Darul Funun (diucapkan "Dar-el-Funoon", bahasa Persia/Arab: دار الفنون‎ yang berarti "Variasi, Seni" dalam bahasa Arab dan istilah "Politeknik" dalam bahasa Persia); Darul Funun adalah salah satu bagian dari sejarah pendidikan Islam dalam masa pergerakan Indonesia dan merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Perguruan ini berhubungan dengan masjid Surau Gadang Padang Japang, Sumatera Thawalib Padang Japang, Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), Pergerakan Kaum Muda (The Kaum Muda Movement), Reformasi Pendidikan Agama, Imam Bonjol, Pergerakan Pra-Kemerdekaan, Pergerakan Pasca Kemerdekaan Republik Indonesia, dan Pioner Integrasi Pendidikan Sains dan Agama.

Darul Funun
Logo-Perguruan darulfunun.jpg
Nama sebelumnya
Surau Gadang Datuk Jabok, Sumatera Thawalib Padang Japang
Didirikan1854
Lembaga induk
Yayasan Darul Funun El-Abbasiyah (YDFA)
Penanggungjawab
Tan Jabok
DirekturBuya Dr H Afifi Fauzi Abbas MA
Buya Drs H Adiaputra
Kepala MadrasahUst Rahimullah SAg (Aliyah)

Ust Jafar Rabbani SPd (Tsanawiyah)

Ust Fajri El Abbasy (Surau Putra/i)
Lokasi
Sumatera Barat
Situs webdarulfunun.or.id
perguruandarulfunun.id

Pada mulanya perguruan ini adalah surau tempat belajar mengaji bagi pemuda setelah usia baligh yang didirikan oleh Syekh Abdullah Dt Jabok di Padang Japang, VII Koto Talago, Guguak Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat pada tahun 1854.[1] Lokasi surau ini pun sangat strategis dalam perjuangan pertahanan sipil ayahnya Tuanku Syekh Qadi dan Tuanku Nan Biru, garis pertahanan luar pasukan Bonjol di daerah Mudiak Kabupaten Limapuluhkota. Dikarenakan itu surau ini juga menjadi basis penempaan pemuda dalam persiapan perjuangan.

Yayasan Darul Funun El-Abbasiyah - 1987
Dari kiri: Syekh Abbas Abdullah, Soekarno, Syekh Mustafa Abdullah

Dalam perjalanannya Darul Funun memiliki beberapa periode pengembangan, dan juga tantangan zaman pada pra kemerdekaan, proses kemerdekaan dan paska kemerdekaan Republik Indonesia. Darul Funun sejak tahun 1954 dinaungi oleh Yayasan Wakaf Darul Funun. Saat ini, misi Darul Funun antara lain adalah wadah pendidikan yang inklusif, dakwah agama Islam dan pembangunan masyarakat.[2]

RiwayatSunting

Tercatat beberapa nama dalam transisi pengembangan Darul Funun:

  1. Surau Gadang
  2. Sumatera Thawalib
  3. Perguruan Darul Funun
  4. Surau Darul Funun
  5. Darul Funun

Periode 1854-1903Sunting

Surau Pembinaan PemudaSunting

Tuanku Nan Banyak Beliau Qadi Datuk Perpatih nan Sabatang

Syaikh Ibrahim Datuk Tan Malaka Pandam Gadang

Surau Gadang Datuk JabokSunting

Masjid Raya Padang Japang

Meninggalnya Syekh AbdullahSunting

Meninggalnya Syekh Abdullah Datuk Jabok pada tahun 1903, merupakan kehilangan besar karena Surau tempat menempa pemuda kehilangan tokohnya. Dari kesemua anak-anak Syekh Abdullah, Syekh Muhammad Shalih adalah yang tertua beliau dikenal sebagai Syekh Madina dan tersohor di Pariaman, dan juga Syekh Mustafa mengajar di Suraunya sendiri di daerah Payakumbuh, sedangkan Syekh Abbas Abdullah masih berada di perantauan.

Syekh Madina, Beliau Gadang, Beliau KetekSunting

Syekh Madina bernama Muhammad Shalih bin Abdullah, adalah anak laki-laki tertua dari Syekh Abdullah dari istri beliau di Padang Japang. Beliau Gadang bernama Mustafa bin Abdullah anak kedua dari Syekh Abdullah dan Beliau Ketek bernama Abbas bin Abdullah.

