Islam di Lampung

Islam di Lampung adalah agama mayoritas di provinsi paling selatan Pulau Sumatra tersebut. Terdapat sekitar 83,64% dari total penduduknya yang memeluk agama ini.[1] Sedangkan bagi (Suku Lampung), Islam adalah satu kesatuan dengan adat Lampung yang tak bisa dipisahkan. Para Putra-putra Al-Mujahid beranjak ke Muko-Muko menyebarkan agama Islam. Kemudian masuk mengislamkan Kepaksian sekala brak Kuno sehingga kerajaan ini lalu disebut sebagai Kepaksian Sekala Brak yang artinya empat pemegang tertinggi di Kepaksian Sekala Brak sejak 29 Rajab 688 Hijriyah, sebuah kerajaan yang berlandaskan nilai-nilai agama Islam, Tahta tertinggi di Kepaksian Sekala Brak adalah Sultan Sekala Brak.

Sejarah

 
Duduk Bersila

Suku-suku Sekala Brak pada awalnya menganut animisme setelah masuk pengaruh Agama yang berasal dari India masuk ke Lampung sejak abad ke-1 Masehi. Dengan kata lain , kedatangan suku lain di negeri sekala brak tersebut membawa kepercayaan Bercorak Hindu dan menganut Animisme berahirnya pra sejarah kepercayaan Bercorak Hindu dan menganut Animisme di kawasan ini sampai kedatangan putra-putra dari pada Al-Mujahid penyebar agama Islam pada sekitar abad ke-12, 688 Hijriyah(Depdikbud Provinsi Lampung, Sejarah Daerah Lampung, 1997)[2]. Sekitar abad ke-13 cucu dari Ratu Sangkan yang pendahulunya telah mendapatkan Trah dari Singhasari dan Majapahit sehingga pada Sekitar Dasawarsa ke-4 abad ke-14 Sebuay Gajah menempati permukiman baru dan keturunannya menjalankan kehidupan dengan beragamakan islam dari sekitar abad ke 16 hingga saat ini[3]. Pada abad sebelumnya Uppu Sejambak di perkampungan yang disebut Humbahuwong di sekitaran humakha Way Semaka, Way Tippon pada Dasawarsa ke-1 sekitar adad ke 13-14 telah mendirikan perkampungan. Didalam sejarah ada pula perkampungan yang di sebut Bakhnasi pada jaman sejarah kala itu.

Adapun sejarah singkat Sibuay Gajah, Makam disebut keramat Bengukh Sakti dengan gelar kehormatan Segedahwani, yang dijelaskan juga oleh Mpu Prapanca dalam pupuh 80 bait 2-4 Kakawin Nagarakretagama, setelah pengabdiannya di Majapahit, Gajah Mada yang berjuluk Begukh Sakti di Lampung kembali ke Gajah Minga Surabaya pada tahun 1357 Masehi. Selanjutnya Begukh Sakti membuka lahan pemukiman baru yang diberi nama Trowulan pada tahun 1358 Masehi, dengan maksud untuk diberikan kepada beberapa anggota keluarga sekaligus tempat menghabiskan masa tuanya menjadi Pertapa. Bekas pemukiman tersebut sekarang disebut Trulan dekat air terjun Way Tangan dan situs Lesung Dadakhi yang berlokasi di wilayah Luas Kecamatan Batu Ketulis Kabupaten Lampung Barat. Setelah lega bertapa brata, Begukh Sakti yang saat itu masih memeluk agama Siwa Budha meninggal dunia di Pantai Selalau Krui Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung pada tahun 1364 Masehi. Dengan maksud untuk mencapai Moksa dalam ajaran Siwa Budha, Begukh Sakti rela meninggal dunia dengan cara terpisah antara Kepala dengan Badannya, sebagaimana diisyaratkan oleh Mpu Prapanca dalam Pupuh 80 bait 4 Kitab Kakawin Nagarakretagama, Menenteramkan hati pertapa yang rela tinggal di pantai, gunung dan hutan, Lega bertapa brata dan bersamadhi demi kesejahteraan negara. Kepala Begukh Sakti dimakamkan di Kenali Kecamatan Belalau Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung yang dikenal dengan sebutan Keramat Begukh Sakti Segedahwani, sedangkan Badannya dimakamkan di pinggir Pantai Selalau Krui Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung.

