNews.com - 27 Desember 2009. Diakses pada 16 Desember 2014. Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "antar" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  11. ^ a b (Indonesia)   Sejarah Perayaan Natal Nasional Republik Indonesia di YouTube Diakses pada 5 Desember 2017.
  12. ^ (Indonesia) Umat Kristen Prihatin, Perayaan Natal Nasional Dibatalkan. 29 Desember 2004. Diakses pada 5 Desember 2017.
  13. ^ Joko Widodo Ungkap Alasan Perayaan Natal Nasional Digelar di Papua. 27 Desember 2014. Diakses pada 5 Desember 2017.
  14. ^ Pidato Presiden Joko Widodo Pada Perayaan Natal Bersama Nasional 2014, di Stadion Mandala, Jayapura, Papua, 27 Desember 2014
  15. ^ Ribuan Umat Kristiani Hadiri Perayaan Natal Nasional di Kupang
  16. ^ Warga Minahasa Antusias Hadiri Natal Nasional 2016
  17. ^ Perayaan Natal Nasional 2017 Dipusatkan di Pontianak dan Dihadiri Presiden Joko Widodo