Buka menu utama

Sumatra Barat pada masa pendudukan Jepang

Soekarno yang pada masa awal kedatangan Jepang berada di Padang meyakinkan sebagian besar tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan agar mau bekerja sama dengan Jepang.

Pendudukan Jepang di Sumatra Barat dimulai dari tahun 1942 sampai tahun 1945 ketika wilayah ini dikuasai oleh Kekaisaran Jepang. Jepang memasuki Kota Padang pada 17 Maret 1942 dan dalam sepuluh hari seluruh kota penting di wilayah Sumatra Barat diduduki tanpa perlawanan dari Belanda. Pendudukan Jepang di wilayah ini berakhir pada tanggal 17 Agustus 1945 seiring dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno dan Mohammad Hatta.

Pada masa awal pendudukan Jepang, peristiwa yang terjadi di Padang banyak dipengaruhi oleh Soekarno.[butuh klarifikasi]

Pada Oktober 1943, Jepang memerintahkan pendirian Giyugun untuk membantu pertahanan. Dipimpin oleh Chatib Sulaiman, Giyugun merupakan satu-satunya satuan ketentaraan yang dibentuk Jepang di Sumatra Barat. Tentara sukarela ini kelak menjadi tulang punggung kekuatan bersenjata Indonesia setelah kemerdekaan.

Daftar isi

Kedatangan JepangSunting

Jepang memulai invasinya di Sumatra pada Februari 1942 dengan menerjunkan unit-unit pasukan payung di Palembang. Menurut Audrey Kahin, Jepang bermaksud mendahului rencana Belanda yang akan merusakkan instalasi minyak di dekat Palembang. Dari Palembang, balatentara Jepang segera menyebar ke arah selatan dan utara Sumatra. Pada pertengahan Maret, pasukan dalam jumlah yang lebih besar mendarat di pantai utara dan timur Sumatra, lalu bergerak cepat ke selatan.[1]

Melalui Perjanjian Kalijati pada 8 Maret 1942, Belanda menyerahkan wilayah jajahan Indonesia kepada Jepang. Setelah pendudukan dimulai, Jepang membagi Indonesia dalam tiga wilayah pemerintahan militer. Wilayah Sumatra berada di bawah Departemen Pemerintahan Militer "Gunseibu" Tentara ke-25 di Singapura yang dipimpin Jenderal Moritake Tanabe. Namun, komandan militer Belanda di Sumatra A. I. Spits mendeklarasikan tentara Belanda di Sumatra akan terus berjuang hingga tetes darah terakhir.[2]

Masuknya Jepang ke Sumatra Barat hampir berbarengan dengan pergerakan mereka di berbagai daerah Sumatra lainnya. Tentara angkatan perang Jepang memasuki Kota Padang pada 17 Maret 1942. Dalam hitungan hari, seluruh Sumatra Barat dapat mereka kuasai dan komandan militer Belanda di Sumatra menyerah tanpa syarat kepada Jepang.[1]

PemerintahanSunting

Atap Jam Gadang mengikuti bentuk atap pagoda (tengah) sewaktu pendudukan Jepang.

Akademisi Audrey Kahin—yang meraih gelar doktor dalam ilmu sejarah Asia Tenggara dari Universitas Cornell[3]—mencatat, salah satu fokus tentara pendudukan Jepang selama tahun pertama pendudukan adalah memfungsikan aparatur pemerintahan di Sumatra sehingga dengan demikian mereka dapat memanfaatkan secara efisien sumber daya vital di Sumatra, terutama ladang minyak dekat Palembang dan perkebunan karet di Sumatra Timur. Jepang menghidupkan kembali sistem pemerintahan peninggalan Belanda dan mengangkat kembali sebagian besar mantan pejabat Indonesia yang pernah duduk di birokrasi sebelumnya.[1]

Sumatra dalam struktur pemerintahan pendudukan pada mulanya berada di bawah kekuasaan Tentara ke-25 yang berpusat di Singapura. Namun, Komando Tentara ke-25 berkesimpulan bahwa mereka tidak mungkin memerintah Sumatra dari markas besarnya di Singapura, terutama dalam usaha melindungi daerah di sekitar instalasi-instalasi vital. Pada 1 Mei 1943, markas besar Tentara ke-25 dipindahkan dari Singapura ke Bukittinggi dan Sumatra yang sebelumnya tergabung bersama Malaya dijadikan unit pemerintahan sendiri.[2] Jepang membagi Sumatra menjadi 10 shu (identik dengan daerah administratif residen pada zaman Belanda) yang masing-masing dikepalai oleh seorang shu chokan.

