Buka menu utama
Perkebunan tembakau

Tembakau adalah hasil bumi yang diproses dari daun tanaman yang juga dinamai sama. Tanaman tembakau terutama adalah Nicotiana tabacum dan Nicotiana rustica, meskipun beberapa anggota Nicotiana lainnya juga dipakai dalam tingkat sangat terbatas.

Tembakau adalah produk pertanian semusim yang bukan termasuk komoditas pangan, melainkan komoditas perkebunan. Produk ini dikonsumsi bukan untuk makanan tetapi sebagai pengisi waktu luang atau "hiburan", yaitu sebagai bahan baku rokok dan cerutu. Tembakau juga dapat dikunyah. Kandungan metabolit sekunder yang kaya juga membuatnya bermanfaat sebagai pestisida dan bahan baku obat[1].

Tembakau telah lama digunakan sebagai entheogen di Amerika. Kedatangan bangsa Eropa ke Amerika Utara memopulerkan perdagangan tembakau terutama sebagai obat penenang. Kepopuleran ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat bagian selatan. Setelah Perang Saudara Amerika Serikat, perubahan dalam permintaan dan tenaga kerja menyebabkan perkembangan industri rokok. Produk baru ini dengan cepat berkembang menjadi perusahaan-perusahaan tembakau hingga terjadi kontroversi ilmiah pada pertengahan abad ke-20.

Dalam Bahasa Indonesia tembakau merupakan serapan dari bahasa asing. Bahasa Spanyol "tabaco" dianggap sebagai asal kata dalam bahasa Arawakan, khususnya, dalam bahasa Taino di Karibia, disebutkan mengacu pada gulungan daun-daun pada tumbuhan ini (menurut Bartolome de Las Casas, 1552) atau bisa juga dari kata "tabago", sejenis pipa berbentuk y untuk menghirup asap tembakau (menurut Oviedo, daun-daun tembakau dirujuk sebagai Cohiba, tetapi Sp. tabaco (juga It. tobacco) umumnya digunakan untuk mendefinisikan tumbuhan obat-obatan sejak 1410, yang berasal dari Bahasa Arab "tabbaq", yang dikabarkan ada sejak abad ke-9, sebagai nama dari berbagai jenis tumbuhan. Kata tobacco (bahasa Inggris) bisa jadi berasal dari Eropa, dan pada akhirnya diterapkan untuk tumbuhan sejenis yang berasal dari Amerika.

Jenis dan daerah penghasil tembakauSunting

 
Dua orang pegawai perusahaan perkebunan tembakau "Deli-Maatschappij" di awal abad ke-20 di Deli.

Tembakau adalah produk yang sangat sensitif terhadap cara budidaya, lokasi tanam, musim/cuaca, dan cara pengolahan. Karena itu, suatu kultivar tembakau tidak akan menghasilkan kualitas yang sama apabila ditanam di tempat yang berbeda agroekosistemnya. Produk tembakau sangat khas untuk suatu daerah tertentu dan kultivar tertentu. Akibatnya, macam-macam produk tembakau biasanya dinamai sesuai lokasi tanam.

IndonesiaSunting

Di Indonesia, macam-macam tembakau komersial yang baik hanya dihasilkan di daerah-daerah tertentu. Kualitas tembakau sangat ditentukan oleh kultivar, lokasi penanaman, waktu tanam, dan pengolahan pascapanen. Akibatnya, hanya beberapa tempat yang memiliki kesesuaian dengan kualitas tembakau terbaik, tergantung produk sasarannya.

Berdasarkan cara pengolahan pascapanen, dikenal tembakau kering-angin (air-cured), kering-asap (fire-cured), kering-panas (flue-cured), dan kering-jemur (sun-cured).

Macam-macam tembakau kualitas tinggi di Indonesia
Macam/tipe Daerah Kegunaan
Deli Deli wrapper cerutu
Srintil Temanggung Temanggung, Parakan, Ngadirejo rokok (rajangan), kunyah
Virginia-Vorstenlanden Klaten, Sleman, Boyolali, Sukoharjo sigaret
Vorstenlanden Klaten, Sleman filler, binder, dan wrapper cerutu
Madura Madura rajangan rokok
Besuki Voor-Oogst
(VO, "sebelum panen padi")
Jember, ditanam musim hujan,
panen awal kemarau
rajangan rokok
Besuki Na-Oogst
(NO, "setelah panen padi")
Jember, ditanam akhir musim hujan,
panen akhir kemarau
filler, binder, dan wrapper cerutu
Virginia-Lombok Timur Lombok Timur rajangan sigaret

Selain itu, terdapat beberapa daerah penghasil tembakau kualitas menengah ke bawah, biasanya ditanam untuk pasar domestik atau rokok kualitas rendah, tingwe ("linting dhewe"), atau tembakau kunyah, seperti tembakau Kaponan dari Ponorogo.

