Jalur kereta api Purwokerto–Wonosobo

jalur kereta api di Indonesia

Jalur kereta api Purwokerto–Wonosobo beserta lintas cabang Banjarsari–Purbalingga adalah jalur kereta api yang pernah menghubungkan Stasiun Purwokerto dengan Stasiun Wonosobo. Jalur ini panjangnya 88 km dan termasuk dalam Wilayah Aset V Purwokerto. Jalur ini dahulu merupakan lintas utama dari Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) dan dalam perkembangannya, jalurnya disambung dengan jalur SS Prupuk–Kroya.

Jalur kereta api Purwokerto–Wonosobo
Bekas Jembatan Kereta Uap Lembah Serayu Di Kali Ponggawa.jpg
Jembatan Kali Ponggawa di lintas ini
Ikhtisar
JenisJalur kereta api lintas cabang
SistemJalur kereta api rel ringan
StatusTidak beroperasi
TerminusPurwokerto
Purbalingga
Wonosobo
Operasi
Dibangun olehSerajoedal Stoomtram Maatschappij
Dibuka1896-1917
Ditutup1 Agustus 1978
PemilikPT Kereta Api Indonesia
OperatorWilayah Aset V Purwokerto
Data teknis
Panjang rel88 km
Lebar sepur1.067 mm
Kecepatan operasi40 s.d. 60 km/jam

SejarahSunting

 
Sisa jalur di segmen Mandiraja.
 
Peta jaringan kereta api SDS pada Juli 1918

Karena kebutuhan angkut wilayah Bumi Banyumas sangat besar maka diperlukan suatu jalur kereta api yang dapat menjangkau kawasan-kawasan penting di Bumi Banyumas, seperti Banjarnegara dan Purbalingga.[1] Oleh karenanya, kereta api menjadi jawaban bagi setiap persoalan pengangkutan barang di Bumi Banyumas. Pelayanan kereta api ini mengharuskan adanya suatu perusahaan; perusahaan itu kelak diberi nama Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS). SDS diberi izin berdasarkan besluit tertanggal 24 April 1894 yang disahkan oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Perusahaan ini segera melaksanakan konsesi pembangunan jalur kereta api dari Maos menuju Purwokerto Timur bersambung ke Banjarnegara.[2]

Dengan bermodal awal 1.500.000 gulden, jalur kereta api pertama SDS, Maos–Purwokerto Timur, akhirnya selesai pada tanggal 16 Juli 1896. Selanjutnya jalur ini diperpanjang hingga Sokaraja pada tanggal 5 Desember 1896.[3]

Tujuan dari dibentuknya perusahaan jasa angkutan kereta api ini adalah mengintegrasikan perusahaan-perusahaan gula. Pabrik-pabrik gula yang terintegrasi antara lain Pabrik Gula Purwokerto, Pabrik Gula Kalibagor, Pabrik Gula Kalimanah, Pabrik Gula Bojong, dan Pabrik Gula Klampok. SDS juga mengepakkan sayap bisnisnya ke pengangkutan hasil bumi seperti teh, kayu manis, dan tembakau, karena di wilayah tersebut memang ditanami tanaman tersebut.

Dalam verslag yang dibuat oleh SDS, jalur kereta apinya dibuka dalam beberapa tahap, termasuk dua percabangan menuju Kandis dari Purwareja dan percabangan menuju Purbalingga dari Banjarsari.[4]

Segmen Panjang (km) Dibuka
Purwokerto SDS–Sokaraja 9 5 Desember 1896
Sokaraja–Purwareja 16 2 Juli 1897
Purwareja–Banjarnegara 30 18 Mei 1898
Banjarnegara–Selokromo 19 1 Mei 1916
Selokromo–Wonosobo 14 7 Juni 1917
Purwareja–Kandis 7 16 Juli 1898
Banjarsari–Purbalingga 7 1 Juli 1900

Pada tanggal 1 Juli 1916, segmen jalur SS PatuguranKroya Staatsspoorwegen (SS) telah selesai dibangun. Agar memungkinkan pengguna jasa SS berpindah moda untuk ke Wonosobo, dibangunlah jalur kereta api transit dari Purwokerto menuju Purwokerto Timur.[5]

Jalur-jalur ini tetap beroperasi pasca-kemerdekaan, kecuali jalur menuju Kandis. Jalur ini dinonaktifkan pada tahun 1978 karena kalah bersaing dengan mobil pribadi dan angkutan umum. Untuk lintas ini beserta percabangan menuju Purbalingga tetap beroperasi hingga tahun 1978. Walaupun demikian Stasiun Purwokerto Timur tetap beroperasi hingga dinonaktifkan pada pertengahan dekade 2000-an karena sudah tidak dilayani angkutan pupuk.