Sambil mengajar di suraunya masing-masing Syekh Muhammad Shalih dan Syekh Mustafa juga bergiliran menopang pembelajaran di Surau Gadang Syekh Abdullah, dan menunggu kembalinya Syekh Abbas Abdullah. Guru besar adalah Syekh Muhammad Shalih dan Syekh Mustafa. Sekembalinya Syekh Abbas Abdullah, beliau mulai terlibat dalam pengembangan kurikullum, pemurnian akidah dan pengembangan tren keilmuan islam.

Metode pembelajaran di Surau Gadang bukannya hanya metode halaqah, tetapi juga tarikat, suluk. Sekembalinya Syekh Abbas Abdullah metode ini mulai tersisih karena metode kelas diperkenalkan, pembelajaran tarikat yang berdasarkan senioritas dan kemahiran khusus (misal fiqih, falak, dsb) disempurnakan menjadi pembelajaran berdasarkan tahapan pembelajaran yang bisa dijangka kan waktu selesainya, dan kurikullum pembelajaran diperluas tidak hanya tertumpu kepada satu kekhususan, pembelajaran bahasa asing diperkenalkan, keilmuan dan kitab-kitab umum juga diperkenalkan.

Transformasi metode ini juga mendapatkan kendala, hingga keberangkatan Beliau Gadang dan Beliau Ketek ke Tanah Suci dan belajar kembali kepada Syekh Ahmad Khatib tentang Ushulluddin dan keterbukaannya terhadap modernitas, setelah kembalinya dua Beliau ini, Surau Gadang Syekh Abdullah semakin yakin dalam upaya pengembangannya.

Periode 1903-1930Sunting

Meninggalnya Syekh MadinahSunting

Syekh Madinah sebagai tokoh ulama kharismatik, tarikat dan juga tersohor di pariaman. Meninggalnya beliau menjadikan Surau Gadang kehilangan tokohnya, dan juga memberikan tekanan yang kuat terhadap pengembangan Surau Gadang yang sedang bertransformasi karena kehilangan tokoh tarikat ulama tua yang menjadi penengah jika terjadi perselisihan dengan ulama tua.

Dengan meninggalnya Syekh Madinah, amanah Surau Gadang dialihkan kepada Beliau Gadang dan Beliau Ketek, upaya transformasi pendidikan modern terus dilakukan, dan juga semakin kuatnya pengaruh para haji kaum muda, menjadikan upaya pengembangan masih terus dapat digiatkan.

Para Haji Kaum MudaSunting

Sumatera Thawalib adalah salah satu organisasi massa (ormas) awal di Indonesia, yang berbasis di Sumatera Barat. Sumatera Thawalib mewakili sekolah islam modern di Indonesia[3][4], reformasi pemikiran dan pendidikan Islam yang menitikberatkan kepada Al-Qur'an dan Al-Hadits, juga pendekatan pendidikan keilmuan modern, dan pemurnian akidah.

Pemurnian akidah ini diinspirasi oleh para Haji yang baru kembali dari Mekkah, jika sebelumnya upaya pengajaran ini bersifat masing-masing, pada masa ini upaya dakwah ini dilakukan secara terorganisir dan berjamaah, hal ini diinspirasikan oleh Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi kapada para murid-murid beliau Syekh Abbas Abdullah, Syekh Mustafa Abdullah, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy'ari, Haji Abdul Malik Karim Amrullah, Syeikh Ibrahim Musa Parabek, Syeikh Djamil Jambek, dsb.[5] Pendekatan pendidikan modern tersinspirasi oleh Islamic Modernism yang di promosikan oleh Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al-Afghani.[6]