BiologiSunting

 
Nikotin adalah senyawa candu yang ada pada tembakau

Terdapat beberapa spesies dalam genus Nicotiana yang bisa disebut tembakau. Genus ini merupakan bagian dari famili Solanaceae.

Berbagai tumbuhan mengandung nikotin, senyawa neurotoksin yang mampu mematikan serangga. Tembakau adalah tumbuhan yang mengandung jumlah nikotin tertinggi dibandingkan tumbuhan lainnya. Namun tidak seperti tumbuhan dari famili Solanaceae lainnya, tembakau tidak mengandung senyawa tropan alkaloida yang beracun bagi manusia.

Meski mengandung cukup nikotin dan senyawa psikoaktif lainnya (germakren, anabasin, dan alkaloida piperidin lainnya) untuk mengusir herbivora, namun sejumlah hewan telah berevolusi dan mampu memakan spesies daru genus Nicotiana tanpa mengalami gangguan. Tembakau masih tidak mampu dimakan oleh banyak spesies. Karena minimnya predator, tembakau liar seperti Nicotiana glauca telah menjadi spesies invasif.

Dampak produk tembakauSunting

SosialSunting

Merokok di tempat umum telah sejak lama hanya dilakukan oleh pria. Wanita yang merokok dianggap telah merusak kesuciannya. Di Jepang pada jaman Edo, pelacur dan kliennya saling mendekati dengan berpura-pura menawarkan rokok. Hal yang sama juga dilakukan di Eropa pada abad ke-19.[2] Sejak Perang Sipil Amerika, penggunaan tembakau dikaitkan dengan maskulinitas dan kekuasaan, dan menjadi ikon pencitraan penguasa kapitalis.

Saat ini tembakau banyak ditentang karena mengakibatkan banyak masalah kesehatan[3] sehingga muncul kampanye anti rokok di beragai tempat di seluruh dunia. Bhutan adalah satu-satunya negara yang melarang penjualan tembakau.[4]

DemografiSunting

Tembakau hampir seluruhnya dijadikan rokok, dan pemanfaatan tembakau hampir seratus persen berupa rokok. Pada tahun 2000, merokok dilakukan oleh setidaknya 1.22 miliar orang dan sebagian besar merupakan laki-laki.[5] Namun selisih antar gender berkurang dengan meningkatnya usia.[6][7] Orang miskin memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk merokok, demikian pula masyarakat di negara miskin dan berkembang jika dibandingkan dengan masyarakat di negara maju.[8] Hingga tahun 2004, WHO melaporkan jumlah kematian sebesar 5.4 juta jiwa akibat rokok.[9]

KesehatanSunting

Berdasarkan WHO, tembakau merupakan penyebab terbesar kematian oleh penyakit-yang-dapat-dicegah.[10] Bahaya penggunaan tembakau mencakup penyakit yang terkait dengan jantung dan paru-paru seperti serangan jantung, stroke, penyakit paru obstruktif kronik, emfisema, dan kanker (terutama kanker paru-paru, kanker laring, dan kanker pankreas).

WHO memperkirakan bahwa tembakau menyebabkan kematian bagi 5.4 juta jiwa pada tahun 2004.[11] 100 juta kematian akibat tembakau telah terjadi akibat tembakau sepanjang abad ke 20.[12] Tembakau juga penyebab kematian bayi dan janin di seluruh dunia[13] karena orang tua perokok.

