Muhammad Ali dari Siak

Pahlawan Revolusi Kemerdekaan

Yang Dipertuan Besar Muhammad Ali Syah atau Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah merupakan sultan Siak Sri Inderapura ke 5, putra Sultan Alamuddin, keponakan dari Sultan Muhammad, Yang Dipertuan Besar Siak.

Muhammad Ali
Sultan of Siak Sri Inderapura
Berkuasa17661779 - Kini
PendahuluSultan Alamuddin
PenerusSultan Ismail
Pemakaman
Nama lengkap
Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah
AyahSultan Alamuddin Syah

Panglima BesarSunting

Ketika sultan Siak ke 2, Tengku Buang Asmara naik tahta, ia menjadikan keponakannya Tengku Muhammad Ali sebagai panglima besar. Kemungkinan hal itu untuk meringankan kepedihan hatinya akibat mundurnya ayahanda Muhammad Ali, Tengku Alam ke Johor setelah perselisihan yang terjadi antara keduanya. Posisi ini terus dipegang oleh Muhammad Ali hingga saat sepupunya, Sultan Ismail naik tahta tahun 1760 menggantikan ayahandanya.[1]

Ketika armada Belanda menyerang Mempura tahun 1761, Muhammad Ali memimpin armada perang Siak yang gagah berani. Belanda telah melakukan persiapan dengan kapal-kapal perang besar. Pasukan Siak berhasil didesak hingga ke pinggir kota Mempura. Di sinilah terjadi pertempuran habis-habisan dari pahlawan-pahlawan Siak. Armada Siak hanya menggunakan rakit berapi-api dan kapal-kapal berisi mesiu dalam menghadapi Belanda. Namun, semangat jihad fi sabilillah mereka tidak surut. Dengan persenjataan terbatas tersebut, mereka berhasil menenggelamkan beberapa kapal Belanda. Belanda kewalahan dan mengeluarkan senjata terakhir mereka, Tengku Alamuddin yang mengirimkan surat kepada Sultan Ismail dan putranya, panglima besar Muhammad Ali. Maka, demi mendengar bahwa Tengku Alam berada di pihak Belanda, pertempuran pun dihentikan dan Sultan Ismail menyerahkan tahta pada pamannya itu berdasarkan wasiat dari ayahandanya dahulu. Muhammad Ali tetap mendampingi ayahandanya sebagai panglima besar ketika ia naik tahta beberapa hari setelah kemunduran sepupunya, Sultan Ismail tersebut.[2]

Naik TahtaSunting

Ketika ayahandanya, Sultan Alamuddin berpindah ke Senapelan untuk menghindari pengaruh Belanda, Muhammad Ali turut serta. Senapelan berkembang pesat di bawah kendali Sultan Alamuddin, bahkan berhasil mematikan bisnis Belanda di Mempura. Sultan Alamuddin mangkat di Senapelan pada tahun 1766 dan Tengku Muhammad Ali naik tahta dengan gelar Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah. Ia meneruskan usaha ayahnya membangun bandar Senapelan yang kemudian dikenal dengan nama Pekanbaru.[3] Bandar ini menjadi pusat perdagangan di hulu sungai Siak, bahkan para saudagar dari Petapahan mulai menjual dagangan mereka ke Senapelan.[4]

Turun TahtaSunting

Namun pada tahun 1779 Sultan Ismail yang telah mengelana di Selat Malaka mengambil alih kedudukan Yang Dipertuan Besar Siak dari Sultan Muhammad Ali.[5] Muhammad Ali terpaksa berundur ke Petapahan mencari perlindungan dari Syarif Bendahara, tetapi tidak dikabulkan. Akhirnya, ia kembali ke ibu kota dan menyerahkan diri kepada sepupunya itu. Sultan Ismail lalu mengampuninya dan melantiknya menjadi Raja Muda.[6]

Setelah tidak lagi menjadi sultan, Muhammad Ali lebih banyak berdiam di Senapelan dan memfokuskan diri pada perkembangan perdagangan di bandar tersebut.[7] Ia baru kembali ke dunia politik tahun 1781-1782 ketika diangkat menjadi wali Sultan Yahya, keponakannya yang memerintah sebelum dewasa menggantikan ayahnya Sultan Ismail.[8]

