Ritus Antiokhia

Ritus Antiokhia adalah sebutan bagi rumpun liturgi yang mula-mula dipakai di Kebatrikan Antiokhia.[1]

Liturgi-liturgi ritus AntiokhiaSunting

Rumpun liturgi Antiokhia mencakup liturgi dari Ketetapan Rasul-Rasul Kudus, kemudian liturgi Santo Yakobus dalam bahasa Yunani, liturgi Santo Yakobus Suryani, dan berbagai anafora Suryani Barat. Ruang lingkup rumpun liturgi Antiokhia masih dapat diperluas lagi sehingga mencakup pula turunannya, yakni ritus Bizantin (liturgi Santo Basilius dan liturgi Santo Yohanes Krisostomus) yang kemudian hari menurunkan tata ibadat Armenia, hanya saja turunan-turunan tersebut tidak lagi berkaitan dengan Kebatrikan Antiokhia.[1]

Liturgi Ketetapan Rasul-Rasul KudusSunting

Ketetapan Rasul-Rasul Kudus adalah sumber pustaka penting bagi sejarah liturgi ritus Antiokhia. Karya tulis ini memuat dua kerangka liturgi dan satu liturgi lengkap. Kerangka liturgi yang pertama tercantum di dalam buku kedua, dan kerangka liturgi yang kedua tercantum di dalam buku ketujuh, sementara liturgi lengkap tercantum di dalam buku kedelapan. Liturgi di dalam buku kedelapan merupakan tata ibadat tertua yang dapat disifatkan sebagai sebuah liturgi lengkap.[1]

Semua liturgi rumpun Antiokhia mengikuti tatanan yang sama dengan liturgi dari Ketetapan Rasul-Rasul Kudus. Kegiatan persiapan kurban (protesis, kata yang sama juga dipakai untuk menyebut meja kredens) sebelum pelaksanaan liturgi yang sesungguhnya lambat laun berkembang menjadi suatu ibadat yang tertata. Kegiatan persiapan pengajaran (perarakan kitab Injil atau pawai kecil) dan pengantaran kurban dari protesis menuju altar (perarakan roti dan anggur atau pawai besar) berkembang menjadi perarakan meriah, tetapi unsur-unsur pokoknya dalam urut-urutan yang bersifat tetap merupakan ciri khas yang terdapat pada semua tata ibadat Suryani dan Palestina, serta diikuti liturgi-liturgi Bizantin turunannya. Unsur-unsur pokok tersebut berdasarkan urut-urutannya adalah ibadat katekumen dan pembubaran katekumen; litani; anafora yang diawali kalimat "sudah layak dan sepantasnya" dan disela madah kudus; pemberkatan roti dan anggur; anamnesis, epiklesis, dan permohonan bagi segala macam orang di tempat itu; pengunjukan roti dan anggur diikuti ucapan "yang serba kudus bagi orang-orang kudus"; pembagian komuni oleh uskup dan diakon (diakon memegang cawan anggur); serta doa penutup dan pembubaran jemaat.

Ada dua perkara di dalam Ketetapan Rasul-Rasul Kudus yang patut dicermati, yaitu ketiadaan penyebutan nama orang kudus dan ketiadaan doa Bapa Kami. Penyebutan nama orang-orang kudus, teristimewa "Bunda Allah Yang Teramat Kudus", tersebar luas di kalangan umat Katolik seusai Konsili Efesus tahun 431, dan doa-doa yang ditujukan kepadanya dengan gelar tersebut kemudian ditambahkan pada semua liturgi Katolik. Ketetapan Rasul-Rasul Kudus mengabadikan tata ibadat lawas tanpa sentuhan perkembangan yang telah memodifikasi tata-tata ibadat yang dipakai sekarang ini. Ketiadaan doa Bapa Kami merupakan perkara yang unik dan menimbulkan tanda tanya. Ketiadaan ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kelawasan relatif dari tata ibadat tersebut. Di dalam risalah Ajaran Dua Belas Rasul (VIII, ii, 3), umat Kristen disarankan untuk tiga kali sehari berdoa "seperti yang diajarkan Tuhan di dalam Injil-Nya: Bapa Kami", dst.[1]