Keresidenan Sumatra Barat dibentuk pada Agustus 1942 dengan nama Sumatra Neishi Kaigun Shu. Keresidenan ini beribu kota di Padang. Mantan Gubernur Prefektur Toyama Yano Kenzo menjabat sebagai shu chokan pertama.[4] Sebagai pemimpin sipil untuk wilayah Sumatra Barat, Yano Kenzo tiba di Padang tanggal 9 Agustus 1942 bersama dengan 68 orang pegawai sipil.[5] Pembagian unit daerah administratif Sumatra Barat hampir sepenuhnya mengacu pada pembagian yang dilakukan oleh Belanda pada tahun 1935 yang terdiri dari 5 afdeelingen, 19 onderafdeelingen, 20 districten, dan 49 onderdistricten serta sedikitnya 430 nagari. Sejarawan Gusti Asnan mencatat, sedikit perbedaan dari pembagian unit daerah administratif oleh Jepang adalah dikeluarkannya Fuku Bun Bangkinang dan dimasukkannya daerah itu ke dalam Riau Shu.

Dalam menjalankan roda pemerintahannya di Sumatra Barat, Jepang tidak banyak melakukan perubahan struktur pemerintahan, kecuali perubahan nomenklatur ke dalam bahasa Jepang. Afdeeling yang dikepalai oleh asisten residen diganti dengan nama bun, dikepalai oleh seorang bun shu cho. Fuku bunshu dikepalai oleh seorang baku bun cho, menggantikan istilah onderafdeeling yang dikepalai oleh kontroler. District yang dikepalai oleh demang diubah menjadi gun yang dikepalai oleh seorang gun cho. Onderdistrict yang dikepalai oleh asisten demang diganti dengan istilah fuko gun, dikepalai oleh seorang fuko gun cho.[5]

Jepang masih menggunakan pegawai-pegawai pribumi yang sebelumnya bekerja dengan Belanda. Pejabat Bumiputra tertinggi mengepalai gun dan struktur di bawahnya, fuku gun. Unit pemerintahan yang terkecil yaitu nagari diberi istilah son dan kepala nagari dinamakan son cho.[5]

PenerimaanSunting

Respons awalSunting

Kedatangan tentara Jepang di Padang disambut oleh penduduk dengan melambaikan bendera Merah Putih dan bendera Hinomaru disertai teriakan "banzai". Sejarawan Gusti Asnan mencatat, mata-mata Jepang sebelumnya sudah menyebarkan pengaruh pada rakyat Minangkabau. Sebagian dari orang Jepang yang bermukin di Sumatra Barat sejak dekade 1920-an berperan sebagai intelijen Jepang "yang dikirm guna melapangkan jalan bagi okupasi mereka".[6] Rakyat telah diyakinkan bahwa kedatangan Jepang untuk membebaskan bangsa ini dari kekuasaan Imperialisme Barat. Jepang menyerukan semboyan Asia untuk bangsa Asia sebagai pembebas Asia dari kekuasaan imperialisme.[butuh rujukan]

 
Masjid Raya Ganting, markas Hizbul Wathan di Padang. Soekarno sempat menginap di rumah Umar Marah yang berada dekat masjid dan berpidato di masjid.