Perokok pasif meski tidak merokok, dapat mengalami kanker paru-paru. Di Amerika Serikat 3000 orang dewasa meninggal akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Setidaknya 46000 orang perkok pasif mengalami penyakit jantung dan meninggal.[14]

Jumlah perokok secara umum berkurang dengan meningkatnya kesejahteraan dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) suatu negara. Dengan kata lain, jumlah perokok berkurang seiring dengan bergeraknya suatu negara menjadi negara maju. Di Amerika Serikat, jumlah perokok telah berkurang setengahnya secara persentase sejak tahun 1965, dari 42% menjadi 20.8%.[15] Sedangkan di negara miskin dan negara berkembang, jumlah perokok justru meningkat secara persentase per tahunnya.[16] Badan Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi jumlah perokok di Indonesia sendiri akan meningkat sebanyak 24 juta jiwa dari 2015-2025 mendatang.[17] India dan China, dengan penduduk yang sangat berlimpah dan IPM yang tidak terlalu tinggi menjadikan keduanya pasar bagi rokok dari seluruh dunia. China sendiri telah menjadi produsen rokok terbesar di dunia dengan memproduksi 2.4 triliun batang rokok per tahun atau setara dengan 40% produksi total dunia.[18]

Dalam beberapa tahun terakhir ini, para ahli mulai meneliti Alternative Nicotine Delivery Systems (ANDS) atau produk penghantar nikotin alternatif dalam upaya pengendalian tembakau.[19] Produk mengandung nikotin seperti koyo nikotin, rokok elektronik, dan produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar yang tidak melibatkan proses pembakaran, 95% lebih rendah risiko kesehatan dibanding rokok konvensional yang membakar tembakau untuk menghantarkan nikotin ke sistem penggunanya.[20]

Di Indonesia, pada tahun 2005 Muncul Tokoh Ulama yang menghasilkan rokok kesehatan. Yang membedakan adalah Saus yang menjadi bagian dari racikan Tembakau dan Cengkeh nya adalah saus dari bahan/unsur ramuan tradisional yang berasal dari dalam negeri (Indonesia) maupun dari beberapa Negara Penghasil Rempah-rempah.[butuh rujukan]

Syarat TumbuhSunting

Ada beberapa krteria yang menjadi syarat tumbuhnya tanaman tembakau, yakni suhu, curah hujan, dan kondisi tanah. Suhu yang baik untuk pertumbuhan tembakau berada pada rentang 200C sampai 300 C dari mulai transplantasi hingga panen. Namun kondisi yang ideal untuk produksi daun tembakau dengan kualitas yang baik biasanya pada suhu 260 C dengan kelembapan 70-80%. Selain itu, tembakau membutuhkan distribusi curah hujan tahunan antara 500 hingga 1.250 mm. Namun, kelebihan air dapat menyebabkan tanaman menjadi tipis dan bersisik. Untuk kondisi tanah, tembakau umumnya dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah. Akan tetapi tanah yang baik untuk pertumbuhan tembakau adalah tanah liat yang dalam dan berdrainase baik dengan sedikit atau tanpa risiko banjir. Meskipun tembakau toleran terhadap kekeringan, tembakau tumbuh optimum pada tanah dengan suhu 20 hingga 30 derajat dengan kapasitas pasokan air yang tinggi[21]

Proses Budidaya TembakauSunting

Proses penanaman atau budidaya tembakau dimulai dari proses pengolahan lahan. Keadaan lahan sangat penting karena pertumbuhan dan perkembangan tanaman tembakau sangat dipengaruhi oleh perakaran yang aktif. Pertumbuhan perakaran dipengaruhi oleh aerasi tanah yang baik dan kelembaban yang cukup. Untuk memaksimalkan pertumbuhan tembakau dibutuhkan aerasi tanah yang baik, kecukupan air dan nutrisi tanaman.[22].

Penentuan bulan tanam disesuaikan dengan waktu panen. Tembakau umumnya ditanam di akhir musim hujan yang umumnya hujan sudah jarang, dan dipanen saat musim kemarau. Ketepatan penentuan waktu tanam berpengaruh pada saat panen dan prosesing. Waktu panen yang salah dapat berpengaruh terhadap mutu tembakau yang dihasilkan. Penanaman tembakau dilakukan pada saat umur bibit 40–45 hari dan penanaman dilakukan pada sore hari, karena sore hari intensitas cahaya matahari telah menurun sehingga penguapan lebih rendah. Setelah bibit tembakau ditanam Kemudian dilakukan pemupukan. Dalam pemupukan tembakau ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu pupuk harus sesuai dengan kebutuhan tanaman dan tidak mengandung klor (Cl) dalam jumlah besar karena klor dalam daun lebih dari 1% dapat menurunkan daya bakar.[23]. Waktu pemberian pupuk disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Tanaman tembakau mengalami pertumbuhan sangat cepat pada umur 3 - 7 minggu, ditandai dengan peningkatan bahan kering tanaman (McCants dan Woltz 1967) . Intensitas penyiraman dipengaruhi ada/tidaknya hujan. Kebutuhan air untuk tembakau sawah berbeda dengan tembakau tegal, pada kondisi tanpa hujan masing-masing memerlukan 0,5 liter dan 2 liter dalam sekali penyiraman. Penyiraman dilakukan hingga 39 kali.[24] Kualitas air yang digunakan untuk menyiram tanaman tembakau juga harus diperhatikan, terutama kandungan klor di dalamnya, yaitu tidak lebih dari 20 mg/liter.[25]

