Buka menu utama

Kronik Gowa (bahasa Makassar: Lontara Patturioloanga ri Tu Gowaya) adalah salah satu naskah lontara berbahasa Makassar dari masa Kerajaan Gowa. Kronik ini diperkirakan disusun pada abad ke-17, dan menguraikan riwayat raja-raja Gowa sejak kemunculan dinastinya hingga masa pemerintahan Sultan Hasanuddin.

HistoriografiSunting

Kronik Gowa secara umum membahas "sejarah" dalam kaitannya dengan para penguasa, alih-alih sejarah negara secara umum. Pembagian bab-babnya didasarkan pada masa pemerintahan raja tertentu. Cummings mencatat bahwa kronik-kronik Makassar bercirikan pembahasan genealogis yang kental.[1] Bahkan, dalam bahasa Makassar sendiri, genre tulisan Kronik Gowa disebut sebagai naskah patturioloang (arti harfiah: "perihal orang-orang terdahulu").[2]

Menurut para ahli, bila dibandingkan dengan catatan-catatan "sejarah" dari Jawa atau bagian Nusantara lainnya, lontara patturioloang Gowa termasuk "faktual" dan "waras".[2] Dalam membahas hal-hal yang supernatural, penulis naskah Makassar selalu menambahkan kalimat "konon katanya" alih-alih menyebutnya sebagai fakta secara langsung. Namun ini bukan berarti bahwa keseluruhan naskah Kronik Gowa dapat dianggap faktual dan bersifat ilmiah. Kronik Gowa bukan naskah sejarah modern yang mencoba mengidentifikasi pola-pola dan merefleksikan kejadian di masa lalu. Pada akhirnya, catatan ini lebih merupakan sebuah pelegetimasian kekuasaan raja-raja Gowa, baik secara keturunan maupun teritorial.[3]

CatatanSunting

  1. ^ (Cummings 2007, hlm. 10)
  2. ^ a b (Cummings 2007, hlm. 8)
  3. ^ (Cummings 2007, hlm. 11)

ReferensiSunting