ReaktivasiSunting

Berdasarkan Lampiran Perpres No. 79 tahun 2019, jalur kereta api ini direncanakan akan diaktifkan kembali guna mendukung pembangunan infrastruktur dalam rangka meningkatkan konektivitas antar kawasan melalui pengembangan angkutan massa yang mudah dan cepat.[6]

Sebelumnya, pada bulan April 2018 PT KAI telah melakukan survei dan pendataan stasiun di jalur ini. Tidak ada progres reaktivasi untuk jalur ini.[7] Pada tanggal 23 November 2018, PT KAI Daop V Purwokerto resmi meluncurkan angkutan terusan berupa minibus dinas yang akan melayani rute Purwokerto–Wonosobo dan Purwokerto–Purbalingga.[8]

Pada bulan Oktober 2019, PT KAI juga telah melakukan survei kembali tanah reaktivasi dan melakukan pemasangan patok DJKA berupa CP dan BM dari Purwokerto sampai Wonosobo.

Jalur terhubungSunting

Lintas aktifSunting

Lintas nonaktifSunting

Layanan kereta apiSunting

Tidak ada layanan yang dijalankan di jalur ini.

Daftar stasiunSunting

Purwokerto–WonosoboSunting

Stasiun Singomerto
Nomor Nama stasiun Singkatan Alamat Letak Ketinggian Status Foto
Lintas 10 Purwokerto–Wonosobo
Segmen Purwokerto–Purwokerto Timur
Diresmikan pada tanggal 1916
oleh Serajoedal Stoomtram Maatschappij
Termasuk dalam Daerah Operasi V Purwokerto
2110 Purwokerto PWT Jalan Stasiun Purwokerto, Kober, Purwokerto Barat, Banyumas km 349+955 lintas JakartaJatinegaraCikampekCirebon PrujakanPrupukPurwokertoKroya
km 0+200 lintas PurwokertoPurwokerto Timur
+75 m Beroperasi  
Segmen Purwokerto–Sokaraja
Diresmikan pada tanggal 5 Desember 1896
2240 Purwokerto Timur PKT Kranji, Purwokerto Timur, Banyumas km 28+986 lintas MaosPurwokerto TimurBanjarnegaraStasiun Wonosobo
km 2+739 (dari Purwokerto SS)
Tidak beroperasi  
2232 Pasarwage PWE km 30+400 Tidak beroperasi
2231 Sangkalputung SPT km 36+100 Tidak beroperasi
2229 Sokaraja SOK Sokaraja Kidul, Sokaraja, Banyumas km 37+578 +36M Tidak beroperasi  
Segmen Sokaraja–Purwareja
Diresmikan pada tanggal 2 Juli 1897
2228 Banjarsari BJRS Banjaranyar, Sokaraja, Banyumas km 41+309 lintas MaosPurwokerto TimurBanjarnegaraWonosobo
km 0+000 lintas BanjarsariPurbalingga
Tidak beroperasi  
2227 Muntang MT Sumilir, Kemangkon, Purbalingga km 44+200 Tidak beroperasi  
2226 Karangkemiri KKI Karangkemiri, Purbalingga, Purbalingga km 47+783 Tidak beroperasi
2225 Kemangkon KMA Kemangkon, Kemangkon, Purbalingga km 50+100 Tidak beroperasi
2224 Purwareja PWJ Kaliwinasuh, Purworejo Klampok, Banjarnegara km 53+704 Tidak beroperasi  
Segmen Purworejo–Banjarnegara
Diresmikan pada tanggal 18 Mei 1898
2223 Gandulekor GDK km 58+063 Tidak beroperasi
2222 Bantar BTR km 61+000 Tidak beroperasi
2221 Mandiraja MRJ km 63+514 Tidak beroperasi
2219 Purwonegoro PRW km 68+633 Tidak beroperasi
2218 Gumiwang GMW km 72+629 Tidak beroperasi
2217 Binorong BNN km 75+900 Tidak beroperasi
2216 Mantrianom MTA km 77+491 Tidak beroperasi
2215 Pucang PUC km 80+645 Tidak beroperasi
2214 Wangon WGN km 85+600 Tidak beroperasi
2213 Banjarnegara BA Jalan Mayjend Bambang Sugeng, Semarang, Banjarnegara, Banjarnegara km 86+212 +291 m Tidak beroperasi  
Segmen Banjarnegara–Selokromo
Diresmikan pada tanggal 1 Mei 1916
2212 Sukanandi SAN km 88+000 Tidak beroperasi
2211 Singomerto SGM km 90+115 Tidak beroperasi
2209 Sigaluh SGL km 92+600 Tidak beroperasi
2208 Prigi PRG km 95+800 Tidak beroperasi
2207 Bandingan BNI km 97+440 Tidak beroperasi
2206 Bojanegara BOJ km 99+626 Tidak beroperasi
2205 Tunggoro TGO km 101+720 Tidak beroperasi
2204 Selokromo SOR km 105+145 Tidak beroperasi
Segmen Selokromo–Wonosobo
Diresmikan pada tanggal 7 Juni 1917
2203 Krasak KSK km 106+192 Tidak beroperasi
2202 Selomerto SER km 110+782 Tidak beroperasi
2244 Penawangan PEA km 114+110 Tidak beroperasi
2201 Wonosobo WS Jalan Raden Kolonel Karjono, Wonosobo Barat, Wonosobo, Wonosobo km 119+229 Tidak beroperasi  