Ibadat katekumenSunting

Sesudah pembacaan (dari Kitab Taurat, Kitab Para Nabi, Surat-Surat, Kisah Para Rasul, dan Injil) uskup menyapa umat dengan kalimat dari II Korintus 13:14 (Rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, Cinta Kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus beserta kamu sekalian). Umat menjawab: "Dan bersama rohmu"; kemudian dia "berkata-kata kepada umat dengan kata-kata yang menguatkan." Kemudian diikuti suatu litani bagi para katekumen, yang setiap permohonan dijawab oleh umat dengan "Kyrie eleison"; uskup kemudian mengumumkan pengumpulan kolekte setelah itu diakon membubarkan para katekumen. Litani-litani dan kolekte-kolekte serupa juga selanjutkan dilakukan bagi para energumen, iluminandi, atau fotizómenoi (para calon baptis), diakhiri dengan pernyataan tobat umum, tiap kelompok di atas dibubarkan setelah pengumpulan kolekte. Setelah itu dilanjutkan dengan ibadat umat beriman.

Ibadat umat berimanSunting

Dimulai dengan suatu litani yang lebih panjang untuk berbagai niat, bagi perdamaian, Gereja, para uskup (Yakobus, Klemens, Evodius, dan Anianus disebutkan), para imam, para diakon, para pelayan, para lektor (pembaca Kitab Suci), para penyanyi, para perawan, para janda, yatim-piatu, orang-orang yang sudah berumah tangga, orang-orang yang baru dibaptis, orang-orang di dalam penjara, musuh-musuh, para penganiaya dst., dan akhirnya "bagi segenap umat Kristen". Sesudah litani diadakan pengumpulan kolekte, kemudian sapaan lainnya dari uskup dan Salam damai.

Sebelum Persembahan para diakon berdiri di pintu-pintu untuk kaum pria dan para subdiakon di pintu-pintu untuk kaum wanita "agar tak seorang pun dapat keluar, dan tak satu pintu pun dapat dibuka", lalu diakon memperingatkan agar semua katekumen, orang-orang yang tidak percaya, dan para bidaah untuk meninggalkan tempat, para ibu untuk mengawasi anak-anak mereka, agar jangan ada orang yang berpura-pura, dan semua orang agar berdiri dengan takut dan gentar. Lalu para diakon mengantarkan persembahan kepada uskup di altar.

Para imam berdiri mengelilingi altar, dua diakon menggerakkan kipas (‘ripídia) ke atas roti dan anggur lalu Anafora (kanon) dimulai. Uskup sekali lagi menyapa umat dengan kalimat dari II Korintus 13:14, dan dijawab umat dengan: "Dan serta rohmu juga". Uskup berkata: "Arahkan hatimu." Dijawab: "Sudah kami arahkan kepada Tuhan." Uskup: "Marilah kita bersyukur kepada Tuhan." Umat: "Sudah layak dan sepantasnya." Uskup: "Sungguh layak dan terutama pantas untuk bernyanyi bagi Engkau, yang adalah Allah sejati, yang ada sebelum semua ciptaan, yang dari-Nya semua makhluk di surga dan bumi beroleh nama.…" dan demikianlah doa Ekaristi dimulai.

Uskup berkata-kata mengenai "Putera tunggal, Sang Sabda dan Allah, yang selain Kebijaksanaan, adalah yang pertama dari segala ciptaan, Malaikat dari kumpulan-Mu yang besar", menyebut juga mengenai taman Eden, Habel, Henokh, Abraham, Melkisedek, Ayub, dan orang-orang kudus lainnya dari Perjanjian Lama. Setelah uskup berkata: "bala malaikat yang tak terhitung jumlahnya … para Kerubim dan para Serafim yang bersayap enam … bersama dengan beribu-ribu malaikat agung dan berlaksa-laksa malaikat tak terputus dan tak henti-hentinya berseru", "lalu seluruh umat bersama-sama berkata: 'Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Semesta Alam, surga dan bumi penuh kemuliaan-Nya, terpujilah selama-lamanya, Amin.'"

