Guru Bangsa: Tjokroaminoto

film Indonesia

Guru Bangsa: Tjokroaminoto adalah film drama Indonesia yang dirilis pada 2015. Film ini disutradarai oleh Garin Nugroho dan diproduseri Christine Hakim. Film yang menceritakan biografi tokoh pahlawan nasional Tjokroaminoto ini melibatkan beberapa aktor/akris yang terlibat dalam film ini antara lain Reza Rahardian, Christine Hakim, Didi Petet, Alex Komang, Egi Fedly, Sujiwo Tedjo, Maia Estianty, dan lain-lain.[1][2][3][4]

Guru Bangsa: Tjokroaminoto
Guru Bangsa.jpg
Poster film
SutradaraGarin Nugroho
ProduserChristine Hakim
Dewi Umaya Rachman
Sabrang Mowo Damar Panuluh
Didi Petet
Nayaka Untara
Ari Syar
Pemeran
SinematograferIpung Rachmat Syaiful
Perusahaan
produksi
Durasi... menit
Negara Indonesia
BahasaIndonesia
Penghargaan
Festival Film Indonesia 2015

Dari 8 nominasi yang didapatkannya pada Festival Film Indonesia 2015, film ini berhasil memenangkan tiga di antaranya yaitu Sinematografi Terbaik, Tata Artistik Terbaik, dan Tata Busana Terbaik.

PlotSunting

Menceritakan tentang Hijrahnya Putra Ponorogo, Tjokroaminoto dari Ponorogo ke Surabaya. Saat berkerja di urusan pemerintah hindia belanda di Ponorogo, Tjokroaminoto melihat ketidak adilan selama ini oleh kaum pribumi. Tjokroaminoto memilih undur diri dari pekerjaan setelah menikah dengan Soeharsikin, keputusan ini membuat R.M Mangoensoemo yang seorang wakil Bupati Ponorogo marah kepada Tjokroaminoto, akan tetapi Tjokroaminoto tetap melanjutkan Hijrahnya.

Di Surabaya , Tjokroaminoto bekerja sebagai kuli panggul dan berorganisasi SDI yang kemudian mendirikan Sarekat Islam, Tjokroaminoto pulang ke Ponorogo setelah mendapat kabar istrinya melahirkan anak, Oetari sehingga diboyonglah istri, anak dan pembantu ke surabaya. Tjokroaminoto membuat perusahaan Batik dan menerima pemuda untuk kos di rumahnya. Tjokroaminoto makin dikenal dalam konstribusinya di Sarekat Islam.

KelemahanSunting

Terdapat Beberapa kelemahan dalam film Guru Bangsa Tjokroaminoto tersebar di beberapa titik alur cerita hingga akting pemainnya. Partisipasi rakyat pun kurang tergambar secara jelas. Gagasan Tjokro yang berkembang di masyarakat tidak dimunculkan benar. Banyaknya detail film yang dikerjakan sehingga yang lain jadi tertinggal. Selain itu, film Tjokro masih memadukan gaya Indonesia dan Hollywood sehingga karakteristik film menjadi tidak jelas. Akting pemain utama pun saat kesepian, masih kurang menghanyutkan penonton. Film Tjokroaminoto seperti karya sejenis sebelumnya, hanya digarap berdasarkan riset, meskipun terselip juga hasil interpretasi sutradara.[5]

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

Situs resmi

  1. ^ "Tjokomovie, diakses 19 April 2015". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-04-21. Diakses tanggal 2015-04-18. 
  2. ^ Wow Keren, diakses 19 April 2015
  3. ^ "JPNN, diakses 19 April 2015". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-04-08. Diakses tanggal 2015-04-18. 
  4. ^ "Sinopsis di Cineplex 21". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-03-22. Diakses tanggal 2015-03-21. 
  5. ^ Tempo: Ini minusnya film Tjokro menurut Garin, diakses 19 April 2015