Diriwayatkan penyebaran islam pada tahun 613 masehi pada tahun sekitar 632 masehi Al-Mujahid beranjak menuju samudra sunda pada masa peperangan Romawi Timur yang berlangsung antara abad ke-7 hingga abad ke-12 dari pasai sumatra masuk menyebarkan agama islam. Pembawa islam datang langsung dari Semenanjung Arabia dibawa oleh para Al-Mujahid yang merupakan utusan resmi Khalifah dengan misi khusus penyebaran agama Islam beranjak dari pesisir utara Sumatra pada abad ke-7 sekitar tahun 674 Masehi kemudia Islam menyebar keseluruh Nusantara mencapai abad ke-16 begitu pula dengan Islam di Indonesia. Bukti-bukti penyebaran Islam masih dapat kita jumpai hingga saat ini diantaranya adalah warisan Adat dan budaya, kebiasaan yang dijalankan oleh masyarakat, tradisi, adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.[4] Serta semua perdikan dengan bukti prasasti batu yang lebar beralaskan batu yang tidak lah besar terpasang pada sisi batu lebar tersebut, serta batu berbentuk memanjang dan berdiri dibiarkan tetap pada tempatnya pada dataran tinggi memiliki sungai dua cabang sumber air dan persawahan.

Pada akhir abad 16 M, terjadi kemunduran dalam hal penyebaran Islam melalui kerajaan-kerajaan. Hal ini membawa pengaruh yang cukup luas pada perubahan Hukum Islam, walaupun tetap menjadi bagian yang hidup dalam masyarakat Indonesia. Pengaruh kemunduran kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia berbanding lurus dengan munculnya V.O.C (Vereenigde Oostindische Compagnie) sebagai perwakilan kolonialisme dengan motif perniagaan (perdagangan). Masa peralihan penguasaan wilayah Indonesia dari kerajaan-kerajaan Islam ke V.O.C dan Kerajaan Belanda, tidak secara langsung mengubah keadaan masyarakat Indonesia dalam mengamalkan aturan-aturan Islam yang telah menyatu dalam ritualitas kehidupan beragama muslim Indonesia. Kondisi tersebut ditunjukkan dengan sikap penguasa Kolonial tetap mempertahankan lembaga peradilan agama di wilayah sebagian kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara, walaupun tetap berada di bawah pengadilan Negeri.

Penyebaran Islam

 
Peta Indonesia tahun 1674

Fokus studi kawasan adalah menguraikan berbagai wilayah dalam dunia Islam dan lingkup pranatanya sejak dari awal pertumbuhan, perkembangan, karakteristik sosial budaya, faktor-faktor pendukung dan penghambatnya. Obyek studinya meliputi aspek geografis, demografis, historis, bahasa, serta berbagai perkembangan sosial budaya yang merupakan karakteristik dari keseluruhan perkembangan di setiap kawasan budaya. Secara kultural, penduduk yang tersebar di kawasan Asia Tenggara ini sangat heterogen dari aspek bahasa, budaya, etnis, agama dan lainnya. Beberapa wilayah menjadi kantong basis agama Islam karena hampir seluruh penduduknya beragama Islam, bahkan telah berhasil membentuk sebuah kerajaan dan pemerintahan yang bernafaskan Islam.

Islam datang ke Asia Tenggara atau Nusantara pada zaman setelah Muhammad bin Abdullah diutus oleh Allah SWT menjadi Nabi dan Rasulullah SAW. Kitab yang ditulis oleh Buzurg bin Shahriyar al-Rahurmuzi sekitar tahun 390/1000 ini meriwayatkan tentang kunjungan para pedagang muslim ke Kerajaan Zabaj yang menyaksikan kebiasaan penduduknya “bersila” ( برسيلا) ketika ingin menghadap raja. Kata “bersila” yang ditulis dengan aksara Arab menunjukkan sudah adanya pengaruh Islam dalam budaya Nusantara. Niemman dan de Hollander menyatakan bahwa Islam di Nusantara bukan berasal dari Mesir, melainkan berasal dari Haḍramawt. Sebahagian ahli Indonesia setuju dengan teori Arab ini yang menyatakan bahwa Islam di Nusantara datang langsung dari Arabia, tidak dari India, tidak pada abad ke 12 atau ke-13, melainkan dalam abad pertama Hijriyah atau abad ke-7 Masehi. Dikemukakan Hamka dalam Seminar Sejarah Masuknya Islam di Indonesia yang diselenggarakan di Medan dari tanggal 17 sampai dengan 20 Maret 1963. Islam masuk ke Indonesia pada jauh sebelum abad ke-7 Masehi.