Uskup kemudian berkata: "Engkau sungguh kudus dan kudus sepenuhnya, tertinggi dan terpuji selama-lamanya. Dan kuduslah, Putera tunggal-Mu, Tuhan dan Allah kami Yesus Kristus…"; dan kemudian Uskup tiba pada kisah institusi: "pada malam sebelum dikhianati, Ia mengambil roti dengan tangan-Nya yang kudus dan tak berdosa dan menengadah pada-Mu, Allah dan Bapa-Nya, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya seraya berkata: Inilah Misteri Perjanjian Baru; ambillah daripadanya, makanlah. Inilah tubuh-Ku, yang dipecah-pecahkan bagi banyak orang demi pengampunan dosa-dosa. Demikian pula setelah mencampur anggur dan air dalam piala, dan setelah memberkatinya, Ia memberikannya kepada mereka seraya berkata: Minumlah kalian semua daripadanya. Inilah darah-Ku yang ditumpahkan bagi banyak orang demi pengampunan dosa-dosa. Lakukanlah ini demi peringatan akan Aku. Karena setiap kali kalian makan roti ini dan minum dari piala ini, kalian mewartakan kematian-Ku sampai Aku datang."

Menyusul anamnesis ("Oleh karena itu untuk mengenang sengsara dan wafat dan kebangkitan dan kembali-Nya ke surga dan kedatangan-Nya yang kedua kelak …"), Epiklesis atau permohonan ("utuslah Roh Kudus-Mu, saksi dari sengsara Tuhan Yesus ke atas persembahan ini, agar Dia mengubah roti ini menjadi tubuh dari Kristus-Mu dan piala ini menjadi darah Kristus-Mu …"), dan semacam litani (doa umat) bagi Gereja, kaum klerus, Kaisar, dan bagi segala macam dan keadaan manusia, yang diakhiri dengan doksologi (pujian bagi Allah Tritunggal), "lalu seluruh umat berkata: Amin." Dalam litani ini terdapat permohonan khusus (sesudah doa bagi Kaisar dan tentara) yang melibatkan orang-orang kudus bagi orang-orang yang hidup yang bagi mereka uskup berdoa: "Kami juga mempersembahkan kurban ini bersama segenap batrik, para nabi, para rasul yang benar, para martir, para pembela iman, para uskup, para imam, para diakon, para subdiakon, para lektor, para penyanyi, para perawan, para janda, umat awam, dan semua nama yang Engkau kenal, yang kudus dan berkehendak baik." Setelah salam damai (Damai Allah beserta kalian semua) diakon mengajak umat untuk berdoa bagi berbagai hal yang hampir sama dengan litani uskup tadi, lalu uskup menghimpun semua doa mereka dalam suatu kolekte.

Uskup kemudian menunjukkan kepada mereka Ekaristi Kudus, sambil berkata: "yang serba kudus bagi orang-orang kudus" dan mereka menjawab: "Satu jua yang kudus, Satu jua yang adalah Tuhan, Yesus Kristus dalam kemuliaan Allah bapa, dst." Uskup membagikan komuni suci dalam bentuk roti kepada tiap umat, sambil berkata: "Tubuh Kristus", dan penerima komuni menjawab:"Amin". Diakon melanjutkan dengan piala, sambil berkata: "Darah Kristus, piala kehidupan." Dijawab: "Amin." Pada saat umat menerima komuni, didaraskan mazmur 33 (Aku hendak memuji Tuhan setiap waktu). Seusai komuni diakon mengambil yang tersisa dari Sakramen Mahakudus untuk disimpan dalam tabernakel (pastofória). Kemudian diikuti ucapan syukur singkat, lalu uskup membubarkan umat dan diakon mengakhiri perayaan dengan berkata: "Pergilah dalam damai."

