Buka menu utama

Letjen TNI (Purn.) Rais Abin (lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat, 15 Agustus 1926; umur 93 tahun) adalah seorang tokoh militer dan diplomat Indonesia.

Rais Abin
Informasi pribadi
Lahir15 Agustus 1926 (umur 93)
Bendera Belanda Koto Gadang, Agam, Hindia Belanda
KebangsaanBendera Indonesia Indonesia
PasanganNy. Dewi Asiah Hidayat
PekerjaanMiliter, diplomat
Dikenal karena- Panglima United Nations Emergency Forces (UNEF) II
- Duta Besar RI di Malaysia dan Singapura
- Sekjen KTT Non Blok
- Ketua Umum LVRI
Dinas militer
Dinas/cabangLambang TNI AD.png TNI Angkatan Darat
PangkatPdu letjendtni staf.png Letnan Jenderal TNI
SatuanInfanteri
Letjen TNI (Purn.) Rais Abin menyerahkan Bendera PBB yang diterimanya dari Sekjen PBB Kurt Waldheim pada tahun 1979 kepada Panglima TNI. Bendera PBB tersebut merupakan bentuk penghargaan dan rasa bangga Sekjen PBB kepada Letjen TNI (Purn) Rais Abin menjadi Komandan United Emergency Force selama 3 tahun dalam Misi Perdamaian Dunia PBB di Timur Tengah.

Ia pernah bertugas sebagai Panglima Pasukan Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Timur Tengah, Sekjen KTT Non Blok, duta besar di beberapa negara sahabat, serta berbagai jabatan lainnya. Setelah pensiun ia dipercaya sebagai Ketua Umum Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).[1]

RiwayatSunting

Kehidupan pribadiSunting

Rais Abin lahir pada 15 Agustus 1926 di Koto Gadang, Agam, pada masa Hindia Belanda. Ia menikah dengan seorang perempuan bernama Dewi Asiah Hidayat, mantan wartawati harian Pedoman, dan putri dari Letjen (Purn) TNI Hidajat Martaatmadja. Pernikahan mereka telah dianugerahi tiga orang anak, tujuh orang cucu serta beberapa orang cicit.[2]

KarierSunting

Sepanjang tahun 1976 - 1979 Rais Abin dipercaya sebagai Panglima United Nations Emergency Forces (UNEF) II, suatu pasukan perdamaian dari PBB yang terdiri lebih dari 4000 tentara yang berasal dari berbagai negara di dunia, yaitu Australia, Austria, Kanada, Finlandia, Ghana, Indonesia, Irlandia, Nepal, Panama, Peru, Polandia, Senegal, dan Swedia. UNEF II bertugas menjaga perdamaian antara Mesir dan Israel setelah perang Yom Kippur (Oktober 1973). Berkat lobi dan diplomasinya, Rais Abin berhasil mempertemukan Presiden Mesir, Anwar Sadat, dengan PM Israel, Menachem Begin, yang dilanjutkan dengan perundingan perjanjian damai di Camp David, dan diakhiri dengan penandatanganan perjanjian damai antara Mesir dan Israel yang dilakukan di Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, yang disaksikan Presiden AS, Jimmy Carter, pada tahun 1979.[3]

Sampai saat ini Rais Abin merupakan satu-satunya jenderal Indonesia yang pernah memimpin pasukan internasional (PBB) dalam misi perdamaian yang beranggotakan ribuan tentara dari banyak negara di dunia.[4] Sedangkan di dalam negeri berbagai tugas negara juga pernah diembannya, antara lain Sekjen KTT Non Blok periode 1991-1992, Duta Besar RI di Malaysia dan Singapura, serta jabatan lainnya. Setelah pensiun ia aktif sebagai Ketua Umum Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).[5] Atas jasa-jasa dan pengabdiannya, ia dianugerahi Bintang Mahaputra Adipradana dan Bintang Mahaputra Utama oleh Pemerintah Republik Indonesia serta Medali Perdamaian dari PBB.

ReferensiSunting

Pranala luarSunting

Jabatan diplomatik
Didahului oleh:
Makmun Murod
Duta Besar Indonesia untuk Malaysia
1981–1984
Diteruskan oleh:
Himawan Soetanto
Didahului oleh:
Sudjatmiko
Duta Besar Indonesia untuk Singapura
1984–1988
Diteruskan oleh:
Tuk Setyohadi