Pada masa awal pendudukan Jepang, peristiwa yang terjadi di Padang banyak dipengaruhi oleh Soekarno. Soekarno tertahan di Sumatra Barat setelah pihak Belanda gagal membawanya ke Australia.[a] Soekarno menunjukan sikap kooperatif terhadap Jepang. Namun, tokoh-tokoh PNI ketika mengadakan rapat di kantor Bumiputra, Bukittinggi, terpecah dua ke dalam kelompok yang mendukung dan yang menolak untuk bekerja sama dengan Jepang. Anwar Sutan Saidi sebagai Kepala Bank Nasional dan organisasi-organisasi perdagangan memilih menghindari jalur politik dan bergerak di jalur ekonomi dalam rangka mengumpulkan dana dan senjata bagi perjuangan kemerdekaan. Tamimi Usman memimpin sekelompok orang yang mengikuti cara Syahrir yang non-kooperatif dan menggerakkan kegiatan-kegiatan bawah tanah. Adapun kelompok yang dipimpin oleh Chatib Sulaiman mengikuti jalur perjuangan.[9][10]

Dalam pidatonya di Padang, Soekarno menghimbau rakyat agar tidak mengadakan perlawanan terhadap tentara Jepang karena kekuatan yang ada tidak sebanding. Menurut Soekarno, bangsa Indonesia harus memanfaatkan Jepang untuk mencapai cita-cita mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Melalui sikap kooperatifnya, Soekarno berhasil mencegah tindakan kasar tentara Jepang terhadap rakyat Sumatra Barat.[11] Soekarno membujuk sebagain besar tokoh-tokoh bangsa di Sumatra Barat untuk bekerjasama dengan Jepang. Ketika tentara Jepang melarang pengibaran bendera selain dari bendera Jepang, Soekarno memerintahkan orang-orang agar menurunkan bendera "sampai tiba saatnya kita dapat mengibarkan Sang Dwi-warna dengan bebas dari semua bentuk dominasi asing".[9] Soekarno bersama Hatta memandang kerja sama dengan Jepang sebagai cara terbaik dalam mencapai tujuan kemerdekaan Indonesia, "berlayar dalam satu kapal bersama orang Jepang sambil membawa barang dagangan ktia sendiri".[10]

Sejumlah tokoh di Sumatra Barat bergabung untuk mendukung Jepang. Soekarno ikut membentuk Komite Rakyat yang bertujuan untuk membantu Jepang di bidang keamanan dan makanan, mengurangi akses perang terhadap rakyat Sumatra Barat, mendirikan sekolah, dan memelihara semangat kemerdekaan. Chatib Suleiman bersama Leon Salim mempersatukan seluruh organisasi pemuda yang ada menjadi Pemuda Nippon Raya. Tetapi pihak Jepang curiga terhadap dukungan ini, dan setelah kepergian Soekarno mereka membubarkan Komite Rakyat dan Pemuda Nippon Raya. Para pemimpin kedua organisasi di tangkap pada tanggal 14 November 1942 dengan tuduhan berpura-pura bekerja sama dengan Jepang padahal menentang mereka. Namun, seminggu kemudian mereka di bebaskan.[butuh rujukan]

Kepemimpinan Yano KenzoSunting

 
"Gubernur Sumatra Barat" Yano Kenzo dalam balutan busana tradisional Minangkabau.

Pemerintahan sipil Sumatra Barat baru efektif berjalan setelah kedatangan Yano Kenzo ke Sumatra Barat pada 9 Agustus 1942 sebagai Residen Sumatra Barat. Sebelum bertugas di Sumatra Barat, Yano pernah menjabat sebagai Gubernur Prefektur Toyama.[4] Gusti Asnan mencatat Yano berperan besar dalam mewujudkan kerja sama yang baik antara rakyat Sumatra Barat dengan pihak Jepang.[12] Yano banyak menentang kebijakan Komando Tentara ke-25, tetapi tetap menjaga hubungan persahabatan dengan Panglima Tentara ke-25 Moritake Tanabe di Bukittinggi. Simpatinya pada aspirasi rakyat setempat untuk merdeka dan kekecewaannya terhadap kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan pandangannya ia kemukakan dalam sebuah artikel yang ditulisnya kelak pada 1967.[13]