Mengawal Transisi KekuasaanSunting

Semasa ia menjabat sebagai sultan, Tengku Muhammad Ali menunjuk keponakannya Sayyid Ali sebagai panglima besar. Sayyid Ali merupakan putra dari saudari Muhammad Ali, Tengku Embung dan Sayyid Usman, seorang keturunan Arab. Ia terus mendampingi pamannya tersebut dalam setiap keadaan, termasuk ketika Muhammad Ali kehilangan kuasa atas tahta Siak dan menetap di Senapelan. Maka ketika terjadi perselisihan antara Sayyid Ali dan Sultan Yahya, Muhammad Ali lebih memihak keponakannya tersebut. Sayyid Ali yang lebih besar pengaruhnya sebagai panglima besar kerajaan berhasil menyingkirkan Sultan Yahya yang dianggapnya kurang cakap dalam memimpin pemerintahan.[9]

Sultan Yahya yang telah kehilangan kuasa akhirnya mundur ke Kampar, kemudian Trengganu dan kemudian Dungun di Melaka. Ia wafat di Dungun pada tahun 1784. Pada tahun itu juga, Sayyid Ali mengklaim tahta kerajaan dengan gelar Sultan Assayyidis Syarif Ali Abdul Jalil Saifuddin. Tengku Muhammad Ali tetap mendampingi sultan baru tersebut terutama dalam mengawasi ekonomi kerajaan.[10]

RujukanSunting

  1. ^ Muchtar Lutfi, Suwardi MS, dkk (1998/ 1999), Sejarah Riau, Biro Bina Sosial Setwilda Tk. I Riau.
  2. ^ Muchtar Lutfi, Suwardi MS, dkk (1998/ 1999), Sejarah Riau, Biro Bina Sosial Setwilda Tk. I Riau.
  3. ^ Muchtar Lutfi, Suwardi MS, dkk (1998/ 1999), Sejarah Riau, Biro Bina Sosial Setwilda Tk. I Riau.
  4. ^ Samin, S.M. (2006). Dari kebatinan senapelan ke Bandaraya Pekanbaru: menelisik jejak sejarah Kota Pekanbaru, 1784-2005, Pemerintah Kota Pekanbaru bekerjasama dengan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Riau dan Penerbit Alaf Riau
  5. ^ Timothy P. Barnard, Texts, Raja Ismail and Violence: Siak and the Transformation of Malay Identity in theEighteenth Century, Journal of Southeast Asian Studies, Vol. 32, No. 3 (Oct., 2001), pp. 331-342.
  6. ^ Muchtar Lutfi, Suwardi MS, dkk (1998/ 1999), Sejarah Riau, Biro Bina Sosial Setwilda Tk. I Riau.
  7. ^ Samin, S.M. (2006). Dari kebatinan senapelan ke Bandaraya Pekanbaru: menelisik jejak sejarah Kota Pekanbaru, 1784-2005, Pemerintah Kota Pekanbaru bekerjasama dengan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Riau dan Penerbit Alaf Riau
  8. ^ Muchtar Lutfi, Suwardi MS, dkk (1998/ 1999), Sejarah Riau, Biro Bina Sosial Setwilda Tk. I Riau.
  9. ^ Samin, S.M. (2006). Dari kebatinan senapelan ke Bandaraya Pekanbaru: menelisik jejak sejarah Kota Pekanbaru, 1784-2005, Pemerintah Kota Pekanbaru bekerjasama dengan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Riau dan Penerbit Alaf Riau
  10. ^ Muchtar Lutfi, Suwardi MS, dkk (1998/ 1999), Sejarah Riau, Biro Bina Sosial Setwilda Tk. I Riau.

Daftar KepustakaanSunting

  • Donald James Goudie, Phillip Lee Thomas, Tenas Effendy, (1989), Syair Perang Siak: a court poem presenting the state policy of a Minangkabau Malay royal family in exile, MBRAS.
  • Christine E. Dobbin, (1983), Islamic revivalism in a changing peasant economy: central Sumatra, 1784-1847, Curzon Press, ISBN 0-7007-0155-9.
  • Journal of Southeast Asian studies, Volume 17, McGraw-Hill Far Eastern Publishers, 1986.
Didahului oleh:
Sultan Alamuddin Syah
Sultan Siak Sri Inderapura
1766 - 1779
Diteruskan oleh:
Sultan Ismail