Karaniya Metta Sutta

Theravāda

  Dharmacakra flag (Thailand).svg  

Negara

  Sri Lanka
Kamboja • Laos
Myanmar • Thailand
 

Naskah

 

Kanon Pali
Kitab Komentar
Kitab Subkomentar

 

Sejarah

 

Buddhisme pra-sektarian
Sekte-sekte awal • Sthavira
Asoka • Dewan Ketiga
Vibhajjavada
Mahinda • Sanghamitta
Dipavamsa • Mahavamsa
Buddhaghosa

 

Ajaran

 

Saṃsāra • Nibbāṇa
Jalan Tengah
Jalan Utama Berunsur Delapan
Empat Kebenaran Mulia
Tahap Pencerahan
Pedoman • Tiga Mustika

 


Karaniya Metta Sutta merupakan suatu sutta dalam Kanon Pali yang terdiri dari sepuluh ayat yang berisi tentang pujian terhadap sifat-sifat yang luhur dan pengembangan metta dengan meditasi. Sutta ini dapat dijumpai pada Suttanipata (Sn 1.8) dan Khuddkapatha (Khp 9). Sutta ini pun termasuk bagian dari Paritta.

Latar belakangSunting

Menurut Atthakatha Sutta Nipata, kisah yang melatarbelakangi sutta ini adalah kisah para bhikkhu yang takut dengan roh-roh hutan tempat Buddha menyuruh mereka untuk bermeditasi. Lalu, sang Buddha mengajarkan para bhikkhu tersebut Karaniya Metta Sutta untuk memfokuskan diri mereka dalam bermeditasi dan untuk menghalau rasa takut mereka. Para bhikkhu tersebut pun melantunkan Karaniya Metta Sutta dan kemudian merasa membaik dan bergembira setelah membaca sutta ini, kegembiraan mereka pun dapat menenangkan roh-roh hutan tersebut.[1][2][3]

IsiSunting

Karaniya Metta Sutta berisi tentang perenungan dan bacaan yang menekankan pada pengembangan metta melalui sifat yang luhur dan meditasi yang suci. Pada sutta ini, diperkenalkan lima belas sifat dan moral yang luhur, beberapa di antaranya seperti jujur (uju), tulus (suju), mudah menerima pembenaran (suvaco), lemah lembut (mudu), dan tidak sombong (anatimānī).

Dalam hal pengembangan melalui meditasi, ajarannya memperkenalkan;

  • keinginan yang disengaja untuk mempermudah proses pembentukan metta (bahasa Pali: sukhino vā khemino hontu; bahasa Indonesia: "Semoga semua makhluk berbahagia dan tentram")
  • sarana untuk mengembangkan objek meditasi (kedekatan, dll.) untuk suatu keinginan
  • metafora — perspektif cinta kasih ibu kepada anaknya — perihal bagaimana cara untuk menghargai meditasi dan menjaganya dengan baik. (Catatan: hal ini sering disalahpahami sebagai metafora prototipe terhadap perasaan yang harus kita kembangkan kepada orang lain; tetapi, bukan itu yang dimaksudkan, sebagaimana dijelaskan oleh Bhikkhu Thanisaaro pada laman "Metta Means Goodwill.")[4]
  • cara untuk memancarkan metta ke segala penjuru[5]

Teks Karaniya Metta Sutta (bahasa Pali)Sunting

Karaṇīyam-attha-kusalena yantaṁ santaṁ padaṁ abhisamecca, Sakko ujū ca suhujū ca suvaco thassa mudu anatimānī,

Santussako ca subharo ca appakicco ca sallahuka-vutti, Santindriyo ca nipako ca appagabbho kulesu ananugiddho.

Na ca khuddaṁ samācare kiñci yena viññū pare upavadeyyum. Sukhino vā khemino hontu sabbe sattā bhavantu sukhitattā.

Ye keci pāna-bhūtatthi tasā vā thāvarā vā anavasesā, Dīghā vā ye mahantā vā majjhimā rassakā anuka-thūlā,

Ditthā vā ye ca aditthā ye ca dūre vasanti avidūre, Bhūtā vā sambhavesī vā sabbe sattā bhavantu sukhitattā.

Na paro paraṁ nikubbetha nātimaññetha katthaci naṁ kiñci, Byārosanā patīgha-saññā nāñña-maññassa dukkham-iccheyya.

Mātā yathā niyaṁ puttaṁ āyusā eka-putta-manurakkhe, Evampi sabba-bhūtesu mānasam-bhāvaye aparimānaṁ.

Mettañca sabba-lokasmim mānasam-bhāvaye aparimānaṁ, Uddhaṁ adho ca tiriyañca asambādhaṁ averaṁ asapattaṁ.

Titthañcaraṁ nisinno vā sayāno vā yāva tassa vigata-middho, Etaṁ satiṁ adhittheyya brahmametaṁ vihāraṁ idhamāhu.

Ditthiñca anupagamma sīlavā dassanena sampanno, Kāmesu vineyya gedhaṁ na hi jātu gabbha-seyyaṁ punaretī ti.[6][7]

Teks Karaniya Metta Sutta (bahasa Indonesia)Sunting

Inilah yang harus dikerjakan oleh mereka yang tangkas dalam kebaikan, Untuk mendapat ketenangan, Ia harus mampu, jujur dan sungguh jujur, Rendah hati, lemah lembut, tiada sombong.

Merasa puas, mudah disokong/dilayani, Tiada sibuk, sederhana hidupnya. Tenang indranya, berhati-hati, Tahu malu, tak melekat pada keluarga.

Tidak berbuat kesalahan, walaupun kecil, Yang dapat dicela oleh para bijaksana Hendaklah ia berpikir, Semoga semua makhluk berbahagia dan tenteram. Semoga semua makhluk berbahagia.

Makhluk hidup apapun juga, Yang lemah dan kuat tanpa kecuali, Yang panjang atau besar, Yang sedang, pendek, kecil atau gemuk.

Yang tampak atau tak tampak, Yang jauh ataupun yang dekat, Yang terlahir atau yang akan lahir, Semoga semua makhluk berbahagia

Jangan menipu orang lain Atau menghina siapa saja, Jangan karena marah dan benci Mengharap orang lain celaka.

Bagaikan seorang ibu yang mempertaruhkan jiwanya Melindungi anaknya yang tunggal. Demikianlah terhadap semua makhluk hidup, Dipancarkannya pikiran (kasih sayang) tanpa batas

Kasih sayangnya ke segenap alam semesta, Dipancarkannya pikirannya tanpa batas, Ke atas, ke bawah, dan ke sekeliling Tanpa rintangan, tanpa benci dan permusuhan.

Selagi berdiri, berjalan atau duduk, Atau berbaring, selagi tiada lelap Ia tekun mengembangkan kesadaran ini. Yang dikatakan : Berdiam dalam Brahma

Tiada berpegang pada pandangan yang salah, Dengan sila dan penglihatan yang sempurna, Hingga bersih dari nafsu indranya, Ia tak akan lahir dalam rahim manapun juga.[8]

ReferensiSunting

Lihat pulaSunting