Sementara itu G.W.J. Drewes juga tampak mendukung teori Arab. Dengan merujuk pada teori Keyzer, seorang sarjana Hukum Islam yang awal di Inggris, Drewes menyatakan bahwa telah ada hubungan antara Mesir dan Nusantara pada masa lampau yang dibuktikan oleh pengamatan bahwa aliran fiqh madhhab Syāfi’ī telah menduduki posisi penting di kedua wilayah Mesir dan Nusantara. Niemann (w. 1861) dande Hollander (w. 1861) juga menyebutkan adanya pernan Arab dalam Islamisasi Nusantara. John Crawfund adalah sarjana lain yang membuat klaim yang sama dan menyatakan bahwa Islam mungkin telah dibawa ke Nusantara oleh para pendakwah Arab dari Jazirah Arabkarena kekuatan lautnya yang telah dominan. Marsden telah mencatat adanya peranan yang sama dari para pendakwah Arab dalam mengubah kepercayaan orang-orang Melayu menjadi Islam. Marsden mengutip bukti pernyataannya dari Diego de Couto, seorang sejarawan Portugis yang telah melakukan penelitian di India dan telah melaporkan bahwa para pendakwah Arab telah mengislamkan penguasa Malaka.

Al-‘Aṭṭas menyatakan bahwa bukti yang paling penting yang dapat dikaji ketikamempertimbangkan kedatangan Islam ke Nusantara adalah berdasarkan karakteristik-karakteristik “internal” dari agama Islam itu sendiri. Argumen al-‘Aṭṭas yang menyatakan kelangsungan asal susul agama Islam tersebut selaras dengan narasi historiografi lokal tentang Islamisasi di dunia mereka yang sering bercampur dengan mitos dan legenda. Islam diperkenalkan oleh Al- Mujahid para guru dan penyair “profesional” yang memang bermaksud menyebarkan Islam. Secara kronologis, kesultanan, kepaksian, kekaisaran itu muncul silih berganti jika dilihat dari masa sejak sebelum kelahiran Kerajaan Majapahitdan masa sebelumnya. Islam yang masuk ke daerah sebelah pesisir utara pulau Sumatera diperkenalkan oleh Al-Mujahid pendakwah dari Semenanjung Arabia yang kemudian melanjutkan dakwahnya sepanjang Priaman sampai perbatasan dengan utara Sumatra Barat selatan Lampung, winstead menyebutkan bahwa pendakwah Islam yang pertama kali datang ke Jawa adalah seorang dari Semenanjung Arabia. Proses Islamisasi Jawa adalah anak dari seorang pendakwah Arabia dari Champa. Keturunan Arab lain yang menjadi pendakwah Islam di Jawa berhasil mengislamkan Blambangan di sebegian besar Wilayah Timur pulau Jawa.[5]

Penyebaran Islam di Lampung

 
Penyebaran Islam Wilayah Sumatra Lampung dan Banten

Legende berasal dari nama poyang SI LAMPUNG keturunan sang Dewa SENEBAHANDANEIDODARI SINUHUN yang dikatakan saudara dari SI JAWA ratu Mojopahit dan SI PASUNDAYANG Ratu Pejajaran dari SI LAMPUNG adalah ratu DIBELALU, Berasal dari kata TOLANG P’OHWANG nama negara yang pernah ada di daerah ini dimasa dynasty Han. Sejarah di Lampung itu adalah dimulai dari abad ke-3 bermula dari pendahulu Ratu Mucah Bawok. masyarakat yang bercorak hindu dan menganut animisme karakteristik ini diperkirakan terus bertahan hingga abad ke-11 s/d 12 Masehi. Sedangkan pada abad ke-15 masehi di temukannya prasasti Pengaruh Hindu-Budha Batu Hujung Langit di desa harakuning Kecamatan Balik Bukit Kabupaten Lampung Barat salah satu peninggalan dari putra Raja Kertanegara dari Kerajaan Singhasari yang bernama Gajah Pagun bersama ibundanya Andungsari (Selir Kertanegara) saat menyelamatkan diri dari serangan Jayakatwang dari Kerajaan Glang-glang Kediri, nama Raja yang tercantum pada prasasti hujung langit tersebut Punku Aji Yuwarajya Sri Haridewa. Sampai ditemukannya situs megalithikum batu-batu peninggalan Negeri Sekala Brak yang ditemukan oleh Masyarakat setempat hingga pada tahun 1931 pada jaman penjajahan Belanda tempat ini di jadikan tempat persembunyian Hindia Belanda[6]. Di lahan perkebunan kopi milik penduduk lokal menurut kepercayaan lama di Sekala Brak, batu-batu itu sebagai tanda kuburan tua “para dewa” yang khusus turun dari Kayangan ke muka bumi. Batu Brak dan Batu Kayangan/Kenyangan Simbol Penaklukan, Al-Mujahid Penyebar Agama Islam Pada Jaman itu dari tanggal 24 Agustus 1289 Masehi atau 29 Rajab 688 Hijriah hingga masa Pra-sejarah.[7][8] Dari Pagaruyung perbatasan dengan utara Sumatra Barat selatan Lampung masuk mengislamkan Suku-suku Lampung.[9] Penyebaran sampai Semaka, Tanggamus dan pesisir Teluk Lampung pada akhir abad ke-16 diperkirakan pada tahun 1601 Masehi mengikuti aliran air (sungai) Way Semaka.[10] wilayah dari pada kepaksian pada jaman pra-sejarah saat ini kepaksian disebut sebagai Kerajaan Adat.

Perkembangan Islam di tanah Lampung

  • Alasan yang menyebabkan penduduk Lampung banyak yang beragama Islam antara lain:
  1. Pendidikan di pesantren
  2. warisan budaya, kebiasaan yang dijalankan oleh masyarakat, tradisi, adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
  3. Dakwah
  4. Taklim di setiap melaksanakan shalat 5 (lima) waktu di masjid.
  • Faktor-faktor penyebab Agama Islam dapat cepat berkembang di tanah Lampung antara lain:
  1. Syarat masuk agama Islam tidak berat, yaitu dengan mengucapkan kalimat syahadat.
  2. Upacara-upacara perhelatan dalam Islam sangat sederhana.
  3. Islam tidak mengenal sistem kasta.
  4. Islam tidak menentang adat istiadat dan tradisi setempat.
  5. Dalam penyebarannya dilakukan dengan damai.
  • Cara penyebaran Islam melalui Adat dan budaya
  1. Pada saat perhelatan adat bedu'a ngakan munyan, bedu'a malam jemaha jama bedu'a buka." Pada saat perhelatan adat berdo'a bakar kemenyan, berdo'a malam jum'at dan pada saat lebaran.
  2. Pada ada yang meninggal dunia suku -suku diajari disebut sembiyang hadiah (shalat hadiah). Tradisi tersebut masih berjalan hingga saat ini.
  3. Menyebut ayat-ayat al-qur'an pada saat pesta sekura "pesta topeng"
  4. Pada saat ada yang meninggal dunia melakukan tradisi bedu'a, niga hari, ngebatang puluh, ngepak ngepuluh, nyekhatus.
  5. Tradisi ngattak batu di kuburan setelah niga hari.
  6. Tari-Tarian.

Distribusi geografi

Berikut merupakan sebaran umat Islam per kota/kabupaten di Provinsi Lampung

Kota/kabupaten Muslim[11] %
Lampung Barat 412.683 98.48%
Tanggamus 530.331 98.83%
Lampung Selatan 873.654 95.74%
Lampung Timur 913.200 95.96%
Lampung Tengah 1.093.801 93.43%
Lampung Utara 570.594 97.66%
Way Kanan 386.262 95.11%
Tulangbawang 375.274 94.31%
Pesawaran 389.577 97.68%
Pringsewu 350.297 95.87%
Mesuji 178.733 95.37%
Tulangbawang Barat 238.659 95.19%
Bandar Lampung 816.807 92.63%
Metro 134.911 92.74%
TOTAL 7.264.783 95.48%

Lihat pula

Referensi

Karya sendiri