Majlis Islam Tinggi (MIT)Sunting

Para haji yang belajar dengan Syeikh Ahmad Khatib ini dikemudian hari dikenal dengan istilah Kaum Muda oleh Taufik Abdullah dalam tesis bukunya The Kaum Muda Movement in West Sumatera[7]. Yang menariknya diantara para haji ini mereka melakukan pertemuan dan diskusi keagamaan antar satu sama lainnya untuk membahas pengembangan dan permasalahan-permasalahan keagamaan yang terjadi di masyarakat, hasil-hasil pertemuan dan ijtima' mereka inilah yang kemudian kita saksikan sebagai pembaharuan dalam pendekatan keagamaan dan pendidikan di Sumatera Barat dan Indonesia. Pada kemudian hari pertemuan dan diskusi muzakaarah ulama muda ini dikukuhkan dengan nama MIT (Majlis Islam Tinggi), yang dikemudian hari pernah berperan mengeluarkan fatwa Jihad sewaktu ditubuhkannya Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittingi oleh Syafruddin Prawiranegara atas mandat Mentri Pertahanan/Perdana Menteri M Hatta yang ditawan di Yogyakarta bersama Presiden Soekarno. Dalam fatwa jihad ini dikeluarkan ijtima ulama mengenai perlawanan sipil, dan komando pasukan di lapangan di amanahkan kepada Imam Jihad Sumatera Tengah Syekh Abbas Abdullah.

Majlis Islam Tinggi ini menjadi inspirasi bagi Haji Abdul Malik Karim Amrullah untuk menubuhkan Majlis Ulama Indonesia, bagaimana beliau melihat proses muzakarah, diskusi keagamaan dan menjadi poros untuk pengembangan umat.

Sumatera ThawalibSunting

Istilah Sumatera Thawalib secara bahasa berarti "Pelajar Sumatera", dan ditubuhkan pada tanggal 15 Januari 1919 hasil dari pertemuan para haji (kaum muda) di Padang Panjang. Tujuan dari organisasi ini adalah memberikan pemahaman yang mendalam tentang keilmuan islam kepada sesama perguruan islam. Organisasi ini memberikan kontribusi yang kuat terhadap perkembangan Islam di Sumatera Barat dan Indonesia pada awal abad ke-20.[8][9][10][11]

Pada 1913, Zainuddin Labai Al-Yunusi kembali ke Padang Panjang setelah berguru kepada Syekh Abbas Abdullah di Padang Japang, Payakumbuh. Syekh Abbas Abdullah dikenal sebagai ulama modern yang berwawasan luas, di Suraunya siswa di ajarkan ilmu geografi, falak, bahasa belanda, sejarah dunia, matematika dan ilmu umum lainnya, yang materi-materi pengajarannya didapatkan dari buku-buku yang diimpor nya dari Mesir selain kitab-kitab wajib ilmu agama. Selain metode kelas dan materi pengajaran, Syekh Abbas Abdullah juga memberi kesempatan belajar kepada anak-anak perempuan, yang menjadi murid-murid perempuannya adalah anak kemenakannya dan anak perempuan di area Surau Gadang Padang Japang.[12]

Zainuddin menjadi guru di Surau Jembatan Besi, dan kemudian pada tahun 1915 membuka sekolahnya sendiri yang bernama Diniyyah School, yang juga menggunakan sistem kelas dan mengajarkan pengetahuan umum yang terinspirasi oleh metode pendidikan yang dikembangkan gurunya Syekh Abbas Abdullah. Selain itu, Zainuddin Labay bersama adiknya Rahmah El-Yunusiah menginisiasi kelas belajar untuk siswa perempuan yang diberikan nama Diniyyah Putri. Pada saat itu hanya dua perguruan ini yang memberikan ruang pendidikan kepada anak perempuan, yakni Nahdatun Nisaiyah (alumni sekolah perempuan Darul Funun) dan Diniyyah Putri di Padang Panjang, dan juga mendirikan kepanduan/pramuka pada zaman itu yang diberi nama Hilal Darulfunun.

Sebagaimana Surau Jembatan Besi mengalami beberapa refromasi organiasi pelajar, adalah tahun 1918 ketika pada haji (kaum muda) bersepakat (ijtimak ulama) mengukuhkan nama Surau Sumatera Thawalib, hal ini diikuti oleh para haji (kaum muda) untuk mengubah nama menjadi Sumatera Thawalib. Beberapa standardisasi yang dilakukan masing-masing perguruan didiskusikan untuk diadopsi menjadi bentuk tajid modernitas pendidikan Islam, diantaranya adalah mengubah halaqah menjadi kelas, rekontruksi kurikulum dan metode pengajaran, dan penggunakan buku text dan pengenalan ilmu umum.[13]

