Buka menu utama

Hubungan nelayan Makassar dengan Australia

Perahu layar Makassar.

Pengumpul teripang suku Makassar (Mangkasarak) telah mengunjungi pantai utara Australia selama ratusan tahun untuk mengumpulkan teripang, invertebrata laut yang dapat dimakan dan menjadi obat di pasar Cina.

Kunjungan mereka telah memberikan pengaruh bagi penduduk Australia Utara — dalam bahasa, seni,[1] ekonomi, dan bahkan genetik keturunan suku Makassar dan Australia.

PerjalananSunting

Sejarawan kurang yakin apakah perjalanan dimulai dari suku Makassar ke Marege (nama yang diberi Makassar untuk pantai utara Australia).[2] Perdagangan teripang dari Makassar telah dimulai sekitar tahun 1720, meskipun beberapa penulis menyatakan perjalanan telah dimulai 300 tahun lebih awal (sekitar tahun 1400).

Perdagangan mulai merosot pada akhir abad ke-19 karena penetapan bea cukai oleh pemerintah Australia. Setelah penerapan undang-undang untuk melindungi "integritas wilayah" Australia, perahu Makassar terakhir meninggalkan Arnhem Land tahun 1906. Permintaan teripang juga menurun karena kekacauan di Cina pada masa itu.

Pengaruh terhadap warga AustraliaSunting

Hubungan Makassar dengan penduduk asli Australia masih diingat hingga kini, melalui sejarah lisan (lagu-lagu, tarian) dan lukisan-lukisan batu, dan juga melalui perubahan warisan budaya yang diakibatkan oleh hubungan ini.

Makassar menukar barang-barang seperti pakaian, tembakau, pisau, nasi, dan alkohol demi hak untuk menangkap ikan di perairan Aborigin. Mereka juga mempekerjakan penduduk asli.

Beberapa komunitas Yolngu di Arnhem Land mengubah ekonomi mereka dari berbasis darat menjadi berbasis laut, karena masuknya teknologi Makassar seperti kano. Kapal-kapal yang mampu berlayar itu, tidak seperti kano tradisional, memungkinkan penangkapan dugong dan penyu di laut.

Beberapa pekerja Aborigin menemani orang Makassar kembali ke Sulawesi Selatan. Suku Yolngu juga mengenang penculikan dan perdagangan perempuan Yolngu, dan mewabahnya variola, yang sedang mewabah di kepulauan sebelah timur Jawa pada saat itu.[butuh rujukan]

Pijin Makassar menjadi lingua franca di pantai utara dan ini berlangsung tidak hanya antara Makassar dengan penduduk Aborigin, tetapi juga antara suku-suku Aborigin yang berbeda. Kata dari bahasa Makassar masih dapat ditemui dalam bahasa-bahasa Aborigin di pantai utara; misalnya rupiah (uang), jama (kerja), dan balanda (orang kulit putih). Barang-barang yang diperdagangkan Makassar menyebar hingga ke selatan.

Selain itu, kemungkinan Makassar telah membawa agama Islam ke Australia.[3]

Situasi saat iniSunting

Beberapa nelayan masih menangkap ikan di wilayah Australia sekarang dengan perahu milik nenek moyang mereka. Kegiatan ini dianggap ilegal oleh pemerintah Australia, dan semenjak 1970-an, jika ditangkap petugas, perahu akan dibakar dan nelayan dikembalikan ke Indonesia.

Lihat pulaSunting

Catatan kakiSunting

  1. ^ The Rock Art That Redraws Our History (SMH, 2008)
  2. ^ MacKnight, CC (1976).The Voyage to Marege: Macassan Trepangers in Northern Australia. Melbourne University Press
  3. ^ Article about Islam in Australia
  4. ^ Berndt, Ronald M. (2005) [1952], Djanggawul: An Aboriginal Religious Cult of North-Eastern Arnhem Land, Volume 43 of Routledge library editions: Anthropology and ethnography, Routledge, hlm. 55, ISBN 041533022X 

ReferensiSunting

  • McIntosh, I. S. (2000) Aboriginal Reconciliation and the Dreaming. Allyn and Bacon, Boston.