Seluruh liturgi tersebut, menurut si penyusun berasal dari para Rasul, dan dia menyisipkan kalimat-kalimat yang menerangkan bahwa bagian liturgi tertentu disusun oleh Rasul tertentu, misalnya: "Dan aku, Yakobus, saudara Yohanes putera Zebedeus, berkata bahwa diakon harus pertama-tama berkata: 'Tak seorang pun dari para katekumen,'" dst. Buku kedua Ketetapan Rasul-Rasul Kudus memuat garis besar suatu liturgi (hampir tidak lebih dari sekadar catatan-catatan kaki) yang dalam praktiknya berhubungan dengan liturgi di atas.

Liturgi Santo Yakobus versi YunaniSunting

Liturgi yang paling tua dan asli di antara liturgi-liturgi Antiokhia yang secara aktual digunakan,dan yang darinya diturunkan liturgi-liturgi lainnya, adalah Liturgi Santo Yakobus versi Yunani. Referensi paling awal mengenai liturgi ini adalah Kanon 32 Konsili Kelima-Keenam tahun 692, yang menerangkan bahwa liturgi tersebut sungguh-sungguh disusun Santo Yakobus, saudara Tuhan kita. Konsili Kelima-Keenam merujuk kepada Liturgi Santo Yakobus versi Yunani untuk membela tradisi mencampur anggur Ekaristi dengan air, melawan tradisi golongan Armenia.

Santo Hieronimus (wafat 420) tampaknya telah mengenal liturgi ini. Di Betlehem dia mengutip - sebagai suatu bentuk liturgis - kalimat "satu-satunya yang tidak berdosa", yang diucapkan dalam liturgi ini (Adv. Pel., II, xxiii). Kenyataan bahwa umat Yakubi menggunakan liturgi yang sama dalam Bahasa Suryani menunjukkan bahwa liturgi ini sudah ada dan dipergunakan sebelum skisma Monofisit. Manuskrip tertua yang tersedia adalah salah satu salinan dari abad ke-10, yang sebelumnya dimiliki oleh Biara Yunani di Messina dan kini tersimpan dalam perpustakaan Universitas kota itu.

Liturgi Santo Yakobus versi Yunani mengikuti semua bagian inti dari liturgi Ketetapan Rasul-Rasul Kudus. Liturgi ini memiliki doa-doa persiapan untuk dilisankan imam dan diakon dan suatu pemberkatan kemenyan. Kemudian dimulai ibadat bagi para katekumen dengan pawai kecil. Diakon mengucapkan suatu litani (’ekténeia), yang di tiap akhir bait doanya umat menjawab "Kirie eleison". Sementara imam melisankan doa pribadi, yang hanya kata terakhir doa tersebut yang diucapkan dengan lantang, setelah litani selesai. Para penyanyi melagukan trisagion, "Kuduslah Allah, kuduslah Yang Kuat, kuduslah Yang Baka, kasihanilah kami." Praktik pelisanan doa pribadi oleh imam dengan lirih sementara umat melakukan sesuatu yang lain merupakan perkembangan yang baru muncul kemudian hari.

Selanjutnya adalah pembacaan Kitab Suci, masih dalam bentuk lamanya, yakni bagian-bagian panjang dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kemudian diikuti doa-doa bagi para katekumen dan pembubaran mereka. Di antara doa-doa bagi para katekumen ada disebut mengenai salib (angkatlah tanduk umat Kristiani dengan kuasa dari salib yang luhur dan yang memberi hidup) yang pasti telah ditulis setelah penemuannya oleh Santa Helena pada tahun 326, yang merupakan satu dari berbagai alasan untuk menghubungkan liturgi ini dengan Yerusalem. Pada saat para katekumen dibubarkan, diakon mengajak umat beriman untuk "saling mengenali satu sama lain" maksudnya adalah untuk memantau apakah masih ada orang-orang non Kristiani di tempat itu.