Tanaman tembakau umumnya berbunga pada umur 60 - 70 hari setelah tanam. Pada fase ini perlu dilakukan pemangkasan bunga (topping). Pemangkasan adalah kegiatan pemotongan tangkai bunga dan daun pucuk dengan tujuan untuk merangsang/memacu pertumbuhan dan perkembangan daun terutama daun atas, serta memperoleh kualitas sesuai permintaan pasar. Karena tidak ada pembentukan biji maka energi/fotosintat yang dihasilkan tanaman digunakan untuk meningkatkan luas daun, berat, bodi, dan kadar nikotin.[22] Panen tembakau dilakukan pada saat tepat masak secara fisiologis, dengan ciri-ciri warna sudah berubah menjadi hijau kekuningan dan gagangnya mudah dipatahkan pada saat dipetik. Waktu yang tepat untuk panen adalah pada pagi hari setelah embun menguap sekitar jam 8 pagi. Dalam pemeraman dibutuhkan kadar air cukup agar proses kimia dapat berlangsung, tetapi kelebihan air juga dapat mengakibatkan tanaman busuk saat diperam. Jangan memanen daun muda karena klorofilnya masih stabil, sehingga menghasilkan warna hijau mati. Dalam asap rokok klorofil menyebabkan bau langu/getir. Setelah dipanen, dilakukan sortasi daun yaitu dikelompokkan sesuai dengan ukuran dan tingkat kemasakan daun dan dilanjutkan dengan pemeraman. Pemeraman biasanya berlangsung 2–3 hari. Jika warna daun telah berubah menjadi kuning rata dilanjutkan dengan perajangan dan pengeringan.[23]

Kajian Metabolomik yang telah dilakukanSunting

Kajian metabolomik terkait tembakau telah dilakukan. Salah satu penelitian tembakai melalui pendekatan metabolomik adalah menentukan senywara aktif yang terkandung dalam daun tembakau. Uji Keberadaan komponen senyawa tersebut berguna untuk penentuan kualitas daun tembakau yang baik serta kondisi geografis yang baik bagi pertumbuhan tembakau. Pada penelitian tersebut, Daun tembakau yang berasal dari Cina dan Zimbabwe digiling dan diekstraksi dengan dua pelarut, untuk melepaskan komponen hidrofilik dan hidrofobik. Dalam kondisi ekstraksi yang dioptimalkan, lebih dari 79 dan 84% dari metabolit hidrofilik dan hidrofobik, masing-masing (terhitung 96,3 dan 92,2% dari kuisioner) memiliki CV lebih rendah dari 20%, yang dianggap bahwa reproduktifitas tembakau tersebut memiliki kualitas baik [26]