Sebagai pemimpin sipil, Yano Kenzo melakukan pendekatan terhadap penduduk Minangkabau melalui kebudayaan. Ia memiliki minat pada alam, masyarakat, dan adat-istiadat Minangkabau yang menganut tradisi matrilineal.[4] Menurut Gusti Asnan, pandangan politiknya yang dipengaruhi oleh minatnya yang besar terhadap Minangkabau menjadi dasar lahirnya ide untuk memprakarsai pendirian beberapa organisasi kemasyarakatan, sosial, dan budaya di Sumatra Barat.[12] Karena bertahan dengan pendiriannya menentang kebijakan ekonomi otoritas Jepang, Yano mengundurkan diri sebagai gubernur pada Maret 1944 dan digantikan oleh Hattori Naoaki pada bulan berikutnya.[14] Yano menilai, tentara pendudukan Jepang sangat menyadari sumber daya Indonesia yang berlimpah dan bertekad untuk terus mempertahankan kekuasaannya di Indonesia, sekalipun untuk itu Jepang terpaksa melepaskan Filipina dan Burma.[15]

"...Minangkabau di Sumatra, yang berada di bawah yurisdiksi saya..., tampaknya sebuah suku yang paling cerdas dan maju di bidang ekonomi di antara suku-suku yang ada; dan kepedulian politik mereka pun mengagumkan. Jadi, tidak mengherankan kalau mereka ini mempunyai keinginan yang kuat untuk mengakhiri 350 tahun penindasan Belanda, dan meraih kemerdekaan penuh. Yakin bahwa tentara pendudukan Jepang akan membantu tercapainya impian jangka panjang mereka, mereka mau bekerja sama. Tetapi, setelah pendudukan berlangsung selama dua tahun, tak kunjung ada perubahan."

— Yano Kenzo.[15]

Saat menjabat sebagai Gubernur Sumatra Barat, Yano mendirikan Kerukunan Minangkabau (Gui Gan) sebagai badan konsultasi dirinya dengan tokoh-tokoh Minangkabau.[4][b] Kerukunan Minangkabau mengadakan pertemuan secara teratur di kediaman gubernur. Anggota-anggotanya adalah representatif dari ulama, politisi, pemimpin adat, dan akademisi yang bertindak sebagai dewan penasihat informal bagi shu chokan.[4] Gusti Asnan menyebut Kerukunan Minangkabau sebagai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) periode awal. Ketika Komando Tentara ke-25 mengeluarkan perintah pendirian shu sangikai atau DPR di setiap shu pada 8 November 1943, pemerintah sipil Sumatra Barat meneruskan Kerukunan Minangkabau yang telah ada sebagai shu sangikai dan Muhammad Sjafei ditunjuk sebagai ketua.[butuh rujukan]

Dukungan ulama MinangkabauSunting

Lihat pula: Ulama Minangkabau

Menanggapi peralihan kekuasaan ke tampuk tentara Jepang, kelompok ulama Minangkabau menggagas berdirinya Majelis Islam Tinggi (MIT) Minangkabau. Ahmad Husein mencatat, majelis ini didirikan sebagai wadah tempat para alim ulama bermusyawarah menghadapi politik pemerintahan Jepang. Didirikan pada 1942, organisasi ini memilih Sulaiman Ar-Rasuli sebagai ketua. Dengan tujuan untuk menghimpun semua kekuatan perjuangan umat Islam Minangkabau, MIT Minangkabau mendapat dukungan seluruh rakyat Minangkabau. Pimpinan organisasi keislaman pada masa itu seperti Perti dan Muhammadiyah bersama-sama bersatu dalam melawan politik Jepang.[butuh rujukan]

 
Melalui kedekatannya dengan Jepang, Mahmud Yunus berupaya agar pendidikan agama Islam diajarkan di sekolah-sekolah pemerintah Sumatra Barat