Pawai besar yang mengawali ibadat umat beriman sudah merupakan suatu upacara yang tertata. Kemenyan diberkati, persembahan diantarkan dari protesis menuju altar sementara umat menyanyikan kherubikon diakhiri dengan tiga Alleluya (syairnya berbeda dengan Kherubikon Bizantin) sementara imam berdoa sendiri dengan suara pelan. Kemudian diucapkan Syahadat; kelihatannya mula-mula digunakan bentuk yang lebih singkat seperti Syahadat Para Rasul. Doa persembahan dan litani lebih panjang daripada dalam liturgi Ketetapan Rasul-Rasul Kudus. Iconostasis (sekat pemisah tempat kaum klerus) belum disebut-sebut dalam liturgi ini. Permulaan "Anafora" (prefasi) lebih singkat. Kisah institusi dan Anamnese dengan segera disusul Epiklesis; kemudian diucapkan permohonan bagi berbagai macam orang.

Diakon membacakan "diptik" (daftar) nama orang-orang yang mereka doakan; kemudian diikuti suatu daftar orang-orang kudus yang dimulai dari "Bunda tersuci, tak bernoda dan sangat terpuji kami, Maria, Bunda Allah dan perawan-senantiasa." Di sini disisipkan dua kidung pujian bagi Bunda Maria yang tentunya ditujukan untuk melawan bidat Nestorian. Diikuti Doa Bapa kami dengan suatu pengantar dan Embolisme. Hosti ditunjukkan kepada umat dengan kalimat yang sama dalam liturgi Ketetapan Rasul-Rasul Kudus, lalu dipecah-pecahkan, dan sebagian dari pecahannya dimasukkan ke dalam piala sambil imam berkata: "Pencampuran Tubuh Mahasuci dan Darah Mahamulia Tuhan, Allah, dan Juru Selamat kita, Yesus Kristus."

Sebelum Komuni, didaraskan Mazmur xxxiii. Imam mengucapkan sebuah doa sebelum dia menerima Komuni. Diakon membagikan Komuni kepada umat. Tidak ada kalimat semacam "Tubuh Kristus"; dia hanya mengucapkan: "Mendekatlah dengan takut akan Tuhan", dan umat menjawab "Terberkatilah Yang datang dalam nama Tuhan." Sisa Sakramen Mahakudus dibawa diakon ke protesis; doa pengucapan syukurnya lebih panjang daripada yang terdapat dalam liturgi Ketetapan Rasul-Rasul Kudus.

Liturgi Santo Yakobus yang ada saat ini merupakan bentuk yang sudah dikembangkan lebih lanjut dari tata-cara dalam litugi Ketetapan Rasul-Rasul Kudus. Doa-doanya lebih panjang, upacaranya makin lebih tertata, kemenyan digunakan terus-menerus, dan persiapan sudah berada dalam proses menjadi upacara protesis Bizantin yang rumit. Adanya permohonan kepada orang-orang kudus yang berkesinambungan; namun garis besar yang esensial dari ritus tersebut masih tetap sama. Selain adanya penyebutan mengenai Salib Suci, terdapat satu kutipan yang memperjelas bahwa liturgi ini awalnya disusun bagi Gereja di Yerusalem. Doa permohonan pertama sesudah Epiklesis adalah: "Kami persembahkan kepada-Mu, Ya Tuhan, bagi tempat-tempat kudus-Mu yang telah Engkau muliakan oleh penampakan ilahi Kristus-Mu dan oleh turunnya Roh Kudus-Mu, teristimewa bagi Sion yang kudus dan gemilang, ibu dari semua gereja dan bagi Gereja-Mu yang satu, kudus, Katolik, dan Apostolik di seluruh dunia." Liturgi ini digunakan di seluruh Suriah dan Palestina, yakni di seluruh wilayah Kebatrikan Antiokhia (Yerusalem belum dijadikan kebatrikan sampai Konsili Efesus, 431) sebelum skisma Nestorian dan Monofisit. Sebahagian besar tata-cara liturgi di kota Antiokhia pada zaman ketika Santo Yohanes Krisotomus berkhotbah di sana dapat direkonstuksi berkat saduran-saduran dan kutipan-kutipan dalam khotbahnya (Probst, Liturgie des IV. Jahrh., II, i, v, 156, 198). Kalimat-kalimat kutipan tersebut kemudian dianggap berasal dari liturgi Santo Yakobus: memang benar bahwa seluruh saduran tersebut dikutip kata demi kata dari yang terdapat dalam liturgi Santo Yakobus dan Ketetapan Rasul-Rasul Kudus.