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ [1]
  2. ^ Timon Screech, "Tobacco in Edo Period Japan" in Smoke, pp. 92-99
  3. ^ Dampak kesehatan dari tembakau
  4. ^ The First Nonsmoking Nation, Slate.com
  5. ^ "Guindon & Boisclair" 2004, pp. 13-16.
  6. ^ Women and the Tobacco Epidemic: Challenges for the 21st Century 2001, pp.5-6.
  7. ^ Surgeon General's Report — Women and Smoking 2001, p.47.
  8. ^ "WHO/WPRO-Tobacco". World Health Organization Regional Office for the Western Pacific. 2005. Diakses tanggal 2009-01-01. 
  9. ^ The Global Burden of Disease 2004 Update 2008, p.23.
  10. ^ World Health Organization (2008). WHO Report on the Global Tobacco Epidemic 2008: The MPOWER Package (PDF). Geneva: World Health Organization. ISBN 92-4-159628-7. 
  11. ^ "WHO global burden of disease report 2008" (PDF). Diakses tanggal 2013-10-03. 
  12. ^ "WHO Report on the Global Tobacco Epidemic, 2008" (PDF). Diakses tanggal 2013-10-03. 
  13. ^ "Nicotine: A Powerful Addiction." Centers for Disease Control and Prevention.
  14. ^ Secondhand Smoke by BeTobaccoFree.gov
  15. ^ "Cigarette Smoking Among Adults - United States, 2006". Cdc.gov. Diakses tanggal 2013-10-03. 
  16. ^ WHO/WPRO-Smoking Statistics[pranala nonaktif]
  17. ^ Drope J, Schluger N, Cahn Z, Drope J, Hamill S, Islami F, Liber A, Nargis N, Stoklosa M. 2018. The Tobacco Atlas. Atlanta: American Cancer Society and Vital Strategies.
  18. ^ Robert N. Proctor The history of the discovery of the cigarette-lung cancer link: evidentiary traditions, corporate denial, global toll, Tobacco Control, Tobacco Control 2012;21:87e91. doi:10.1136/tobaccocontrol-2011-050338
  19. ^ Abrams, D.B., Glasser, A.M., Pearson, J.L., Villanti, A.C., Collins, L.K., & Niaura, R.S. (2018). Harm minimization and tobacco control: Reframing societal views of nicotine use to rapidly save lives. Annual Review of Public Health, 39(14), 1-21
  20. ^ 20. Pengurangan Risiko dan Pengendalian Tembakau: Mengubah Pandangan Masyarakat tentang Nikotin untuk Menyelamatkan Nyawa lebih Cepat. (2019). Retrieved from https://koalisibebastar.com/article/2019/02/09/pengurangan-risiko-dan-pengendalian-tembakau-mengubah-pandangan-masyarakat-tentang-nikotin-untuk-menyelamatkan-nyawa-lebih-cepat/145
  21. ^ DAFF.2015.Production Guideline Tobacco.[Online]. https://www.daff.gov.za/Daffweb3/Portals/0/Brochures%20and%20Production%20guidelines/tobacco%20production%20guideline%20publication.pdf diakses pada 5/4/2019
  22. ^ a b Tso, T.C. 1990. Production, Physiology, and Biochemistry of Tobacco Plant. Beltsville, Maryland, USA: IDEALS, Inc
  23. ^ a b Nurhidayati, Sulis Nur.Spuriyadi.2019.Budidaya Tembakau Madura. Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat
  24. ^ Rahman, A. dan Suwarso. 2003. “Studi Populasi pada Tembakau Madura dengan Cara Panen Satu Kali”. dalam Jurnal Littri 9(3): 98-103. September 2003
  25. ^ Karaivazoglou, N.A., D.K. Papakosta, and S. Divanidis. 2005. Effect of Chloride in Irrigation Water and Form of Nitrogen Fertilizer on Virginia (Flue-Cured) Tobacco. dalam Field Crops Research, 92(2005):61–74
  26. ^ SeparationsNow.2019.Tobacco Metabolomics by LC/MS: Geographical variations in leafy components.[Online]. https://www.separationsnow.com/details/ezine/sepspec24698ezine/Tobacco-metabolomics-by-LCMS-Geographical-variations-in-leafy-components.html?tzcheck=1,1,1,1,1&&tzcheck=1 diakses pada 5/4/2019