Percabangan menuju PurbalinggaSunting

Nomor Nama stasiun Singkatan Alamat Letak Ketinggian Status Foto
Segmen Banjarsari–Purbalingga
Diresmikan pada tanggal 1 Juli 1900
2228 Banjarsari BJRS Banjaranyar, Sokaraja, Banyumas km 41+309 lintas MaosPurwokerto TimurBanjarnegaraWonosobo
km 0+000 lintas BanjarsariPurbalingga
Tidak beroperasi  
2243 Jompo JPO Jalan Raya Mayjen Sungkono, Jompo, Kalimanah, Purbalingga km 1+626 Tidak beroperasi
2242 Kalimanah KLH Jalan Raya Mayjen Sungkono, Kalimanah Wetan, Kalimanah, Purbalingga km 4+535 Tidak beroperasi
2241 Purbalingga PBG Jalan Ahmad Yani, Kandang Gampang, Purbalingga, Purbalingga km 6+516 Tidak beroperasi  

Keterangan:

  • Stasiun yang ditulis tebal merupakan stasiun kelas besar dan kelas I.
  • Stasiun yang ditulis biasa merupakan stasiun kelas II/menengah, III/kecil, dan halte.
  • Stasiun yang ditulis tebal miring merupakan stasiun kelas besar atau kelas I yang nonaktif.
  • Stasiun yang ditulis miring merupakan halte atau stasiun kecil yang nonaktif.

Referensi: [9][5][10][11][12]


Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ Oemar, Mohammad; Sudarjo; Abu Suud (1994). Sejarah Daerah Jawa Tengah. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan, Depdikbud RI. 
  2. ^ Staatsblad van Nederlandsch-Indië, 1895
  3. ^ Zuhdi, Susanto (2002). Cilacap (1830-1942): bangkit dan runtuhnya suatu pelabuhan di Jawa. Jakarta: Gramedia. 
  4. ^ Serajoedal Stoomtram Maatschappij (1917). Verslag der Serajoedal Stoomtram Maatschappij. SDS. 
  5. ^ a b Staatsspoorwegen (1921–1932). Verslag der Staatsspoor-en-Tramwegen in Nederlandsch-Indië 1921-1932. Batavia: Burgerlijke Openbare Werken. 
  6. ^ Lampiran Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2019 Tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi Kawasan Kendal – Semarang – Salatiga – Demak – Grobogan, Kawasan Purworejo – Wonosobo – Magelang – Temanggung, Dan Kawasan Brebes – Tegal – Pemalang
  7. ^ Luciana, Anisa (2018-04-05). "KAI Survei Pengaktifan Kembali Jalur Kereta Purwokerto-Wonosobo". Tempo. Diakses tanggal 2018-10-15. 
  8. ^ "PT KAI Luncurkan Feeder Wonosobo-Stasiun Purwokerto". Suara Merdeka. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-11-25. Diakses tanggal 2018-11-25. 
  9. ^ Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero). 
  10. ^ Arsip milik alm. Totok Purwo mengenai Nama, Kode, dan Singkatan Stasiun Kereta Api Indonesia
  11. ^ Perusahaan Jawatan Kereta Api. Stasiun KA, Singkatan dan Jarak. 
  12. ^ Wieringa, A. (1916). Beknopt Aadrijkskundig Woordenboek van Nederlandsch-Indie. 's Gravenhage.