Katekismus Santo Sirilus dari Yerusalem disusun pada tahun 348; 18 ayat pertama ditujukan kepada orang-orang yang berkompetensi (fotizómenoi) selama masa prapaskah, enam ayat terakhir ditujukan bagi umat Kristen baru selama minggu Paskah. Di dalamnya dia menjelaskan mengenai, selain Pembaptisan dan Peneguhan, Liturgi suci. Penjelasan mengenai liturgi dengan hati-hati disamarkan dari para fotizómenoi karena alasan disciplina arcani; liturgi lebih diperjelas ketika dia berbicara kepada orang-orang yang baru saja dibaptis, sekalipun demikian dia menolak mengutip kalimat yang digunakan dalam upacara pembaptisan atau kalimat dalam kisah konsekrasi. Dari katekismus ini dapat dikuetahui urut-urutan liturgi di Yerusalem pada pertengahan abad ke-4. Kecuali untuk satu dua varisi yang tidak penting, liturgi tersebut adalah liturgi Santo Yakobus (Probst, op. cit., II, i, ii, 77-106). Liturgi ini tampaknya telah digunakan pula dalam bahasa yang berbeda, yakni dalam bahasa Yunani di Antiokhia, di Yerusalem, dan di kota-kota utama dimana bahasa Yunani umum digunakan, serta dalam bahasa Suryani di daerah-daerah pedesaan. Bentuk tertua liturgi ini yang masih dijumpai adalah versi Yunaninya. Mungiinkah ditemukan hubungan antara liturgi ini dengan liturgi-liturgi tua lainnya? Terdapat sejumlah kalimat-kalimat yang paralel antara Anafora dari liturgi ini dengan Kanon dari Misa Romawi. Urut-urutan dan doa-doanya berbeda, namun bila versi Yunani atau Suryani diterjemahkan ke dalam bahasa Latin tampaklah sejumlah besar frasa dan klausa yang identik dengan Liturgi Romawi. Diduga bahwa Roma dan Suriah pada mulanya menggunakan liturgi yang sama dan permasalahan yang sering diperdebatkan mengenai urut-urutan Kanon Misa Romawi mungkin dapat dijawab dengan cara merekonstruksinya menurut tata ibadat Suryani (Drews, Zur Entstehungsgeschichte des Kanons). Mgr. Duchesne dan sebagian besar penulis, di lain pihak, cenderung menghubung-hubungkan liturgi Gallia dengan liturgi Suryani dan Misa Romawi dengan liturgi Alexandria (Duchesne, Origines du culte chrétien, 54).

Liturgi SuryaniSunting

Setelah skisma Monofisit dan Konsili Khalsedon (451), baik golongan Malaki maupun golongan Yakubi tetap menggunakan ritus yang sama. Namun lambat laun kedua bahasa itu menjadi ciri khas masing-masing pihak. Umat Yakubi hanya menggunakan bahasa Suryani (seluruh kegiatan mereka merupakan perlawanan kebangsaan terhadap kaisar), dan umat Malaki, yang hampir seluruhnya adalah orang Yunani di kota-kota penting, pada umumnya menggunakan bahasa Yunani.