Bahan bacaan terkaitSunting

  • "WHO REPORT on the global TOBACCO epidemic" (PDF). World Health Organization. 2008. Diakses tanggal 2008-01-01. 
  • "The Global Burden of Disease 2004 Update" (PDF). World Health Organization. 2008. Diakses tanggal 2008-01-01. 
  • G. Emmanuel Guindon, David Boisclair (2003). "Past, current and future trends in tobacco use" (PDF). Washington DC: The International Bank for Reconstruction and Development / The World Bank. Diakses tanggal 2008-01-02. 
  • The World Health Organization, and the Institute for Global Tobacco Control, Johns Hopkins School of Public Health (2001). "Women and the Tobacco Epidemic: Challenges for the 21st Century" (PDF). World Health Organization. Diakses tanggal 2009-01-02. 
  • "Surgeon General's Report — Women and Smoking". Centers for Disease Control and Prevention. 2001. Diakses tanggal 2009-01-03. [pranala nonaktif]
  • Richard Peto, Alan D Lopez, Jillian Boreham, and Michael Thun (2006). "Mortality from Smoking in Developed Countries 1950-2000: indirect estimates from national vital statistics" (PDF). New York, NY: Oxford University Press. Diakses tanggal 2009-01-03. 
  • Gilman, Sander L.; Zhou, Xun (2004). Smoke: A Global History of Smoking. Reaktion Books. ISBN 978-1-86189-200-3. Diakses tanggal 2009-01-01. 
  • "Cancer Facts and Figures 2004: Basic Cancer Facts". American Cancer Society. Diakses tanggal 2009-01-21. 
  • Environmental and Heritable Factors in the Causation of Cancer — Analyses of Cohorts of Twins from Sweden, Denmark, and Finland. 343. New England Journal of Medicine. 2000. Diakses tanggal 2009-01-21. 
  • Montesano, R., and Hall, J. (2001). "Environmental causes of human cancers". European Journal of Cancer. Diakses tanggal 2009-01-21. 
  • Janet E. Ash, Maryadele J. O'Neil, Ann Smith, Joanne F. Kinneary (1997) [1996]. The Merck Index (edisi ke-12). Merk and Co. ISBN 0-412-75940-3. 
  • Benedict, Carol. Golden-Silk Smoke: A History of Tobacco in China, 1550-2010 (2011)
  • Breen, T. H. (1985). Tobacco Culture. Princeton University Press. ISBN 0-691-00596-6. Source on tobacco culture in 18th-century Virginia pp. 46–55
  • Burns, Eric. The Smoke of the Gods: A Social History of Tobacco. Philadelphia: Temple University Press, 2007.
  • W.K. Collins and S.N. Hawks. "Principles of Flue-Cured Tobacco Production" 1st Edition, 1993
  • Fuller, R. Reese (Spring 2003). Perique, the Native Crop. Louisiana Life.
  • Gately, Iain. Tobacco: A Cultural History of How an Exotic Plant Seduced Civilization. Grove Press, 2003. ISBN 0-8021-3960-4.
  • Graves, John. "Tobacco that is not Smoked" in From a Limestone Ledge (the sections on snuff and chewing tobacco) ISBN 0-394-51238-3
  • Grehan, James. Smoking and "Early Modern" Sociability: The Great Tobacco Debate in the Ottoman Middle East (Seventeenth to Eighteenth Centuries). The American Historical Review, Vol. III, Issue 5. 2006. 22 March 2008 online
  • Hahn, Barbara. Making Tobacco Bright: Creating an American Commodity, 1617-1937 (Johns Hopkins University Press; 2011) 248 pages; examines how marketing, technology, and demand figured in the rise of Bright Flue-Cured Tobacco, a variety first grown in the inland Piedmont region of the Virginia-North Carolina border.
  • Killebrew, J. B. and Myrick, Herbert (1909). Tobacco Leaf: Its Culture and Cure, Marketing and Manufacture. Orange Judd Company. Source for flea beetle typology (p. 243)
  • Murphey, Rhoads. Studies on Ottoman Society and Culture: 16th-18th Centuries. Burlington, VT: Ashgate: Variorum, 2007 ISBN 978-0-7546-5931-0 ISBN 0-7546-5931-3
  • Price, Jacob M. “Tobacco Use and Tobacco Taxation: A battle of Interests in Early Modern Europe”. Consuming Habits: Drugs in History and Anthropology. Jordan Goodman, et al. New York: Routledge, 1995 166-169 ISBN 0-415-09039-3
  • Poche, L. Aristee (2002). Perique tobacco: Mystery and history.
  • Tilley, Nannie May The Bright Tobacco Industry 1860–1929 ISBN 0-405-04728-2. Source on flea beetle prevention (pp. 39–43), and history of flue-cured tobacco
  • Rivenson A., Hoffmann D., Propokczyk B. et al. Induction of lung and pancreas exocrine tumors in F344 rats by tobacco-specific and areca-derived N-nitrosamines. Cancer Res (48) 6912–6917, 1988. (link to abstract; free full text pdf available)
  • Schoolcraft, Henry R. Historical and Statistical Information respecting the Indian Tribes of the United States (Philadelphia, 1851–57)
  • Shechter, Relli. Smoking, Culture and Economy in the Middle East: The Egyptian Tobacco Market 1850–2000. New York: I.B. Tauris & Co. Ltd., 2006 ISBN 1-84511-137-0

Pranala luarSunting