Untuk mendapat penerimaan dari rakyat, Jepang berupaya mendekati kelompok ulama dan memberi mereka tempat dalam pengambilan kebijakan.[c] Ulama Minangkabau manfaatkan tawaran kerja sama dengan Jepang untuk menghimpun kekuatan perjuangan umat Islam Minangkabau melawan penjajah. Jepang memberi tempat bagi MIT Minangkabau dalam pengambilan kebijakan, di antaranya menunjuk Mahmud Yunus mewakili MIT Minangkabau sebagai penasihat residen.[17] Selain itu, beberapa anggota majelis diundang untuk menghadiri Muktamar Islam Asia Timur Raya di Singapura.[18]

"Kalau Belanda tidak boleh kita menjadi tentara baginya, tetapi Jepang dibolehkannya. Masukilah Gyu Gun itu nanti berguna bagi kita untuk memeranginya."

Syekh Abbas Abdullah.[19]

Meskipun ikut menggairahkan semangat rakyat membantu Jepang, ulama Minangkabau pada saat bersamaan ikut menyuburkan tumbuhnya semangat nasionalisme Indonesia. Mereka memberikan dorongan kepada para pemuda untuk mengikuti pelatihan-pelatihan militer yang dianjurkan oleh Jepang. Bersama tokoh adat, mereka terlibat dalam proses perekrutan calon perwira Giyugun untuk meminimalkan pengaruh propaganda Jepang dan menggantinya dengan semangat nasionalisme. Sejarawan Gusti Asnan mencatat, keterlibatan mereka dalam penyeleksian perwira adalah memilih calon yang telah berusia di atas 25 tahun hingga 30 tahun dan menyisipkan semangat cinta Tanah Air dalam mars Giyugun. "Mereka menginginkan agar calon yang akan diterima telah cukup dewasa dan bisa menghindari pengaruh negatif dari didikan militer Jepang."[20][21][22]

Akademisi Irhash A. Shamad menyebutkan, dukungan semu yang diberikan oleh para ulama Minangkabau pada masa pemerintahan Jepang telah membutakan mata Jepang dalam melihat apa yang ada di balik dukungan ulama dalam pembentukan Giyugun. Tokoh-tokoh masyarakat bersama-sama berusaha agar kemerdekaan Indonesia dapat segera dicapai. Menurut Irhash, melawan secara terang-terangan kepada Jepang merupakan perhitungan yang keliru pada waktu itu sehingga para ulama memberikan motivasi kepada rakyat untuk melawan dengan diam-diam "sambil berlindung di balik dukungan terhadap Perang Asia Timur Raya yang didengungkan oleh Jepang".[21]

Pengerahan tenaga pendudukSunting

Lihat pula: Giyugun dan romusha
 
Relief di Tugu Padang Area, Padang yang menggambarkan antusiasme rakyat bergabung dengan Giyugun

Dalam waktu setahun sejak pendudukan, Jepang menggeser fokus kebijakan mereka dari konsolidasi kekuatan dan pengendalian terhadap daerah-daerah yang telah diduduki di Asia Tenggara ke upaya-upaya persiapan mempertahankan kawasan ini dari serangan Sekutu.[23] Jepang berupaya mengerahkan tenaga penduduk untuk kepentingan Jepang. Sebelumnya, tentara pendudukan gagal melengkapi kekuatan angkatan bersenjata dengan menggunakan sistem tentara bayaran. Kepada Gubernur Sumatra Barat Yano Kenzo, Chatib Sulaiman mengusulkan pembentukan tentara sukarela di Sumatra Barat yang bisa dimanfaatkan untuk melengkapi kekuatan balatentara Jepang.[13] Setelah Komando Angkatan Darat yang berkedudukan di Saigon, Vietnam mengeluarkan perintah untuk membentuk kyodo boei giyugun pada 8 September 1943, Panglima Tentara ke-25 Tanabe memberi kewenangan penuh kepada Gubernur Sumatra Barat untuk melaksanakan pembentukan tentara sukareka.[23]

 
Rasuna Said, tokoh Permi yang memimpin pergerakan perempuan lewat organisasi Hahanokai sewaktu pendudukan Jepang di Sumatra Barat