Liturgi Santo Yakobus dalam bahasa Suryani yang ada saat ini bukanlah yang liturgi asli yang dulu digunakan sebelum skisma, melainkan hasil modifikasi liturgi tersebut oleh umat Yakubi untuk dipakai kalangan sendiri. Persiapan persembahan sudah tertata menjadi suatu ritus yang rumit. Salam damai dilakukan pada awal anafora dan sesudahnya liturgi Suryani tersebut kata demi kata nyaris mengikuti liturgi Santo Yakobus versi Yunani, termasuk penyebutan Sion, ibu segala gereja. Namun daftar para kudus telah dimodifikasi; diakon memperingati Orang-orang kudus "yang telah mempertahankan kemurnian iman Nicea, Konstantinopel, dan Efesus"; ia menyebutkan nama "Yakobus saudara Tuhan kita" satu-satunya nama Rasul yang disebut, dan nama "Sirilus sang pimpinan utama yang adalah menara kebenaran, yang menguraikan inkarnasi Firman Allah, serta Mar Yakobus dan Mar Efraim, mulut-mulut yang fasih dan pilar-pilar Gereja kita yang kudus." Mar Yakobus adalah Baradaï, yang dari dia mereka menerima jabatan imamat, dan nama bagi kaum mereka (543). Bukankah Mar Efraim adalah Efraim, Batrik Antiokhia yang menjabat tahun 539-545, yang tentunya bukan seorang Monofisit? Meskipun demikian, daftar para kudus bervariasi; kadangkala berisi suatu daftar panjang nama-nama para pelindung mereka (Renaudot, Lit. Orient. Col., II, 101-103). Liturgi ini masih menggunakan sebuah klausa terkenal. Persis sebelum pembacaan Alkitab, dinyanyikan Trisagion. Versi Yunaninya adalah: "Kuduslah Allah, kuduslah Yang Kuat, kususlah Yang Baka, kasihanilah kami." Dalam ritus Suryani, setelah "kuduslah Yang Baka" ditambahkan kalimat: "yang telah disalibkan bagi kami." Ini adalah tambahan yang dicantumkan oleh Petrus si pencelup kain (gnapheús, fullos) Batrik Antiokhia Monofisit (458-471), yang bagi kaum Ortodoks tampaknya mencerminkan ajaran sesat Monofisit, dan yang digunakan oleh umat Yakubi menjadi semacam pernyataan iman mereka. Dalam tata-cara Suryani masih digunakan sejumlah kata Yunani. Diakon mengucapkan stômen kalôs dalam Bahasa Yunani dan umat terus-menerus menyerukan "Kurillison" (Kyrie Eleison), sebagaimana mereka mengucapkan "Amin" dan "Alleluia" dalam Bahasa Ibrani. Kata-kata singkat dalam liturgi cenderung terfosilkan dalam satu bahasa dan diucapkan tanpa perlu dimengerti artinya. Adanya kata-kata liturgis Yunani dalam Liturgi Suryani menunjukkan bahwa versi Yunanilah yang asli.

Di Masa KiniSunting

Umat Yakubi di Suriah dan Palestina masih menggunakan Liturgi-Suryani Santo Yakobus, sama halnya dengan Gereja Katolik Suriah. Umat Ortodoks dari Kebatrikan Antiokhia dan Kebatrikan Yerusalem telah meninggalkannya selama berabad-abad. Seperti semua umat Kristiani yang berada dalam persekutuan dengan Konstantinopel, mereka beralih menggunakan Ritus Bizantin. Hal ini adalah salah satu hasil dari sentralisasi ekstrem pada Konstantinopel begitu bangsa Arab menaklukkan Mesir, Palestina, dan Suriah. Para batrik Malaki di negara-negara itu, yang telah kehilangan hampir semua domba-dombanya akibat bidaah Monofisit, menjadi bayang-bayang belaka dan bahkan akhirnya meninggalkan tahta mereka untuk menjadi anggota kehormatan di dewan Konstantinopel. Pada masa itulah, sebelum muncul gereja-gereja nasional yang baru, Batrik Bizantin berkembang menjadi seorang tokoh yang mirip paus atas seluruh dunia Ortodoks, dan berhasil memberlakukan penggunaan liturgi, penanggalan, dan praktik-praktik kebatrikannya sendiri di kebatrikan-kebatrikan yang jauh lebih tua dan lebih luhur yakni Alexandria, Antiokhia, dan Yerusalem. Tidak diketahui dengan pasti, kapan tata-cara lama dari kebatrikan-kebatrikan tersebut digantikan oleh tata ibadat Bizantin.

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

Sebagian dari artikel ini berasal dari Ensiklopedia Katolik yang merupakan domain umum.

  1. ^ a b c d   Satu atau lebih kalimat sebelum ini memuat teks dari suatu penerbitan yang sekarang berada dalam ranah publikHerbermann, Charles, ed. (1913). "Antiochene Liturgy". Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton.