Buka menu utama

Bahasa Gorontalo

bahasa Melayu-Polinesia yang dipertuturkan di Sulawesi bagian Utara

Bahasa Gorontalo (juga disebut Hulontalo) adalah bahasa yang digunakan oleh suku Gorontalo di Provinsi Gorontalo, pulau Sulawesi bagian utara, Indonesia. Jumlah penutur bahasa ini adalah sekitar 900.000 jiwa pada tahun 1989. Bahasa Gorontalo terbagi menjadi beberapa dialek: Gorontalo Timur, Gorontalo Kota, Tilamuta, Suwawa, dan Gorontalo Barat.

Gorontalo
Hulontalo
Dituturkan diIndonesia
WilayahGorontalo, Sulawesi
Penutur bahasa
900.000  (tidak tercantum tanggal)
Latin
Kode bahasa
ISO 639-2gor
ISO 639-3gor
Glottologgoro1259[1]

Daftar isi

PenggolonganSunting

Bahasa Gorontalo termasuk dalam kelompok bahasa Gorontalic,[2] yang merupakan bagian dari rumpun bahasa Gorontalo-Mongondow,[3] cabang dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia,[4] cabang dari rumpun bahasa Austronesia.[5] Bahasa-bahasa yang memiliki kekerabatan dengan bahasa Gorontalo adalah bahasa Suwawa, bahasa Bolango, bahasa Buol, bahasa Bintauna, bahasa Kaidipang, dan bahasa Lolak.

LiteraturSunting

 
Manuskrip yang ditulis dalam bahasa Gorontalo

Penduduk asli yang mendiami wilayah Gorontalo mengenal berbagai macam sastra lisan seperti tanggomo, tuja'i, leningo, taleningo, tinilo yang hanya dipertuturkan dan dihafal oleh para pelaku sehingga jarang ditemui naskah tertulis. Setelah kedatangan penyebar agama islam dan penjajah Belanda, barulah dikenal karya tulis. Salah satu manuskrip tua dalam bahasa Gorontalo yang ditemukan berjudul Utiya tilingolowa lo pilu lo tau lota ohu-uwo lo pilu boito.[6] Di bawah judul buku ini tertulis poliama 1870 yang merupakan tahun penulisan manuskrip. Kata poliama adalah merujuk pada ilmu astronomi kuno masyarakat Gorontalo yang didasarkan pada pergerakan posisi benda-benda langit yang dipraktikkan jika hendak bercocok tanam, membuat rumah baru, pindahan, perkawinan dan lain sebagainya. Manuskrip ini ditulis oleh Johan Gerhard Frederich Riedel yang merupakan anak tertua penginjil J.F. Riedel dari Belanda. Buku lainnya mengenai bahasa Gorontalo yang berusia cukup tua ditulis oleh Wilhelm Joest, seorang pengelana dunia dan ahli etnografi dari Jerman. Buku ini berjudul Das Holontalo: Glossar und grammatische Skizze ; ein Beitrag zur Kenntniss der Sprachen von Celebes, dicetak di Berlin tahun 1883.

FonologiSunting

lab alv. pal. vel. glot.
nasal m n ɲ ŋ
plosive p b t d c ɟ k ɡ ʔ
implosive ɓ ɗ
sonorant w l r j h

Tokoh bahasa GorontaloSunting

Ada beberapa nama tokoh yang berperan dalam pelestarian bahasa Gorontalo, diantaranya adalah:

  • Manuli[7] adalah seorang penutur Tanggomo[8], sastra lisan bahasa Gorontalo. Kelebihan Manuli adalah, dia sanggup menghafal ribuan syair tanggomo dan mampu membuat syair baru seketika berdasarkan peristiwa atau kejadian yang baru dilihatnya.[9] Syair tanggomo yang diciptakannya dilantunkan di pasar-pasar tradisional Gorontalo saat dia berjualan, yang tentu saja menarik perhatian orang banyak dan turut melariskan dagangannya. Syair-syair tanggomo yang dibawakannya cukup banyak yang direkam dan disimpan sebagai arsip digital pada Radio Republik Indonesia, Gorontalo.
  • Mansoer Pateda[10] adalah seorang pengajar yang menjadi dosen di Universitas Negeri Gorontalo. Banyak buku-buku yang dihasilkannya, yang paling dikenal publik adalah Kamus Bahasa Gorontalo-Indonesia, Kamus Bahasa Indonesia-Gorontalo. Dia juga terlibat dalam penyusunan Al-Qur’an terjemahan ke dalam bahasa Gorontalo yang dikerjakan bersama tim. Dia dianugerahi gelar adat Taa Lopoolamahe Popoli, yang artinya Putra Terbaik Pelestari Budaya Gorontalo.
  • Jusuf Sjarif Badudu[11] adalah seorang pakar bahasa Indonesia. Ia juga adalah Guru Besar Linguistika pada Universitas Padjadjaran dan dikenal luas di masyarakat sebagai pembawa acara Pembinaan Bahasa Indonesia 1974-1979 di TVRI. Perhatiannya tehadap bahasa Gorontalo cukup besar yang dibuktikan dengan bukunya “Morfologi Bahasa Gorontalo”. Atas jasanya tersebut, Dewan Adat Gorontalo memberikan gelar adat Taa O Ilomata To Wulito.[12]

ReferensiSunting

  1. ^ Nordhoff, Sebastian; Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2013). "Gorontalo". Glottolog. Leipzig: Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology. 
  2. ^ "Gorontalic". Ethnologue. Diakses tanggal 07 Februari 2019. 
  3. ^ "Gorontalo-Mongondow". Ethnologue. Diakses tanggal 07 Februari 2019. 
  4. ^ "Malayo-Polynesian". Ethnologue. Diakses tanggal 07 Februari 2019. 
  5. ^ "Austronesian". Ethnologue. Diakses tanggal 07 Februari 2019. 
  6. ^ "Utio tilingolowa lo pilu lo tau lota ohu-uwo lo pilu boiti, ilimoio li JGF Riedel". Perpustakaan Nasional RI. Diakses tanggal 08 Februari 2019. 
  7. ^ ""Tanggomo" Sastra Lisan Budaya Gorontalo". RRI. 26 Januari 2017. Diakses tanggal 07 Februari 2019. 
  8. ^ "Mengembalikan Keeksistensian Tanggomo Sebagai Warisan Sastra Gorontalo". 17 Februari 2018. Diakses tanggal 07 Februari 2019. 
  9. ^ "Tanggomo, Salah Satu Ragam Sastra Lisan Gorontalo(pdf)". Kemendikbud. Diakses tanggal 07 Februari 2019. 
  10. ^ "Prof. Mansoer Pateda Penyusun Kamus Bahasa Gorontalo Berpulang". Antara. 05 September 2010. Diakses tanggal 07 Februari 2019. 
  11. ^ S, Deddy (13 Maret 2016). "Pakar Bahasa Indonesia J. S. Badudu Meninggal Dunia". CNN Indonesia. Diakses tanggal 07 Februari 2019. 
  12. ^ Herdiana, Imam (24 April 2016). "Dewan Adat Gorontalo beri gelar kehormatan pada almarhum JS Badudu". Merdeka.com. Diakses tanggal 07 Februari 2019.