Perubahan ini menjadikan nama-nama surau perguruan para haji (kaum muda) mengubah namanya menjadi Sumatera Thawalib, Surau Gadang Padang Japang yang dipelopori oleh Syekh Abbas dan Mustafa Abdullah menjadi Sumatera Thawalib Padang Japang, Surau Parabek yang dipelopori oleh Syekh Ibrahim Musa menjadi Sumatera Thawalib Parabek, dan ini diikuti oleh banyak surau lainnya yang notabene adalah murid-murid dari ulama kaum muda ataupun ulama-ulama yang bergabung dalam kemudian hari.[14]

Studi Banding ke Pusat Peradaban DuniaSunting

Untuk mengukuhkan komitmen dan konsep sistem pendidikan yang ingin dikembangkan, Syekh Abbas Abdullah kembali merantau ke Tanah Suci, setelah melakukan ibadah haji, bertemu kawan dan guru, beliau juga menyempatkan duduk menjadi Mustami' (pendengar/visiting student/fellow) di Universitas Al-Azhar di Mesir, dari semua guru-gurunya ada satu gurunya yang disebut ketika beliau mengajar, adalah Syaikh Badwiy/Badawi, seorang ulama yang buta tetapi sangat mahir dalam memberikan pendapat.

Di Mesir beliau duduk cukup lama hingga beliau sempat bertemu dan berkawan dengan para tokoh muda reformasi pendidikan di sana, seperti Hasan Al-Banna. Mereka sempat bertemu kembali di Swiss dan juga bertemu seorang mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Al-Azhar, yakni Prof Mahmoed Joenoes. Selain di Mesir beliau juga menyempatkan studi banding ke beberapa negara muslim timur tengah, seperti Lebanon, Syiria, Palestina, Turki, Iran. Di Turki sebagai pusat peradaban Islam yang maju, beliau melihat bagaimana Institusi Pendidikan sudah dikembangkan begitu jauh, yang juga menjadi kiblat dan pembelajaran bagi dunia barat. Salah satu yang terkenang oleh Syekh Abbas Abdullah, sehingga mengilhami beliau dikemudian hari menamakan perguruannya dengan nama Darul Funun, adalah Istanbul University,yang pada tahun 1846 masih bernama Darul Funun dan pada tahun 1933 menjadi Universitas Istanbul, yang merupakan transformasi Madrasah yang dibangun pada tahun 1453 oleh Sultan Mehmet II Al-Fatih setelah menaklukan Konstatinopel.[15][16][17]

Institusi Pendidikan di Pusat Peradaban Islam inilah yang kemudian mengilhami beliau tentang bagaimana agama dan sains harus dikembangkan dalam pengajaran, sistem kelas dan teknologi harus diperkenalkan, dan tahapan-tahapan pengembangan untuk menjadi target pengembangan kedepannya. Bagi ulama kaum muda, wawasan Syekh Abbas Abdullah ini sangat berharga dan menjadi pijakan pengembangan Darul Funun, Sumatera Thawalib, Majlis Islam Tinggi Islam dan masyarakat pendidikan secara umum kedepannya

Periode 1930-1957Sunting

Majalah Al-ImamSunting

Majalah Al-Imam [18]

Menopang Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI)Sunting

1948-1949 [19][20][21]

Sila Ketuhanan dan Peci SoekarnoSunting

Sila ketuhanan[22]

Peci Soekarno [23][24][25]

Stylist Proklamasi [26]

Meninggalnya Syekh Mustafa AbdullahSunting


Periode 1957-1987Sunting

Madrasah Negeri Padang JapangSunting

Sejarah MTsN dan MAN Padang Japang [27]

Periode 2018-sekarangSunting

Mengukuhkan Gelar BuyaSunting

Pada bulan maret 2019 Darul Funun mengukuhkan sako gelar Buya kepada Buya Dr H Afifi Fauzi Abbas, MA dan Buya Drs H Adiaputra. Dengan adanya pengukuhan tokoh ini, maka dimulailah babak baru pengembangan Darul Funun yang lebih luas.

Tantangan Dakwah KedepanSunting

Setidak-tidaknya upaya pengembangan dan menyesuaikan pola dakwah kedepan menjadi perhatian yang dilakukan oleh Darul Funun, diantaranya:

Didalam Dakwah Islam dan Masyarakat Indonesia, Buya Dr H Afifi Fauzi Abbas mengemukakan tentang pentingnya menyesuaikan teknologi yang berkembang untuk menopang dakwah supaya tidak tertinggal, sehingga Islam dan keilmuannya tidak juga tertinggal.[28] Kemudian berkurangnya muzakarah dan juga mediumnya untuk memfasilitasi pertukaran pemikiran para ulama sehingga upaya tajdid (pembaharuan) tidak menjadi kontraproduktif.[29]

Alumni & Tokoh Darul FununSunting

  • Tuanku Nan Banyak Beliau Qadi Datuk Perpatih Nan Sabatang
  • Syekh Abdullah Datuk Jabok
  • Syekh Muhammad Shalih Tuanku Madinah
  • Syekh Mustafa Abdullah Beliau Gadang
  • Syekh Abbas Abdullah Beliau Ketek Datuk Karaing
  • Zainuddin Labay El-Yunusiah, pendiri Diniyah School
  • Kapten Azhari Abbas, Komandan Pejuang Fisabilillah PDRI
  • Kapten Thantawi Mustafa, Komandan Pejuang Fisabilillah PDRI, namanya di abadikan sebagai nama jalan dan stadium di Payakumbuh
  • Nasruddin Thaha, pendiri Islamic College Payakumbuh, Kepala Perwakilan Agama Payakumbuh, penulis Pedoman Perkawinan Islam: Nikah, Talak, Rudju.
  • Sulaiman Rasyid, Ketua Penyelidik Hukum Agama Lampung, penulis buku Fiqh Islam.
  • Buya Fauzi Abbas, Ketua Yayasan Darul Funun, tokoh masyarakat limapuluh kota, bersama M Natsir membangun wilayah Tanah Mati menjadi kawasan pembibitan coklat.
  • Buya Bermawi Mukmin, Guru Besar Darul Funun, tokoh masyarakat limapuluhkota
  • Adly Fauzi Datuk Karaing Nan Sati, mantan Camat Pangkalan Koto Baru, Tokoh Masyarakat Limapuluhkota dan Payakumbuh
  • Alis Marajo, Datuk Sori Marajo, Dokter, dan mantan Bupati Limapuluhkota
  • Brigjen (Purn) Adityawarman Thaha, mantan Perwira Tinggi TNI AD, Staff Ahli Panglima TNI
  • Fachrul Rasyid, Wartawan Senior Sumatera Barat.
  • Adi Bermasa, Wartawan Senior Sumatera Barat.
  • Buya Dr Afifi Fauzi Abbas, Ketua Yayasan Darul Funun, Assoc Prof dalam jurusan Fiqih & Syariah, Ketua Senat IAIN Bukittinggi, Ketua PDM Limapuluhkota.
  • Buya Adiaputra, Pimpinan Perguruan Darul Funun, tokoh masyarakat.
  • Mazman Mazni Mustafa, Pimpinan Yayasan, Ahli Perkebunan di Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian dan Indonesia Coconut Board.

KepengurusanSunting

catatan: masih banyak lagi nama-nama yang belum tertulis karena keterbatasan referensi

Periode Bentuk Kepengurusan / Nadzir Lembaga Tokoh lainnya
1854-1903 Syekh Abbas Abdullah
1903-1912 Syekh Muhammad Shalih
1912-1950 Syekh Mustafa Abdullah

Syekh Abbas Abdullah

Zainuddin Labay El-Yunusiah

H Sulaiman Rasyid

H Nasruddin Thaha

H Zainuddin Hamidy

Ummi Rohana

Kapten Azhari Abbas

Kapten Thantawi Mustafa

Hj Sofiah Abbas

Hj Fatimah Reno

Sarijanaah

Summah

Barinam

1950-1957 Akta Wakaf (Pengelola) Syekh Abbas Abdullah
1957-1984 Akta Wakaf (Pengelola) Tuan Haji Fauzi Abbas BA H Bermawi Mukmin

H Muis Abbas

Ummi Hj Yuhaena Ahmad

1984-1987 - vakum - H Faruk Abbas

Adilah Fauzi

Hj Nurjani

1987-2018 Akta Yayasan Buya Dr H Afifi Fauzi Abbas MA YDFA H Ismed Abbas

Datuk Adly Fauzi BA

Rohidar Mustafa

Ir Mazman Mazni

Buya Drs H Adia Putra

Brigjen Drs Adityawarman Thaha

Fachrul Rasyid

Yana Abe

Adi Bermassa

Alis Marajo

Arifah Thaha

2018-sekarang Akta Yayasan Tan Jabok YDFA Datuk Dr H Arman Husni Lc MA

Datuk Ir Azizi Fauzi MT

Ust Rahimullah SAg

Ust Ja'far Rabbani

Ust Fajri El Abbasy

ReferensiSunting

  1. ^ VII Koto Talago, Saksi Sejarah Romantisme Toleransi Para Ulama. Abdullah Arifianto, 2017
  2. ^ Membaca visi Syekh Abbas Abdullah dalam nama Darul Funun, Abdullah Arifianto, 2015.
  3. ^ Modernism (Islam in Indonesia), Wikipedia
  4. ^ Islam in Indonesia, Early Modern Period Wikipedia
  5. ^ Daya, Burhaduddin. (1990) Gerakan Penbaharuan Pemikiran Islam Kasus Sumatera Thawalib. Yogyakarta: Tiara Wacana.
  6. ^ Menchik, 2017. pp.4
  7. ^ The Kaum Muda Moverment in West Sumatera, Taufik Abdullah, Cornell Modern Indonesia Project, Cornell University, 1971
  8. ^ Daya, Burhaduddin. (1990) Gerakan Penbaharuan Pemikiran Islam Kasus Sumatera Thawalib. Yogyakarta: Tiara Wacana. pp.92.
  9. ^ https://kumparan.com/padang-kita/sumatera-thawalib-sekolah-islam-modern-pertama-di-indonesia
  10. ^ https://www.covesia.com/warnawarni/baca/36493/mengenal-sumatera-thawalib-sekolah-islam-modern-pertama-di-indonesia
  11. ^ https://padangkita.com/sumatera-thawalib-sekolah-islam-modern-pertama-di-indonesia/
  12. ^ Sejarah Darul Funun, Abdullah Arifianto, Afifi Fauzi Abbas, Darulfunun Institute: 2019
  13. ^ Naim, 1990. pp.4-18.
  14. ^ Sumatera Thawalib, Sekolah Modern Islam Pertama di Indonesia. JPNN. Retrieved November 29, 2017.
  15. ^ Rüegg, Walter: "European Universities and Similar Institutions in Existence between 1812 and the End of 1944: A Chronological List", in: Rüegg, Walter (ed.): A History of the University in Europe. Vol. 3: Universities in the Nineteenth and Early Twentieth Centuries (1800–1945), Cambridge University Press, 2004, ISBN 978-0-521-36107-1, p. 687
  16. ^ History of Istanbul University, Wikipedia
  17. ^ Asal Nama Darul Funun, Abdullah Arifianto
  18. ^ http://www.darulfunun.or.id/102/al-imam-susur-galur-majalah-islam-dari-paris-hingga-padang/
  19. ^ Pemerintah Darurat Republik Indonesia, Wikipedia
  20. ^ Mengenang Syeikh Abbas Padang Japang, Ulama Besar Minang yang hampir Terlupakan, Mayonal Putra, Kompasiana:2012
  21. ^ http://www.darulfunun.or.id/32/menelusuri-jejak-dua-ulama-bersaudara-dari-padang-japang/
  22. ^ Sila Ketuhanan dari Ulama Padang Japang, Jose Hendra, Historia:2016
  23. ^ Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo Toer, Ediati Kamil, “Kronik Revolusi Indonesia” (Jilid I 1945), Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan Yayasan dikarya IKAPI dan The Ford Foundation, Jakarta, 1999.
  24. ^ Majalah Gatra, 9 Juni 2001, “Peci Tinggi Panglima Jihad”
  25. ^ Kisah Soekarno Mengunjungi Padang Japang Kab. Limapuluh Kota Sumatera Barat, Reni Efensi, Travesia
  26. ^ http://www.darulfunun.or.id/406/syekh-abbas-abdullah-stylist-proklamasi/
  27. ^ http://www.darulfunun.or.id/1097/sejarah-man-padang-japang/
  28. ^ https://fdokumen.com/document/17090054-dakwah-islam-dan-masyarakat-indonesia-dr-afifi.html, Dr Afifi Fauzi Abbas, 1988
  29. ^ https://www.kompasiana.com/musriadi/551a21aa813311597e9de0cb/ada-banyak-persoalan-dalam-memahami-islam Dr Afifi Fauzi Abbas, Milad Satu Abad Muhammadiyah, Padang Panjang: 2012