Ekonomi Malaysia

Ekonomi Malaysia merupakan ekonomi negara yang terbesar ketiga di Asia Tenggara dan kedua puluh sembilan di dunia berdasarkan produk domestik bruto. Inflasi yang terjadi hanya sekitar 0,4% [16] serta angka kemiskinan sebesar 3,5% menjadikan Malaysia sebagai salah satu negara yang perekonomiannya maju dengan pesat setelah krisis finansial Asia 1997.[17] Mata uang yang digunakan secara resmi di seluruh Malaysia adalah Ringgit. Malaysia dikenal dengan hasil pertanian yang melimpah, terutama dalam produksi karet dan minyak kelapa. Mitra ekspor utamanya adalah Tiongkok, Singapura, Amerika Serikat dan Thailand. Ekspor terutama dalam bidang peralatan elektronik, gas alam cair, kayu serta produk olahannya, karet dan tekstil. Malaysia berhasil menduduki peringkat kedua puluh satu untuk kategori kemudahan dalam kegiatan bisnis.

Ekonomi Malaysia
The Twins SE Asia 2019 (49171985716).jpg
Kuala Lumpur, ibu kota malaysia dan kota terbesar di malaysia.
Mata uangRinggit (MYR, RM)
Tahun fiskalTahun Kalender
Organisasi perdaganganAPEC, ASEAN, IOR-ARC, WTO
Statistik
PDB
  • Kenaikan $387.094 Miliar (nominal, 2021 est.)[1]
  • Kenaikan $978.78 miliar (PPP, 2021 est.)[1]
Pertumbuhan PDB
  • 4.7% (2018) 4.3% (2019e)
  • −3.1% (2020f) 6.9% (2021f)[2]
PDB per kapita
  • Kenaikan $11,604 (nominal, 2021 est.)[1]
  • Kenaikan $29,340 (PPP, 2021 est.)[1]
PDB per sektor
Inflasi (IHK)−1.1% (2020 est.)[1]
Penduduk
di bawah garis kemiskinan
  • 5.6% (2020)[4]
  • 2.7% dengan kurang dari $5,50/hari (2015)[5]
Koefisien gini 41.0 medium (2015, World Bank)[6]
Angkatan kerja
berdasarkan sektor
Pengangguran 3.4% (Juni 2017)[8]
Industri utamaElektronik, semikonduktors, microchip, sirkuit terpadus, karet, oleokimia, otomotif, perangkat optik, farmasi, peralatan medis, peleburan, kayu, bubur kayu, keuangan Islam, minyak bumi, gas alam cair, petrokimia, produk telekomunikasi
Peringkat kemudahan melakukan bisnisKenaikan 12th (sangat mudah, 2020)[9]
Eksternal
Ekspor$263 billion (2017 est.)[10]
Komoditas eksporSemikonduktor & produk elektronik, minyak sawit, gas alam cair, minyak bumi, bahan kimia, mesin, kendaraan, optik & ilmiah peralatan, manufaktur dari logam, karet, kayu dan produk kayu
Tujuan ekspor utama
Impor$197 billion (2017 est.)[11]
Komoditas imporProduk listrik & elektronik, mesin, bahan kimia, minyak bumi, plastik, kendaraan, manufaktur produk logam, besi dan baja
Negara asal impor utama
Modal investasi langsung asing
  • Kenaikan $139.5 miliar (31 Desember 2017 est.)[7]
  • Kenaikan Abroad: $128.5 miliar(31 December 2017 est.)[7]
Utang kotor luar negeri $217.2 billion (31 Desember 2017 est.)[7]
Pembiayaan publik
Utang publik 54.1% of GDP (2017 est.)[7][note 1]
Pendapatan51.25 miliar (2017 est.)[7]
Beban60.63 miliar(2017 est.)[7]
Bantuan ekonomi$31.6 juta (2005 est.)
Peringkat utang
Cadangan mata uang asingKenaikan US$103.4 miliar(30 April 2019)[15]
Sumber data utama: CIA World Fact Book

Kebijakan pentingSunting

Dari tahun 1957 hingga tahun 2010, perkembangan ekonomi Malaysia secara umum dipengaruhi oleh empat masa kebijakan ekonomi. Masing–masing ialah kebijakan ekonomi awal kemerdekaan (1957–1970), Kebijakan Ekonomi Baru (1971–1990), Kebijakan Pembangunan Bangsa (1991–2000) dan Kebijakan Wawasan Kebangsaan (2001-2010). Kebijakan ekonomi Malaysia dibentuk berdasarkan situasi ekonomi dengan perbedaan terletak pada tujuan jangka panjang atas perencanaan ekonomiDasawarsa pertama setelah kemerdekaan Malaysia, kegiatan ekonomi dipusatkan pada pasar ekspor dengan melakukan promosi produk dalam negeri. Pemerintah Malaysia belum ikut campur di dalam pengembangan ekonomi maupun pengembangan daerah. Setelah Kebijakan Ekonomi Baru diterapkan, ekonomi Malaysia diarahkan untuk memenuhi tujuan mengurangi kemiskinan dan mengatur ulang struktur sosial di masyarakat. Tujuan yang ingin dicapai ialah pertumbuhan ekonomi dan persamaan kesejahteraan. Pada tahun 1991, Kebijakan Pembangunan Bangsa diterapkan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang seimbang dengan mengutamakan pembangunan negara dan persatuan masyarakat. Kebijakan Wawasan Kebangsaan diberlakukan sejak tahun 2001 untuk mengatasi berbagai permasalahan ekonomi di abad ke-21 Masehi. Tujuannya adalah pertumbuhan ekonomi dengan tingkatan yang tinggi disertai dengan pengembangan kualitas dan kemampuan bangsa dalam mewujudukan kemajuan bangsa Malaysia.[18]

Kebijakan Ekonomi BaruSunting

Abdul Razak Hussein selaku Perdana Menteri Malaysia mengeluarkan Kebijakan Ekonomi Baru Malaysia pada tahun 1971. Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi ketimpangan ekonomi dan sosial antar berbagai etnis dan ras yang ada di Malaysia. Target utamanya adalah mengurangi kemiskinan di Malaysia. Koalisi partai dibentuk pada tanggal 1 Januari 1973 untuk melaksanakan kebijakan ekonomi baru. Nama koalisi ini adalah Barisan Nasional. Partai-partai yang tergabung di dalamnya adalah Organisasi Nasional Melayu Bersatu, Asosiasi Tionghoa Malaysia, dan Kongres India Malaysia. Pembentukan Barisan Nasional ini untuk mempertahankan ketahanan nasional melalui perbaikan kondisi ekonomi.[19]

Kerja samaSunting

Kerja sama subregionalSunting

Malaysia telah melakukan beberapa kerja sama subregional untuk meningkatkan ekonominya. Berbagai kerja sama ekonomi yang dilakukan bertujuan untuk mengembangkan wilayah Malaysia Timur. Kerja sama pertama dilakukan dengan menyetujui Segitiga Pertumbuhan Indonesia–Malaysia–Thailand. Di wilayah sekitaran Sungai Mekong, Malaysia mengadakan kerja sama ekonomi dengan negara anggota Subwilayah Mekong Raya. Selain itu, Malaysia juga mengadakan kerja sama dengan negara-negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggar (ASEAN) di bagian timur melalui Kawasan Pertumbuhan ASEAN Timur. Tujuan kerja sama ini adalah membangun landasan pertumbuhan ekonomi dengan membuat jalur perhubungan antarnegara. Tujuan lainnya adalah mempercepat pengadaan perdagangan bebas.[20]

PermasalahanSunting

Pengangguran strukturalSunting

Penduduk kawasan perkotaan di Malaysia mengalami masalah pengangguran struktural akibat keberadaan jalan tol. Pembangunan tol ini merupakan bagian dari kerja sama subregional antara Malaysia dan negara-negara tetangganya. Keberadaan jalan tol ini khususnya pada perhubungan antara Malaysia dengan Singapura dan Thailand. Di Malaysia Barat, dahulu perjalanan antar perbatasan negara harus berkendara melalui kota-kota kecil di Malaysia. Pembangunan jalan tol membuat kota-kota kecil ini tidak disinggahi sehingga kegiatan perdagangan berkurang. Para pemilik usaha yang berkaitan dengan pelayanan peziarah akan mengalami penurunan pendapatan. Jenis usaha yang mengalami kemunduran ekonomi antara lain rumah makan, dan penjual kriya di berbagai kota yang masih berkembang. Kemunduran ekonomi kemudian meningkatkan jumlah pengangguran di kota-kota tersebut.[21]

InfrastrukturSunting

TransportasiSunting

Jaringan jalan nasional utama di Malaysia adalah Sistem Rute Federal Malaysia, yang membentang lebih dari 49.935 kilometer. Sebagian besar jalan federal di Malaysia berlajur dua. Di wilayah kota, jalan federal dapat memiliki 4 jalur untuk meningkatkan kapasitas lalu lintas. Hampir semua jalan federal sudah dilapisi aspal, selain beberapa bagian pada Jalan Raya Skudai – Pontian yang dilapisi dengan beton, sedangkan bagian dari Jalan Tol Federal yang menghubungkan Klang ke Kuala Lumpur, dilapisi dengan aspal.

ReferensiSunting

  1. ^ a b c d e "World Economic Outlook Database, October 2021". IMF.org. International Monetary Fund. Diakses tanggal 17 October 2020. 
  2. ^ Bank, World (8 June 2020). "Global Economic Prospects, June 2020". openknowledge.worldbank.org. World Bank: 74. Diakses tanggal 10 June 2020. 
  3. ^ "Treasury" (PDF). Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 10 April 2015. Diakses tanggal 4 April 2015. 
  4. ^ "World Bank lauds Malaysia's revision of poverty line". The Edge Markets. 17 July 2020. 
  5. ^ "Poverty headcount ratio at $5.50 a day (2011 PPP) (% of population) - Malaysia". data.worldbank.org. World Bank. Diakses tanggal 3 October 2019. 
  6. ^ "GINI index (World Bank estimate)". data.worldbank.org. World Bank. Diakses tanggal 18 March 2019. 
  7. ^ a b c d e f g "The World Factbook". CIA.gov. Central Intelligence Agency. Diakses tanggal 18 March 2019. 
  8. ^ "Key Statistics of Labour Force in Malaysia". Diakses tanggal 10 August 2017. 
  9. ^ "Ease of Doing Business in Malaysia". Doingbusiness.org. Diakses tanggal 24 November 2017. 
  10. ^ "OEC - Malaysia (MYS) Exports, Imports, and Trade Partners". atlas.media.mit.edu (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 24 March 2019. Diakses tanggal 24 March 2019. 
  11. ^ a b c "OEC - Malaysia (MYS) Exports, Imports, and Trade Partners". atlas.media.mit.edu (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 24 March 2019. Diakses tanggal 24 March 2019. 
  12. ^ "The Star". Diakses tanggal 8 April 2015. 
  13. ^ "The Star". Diakses tanggal 8 April 2015. 
  14. ^ "The Star". Diakses tanggal 8 December 2020. 
  15. ^ "International Reserves of Bank Negara Malaysia as at 30 April 2019". Bank Negara Malaysia. 7 May 2019. Diarsipkan dari versi asli tanggal 4 August 2020. Diakses tanggal 9 December 2020. 
  16. ^ http://data.worldbank.org/country/malaysia World Bank Publications
  17. ^ Johan, Musalmah (2005). "Eradicating Rural and Urban Poverty" (PDF). Malaysian Institute of Economic Research. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2007-07-26. Diakses tanggal 2010-11-07. 
  18. ^ Hanafi, Ivan (2014). Atif, Nurul Falah, ed. Pendidikan Teknik dan Vokasional: Menggali Pengalaman Sukses Bi-National di Negeri Jiran, dari Konsep hingga Implementasi. Bandung: PT Refika Aditama. hlm. 12. ISBN 978-602-7948-29-7. 
  19. ^ Helmiati (2007). Islam dalam Masyarakat dan Politik Malaysia (PDF). Pekan Baru: Suska Press. hlm. 110. ISBN 978-979-1288-11-8. 
  20. ^ Raharjo, Sandi Nur Ikfal, ed. (2019). Membangun Konektivitas di Perbatasan: Kerja Sama Subregional Indonesia. Brunei Darussalam, Malaysia dan Filipina (PDF). Jakarta: LIPI Press. hlm. 87. ISBN 978-602-496-075-9. 
  21. ^ Muchtolifah (2010). Ekonomi Makro (PDF). Surabaya: Unesa University Press. hlm. 47. ISBN 978-979-028-241-4. 

Pranala luarSunting

Bacaan lanjutanSunting

  • Zahari, Said (2007). The long nightmare: my 17 years as a political prisoner. Malaysia: Utusan Publications. hlm. 186. ISBN 9789676119391. 
  • Musa, M. Bakri (2007). Towards A Competitive Malaysia. Petaling Jaya: Strategic Information and Research Development Centre. hlm. 122. ISBN 978-983-3782-20-8. 


Kesalahan pengutipan: Ditemukan tag <ref> untuk kelompok bernama "note", tapi tidak ditemukan tag <references group="note"/> yang berkaitan