Pada 14 Oktober 1943, Chatib Sulaiman memimpin dan memelopori terbentuknya panitia untuk pembentukan Giyugun bernama Giyugun Koenkai.[24][d] Panitia ini di bawah pengawasan Jepang menyaring calon perwira sukarela yang akan dibentuk.[23] Perekrutan calon perwira Giyugun dilakukan Chatib Sulaiman bersama Muhammad Sjafei, Mahmud Yunus, dan Ahmad Datuak Simarajo.[e] mereka meyakinkan para perwira bahwa bekal latihan militer dari Jepang ditujukan untuk pencapaian cita-cita kemerdekaan Indonesia.[28] Giyugun menjadi satu-satunya kekuatan militer yang dibentuk Jepang di Sumatra Barat.[29] Angkatan Giyugun mula-mula dibentuk di Padang dan wilayah pesisir.[30] Di wilayah dataran tinggi, Giyugun baru dibentuk pada pengujung 1944. Giyugun Koenkai, perhimpunan pendukung Giyugun, dibentuk sebagai penghubung antara tokoh sipil dengan tokoh militer dan mengumpulkan logistik dari nagari-nagari. Hahanokai, organisasi serupa yang beranggotakan perempuan didirikan untuk menyelenggarakan bentuk dukungan moril dan materil.[31] Sampai proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, Giyugun telah menyelenggarakan dua kali latihan bagi opsirnya.[18]


Seiring eskalasi ketegangan Perang Pasifik, Jepang meningkatkan kontrol terhadap penduduk. Dalam upaya memenuhi kebutuhan terhadap tenaga kerja, otoritas Jepang mengenakan kerja wajib romusha kepada penduduk untuk berbagai keperluan Jepang, seperti membangun jalan raya, jalur kereta api, jembatan, benteng-benteng, dan terowongan perlindungan. Selain itu, kepada para pegawai negeri, pedangang, anak-anak sekolah serta penduduk yang tidak ikut kerja paksa dikenai kinro hoshi, kerja bakti mengumpulkan batu-batu kali, pasir, dan kerikil serta mengangkutnya ke tempat-tempat yang diperlukan.[32] Bunker dan terowongan perlindungan peninggalan Jepang ditemukan di Padang dan Bukittinggi. Jalur kereta api Muaro–Pekanbaru adalah hasil kerja paksa yang melibatkan kurang lebih 5.000 tahanan perang dan 30.000 pekerja romusha.

Lewat jalur pendidikan, Jepang melakukan perubahan-perubahan secara mendasar di Sumatra Barat. Sekolah-sekolah dimobilisasi untuk kepentingan Jepang. Bahasa Indonesia dijadikan bahasa pengantar di sekolah untuk mempekenalkan kebudayaan Jepang dan pada saat yang sama, para murid dalam berbagai tingkatan diajarkan berbahasa Jepang. Sementara itu, golongan terpelajar, terutama para guru, pegawai negeri, dan murid-murid dijadikan "orang Jepang baru". Seikeirei (rukuk menghadap istana kaisar di Tokyo) dan mukto (memperingati arwah-arwah pahlawan Jepang) dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Kegiatan ini biasanya dilakukan setelah mendengar pidato Shu Cho Kan atau para petinggi Jepang. Keirei (memberi hormat dengan sikap berdiri) wajib dilakukan setiap kali berpapasan dengan pembesar–bahkan mobil–Jepang.[18][32] Penanggalan Masehi yang digunakan diganti dengan tahun Sumera yang selisihnya 660 tahun, sementara tanda waktu disesuaikan dengan waktu Jepang yang selisihnya sekitar 2,5 jam dari waktu Tokyo.[18][32]

PerempuanSunting

Lihat pula: Jugun ianfu
 
Rahmah El Yunusiyah menuntut pemerintah pendudukan Jepang untuk menutup rumah bordil dan menentang pengerahan perempuan Indonesia sebagai wanita penghibur.

Selama pendudukan Jepang, banyak perempuan Sumatra Barat menjadi korban kekerasan tentara Jepang, khususnya eksploitasi seksual. Tindak kekerasan terhadap perempuan telah terjadi sejak hari-hari pertama bala tentara Jepang datang. Aturan-aturan nilai yang menghargai perempuan dilecehkan oleh tindakan seperti memaksa, menculik, dan memperkosa, hingga menjadikan perempuan penghibur secara paksa atau jugun ianfu. Jepang tidak lagi bisa mendatangkan perempuan penghibur dari negeri mereka sehingga sebagai gantinya, Jepang membuat kebijakan untuk memaksa perempuan sebagai penghibur bagi kebutuhan tentaranya di rumah-rumah bordil yang mereka dirikan. Kebijakan pemerintah yang dikeluarkan pada 1938 mengatakan bahwa setiap batalion perlu memiliki rumah pelacuran, agar serdadu Jepang dapat konsentrasi dalam menghadapi perang.[33][34]

Mengatasi tindakan berupa paksaan ini telah diupayakan oleh pemuka daerah setempat. Soekarno ketika berada di Padang setelah berdiskusi dengan beberapa ulama memberi izin praktik prostitusi untuk tentara Jepang. "Semata-mata sebagai tindakan darurat, demi menjaga para gadis kita, aku bermaksud memanfaatkan para pelacur di daerah ini. Dengan cara ini, orang-orang asing dapat memuaskan keinginannya dan sebaiknya para gadis tidak diganggu," beber Soekarno.[35][36][37][38] Pemberian izin tersebut ditandai dengan adanya rumah-rumah bordil di beberpa tempat Sumatra Barat seperti Padang, Bukittinggi, dan Payakumbuh. Umumnya para pekerja seks berasal dari perempuan non-Sumatra Barat, kebanyakan mereka berasal dari perempuan yang dibawa oleh Belanda bekerja dan hidupnya terlantar.[33]

Pemberian izin Soekarno terhadap rumah-rumah bordil awalnya bertujuan agar tentara Jepang tidak lagi mengganggu perempuan-perempuan Sumatra Barat. Namun, para perempuan yang diberi izin beroperasi pada kamp-kamp Jepang tidak sebanding jumlahnya dengan tentara yang ribuan jumlahnya. "Untuk mendapatkan perempuan penghibur yang disediakan, tentara Jepang harus beli karcis antrean. Bahkan untuk satu perempuan ada yang antre sampai empat/enam orang satu malam," ujar kesaksian salah seorang Kaigun Heiho berpangkat kopral. Dengan adanya karcis, serdadu Jepang menjadi teratur dalam menunggu giliran untuk dapat bersama dengan perempuan yang diinginkannya.[33]

Ketimpangan yang mencolok menimbulkan rasa tidak puas pada banyak serdadu Jepang sehingga mendorong mereka melakukan pemaksaan kepada banyak perempuan Sumatra Barat. Untuk mendapatkan perempuan, Jepang melakukan dengan cara pemaksaan, penculikan, pemerkosaan, dan bujukan demi mencapai maksudnya. Mereka bahkan tidak segan-segan menarik perempuan walau sudah kawin, tidak peduli perempuan itu sedang duduk dengan suaminya.[33]

Pengaruh JepangSunting

 
Lubang Jepang di Bukittinggi, terowongan perlindungan yang dibangun oleh para pekerja paksa.

Dijadikannya bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di sekolah berpengaruh pada perkembangan bahasa Indonesia dan menyebabkan timbulnya rasa persatuan di kalangan rakyat. Pendidikan yang diberikan Jepang mempercepat matangnya usaha kemerdekaan Indonesia, satu hal yang tidak disadari oleh penguasa Jepang di Sumatra Barat. Dalam lapangan politik, Jepang telah mewariskan bentuk lembaga representatif Kerukunan Minangkabau yang menghimpum tokoh adat dan agama sebagai penasihat bagi residen.[39] Meski tidak memiliki wewenang resmi dalam pemerintahan, mereka dapat mewarnai kebijakan penguasa Jepang di Sumatra Barat.[15] dan secara diam-diam menanamkan cita-cita kebangsaan kepada rakyat.[40] Dalam bidang militer, Jepang memberikan pelatihan militer lewat tentara sukarela Giyugun. Angkatan terawal perwira Giyugun kelak berperan dalam pendirian angkatan bersenjata Indonesia setelah kemerdekaan[41] dan sebagian besar di antara mereka memperoleh tempat strategis dalam hierarki kemiliteran pada masa revolusi.

Audrey Kahin mencatat, kerja sama di antara tokoh adat dan agama selama pendudukan Jepang di Sumatra Barat telah membentuk mata rantai hubungan teritorial dan landasan bagi terciptanya saling pengertian, sesuatu yang sangat bernilai pada tahun-tahun setelah kemerdekaan.[28]

Catatan kakiSunting

KeteranganSunting

  1. ^ Soekarno diasingkan oleh Belanda ke Bengkulu sejak tahun 1938. Ketika pasukan Jepang mendarat di Palembang, Belanda mengatur pemindahan Soekarno ke Padang untuk menerbangkannya ke Australia. Menurut sejarawan Mestika Zed, Belanda khawatir jika nantinya Soekarno dimanfaatkan Jepang untuk tujuan propaganda anti-Belanda.[7] Namun, kapal yang sedianya akan mengangkut Soekarno dari Padang telah ditenggelamkan Jepang dekat Pulau Enggano. Tentara Belanda menyelamatkan diri ke Barus dan meninggalkan Soekarno di Painan. Tokoh-tokoh Hizbul Wathan menjemput Soekarno untuk dibawa ke Padang dengan menggunakan pedati. Soekarno tiba di Padang beberapa hari sebelum tentara Jepang menduduki kota pada 17 Maret 1942.[8]
  2. ^ Kerukunan Minangkabau didirikan oleh Yano pada 1 Oktober 1942. Anggotanya terdiri dai 10 sampai 20 orang, yang diwakili dari setiap distrik, subdistrik, kepala nagari, kepala adat, para ulama, pemuda, dan kaum terpelajar.
  3. ^ Jepang merancang pembentukan organisasi Masyumi di pusat. Kantor Urusan Agama didirikan di setiap keresidenan bernama Shu Muka. Para ulama diberikan program pelatihan khusus yang disebut dengan Kiyai Koshokai dalam rangka mempersiapkan mereka menjadi alat propaganda Jepang. "Prinsip-Prinsip Mengenai Pemerintahan Militer di Wilayah Pendudukan" (Senryochi Gunsei Jisshi Yoko) yang dikeluarkan otoritas Jepang pada tanggal 14 Maret 1942 meyebutkan, "bahwa agama-agama harus dihormati sejauh mungkin untuk menjaga kestabilan pikiran rakyat… Kaum Muslim, harus diberikan perhatian khusus untuk memanfaatkan mereka dalam rangka mencengkeram pikiran rakyat".[16]
  4. ^ Chatib Sulaiman sibuk berkeliling Sumatra Barat untuk merekrut calon perwira Giyugun, sebagian besar waktunya digunakan untuk bolak-balik antara Padang dan Bukittinggi.[25]
  5. ^ Pemuda-pemuda di Minangkabau didorong untuk menjadi pasukan Giyugun agar mendapat pelatihan kemiliteran dari Jepang. Dengan dorongan dari tokoh adat dan agama, banyak pemuda-pemuda mendaftarkan diri menjadi Giyugun. Di antara mereka yang tercatat adalah Dahlan Djambek, Ismail Lengah, Syarif Usman, Dahlan Ibrahim, Syofyan Nur, Syofyan Ibrahim. A. Thalib, Nurmatias, Sayuti Amin, Alwi St. Marajo, Syefei Ali, Mahyuddin Tonek, Burhanuddin, Munir Latief, dan banyak lagi yang lain;[26][27]

RujukanSunting

Daftar pustakaSunting